Berbobot 980 Kg, Sapi Milik Warga Kudus Laku Rp 51 Juta

Sidi Pramono, Kasi Produksi dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus memeriksa sapi di pasar hewan, Jati, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Idhul Adha tahun ini membawa berkah tersendiri bagi peternak sapi asal Desa Bacin RT 6/RW 1, Kecamatan Kota Kudus, Husain. Pasalnya, sapi jenis metal berbobot 980 kilogram miliknya laku hingga Rp 51 juta.

”Alhamdulillah laku lumayan. Kalau tidak untuk kurban mungkin lakunya kurang dari harga itu,” katanya saat menjual sapi miliknya di Pasar Hewan, Jati, Rabu (23/8/2017).

Husain mengatakan, harga Rp 51 juta memang terbilang wajar. Apalagi sapi miliknya bobotnya berada di atas rata-rata. Hanya saja, karena pembeli digunakan untuk kebutuhan kurban, ia pun melepas dengan harga kesepakatan tersebut.

”Saya memiliki beberapa sapi di rumah. Beratnya juga bervariasi. Mulai dari 300 kilogram hingga yang paling besar 980 kilogram. Menjelang Idul Adha seperti sekarang ini, banyak masyarakat yang membutuhkan sapi untuk hewan kurban,” ungkapnya

Ia menjelaskan, pihaknya memang satu dari sekian pedagang sapi yang memasok ke sejumlah wilayah. Sapi-sapi tersebut, rata-rata dijual ke luar Kudus, seperti Semarang, Kendal, hingga Jakarta.

Hanya saja, untuk sapi-sapi miliknya, didatangkan dari Jawa Timur. Selain kualitasnya bagus, benih sapi dari jawa timur merupakan peranakan sapi unggulan.

“Tahun kemarin saya malah memiliki sapi berbobot satu ton lebih. Sapi tersebut laku dengan harga Rp 60 jutaan lebih,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Panitia Kurban di Grobogan Dibekali Cara Penyembelihan Hewan Kurban 

Puluhan panitia kurban di 19 kecamatan mengikuti sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban yang digelar Disnakkan Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekedar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, perhatian juga ditujukan pada masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya sebanyak 50 orang yang merupakan panitia kurban di 19 kecamatan.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan 

kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, usai membuka pelatihan yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 10 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad menambahkan, diakhir acara, peserta dibekali pelatihan tata cara merobohkan sapi. Dengan pelatihan model burley itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Melalui metode ini, untuk merobohkan sapi cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Boyolali Antisipasi Antraks pada Hewan Kurban 

Hewan ternak disiapkan untuk kurban di Hari Raya Idul Adha yang tiba beberapa hari lagi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Boyolali – Mengantisipasi antraks, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali memantau hewan ternak warga di daerah endemis antraks di Desa Karangmojo, Kecamatan Klego dan Kecamatan Ampel.

Kabid Usaha Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Uspet Kesmavet), Disnakan Boyolali, Widodo mengatakan, pihaknya terus memantau daerah endemis antraks. Setidaknya, pihak dinas melakukannya tiga bulan sekali. 

“Daerah endemis antraks dipantau terus. Setiap tiga bulan sekali petugas selalu datang ke sana dan melakukan vaksin ke hewan ternak milik warga,”ungkapnya dikutip dari detik.com

Pihaknya juga menyiapkan hewan kurban sehat dengan intensif memantau dengan membentuk tim, untuk mengawasi penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha. Pihaknya membentuk tiga tim untuk memantau di 21 lokasi penyembelihan di wilayah Boyolali Kota. Sedangkan untuk wilayah kecamatan lainnya diserahkan ke masing-masing Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

Selain itu, juga akan melangsungkan patroli ke masjid yang jadi lokasi penyembelihan hewan kurban. Tim tersebut juga memeriksa daging usai disembelih. Gunanya memantau kondisi daging, apakah sehat atau sebaliknya. 

Seperti cacing hati, yang biasa ditemukan pada hewan yang sekilas tampak sehat. Hati yang mengandung cacing itu menurut dia, masih bisa dikonsumsi. Asalkan cacingnya sedikit. Namun cacing-cacing itu harus dihilangkan terlebih dulu. Selain itu juga harus dimasak benar-benar matang. 

Sebelum Idul Adha, dinas juga akan melakukan sosialisasi kepada para takmir masjid. Sosialisasi meliputi tanda-tanda hewan sehat, teknik penyembelihan yang benar, teknik merebahkan hewan dan cara penanganan daging.

