Kabar Gembira, Kerbau Betina di Kudus Bisa Diikutkan Asuransi

MuriaNewsCom, Kudus – Kerbau milik peternak di Kudus yang mati, bisa mendapatkan klaim asuransi. Namun itu hanya berlaku untuk 200 ekor kerbau betina yang mengikuti Asuransi Usaha Ternak Kerbau (AUTK).

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kudus Sa’diyah. Ia mengungkapkan, program yang berasal dari Kementrian Pertanian itu ditujukan untuk peternak kerbau betina, yang mati karena proses melahirkan atau sakit.

Dirinya mengungkapkan, jumlah premi yang ditanggung oleh kementrian adalah Rp 160 ribu. “Praktis peternak kerbau betina hanya membayar premi Rp 40 ribu,” ujarnya, baru-baru ini.

Ia mengatakan, subsidi premi asuransi digalakan untuk menarik minat peternak untuk mengembangkan kerbau betina. Klaim yang didapatkan peternak, jika ternaknya mati karena sakit, bisa mencapai Rp 10 juta.

Dirinya menyebut, pencairan klaim sudah pernah dilakukan pada saat asuransi ternak sapi betina. Pada akhir 2017 klaim asuransi mencapai Rp 113 juta untuk 14 ekor sapi betina.

“Kami sudah menyosialisasikan terkait asuransi ini kepada sejumlah perangkat desa di Kudus,” tambahnya.

Adapun, untuk mereka yang ingin mengikut program ini hanya cukup meminta surat pengantar dari ketua kelompok peternak. Sedangkan mereka yang tidak berkelompok, bisa meminta pengantar dari kepala desa.

Editor: Supriyadi

3.432 Siswa SMA di Kudus Siap Ikuti UNBK 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 3.432 siswa jenjang SMA di Kudus akan mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), yang akan dihelat Senin (9/4/2018). Jumlah sebanyak itu berasal dari 17 sekolah menengah atas negeri dan swasta yang ada di Kota Kretek.

Sriyoko Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kudus mengatakan, jumlah tersebut terdiri dari 1.190 siswa dan 2.301 siswi.

“Insyaallah siap semua. Sekarang sedang USBN. Berdasarkan simulasi awal bulan ini (Maret) tidak ada masalah,” tuturnya.

Menurutnya, tidak ada perubahan besar terkait sistem UNBK di tahun 2018. Hanya saja memang ada penambahan fitur pada sistem meskipun tidak banyak.

Penelusuran di laman unbk.kemendikbud.go.id, jumlah sekolah jenjang SMA/MA di Kudus yang mengikuti UNBK tahun 2017/2018 berjumlah 53 sekolah. Sementara itu di jenjang SMK ada 27 sekolah yang mengikuti ujian nasional berbasis komputer.

Adapun, ujian dimulai pada Senin (2/4//2018) hingga Kamis (5/4/2018) untuk jenjang SMK. Sementara untuk jenjang SMA UNBK dimulai pada Senin (9/4/2018) sampai dengan Kamis (12/4/2018).

Untuk ujian susulan UNBK jenjang SMA/MA dan SMK dilaksanakan pada Selasa dan Rabu (17-18/4/2018).

Editor: Supriyadi

Disdukcapil Kudus Buka Layanan Rekam Data KTP di Akhir Pekan

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kudus membuka layanan rekam KTP Elektronik (E-KTP), pada akhir pekan Sabtu-Minggu. Layanan ini ditempuh untuk meningkatkan perekaman kartu tanda penduduk elektronik, jelang pilkada 2018.

Layanan perekaman E-KTP pada akhir pekan, resmi dimulai pada hari Sabtu (31/3/2018) hingga 24 Juni 2018. Layanan Sabtu-Minggu itu dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB.

“Kami sediakan 7-8 petugas yang bersiaga di Kantor Disdukcapil Kudus dengan sistem bergantian,” kata Sekretaris Dinas Disdukcapil Kudus Putut Winarno.

Dikatakannya, layanan itu menyasar warga Kudus yang belum melakukan perekaman KTP, namun kesehariannya sibuk bekerja. Seperti buruh yang bekerja di luar kota, ataupun pelajar.

“Meskipun ada layanan Sabtu-Minggu, namun layanan jemput bola bagi warga berkebutuhan khusus, lansia tetap kami lakukan. Kalau untuk layanan weekend ini, kami tujukan bagi buruh luar kota yang kebetulan pulang, atau bagi perekam baru,” tuturnya.

Menurut data per tanggal 26 Maret 2018, dari jumlah penduduk sebanyak 835.318, jumlah warga wajib ber KTP ada 621.489. Sedangkan yang sudah melakukan perekaman berjumlah 608.028, dan yang belum melakukan perekaman KTP Elektronik berjumlah 13.461.

Editor: Supriyadi

Respon Pertumbuhan Ekonomi , PLN Kudus Percepat Penyambungan Pelanggan Baru

MuriaNewsCom, Kudus – PT PLN (Persero) Area Kudus merespon perkembangan area industri baru di Eks Karisidenan Pati. Hal ini dibuktikan dengan percepatan penyambungan pelanggan tegangan menengah, di awal 2018 hingga kini yang telah mencapai 10.000 kilo Volt Ampere (kVA).

Manajer PT PLN (Persero) Area Kudus Darmadi mengatakan, area industri baru tersebar di beberapa titik. Satu di antaranya di daerah Mayong, Jepara dan menyebar dari Kudus hingga Cepu.

Sementara itu, hingga Februari 2018 sudah ada 8900 pelanggan baru, dengan pertumbuhan kwh jual, mencapai 12,24 persen. Adapun, rayon yang berkontribusi terhadap pertumbuhan tertinggi adalah Rembang, Jepara dan Kudus Kota.

Disamping itu, untuk mempercepat pelayanan penyambungan, ada program penyambungan melalui Account Executive dan pemberian konseling bagi pelanggan baru.

“Saat ini PLN Area Kudus telah bertransformasi menjadi perusahaan listrik yang mengutamakan kualitas pelayanan. Melalui Account Executive yang ada, PLN mampu menjadi konsultan bagi pelanggan maupun calon pelanggan. Selain memberikan kemudahan dalam memperoleh pasokan energi listrik, PLN Area Kudus juga memberikan pelayanan yang transparan sehingga diharapkan calon pelanggan tidak ada keraguan lagi dalam mengeluarkan investasi”, ujar Darmadi, Kamis (29/3/2018), dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Selain itu, saat ini tim jaringan juga sedang gencar melakukan perbaikan dan pemeliharaan sebagai bentuk preventif menjaga kehandalan pasokan listrik. Diharapkan dengan pemeliharaan rutin, pelanggan semakin yakin untuk menggunakan listrik PLN, tidak ada lagi yang menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan listriknya.

