Produk Unggulan Khas Gembong Pati Dipamerkan di Javamall

Pelaku UMKM Gembong berfoto bersama di sebuah pameran di Javamall Semarang, Senin (16/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Beragam produk unggulan khas Gembong dipamerkan di Java Supermall, Semarang yang berakhir pada Senin (16/10/2017).

Produk asli dari Gembong itu, di antaranya jeruk pamelo dan kopi dari Bageng, aneka olahan daun kelor dari Kedungbulus, ceriping singkong dari Plukaran, tape khas Gembong, dan masih banyak lagi produk UMKM lainnya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gembong Sri Ratnawati mengatakan, upaya keikutsertaan pameran di Javamall menjadi bagian dari promosi produk-produk unggulan dari Gembong.

“Kecamatan Gembong punya banyak potensi yang harus dipromosikan tidak hanya di Pati, tetapi juga luar daerah. Karena itu, kami rela iuran untuk ikut pameran di Javamall,” ujar Ratna.

Pameran sendiri diadakan UMKM Center Jawa Tengah dari 10-16 Oktober 2017. Aneka produk unggulan dari Gembong ternyata laris manis terjual hingga kehabisan stok.

“Semuanya kami lakukan dengan swadaya, dari pembayaran sewa stand, transportasi, akomodasi, dan penjaga stand. Semuanya demi promosi produk unggulan khas Gembong,” imbuhnya.

Dia berharap, upaya promosi produk unggulan khas Pati ke depan bisa difasilitasi Dinas Pertanian atau instansi terkait. Pasalnya, terobosan yang mereka lakukan demi mendongkrak produk UMKM dari Pati di mata publik.

Editor: Supriyadi

Sekretaris Anggota Wantimpres Ketagihan Petis Runting Khas Pati

Ketua Tim Kajian Wantimpres Julie Trisnadewani (kiri) saat mencoba petis runting untuk kedua kalinya, Jumat (13/10/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ketua Tim Kajian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Julie Trisnadewani ternyata ketagihan dengan salah satu kuliner khas Pati, Petis Runting. Dia lantas kembali menikmati Petis Runting bersama Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Jumat (13/10/2017).

Kedatangan Julie sebetulnya untuk meninjau hasil sosialisasi penerapan nilai-nilai Pancasila di Pati selama beberapa hari. Dia mengaku terkesan dengan potensi yang ada di Pati, mulai dari kebhinnekaannya, kultur dan tradisi, serta kuliner.

“Ini pertama kali saya makan petis runting. Rasanya enak banget, unik dan menarik. Sempat ketagihan, jadi makan lagi ini,” ujar Julie.

Awalnya ia mengira, petis runting merupakan makanan berupa tahu goreng yang di dalamnya terdapat saus hitam. Karena itu, ia cukup terkejut ternyata petis khas Pati jauh berbeda dengan tahu petis.

Petis runting mirip bubur dengan bahan utama balungan kambing dan tepung beras kasar yang telah disangrai. Kuliner asli Pati ini juga kaya akan rempah-rempah sehingga punya cita rasa khas Nusantara.

“Ibu saya orang Pati. Waktu kecil juga sering main ke Pati, tapi belum tahu kalau ada petis runting. Setahu saya, Pati itu khasnya Nasi Gandul dan Soto Kemiri,” imbuh Juli.

Karena itu, kunjungannya ke Pati sekaligus bernostalgia di kampung halaman ibunya. Menurut dia, Pati saat ini menjadi daerah yang cukup berkembang pesat karena kekayaan dan potensinya mulai terlihat.

Menanggapi pernyataan itu, Saiful Arifin mewakili Bupati Pati Haryanto akan meminta kepada instansi terkait agar potensi yang ada di Pati terus dikembangkan. Dengan demikian, Pati akan menjadi daerah maju seperti Banyuwangi, Jogja, dan Bali.

