Hebat! Gadis Cantik Anak Sopir di Lasem Ini Juarai Olimpiade Sains di Thailand

MuriaNewsCom, Rembang – Prestasi yang diraih gadis cantik asal Dukuh Lemahbang, Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, ini sangat membanggakan. Meski berasal dari desa dan hanya anak sopir truk, Khuzyia Rizqi Triavi Ananda (21) berhasil mengukir prestasi internasional.

Gadis ini berhasil keluar sebagai juara pada Olimpiade Sains di Thailand, yang digelar 2-6 Februari 2018 lalu. Untuk mengikuti even ini, mahasiswi semester enam Fakultas Biologi Undip Semarang ini bersama dua rekannya harus mengeluarkan kocek sendiri untuk sampai ke Thailand.

Pasalnya, biaya delegasi dari fakultas dan universitas yang diwakilinya belum cair. Meski demikian, Nanda tetap bertekat dan membuktikan kualitasnya. Meskipun ia harus bersaing dengan ratusan mahasiswa cerdas dari Negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Singapura.

Ayah Nanda bernama Yudi, berprofesi sebagai sopir truk, sedangkan ibunya bernama Rustiah seorang pedagang ikan di Pasar Lasem.

Yudi mengaku, untuk mendukung prestasi anaknya, ia rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Untuk mengurus paspor dan visa saja, ia harus rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah agar anaknya ikut lomba.

“Untuk mengurus paspor dulu itu empat juta rupiah, sedangkan biaya tiket pesawat lima juta rupiah, itu belum yang lain-lain, gak terhitung,” kata Yudi.

Untuk biaya kuliah, persemester Yudi mengaku harus mengeluarkan Rp 19 juta untuk ongkos kuliah dan biaya hidup. Karena, jurusan yang diambil adalah biologi yang membutuhkan banyak praktek.

“Per semester itu Rp 4,5 juta, setiap pekannya Rp 500 ribu. Soalnya jurusan yang diambil anak saya itu banyak yang praktek untuk beli bahan-bahan itu,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku sangat bangga karena putrinya mampu mengukir prestasi internasional. Ia mengaku tak segan mendukung putrinya, apalagi sejak SMP dan SMA Nanda sudah terlihat prestasinya, dengan memenangi sejumlah lomba.

Editor : Ali Muntoha

Usulan Lasem Sebagai Kota Pusaka Diharapkan Segera Terwujud

 Bangunan bersejarah di Karangturi, Lasem. Bangunan ini, menjadi salah satu yang daya tarik di Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bangunan bersejarah di Karangturi, Lasem. Bangunan ini, menjadi salah satu yang daya tarik di Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang telah mengusulkan Lasem ditetapkan sebagai Kota Pusaka ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) beberapa tahun lalu. Diharapkan, usulan tersebut segera terwujud.

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, Lasem sudah layak mendapatkan predikat Kota Pusaka. Sebab, Lasem memiliki situs sejarah, budaya yang berkaitan dengan kemerdekaan, kerukunan antaretnis, kerukunan antaragama dan sebagainya.

“Lasem memiliki beragam situs maupun peninggalan yang penting bagi kehidupan komunitas dan masyarakat luas pada umumnya. Sehingga dengan adanya berbagai situs tersebut, Lasem dinilai dapat memenuhi kriteria untuk jadi Kota Pusaka. Usulannya sudah 3 tahun lalu, dan diharapkan 2018 mendatang bisa terwujud,” ujarnya.

Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat, untuk bersama-sama menjaga dan merawat situs sejarah dan budaya yang ada di Lasem. Sehingga, nantinya, impian Lasem untuk menjadi Kota Pusaka bisa benar-benar terwujud.

Dirinya juga mengatakan, kenapa usulan tersebut diajukan ke Kementerian PUPR. Sebab, Kementerian PUPR memiliki program untuk melestarikan nilai-nilai sejarah dan utilitas bangunan peninggalan budaya.Pelestarian bangunan peninggalan budaya itu supaya tidak tergerus oleh rencana pembangunan yang dilakukan pada saat ini.

Beberapa waktu sebelumnya, Ernantoro, salah satu pegiat Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem menuturkan, keinginan untuk menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia pertama di Indonesia mulai menemukan titik terang. “Mimpi Lasem sebagai Kota Pusaka dunia semakin dekat,” katanya.

Menurutnya, usaha dan kerja keras Fokmas yang rela mencurahkan ide, pikiran, tenaga hingga dana untuk mewujudkan hal itu tidaklah sia-sia. Dari sisi sejarah, peninggalan sejarah dari masa ke masa di Lasem sudah lengkap. “Akhirnya menjadi impian bersama, bahwa Lasem ini harus dilestarikan dan dipromosikan karena sangat potensial,” ungkapnya.