PLN pun siap memberikan konseling bagi pelanggan yang hendak beralih dari genset ke listrik PLN untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Editor: Supriyadi

Ratusan Pelayat Antar Jenazah Habib Helmy ke Pemakaman

MuriaNewsCom, Kudus – Mendung menggelayut di atas Pemakaman Muslim Ploso Kudus, Senin (26/3/2018). Awan seolah menaungi ratusan pelayat, yang mengantarkan Habib Helmy bin Hasan Alaydrus (34) ke peristirahatan terakhir.

Sebelum jenazah Habib Helmi dibawa dari rumah duka di Kramat, Kecamatan Kota Kudus, pada sekitar pukul 15.00 WIB, cuaca di Kota Kretek, panas menyengat. Namun setengah jam sebelumnya, hujan seolah mendinginkan pengabnya udara.

Sekitar pukul 16.00 WIB, jenazah Habib Helmi tiba di pesareyan. Hujan telah usai dan ratusan pelayat kemudian memadati areal makam. Tua, muda, pria dan wanita. Mereka tampak hikmat sambil terus mengumandangkan kalimat tauhid Laaillahailallah Muhammadurrosullullah. 

Kakak Habib Helmy, Habib Ali mengatakan tak ada pesan khusus yang disampaikan sebelum meninggal dunia pada Minggu (25/3/2018) malam. Namun demikian, sehari sebelum mengembuskan nafas terakhir ia mengumpulkan seluruh keluarga.

“Tidak ada pesan khusus, namun sehari sebelumnya, ia mengumpulkan seluruh keluarga. Pada saat meninggal pun ia masih sadar, sempat mengeluh sulit bernapas, lalu kemudian tiada, saya kira tidur,” tuturnya.

Dirinya mengungkapkan, adiknya itu masuk ke rumah sakit pada Minggu dinihari. Sebelumnya, ia sempat dirawat di RSUP dr. Kariyadi Semarang. Diagnosisnya, Habib Helmy terserang virus SGB atau Syndrome Guillain Barre.

Sempat membaik, dan dibawa pulang namun kondisi Habib Helmy kemudian memburuk, dan harus kembali di rawat di RS Mardirahayu Kudus.

“Ia semasa hidup tak pernah menyimpan dendam. Ia selalu tersenyum. Karomahnya luar biasa, dari mulai pada waktu sebelum pemakaman tiba-tiba hujan turun sebentar lalu mendung. Kemudian pelayat sebanyak ini hadir tanpa diundang. Beliau pun tak merasakan kesakitan pada waktu meninggal,” tuturnya.

Disamping itu, ia mengungkapkan, pada saat hendak disucikan jenazah adiknya itu masih dalam kondisi lemas. “Ia meninggal jam 20.00 WIB. Pada waktu pukul 01.00 WIB (Senin dinihari) ketika hendak disucikan tangannya pun lemas. Tidak kaku,” tambahnya.

Disinggung mengenai jamaah pengajian Mahabbaturrosul pimpinan Habib Helmy, Habib Ali mengaku belum ada penerusnya.

Habib Helmy meninggalkan seorang istri bernama Fitriyah. Ia adalah anak ketiga dari empat bersaudara yakni, Habib Fahmi, Habib Ali dan Habib Fuad. Sementara ayahnya bernama Hasan bin Sholeh Alaydrus dan ibu bernama Farida.

Editor: Supriyadi

Diancam Dibunuh, Timses Masan-Noor Yasin Bersiap Melapor ke Kapolres Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Amat Sholeh seorang tim sukses Paslon Cabup Kudus Masan-Nor Yasin, merasa tidak aman lantaran diancam akan dibunuh. Ancaman tersebut diterimanya, karena ia dituduh melakukan black campaign terhadap pasangan calon lain.

Kepada MuriaNewsCom, ancaman itu dilakukan oleh dua orang yang mendatangi rumahnya, pada hari Selasa (20/3/2018). Saat itu karena sedang tak berada di rumah, ia tak menemui pengancamnya.

“Saat itu yang ada di rumah adalah istri saya dan anak saya yang nomor dua. Di situ istri saya dan seluruh keluarga diancam dibunuh karena dituduh menjelek-jelekan seorang pasangan calon. Perkataanya sih enak saja, mau dipecok-pecok, tak pateni apa tak tebas kabe saomah (mau dicacah-cacah, dibunuh atau saya tebas seluruh anggota keluarga,” ujarnya, Jumat sore (23/3/2018).

Amat mengaku, hal itu berasal dari seorang timses pasangan calon lawan. Lantaran, mobil yang digunakan oleh pengancamnya di-branding dengan gambar paslon lain.

“Tapi saya tidak tahu apakah (mobil branding) itu, benar milik timses paslon itu atau tidak saya tidak tahu. Itu nanti biar penyidik yang mengungkapnya,” imbuhnya.

Ia sejatinya melaporkan kasus yang menimpanya pada Kamis (22/3/2018). Namun saat hendak melaporkannya di Polres Kudus, ia diarahkan menuju Panwaslu Kudus.

“Ketika hendak melaporkan ke Panwaslu, mereka justru mengarahkan pelaporan ke Polisi kembali. Kemudian di kantor Polisi, saya disuruh membuat aduan. Ya ini nanti rencananya besok Senin, saya akan mengadu ke Kapolres Kudus terkait kasus ini,” urainya.

Editor: Supriyadi

Sisir Kecamatan Undaan, Petugas Gabungan Sita Ratusan Rokok Ilegal di Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 622 rokok tanpa pita cukai disita oleh tim gabungan, yang terdiri dari Satpol PP, Kodim, Polres, Bagian Hukum Setda Kudus, dan Bea Cukai, Rabu (21/3/2018).

Rokok-rokok tersebut diamankan dari dua wilayah yang ada di Kecamatan Undaan yakni, Kalirejo dan Berugenjang. “Kami menemukan banyak menemukan rokok ilegal di sebuah pasar yang ada di Desa Kalirejo,” ujar Kepala Satpol PP Kudus Jati Solechah.

Dirinya menyebut, menemukan rokok ilegal sebanyak 62 press (1 press, 10 bungkus) dan dua bungkus rokok. Menurutnya, pada kemasan rokok tersebut, sekilas nampak seperti rokok yang sudah legal.

Seperti, Sekar Madu, Dukun, Niji, Gudang Gaman, GRS dan Fell Super. Selanjutnya bukti yang telah disita akan diserahkan kepada kantor Bea dan Cukai Kudus, untuk langkah selanjutnya.

“Peminat rokok ilegal di wilayah pinggiran (perbatasan Kudus-Grobogan) terbilang melimpah. Namun ancaman hukumannya (menjual rokok ilegal) tidak main-main. Mereka terancam hukuman dua tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Selain penindakan, Jati mengungkapkan terus melakukan sosialisasi larangan penjualan rokok ilegal.

Editor: Supriyadi

Dinkes Kudus Ambil Sampel Makanan yang Diduga Jadi Penyebab Warga Dersalam Keracunan

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus telah mengambil sampel makanan, yang diduga menyebabkan puluhan warga Dersalam keracunan.

Hikari Widodo Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kudus mengatakan, sampel yang diambil adalah mie dan tempe. Contoh itu kemudian akan dikirimkan ke laboratorium yang ada di Semarang.