Editor: Supriyadi

Nyi Lempog, Sosok yang Mengenalkan Semur Kutuk pada 1960

Sri Murni tengah menyajikan semur kutuk kepada pelanggan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nyi Lempog disebut-sebut sebagai sosok yang pertama kali mengenalkan kuliner semur kutuk pada sekitar 1960.

Saat itu, ikan gabus yang dikenal warga setempat dengan sebutan “iwak kutuk” tersebut masih sebatas diolah dengan menu biasa.

Namun, Nyi Lempog punya inisiatif untuk memasaknya dengan cara semur. Setelah dijual, semur kutuk itu ternyata memiliki banyak peminat.

Baca Juga: Berburu Semur Kutuk Legendaris di Kawasan Terminal Kayen Pati

Saat ini, warung yang didirikan Nyi Lempog di kawasan Terminal Kayen dilanjutkan oleh menantunya, Sri Murni.

“Warung ini juga dikenal dengan Pak Wandi. Beliau adalah putra Nyi Lempog, suami saya. Setelah Nyi Lempog wafat, usahanya kami lanjutkan,” ujar Sri Murni.

Krisno, salah satu penikmat kuliner mengatakan, ada daya tarik tersendiri saat menyantap sajian lontong semur kutuk di sana. Salah satunya, nuansa klasik pada warung masih kental seperti tempo dulu.

Warung seluas 5×3 meter itu masih berdinding papan dan berlantaikan tanah. Karena itu, saat dia ingin menikmati suasana tempo dulu pasti datang ke warung tersebut.

Dimulai dari Nyi Lempog, sekarang sudah ada sekitar 15 warung semur kutuk yang tersebar di sejumlah tempat di Kecamatan Kayen. Bahkan, semur kutuk ditetapkan sebagai salah satu makanan khas Pati.

Editor: Supriyadi

Berburu Semur Kutuk Legendaris di Kawasan Terminal Kayen Pati

Sri Murni sedang menyajikan semur kutuk kepada pelanggan di warungnya di Terminal Kayen Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Malam itu suasana di kawasan Terminal Kayen begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang nampak bercakap-cakap sembari menyulut kretek.

Di sudut terminal pinggir jalan, dua orang sedang menyantap kuliner Semur Kutuk di sebuah warung tua berdinding papan dan berlantaikan tanah. Keduanya terlihat lahap menikmati seporsi lontong plus kepala ikan gabus sebesar satu kepalan tangan orang dewasa.

Ikan gabus itu yang disebut ikan kutuk. Ikan tawar yang biasa dijumpai di rawa-rawa dan sungai itu dimasak “semur” dan disajikan secara terpisah dengan lontong.

Ada dua jenis kuah semur yang ditawarkan, yakni rasa pedas dan sedang. Namun, semur kutuk cenderung memiliki cita rasa yang pedas.

Baca Juga: Maknyus!! Kuliner Khas Tambak di Jalan Juwana-Tayu Pati Ini Bikin Nagih

Penikmat kuliner juga bisa memilih nasi atau lontong. Cita rasa semur kutuk semakin lengkap dengan makanan pelengkap yang disuguhkan, seperti bakwan atau pia-pia dan kerupuk.

Penjual semur kutuk, Sri Murni (54) mengatakan, satu porsi semur kutuk dijual dengan harga dari Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu. Mahal tidaknya seporsi semur kutuk ditentukan besar-kecilnya ukuran ikan kutuk.

Bahkan, harga ikan gabus di pasaran juga mempengaruhi harga semur kutuk. Bila stok ikan gabus di pasar langka dan mahal, maka harga semur kutuk juga naik.

“Harganya sesuai dengan harga ikan di pasar, juga besar-kecilnya ukuran ikan. Harga semur kutuk paling mahal biasanya bagian kepala dan ini yang paling digemari penikmat kuliner,” kata Murni.

