Dawet Mantingan, Kuliner Khas Jepara yang Terjaga Lebih dari Setengah Abad

MuriaNewsCom, Jepara – Jika berkunjung ke Jepara, khususnya Wisata Religi Makam Mantingan, jangan lupa mampir ke Dawet Mantingan. Dawet yang melegenda dari empat generasi ini cukup familier bagi masyarakat Jepara.  Tak hanya rasa yang unik, kuliner tradisional ini juga memiliki rasa segar dan mengenyangkan.

Berbeda dengan dawet pada umumnya yang menyajikan cendol beserta santan ditambah dengan manisnya gula merah cair, di Dawet Mantingan ini kita dapat menemukan cendol yang cukup mungil dicampur dengan bubur pati yang memiliki rasa gurih dan manis.

Dawet Mantingan ini juga menjadi pilihan warga sekitar disaat terik matahari menjelang. Perpaduan rasa khas gula aren dicampur dengan perasan santan ini membuat dawet tersebut makin gurih, manis dan segar.

Farida (50), generasi keempat Dawet Mantingan ini mengaku keluarganya mulai berjualan dawet sejak 1958 atau 60 tahun yang lalu. Awalnya, usaha dawet ini dirintis oleh mbah buyutnya Mbah Sanisih. Kala itu, Mbah Sanisih merintis usaha di depan Makam Mantingan tepatnya di bawah pohon ringin.

Dawet Mantingan kuliner khas Jepara yang sudah terjaga sejak 1958 lalu. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Melihat banyaknya usaha dawet di Jepara, Mbah Sanisih mencoba membuat resep baru. Ia memadukan cendol yang dibuat dari sagu aren (yang hanya ada di Jepara, khususnya daerah Plajan) dengan bubur pati.

Karena sagu aren itulah, gurihnya Dawet Mantingan ini menjadi jujugan banyak orang, termasuk pelancong dari luar kota. Apalagi, rasa dawet tersebut tidak dapat ditemukan di penjual dawet lainya, meski bahan bakunya sama.

Mulai dari sini lah cendol Mantingan mulai dikenal. Mereka yang mencicipi Dawet Mantingan  mulai bercerita ke orang, hingga menjadi cerita dari mulut ke mulut dan kini menjadi kuliner khas Jepara.

Setelah mbah Sanisih tiada, usaha tersebut diturunkan kepada putrinya Hj Sutiyah kemudian turun lagi ke adiknya Misayati. Setelah Misayati tiada, kini usaha tersebut dipegang oleh cicitnya yaitu Rosidah dan Farida.

Sejumlah pelanggan menikmati gurihnya dawet Mantingan, kuliner khas jepara yang melegenda sejak 1958. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Meski sudah lebih dari setengah abad, namun untuk menjaga cita rasa Cendol Mantingan ini, Farida dan Rosidah masih memegang teguh pendirian sang buyut. Salah satunya memasak cendol, bubur, gula hingga santanya pun masih menggunakan kayu bakar.

“Pesan dari mbah dulu, masaknya harus tetap dengan kayu bakar. Dan untuk membuat cendolnya pun dengan menggunakan sagu aren yang hanya ada di Jepara. Sagu tersebut bahanya sama dengan makanan khas Jepara yaitu horog-horog,” jelasnya.

Hingga generasi keempat ini, mereka masih menjunjung tinggi resep turun temurun itu. Hanya saja untuk tempat jualan sudah berpindah. Sejak neneknya Hj Sutiyah selaku generasi kedua mulai menua dan sakit Cendol Mantingan pun pindah di sebelah timur Makam Mantingan.

Sementara itu, Titik (40) warga Panggang mengaku setiap melintas di dearah Mantingan, pasti menyempatkan mampir ke cendol yang melegenda itu. Bahkan setiap hari Jumat, dia bersama teman-temanya menyempatkan untuk menikmati kesegaran dawet tersebut.

“Rasanya khas, manis, gurih dan segarnya itu belum bisa ditemukan di dawet-dawet yang lain. Selain itu harganya cukup terjangkau hanya Rp 3.500 perporsi jadinya sangat terjangkau,” jelasnya.