“Nanti sampelnya akan dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang. Hasilnya akan diketahui dalam kurun seminggu hingga paling lama sebulan,” tuturnya, Rabu (21/3/2018).

Dirinya mengungkapkan, terdapat keanehan pada kasus keracunan ini. Warga diketahui memakan berkat (makanan hajatan) pada Minggu (18/3/2018) petang. Namun baru dua hari kemudian, ada puluhan warga yang masuk ke rumah sakit dengan keluhan keracunan.

Baca Juga:

“Dari informasi yang kami kumpulkan, hari pertama (Minggu) hanya ada satu orang yang masuk rumah sakit, namun tidak tahu kalau itu keracunan. Senin juga ada lagi yang masuk ke rumah sakit. Namun puncaknya baru pada Selasa, banyak orang yang masuk ke rumah sakit,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Dersalam, Kecamatan Bae mengeluhkan keracunan dan mendapatkan perawatan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Pada Selasa malam, total ada 27 orang yang dirujuk ke rumah sakit tersebut.

Hingga Rabu pagi, jumlah pasien yang dirawat inap menyisakan 16 orang. Sementara 11 orang sisanya sudah diperbolehkan pulang, dan hanya rawat jalan.

“Namun demikian, mereka (yang rawat jalan) tetap dipantau kesehatannya,” ungkap Aris Jukisno Kabid Pelayanan RSUD dr. Loekmono Hadi.

Adapun, hingga Rabu pagi kondisi pasien yang dirawat inap sudah berangsur membaik.

Kasus tersebut bermula ketika warga memakan berkat hajatan, pada Minggu (18/3/2018) sore‎. Namun demikian, gejala keracunan baru terjadi dua hari setelahnya.

Editor: Supriyadi

Diduga Keracunan Berkat Hajatan, 27 Warga Dersalam Dilarikan ke RSUD Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 27 warga Desa Dersalam, Kecamatan Bae mengalami keracunan makanan. Diduga sumbernya berasal dari penganan yang diperoleh usai hajatan yang digelar oleh seorang warga di RT 1 RW 5 setempat.

Pasien dirawat di RSUD dr. Loekmono Hadi. Pertama kali pasien masuk pada Selasa malam sekitar pukul 20.30 WIB. Jumlahnya terus bertambah menjadi 27 orang hingga Rabu (21/3/2018) dinihari.

Direktur rumah sakit tersebut Abdul Aziz mengungkapkan, kebanyakan pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), mengeluh pusing dan lemas.

“Bahkan ada seorang pasien yang harus dirawat diruang intensif care unit (ICU) karena tingkat kesadarannya menurun dan responnya tidak baik,” kata dia.

Sementara itu, informasi yang dikumpulkan hajatan sendiri digelar pada hari Minggu (18/3/2018). Warga yang mendapatkan berkat (makanan hajatan) pun tak menaruh curiga akan penganan tersebut, lantas memakannya.

Adapun, gejala keracunan seperti mual dan pusing baru dirasakan warga yang mengonsumsi penganan itu, mulai Senin (19/3/2018) sore. Kemudian, pada Selasa gejala itu mulai menguat.

Editor: Supriyadi

Kepala Dinas Ini Rela Nyamar Jadi Kernet untuk Bongkar Pungli di Dishub Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sam’ani Intakoris Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dishub Kudus menangkap basah anak buahnya yang lakukan pungutan liar Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor. Untuk melakukannya, ia harus melakukan penyamaran sebagai kernet pikap.

Saat dihubungi MuriaNewsCom, ia membenarkan hal itu. Menurutnya dirinya memang melakukan tangkap tangan oknum petugas Dishub Kudus yang lakukan pungutan liar, tak sesuai ketentuan.

“Iya benar, ada oknum Dishub yang meminta lebih untuk retribusi (pengujian) kendaraan. Orang tersebut sudah kita bina dan geser,” ujarnya, melalui sambungan telepon, Senin malam (19/3/2018).

Menurutnya, operasi tangkap tangan yang dilakukannya bermula dari laporan warga yang mengeluh kepadanya. Keluhan tersebut terkait dengan proses Uji KIR.

“Saya kemudian berinisiatif untuk melakukan penyamaran, dengan memakai sandal jepit dan topi rimba. Tidak hanya itu, selama proses tersebut saya juga bertanya-tanya kepada sopir-sopir lain terkait proses tersebut. Nah ternyata memang ada tindakan pungli. Kejadiannya Kamis (15/3/2018) minggu kemarin,” tambahnya.

Dirinya menyebut, setidaknya ada dua oknum petugas Dishub yang melakukan tindakan pungli. Setelah terbukti, ia lantas menghukum anak buahnya itu.

“Kami sudah geser oknum tersebut, (tidak lagi menangani KIR). Sementara masih di Dishub. Namun ketika melakukan kesalahan lagi, bukan tak mungkin kita mutasi ketempat lain,” tegasnya.

Adapun, berdasarkan informasi yang dikumpulkan pungutan liar yang dilakukan yakni sebesar Rp 56 ribu. Padahal sesuai dengan Perda Kabupaten Kudus No 9/2011 Tentang Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, jumlahnya tidak mencapai sebesar itu.

Terdapat empat tipe kendaraan sesuai dengan Jumlah Berat yang diperbolehkan (JBB). Pertama mobil bus dan mobil barang dengan JBB lebih dari 9.000 kilogram tarifnya sebesar Rp 35.000, sementara untuk tipe kendaraan tersebut dengan JBB sampai 9.000 kilogram tarifnya sebesar Rp 30.000. Sementara untuk kereta gandengan dan kereta tempelan tarifnya sebesar Rp 25.000 dan untuk mobil penumpang umum sebesar Rp 25.000.

Per item masih ditambah Retribusi penggantian tanda uji berkala sebesar Rp 6.500, retribusi penggantian buku uji berkala sebesar Rp 7.500 dan penggantian tanda samping Rp 2.000. Jika dikalkulasi, untuk kendaraan dengan JBB lebih dari 9000 kg, retribusi yang dibayarkan maksimal Rp 51.000. Sementara untuk kendaraan dengan tipe dibawahnya hanya Rp 46.000, dan Rp 41.000.

Terakhir, ia mengimbau kepada masyarakat untuk segera melapor jika merasa dipungut melebihi peraturan.

“Silakan lapor langsung kepada saya, sertakan bukti foto, agar kemudian tidak fitnah. Jikalau benar akan kami tindaklanjuti,” tutupnya.

Editor: Supriyadi

Dua Abdi Negara di Kudus Kena Semprit Panwas Akibat Foto Bersama Cabup

MuriaNewsCom, Kudus – Panwaskab Kudus menyatakan dua PNS di lingkungan Pemkab Kudus melanggar aturan, karena nekat berfoto dengan Calon Bupati Tamzil. PNS yang diketahui suami istri tersebut berfoto dengan menggunakan isyarat tangan yang terindikasi untuk ajakan.