Dia menambahkan, pengunjung yang datang bukan hanya dari warga Kecamatan Kayen, tetapi juga warga Pati dan sekitarnya seperti Kudus dan Rembang. Buka dari jam 12.00 hingga pukul 21.00 WIB, puluhan porsi semur kutuk yang disajikan ludes dibeli pengunjung.

Editor: Supriyadi

Maknyus!! Kuliner Khas Tambak di Jalan Juwana-Tayu Pati Ini Bikin Nagih

Pengunjung tengah menikmati aneka menu khas tambak di Warung Imboh Dewe, Langgenharjo, Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada sebuah warung kecil yang menyajikan aneka kuliner khas tambak di kawasan Jalan Tayu-Juwana, tepatnya di Desa Langgenharjo, Juwana.

Namanya Warung Makan Imboh Dewe. Berbagai menu khas tambak yang disajikan, antara lain rica-rica belut, bandeng, blanak, janjan, cukil, udang, dan masih banyak lagi lainnya.

Pemilik warung, Ngarni mengatakan, nama “imboh dewe” berarti imbuh sendiri. Artinya, pengunjung boleh mengambil nasi sepuasnya hanya dengan bayar Rp 5.000 per porsi.

“Satu porsi nasi putih harganya Rp 5.000, tapi puas ambil sendiri dan imbuh sendiri. Makanya kami namakan warung imboh dewe,” ujar Ngarni, Kamis (14/9/2017).

Satu porsi ikan paling murah dihargai Rp 10.000, sedangkan paling mahal Rp 15.000 per porsi. Harga tersebut terbilang relatif terjangkau bila dibandingkan di restoran dengan menu yang sama.

Agus Rijanto, salah satu pengunjung mengaku tergoda dengan sambal terasi khas Juwana yang disuguhkan. Belum lagi, dia bisa menikmati santapan ikan khas tambak dengan nuansa tambak garam di sekitarnya.

Satu menu yang dia gemari adalah rica-rica belut. Santapan itu dianggap unik, karena jarang ditemui di warung-warung lain.

“Karakter makanannya khas pesisir, ditunjang sambal terasi khas Juwana sehingga terasa berbeda dan lebih istimewa. Harganya juga cukup terjangkau dengan melihat sajian yang disuguhkan,” ucap Agus.

Editor: Supriyadi

Omzet Festival Kuliner Pati Tempo Dulu Capai Rp 300 Juta

Penjual putu gunung dan klepon menjajakan dagangannya pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Penjual putu gunung dan klepon menjajakan dagangannya pada Festival Kuliner Pati Tempo Dulu di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 30 pedagang berpartisipasi menjual kuliner klasiknya dalam “Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe” di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, dari Kamis (29/12/2016) hingga Minggu (1/1/2017) dini hari. Dari 30 pedagang, ada 42 jenis makanan tempo dulu yang disajikan.

Selama tiga hari yang dimulai pukul 15.00 WIB, omzet dari penjualan kuliner zaman dulu (jadul) mencapai Rp 300 jutaan. Omzet itu terakumulasi selama tiga hari dari sekitar 30 pedagang.

Ketua Panitia, Alman Eko Darmo mengatakan, omzet tersebut murni dikantongi pedagang. Panitia sendiri hanya memfasilitasi, tanpa memungut hasil omzet dan tidak membebani pedagang dengan biaya stand. “Ini adalah pesta rakyat pada akhir tahun di Pati. Semua pendapatan masuknya ke pedagang,” kata Alman, Senin (2/1/2017).

Uniknya, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Pati saja, tetapi juga luar kota, seperti Semarang, Jakarta, Wonogiri, hingga Solo. Sebagian besar pengunjung yang datang, karena rasa penasaran untuk mengobati rasa rindunya kepada ragam kuliner masa lalu.

Saiful Arifin, pengusaha muda asal Pati yang sukses menggeluti bisnis di Jakarta hadir dalam festival selama tiga hari berturut-turut. Hari pertama, dia datang seorang diri menikmati Getuk Runting dan aneka jajanan lainnya.

