Narapidana Asal Blora Meninggal di Lapas Pati dalam Keadaan Sujud

Petugas medis saat memeriksa kondisi narapidana di Lapas Pati setelah meninggal dunia secara mendadak dalam keadaan sujud. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang narapidana asal Blora, Siswadi (63) meninggal dunia di ruang blok B Nomor 7 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati, Sabtu (30/12/2017).

Khumawdi, salah satu saksi mengatakan, saat itu dia hendak mengambil air wudhu untuk salat tahajud. Namun, di kamar mandi masih ada korban.

“Sehabis wudhu, saya lihat Pak Sis lagi memegang perut dalam kondisi sujud. Saya sempat dengar suara rintihan kesakitan,” tutur dia.

Saat mencoba menolong dan menyapanya, Siswadi tidak menjawabnya. Setelah dibalik, ternyata sudah tidak bernapas.

dr Yupin Ardiani, petugas medis dari Puskesmas Pati memastikan bila kematian korban disebabkan sakit. Sebab, tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban.

Siswadi sendiri merupakan tahanan pindahan dari Lapas Blora. Dia dipidana hukuman 10 tahun penjara, setelah terbukti melakukan pembunuhan.

Rencananya, Siswadi akan menghirup udara bebas pada 28 Agustus 2022. Namun, dia terlebih dulu meninggal dunia setelah mengalami sakit.

Selama di Lapas, dia dikenal sebagai tahanan yang baik. Dia mendekam di balik jeruji besi bersama lima narapidana lainnya.

Editor: Supriyadi

Dapat Remisi Hari Kemerdekaan, 8 Narapidana Langsung Bebas dari Lapas Pati

 

 Seorang polisi ikut memberikan arahan kepada penghuni Lapas Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Seorang polisi ikut memberikan arahan kepada penghuni Lapas Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Remisi memang menjadi sesuatu yang dinanti bagi narapidana yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Sama halnya narapidana di Lapas Pati, mereka bisa tersenyum lebar karena mendapatkan remisi Kemerdekaan RI ke-71.

Adapun remisi yang diberikan tidak sama, mulai dari pemotongan masa tahanan 15 hari sampai 60 hari. Hal itu sesuai dengan kelakuan selama menjalani pembinaan di Lapas, baik kelakukan substantif maupun administratif.

Dari 159 penghuni Lapas yang diberikan remisi, delapan orang di antaranya langsung bebas karena masa tahanan sudah hampir habis. “Ada delapan narapidana yang langsung bebas, lantaran sisa hukumannya tinggal beberapa hari lagi digantikan remisi,” ujar Kasubsi Registrasi dan Binpemas Lapas Pati, Krismiyanto.

Delapan orang tersebut pun dinyatakan bebas dan benar-benar merdeka, setelah menjalani masa tahanan bertahun-tahun. Tidak semua narapidana bisa dengan mudah mendapatkan remisi. Selain dipenjara selama lebih dari enam bulan, narapidana juga harus memenuhi syarat berkelakuan baik.

“Narapidana yang menjalani tahanan di bawah enam bulan, tidak bisa mendapatkan remisi. Hal itu sudah sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku. Hanya narapidana yang ditahan lebih dari enam bulan saja yang bisa mendapatkan remisi, itupun tidak semua bisa. Ada syarat-syaratnya,” tutur Krismiyanto.

Sebelumnya, ratusan narapidana di Lapas Pati juga sudah mendapatkan remisi Hari Raya. Beberapa narapidana yang gemar mendonorkan darahnya untuk kemanusiaan, biasanya dihitung dan menjadi bahan pertimbangan untuk memperoleh remisi.

Editor : Kholistiono

 

Ratusan Napi di Pati Dapat Remisi Hari Kemerdekaan

 Sejumlah warga binaan Lapas Pati mendapatkan pengarahan dari petugas Lapas. (MuriaNewsCom/Lismanto)


Sejumlah warga binaan Lapas Pati mendapatkan pengarahan dari petugas Lapas. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati sedikit bisa bernapas lega, karena mendapatkan remisi Hari Kemerdekaan berupa pemotongan masa tahanan. Hal itu dikatakan Kasubsi Registrasi dan Binpemas Lapas Pati, Krismiyanto, Selasa (16/8/2016).

“Ada 159 warga binaan Lapas Pati yang mendapatkan remisi Hari Kemerdekaan. Mestinya, ada 181 warga binaan yang diusulkan. Namun, hanya 159 orang saja yang diberikan remisi. Hal itu sudah sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Kemenkum dan HAM,” kata Krismiyanto.

Sebagian besar penghuni Lapas yang mendapatkan remisi berasal dari kasus tindak pidana umum, penyalahgunaan narkoba, dan illegal logging. Narapidana dengan kasus tindak pidana korupsi disebut tidak ada dalam Lapas Pati, sehingga tidak ikut diusulkan.

Beberapa narapidana yang belum mendapatkan remisi, antara lain karena tersandung kasus penyalahgunaan narkoba dengan masa tahanan lebih dari lima tahun. Kendati begitu, usulan kepada mereka sudah dilayangkan, tapi menunggu keputusan dari Dirjen.

“Pemotongan masa tahanan Hari Kemerdekaan beragam, mulai dari paling sedikit 15 hari hingga paling banyak 60 hari. Remisi itu sesuai dengan perilaku narapidana selama di tahanan. Kalau perilakunya baik, tentu remisinya juga lebih banyak,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Lapas Pati Deklarasikan Perang Melawan Narkoba

tes narkoba-lapas-tyg 20

Petugas Lapas Pati menandatangani pernyataan untuk menyatakan perang pada narkoba, Rabu (20/4/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pati mendeklarasikan diri menyatakan perang melawan narkoba. Upaya itu dilakukan, lantaran di Indonesia mulai merebak peredaran narkoba yang disinyalir dilakukan narapidana di dalam penjara.

Kepala Lapas Pati Suprapto mengaku bersama dengan petugas Lapas, bakal mendukung program pemerintah untuk berperang melawan narkoba. Salah satunya, memerangi peredaran narkoba di dalam lapas.

Upaya itu dibuktikan dengan menggelar tes urine secara acak dan mendadak. Sedikitnya ada 73 petugas lapas dan 30 orang penghuni lapas yang dites urine.

”Penghuni lapas yang dites urine, 16 orang merupakan narapidana narkoba, dan 14 orang di antaranya adalah narapidana umum. Hasilnya negatif. Semua yang dites dinyatakan tidak menggunakan narkoba,” kata Suprapto, Rabu (20/4/2016).

Dalam deklarasi perang melawan narkoba, seluruh petugas Lapas Pati menandatangani dukungan untuk memerangi narkoba. Penandatanganan dihadiri jajaran Polres Pati dan Kodim 0718/Pati, dengan dihadiri Ketua BNK Pati Budiyono.

Editor: Merie