Hal itu dikatakan oleh Komisioner Panwaskab Kudus Eni Setyaningsih. Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 11 Maret 2018. Saat itu, memang ada silaturahmi Cabup Tamzil kemudian dua orang tersebut sengaja berfoto dengan calon tersebut.

“Pada waktu itu kejadiannya sore hari, mereka tak menggunakan seragam. Akan tetapi, yang bersangkutan (ASN) berfoto sambil menggunakan isyarat tangan (menunjuk angka paslon) Tamzil,” tuturnya.

Oleh karenanya, pihaknya kemudian menelusuri hal tersebut dengan melakukan klarifikasi baik kepada yang bersangkutan dan kepada calon. Kasus tersebut pun dibahas pada Sentra Gakkumdu.

Terpisah, Ketua Panwaskab Kudus Wahibul Minan membenarkan hal itu. Menurutnya, ulah kedua Aparatur Sipil Negara itu telah dianggap melanggar. Hal itu karena keduanya melanggar Surat Edaran Menpan RB nomor B/71/M.SM.00.00/2017.

“Di sana disebutkan bahwa ASN dilarang berfoto dengan Calon Kepala Daerah dengan mengikuti atau simbol tangan yang digunakan sebagai identitas calon,” tuturnya, Senin (19/3/2018).

Adapun, sanksi yang akan diberikan, menurut Minan diserahkan sepenuhnya kepada atasan ASN tersebut (Sekretaris Daerah). Panwas, dikatakannya hanya sampai pada tahap rekomendasi.

Editor: Supriyadi

Ternyata Ini Alasan Pemilik Kios di Lantai Dasar Matahari Kudus Nekat Buka

MuriaNewsCom, Kudus – Kenekatan pemilik kios di lantai dasar Kudus Plaza (Matahari Kudus) ternyata dilator belakangi berbagai alasan. Salah satunya adalah kerugian yang dialami setiap hari pasca kebakaran hebat yang melanda salah satu pusat perbelanjaan di Kudus itu.

Manager Optik Internasional Ahmad Syahroni mengaku merugi hingga Rp 5 juta per hari sejak kebakaran terjadi. Karena itu, ia menandatangani pernyataan tentang operasional kios dari Pemkab terkait risiko jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Hanya, hal itu sudah dikonsultasikan dengan manajemen grup optik tersebut.

“Pertimbangan utama kami adalah kebutuhan pokok. Karena semenjak 11 hari pasca kebakaran tak buka, kami menderita kerugian rerata Rp 5 juta per hari. Kalau kami sendiri sudah sekitar 9 hari buka,” tuturnya.

Baca Juga:

Meskipun kemudian membuka operasionalnya kembali, namun Syahroni mengaku hal itu tak lantas mengatrol pengunjung. Menurutnya, ada penurunan kunjungan hingga 25 persen dari sebelum terbakarnya pusat perbelanjaan berumur puluhan tahun itu.

Dijelaskannya, pada hari normal kunjungan ke optiknya itu mencapai 20 orang. Namun kini jumlahnya merosot drastis.

“Karena kebakaran ini, satu pegawai kami juga harus dipindahkan ke cabang kami yang ada di Tanjung Pinang. Praktis, sekarang hanya ada empat orang yang bekerja. Sebelumnya lima orang,” tambahnya.

Selain pengurangan karyawan dan merosotnya omzet, pihaknya juga mengaku mengurangi durasi operasional. Dari sebelumnya buka hingga pukul 21.00 WIB, kini optik tersebut hanya buka hingga pukul 17.00 WIB.

“Bukan masalah listriknya, tapi tidak ada temannya (kios disekitar) yang buka. Hal itu untuk mencegah tindak kriminal yang mungkin terjadi. Kalau di kios kami, kerusakannya hanya dibagian plafon, yang terdapat rembesan air dari atas. Selebihnya tidak ada,”tutup Syahroni.

Editor: Supriyadi

Belum Layak Huni, 3 Kios di Lantai Dasar Matahari Kudus Nekat Beroperasi

MuriaNewsCom, Kudus – Pasca dilanda kebakaran pada Kamis (22/2/2018) kondisi Matahari Kudus (Kudus Plaza) belum layak untuk difungsikan kembali. Namun, tiga tenant (kios di lantai dasar) terlihat sudah membuka operasionalnya. Apakah itu diperbolehkan?

Hal itu MuriaNewsCom tanyakan pada Pemkab Kudus dalam hal ini Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) sebagai pemilik gedung. Menurut Eko Djumartono (Kepala BPPKAD) hal itu (penggunaan kios) sebenarnya telah mendapatkan peringatan (untuk tidak menggunakan) dari pemerintah kabupaten.

“Kami sudah melayangkan pemberitahuan agar mereka tidak mengoperasionalkan kios di lantai dasar. Hal itu diperkuat dengan surat yang ditandatangani oleh Penjabat Sekda Kudus, tertanggal 1 Maret 2018,” ucapnya, Senin (19/3/2018).

Baca Juga: 

Dalam surat yang ditandatangani oleh Sudjatmiko sebagai penjabat sekda Kudus, pemkab menegaskan untuk tidak menggunakan bangunan Kudus Plaza. Hal itu sampai dengan hasil laboratorium forensik dari Polres Kudus keluar.

“Apabila Saudara (penyewa kios) melanggar pemberitahuan ini, maka segala risiko yang terjadi merupakan tanggung jawab Saudara secara pribadi,” ucap Sekda Kudus secara tertulis dalam pemberitahuan bernomor 511.4/0611/25.00/2018 itu.

Namun, Eko menyebut, ada tiga penyewa yang kemudian hari datang secara langsung ke Kantor BPPKAD guna meminta kompensasi. Hal itu terkait operasional kios.

“Mereka akhirnya membuat surat pernyataan sanggup menanggung risiko (tanpa melibatkan pihak pemkab) bilamana ketika pengoperasian kios terdapat bahaya yang timbul,” ungkap dia.

Dirinya menjelaskan, dari 100 kios hanya tiga manajemen kios yang meminta kompensasi agar diperbolehkan mengoperasikan tenant.

Ditemui terpisah, store Manager Optik Internasional Ahmad Syahroni, membenarkan telah membuat surat pernyataan tentang operasional kios. Menurutnya, hal itu sudah dikonsultasikan dengan manajemen grup optik tersebut.

Editor: Supriyadi

Kadin PUPR Nyatakan Konstruksi Beton Matahari Kudus ‎Masih Aman Digunakan

MuriaNewsCom, Kudus – Konstruksi beton Plasa Kudus khusunya Matahari Kudus dinilai masih aman digunakan, setelah dilanda kebakaran Kamis (22/2/2018). Hal itu diketahui setelah dilakukan uji beton (hammer test). Namun, banyak hal yang harus diperbaiki untuk dapat menggunakan kembali gedung berlantai tiga itu.‎

Kepala Dinas (Kadin) Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, dari uji beton yang dilakukan 60 persen dari konstruksi gedung masih aman bila digunakan. Akan tetapi, ia menyebut beberapa bagian gedung memang harus mengalami perkuatan ataupun penggantian.