Ernantoro menjelaskan, kerja keras Fokmas dimulai dengan mengumpulkan data sejarah dan budaya Lasem, membangkitkan kembali kesenian rakyat, mengangkat batik Lasem dan menggandeng para tokoh masyarakat setempat. Semua itu dilakukan demi melestarikan dan mempromosikan potensi Lasem yang masih jarang diketahui.

“Rencananya, Lasem akan dijadikan kunjungan wisata Kota Tua dan perlu dilindungi berbagai bangunan tua yang ada disana. Tidak perlu gedung-gedung baru, hanya saja penataan PKL cukup dirapikan,” imbuhnya.

Terkait dengan penataan di wilayah Karangturi, katanya perlu adanya penataan dan pembuatan gapura yang melambangkan identitas masyarakat Lasem. “Keinginan Fokmas salah satunya wilayah di Karangturi yang milik kabupaten harus ditata, dibersihkan dan dibuatkan gapura berarsitek kombinasi Cina dan pesantren dengan warna merah dan hijau,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah setempat sedang serius mengusulkan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia ke Unesco. Banyak pihak menilai, jika dibandingkan dengan Kota Malaka yang merupakan Kota Pusaka Dunia yang diakui Unesco, Lasem memiliki lebih banyak keunggulan dari sisi sejarahnya dan bangunan kunonya.

Editor : Kholistiono

5 Pelestari Cagar Budaya di Lasem Dapat Penghargaan

Penyerahan penghargaan kepada lima orang pelestari cagar budaya di Lasem oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah Tri Hartono dan Plt Dinbudparpora Rembang Suyono beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Penyerahan penghargaan kepada lima orang pelestari cagar budaya di Lasem beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Lima pelestari cagar budaya di Kecamatan Lasem mendapat penghargaan dan kompensasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Penghargaan ini, diserahkan langsung oleh Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah Tri Hartono dan Plt Kadinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang Suyono beberapa waktu lalu.

Lima orang tersebut, yaitu Soebagyo, pemilik rumah tua Lawang Ombo di Desa Soditan dan Omah Londo di Desa Gedungmulyo, Rudi Hartono, pemilik/ pengelola bangunan Rumah Tiongkok Kecil Heritage Desa Karangturi.

Kemudian, KH Zaim Ahmad Ma’shoem, pemilik rumah tinggal (difungsikan sebagai ponpes) Kauman di Desa Karangturi dan Rumah Budaya Gus Zaim di Desa Soditan, Sigit Witjaksono pemilik/ pengelola bangunan (rumah batik tulis) Desa Babagan, dan Djunaidi Rusli pengelola rumah Yok Tjau Soe di Desa Babagan.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah Tri Hartono mengatakan penghargaan dan kompensasi tersebut untuk memberikan apresiasi kepada orang yang sudah rela dan mau melestarikan rumah atau bangunan yang masuk kategori cagar budaya.

“Selain itu juga untuk memberikan dorongan kepada pemkab dan pemprov lebih memperhatikan cagar budaya yang ada di Lasem. Masing-masing dari mereka ini, mendapatkan apresiasi sebesar Rp 18 juta dipotong pajak,” ujarnya.

Nantinya, pihaknya akan mengawasi dan mengamati. Setelah itu mereka akan memberikan bantuan advokasi kepada pemilik cagar budaya tersebut.“Setelah tempat tersebut didaftarkan sebagai calon cagar budaya, Pemda harus segera membentuk tim ahli cagar budaya untuk menetapkan. Sebab kita tidak bisa menetapkan tim ahli cagar budaya. Dalam undang-undang yang membuat tim ahli cagar budaya adalah bupati melalui kepala dinas terkait,” imbuhnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinbudparpura Rembang Suyono sangat mengapresiasi penghargaan tersebut. Hal itu  bisa memotivasi Pemda Rembang dalam memberikan perlindungan dan melestarikan cagar budaya di Lasem.

“Penghargaan tersebut sangat tepat karena diberikan kepada orang yang peduli terhadap cagar budaya. Karena saat ini banyak rumah tinggal kuno yang terlantar dan bahkan dijual karena berbagai alasan salah satunya penghuni meninggal. Seedangkan penerusnya tinggal di luar kota dan tidak mau kembali ke Lasem. Selain itu juga, ada yang keberatan membayar pajak dan ketiadaan dana untuk perawatan bangunan,”ucapnya.