Dian (22), salah seorang karyawan swasta ini mengaku setiap hari dia membungkus dawet tersebut untuknya dan juga teman-teman di gudang meubelnya. Selain segar, dawet tersebut juga mengenyangkan.

“Rasanya segar, selain itu juga mengenyangkan, harganya juga murah jadi lumayan untuk mengganjal perut,” kata gadis manis ini.

Editor: Supriyadi

Jangan Harap Kebagian Jika Tak Bikin Janji, Lontong Opor Bu Pangat Cepu Ini Larisnya Kebangetan

MuriaNewsCom, Blora – Segala cara dilakukan banyak orang untuk mendapatkan sesuatu. Tidak terkecuali untuk mengisi perut dengan makanan. Di Blora, tepatnya di daerah Kapuan, terdapat lontong opor Bu Pangat.

Untuk mencapai warung ini, kita harus melewati hutan jati yang jaraknya dari Kecamatan Cepu lumayan jauh. Namun, perjuangan yang panjang itu berakhir dengan segarnya kuah lontong opor Bu Pangat menghangatkan tenggorokan.

Warung ini berada di daerah Ngloram, Desa Kapuan, Kecamatan Cepu. Di warung ini beraneka keunikan bisa kita lihat. Seperti rasa kecele ketika sudah jauh-jauh sampai ke Kapuan tapi lontong opor sudah ludes.

Seperti dialami Giyanto, warga Semarang yang hendak mencicipi lontong opor ini. Bersama keluarganya harus gigit jari karena lontong opor Bu Pangat ini sudah habis.

Gonduk aslinya. Sudah sampai sini malah habis. Saya dari Surabaya sengaja pulang lewat Bojonegoro terus mampir ke sini untuk makan karena rekomendasi teman, ternyata sudah habis, ya sudah makan di Blora saja,” katanya, kecewa.

Kekecewaan Giyanto akhirnya teredam dengan penjelasan karyawan Bu Pangat. “Kalau ke sini pesan dulu, Pak. Ini kartu namanya,” katanya.

Menurut para pelanggan setia Bu Pangat, mereka harus pesan dulu sebelum berangkat ke sana jika tidak ingin gigit jari seperti yang dialami Giyanto. “Pernah kami lupa pesan dulu, sampai sini sudah habis. Padahal jauh-jauh dari Blora,” ujar Lista, pengunjung lain.

Bu Pangat meracik lontong opor dengan bumbu rahasia. Namun, kelezatan dan cita rasa masakannya juga tercipta pada kayu jati sebagai alat pengganti kompor untuk memasaknya.

“Saya memasaknya dengan kayu jati yang kering dan kayu jati tidak menimbulkan asap sama sekali. Rasa makanan jadi lebih alami tidak bercampur asap,” cerita Bu Pangat saat dikunjungi Sudirman Said, cagub Jateng beberapa waktu lalu.

Calon Gubernur Jateng, Sudirman Said menikmati opor lontong Bu Pangat yang sudah dikenal kelezatannya. (MuriaNewsCom/Hana Widya)

Habiskan 50 Ekor Ayam Setiap Hari

Setiap hari Bu Pangat menyediakan 50 ekor ayam dere’ atau ayam muda yang besar dan dagingnya tidak alot. Proses pemotongan ayam dilakukan setelah subuh dan memulai masak opor pukul 08.00. “Kalau ada pesanan bisa potong ayam sampai 70 ekor,” tambah Bu Pangat.

Untuk lontong, Bu Pangat membuat sendiri. Proses memasaknya butuh waktu delapan jam dimulai dari pukul 00.00 dinihari. Berbeda dengan lontong opor lainnya, Bu Pangat menyajikan tekstur kuah lontong yang gurih dan daging ayam yang lunak dan sedikit pedas menyatu dengan kuah lontong opor ini.

Di rumah makan yang bernuansa jati dengan dinding berwarna serba hijau ini, Bu Pangat melayani para pembeli dengan cekatan. Warung ini buka sejak pukul 08.00. Sebelum pukul 12.30 sudah dipastikan lontong opor ini habis.