Editor : Akrom Hazami 

Pemotongan Hewan Kurban di Jepara Diprediksi Meningkat

hewan]

Petugas mengecek tempat pemotongan hewan di Jepara, Jumat. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jumlah tempat pemotongan hewan di Kabupaten Jepara pada Idul Adha tahun ini diprediksi meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang dinilai terus mengalami peningkatan.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Dinas Petanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara, Wasiyanto. Menurutnya, selain alasan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang meningkat, kesadaran untuk berkurban juga semakin lama semakin meningkat.

“Ya, berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat di Jepara yang juga terus meningkat. Prediksi peningkatan juga di dasarkan pengalaman dari tahun ke tahun,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (19/8/2016).

Menurut dia, hampir setiap tahun terus menerus mengalami peningkatan meski jumlahnya tidak signifikan. Sehingga tahun ini juga diperkirakan mengalami peningkatan.

“Meski terus mengalami peningkatan, stok atau ketersediaan hewan kurban tidak ada kendala. Ketersediaan juga terus meningkat karena para penjual hewan kurban juga telah mempersiapkan ketersediaan untuk Idul Adha,” terangnya.

Ia juga mengatakan, populasi hewan kurban di Jepara lebih banyak dibandingkan angka yang disembelih. Ia mencontohkan, tahun lalu pemotongam hewan kurban kisaran di bawah 30 ribu hewan. Sementara populasinya lebih dari 40 ribu. Bahkan, tahun lalu Jepara juga ikut memasok hewan kurban ke luar daerah.

Editor : Akrom Hazami

 

Tukang Becak dan Kaum Dhuafa Tertawa Dapat Jatah Daging Kurban

Ketua DPC Partai Demokrat Pati Joni Kurnianto membagikan daging kurban kepada warga sekitar. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Ketua DPC Partai Demokrat Pati Joni Kurnianto membagikan daging kurban kepada warga sekitar. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Pati membagikan daging hewan kurban untuk kaum dhuafa, anak yatim dan tukang becak yang beroperasi di sepanjang Jalan Dr wahidin Pati, Sabtu (26/9/2015).

Selain itu, daging kurban juga dibagikan kepada masyarakat yang berada di sekitar kantor. Ketua DPC Partai Demokrat Joni Kurnianto mengatakan, hal itu dilakukan untuk merayakan Idul Adha sekaligus memberikan kesempatan kepada anak yatim dan kaum dhuafa untuk menikmati daging yang belakangan harganya melambung tinggi.

“Ternyata kenaikan dolar terhadap rupiah juga mempengaruhi harga daging sapi. Masyarakat semakin sulit mengonsumsi daging karena harganya yang kian sulit dijangkau. Dengan adanya kurban, ini menjadi kesempatan untuk menikmati daging,” ujar Joni saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, daging kurban yang dibagikan tersebut hasil iuran dari enam anggota fraksi Kabupaten ditambah anggota DPRD Provinsi Jateng Kartina Sukawati dan Djoko Udjianto dari DPR RI. “Ini sebagai bentuk rasa kebersamaan dengan semangat berkurban di Idul Adha,” imbuhnya.

Saat ini, lanjutnya, hewan kurban yang dibagikan baru satu ekor sapi. Ke depan, pihaknya akan menambah hewan kurban berbarengan dengan peningkatan partisipasi dari kalangan anak yatim dan kaum dhuafa. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Asik, Harga Kambing di Jepara Turun

 

Alikan, penjual kambing kurban sedang memberi makan kambingnya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Alikan, penjual kambing kurban sedang memberi makan kambingnya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang Idul Adha tahun ini, harga hewan kurban jenis kambing cenderung menurun jika dibanding tahun lalu. Hal itu terjadi dituding lantaran banyaknya stok kambing yang ada, sehingga harga cenderung menurun.

Hal itu dikemukakan Alikan, salah satu penjual kambing kurban di Jalan HOS Cokroaminoto Jepara. Menurutnya, penurunan harga kambing berkisar antaran Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu tiap ekornya.

”Misalnya, untuk kambing jenis etawa ukuran besar, pada momen kurban tahun lalu, harganya mencapai Rp 4 juta. Tapi saat ini turun menjadi Rp 3,7 juta,” ujar Alikan kepada MuriaNewsCom, Senin (21/9/2015).

Menurutnya, rata-rata harga kambing yang dijual pedagang memang mengalami penurunan, dan relatif sama antar pedagang. Khususnya pedagang yang mengambil langsung dari peternak.