Katanya, saat ini Pemda Rembang telah menyusun dan mengampu peraturan daerah (Perda) Nomor 5 tahun 2014 tentang Pengelolaan Cagar Budaya di Rembang. Sebab saat ini Perda tersebut belum mampu dijadikan payung hukum untuk perlindungan cagar budaya karena substansinya belum menyentuh dan perlu diperjelas lagi dan dikaji ulang, sehingga melindungi dari pencurian pengrusakan maupun sengketa.

Untuk penyemalatan bangunan cagar budaya di Kecamatan Lasem , Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) melalui Rencana Tata Ruang Kota dan Tata Ruang Wilayah (RTRW) telah menyusun Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP). Pemkab dan masyarakat berperan serta sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Editor : Kholistiono

Toleransi Antaretnis yang Terjaga di Kota Tiongkok Kecil

Tasyakuran di rumah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) tokoh Tionghoa Lasem yang mengundang kiai dan beberapa warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Tasyakuran di rumah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) tokoh Tionghoa Lasem yang mengundang kiai dan beberapa warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Percampuran budaya Jawa dan Cina di wilayah Lasem, Rembang, bukan sekadar yang tergambar dalam sepotong batik Lasem. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai toleransi antaretnis maupun agama sangat kental di kota yang dijuluki “Tiongkok Kecil” dan “Kota Santri” atau “Kota Pusaka”.

Toleransi antaretnis dan agama di Lasem ini sudah terjadi sejak dulu, dan hal itu masih terlihat hingga sekarang. Interaksi sosial yang harmonis antaretnis juga akan kita jumpai di wilayah ini. Bahkan, hubungan yang harmonis sejak dulu tersebut, seolah tak goyah dengan berbagai isu tentang SARA seperti yag terjadi di beberapa daerah lain.

KH. Zaim Ahmad atau Gus Zaim, salah satu tokoh agama yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem mengatakan, keberagaman dan keharmonisan di Lasem memiliki sejarah panjang. Sejak dulu, Lasem yang terdiri dari ragam etnis dan agama, masyarakatnya hidup rukun dan damai.

“Bahkan, dalam sejarahnya, sekitar tahun 1742, di Lasem ini ada namanya Perang Kuning. Yaitu perang melawan VOC. Di mana, antara pribumi, santri dan Cina saling bahu membahu untuk perang melawan VOC tersebut,” ujarnya.

Dalam perang tersebut dipimpin Adipati Tumenggung Widyaningrat (Oei Ing Kiat) yang merupakan tokoh etnis Cina,Panji Margono tokoh Jawa dan Kiai Ali Baedlowi dari tokoh kalangan santri atau pesantren. Dalam perang tersebut, akhirnya VOC terusir dari Lasem.

Selain itu, menurut dia dalam berkehidupan, masyarakat di Lasem selalu mengedepankan rasa. Sehingga setiap perasaan itu bisa disalurkan di dalam kehidupan sehari-hari.”Yang penting, dalam berkehidupan di Lasem itu mengedepankan rasa, setelah itu baru logika. Supaya kehidupan di sini bisa aman, rukun dan tentram,” tuturnya.

Bukti lain terkait toleransi juga terjadi di keluarga Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), pemilik usaha batik. Dalam keluarganya, katanya, terdapat beragam agama yang dipeluk. Dirinya, anaknya dan cucunya ada yang memeluk beda agama.

“Kami tidak memperdebatkan hal itu. Keluarga kami hidup rukun. Karyawan saya juga banyak yang tidak berlainan agama. Meskipun saya Konghucu, kalau tasyakuran kami juga mengundang kiai untuk memimpin doa. Dalam lingkungan kerja, karyawan juga saling menghormati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini yang Perlu Kamu Tahu, Kenapa Lasem Disebut dengan Tiongkok Kecil

Bangunan tua bercorak khas China yang berada di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bangunan tua bercorak khas China yang berada di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Lasem, merupakan sebuah kota kecil atau tepatnya sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang. Lasem, kini juga dikenal juga sebagai Petit Chinois  atau “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak tersebar di kota Lasem.

Lasem, merupakan satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Lao Sam) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya).

Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar China masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.

Selain Tiongkok Kecil, menjuluki Lasem sebagai “Beijing Kecil”. Entah dari mana julukan ini muncul namun nyatanya ada pro dan kontra di kalangan warga Pecinan Lasem. Warga yang kurang setuju dengan julukan “Tiongkok Kecil” lebih suka menyebut kawasan itu dengan nama ‘Pecinan Lasem tempo dulu’.