Sementara, pelanggannya berjubel setiap hari. Dari warga sekitar sampai masyarakat luar Blora sudah merasakan lontong opor ayam bikinan bu Pangat ini. Bahkan tokoh-tokoh ternama juga pernah mencicipinya. Terutama Sudirman Said beberapa waktu lalu.

“Ini Lontong opor yang luar biasa,pedes tapi bikin ketagihan,” kata Sudirman Said saat dimintai komentarnya usai mencicipi segarnya kuah lontong opor tersebut.

Cukup dengan Rp 10.000,- kita bisa dapat seporsi lontong opor. Untuk minumnya, kita bisa minum bir tekek. Bukan bir dalam arti sebenarnya. Orang Blora menyebut bir tekek yaitu minum air putih dari kendi tanah liat yakni menuangkan air putih dengan  kendi. Bagian leher kendi dipegang dan kita minum air dari ujung kendinya, seperti ditekek bukan?

Editor: Supriyadi

Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Gelandangan jadi Pengusaha Kuliner Sukses

Slamet sedang menjajakan daganganya di warungnya di Panjang, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Kudus – Siapa sangka, semangatnya yang membara mampu mengubah kondisi jadi lebih baik. Dulu pernah hidup menggelandang. Setiap hari, tidur di terminal Terboyo Kota Semarang. Adalah Slamet Riyadi. Kini, dia menjelma jadi pengusaha kuliner khas Lamongan, Jawa Timur.

“Dulu saya tidur di terminal. Sekitar tahun 2000. Pada bulan Agustus,” kata Slamet Riyadi membuka percakapan.

Slamet kala itu kali pertama merantau ke ibu kota Jawa Tengah. Niatnya, ingin jadi orang yang sukses. Karena tak punya kerabat di Semarang, Slamet memilih tidur di tempat mana saja. Terminal pun jadi pilihannya.

Setiap waktu malam tiba, Slamet rebahkan tubuhnya di sudut terminal. Seperti di musala, atau lainnya. Begitu siang tiba, Slamet kerja. Beruntung, dia diterima kerja sebagai pelayan di warung makan Padang Siti Aminah. Dengan gaji seadanya. 

Berangkat dari situ, nasibnya mulai membaik. Terutama saat Slamet pindah tempat kerja. Sejumlah warung makan mengizinkan karyawannya tinggal di mes atau kamar khusus. Akhirnya, Slamet pun tak lagi tidur di sembarang tempat.

 

Slamet berada di depan warungnya di Panjang, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

 

Kini, dia membuka warung sendiri. Dengan mengantongi pendapatan Rp 600 ribu per hari. Ditemui di warungnya di bilangan Lingkar Utara Panjang, Kabupaten Kudus, Slamet menceritakan, usaha makanan itu ditekuninya sejak 2004 akhir di Semarang. Dengan modal awal Rp 5 juta. 

Modal itu hasil dari utang kepada teman. Mulanya, usaha dijalankan di area Indraprasta, Kota Semarang. “Ingat sekali, dulu waktu nyari modal jualan aku harus utang ke teman. Uangnya dipakai untuk beli bahan-bahan utama, seperti gerobak, tenda terpal, kompor, dan lainnya,” kenang pemilik usaha kuliner MTV Barokah itu saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (22/11/2017).

Setelah melakukan berbagai persiapan, pria asal Rembang ini mencoba peruntungannya dengan menjajakan makanannya di pinggir jalan. Berdua dengan seorang teman. Slamet berhasil menjajakan makanannya laris manis.

Hal itu tak lepas dari sosoknya yang telah berpengalaman menjadi pelayan warung makanan serupa selama lima tahun. Ditambah lagi, hari pertama jualan di Semarang, Slamet turun ke jalan dan kampus di sekitar lokasi jualan, untuk menyebar publikasi.