Hari kedua, dia datang bersama sejumlah rekannya, menikmati aneka jajanan kuno di depan kolam bersama pengunjung lainnya. Hari ketiga, dia datang bersama Haryanto, Calon Bupati Pati, menikmati nasi jagung dan iwak peyek, serta berbagai makanan khas Pati lainnya.

“saya tahu ada festival kuliner tempo dulu dari media sosial dan beberapa media cetak, termasuk media online Murianews.com yang tersebar secara viral di medsos. Saya penasaran dan langsung datang sejak hari pertama,” tuturnya.

Antusiasme pengunjung sejak pertama kali dibuka, membuat Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati ingin membuat event serupa di Pati. Salah satu yang direncanakan Kabid Pariwisata, Enny Susilowati, antara lain festival kuliner tempo dulu pada peringatan Hari Jadi Pati 2017.

Editor : Kholistiono

Getuk Ireng Buatan Lily Ludes Dibeli Pemburu Kuliner Jadul di Pati

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Stand getuk ireng milik Lily Wulandari yang diburu pembeli dalam Festival Kuliner Pati tempo dulu di Omah Kuno, Sabtu (30/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Getuk ireng buatan Lily Wulandari yang dijajakan dalam Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Jumat (30/12/2016), ludes diserbu pembeli. Sebagian besar pembeli memilih getuk ireng, karena sudah langka dan susah dicari.

Lily mengatakan, getuk ireng dibuat dari bahan dasar ketela seperti membuat getuk biasa. Namun, dia menambahkan pewarna alami dari merang padi supaya warnanya hitam.

Tidak dijual sendirian, getuk ireng yang dijajakan di stand bagian luar tersebut dicampur dengan tiwul, gatot, dan getuk biasa. “Kalau getuk biasa warnanya kuning. Ini warnanya hitam, karena dicampur bahan pewarna alami dari merang padi. Ini makanan kuno yang sekarang sudah mulai tidak ada,” ujar Lily saat berbincang dengan MuriaNewsCom di sela-sela melayani puluhan pembeli.

Sejak dijajakan pada pukul 16.00 WIB, getuk ireng buatan Lily sudah habis pukul 17.30 WIB. Antusiasme pengunjung membeli getuk ireng tidak lepas dari eksistensinya yang mulai hilang, di pasar tradisional sekalipun.

Lily yang tinggal di Gunungbedah, Margorejo, Pati ini mengaku tahu resep getuk ireng dari orang tuanya. Selama ini, Lily tidak menjual getuk ireng di warung, tetapi hanya menerima pesanan. Rencannya, dia akan menjualnya di kawasan Stadion Joyokusumo.

Bani Pujiastuti (38), pembeli asal Desa Kaborongan, Pati mengaku rindu dengan masa kanak-kanak ketika dibuatkan getuk ireng oleh emaknya. Karena itu, berburu kuliner tempo dulu yang digelar anak-anak muda yang berprofesi sebagai jurnalis, pengusaha dan pemuda lintas profesi ini dimanfaatkan Puji untuk mengobati rindu akan masa kecilnya.

Festival sendiri rencananya akan berakhir pada Sabtu (31/12/2016) malam pukul 12.00 WIB. Pada malam tersebut, panitia akan menyalakan mercon bumbung dan terompet dari daun kelapa muda.

Editor : Kholistiono

Festival Kuliner Tempo Dulu Bakal Diadopsi untuk Hari Jadi Pati

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Salah seorang pengunjung tengah membeli getuk ireng di salah satu pojok stand kuliner Pati tempo dulu, Kamis (29/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang digelar di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, mulai dibuka, Kamis (29/12/2016), pukul 16.00 WIB. Sebelum dibuka, ratusan pengunjung dari berbagai daerah sudah memadati stand kuliner, jajanan dan minuman klasik khas Pati.