”Kalau pedagangnya mengambil dari pedagang lainnya, atau hanya merupakan pedagang musiman, tentu lebih mahal. Dengan adanya penurunan harga ini diharapkan pembeli bisa lebih banyak dibandingkan tahun lalu,” papar dia.

Untuk konsumen, mayoritas yang membeli justru merupakan keluarga yang salah satu anggotanya tengah menunaikan ibadah haji. Mereka membelinya untuk disumbangkan di masjid atau di musala.

”Saya mengambil kambing dari desa-desa yang ada di Kecamatan Welahan. Kambing yang dibesarkan oleh warga sendiri itu saat ini memang sudah banyak yang berumur satu tahun lebih, atau siap potong,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Wuih, Istimewanya Beli Kurban di Jepara

Kundir menunjukkan beberapa hewan kurban yang sudah terbeli namun masih dititipkan di lapaknya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kundir menunjukkan beberapa hewan kurban yang sudah terbeli namun masih dititipkan di lapaknya. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang peringatan Hari Raya Idul Adha tahun ini, rupanya membawa berkah bagi para penjual hewan kurban. Sebab, dagangan mereka banyak yang laku.

Kendati begitu, mayoritas pembeli hewan kurban enggan direpotkan dengan memelihara hewan kurban jelang disembelih.

Mereka lebih memilih membeli hewan kurban namun tak langsung dibawa pulang. Mereka milih tetap menitipkan hewan tersebut pada penjualnya. Hal ini seperti yang dialami salah seorang penjual hewan kurban kambing di kawasan Stadion Kamal Junaidi, Kundir.

Dia mengatakan, umumnya pembeli yang membeli kambingnya tak langsung membawa pulang. Sebab terkendala tempat dan cara perawatan. Kondir mengaku memang banyak pembeli yang menitipkan dahulu kambing ditempatnya. Pada malam hari raya, kambing baru diantarkan.

“Untuk harga relatif sama dengan kurban tahun lalu. Sebab saya mengambilnya bukan langsung dari peternak. Tapi dari pengepul kambing kurban. Puncak ramainya dagangan biasanya sehari sebelum hari raya. Untuk saat ini masih cukup sepi,” kata dia. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Penjual Kambing Dadakan di Jepara Makin Marak

Penjual kambing dadakan di kawasan Stadion Kamal Junaidi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Penjual kambing dadakan di kawasan Stadion Kamal Junaidi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang hari raya Idul Adha ini, penjual kambing dadakan semakin banyak. Tak hanya di beberapa tempat pasar hewan saja, namun juga di sejumlah lahan kosong yang dimanfaatkan para penjual untuk membuka lapak mereka.

Dari pantauan MuriaNewsCom, penjual kambing dadakan di wilayah kota ada di beberapa tempat. Salah satunya ada di kawasan Stadion Kamal Junaidi dan di dekat gedung wanita Jepara. Khusus di kawasan stadion, sedikitnya ada empat lapak penjual kambing yang berdiri di lahan kosong.

Salah satu penjual kambing dadakan adalah Kondir. Dia sudah mulai membuka lapaknya sejak beberapa hari yang lalu. Pria asal Desa Bulu, Kecamatan Kota ini mengaku sengaja menjual kambing secara dadakan karena merasa ada peluang usaha yang cukup menjanjikan jelang Idul Adha ini.

”Keseharian saya jualan es, tapi kalau menjelang Idul Adha ini menyempatkan diri untuk jualan kambing,” kata Kondir kepada MuriaNewsCom, Senin (21/9/2015).

Menurutnya, sejak dirinya membuka lapak, mayoritas pembeli selama tiga hari ia membuka dagangan didominasi oleh pengusaha mebel, atau pemiliki gudang mebel. Mereka membeli untuk disembelih di masjid atau musala di desa masing-masing, maupun di gudang masing-masing.

”Jika yang membeli pengusaha mebel, biasanya membeli dalam jumlah banyak. Sedangkan warga biasa, hanya satu hingga dua ekor. Kecuali mereka bertindak sebagai panitia kurban, tentu membelinya banyak,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Menariknya Harga Hewan Kurban di Kudus

Warga tampak melihat kerbau jelang Idul Adha di Kudus.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak melihat kerbau jelang Idul Adha di Kudus.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Pasokan hewan kurban di Kudus jelang Idul Adha stabil. Dengan harganya yang menarik.

