Pejabat dari Jayapura yang Memimpin Studi Banding ke SDN 04 Purwodadi Ternyata Asli Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada cerita menarik dibalik kegiatan studi banding yang dilakukan belasan guru  SD Inpres Komba, Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (13/2/2018). Yakni, terkait sosok Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Jayapura Suprojo yang menjadi pimpinan rombongan peserta studi banding tersebut.

Yang bikin menarik adalah, pejabat ini ternyata aslinya dari Grobogan. Kenyataan itu diungkapkan Suprojo saat diterima Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Amin Hidayat di ruang kerjanya setelah singgah di SDN 04 Purwodadi.

Informasi yang disampaikan Suprojo sempat bikin kaget Amin Hidayat. Soalnya, ia tidak menyangka jika pimpinan rombongan itu ternyata putra kelahiran Grobogan.

“Sejak awal saya sudah mengira jika Pak Suprojo ini dari Jawa dilihat dari namanya. Tapi saya jadi kaget karena ternyata asalnya malah dari Grobogan,” kata Amin.

Suprojo tercatat lahir di Dusun Bungkel, Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung. Ia menamatkan SD dan SMP di Karangrayung. Kemudian, Suprojo sempat melanjutkan sekolah di SMAN 1 Godong pada tahun 1991.

Namun, Suprojo hanya sempat sekolah SMA selama tiga bulan saja. Soalnya, ia harus ikut kedua orang tuanya pasangan Sarjo Podo dan Silah Sarjan yang berangkat transmigrasi ke Kabupaten Kerom, Provinsi Papua.

“Saya adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Saat transmigrasi, hanya enam bersaudara yang ikut. Kedua kakak saya tidak ikut transmigrasi karena sudah berkeluarga pada waktu itu,” katanya.

Setelah tiba di daerah transmigrasi, Suprojo tidak bisa melanjutkan sekolah SMA. Soalnya, pada waktu itu belum ada SMA di lokasi transmigrasi.

Akhirnya, keinginan melanjutkan SMA baru terlaksana tahun berikutnya. Itupun, ia harus menempuh pendidikan di Kabupaten Jayapura.

“Jadi, saya sempat setahun berhenti sekolah. Setelah tanya informasi, kalau mau sekolah SMA harus ke Jayapura. Akhirnya, tahun berikutnya saya sekolah lagi di SMAN 3 Jayapura. Selama sekolah saya numpang di rumah kerabat yang juga dari kalangan transmigran,” jelas bapak dua anak itu.

Setelah tamat SMA, Suprojo melanjutkan kuliah di Universitas Cenderawasih dan mengambil jurusan pendidikan matematika. Begitu lulus tahun 1998, ia langsung diterima menjadi guru di SMPN 3 Sentani dan pada tahun 2002 pindah jadi guru di SMAN 1 Sentani.

Pada saat mengajar di SMA 1 Sentani, Suprojo sempat dua kali mengambil jenjang pendidikan pasca sarjana atau S2. Yakni, progam psikologi pembelajaran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan program pendidikan matematika di Universitas Cenderawasih Jayapura.

Setelah cukup lama jadi guru, suami Nurul Khasanah itu kemudian mendapat amanah sebagai Kasi Kurikulum SMA dan SMK pada tahun 2014. Kemudian, pada tahun 2016 hingga sekarang, ia dipercaya mengemban jabatan sebagai Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Jayapura.

Selain Suprojo, dalam rombongan itu, ada satu orang lagi yang juga aslinya dari Grobogan. Yakni, guru SD Inpres Komba bernama Kartinah yang berasal dari Kecamatan Gabus. Semasa SMP di Gabus, Kustinah merupakan adik kelas dari Kepala SDN 04 Purwodadi Widarti. Saat bertemu, keduanya langsung terlihat akrab karena pernah saling kenal sebelumnya.

Editor: Supriyadi

Pimpinan DPRD Bojonegoro Belajar Prosedur Mendapatkan Pinjaman dari Pihak Ketiga ke Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Keberhasilan Pemkab Grobogan bisa mendapatkan pinjaman dari pihak ketiga untuk membiayai perbaikan infrastruktur jalan ternyata mengundang ketertarikan daerah lain untuk menimba ilmu. Salah satunya datang dari DPRD Bojonegoro, Jawa Timur yang datang ke Grobogan, Jumat (9/2/2018).

Mereka yang berkunjung ke Grobogan adalah tiga Wakil Ketua DPRD Bojonegoro . Yakni, Sukur Priyanto, Suyuthi dan Ahmad Sunjani serta sejumlah staf secretariat DPRD Bojonegoro.

Ada beberapa hal yang ingin dipelajari anggota dewan Bojonegoro itu saat berkunjung ke Grobogan. Diantaranya adalah untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai prosedur mendapatkan pinjaman dan masalah pelaksanaan Musrenbang.

Kedatangan rombongan wakil rakyat dari Bojonegoro disambut Sekretaris Daerah Grobogan Moh Sumarsono di ruang wakil bupati. Sejumlah pejabat ikut mendampingi Sumarsono saat menerima tamunya.

Sumarsono menyatakan, pada tahun 2017 ini, pihaknya memang mengajukan  pinjaman sebesar Rp 200 miliar melalui Bank Jateng. Seluruh dana pinjaman dialokasikan untuk perbaikan jalan sepanjang 66,3 km yang sudah selesai dikerjakan pada tahun lalu.

“Masyarakat sudah sangat menantikan perbaikan jalan tetapi anggaran kita terbatas. Salah satu upayanya adalah melakukan pinjaman,” katanya saat menyampaikan penjelasan.