Hari-hari selanjutnya, Slamet teruji menjadi pengusaha kuliner Lamongan sukses. Pendapatannya sekitar Rp 700 ribu per hari. “Lokasi jualannya kebetulan bekas tempat dagang mantan bosnya dulu,” kata Slamet. 

Lokasi jualannya itu dikontraknya Rp 200 ribu per bulan. Waktu jualannya dari pukul 17.00-24.00 WIB. Setiap hari warung beroperasi, kecuali saat kondisi tubuh lelah. 

Usahanya makin laris dan berkembang pesat. Saat itu, kakaknya yang tinggal di Rembang, ditawari untuk mengelola warung tersebut. Sang kakak pun bersedia. Hingga sekarang, sang kakak berhasil memajukan usaha. Dengan omzet per hari Rp 1,2 juta.

Lantas, Slamet pindah ke Kudus, bersama istri, Yunita. Di sinilah, Slamet memulai uji kemampuannya sekali lagi. Dengan modal Rp 15 juta, yang merupakan sisa hasil jualan selama di Semarang.

Uang tersebut dipakai untuk menyewa satu kios, dan membeli berbagai peralatan usaha kuliner Lamongan, dengan nama MTV Barokah. Di tempat yang baru, pria tiga bersaudara mendulang sukses di minggu pertama, dan kedua berjualan.

Di minggu selanjutnya, penjualan menurun drastis. Dia menduga, itu karena pelanggan awalnya hanya mencoba. Begitu seterusnya, penjualan mulai berjalan standar. “Babat alas (merintis dan mengenalkan usaha) di Kudus setahun,” ucapnya.

Baru di tahun berikutnya sampai sekarang, penjualan meningkat drastis. Di Kudus, Slamet membuka warungnya siang hingga sore hari. Hal itu berbeda dengan usahanya di Semarang, yang beroperasi dari sore hingga larut malam.

Setiap hari, ratusan pembeli berjubel membeli makanannya. Terutama saat jam makan siang. Menu yang jadi pilihan pelanggan, di antaranya tempe dan tahu penyet, ayam penyet, lele, dan telur. Harganya berkisar Rp 5 ribu untuk seporsi nasi tempe, lele Rp 8 ribu, ayam Rp 15 ribu, ati ayam Rp 6500, dan telur Rp 5.500.

Editor : Supriyadi

Maknyus!! Kuliner Khas Tambak di Jalan Juwana-Tayu Pati Ini Bikin Nagih

Pengunjung tengah menikmati aneka menu khas tambak di Warung Imboh Dewe, Langgenharjo, Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada sebuah warung kecil yang menyajikan aneka kuliner khas tambak di kawasan Jalan Tayu-Juwana, tepatnya di Desa Langgenharjo, Juwana.

Namanya Warung Makan Imboh Dewe. Berbagai menu khas tambak yang disajikan, antara lain rica-rica belut, bandeng, blanak, janjan, cukil, udang, dan masih banyak lagi lainnya.

Pemilik warung, Ngarni mengatakan, nama “imboh dewe” berarti imbuh sendiri. Artinya, pengunjung boleh mengambil nasi sepuasnya hanya dengan bayar Rp 5.000 per porsi.

“Satu porsi nasi putih harganya Rp 5.000, tapi puas ambil sendiri dan imbuh sendiri. Makanya kami namakan warung imboh dewe,” ujar Ngarni, Kamis (14/9/2017).

Satu porsi ikan paling murah dihargai Rp 10.000, sedangkan paling mahal Rp 15.000 per porsi. Harga tersebut terbilang relatif terjangkau bila dibandingkan di restoran dengan menu yang sama.

Agus Rijanto, salah satu pengunjung mengaku tergoda dengan sambal terasi khas Juwana yang disuguhkan. Belum lagi, dia bisa menikmati santapan ikan khas tambak dengan nuansa tambak garam di sekitarnya.

Satu menu yang dia gemari adalah rica-rica belut. Santapan itu dianggap unik, karena jarang ditemui di warung-warung lain.

“Karakter makanannya khas pesisir, ditunjang sambal terasi khas Juwana sehingga terasa berbeda dan lebih istimewa. Harganya juga cukup terjangkau dengan melihat sajian yang disuguhkan,” ucap Agus.