Suaib, pedagang sapi mengatakan harga sapi masih sama seperti sebelumnya. Yakni sekitar Rp 20 juta dengan bobot sekitar 5 kuintal.

“Harga sama saja meski mendekati hari raya, tidak ada kenaikan sama sekali meski stok juga lama,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, Fakih, penjual kambing asal Kudus mengatakan harga kambing malah mengalami kenaikan. Terlebih permintaan yang banyak karena harga yang lebih terjangkau.

“Kalau Kambing Gibas, harganya Tp 2,3 juta dari sebelumnya Rp 2 juta. Sedangkan kalau Kambing Jowo, harganya Rp 2,8 juta dari harga awal Rp 2,4 juta,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Harga Kerbau Turun, Cocok untukmu yang Mau Berkurban

Warga tampak melihat kerbau jelang Idul Adha di Kudus.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak melihat kerbau jelang Idul Adha di Kudus.(MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, harga hewan kurban kerbau malah mengalami penurunan. Meski biasanya selalu mengalami kenaikan, namum pada tahun ini malah mengalami penurunan.

Seperti halnya yang disampaikan pedagang Kerbau di pasar Hewan Kudus. Ngatomo, warga Dawe. Menurutnya harga kerbau malah mengalami penurunan mendekati Idul Adha.

“Kalau hari-hari biasanya harganya untuk kerbau sekitar 5 kuintal harganya senilai Rp 26 juta, namun sekarang harganya hanya sekitar Rp 25 juta,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, harga yang menurun juga  disebabkan banyaknya stok pedagang di pasar hewan. Sehingga harganya menjadi menurun seperti sekarang.

Dia mengatakan, mengenai pedagang yang memadati pasar hewan Kudus, berasal dari Kudus dan sekitarnya. Hewan yang dijual juga dari berbagai ukuran. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Awas, Hewan Kurban Berpenyakit

Pedagang sapi saat membawa hewan kurbannya di pasar hewan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Pedagang sapi saat membawa hewan kurbannya di pasar hewan Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Mendekati Hari Raya Idul Adha, Dinas Pertanian,Perkebunan,Peternakan dan Perikanan (Dintanbunakikan) Kabupaten Blora melakukan beberapa langkah agar hewan kurban terhindar dari penyakit.

“Dari pemeriksaan pada hewan kurban ini meliputi pemeriksaan secara fisik. Mendekati Hari H nantinya kami juga melakukan pemeriksaan hewan kurban pada masjid-masijid dengan bantuan tim pemeriksa yang berada di masing-masing kecamatan,” kata Kepala Bidang Pertenakan Dintanbunakikan Kabupaten Blora Kenang, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya dalam pemeriksaan fisik pada hewan kurban sapi, kambing maupun domba, itu sebatas hewan kurban yang disembelih di provinsi Jawa. Sedangkan hewan kurban yang dikirim ke luar Jawa tidak diperiksa.

“Kalau untuk di wilayah Jawa hanya dilakukan pemeriksaan secara fisik saja. Namun jika untuk hewan kurban yang dikirim keluar Jawa, hewan kurban itu nantinya akan diperiksa di laboraturium,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku belum menemukan adanya penyakit pada hewan kurban. Semuanya masih aman dan tanda-tanda hewan yang bisa menularkan penyakit juga belum ditemukan.

Dia meminta pedagang hewan kurban untuk merawat hewannya. Dengan mengedepankan perlindungan agar tidak terkena serangan penyakit. (Priyo/Akrom Hazami)

Antisipasi Hewan Kurban Penyakitan, Dintanbunakikan Blora Terjunkan Petugas

hewan-kurban

Beberapa pedagang sapi yang berada di pasar hewan Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Pertanian,Perkebunan,Peternakan dan Perikanan (Dintanbunakikan) Kabupaten Blora melakukan beberapa langkah, untuk mengantisipasi adanya hewan kurban yang penyakitan.

”Menjelang Hari Raya Kurban seperti ini, kami dari dinas terus melakukan pemeriksaan pada hewan-hewan kurban, baik yang ada di pasar hewan maupun hewan yang ada di pool milik pedagang,” ujar  Kepala Dintanbunakikan Reni Miharti melalui Kepala Bidang Pertenakan Kabupaten Blora Kenang,Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, selain memeriksa pihaknya juga memberikan pada vitamin pada hewan kurban agar nantinya hewan kurban tetap sehat, dan tidak terserang penyakit.Sebab, menjelang Hari Raya Kurban seperti ini, biasanya sering banyak penyakit menghinggapi hewan.