Ketua Panitia, Alman Eko Darmo mengatakan, sedikitnya ada 42 jenis kuliner yang disajikan dalam festival. Salah satunya, sego jagung, sego tewel, sego menir, carang madu, cetot, gerontol, gayam, kelepon, rangin, getuk Runting, lopis, urap brayo, getuk ireng, tiwul, uwi, gembili, siwalan, wedang coro, cemuai, gempol, pleret, legen, hingga jamu tradisional.

Pengunjung yang ingin berburu kue moho gratis sudah disediakan panitia, tinggal petik di berbagai tempat. Pengunjung yang ingin menikmati sensasi minum air putih dalam kendi, tempat air minum terbuat dari tanah, juga sudah disediakan di berbagai sudut ruangan.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Pati Enny Sulistyowati saat membuka acara, mengaku terkejut ada event yang menghadirkan suasana Pati tempo dulu di tengah hingar-bingar kehidupan yang serba modern. Dia memberikan saran agar ragam kuliner yang disuguhkan diklasifikasikan sesuai dengan tempat asal makanan tersebut.

“Kami dari pemerintah sangat mengapresiasi kepada panitia yang terdiri dari sejumlah jurnalis, pengusaha dan anak-anak muda lintas profesi yang berani membuat gebrakan baru, menyuguhkan puluhan jenis kuliner khas Pati tempo dulu. Ini event pertama kali yang digelar di Pati. Kalau memungkinkan, kami akan menggelar festival serupa pada Hari Jadi Kabupaten Pati,” kata Enny.

Sukarmini (40), salah satu pengunjung asal Desa Kudukeras, Juwana yang datang bersama suami langsung membeli gayam dan wedang cemue khas Pati. Dia memilih gayam, karena makanan yang banyak dikonsumsi pada masa-masa tempo dulu tersebut sudah mulai langka dan sulit dicari.

Editor : Kholistiono

Para Duta Wisata Bakal Meriahkan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe

Duta Wisata Pati lintas angkatan bersiap untuk memeriahkan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang akan digelar di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115 Pati, 29-31 Desember 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Duta Wisata Pati lintas angkatan bersiap untuk memeriahkan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang akan digelar di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115 Pati, 29-31 Desember 2016. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Para duta wisata Pati dari angkatan 2013 hingga 2016 bakal ikut memeriahkan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe yang akan dihelat di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115 Pati, 29-31 Desember 2016.

Selain mengenalkan aneka jajanan tradisional yang menjadi warisan leluhur masyarakat Pati tempo dulu, mereka akan mengikuti fashion show dengan mengenakan batik khas Pati, seperti batik bakaran. Kehadiran duta wisata diharapkan bisa mengenalkan potensi Pati, mulai dari kesenian, pakaian, hingga kuliner.

Winda Arianti Melantika, Duta Wisata Pati 2015 mengaku senang bisa diberikan kesempatan untuk meramaikan festival kuliner Pati tempo dulu yang digelar komunitas muda Pati yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut. Dengan mengenakan batik bakaran, dia bersama duta wisata lainnya akan ikut mengenalkan busana tradisional Pati dan ragam kuliner klasik tempo dulu.

“Tugas kita kan memang mempromosikan wisata di Pati. Pada perhelatan nanti, kuliner tempo dulu menjadi bagian dari objek wisata kuliner yang keberadaannya mesti digeliatkan kembali. Saya pribadi suka dengan Getuk Runting, jajanan tradisional asli dari Pati,” ucap Winda saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Senin (26/12/2016).

Dia berharap, Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe bisa mengenalkan masyarakat yang tidak tahu kuliner klasik khas Pati. Melalui event tersebut, gadis berparas manis ini juga berharap agar masyarakat bisa ikut berpartisipasi mengembangkan kuliner Pati masa lalu.