Editor: Supriyadi

Kamu Punya Buah Sukun di Rumah, Ini Pesan Pak Bondan Maknyus

Pakar kuliner Indonesia Bondan “Maknyus” Winarno saat menjadi juri lomba masal serba sukun, Jumat (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Buah sukun memang luar biasa. Di bawah pohon sukun jugalah, Soekarno merenung hingga terciptalah Pancasila, yang menjadi dasar negara kita.

Namun kandungan gizi yang terdapat pada buah sukun, menjadikan buah ini sebagai buah yang istimewa dan bisa dibuat aneka makanan enak.

Karena itu, pakar kuliner Indonesia Bondan “Maknyus” Winarno mengatakan, buah sukun bisa menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan di negeri ini.

“Banyak sekali contohnya. Saat menanak nasi misalnya, kita bisa tambahkan buah sukun ke dalamnya. Dan hasilnya tetap enak. Sudah teruji kalau itu,” katanya dalam lomba masak buah sukun dalam rangka HUT ke-70 Sukun, di Sukun Sport Centre, Jumat (8/9/2017).

Ada tips lain membuat buah sukun, menjadi makanan enak pendamping nasi. Bondan menyarankan supaya buah sukun digoreng kering tipis, dan dicampurkan bersama nasi. “Pasti menambah renyah nasi. Bisa menggantikan kerupuk. Siapa orang Indonesia yang tidak suka makan sambil berbunyi kriuk-kriuk begitu,” jelasnya.

Diversifikasi aneka menu dari buah sukun, akan sangat menarik sekali,  sebagaimana dikatakan Bondan. Karena buah ini termasuk buah yang sangat fleksibel untuk diolah menjadi berbagai masakan.

“Hari ini kita sudah mendapatkan banyak sekali contoh menu masakan dari buah sukun. Contoh bahwa buah ini bisa menambahkan ketahanan pangan di negeri ini,” imbuh Bondan.

Lomba masak buah sukun ini sendiri, diikuti berbagai perwakilan atau grup dari Sukun Group. Suasananya begitu meriah, karena juga peserta mendapat dukungan dari suporter mereka.

Selain lomba masak, juga digelar lomba yel-yel. Ada lima belas tim yang ikut lomba ini. Mereka terlihat bersemangat menampilkan performa terbaik mereka di hadapan dewan juri.

Editor: Supriyadi

Bondan Maknyus: Es Puter Sukun Ini, Out of the Box

– Pakar kuliner Indonesia, Bondan “Maknyus” Winarno bersama dewan juri lainnya saat mencicipi es puter sukun, Jumat (8/9/2017). (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Pakar kuliner Indonesia, Bondan “Maknyus” Winarno dikejutkan dengan aneka menu yang bisa dibuat dari bahan baku buah sukun. Salah satunya adalah es puter sukun.

“Saya harus akui, bahwa hasil kreasi es serut sukun ini luar biasa. Kreativitasnya sangat bagus. Istilahnya out of the box,” katanya dalam lomba masak buah sukun dalam rangka HUT ke-70 Sukun, di Sukun Sport Centre, Jumat (8/9/2017).

Menurutnya, menjadikan buah sukun sebagai bahan es puter, belum terpikirkan sebelumnya. Namun ada satu yang kemudian membuat masakan penutup tersebut istimewa.

“Karena, rasa sukunnya masih ada. Itu yang istimewa. Tidak tercampur dengan lainnya. Masih dominan rasanya,” katanya.

Ya, es puter sukun menjadi satu dari sekian banyak menu makanan yang berhasil dibuat dalam lomba tersebut. Kelima belas peserta memang menampilkan menu yang khas.

Sebut saja puding sukun, nasi uduk, pastel, risoles, galantin, sayur lodeh, dan lainnya.

Kesemuanya mendapat apresiasi dari Bondan dan tim juri lainnya. Meski ada juga ketidaksesuaian antara nama dan hasil jadi menu. Namun, semua masakan memang enak untuk dicoba.