”Untuk mencegah penyakit yang ada pada sapi ataupun kerbau kami rutin melakukan pemeriksaan,dan setelah diperiksa nantinya hewan tersebut akan di tandai dan didata jika hewan itu layak untuk kurban,” ungkapnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Sa’diyah : Kesejahteraan  Hewan Harus Diperhatikan

Sa’diyah, Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Selain menggelar kegiatan pengecekan hewan kurban, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus juga sering mengirimkan kegiatan pendidikan bagi seseorang penyembelih hewan. Hal itu dilakukan lantaran ingin mengupayakan agar petugas atau penyembelih hewan kurban bisa mengetahui aturan serta kondisi hewan tersebut.

Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Sa’diyah mengatakan, dalam pengiriman pendidikan untuk penyembelih hewan, biasanya pihak dinas mengirimkan satu orang setiap tahunnya ke dinas peternakan dan kesehatan hewan Jawa tengah. Yaitu Modin yang ada di desa setempat, untuk diberikan pelatihan.

”Untuk pelatihannya biasanya di gelar di Dinas Peternakan dan Kesehatan Jawa Tengah. Sedangkan untuk pelatihannya diberi pengetahuan tata cara penyembelihan yang baik. Yakni mengenai rukun dan aturan untuk menyembelih hewan, serta mampu mengetahui kesejahteraan hewan,” papar Sa’diyah.

Dia menilai, seorang Modin pastinya mengetahui rukun dan kewajiban menyembelih, mereka pasti sudah tahu. Akan tetapi yang mereka pahami ialah bagaimana bisa mensejahterakan hewan tersebut. Kesejahteraan hewan yang dimaksud ialah terkait dengan perlakuan hewan kurban yang disembelih. Seperti halnya memenggal kepala hewan serta memotongnya.

”Untuk kesejahteraan hewan kurban yang sudah disembelih, pastikan hewan tersebut sudah mati (darah mengalir dari leher) dengan tuntas. Setelah itu mereka bisa memenggal kepalanya. Namun selama ini, yang kita sering lihat hewan belum mati (sekarat) setelah di sembelih, akan tetapi para penjagal sudah memenggal kepalanya, memotong kakinya bahkan menyiram dengan air panas untuk mencabuti bulunya (kambing),” ujarnya.

Nah disitulah, para Modin diberi pendidikan. Sehingga ilmu yang didapatkan Modin tersebut bisa diinformasikan kepada masyarakat luas. Sehingga disaat penyembelihan hewan para penjagalnya dapat memperhatikan kesejahteraan hewan tersebut. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Siap Ikut Kurban di Beberapa Sekolah

Sa’diyah, Kabid Peternakan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Selain menggelar pengecekan kesehatan hewan di pasar ternak dan pasar hewan menjelang Idul Adha, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus juga akan mengecek hewan kurban di sekolah. Hal tersebut dilakukan lantaran pihak sekolah melakukan kerja sama dengan dinas tersebut untuk bisa memastikan hewan kurban layak untuk disembelih.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kudus Busi Santoso yang diwakili oleh Kabid Peternakan Sa’diyah mengatakan, memang saat ini ada beberapa sekolah yang sudah mengirimkan surat ke dinas untuk melakukan kerja sama. Dalam kerja sama tersebut, pihak dinas mengecek kesehatan hewan kurban sebelum disembelih.

”Kami apresiasi sekali dengan sekolah yang menggelar kerja sama tersebut. Sebab secara otomatis pihak sekolah mempunyai tanggung jawab tinggi terhadap kondisi hewan kurbannya,” paparnya.

Pihaknya menambahkan, karena dinas juga tidak bisa melakukan pengecekan satu persatu terhadap instansi atau masyarakat yang mengadakan penyembelihan kurban. Sehingga sangat diperlukan perhatian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat untuk membantu pengecekan kondisi hewan kurban sebelum dilakukan penyembelihan. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

 

Beli Hewan Kurban, Waspadai Penyakit-penyakit Ini

Kepala Distanak Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Distanak Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, jumlah hewan kurban seperti kambing, kerbau, dan sapi semakin banyak. Sehingga, potensi adanya hewan yang berpenyakit juga lebih banyak. Untuk itu, tim pemantau dan pengawas yang dibentuk Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara mewaspadai sejumlah penyakit yang ada pada hewan.

“Misalnya cacing hati yang memang masih menjadi ancaman. Tahun lalu, memang ada beberapa kasus cacing hati dalam hewan kurban,” ujar Kepala Distanak Jepara Wasiyanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/9/2015).