Senada dengan itu, Haris Subagya, Duta Wisata Pati 2013 tersebut mengaku antusias dengan event akhir tahun di Pati yang mencoba menggali kembali kekayaan kuliner masa lalu. “Kegiatan ini sangat bagus di tengah masyarakat modern yang mulai lupa dengan kuliner klasik masa lalu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Puluhan Kuliner dan Jajanan Kuno di Pati Bakal Dipamerkan Akhir Tahun

Sejumlah jurnalis melakukan rapat persiapan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Senin (26/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah jurnalis melakukan rapat persiapan Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Senin (26/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan kuliner dan jajanan kuno di Pati bakal dipamerkan dalam “Festival Kuliner Pati Tempo Doeloe” di Omah Kuno 1868, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, 29-31 Desember 2016. Ada beragam masakan dan jajanan klasik yang bisa dinikmati di sana.

Kuliner dan jajanan kuno yang akan dipamerkan, antara lain sego jagung, semur kutuk, sego tewel, sego menir, pedoyo, kue moho, gulali, gemblong, carang madu, tape ketan ireng, gulo kacang, gulo klopo, gandos, cetot, gerontol, kelepon, rangin, sagon, getuk khas Runting, lopis, urap brayo, hingga getuk ireng.

Ada pula gayam, lerut, ganyong, gembili, uwi, kacang godog, jagung bakar, tiwul, cengkaruk, getuk goreng, siwalan, dawet siwalan, dumbek, kolak, bubul cenil, urap intil, pepes tutus, dan jungkruk telo. Beragam minuman tradisional yang akan disajikan, di antaranya wedang coro, cemuai, gempol, pleret, jamu, legen, dan jahe.

Ketua Panitia Festival Kuliner Tempo Doeloe, Alman Eko Darmo mengatakan, kegiatan yang digagas komunitas anak muda yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut merupakan refleksi budaya peradaban masa lalu. Kuliner dan jajanan tradisional dianggap pernah menyumbang satu kelangsungan generasi masa lalu.

Karena itu, festival kuliner tempo doeloe diharapkan bisa mengingatkan kembali akan ragam jenis kuliner dan jajanan leluhur yang menyehatkan. “Kuliner tempo dulu tidak ada rekayasa makanan, ini yang mulai hilang dari ingatan anak-anak  generasi sekarang. Tahunya mereka, hidup dalam zaman serba instan, kuliner sekarang juga banyak yang instan. Padahal, itu mengandung risiko, seperti penyakit,” ujar Alman, Senin (26/12/2016).

Dari aspek budaya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menggali kembali kekayaan makanan tradisional khas Pati yang mulai hilang dari tungku dapur ibu-ibu di Kabupaten Pati. Geliat makanan tradisional diharapkan kembali populer dan digemari masyarakat Pati.

Selain puluhan kuliner, jajanan dan minuman tradisional, sejumlah pertunjukkan juga digelar. Salah satunya, tari gambyong, lomba fashion, tarian Sanggar Tondonegoro, fashion show dari paguyuban duta wisata Pati, hingga Tari Roro Mendut khas Kabupaten Pati.

Editor : Kholistiono

Intip Resep Rujak Bandeng Ala Warung BKJ Pati

 Penikmat kuliner tengah mencicipi menu rujak bandeng bakar tanpa duri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Penikmat kuliner tengah mencicipi menu rujak bandeng bakar tanpa duri. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rujak bandeng bakar tanpa duri yang merupakan menu andalan warung Bandeng Krisna Juwana (BKJ) Pati memiliki resep yang tak biasa. Kendati sebetulnya rahasia, tetapi pemilik BKJ tak segan membeberkan resepnya.

“Kalau bandeng bakar cabut durinya sudah biasa, karena bandengnya hanya dibakar dengan diolesi kecap, bumbu cair, dan marganin. Yang beda adalah sambal rujaknya. Itu  yang membuat menu ini sangat khas dan berbeda dengan menu lainnya,” kata pemilik BKJ, Sugiharto, sabtu (05/11/2016).