Julukan Lasem Kota Pusaka, juga melekat, karena dengan banyaknya kisah warisan sejarah masa lalu yang membingkai Lasem. Kawasan ini memiliki keanekaragaman budaya, Hindu, Budha, Islam, Jawa. Contohnya saja, situs-situs purbakala di Lasem seperti situs Leran, situ Bonang, situ situs Binangun dan situs Majapahit di Kawasan Gunung Kajar. Tak ketinggalan pula Lasem pun ditengarai identik dengan warisan budaya Cina – Indis yang kental.

Dikutip dari laman kesengsemlasem.com, Julukan Petit Chinois atau Tiongkok Kecil telanjur mendunia. Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia yang terbit pada 1997 menyebut bahwa julukan ini muncul dari para wisatawan yang terpana menyaksikan kota berlanskap bangunan kuno seperti di daerah Fujian selatan. Julukan itu sah-sah saja karena diberikan oleh para pelancong, kemudian dilegitimasi oleh ilmuwan dan pers.

Umumnya mereka tidak setuju dengan sebutan itu, bahkan awalnya menentangnya. Kendati demikian, mereka saling menghormati dan menghargai julukan Tiongkok Kecil. Semuanya sepakat bahwa lasem adalah kota pusaka.

Lasem juga pernah tercatat dalam beberapa naskah kuno Jawa: Nagarakretagama (1365), kitab Badrasanti (1479), dan Pararaton (1600). Tak hanya dalam naskah kuno Jawa, toponimi Lasem pun tercatat dalam kronik Cina. Nama Lasem muncul pertama kalinya dalam catatan Cina pada 1304, berjudul Da De Nan Hai Zhi (Catatan Laut Selatan) tulisan Chen Da Zhen.

Dia menyebut Lasem dengan Luo Xin. Dalam kronik berjudul Shun Feng Xiang Song (Perjalanan Bersama Angin), ditulis tahun 1403-1424 muncul nama Na Can (Shan) alih-alih Lasem. Kemudian dalam kronik Xi Yang Zhao Gong Dian Lu (Catatan tentang Upeti dari Samudra Barat) yang terbit pada 1520, Lasem disebut dengan Na Can yang ditengarai sebagai daerah pegunungan.

Sebuah kronik yang terbit pada 1617 berjudul Dong Xi Yang Kao (Telisik Samudra Barat dan Timur) tulisan Zhang Xie tersurat nama tempat Na Can dan (Hu) Jiao Shan (Gunung Hu Jiao) yang diduga sebagai Gunung Lasem. Baru sekitar abad ke-19, nama Lasem dikenal dengan sebutan La Shen.

Tercatatnya nama Lasem dalam kronik Cina lintas abad seakan membuktikan bahwa Lasem menjadi tujuan dan tempat favorit para perantau asal negeri tirai bambu. Beratus tahun lalu orang-orang Cina berlayar dengan jung-jung menuju Nusantara dengan aneka misi—ekspedisi, mencari penghidupan yang lebih baik, melarikan diri dari bencana alam dan kisruh politik, berdagang dan lainnya.

Di Lasem, mereka mendarat di pelabuhan tua yang sudah tiada, pantai Caruban dan membangun pemukiman. Tiada keterangan pasti dari mana saja mereka berasal. Secara umum para peneliti seperti Borel, Ong Eng Die, Reid, Salmon, Wang Gong Wu, dan lainnya menyebutkan bahwa orang Cina di Nusantara berasal dari pesisir pantai selatan Cina, Fujian dan Guangdong.

Sementara itu, salah satu tokoh agama di Lasem, yakni KH Zaim Ahmad, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Karangturi mengatakan, sebenarnya sebutan tiongkok kecil itu justru dari orang barat.”Mungkin juga di sini banyak terdapat bangunan khas Tionghoa. Selain itu orang Tionghoa juga banyak bermukim di daerah Lasem ini,” ungkapnya.

Ia katakana, Lasem dulunya merupakan wiayah yang terpisah dari Kota Rembang.”Dahulunya Lasem ini bukan masuk wilayah Rembang. Namun wilayah ini berbentuk Kadipatenan yang dipimpin oleh Adipati Cina yang bernama Koe Ing Kiat,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu tokoh Tionghoa Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) mengutarakan, sebutan Lasem sebagai Tiongkok Kecil, karena di daerah tersebut banyak orang keturunan Tiongkok, bangunannya juga bergaya Tiongkok.