“Masih ada catatan-catatan tertentu semisal di bagian tangga, kemudian kolom yang melengkung,” tuturnya, Senin (19/3/2018).

Baca Juga:

Dirinya menyebut ada dua rekomendasi yang akan diberikan untuk pembenahan gedung. Yakni rekonstruksi atau rehabilitasi. Rekonstruksi berarti merubuhkan seluruh bangunan dan dibangun kembali. Sedangkan rehabilitasi adalah upaya untuk memperkuat atau memperbaiki bagian-bagian tertentu.

Rekomendasi itu, menurutnya akan diserahkan pada pemkab (Sekda) untuk ditindaklanjuti. “Pengujian dilakukan oleh tim teknis dari PU PR, BPPKAD, kepolisian dan pemilik Matahari,”tambah Sam’ani.

Terpisah, Kepala Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus Eko Djumartono mengatakan, masih ada tahapan lain yang akan dilewati konstruksi tersebut.

“Nanti masih akan ada uji besi, nah nanti itu kita akan melibatkan pihak ketiga karena harus diuji laboratorium,” ungkap dia.

Meskipun demikian, ia berharap agar gedung tersebut bisa difungsikan sebagaimana mulanya. Jika harus diperbaiki, ia berharap tidak kemudian membutuhkan biaya yang terlalu besar.

“Kan itu (biayanya) besar mending buat pembangunan fasilitas masyarakat yang lain seperti jalan dan sebagainya,” tuturnya.

Adapun, kerugian yang disebabkan atas kebakaran tersebut mencapai Rp 22,6 miliar. Meski begitu, bangunan tersebut telah diasuransikan dengan nilai Klaim asuransi sebesar Rp 9 miliar.

Editor: Supriyadi

Depresi Penyakit Tak Kunjung Sembuh, Ngatmin Nekat Akhiri Hidupnya

MuriaNewsCom, Kudus – Gegara penyakitnya tak kunjung sembuh, Ngatmin (65) nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, Sabtu (17/3/2018) malam. Jasadnya ditemukan oleh sang istri Paijah (59), tergantung di kusen pintu rumahnya, yang ada di Desa Ploso, RT 5 RW 5, Kecamatan Jati, Kudus.

Bukan kepalang perasaan Paijah saat mengetahui suaminya itu gantung diri. Lantaran saat itu ia baru saja pulang menghadiri acara khajatan handai taulannya di Desa Tumpang Krasak. Saat melongok ke arah jendela rumahnya, ia melihat tubuh renta suaminya sudah tergantung dengan seutas tali ikat pinggang.

“Saat itu memang yang mengetahui kejadian tersebut adalah istrinya. Ia sendiri baru pulang dari hajatan, dan melihat tubuh suaminya sudah tergantung. Karena tak bisa membuka pintu lantaran terkunci, Paijah kemudian meminta tolong tetangganya untuk mendobrak pintu,” tutur Kapolsek Jati AKP Bambang Sutaryo.

Berdasarkan keterangan dari keluarga, upaya bunuh diri sempat dilakukan oleh Ngatmin pada tahun 2017. Namun usaha itu gagal karena digagalkan oleh pihak keluarga.

Karena kejadian itu, Ngatmin sempat mendapatkan perawatan mental di sebuah rumah sakit jiwa di Semarang. Akan tetapi nasib berkata lain, pada ujicoba bunuh diri yang kedua, seluruh keluarga tak berada di rumah, sehingga yang bersangkutan leluasa bertindak nekat.

“Jasad korban sempat diturunkan oleh tetangga-tetangga sekitar, namun takdir berkata lain, nyawa Ngatmin tak dapat tertolong,” tambah Bambang.

Dari hasil pemeriksaan dokter Puskesmas Jati, dr. Umi Kulsum, korban memang meninggal karena gantung diri. Hal itu berdasarkan tanda-tanda jerat di leher, keluar kotoran dari dubur dan mengeluarkan sperma.  Adapun, saat ini jasad korban telah dimakamkan di tempat pemakaman setempat.

Editor : Ali Muntoha

Hujan Badai di Kudus, Pohon-pohon Bertumbangan

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan badai terjadi di Kabupaten Kudus, Kamis (15/3/2018). Badai itu selain merobohkan sebuah baliho di Ngembalrejo, juga mengakibatkan banyak pohon tumbang. Ada empat titik lokasi pohon tumbang, sebagaimana tercatat oleh Pusdalops BPBD Kudus.

Lokasi pertama berada di Jalan Gondangmanis, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, kemudian Jalan Gebog-Dawe, Desa Cendono, Kecamatan Dawe. Lokasi ketiga Jalan Dawe-Cikaran, Kecamatan Dawe, dan Jalan Lingkar Utara-UMK, Kecamatan Bae di lokasi terakhir ada empat pohon tumbang.

Kepala BPBD Kudus Bergas Catursari Penanggungan mengatakan, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Total ada tujuh pohon yang tumbang karena tak kuat menahan terpaan angin disertai hujan.

“Tidak ada korban jiwa. Hanya saja akibat perstiwa tersebut mengakibatkan pohon menutupi badan jalan dan beberapa di antaranya menimpa jaringan listrik PLN,” jelasnya.

Baca : Hujan Besar, Baliho di Pantura Kudus Ambruk Hancurkan 2 Rumah

Menurutnya, upaya evakuasi sudah dilakukan oleh relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kudus. Hal itu dengan menyingkirkan pokok pohon yang menghalangi jalan, sehingga aktivitas dapat berjalan kembali.

Terakhir pihaknya mengimbau agar warga berhati-hati saat hujan terjadi. Dirinya meminta agar warga tidak berteduh dibawah pohon ketika hujan sedang melanda.

Editor : Ali Muntoha

Hujan Besar, Baliho di Pantura Kudus Ambruk Hancurkan 2 Rumah

MuriaNewsCom, Kudus – Sebuah baliho berukuran 4×10 meter yang ada di Jalan Kudus-Pati KM 05, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, roboh di terjang angin, Kamis (15/3/2018) sore. Akibat kejadian itu dua buah rumah yang ada di bawah papan reklame itu mengalami kerusakan cukup berat.

Pantauan MuriaNewsCom, baliho tersebut terlihat melorot dari tiang pancangnya. Adapun baliho yang terpasang promo Jatim Park Group itu,terdiri dari dua papan besar yang mengapit sebuah tiang pancang, setinggi lebih kurang 5 meter.

Khasnah (60) pemilik rumah yang ada di RT 5 RW 4 mengaku, rumahnya rusak berat di bagian depan. Menurutnya, saat kejadian ada hujan dan angin kencang yang melanda daerah tersebut. Karena kuatnya sapuan angin, hingga menyebabkan posisi baliho berputar.