“Memang menu yang ditampilkan berbahan utama buah sukun. Kita ingin ada berbagai menu yang bisa dihasilkan dari buah yang banyak manfaat ini,” kata Armnima YW, salah satu dewan juri lainnya.

Editor: Supriyadi

Sensasi Berkuliner di Atas Perahu di Waduk Tempuran Blora, Nyam..Nyam!

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

MuriaNewsCom, Blora –  Waduk Tempuran yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, tepatnya di Desa Tempuran, Kecamatan Kota, Blora, memang sudah lama dikenal sebagai salah satu objek wisata unggulan. Selain sebagai wisata alam, kuliner dan pusat pelatihan dayung, kini ada yang baru di waduk peninggalan Belanda ini.

Yakni sensasi berkuliner di atas perahu. Pengunjung, khususnya para pecinta kuliner bisa menikmati berbagai menu olahan ikan sambil berkeliling naik perahu dengan panorama alam Pegunungan Kendeng yang berbalut hutan jati hijau. Sesekali perahu akan berhenti di tengah waduk dan mempersilakan penikmat kuliner untuk makan sampai berswa foto (selfie).

Sebagai pengamanan, di atas perahu para pengunjung ditemani oleh dua orang petugas. Perahu juga dilengkapi dengan pelampung dan penyeimbang agar tidak mudah goyang saat berada di tengah waduk.

Seperti yang ada pada akhir pekan lalu. Sepasang muda mudi tampak asyik menikmati menu ikan bakar sambil berkeliling waduk dipandu oleh dua orang petugas. Dari kejauhan, mereka tampak asyik berdua sambil  berswa foto membidik pemandangan alam sebagai latar belakang foto.

“Tempuran sekarang lebih menarik dengan adanya fasilitas perahu. Kita bisa makan di atas perahu sambil keliling waduk, sensasinya beda. Apalagi kalau ditemani orang tersayang, cocok untuk kalangan muda,” ucap Nanik Wijaya (27) salah satu penikmat kuliner di atas perahu dikutip dari Facebook Akun Humas Protokol Kabupaten Blora.

Tak hanya makan ikan bakar sambil berkeliling waduk, di kawasan ini para pengunjung juga diberikan fasilitas. Yaitu sebuah dermaga menyerupai kapal yang dibangun menjorok ke tengah waduk. Tempat ini biasa digunakan para pengunjung untuk berburu foto, terutama saat matahari terbenam.

Sulastri (40) pemilik Warung Iwak Kali (WIK) di tepi Waduk Tempuran yang melayani kuliner di atas perahu menyatakan bahwa fasilitas berkeliling waduk sambil makan di atas perahu merupakan paket baru untuk memberikan kesan menarik kepada para pecinta kuliner.

“Ini paket baru yang kita tawarkan kepada para pengunjung. Sehingga mereka datang tidak hanya makan saja, tapi juga bisa menikmati pemandangan alam dengan berkeliling waduk,” ucap Sulastri.

Pengunjung menikmati kuliner di atas perahu di Waduk Tempuran, Kecamatan Kota, Kabupaten Blora. (Tim Berita Humas Protokol Setda Blora)

 

Menurutnya, untuk pengunjung yang ingin menikmati kuliner di atas perahu harus memesan terlebih dahulu di Warung Iwak Kali miliknya. Sistemnya paketan, di mana pengunjung bisa dilayani kekeling waduk selama 30 menit sambil makan sajian kuliner yang dipesan.

“Berhubung ini fasilitas baru, sehingga jumlah perahu masih terbatas. Jika respons pengunjung bagus, tidak menutup kemungkinan kedepan perahunya akan kami tambah lagi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sego Dodok, Kuliner Jepara Merakyat yang Ngehits

Suasana tempat kuliner Sego Dodok di Jalan Ahmad Yani Jepara, saat waktu petang, kemarin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 2 tahun silam kuliner “Sego Dodok” di Kota Ukir Jepara berkembang pesat. Khususnya di pusat kota setempat. Kuliner ini berbentuk umumnya Angkringan, dengan menu variatif. Mulai lauk, makanan gorengan, dan nasi bungkus (nasi kucing). Dengan harganya terjangkau.