Editor : Kholistiono

Penemuan Mayat di Lasem, Diduga Nelayan Jepara yang Tenggelam

Petugas Basarnas Pos Jepara mendatangi RSUD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Petugas Basarnas Pos Jepara mendatangi RSUD Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Penemuan mayat seorang laki-laki yang hanya memakai celana dalam di Caruban Lasem, Senin (21/12/2015) pagi, diduga adalah warga Jepara bernama Giyono yang hilang sejak Kamis (17/12/2015) malam.

Sebanyak 8 anggota Basarnas Pos Jepara segera meluncur ke RSUD Rembang ketika mendengar kabar ditemukannya mayat di pantai Caruban. Selain itu, ada juga keluarga Giyono yang juga mendatangi kamar Jenazah RSUD setempat.

Condro Yasmantoro, salah satu anggota Basarnas Pos Jepara mengatakan timnya segera mengecek ke Rembang apakah benar mayat tersebut adalah Giyono, nelayan yang dikabarkan hilang sejak Kamis lalu. “Ada keluarga dari Giyono juga yang ke sini, tapi tadi tidak berangkat bersama kami,” ungkapnya.

Namun, sejauh ini belum bisa dipastikan karena kondisi tubuh mayat yang sudah membengkak. “Belum bisa dipastikan, ini masih dalam proses identifikasi. Mungkin besok baru bisa diketahui identitas korban tersebut,” ujarnya ketika ditemui MuriaNewsCom di kamar jenazah RSUD Sutrasno Rembang.

Condro menjelaskan dua nelayan asal warga Dukuh Tawang Rejo RT 06 RW 02 Desa Clering, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara mengalami kecelakaan laut di perairan Clering – Tayu. Giyarto dan Giyono merupakan kakak beradik yang tenggelam ketika ombak setinggi 3 meter menerjang kapal mereka pada Kamis lalu. Satu korban diselamatkan nelayan di Tayu Pati atas nama Giyarto. “Sementara Giyono sampai ini masih belum ditemukan,” tandasnya.

Terpisah, Kapolsek Lasem AKP Eko Budi Sulistyo mengatakan pihak keluarga nelayan berusia 15 tahun yang hilang bernama Joko, juga sudah sempat mengecek korban. Namun ternyata, mayat tersebut bukan Joko. “Korban diperkirakan berusia tiga puluhan tahun,” jelasnya.

Seperti diketahui, seorang anak buah kapal Agung Gumelar milik Arun, warga Kragan, Rembang dilaporkan hilang pada Selasa (15/12/2015) lalu. Sedangkan tenggelamnya Joko ketika mandi di tengah laut terjadi pada hari Sabtu (12/12/2015) lalu. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Batik Lasem Butuh Sentuhan Generasi Muda

Lasem merupakan kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak. Namun yang paling dikenal dari daerah ini adalah kain batik. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani, terutama warna merahnya.
Batik Lasem atau sering disebut Batik Laseman merupakan batik bergaya pesisiran yang kaya motif dan warna. Nuansa multikultur sangat terasa pada lembaran Batik Lasem. Kombinasi motif dan warna Batik Lasem yang terpengaruh desain budaya Tionghoa, Jawa, Lasem, Belanda, Champa, Hindu, Buddha serta Islam tampak berpadu demikian serasi, anggun dan memukau. Warna cerah Batik Lasem khususnya warna merah sangat terkenal di kalangan pecinta batik Indonesia.
Ciri khusus Batik Lasem yang tidak akan temui pada batik manapun adalah warna merahnya yang terkenal, dengan nama warna abang getih pithik atau warna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar jiruk ditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas. Warna ini bahkan tidak dapat dibuat di labolatorium.
Selain indah, Batik Lasem juga kuat. Makin dicuci, warnanya makin keluar. Warna merah tersebut telah diakui sebagai warna merah terbaik yang tidak dapat ditiru pembuatannya di daerah sentra batik lainnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan jika banyak pengusaha batik di daerah lain (misal: Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan Cirebon) berusaha mendapatkan kain blangko bang-bangan, yaitu kain yang baru diberi pola dasar dan dicelup warna merah pada sebagian motifnya. Selain itu, Batik Lasem klasik pun memiliki warna lain dan motif yang khas.
Motif Batik Lasem secara umum hanya ada dua motif, yakni motif Cina dan non Cina. Batik Lasem Motif Non Cina ini didominasi motif batik Jawa, diantaranya motif Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, dan lainnya. Batik Lasem Motif Cina, unsur orientalnya sangat kental dan dominatif, diantaranya motif fauna Cina plus non Cina.

Lanjutkan membaca