“Peristiwanya jam 15.30 WIB saat ada angin kencang dan hujan. Tadinya baliho tersebut dipasang melintang di atas jalan (mengarah utara-selatan) namun karena kencangnya angin baliho tersebut kemudian sempat berputar kemudian lepas dari penyangganya. Baliho tersebut kemudian roboh menimpa rumah saya dan rumah tetangga saya,” tuturnya, Kamis sore.

Praktis hal itu menyebabkan seisi rumah kaget. Bahkan menurutnya, adiknya hingga kini masih merasa lemas karena syok.

“Suaranya keras sekali, tiba-tiba bruuk begitu. Sehingga menyebabkan rumah bagian depan mengalami kerusakan parah. Gentingnya pecah dan menimpa plafon. Adik saya sampai lemas lututnya sampai sekarang,” ungkap dia, yang tinggal bersama ibu dan adiknya itu.

Hal serupa dikatakan, Rusmiyati (51). Menurutnya, anak-anaknya tunggang langgang menuju rumah belakang begitu mendengar suara gemuruh.

“Anak-anak saya langsung masuk ke dalam rumah dan keluar melalui pintu belakang. Beruntung tidak ada korban jiwa,” tuturnya.

Selain menimpa genting dan plafon rumah, akibat kejadian tersebut kabel listrik juga sempat tertimpa.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Pekerja PR Gentong Gotri Kecewa Manajemen Tak Jadi Bayar Pesangon

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan pekerja Perusahaan Rokok (PR) Gentong Gotri kembali menelan kekecewaan, setelah perundingan terkait pesangon kembali menemui jalan buntu. Mediasi tersebut dilaksanakan antara pimpinan perusahaan dengan kuasa hukum karyawan dan dimediasi Dinas Ketenagakerjaan, Perindustrian, Koperasi UKM Kudus, Senin (12/3/2018).

Perlu diketahui, perusahaan tersebut telah berhenti berproduksi sejak lima tahun terakhir. Sedangkan, manajemen masih berhutang terkait uang pesangon yang semestinya dibayar kepada pekerja.

Saat pekerja mengetahui hasil mediasi, yang berlangsung di Lingkungan Industri Kecil Industri Hasil Kretek (LIK IHT) Mejobo, mereka hanya bersorak kecewa. Kekecewaan itu karena komitmen perusahaan untuk membayarkan hak mereka kembali tertunda.

“Yaaaa…,” begitu sorak para pekerja yang sedari pukul 09.00 WIB berkumpul di LIK IHT Mejobo, begitu mendengar hasil yang disampaikan oleh pengacara pekerja Daru Handoyo.

“Pada intinya, aset perusahaan belum terjual, (perusahaan) akan berusaha agar secepatnya terjual. Pokoknya njenengan ndonga mawon nggih(semuanya harap ya),” ucapnya melalui pelantang suara.

Dirinya mengatakan, sebagai pengacara tak lantas bisa menyeret perusahaan ke Peradilan Perselisihan Hubungan Industri (PHI). Namun harus melalui langkah-langkah seperti mediasi dengan dinas tenaga kerja terlebih dahulu.

Sementara itu, Suwari (57) pekerja asal Desa Gondosari, Kecamatan Gebog itu mengaku kecewa. Lantaran sudah sejak 2013, dijanjikan hal serupa.

“Selalu saja begitu, bilangnya aset belum terjual. Janjinya tak bisa ditepati,” ujar buruh borongan itu.

Menurutnya, hingga kini dirinya masih mendapatkan uang tunggu, sebesar Rp 12ribu per minggu. Namun akhir-akhir ini uang tersebut telat dibayarkan.

Nyuwune ya gek ndang dibayar(permintaannya ya segera dibayar),” ungkapnya, yang kini bekerja serabutan, sebagai buruh tani.

Editor: Supriyadi

Jumlah Pasien Gagal Ginjal di Kudus Meningkat

MuriaNewsCom, Kudus – Pasien gagal ginjal di Kudus meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Data RSUD Loekmono Hadi dari belasan kini pasien gagal ginjal menjadi 28 orang yang melakukan perawatan cuci darah atau Hemodialisa.‎

Suhardi, Kepala ruang Hemodialisa di RSUD Loekmono Hadi Kudus menuturkan, dalam sehari ada sekitar 27-28 pasien gagal ginjal yang menjalani perawatan. Jumlah itu menurutnya meningkat dari dua tahun sebelumnya.

“Dua tahun lalu hanya bisa merawat 10 pasien. Namun sekarang menjadi 27-28 pasien per hari. Itupun banyak yang harus indent (mengantre),” ujar dia saat peringatan Hari Ginjal Sedunia,Kamis (8/3/2018).

Dirinya mengatakan, saat ini di rumah sakit tersebut terdapat 15 alat Hemodialisa. Alat itu digunakan secara bergantian bagi puluhan pasien yang membutuhkan perawatan cuci darah. Untuk sekali perawatan, membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam.

Dirinya mengatakan, banyak faktor yang memicu terjadinya gagal ginjal. Dua diantaranya adalah pola hidup tidak sehat dan konsumsi makanan.

“Banyak makanan instan berpengawet, atau minuman suplemen yang berlebihan dan gaya hidup, seperti ingin cantik kemudian suntik vitamin C dosis tinggi,” ungkapnya.

Perlu diketahui, setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day. Dikutip dari laman Kementrian Kesehatan RI, tema Hari Ginjal tahun ini adalah Kindneys and Women Health : Include, Value, Empower. 

Dengan tema tersebut, semua pihak turut mempromosikan akses yang yerjangkau dan adil terhadap perawatan dan pencegahan penyakit ginjal bagi wanita dan anak perempuan diseluruh dunia.

Pada awalnya, penyakit Ginjal kronis tidak menunjukkan gejala yang khas sehingga penyakit ini sering terlambat diketahui. Tanda dan gejala yang timbul karena penyakit Ginjal sangat umum dan dapat ditemukan pada penyakit lain seperti tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual dan muntah serta bengkak, terutama pada kaki dan pergelangan kaki‎.

Editor: Supriyadi

Serapan Beras Oleh Bulog di Kudus Masih Nihil

MuriaNewsCom, Kudus – Serapan beras oleh Bulog di Kabupaten Kudus pada MT I masih nihil. Hingga Selasa (6/3/2018) pagi, baru ada kerjasama serap dari mitra kepada Bulog sebesar 50 ton.

Hal itu diakui oleh Kepala Perum Bulog Subdivre Pati, Muhammad Taufiq saat mengunjungi sebuah gudang di Desa Wates, Kecamatan Undaan. Bersamanya, Komandan Kodim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo dan pemilik gudang beras Yudho Prasetyo.

“Hari ini mitra baru membuka kontrak beras sebanyak 50 ton.Mitra lain kabarnya akan buka kontrak, tapi kita tunggu saja. Kalau untuk se Divre Pati kontraknya 3.500 ton beras, realisasinya 1.500 ton beras. Sudah (menyerap beras) semua (eks karisidenan Pati) yang belum Kudus,” kata Taufiq.