Bahan untuk membuat bumbu rujak, di antaranya cabe setan, cabe merah, bawang merah, bawah putih, terasi Juwana, serai, daun jeruk, ketumbar, tepung beras, santan, tomat dan mentimun. Semua rempah-rempah diuleg hingga halus, kemudian ditumis hingga berbau harum.

“Kalau bumbu rujak selesai, bandeng cabut duri cukup dibakar di atas kompor sekitar tiga hingga lima menit sembari diolesi kecap, sebelumnya diolesi margarin biar tidak lengket. Bila semuanya sudah, tambahkan irisan tomat dan mentimun sebagai pelengkap,” tutur Sugiharto.

Satu porsi rusak bandeng bakar cabut duri dibanderol dengan harga Rp 15 ribu, belum termasuk nasi. Dengan harga yang cukup terjangkau, menu ini menjadi buruan para penikmat kuliner hingga menghabiskan 30 hingga 50 porsi setiap hari.

Zuraida, salah satu penikmat rujak bandeng mengaku suka dengan cita rasanya dengan perpaduan gurih asli dari bandeng dengan bumbu rujak yang rasanya manis dan dominan lebih gurih. Bahkan, dia seringkali berlanggganan makan sore untuk menikmati rujak bandeng.

Baca juga :Mencicipi Nikmatnya Rujak Bandeng Tanpa Duri di Pati

Editor : Kholistiono

Mencicipi Nikmatnya Rujak Bandeng Tanpa Duri di Pati

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Pengunjung tengah mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri, menu andalan warung makan di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ada menu unik dari warung makan yang terletak di Jalan Kyai Saleh Nomor 20 Pati. Di sini, penikmat kuliner bisa mencicipi rujak bandeng bakar tanpa duri.

Bingung, bukan? Rujak sudah lama dikenal sebagai makanan yang berisi irisan beragam buah dengan sambal pedas dari gula merah. Namun, pemilik warung memiliki ide dan kreativitas untuk menggabungkan antara rujak dan bandeng.

Sugiharto, pemilik warung mengaku memiliki ide tersebut berawal dari pemanfaatan potensi bandeng yang melimpah di bumi mina tani. Warga biasanya mengolahnya menjadi beragam kuliner, termasuk bandeng cabut duri.

Banyaknya industri rumahan pengolah bandeng cabut duri di Pati menginspirasi Sugiharto untuk membuat menu unik dari bandeng tanpa duri. Bila bandeng selama ini diolah dengan cara dibakar, digoreng, krispi atau dibuat pepes bandeng, pemilik warung mencoba untuk membuat bumbu yang berbeda.

“Menu ini cukup banyak dicari penikmat kuliner. Dalam sehari, ada sekitar 30 hingga 50 orang yang memesan menu ini secara khusus. Kami hanya ingin membuat menu yang unik dan berbeda dari bahan bandeng. Ternyata responnya luar biasa,” kata Sugiharto, Sabtu (05/11/2016).

Endang Suci Nartati, salah satu penikmat rujak bandeng bakar tanpa duri mengaku cocok dengan menu tersebut. Selain pedas, rujak bandeng memiliki perpaduan rasa yang bervariasi, yakni gurih, manis, sedap, dan nikmat.

“Bandengnya juga empuk, sudah tidak ada durinya. Jadi, nggak khawatir kalau pas makan takut menelan duri. Rasanya pas, perpaduan pedas, manis, gurih dan sedap,” tandas Suci.

Editor : Kholistiono

Mi Daun Kelor Bikinan Warga Pati Bisa Obati Asam Urat dan Antikanker

Muryati menunjukkan menu mi daun kelor buatannya yang dijual di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Muryati menunjukkan menu mi daun kelor buatannya yang dijual di Pasar Pragola Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tanaman kelor yang banyak dijumpai di ladang dan pekarangan rumah ternyata menyimpan sejuta manfaat untuk kesehatan tubuh. Padahal, tanaman ini biasanya hanya digunakan pakan ternak dan kayu bakar.