Sego Dodok dalam Bahasa Indonesia yakni nasi yang dimakan sambil jongkok atau duduk. Warga Jepara menyebutnya dengan sebutan Sego Dodok. Tempat yang banyak dijumpai penjual kuliner ini yakni di sepanjang Jalan Ahmad Yani atau sebelah utara alun-alun setempat, hingga Jalan Syima Jepara. Biasanya, kuliner ini mulai beroperasi sore hingga malam hari.

Salah satu penjual Sego Dodok dari Kelurahan Pengkol Jepara, Erni mengatakan, ia berjualan kuliner Sego Dodok sejak 2, 5 tahun lalu. Sejauh ini, banyak dari warga setempat menjadi langganannya. “Mereka lebih suka makan di Sego Dodok. Harganya terjangkau. Ketimbang makan di rumah makan pinggir jalan,” kata Erni.

Sementara itu, penjual lainnya Budi mengatakan, kondisi Jepara di saat malam hari memang berbeda dengan kota lain. Di pinggir jalan, lebih banyak tempat mebel daripada warung. “Jadi Sego Dodok jadi pilihan utama,” kata Budi.

Biasanya, pembeli berasal dari warga yang baru pulang kerja. Ada yang makan di lokasi warung, ada pula yang membeli makanan untuk dibawa pulang. Harga sebungkus nasi di warung Sego Dodok bervariasi. Mulai dari Rp.1.500 per bungkus hingga Rp 2.500 per bungkus, tergantung lauk di dalamnya.

Sedangkan untuk gorengannya dari Rp 500 hingga Rp 2 ribu.  Adapun harga lauknya sate usus, sate jeroan, sate jengkol mulai dari Rp 1.000 hingga Rp. 2.500 per tusuknya.

Editor : Akrom Hazami

Inilah Filosofi Lontong Tuyuhan yang Perlu Kamu Tahu

f-lontong tuyuhan (e)

Lontong Tuyuhan yang bentuknya segitiga (MuriaNewsCom/Edi Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jika berkunjung ke Kabupaten Rembang, belum lengkap rasanya jika belum mencicipi kuliner khasnya. Salah satunya adalah Lontong Tuyuhan. Ya, Kuliner yang berasal dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur ini dipercaya para pecinta kuliner memiliki cita rasa khas jika disantap langsung di tempat asalnya.

Namun, tahukah Anda? Jika bentuk Lontong Tuyuhan memiliki perbedaan dengan lontong yang selama ini dijumpai. Jika pada umumnya lontong dibungkus dengan daun pisang dengan bentuk bulat dan memanjang, namun lain halnya Lontong Tuyuhan yang bentuknya segi tiga.

Di balik bentuk Lontong Tuyuhan yang segi tiga itu, ternyata memiliki makna dan filosofi tersendiri. Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, bentuk segi tiga pada Lontong Tuyuhan itu menggambarkan unsur terterntu yang saling berhubungan.

Pertama, katanya, memiliki makna Ketuhanan. Yakni, manusia sebagai hamba-Nya harus taat perintah dan menjauhi larangan atau amal makruf nahi munkar. Jika hal itu dijalankan, maka kehidupan manusia, khususnya di Rembang bisa berjalan dengan baik, dengan berpedoman pada agama.

Menurutnya, Jika dikaitkan dengan hal itu, tak heran di Rembang banyak dijumpai ratusan pondok pesantren maupun sekolah agama. Sehingga kehidupan di kota Rembang sangat kental sekali ajaran agamanya.

“Yang kedua yakni, manusia harus taat akan Rasul hingga ulama. Sebab, mereka yang membimbing kehidupan manusia akan sesusai dengan perintah agama. Dan itu nantinya akan bermuara pada makna yang pertama. Yakni taat kepada Tuhan,” paparnya.