Menurutnya, angka penyerapan beras sebesar 1.5000 ton termasuk tinggi, jika dibandingkan dengan wilayah lain di Jateng. Menurutnya, untuk penyerapan beras di Kudus bergantung pada mitra.

“Kalau untuk itu (kontrak) yang mengadakan itu mitra tidak ada besarannya, nanti terserah mereka,” tambahnya.

Yudho Prasetyo pemilik gudang beras menuturkan, stok gabah di Kabupaten Kudus telah habis. Selain karena diserbu pedagang-pedagang asal Jawa Barat, harga jual gabah juga meningkat dari semula Rp 5.000 per kilogram menjadi Rp 5.500 per kilogram.

Sementara itu, Dandim 0722 Kudus Letkol Inf. Sentot Dwi Purnomo menyebut akan meningkatkan sinergitas antar lembaga untuk meningkatkan serapan gabah petani.

“Pertama harus ada sinergitas. Kalau tidak maka panen itu akan surplus tapi serapan kurang. Maka dari itu harapannya, agar pada MT (Musim Tanam) II hasilnya lebih berlipat-lipat dari yang ada sekarang,” tegasnya.

Editor: Supriyadi

Usai Kebakaran, 400 Karyawan Matahari Kudus Masih Bekerja dan Terima Gaji

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga pekan pasca kebakaran yang melanda Kudus Plaza yang ditempati Matahari Department Store (MDS) Kudus ternyata masih menisakan pertanyaan. Salah satunya adalah bagaimana nasib para pekerjanya?

Kepada MuriaNewsCom, Djarot Trinobo, Store Manager MDS Kudus mengatakan, hingga kini ratusan pekerjanya masih masuk kerja. Seperti sebelum kebakaran, mereka juga masih diharuskan melakukan proses presensi.

“Karyawan masih masuk seperti biasa, mereka juga masih diharuskan absen pagi. Kegiatan mereka, selain menjaga aset yang masih ada, mereka juga melakukan pendataan terhadap barang-barang,” ujar Djarot, Selasa (6/3/2018).

Baca Juga: 

Ia menegaskan, karyawan MDS Kudus yang berjumlah 400 orang itu masih mendapatkan hak berupa gaji. Namun demikian, terkait nasib karyawan ke depan, dirinya menunggu hingga kajian dari departemen Human Resources Development(HRD).

“Kami masih menunggu (putusan) dari bagian Sumberdaya Manusia (HRD) terkait hal tersebut,” ungkapnya.

Disinggung mengenai rencana pemindahan gerai MDS ke tempat lain, Djarot mengaku belum membahasnya. Namun, ia berharap agar perpindahan tersebut bisa cepat dilakukan.

“Keputusan soal itu belum ada kami masih menunggu putusan dari Pemda (Pemkab Kudus) mau dibawa kemana. Kalau kami inginnya cepat (operasional lagi), syukur-syukur bulan ini,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Kisah Sutopo, Penemu Ratusan Fosil Purba di Situs Patiayam Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Situs Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, dikenal menyimpan fosil binatang purba. Satu yang pernah ditemukan adalah fosil gajah purba atau Stegodon. Kebanyakan penemunya adalah warga setempat, yang tak sengaja nemu saat sedang berladang.

Seperti diungkapkan oleh Sutopo (39), ia adalah warga Desa Terban yang mengaku telah ratusan kali menemukan fosil. Ketika dikunjungi MuriaNewsCom, ia sedang bersantai setelah mengantarkan istrinya berbelanja ke pasar.

Ia kemudian bercerita mengenai awal mula penemuan fosil, di sebuah wilayah yang bernama Geneng Slumprit. “Dulu nemunya tak ingat tahun berapa pertama kali. Tapi pas itu memang tak sengaja, wong pas itu mau menanam terus ada benda seperti tulang, setelah saya turut kok semakin banyak,” kenangnya, Senin (5/3/2018) sore.

Ia mengaku tak tahu persis, kapan mulai menemukan fosil tulang binatang purba. Namun seingatnya, kegiatan tersebut baru dilakoni saat anaknya yang kedua lahir. Namun demikian, Sutopo mengaku tidak sepenuhnya fokus menjadikan perburuan fosil sebagai pekerjaan utama.

“Kayaknya itu baru tahun 2007 pas anak kedua lahir, saya mulai menemukan banyak fosil. Kalau sebelumnya abai, pas waktu itu lebih hati-hati kalau ada tanda-tanda fosil yang terpendam dalam tanah. Sampai sekarang ya tidak dijadikan yang utama (pekerjaan), aslinya saya ya serabutan, menanam ini itu,” tambahnya.

Dirinya mengaku, sejak zaman orang tuanya dulu penemuan fosil sebenarnya sudah ada. Namun waktu itu, orang-orang kampungnya tak menggubris jika ada menemukan fosil.

Selain karena pengetahuan yang masih dangkal, kala itu, belum ada perhatian dari pemerintah. Perhatian yang dimaksud adalah kompensasi ketika warga menemukan tulang belulang.

“Dulu warga menyebutnya balung buta (tulang raksasa) belum tahu kalau itu fosil binatang,” terangnya.

Selain fosil binatang, Sutopo juga sempat menemukan struktur kaki manusia di Kaliwuluh. Hal itu kemudian langsung ia komunikasikan dengan pengurus museum Patiayam.

“Terakhir saya nemu (fosil) itu seminggu yang lalu (25/2/2018). Tapi itu kecil seukuran handphone itu (sambil menunjuk handphone Blackberry seri Q10). Saya sendiri sampai malu, wong biasanya nyetor besar-besar,” urainya.

Sutopo mengaku dari penemuan fosil tersebut, ia sering diganjar dengan uang kompensasi dari Museum Patiayam. Yang terbesar, ia pernah mendapatkan uang sebesar Rp 7.500.000.

Di museum Patiayam sendiri, tersimpan ratusan fragmen fosil yang ditemukan warga Desa Terban. Satu diantaranya rahang stegodon yang ditemukan oleh Rakijan Mustofa, pada Juni 2009. Fosil tersebut ditemukan di Bukit Gondorio, Patiayam dengan panjang 59 sentimeter, lebar 57 sentimeter dengan ketebalan 29 sentimeter‎.

Editor: Supriyadi

BPKAD Kudus: Pembangunan Transmart di Kudus Plaza itu Hoax

MuriaNewsCom, Kudus – Setelah bangunan Kudus Plaza terbakar hebat pada Kamis (22/2/2018), beredar rumor bahwa di lokasi tersebut akan dibangun pusat perbelanjaan baru, Transmart. Benarkah itu?

Eko Djumartono Kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kudus membantah hal itu. Menurutnya, hingga saat ini belum ada rencana membangun pusat perbelanjaan anyar di bekas lokasi kebakaran.

“Itu (kabar pembangunan Transmart) di lokasi Kudus Plaza kami pastikan tidak benar atau hoax,” ujarnya, Kamis (1/3/2018).

Ketika disinggung, kabar yang menyebutkan bahwa Transmart akan dibangun di bekas Pasar Wergu (bekas Stasiun Kudus), Eko tak mengetahuinya.