Potensi itu yang dimanfaatkan Muryati, warga Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong untuk membuat mi daun kelor yang kaya akan manfaat. Rasanya pun tak kalah dengan mi rebus atau goreng seperti umumnya.

Sebelum dimasak menjadi mi olahan, mi daun kelor memiliki warna hijau tua mencolok yang sangat cantik. Bau khas kelor alami juga bisa dirasakan ketika dimakan.

“Suami saya suka dengan sayur daun kelor. Tak lama mengonsumsi, asam urat yang lama dikeluhkan dan susah diobati ternyata hilang dengan sendirinya. Biar lebih bervariatif, saya memutuskan untuk membuat mi daun kelor. Kemudian, saya berpikir kenapa tidak dijual sekalian karena belum ada yang jual,” kata Muryati saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (6/5/2016).

Ia menambahkan, kelor sebetulnya sudah lama dikenal sebagai tanaman yang bisa mencegah beragam penyakit ganas. Misalnya, jantung, antikanker, dan antidiabetes.

Karena itu, mi daun olahannya diharapkan bisa meningkatkan kesehatan bagi pelanggannya. Dalam sehari, menu unik dari warung makan Mahakarya Mulya di Pasar Pragola Pati itu habis terjual sekitar 60 porsi.

“Mungkin pelanggan belum tahu. Sejumlah pelanggan ada yang sudah beberapa kali datang. Kami patok seperti harga mi pada umumnya, yaitu Rp 8 ribu per porsi dengan toping dari jamur tiram. Biasanya, toping dari suwiran ayam, tapi saya ganti jamur tiram,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Unik! Warga Pati Buat Mi Hijau dari Daun Kelor 

 

Ini Khasiat Rica-rica Lele Madu Buatan Warga Pati

Neni, pelanggan rica-rica lele madu menunjukkan menu baru buatan warga Desa Kedungbulus, Gembong yang dijual di Pasar Pragola. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Neni, pelanggan rica-rica lele madu menunjukkan menu baru buatan warga Desa Kedungbulus, Gembong yang dijual di Pasar Pragola. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Inovasi baru di dunia kuliner tidak semata berasal kreativitas semata, tetapi juga melihat peluang yang ada di sekitar kita. Di Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, misalnya.

Muryati, istri dari petani lele memanfaatkan ikan lele yang dipanennya untuk membuat rica-rica berbahan lele. Keunikan rica-rica ini berasal dari dua bahan yang tak sewajarnya ditemukan pada kuliner rica-rica, yaitu lele dan madu.

“Saya jual rica-rica bebek di warung makan Mahakarya Mulya yang ada di Pasar Pragola Pati. Saat melihat lele-lele yang dipanen di belakang rumah, kenapa tidak membuat terobosan rica-rica dari lele?” ungkap Muryati kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/5/2016).

Ia mengatakan, madu hutan yang digunakan sebagai bumbu rica-rica lele bisa meningkatkan stamina tubuh. Selain itu, lele mengandung protein hewani yang bagus untuk tubuh. Bahkan, beberapa pelanggan mengatakan bila rica-rica lele madu buatan Muryati bisa meningkatkan vitalitas tubuh. Satu porsi menu itu bisa dinikmati cukup dengan kocek Rp 7 ribu.

“Satu menu yang terdiri dari dua lele cukup dengan Rp 7 ribu. Kita buka dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB, cocok untuk sarapan, makan siang, atau bahkan makan malam,” tuturnya.

Sementara itu, Neni, pelanggan asal Pati mengaku sensasinya beda dengan rica-rica pada umumnya. Menu baru buatan Muryati itu diakui punya cita rasa pedas yang nendang, gurih, dan manis khas madu.

Editor : Akrom Hazami