Selanjutnya, untuk yang ketiga yaitu, taat pada pemerintah. Hal ini, supaya kehidupan warga bisa tertata dan sejahtera. “Selain itu, Lontong Tuyuhan yang dibungkus daun pisang ini, juga ada tiga lidi yang ditusukkan, yang berfungsi sebagai perekat, sehingga berasnya tidak berceceran. Tiga lidi ini juga memiliki makna tegak lurus, yaitu, ajaran agama harus benar-benar diamalkan, atau tegak lurus jangan tergoyahkan,” ujarnya.

 

Editor : Kholistiono

Ini Sensasi Rasa Tongseng Iga Sapi di Pati yang Tak Biasa

Pengunjung tengah menikmati tongseng iga bakar di Jalan Tondonegoro Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung tengah menikmati tongseng iga bakar di Jalan Tondonegoro Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jika berkunjung ke Kota Pati, pastinya tak asing dengan menu khasnya yaitu Nasi Gandul. Namun tak ada salahnya jika Anda mencoba mencicipi kuliner istimewa yang ada di kota pensiunan ini, yaitu tongseng iga sapi.

Selama ini, tongseng identik dengan daging kambing. Beda halnya tongseng yang ada di Jalan Tondonegoro Pati, menu tongseng yang ditawarkan terbuat dari iga sapi. Rasanya pun tak kalah dengan tongseng biasa.

Tak ayal, menu yang terbilang cukup unik ini selalu ramai dikunjungi penikmat kuliner, terutama pada saat jam-jam makan siang hari. Penikmatnya pun lintas generasi dan profesi.

Hal itu wajar, karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk menikmati satu porsi tongseng iga sapi, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 18 ribu saja.

”Harganya cukup terjangkau. Satu porsi tongseng iga sapi cukup dengan Rp 18 ribu saja. Padahal, rasanya mantap dan pas di perut. Enak,” kata Agus Rianta, salah satu penikmat kuliner iga sapi asal Desa Kayen kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kuliner iga sapi tersebut cocok disantap pada siang hari. Pasalnya, racikan bumbu dan jenis masakannya memang pas saat dimakan pada siang hari.

Meski begitu, kata dia, tongseng iga sapi bisa saja disantap sebagai menu sore hari. “Kalau pagi sepertinya kok tidak masuk. Ini cocoknya menu siang dan sore,” imbuhnya.

Hal itu diakui pemilik warung, Budi Siswanto. ”Warung kami paling ramai dikunjungi pada siang hari. Banyak pegawai dan staf yang memilih makan siang di warung kami,” ujar Budi.

Dalam sehari saja, Budi mengaku bisa menjual sekitar 70 hingga 100 porsi tongseng iga sapi. ”Rata-rata, saya bisa menjual 70 sampai 100 porsi dalam sehari. Dari 12 kilogram iga sapi, biasanya menghasilkan 50 porsi saja,” tuturnya.

Selain tongseng iga sapi, Budhi’s warung juga menawarkan beragam menu lainnya seperti iga sapi penyet, iga sapi bakar, dan asem iga sapi. Rasanya benar-benar mantap! (LISMANTO/TITIS W)

SMKN 1 Kudus Siap Jadi Yang Pertama

KUDUS – SMK Negeri 1 Kudus terpilih menjadi sekolah kuliner nusantara yang pertama di Indonesia. Ini tentu saja merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi seluruh penghuni sekolah tersebut.
Perjalanan untuk menjadi yang pertama ini, memang sudah dipersiapkan sejak awal. Tujuannya untuk mencetak calon-calon koki atau chef yang mampu menguasai 30 ikonik kuliner nusantara. Sehingga nantinya dapat ditiru dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya di Indonesia.
Peresmian SMKN 1 Kudus menjadi sekolah kuliner nusantara pertama di Indonesia ini, dilakukan langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Kerja sama antara Djarum Foundation dan BNI ini, juga menghadirkan pakar kuliner Indonesia William Wongso, Bupati Kudus H Musthofa, Presiden Direktur PT Djarum Victor R Hartono, Wakil Direktur BNI Melia Salim, dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus Hadi Sucipto.

Lanjutkan membaca