Menurutnya, selain itu yang cukup diwaspadai adalah jenis penyakit sonosis, yakni penyakit hewan yang bisa menular ke manusia. Sedangkan saat hari raya, pantauan akan dilakukan pada malam sebelum hari raya (H-1), serta usai penyembelihan.

Untuk pantauan ke tempat penampungan hewan sementara, atau tempat berjualan hewan ternak, sementara ini masih belum intensif di lakukan. Sebab hingga saat ini, belum banyak pedagang yang menggelar dagangan mereka. Umumnya, sepekan sebelum hari raya pedagang baru mulai bermunculan.

“Pada umumnya, penyakit pada hewan memang mudah dikenali. Sebab dari ciri fisiknya sudah bisa dilihat. Untuk cacing hati, memang tidak terlalu ganas sebab hanya menyerang organ dalam. Meski demikian, bagian yang terkena cacing hati memang tidak boleh dikonsumsi. Bagian lainnya masih diperbolehkan,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Sstt…Betina-betina Ini Dipacu Cepat Birahi Lho….

Petugas sedang melakukan penyuntikan terhadap sapi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas sedang melakukan penyuntikan terhadap sapi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Ribuan ekor sapi betina yang ada di Grobogan dipacu birahinya dan selanjutnya diinseminasi buatan atau kawin suntik. Selain itu, ribuan ekor sapi betina lainnya dicek kesehatan reproduksinya. Sekitar 25 petugas diterjunkan untuk melaksanakan dua kegiatan tersebut.

”Hal itu dilakukan dalam rangka melaksanakan program penanggulangan gangguan reproduksi. Kegiatan ini dibiayai dari dana ABPN perubahan tahun 2015,” ungkap

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto.

Menurutnya, program tersebut jadi skala nasional dalam rangka meningkatkan populasi sapi dan kerbau di Indonesia. Selain itu, program tersebut juga bertujuan untuk mensukseskan kebijakan swasembada daging nasional.

Dalam progam tersebut, ada dua kegiatan yang dilakukan.Yakni, gertak birahi dan inseminasi buatan (GBIB) serta penanganan gangguan reproduksi (PGR). Program tersebut mulai dilaksanakan sejak akhir Juli hingga November mendatang.

”Untuk program GGIB targetnya sekitar 1.700 ekor sapi. Kemudian untuk gangguan reproduksi ditargetkan ada 5.280 ekor sapi yang ditangani,” katanya.

Nur Ahmad menambahkan, sasaran program tersebut menyebar di seluruh wilayah Grobogan. Dimana, sapi yang diperiksa untuk program tersebut ada yang diambilkan dari kelompok ternak dan perorangan.

Ditambahkan, petugas lapangan dalam tahap awal melakukan pemeriksaan pada sapi betina yang dinilai sudah cukup umur menjadi indukan. Jika kesehatan reproduksinya bagus maka langsung masuk dalam GGIB. Jika ada gangguan maka akan ditangani lebih lanjut melalui program penanganan gangguan reproduksi.Diharapkan, setelah ditangani, sapi betina ini bisa cepat sehat dan siap produksi. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Jelang Idul Adha, Pemkab Jepara Bentuk Tim Pemantau Hewan Kurban

 

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini, Pemkab Jepara membentuk tim khusus untuk melakukan pemantauan dan pengawasan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Jepara Wasiyanto mengatakan, tim khusus tersebut telah dibentuk beberapa waktu yang lalu.

”Kerjanya melakukan pemantauan dan pengawasan, khususnya terhadap hewan ternak yang digunakan untuk kurban,” ujar Wasiyanto kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/9/2015).

Menurutnya, tim pemantauan yang dibentuk telah mulai melakukan pantauan intensif. Selain memantau secara umum kondisi hewan ternak yang diperjualbelikan, juga khusus untuk persiapan jelang Hari Raya Kurban.

“Jelang hari raya ini, pemantauan dilakukan di sejumlah pasar hewan yang ada di Jepara, dan sejumlah tempat penampungan sementara,” katanya.

Lebih lanjut dia membeberkan, di Jepara ada beberapa pasar hewan seperti di Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan, Bangsri, dan Keling. Pasar-pasar tersebut buka pada hari-hari tertentu sesuai pasaran Jawa.

“Di pasar hewan pantauan selalu dilakukan tiap kali pasaran. Tapi menjelang Hari Raya Kurban, memang kami melakukan pantauan lebih intensif,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)