Menurutnya, dalam melakukan pinjaman memang butuh proses cukup panjang. Mulai mempersiapkan rencana, membahas dengan dinas terknis terkait serta harus mendapatkan persetujuan dari DPRD. Setelah itu, perlu pula melakukan pengajuan kepada Mendagri untuk mendapatkan persetujuan.

Sumarsono menjelaskan, tahun 2017 dialokasikan dana sebesar Rp 392 miliar untuk perbaikan jalan sepanjang 141 km yang terbagi dalam 236 paket pekerjaan. Selain pinjaman Rp 200 miliar, dana perbaikan jalan juga berasal dari APBD, dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK) dan bantuan keuangan Provinsi Jateng.

Ia menambahkan, jalan dengan status milik kabupaten panjang keseluruhan ada 890 km. Dari angka ini, jalan yang kondisinya baik baru 58 persen atau sekitar 500 km. Dengan perbaikan tahun ini, ditargetkan bisa mengurangi ruas jalan rusak sekitar 15,5 persen atau sepanjang 141 km.

Editor : Supriyadi

Ini Lho Rahasianya Rembang Bisa Raih Anugerah Parahita Ekapraya

Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016) (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016) (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kabupaten Rembang tergolong sebagai kabupaten yang sukses dalam meraih penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE). Karena inilah, Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016).

Dalam tiga tahun berturut-turut, Rembang berhasil menyabet gelar bergengsi itu, yakni pada tahun 2012, 2013 dan 2014 dengan kategori utama. Sementara, kategori Pratama dan Madya, masing-masing diraih tahun 2007, 2009, 2010 dan 2011. Sehingga, secara total keseluruhan, Kabupaten Rembang telah meraih 7 kali penghargaan APE dengan berbagai kategori.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Rembang Drupodo mengungkapkan, Rembang memiliki peraturan bupati sejak tahun 2011 dan bulan Maret ini bupati menerbitkan surat edaran untuk mendukung PUG di Rembang.

“Surat edaran tersebut berisi, semua SKPD harus ada satu program yang berkelanjutan dan dua kegiatan strategis yang mendukung pengarusutamaan gender di rencana kerja masing-masing SKPD,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Drupodo, di Rembang sering digelar rakor dan roadshow PPRG untuk mendorong kegiatan- kegiatan yang menyentuh pada pengarusutamaan gender. Kemudian, ada fasilitasi dana untuk kader PUG di desa.

“Kemudian juga mendorong kasubbag perencanaan di masing-masing SKPD untuk mulai belajar merencanakan program yang menyentuh kesetaraan gender,” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, APE merupakan bentuk penghargaan atas komitmen dan peran para pimpinan kementrian atau lembaga dan pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui strategi pengarusutamaan gender.

“Rembang sendiri sudah meraih tujuh kali penghargaan APE. Kategori pratama tahun 2007 dan 2009 dan kategori madya tahun 2010 dan 2011, dan kategori utama tahun 2012, 2013 dan 2014,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Pemkab Sleman ‘Sekolah’ ke Rembang untuk Belajar Pengarusutamaan Gender

Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta, belajar tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) ke Kabupaten Rembang, Rabu (23/3/2016). Rombongan yang terdiri atas 45 orang itu, ingin mengetahui resep sukses Pemkab Rembang hingga meraih Anugerah Parahita Eka Praya beberapa kali hingga tingkat utama.

Sekretaris Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Perlindungan Perempuan (KBPMPP) Sleman Puji Astuti menjelaskan, kedatangannya ke Kota Garam ini merupakan observasi lapangan sebagai tindak lanjut dari whorkshop PUG beberapa hari yang lalu. “Kami ingin Sleman bisa sukses tentang PUG dan meraih penghargaan APE tingkat utama seperti Rembang,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan hanya memiliki luas 547 km, namun dihuni lebih dari 1 juta warga dan sebagian besar warga nomaden atau tidak menetap menjadi tantangan tersendiri.“Kepadatan penduduk dan dihuni sebagian besar warga nomaden, menjadi faktor yang membuat kita harus ekstra kerja keras, untuk membuat perencanaan dan penganggaran yang responsif gender (PPRG),” imbuhnya.

Dijelaskan olehnya, Sleman baru memperoleh penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya tingkat madya satu kali. Sebab, sebelumnya tingkat pratama. Tahun ini, pihaknya berharap agar bisa meniru strategi Rembang, khususnya tentang PPRG.

“Temen-temen ini sudah kita bekali dengan ATM, yakni amati, tiru dan modifikasi. Sehingga, apa yang disampaikan saat dialog betul-betul diamati dan ditiru selanjutkan kita modifikasi sehingga pada saatnya nanti kita bisa meraih APE tingkat utama,” terangnya.

Di Rembang, masing-masing SKPD, kata Puji, memiliki perencanaan tentang program PUG, seperti Bappeda punya perencanaan sendiri, Inspektorat punya perencanaan, begitu juga SKPD lainnya. “Di sini kita mencoba melihat lebih dekat dari sisi regulasi, kolaborasi lintas SKPD. Yang mana, di Sleman untuk Inspektorat belum bisa masuk,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

DPRD Bojonegoro Studi Banding ke Jepara

Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bojonegoro berkunjung di Kabupaten Jepara, Rabu (13/5/2015). (MURIA NEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Kabupaten Jepara yang selama ini terkenal dengan sebutan Kota Ukir, Adipura dan WTP, kini menjadi salah satu pusat tujuan kunjungan kerja untuk studi banding. Kali ini giliran Komisi D  DPRD Kabupaten Bojonegoro berkunjung di Kabupaten Jepara, untuk mempelajari perencanaan dan pelaksanaan Lingkungan hidup di Jepara.

Lanjutkan membaca