“Bisa jadi, soalnya itu tanah milik PJKA (PT KAI). Namun persisnya kami tidak tahu. Akan tetapi kalau gambar bangunan Transmart yang beredar di media sosial itu dibangun di bekas lokasi Kudus Plasa, itu tidak benar,” tegasnya.

Menurutnya, hingga kini pihaknya masih fokus pada urusan administrasi terkait asuransi. Dirinya menyebut, beberapa hal harus dipenuhi guna memenuhi syarat dari pihak asuransi. Diantaranya, laporan polisi, laporan kejadian, IMB dan RAB Pembangunan.

Eko mengatakan, dirinya belum tahu kapan bangunan tersebut mulai direnovasi. “Kami juga masih menunggu kajian teknisnya seperti apa. Terkait kekuatan beton, apakah nanti bangunannya mau dirobohkan semua atau hanya dilakukan perbaikan. Kami masih menunggu hal itu,” jelasnya.

Dirinya merinci, kerugian yang disebabkan atas kebakaran tersebut mencapai Rp 22,6 miliar. Adapun bangunan tersebut telah diasuransikan dengan nilai Klaim asuransi sebesar Rp 9 miliar.

Menurutnya, durasi sewa Matahari Department Store di Kudus Plaza sampai 2019. Namun dengan kejadian kebakaran, semua perjanjian musnah.

“Meskipun demikian, kami akan dituntut ketika ada penyewa baru (sebelum 2019) yang menempati lokasi tersebut. Kejadian tersebut (kebakaran) kan force majeur diluar kemampuan kami,” ungkapnya.

Adapun, lokasi Kudus Plaza menempati lahan seluas 12.000‎ meter persegi.

Editor: Supriyadi

Bertemu dengan Sedulur Sikep di Kudus, Ganjar Sempat Ngobrol dengan Penolak Pabrik Semen

MuriaNewsCom, Kudus – Ganjar Pranowo sempat berbincang dengan Gunarti aktifis penolak pabrik semen di wilayah Pati dan Rembang. Hal itu terjadi saat kunjungannya ke kediaman tokoh Sedulur Sikep Kudus Wargono, yang merupakan orang tua dari Gunarti, Senin (26/2/2018) siang.

Gunarti sendiri datang telat saat itu. Ia ikut nimbrung dalam percakapan, setelah beberapa saat Ganjar Pranowo dan ayahnya, Wargono larut dalam obrolan.

Merga kula tekane keri, aku luwih ke Ibu Ganjar (istri, Siti Atiqoh), mbiyen aku wis pernah dikasih mimpi (bermimpi) oleh (didatangi) ibunya (Mendiang ibu kandung Ganjar Sri Suparni). Neng ngimpi iku aku dipeseni nyampekna, sumeleh, duwit isa digawe nek gunung ora isa. (Karena saya datang terlambat, saya penyampaiannya lebih ke istrinya. Dulu saya pernah bermimpi didatangi mendiang ibunya Pak Ganjar, disuruh menyampaikan pesan, pasrah uang bisa dibuat kalau gunung tidak),” ungkapnya.

Menurutnya, pesan yang diterimanya itu lekat dengan kondisi Jateng (Pegunungan Kendeng, Pati dan Rembang) yang sempat geger dengan pembangunan pabrik semen. Hal itu pun sebenarnya sempat diujarkan langsung kepada Ganjar Pranowo.

Mbiyen aku pernah teka mrono neng rumah pribadine Ganjar, nyampekna iki nanging ora ana ibu Ganjar. Makane sekaliyan ketemu tak sampekna. (Dulu saya pernah datang ke rumah pribadi Ganjar untuk mengatakan ihwal mimpi ini, namun saat itu tak ada istrinya. Maka sekarang ketika bertemu saya sampaikan saja),” imbuhnya.

Menurutnya, penyampaian hal tersebut kepada Atiqoh lebih disebabkan kedekatannya sebagai sesama perempuan. Ia berharap agar dirinya (Atiqoh) dapat menyampaikan dengan bahasanya sendiri kepada Ganjar.

Sementara itu Ganjar Pranowo menganggap, dua pabrik semen yang ada di Pati dan Rembang belum beroperasi. Selain itu, dirinya juga menganggap moratorium terhadap pabrik semen di Jateng masih berjalan.

“Kalau pembicaraan pabrik semen di Pati, sudah diputuskan oleh mereka tidak berjalan, dan yang dirembang pun belum beroperasi. Kemarin minta diizinkan saya mintanya nunggu putusan KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Saya juga pernah membuat moratorium tentang pabrik semen, sudah setahun lalu,” ungkap Ganjar, sebelum bertolak dari rumah Wargono di Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan-Kudus.

Editor: Supriyadi

Tim Labfor Cabang Semarang Olah TKP Matahari Kudus, Ini yang Diambil

MuriaNewsCom, Kudus – Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri Cabang Semarang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), di Matahari Kudus (Kudus Plaza), Jumat (23/2/2018) siang. Hal itu untuk menentukan penyebab kebakaran pusat perbelanjaan modern itu.

Pantauan MuriaNewsCom, setelah pelaksanaan olah TKP petugas terlihat membawa barang bukti, yang kemudian akan diperiksa. Beberapa barang tersebut diantaranya adalah ash atau abu bekas kebakaran dan potongan kabel listrik.

AKBP Agusman Gurning Kapolres Kudus mengatakan, barang bukti yang diperoleh tim Labfor akan diteliti terlebih dahulu. Hasil investigasi kemungkinan baru diketahui seminggu berselang.

“Tadi merupakan kegiatan olah TKP untuk mengambil beberapa barang bukti seperti ash (abu) dan sampel instalasi kabel listrik. Kemudian nanti akan diteliti untuk kemudian menentukan penyebab kebakaran,” tuturnya mewakili Kepala Tim Labfor Cabang Semarang AKBP Teguh Prihmono Kasubid Fisika Komputer Forensik.

Petugas labfor cabang Semarang mendatangi tempat kejadian di kawasan Matahari Kudus. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Ditanya terkait ada atau tidaknya unsur kesengajaan, Gurning tak bisa menyimpulkan sebelum adanya konklusi dari Labfor. Namun demikian, dirinya menyebut proses olah TKP bisa saja dilanjutkan.

“Kalau dirasa sudah cukup, maka TKP akan dibuka (garis polisinya) namun bila kemungkinan masih membutuhkan data tambahan maka tim Labfor bisa saja melakukan penyelidikan lanjutan. Untuk hari ini masih kita status quo (disterilisasi),” jelasnya.

Selain dipasangi garis polisi, di lokasi Kudus Plaza terdapat pula tenda milik polisi. Selain itu nampak petugas bersenjata dan mobil patroli Sabhara, terparkir di depan plaza.

Selain itu, akses masuk di Jl Loekmono Hadi juga masih dibatasi. Mereka yang ingin lewat didepan lokasi kejadian dihalau oleh petugas dan garis polisi.

Editor: Supriyadi

Baca Juga: