Menengok Istana Juragan Candu Terkaya di Asia Tenggara yang Kini Jadi Kandang Ayam

MuriaNewsCom, Semarang – Oei Tiong Ham dikenal sebagai peranakan Tionghoa yang pada abad 20 dikenal karena kekayaannya. Ia tercatat sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara berkat bisnis candu dan juragan gula.

Bisnis opiumnya menggurita dari Bangkok, Singapura, Hongkong sampai New York. Bahkan sebagian tanah yang ada di Kota Semarang yang dulu dikuasai para Yahudi pun berhasil diambil alih.

Salah satu peninggalan bisnisman yang sangat berpengaruh zaman dulu itu hingga kini masih bisa dijumpai. Rumah gedong milik keluarga Tiong Ham hingga saat ini masih ada. Rumah itu berada di Bukit Simongan, dan dikenal dengan nama Istana Bukit Simongan.

Sejarawan Kota Semarang, Yongkie Tio dilansir dari metrosemarang.com menyebut, kedigdayaan Tiong Ham dalam menguasai roda bisnis di Kota Lumpia tempo dulu tak lepas dari peran ayahandanya, Oei Tjie Sien. Keluarganya merupakan peranakan Tionghoa yang mengawali bisnis dari nol.

Di Istana Bukit Simongan itulah, Oei Tjie Sien ditempa menjadi seorang bisnisman. “Rumahnya di Bukit Simongan sangat luas. Itu rumahnya Oei Tjie Sien, di sanalah Tiong Ham kecil tumbuh hingga dewasa,” ujarnya.

Dari situlah, kata Yongkie, jejak kejayaan keluarga Tiong Ham dimulai. Mula-mula, ayah Tiong Ham resah melihat banyaknya orang Tionghoa terkena pungutan pajak cukup besar tiap kali bersembahyang di sebuah kelenteng depan Simongan (Kelenteng Sam Poo Kong).

Dia lalu punya ambisi untuk menguasai lahan-lahan milik warga Yahudi yang bertebaran di situ.

“Dulunya kawasan yang sekarang jadi Sam Poo Kong itu rumahnya orang-orang Yahudi. Orang China yang pergi ke sana mesti bayar pajak. Kan jadi males to. Untuk menghindari hal itu, maka dibuat patung Sam Poo Kong dan ditaruh di Tay Kak Sie Gang Lombok. Melihat hal tersebut, terus Tjie Sien terobsesi membeli semua tanah Yahudi. Impiannya jadi kenyataan tatkala bisnisnya sukses,” kata Yongkie.

Maraknya pembelian tanah Yahudi oleh Tjie Sien pun berdampak positif terhadap kelangsungan hidup orang Tionghoa pada waktu itu. “Mereka tidak perlu lagi bayar pajak kalau mau sembahyang di kelenteng,” terang Yongkie.

Seiring berjalannya waktu, Tiong Ham kemudian meneruskan bakat bisnis ayahnya. Namun, ia memilih berjualan opium, bisnis yang kini dikenal dengan perdagangan narkotika.

Tak cuma jualan narkoba. Tiong Ham juga punya bisnis properti dan pabrik gula, sampai bisnis kapal internasional. “Keberhasilan bisnisnya itu tidak lepas dari kemudahannya dapat izin-izin pabrik setelah dia berkawan baik dengan Gubernur Batavia di masa kolonial Belanda,” tuturnya.

Kondisi Istana Simongan yang kini terbengkalai bahkan digunakan untuk kandang ayam. (Foto: metrojateng.com)

Istana yang Kini Tak Terurus

Kemegahan nama Tiong Ham mungkin saat ini sudah mulai pudar, dan hanya tersisa di ingatan para orang-orang tua. Namun sisa-sisa kejayaanya masih terlihat hingga saat ini. Yongkie Tio menyebut, pohon-pohon trembesi yang dulu banyak ditanam di sepanjang Jalan Gajahmada hingga Jalan Pahlawan menjadi saksi sejarah perkembangan bisnis Tiong Ham.

Rumah masa kecil Tiong Ham hingga kini masih ada. Istana tersebut berada di Kampung Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat. Namun kini rumah tersebut seolah tak terurus, kemegahannya pun mulai pudar.

Rumah itu beberapa kali beralih fungsi, mulai dari asrama tentara, dan kini dihuni oleh 11 keluarga yang tinggal di lantai satu sejak tahun 1960-an.

Rumah ini terbengkalai. Temboknya kusam, sebagian sudah keropos, atapnya bocor kala hujan. Sebagian dari rumah itu dijadikan sebagai kandang ayam, sebagai upaya pertahanan hidup penghuninya.

Baca : Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

Menurut Mbah Warni, salah satu penghuni rumah gedong ini menyebut jika semula ikut suaminya bertugas sebagai prajurit TNI di Simongan.

“Suami saya asli Ponorogo. Kemudian tahun 1960 disuruh tinggal di rumah ini. Dulunya kampung ini hutan, cuma ada rumah ini saja. Lalu lama-kelamaan beberapa tentara pindah kemari dan punya keturunan sampai sekarang,” tutur Mbah Warni dikutip dari metrojateng.com.

Rumah itu mempunyai nilai sejarah yang sangat besar. Beberapa kali warga mencoba menawar beberapa bagian yang ada di rumah tersebut. Seperti kusen jendela ada yang mau membeloi seharga Rp 700 ribu, hingga kayu atap yang sempat ditawar orang mencapai Rp 2 miliar.

Keturunan Tiong Ham pernah beberapa kali mengunjungi rumah itu. Termasuk Pemkot Semarang yang pernah meminta para penghuninya pindah untuk memanfaatkan rumah itu sebagai pusat bangunan bersejarah. Namun hingga saat ini belum terealisasi.

Editor : Ali Muntoha

 

David Beckham Main Bola Plastik dengan Bocah SMP di Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan bintang sepak bila Inggris David Beckham blusukan di Kota Semarang, selama dua hari. Beckham blusukan ke sejumlah SMP dan bertemu Wali Kota Semarang Hendra Prihadi, di kompleks balai kota, Rabu (28/3/2018).

Di balai kota Beckham datang bersama rombongan UNICEF dalam program sekolah percontohan antibullying dan kekerasan anak. Dua SMP di Kota Semarang yakni SMPN 17 dan SMPN 33 ditunjuk sebagai sekolah percontohan.

Sayangnya, kegiatan Beckham selama di Semarang tertutup untuk media. Hendra Prihadi atau yang akrab disapa Hendi menceritakan pertemuannya dengan Beckham berlangsung akrab.

“Beckham tadi bilang, pertama senang di Semarang, udaranya lebih baik dari London, lha datang pas mendung,” kata Hendi.

Selain itu kedatangan Beckham sebagai perwakilan UNICEF juga membahas mengenai bullying dan kekerasan anak. Ia juga memuji Pemkot Semarang yang mempunyai langkah-langkah dalam mengatasi bullying.

”Dia senang ada tindakan dari Pemkot untuk mengatasi bullying. Dia bilang bullying untuk anak dan perempuan harus dihilangkan,” lanjutnya.

David Beckham bertemu dengan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. (foto : detik.com)

Suami Victoria dan Hendi juga saling bertukar cinderamata. Beckham memberikan hadiah kaus warna biru bertuliskan UNICEF kepada Hendi, yang diberi tandatangannya Beckham. Sementara Hendi memberikan cindermata berupa pakain batik warna merah.

Selain mengunjungi Balaikota Semarang, Beckahm juga blusukan ke SMPN 33 Semarang. Kedatangan bintang sepak bola ini tak banyak yang mengetahuinya. Beckham datang ke sekolah ini Rabu pagi.

Kabar beredar, sebelum datang ke sekolah ini Beckam sempat menjemput seorang siswi bernama Lorenza, di Perumahan Intan, Tembalang.

Di sekolah ini Beckahm juga sempat bermain bola dengan siswa-siswa SMPN 33. Bola yang digunakan untuk bermain adalah bola plastik.

Salah satu siswa yang ikut bermain bola dengan Beckham adalah Herman Yosef Dwi. Ia menceritakan kegirangannya saat bermain dengan legenda sepakbola tersebut.

Apalagi ia juga mendapat hadiah istimewa dari sang bintang. Bocah SMP ini mendapatkan hadiah berupa tandatangan dari Beckam. “Tadi dapat tanda tangan di dasi. Kami tadi main bola plastik, seneng banget,” katanya.

Namun ia mengaku cukup kecewa lantaran tak bisa berfoto bareng dengan sang idola. Pasalnya tak ada yang diperbolehkan berfoto bersama Beckham. Meski demikian ia mengaku cukup senang bisa bertemu langsung dengan Beckham.

Editor : Ali Muntoha

Razia Kawasan Tanpa Rokok di Kota Semarang Pakai Dana Cukai Tembakau?

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) yang mnegatur tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Perda ini masih tahap sosialisasi dan akan mulai diterapkan efektif dengan tindakan tegas pada pelanggar mulai Juni 2018 mendatang.

Tindakan tegas bagi yang nekat merokok di KTR yakni jeratan tindak pidana ringan (tipiring) dengan ancman hukuman 3 bulan kurungan penjara atau denda Rp 50 juta.

Untuk menegakkan perda Nomor 3 Tahun 2013 tersebut, Satpol PP Kota Semarang akan dikerahkan untuk melakukan razia di tempat-tempat yang ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok.

Satpol PP sendiri mendapat kucuran dana untuk melakukan tindakan penegakan perda. Mulai dari razia, penindakan hingga persidangan sudah disiapkan dana khusus. Dana tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCT) yang diterima Pemkot Semarang.

Hal ini yang menjadi salah satu alasan Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI) untuk menggugat perda tersebut. Selain masalah penggunaasn DBHCT untuk penegakan perda KTR, gugatan juga dilakukan lantaran penherapan kawasan tanpa rokok tak diserai dengan penyediaan fasilitas ruang khusus merokok.

“Kami akan menggugat agar Perda KTR yang diberlakukan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kota Semarang ini. Kami gugat untuk direvisi atau dibatalkan karena sangat diskriminatif terhadap hak-hak perokok,’’ kata Sekretaris Jenderal LKRI dr Tony Priliono, Rabu (21/3/2018).

Ia menyatakan, gugatan akan dilayangkan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Menurut dia, perda tersebut dinilai tidak memenuhi prinsip keadilan dan diskriminatif terhadap hak-hak para perokok.

Perda KTR tersebut juga dinilai tidak selaras atau bertentangan dengan UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasalnya dalam perda itu, sanksi denda dijatuhkan maksimal Rp 50 juta, padahal di dalam UU maksimal hanya Rp 7.500.

‘’Sebagian besar Perda KTR di Indonesia melampaui kewenangan aturan di atasnya. Itu yang mau kami kritisi, agar tercipta keseimbangan antara hak dan kewajiban,’’ tegas Tony.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro Pudjo Martantono mengakui jika sumber pendanaan razia perokok dan penindakan tipiring hingga tahap persidangan, dibiayai menggunakan DBHCHT yang diterima Pemkot Kota Semarang.

Nilai DBHCHT yang diterima Kota Semarang dari tahun ke tahun juga selalu naik. Pada tahun 2014 DBHCHT Kota Semarang tercatat Rp 5.969.450.397, pada 2015 Rp 7.281.907.000, selanjutnya pada 2016 Rp 7.062.158.000 dan 2017 mencapai Rp 7.968.115.000.

”Saat ini masih sosialisasi razia belum dikenai sanksi berat, hanya teguran dan menulis surat pernyataan. “Ruang-ruang dinas di Balai Kota Semarang ada yang terlarang untuk merokok. Sudah ditempeli stiker,” ujar Endro.

Endro mengakui, saat ini, wilayah KTR kawasan Balai Kota Semarang belum memiliki ruang khusus merokok. Menurut dia, penyediaan fasilitas ruang merokok tersebut bukan prioritas.

“Para perokok bisa memanfaatkan ruang terbuka seperti taman, selasar atau teras kantor untuk merokok. Selama di lokasi tersebut tidak tertempel stiker yang menandakan sebagai kawasan tanpa merokok,” imbuhnya.

Sementara, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Semarang, Purwanti menyebut jika ruang khusus merokok sudah mulai dibicarakan. Meskipun ia mengakui, tahun ini tidak ada penganggaran untuk membuat ruang merokok.

”Program pembuatan ruangan merokok pada tahun ini tidak ada. Begitu juga pada tahun lalu. Tapi, nanti akan kami bicarakan kalau memang diperlukan ruangan khusus merokok,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kemacetan Semarang Mulai Dekati Jakarta, Capai 37 Jam Per Tahun

MuriaNewsCom, Semarang – Kemacetan yang terjadi di Kota Semarang semakin parah. Pertumbuhan kendaraan yang begitu cepat, tak sebanding dengan penambahan luas jalan. Alhasil kerugian yang cukup besar menjadi dampak dari kemacetan tersebut.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menyebut, kemacetan yang terjadi di ibu kota Jawa Tengah itu sudah mencapai 37 jam dalam setahun. Angka ini sudah mendekati kemacetan Jakarta yang mencapai 55 jam setahun (tahun 2016).

”Hasil penelitian lembaga riset Inrix juga menyebutkan rata-rata tingkat kemacetan di Kota Semarang sudah mencapai 37 jam dalam setahun,” kata Kepala Dishub Kota Semarang, Muhammad Khadiq dikutip dari metrojateng.com.

Berdasarkan catatan yang dimilikinya juga lama waktu yang dibutuhkan pengendara saat macet mencapai 17 persen. Bahkan pada jam sibuk persentase waktu berkendara meningkat menjadi 21 persen.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, sebelumnya meminta pemerintah kota mencari solusi yang benar-benar manjur untuk mengatasi persoalan kemacetan. Banyak sekali faktor penyebab kemacetan yang harus segera bisa diselesaikan oleh dinas-dinas yang terkait.

Dia menjelaskan, salah satu yang menjadi penyebab kemacetan jalan raya yaitu adanya kredit kendaraan yang murah. Hanya dengan modal Rp500 ribu dan KTP setiap orang saat ini dapat membawa motor baru ke rumah. Sehingga beban jalan raya semakin lama jelas semakin bertambah.

Belum lagi pertambahan penduduk dan pendatang dari daerah tetangga yang bekerja di Kota Semarang, Sehingga pemerintah perlu mencarikan solusi yang benar-benar manjur mengatasi persoalan kemacetan saat ini.

“Tidak terhindarkan memang pertumbuhan kendaraan di Kota Semarang, dari data Samsat Kota Semarang tercatat sekitar 1,6 juta kendaraan roda dua dan 500 ribu mobil. Ini harus ada kajian yang mendalam terkait solusi kemacetan mumpung belum terlambat,” pungkasnya.

Dilansir Kompas.com, hasil penelitian INRIX atau lembaga analisis data kemacetan lalu lintas asal Washington, Amerika Serikat, yang dipublikasikan Senin (20/2/2017), memaparkan bahwa pada 2016 pengendara mobil di Jakarta menghabiskan waktu 55 jam dalam setahun akibat terjebak kemacetan.

Data itu menempatkan Jakarta di peringkat ke-22 kota termacet di dunia. Hasil survei itu juga menunjukkan bahwa kemacetan Jakarta “hanya” lebih baik dibandingkan Bangkok, Thailand, yang menempati peringkat pertama sebagai kota termacet di Asia Tenggara dengan waktu total 64,1 jam setahun.

Editor : Ali Muntoha

Dana Rp 2,6 Miliar Disiapkan untuk Honor Narik Pajak bagi Ketua RT RW di Kota Semarang

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk ketua RT dan RW di kota ini, sebagai jasa penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT) kepada masyarakatnya.

Dana ini mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun lalu. Otomatis nominal yang diberikan bagi ketua RT maupun RW juga meningkat.

Dilansir dari tribunjateng.com, jika semula tiap ketua RT hanya mendapat Rp 1.200 per lembar SPPT, kini naik menjadi Rp 2.400. Begitu juga dengan ketua RW yang dari 1.00 menjadi Rp 2.000

Mulai saat ini, para ketua RT RW di Kota Semarang dapat lebih meningkatkan kinerja mereka dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPPT) pajak bumi dan bangunan (PBB) kepada masyarakatnya.

Pasalnya, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menaikkan uang jasa kepada mereka.

”Anggarannya ada sekitar 2,6 Miliar. Nanti kami bayar di perubahan anggaran, dalam waktu dekat kita realisasikan. Bagaimanapun keterlibatan  pihak luar sangat banyak ya, dengan RT RW lurah camat,” kata Kepala Bapeda Kota Semarang, A Yudi Mardiana.

Menurut dia, kenaikan anggaran itu untuk memacu ketua RT dan RW dalam rangka merealisasikan target pendapatan asli daerah (PAD) Kota Semarang dari sektor pajak.

Dengan dinaikkannya uang jasa ini, ia berharap RT RW dapat menyampaikan SPPT tepat waktu, sehingga pembayaran dapat dilakukan tepat waktu pula.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi (Hendi) mengatakan, kenaikan hingga 100 persen ini mulai berlaku pada 2018.

“Kami sudah sampaikan bahwa PBB merupakan salah satu unsur pembiayaan pembangunan di kota Semarang. Jadi kerjanya harus baik agar PBB masuk cepat dan pembiayaan berjalan lancar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hendi juga menyampaikan tentang mundurnya batas waktu dari yang biasanya 31 Agustus menjadi 30 September.

Selain itu, bagi warga yang membayar sebelum batas waktu nantinya akan diundi untuk mendapatkan hadiah satu unit rumah. ”Saya rasa ini bisa menjadi pemacu semangat agar pembayaran PBB berjalan lancar,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Oknum Guru SD di Semarang Diduga Lecehkan Siswinya di Dalam Kelas

MuriaNewsCom, Semarang – Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kembali terjadi di dunia pendidikan. Seorang guru SD di Karangayu, Kota Semarang berinisial FO dilaporkan ke Polrestabes Semarang, karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap sejumlah siswi.

Peristiwa pelecehan itu diduga dilakukan di dalam kelas. Sejumlah siswi kelas 3 dikunci di dalam kelas dan pelaku memerintahkan para siswi itu menanggalkan seluruh seragamnya.

Salah satu korbannya yakni CJB (8). Orangtua CJB yang mendapat laporan dari anaknya langsung melaporkan aksi oknum guru tersebut ke Polrestabes Semarang, akhir pekan lalu. Dalam laporannya FO melakukan pelecehan di daerah kewanitaan siswi tersebut.

Laporan tersebut kini tengah didalami aparat Polrestabes Semarang. Kasubbag Humas Polrestabes Semarang Kompol Suwarna mengatakan, lamporan tersebut masih didalami oleh penyidik. “Kasusnya ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA),” katanya pada wartawan.

Tak hanya pihak kepolisian, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang juga melakukan investigasi, Senin (12/3/2018). Kepala Disdik Kota Semarang, Bunyamin bersama Unit PPA Polrestabes Semarang mendatangi SD tersebut untuk melakukan klarifikasi.

Bunyamin menjelaskan, pihaknya masih menunggu laporan pemeriksaan yang dilakukan kepala sekolah terhadap oknum guru tersebut.

“Di sekolah kan ada atasannya langsung, yakni kepala sekolah. Tahap awal, kami verifikasi ke kepala sekolah untuk melakukan pemeriksaan. Hasilnya dikirimkan ke kami untuk ditindaklanjuti,” katanya.

Nantinya, kata dia, tim gabungan dari Pemerintah Kota Semarang, seperti Disdik, Inspektorat, dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) juga akan turun melakukan pemeriksaan setelah laporan sekolah selesai.

“Jadi, ada alurnya. Kepala sekolah dulu, nanti tim dari Pemkot Semarang juga akan turun. Hasilnya bagaimana, ya, belum tahu karena yang bersangkutan kan sedang diperiksa kepala sekolah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, oknum guru tersebut pernah dimutasi ke sekolah tersebut karena dugaan kasus yang sama. Namun Bunyamin mengaku belum mengetahui secara persis informasi itu.

“Memang guru itu tidak sejak awal mengajar di sekolah itu. Sebelumnya dari sekolah lain, kemudian dimutasi ke sekolah itu. Namun, nanti saja menunggu hasil pemeriksaan dari sekolah,” terangnya.

Ia mengaku sangat berhati-hati terkait kasus ini karena korbannya masih anak-anak. Namun jika terbukti pihaknya memastikan ada sanksi tegas sebagaimana diatur aturan tentang aparatur sipil negara (ASN).

“Yang bersangkutan kan sudah pegawai negeri sipil (PNS). Soal sanksi, nanti menunggu hasil laporan. Namun, untuk PNS kan sudah ada aturannya tentang ASN sesuai tingkat pelanggarannya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jumlah Kecamatan di Kota Semarang Bakal Membengkak Jadi 32

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mewacanakan untuk melakukan pemekaran kecamatan di ibu kota Provinsi Jateng itu. Kota Semarang yang saat ini terdiri dari 16 kecamatan tengah dikaji untuk dimekarkan menjadi 30-32 kecamatan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pemekaran wilayah tersebut bertujuan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Karena perekonomian Kota Semarang dinilai masih tertinggal dibanding kota-kota besar lain di Indonesia.

Ia menyebut, salah satu faktor lambatnya pertumbuhan ekonomi di Kota Semarang, karena terlalu luasnya pembagian administrasi pemerintahan.

‘’Pemekaran kecamatan saya rasa sangat diperlukan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi. Ini akan kami pertimbangan dan menjadi target prioritas pembangunan yang harus dilakukan,’’ kata wali kota yang disapa Hendi ini.

Wilayah Kota Semarang mempunyai luas sekitar 373,8 km persegi. Dengan wilayah yang sangat luas itu, hanya dibagi menjadi 16 kecamatan. Oleh karenanya dinilai perlu dilakukan pemekaran untuk mempercepat laju ekonomi.

Hendi membandingkan dengan Filiphina dan Vietnam. Dua negara itu memiliki jumlah Provinsi yang lebih banyak dibanding Indonesia.

Hal itu yang menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi dua negara itu lebih besar dengan Indonesia. Meskipun, keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) di dua negara itu jauh tertinggal dibanding Indonesia.

Contoh lagi adalah Kota Bandung dan Surabaya. Hendi menerangkan, Bandung dengan wilayah seluas 150 km persegi memiliki 31 kecamatan. Sedangkan Surabaya yang luas wilayahnya tidak jauh berbeda dengan Kota Semarang, memiliki 30 kecamatan.

‘’Bandingkan saja, laju pertumbuhan dua kota itu jauh lebih pesat dibanding Kota Semarang. Untuk itu, saya merasa pemekaran wilayah penting dilakukan. “Jadi memang penting, ini akan menjadi prioritas kami,’’ tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gedung Dinkes Kota Semarang Bakal Dirombak Jadi Lahan Parkir 10 Lantai

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bakal membangun gedung parkir setingga 10 laintai di Jalan Pandanaran. Pembangunan ini dilakukan lantaran ruwetnya masalah parkir di jalan protokol tersebut.

Untuk membangun kantung parkir ini, dibutuhkan dana sebesar Rp 85 miliar. Gedung parkir ini akan menempati gedung Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang di Jalan Pandanaran Nomor 79 Semarang.

Gedung Dinkes ini akan dibongkar total dan kemudian dibangun gedung setinggi 10 lantai. Rencana pembangunan ini masih digodok oleh Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang.

Saat ini, Pemkot Semarang juga tengah mencari sewa tempat untuk memindahkan aktivitas pelayanan Dinas Kesehatan Kota Semarang, selama proses pembangunan.

“Nanti gedung Dinas Kesehatan Kota Semarang dibongkar total, kemudian baru dilakukan pembangunan gedung baru,” kata Sekretaris Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Irwansyah, kepada wartawan.

Dijelaskan, gedung 10 lantai tersebut nantinya digunakan sebagai gedung parkir, puskesmas, dan kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang. Gedung parkir direncanakan akan menggunakan sebanyak lima lantai.

“Pembangunan ini menggunakan APBD Kota Semarang sistem kontrak tahun jamak atau multiyears 2018-2019. Nanti akan dilelang senilai kurang lebih Rp 85 miliar,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya mengaku masih memelajari sistem kontraknya, termasuk meninjau ulang Detail Engineering Design (DED). Sedangkan untuk Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), Izin prinsip, dan lain-lain telah rampung.

“Kami masih diskusikan dengan ULP (Unit Layanan Pengadaan). Jangan sampai tahun ini dikerjakan tapi tahun selanjutnya tidak, itu kan malah berbahaya,” terangnya.

Setelah semua persiapan rampung, lanjutnya, pihaknya segera melakukan proses lelang. Rencananya proses lelang akhir Maret 2018 dan Mei proses pembangunan sudah dimulai.

Mengenai konsep gedung baru, pihaknya belum bisa membeberkan secara detail. Namun yang jelas gedung tersebut memberi ruang besar untuk parkir. Tetapi gedung parkir tersebut masih konvensional. Artinya, bukan gedung parkir yang didesain menggunakan teknologi. “Kami masih hitung kapasitas gedung tersebut,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono mengaku masih kesulitan mencari gedung yang akan digunakan untuk ditempati sebagai kantor selama lima tahun. “Ada beberapa pemilik gedung swasta yang menawari, namun pihaknya belum menyetujui tawaran itu. Ya, ini masih proses pindah,” ujarnya.

Sedangkan untuk Puskesmas Pandanaran sudah pindah. Dia menargetkan, Maret atau April mendatang sudah pindah. Sebab, Mei kegiatan pembangunan gedung baru dimulai.

“Nanti kami akan mengumumkan perpindahan gedung kepada masyarakat dan pelayanan tidak terganggu,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ibu Kos di Semarang Tewas Dibunuh, Ada Luka Tusuk di Perut

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang ibu kos di Kota Semarang, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di rumahnya Perumahan Bukit Delima B9, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngalian, Kamis (1/3/2018).

Perempuan bernama Meta Novita Handayani (38) itu diduga menjadi korban pembunuhan. Pasalnya, di perut korban ditemukan luka bekas tusukan. Tubuh ditemukan pada pukul 08.00 WIB.

Di rumah yang digunakan sebagai kos-kosan itu, korban tinggal bersama anaknya yang masih TK, dua anak lainnya sudah berangkat sekolah. Sementara suaminya bekerja di Jakarta.

Salah satu saksi, Muhamad Andre Fernadan (19) warga Pekalongan yang indekos di sebelah rumah korban mengaku mendengar suara jeritan dan melihat korban dibekap oleh seorang pria yang menggunakan helm.

“Begitu mau keluar saya tanya, orangnya gugup dan langsung kabur menggunakan sepeda motor Supra Fit,” ungkap Andre.

Sementara Tyas, tetangga korban mengaku melihat mantan pembantu korban tengah bertengkar dengan seorang laki-laki di depan rumahnya.

Seorang tetangga sempat mengambil foto motor yang dikendarai oleh mantan ART dan seorang lelaki saat berada di sekitar rumah korban. “Mereka (mantan pembantu dan seorang lelaki) bertengkar banyak yang lihat kok, sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian pergi naik motor itu,” ujarnya.

Kapolsek Ngaliyan Kompol Doni Eko S  membenarkan jika ada saksi yang memotret motor yang diduga pelaku. Saat ini menurutnya, polisi tengah melakukan pengejaran.

Sementara dari olah tempat kejadian perkara (TKP) diketahui jika korban meninggal akibat luka tusukan di perut dan dibekap. Lokasi pembunuhan berada di dalam kamar.

”Tidak ada barang berharga yang hilang. Kita amankan sebuah guling dan dua pasang sandal berwarna biru dan hitam yang diduga milik korban,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Berbulan-bulan Diterjang Banjir, Warga Genuk Mulai Terserang Penyakit

MuriaNewsCom, Semarang – Banjir yang melanda wilayah Genuk, Kota Semarang, menyebabkan warga mulai terserang berbagai penyakit. Salah satunya di Kelurahan Trimulyo, di mana genangan air sudah muncul sejak berbulan-bulan.

Beberapa titik di kelurahan ini sering terendam air. Tidak hanya saat terjadi hujan saja, ketika tidak hujan pun banjir rob air laut juga menggenangi rumah-rumah di Kelurahan Trimulyo khususnya RT 1 RW 1.

“Sudah berbulan-bulan kami hidup di genangan banjir seperti ini. Tapi yang terparah mulai Rabu (14/2/2018) pekan lalu karena hujan deras sampai malam. Sampai sekarang banjir belum kering juga,” kata Astuti, warga Trimulyo.

Sebagian besar warga RW 1 Kelurahan Trimulyo mengungsi dan belum pulang sampai hari ini. Sebagian lainnya memilih bertahan di rumah. Setelah berhari-hari hidup di genangan banjir, Astuti dan beberapa warga lain mengeluhkan berbagai penyakit yang dialaminya.

Akibatnya, sejumlah warga mulai terserang berbagai penyakit. Yani salah satu warga Trimulyo menyebut, sejak beberapa hari terakhir keluarganya juga mulai terserang diare dan gatal-gatal.

“Anak-anak saya kena diare, hingga muntah dan demam. Sakit semua. Ya, terpaksa pakai obat seadanya. Mau ke rumah sakit saya takut karena tidak ada biaya,” kata ibu tiga anak tersebut.

Meski sudah 18 tahun tinggal di kawasan Trimulyo, buruh pabrik di Kawasan Industri Terboyo Semarang itu mengaku belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Semarang. Ia juga mengaku belum ada bantuan pengobatan yang diberikan kepada korban banjir.

“Paling saya siapkan obat yang dibeli dari toko untuk jaga-jaga. Kalau untuk gatal-gatal sudah ada, cuma untuk diare, muntah, dan demam, ya, seadanya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agus Harmunanto mengakui telah menerima informasi mengenai dampak banjir di Genuk, yakni berbagai penyakit yang mulai menyerang warga.

“Peran saya hanya sebagai koordinator. Jika ada warga butuh bantuan atau kendala apa, saya teruskan. Seperti keluhan penyakit yang dialami warga, saya teruskan ke Dinas Kesehatan,” terangnya.

Ia mengatakan berbagai bantuan sudah diberikan kepada warga korban banjir. Ia mengakui bantuan yang diberikan hanya bersifat mendesak, seperti selimut, bantal, dapur umum yang dikelola oleh kelurahan atau kecamatan.

“Sudah ada pembagian tugas masing-masing. Untuk bantuan beras, misalnya, kami mintakan dari Dinas Ketahanan Pangan. Penanganan BPBD saat terjadi banjir dan kebutuhan yang sifatnya mendesak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pejabat Tukang Pungli di Semarang Langsung Dicopot

MuriaNewsCom, Semarang – Satu pejabat eselon IIIA di jajaran Pemkot Semarang dicopot dari jabatannya. Sanksi tegas diberikan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi karena pejabat tersebut terbukti melakukan pungutan liar (pungli).

Selain dicopot dari jabatanya menurut Hendi (panggilan akrab wali kota), pejabat tersebut juga diturunkan pangkatnya. Meski demikian, Hendi tak mau membeberkan secara gamblang siapa pejabat yang dimaksud.

“Itu berawal dari aduan masyarakat. Tidak perlu saya sampaikan siapa orangnya. Banyak yang sudah tahu kok,” katanya.

Ia menyatakan, sebelum diberi sanksi tegas, pejabat tersebut telah diperiksa oleh Inspektorat dan terbukti melakukan pungli proyek dan pungli kepada masyarakat.

Saat ditanya apakah pejabat tersebut merupakan camat, Hendi hanya mengatakan identitas pejabat tidak perlu diperjelas. Hendi yang juga menjadi penanggungjawab tim saber pungli Kota Semarang, mengapresiasi kinerja tim saber pungli Kota Semarang.

Meski baru satu tahun terbentuk, namun menunjukan hasil kinerja yang di luar dugaan. Laporan hasil kerja tim Saber Pungli Kota Semarang, Senin (12/2/2018) diserahkan ke Hendi, dan dari laporan itu terlihat kinerjanya yang cukup bagus.

Ia menyebut, tahun pertama tim saber pungli yang sifatnya sosialisasi, justru sudah melakukan penanganan dan operasi tangkap tangan (OTT). Di antaranya, adanya 34 aduan pungli yang 17 aduan di antaranya telah ditangani.

“Ini langkah awal yang positif. Sebenarnya tahun pertama itu sosialisasi dan tahun 2018 ini penindakan. Tapi ternyata sudah jauh dari itu. Kami harapkan masyarakat semakin sadar, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh,” ujarnya.

Dicontohkannya, praktik pungli yang sudah terungkap di antaranya tarif parkir dari yang seharusnya Rp 2.000 kemudian ditarik Rp 5.000. Selain itu, pemasangan jaringan PDAM dari harusnya Rp 1,5 juta namun dipungli menjadi Rp 2,5 juta.

“Ada juga pembuatan E-KTP, dari harusnya gratis nyatanya dimintai Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu. Laporkan saja hal itu kepada kami,” terangnya.

Mengenai masukan sanksi agar memberikan shock terapi, Hendi mengatakan, akan berkoordinasi lebih lanjut dengan tim saber pungli. Termasuk adanya masukan pemberian sanksi sosial yang nantinya akan dikaji terlebih dahulu.

Namun yang pasti, Hendi meminta kepada masyarakat untuk turut serta memberantas praktik pungli yang terjadi di Kota Semarang. Yakni dengan melaporkannya langsung melalui kanal Lapor Hendi maupun ke tim saber pungli.

“Kami membuka kran selebar-lebarnya bagi masyarakat untuk melaporkan praktik pungli. Bisa melalui lapor hendi atau langsung ke saber pungli. Sepanjang masyarakat tidak nyaman terhadap pelayanan di Kota Semarang,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Malam Mingguan Sambil Pesta Ciu, Belasan Siswa SMK Nangis Digaruk Polisi

MuriaNewsCom, Semarang – Masih berumur belasan tahun dan duduk di bangkur sekolah, remaja-remaja di Kota Semarang ini sudah berani menggelar pesta minuman keras. Bahkan aksi itu dilakukan di tempat umum, sehingga mengganggu masyarakat.

Mereka menggelar pesta miras di sebuah halte bus di Jalan Menteri Supeno, Kota Semarang. Aksi ini digelar pada Sabtu (13/1/2018) malam. Ada belasan siswa SMK terlihat teler di halte tersebut. Mereka menenggak minuman keras jenis ciu.

Namun aksi mereka terpergok Tim Elang Polrestabes Semarang, yang tengah melakukan patroli. Tim penyapu kejahatan jalanan ini pun langsung menggerebek belasan remaja bau kencur ini.

Beberapa di antara mereka juga menangis histeris saat tahu tengah dikepung polisi. Mereka ketakutan karena khawatir akan dipenjara dan malu.

Tim Elang pun langsung mendata remaja-remaja yang tengah pesta miras itu. Polisi menemukan barang bukti botol minuman keras di tempat mereka nongkrong.

Tim Elang memeriksa remaja yang pesta miras. (Humas Polrestabes Semarang)

Polisi juga kemudian memberikan hukuman kepada pelajar. Hukuman yang diberikan cukup unik, yakni mereka disuruh mendoro motor dari depan SMAN 1`di Jalan Menteri Supeno Semarang, hingga Pos Patwal Satlantas Polrestabes Semarang, di kawasan Simpang Lima Semarang.

Salah satu remaja yang tertangkap mengaku bernama Yogi (17). Ia tak berhenti menangis saat digrebek polisi. Namun ia mengaku tak ikut-ikutan pesta miras seperti temannya yang lain. Pengakuannya, saat itu ia hanya mampir sebentar.

“Saya tidak minum pak, saya cuma mampir. Saya coba sedikit saja dan mau pulang, tapi malah ketangkep duluan. Saya menyesal pak,” kata Yogi sambil menangis saat ditanya polisi.

Petugas dari Tim Elang kemudian, menghubungi orang tua siswa untuk menjemput mereka di Pos Patwal. Polisi juga memberikan pengarahan kepada orang tua siswa ini untuk menjaga dan memperhatikan pergaulan anaknya.

Kepala Tim Elang I Satreskrim Polrestabes Semarang AKP Andie Prasetyo mengatakan, penindakan tersebut dilakukan saat dia bersama tim melakukan patroli rutin di wilayah hukum Polrestabes. “Setelah kami periksa satu persatu, mererka kami beri pembinaan, dan membuat pernyataan untuk berjanji tidak mengulangi tindakan itu lagi. Setelah itu kami mengizinkan mereka pulang, ” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pedagang Syok Temukan Mayat di Parkiran Pasar Bulu

Petugas Inafis Polrestabes Semarang tengah memeriksa mayat tak beridentitas di area parkir Pasar Bulu Semarang, Rabu (27/12/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Sakinah (50), salah satu pedagang di Pasar Bulu, Kota Semarang, Rabu (27/12/2017) kaget bukan kepalang saat menemukan sesok mayat tergeletak di pelataran parkir lantai dasar Pasar Bulu.

Pedagang sayuran itu menemukan mayat tersebut, saat mau membuka dagangan, sekitar pukul 04.00 WIB. Ia cukup syok, karena saat turun dari motor dan hendak naik ke lantai atas, di mana ia berjualan sayur, tiba-tiba melihat mayat tergeletak.

“Awalnya saya kira tidur, terus dibangunkan orang parkir karena tempat parkir pasti akan ramai. Namun ternyata saat dibangunkan, korban sudah tidak bernyawa,” katanya.

Mayat tersebut diketahui sebagai seorang pemulung. Korban memang sering mencari barang bekas di sekitar Pasar Bulu.

Sementara itu, Kanit Inafis Polrestabes Semarang Iptu Sawal menerangkan, kondisi mayat lusuh, kumel, dan tampak tua. Diperkirakan usia mayat paruh baya, dan tak membawa identitas.

Para personel Inafis langsung mengevakuasi mayat tersebut dan melarikannya ke RSUP Kariadi Semarang. Kini mayat telah berada di RSUP dr Kariadi Semarang untuk dilakukan autopsi dan pemeriksaan lebih lanjut.

Editor : Ali Muntoha

Gandeng Jepang, Semarang Jajaki Bikin Program Listrik Gratis

Petugas PLN melakukan pemeliharaan jaringan. (Foto : PLN Kudus)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota Semarang menjajaki program fasilitas listrik gratis untuk masyarakat. Untuk merealisasikan program ini, Pemkot Semarang menggandeng kerja sama dengan Pemerintah Kota Toyama, Jepang.

Kamis (14/12/2017) pekan kemarin, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi telah bertolak ke Jepang, untuk membicarakan program ini. Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Semarang, Achyani mengatakan, gagasan itu didiskusikan di Intercity Collaboration Forum.

Gagasan fasilitas listrik gratis bagi masyarakat itu, kata dia, dirancang dalam dua konsep, yakni mikrohidro memanfaatkan tenaga air dan “wind turbine” memanfaatkan tenaga angin sebagai pembangkit listrik.

Dalam forum tersebut, Hendi, sapaan akrab orang nomor satu di Kota Semarang memaparkan sejumlah permasalahan yang dihadapi beserta solusi-solusi yang dirancangnya untuk beberapa tahun ke depan.

Sekarang ini, ia mengatakan Pemkot Semarang sudah mengawali dengan pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang untuk diolah menjadi gas metana untuk keperluan memasak 150 kepala keluarga (KK).

“Dari hasil pengolahan sampah di TPA Jatibarang sudah menghasilkan gas metana yang bisa dimanfaatkan gratis. Namun, di era kemajuan teknologi saat ini, persoalan listrik menjadi prioritas,” katanya dikutip Antara.

Berdasarkan hasil pertemuan itu, Achyani mengatakan Pemerintah Kota Toyama menyatakan persetujuannya membantu membuat studi tentang pembangkit listrik tenaga angin dan air di Kota Semarang.

Editor : Ali Muntoha

Diserang Banjir Rob, Pelayanan di Kantor Ditpolairud Semarang Tetap Jalan

Kondisi Kantor Ditpolairud Polda Jateng yang digenangi air rob. Meski banjir pelayanan di kantor ini tetap berjalan. (Tribratanews Polda Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejak beberapa hari terakhir, Kantor Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Jateng terkena air pasang (Rob). Bukan hanya di kantor saja namun sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang juga terkena banjir rob.

Air laut masuk ke dalam halaman kantor, hingga membuat kompleks Ditpolairud terendam. Meski demikian, aktivitas pelayanan dan kedinasan tidak dihentikan.

Meski terganggu dengan keberadaan banjir ini, namun polisi berusaha agar genangan yang masuk ke dalam kantor menyusut. Dirpolairud Polda Jateng, Kombes Pol Andreas Kusmaedi, Selasa (12/12/2017) mengunjungi kantor yang terendam banjir rob tersebut.

Ia memerintahkan pada setiap anggotanya untuk tetap menjalankan tugas seperti biasa. Ia mengatakan, apapun kondisi kantor pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan.“Berikan pelayanan yang terbaik walaupun kondisi kantor kita dipenuhi air laut,” katanya.

Agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan, personel Ditpolairud mengerahkan tiga pompa untuk menyedot air pasang sehingga debit air laut di dalam kantir dapat berkurang. Sehingga aktivitas kedinasan dan pelayanan dapat berjalan dengan baik.

Editor : Ali Muntoha

Nenek di Semarang Ini 14 Tahun Lumpuh Karena Kanker, Akhirnya Dijemput Wali Kota Diobatkan Gratis

Asih harus digendong naik ke ambulans saat dijemput Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang. (Foto : FB Hendrar Prihadi)

MuriaNewsCom, Semarang – Seorang nenek berusia 60 tahun yang tinggal di Desa Kalialang RT 2, RW 1, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, selama 14 tahun menderita lumpuh. Kelumpuhan itu akibat penyakit kelenjar getah bening.

Pada awal-awal menderita penyakit ini, nenek yang bernama Asih ini sempat diobatkan, namun tak sembuh. Karena tak ada biaya, nenek Asih akhirnya hanya pasrah dengan penyakit yang dideritanya. Sementara sang suami pergi entah kemana sejak Asih menderita penyakit ini.

Asih mempunyai dua anak, dan karena kondisinya yang lumpuh Asih beserta anak-anaknya tinggal dan di rumah orang tuanya yang sangat sederhana.

Kondisi Asih ini didengar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, yang pada Kamis (2/11/2017) malam menjemput Asih untuk diobatkan secara gratis. Hendi datang bersama ambulans Semarang Hebat dan membawanya ke RSUP dr Kariadi Semarang.

“Malam ini menjemput bu Asih yang 14 tahun terbaring di rumah karena sakit kelenjar getah bening — Mulai malam ini juga mulai dirawat di RSUP Kariadi dengan jaminan pengobatan gratis dari pemerintah,” tulis Hendi dalam akun Facebooknya.

Kepada Wali Kota Hendrar Prihadi, Karmijah, adiknya Asih menjelaskan kondisi kakak perempuanya. Sedangkan Asih duduk lunglai di sampingnya dan tidak bisa diajak komunikasi. Tidak berapa lama Asih dibopong ke ambulans gratis yang sudah ada tim medis di dalamnya.

Asih segera dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang untuk penanganan. Sedangkan untuk biaya, Asih akan dicover program baru Pemkot Semarang yaitu Universal Health Coverage (UHC) yaitu program pengobatan gratis untuk warga Kota Semarang. “Dengan UHC, semua rumah sakit di Kota Semarang bisa, selama kelas 3,” ujar Hendi.

Hendi mengatakan, dirinya mengetahui kondisi Asih yang lumpuh 14 tahun dari laporan warga yang tercatat di database Dinas Kesehatan Kota Semarang. Ia pun berharap warga Semarang peduli dengan tetangganya dan jika menemukan warga yang sakit parah bisa lapor ke Dinkes.

“Ini penting ketemu tetangga kita yang situasi ekonominya tidak baik, sebagai warga Semarang yang baik bisa info ke Dinkes,” paparnya.

Karmijah menyebut, sudah 14 tahun kakaknya menderita penyakit itu. Pada awalnya, Asih hanya merasakan sakit seperti pada umumnya.

Kelamaan rasa sakit itu menyebar dan membuatnya susah berjalan. Asih sudah pernah diajak konsultasi ke rumah sakit, pengobatan alternatif juga pernah dilakukan. “Sudah berobat ke mana-mana. Saudara-saudara juga tidak ada yang mampu,” kata Karmijah.

Asih sebenarnya terdaftar sebagai penerima manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), namun belum bisa memanfaatkan. Kondisi fisik Asih yang sudah lemah juga membuat keluarga tidak berani sembarangan membawa menggunakan mobil atau transportasi lainnya.

“Sudah empat bulan ini keadaannya memburuk. Keadaannya semakin parah. Asih tidak bisa beraktivitas normal seperti sedia kala. Untuk berdiri pun harus dipapah terlebih dahulu. Harapan kami semoga Asih bisa sembuh setelah pengobatan ini,” harapnya.

Editor : Ali Muntoha

Makan di PKL Simpanglima dan Taman KB Semarang Tinggal Gesek ATM

Pujasera di kawasan Simpanglima Semarang yang akan melayani pembayaran makanan dengan menggunakan kartu ATM. (Foto : hellosemarang.com)

MuriaNewsCom, Semarang – Wisatawan ataupun warga yang tengah berada di Kota Semarang dan hendak menikmati kuliner di PKL kawasan Simpanglima, Matahri dan Taman KB Semarang, tak perlu bingung ketika tak membawa uang.

Karena di semua stan PKL di lokasi tersebut, termasuk yang ada di pujasera melayani pembayaran dengan sistem gesek kartu ATM. Karena Dinas Perdagangan Kota Semarang tengah menjalin kerja sama dengan BIN 46, untuk menyiapkan alat Electronic Data Capture (EDC) di kantor PKL.

Alat elektronik ini untuk pembayaran  dari konsumen setelah menikmati kuliner di seputar PKL Simpanglima.

“Semua PKL yang berada di seputar Simpanglima nantinya akan dilengkapi dengan alat ini. Sehingga masyarakat yang memiliki kartu ATM BNI 46 bisa membayar dengan menggesekkan kartunya,” katanya.

Menurut Fajar, BNI 46 nanti juga mengeluarkan kartu Semarang Hebat untuk proses pembayaran menu kuliner di pusat Kota Semarang tersebut. Sebab, PKL Simpanglima kini telah menjadi jujugan masyarakat yang ingin menikmati berbagai macam menu kuliner yang tersaji di kawasan Simpanglima.

Dikatakan, pecinta kuliner PKL Simpanglima dari berbagai penjuru dan dijangkau oleh masyarakat menengah. Sehingga penggunaan pembayaran melalui kartu ATM sangat efisien, dan hasil pembayaran langsung masuk ke rekening pedagang.

Program ini, kata Fajar Purwoto, baru kali pertama dilakukan, dan Kota Semarang bakal menjadi percontohan. Sedangkan pelaksanaannya, nanti dimulai Selasa (10/10/2017) pekan depan.

Menurutnya, hari ini Dinas Perdagangan Kota Semarang sudah mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Jumlah PKL Simpanglima ada 90 PKL dan di Matahari ada 80 PKL, sosialisasi ini juga akan dikembangkan kepada para PKL di Taman Menteri Supeno sebanyak 48 PKL.

Tetapi, bagi masyarakat lainnya, bila masih membayar secara manual atau bayar tunai setelah makan kuliner di PKL Simpanglima tetap masih dilayani.

“Melalui pembayaran dengan alat elektronik edisi dari Bank 46, pedagang yang telah membuka rekening bank merasa senang karena bisa menyimpan uangnya di bank,” tambahnya.

Editor : Ali Muntoha

Niatnya Curi Genset untuk Nikah, Tapi Begini Sekarang Nasibnya

Aparat kepolisian meminta keterangan dua pelaku pencurian genset di Pasar Peterongan, Kota Semarang. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Ada-ada saja yang dilakukan seseorang jika sudah kekepet masalah uang. Seperti yang dilakukan Dedy Saputro (32), warga Tandang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang ini.

Mengaku lantaran butuh uang untuk menikah, Dedy yang biasa bekerja sebagai pak ogah (tukang menyeberangkan jalan) ini justru nekat melakukan aksi kejahatan. Ia bersama temannya Ahmad Wijayanto (31), warga Bukitrejo, Tembalang, Kota Semarang, mencuri genset di sebuah kios.

Akibatnya, Dedy dan Ahmad Wijayanto harus mendekam di jeruji besi, setelah dibekuk tim dari Polsek Semarang Selatan. Padahal rencanaya, Kamis (14/9/2017) hari ini Dedy akan melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaan hatinya.

Dedy masih beruntung ditangkap tanpa ada luka. Berbeda dengan Ahmad Wijayanto yang kakinya bolong setelah ditembak polisi lantaran mencoba melarikan diri.

Meski ditahan Dedy tetap ingin melanjutkan rencana akad nikahnya. Ia berharap bisa melangsungkan pernikahan di kantor polisi.

”Rencana nikah Kamis (14/9). Kalau saya ingin menikah, tapi tidak tahu besok diizinkan menikah atau tidak,” katanya.

Dua tersangka ini mencuri genset pada dini hari 31 Agustus 2017 lalu di Pasar Peterongan. Genset itu mereka curi dari kios milik pedagang Pasar Peterongan bernama Sri Wahyuni, warga Wonodri Kopen, Semarang.

Sebelumnya menjalankan aksinya, mereka berpesta minuman keras di rumah temannya di Jalan Durian. Keduanya kemudian jalan-jalan di kawasan Pasar Peterongan.

“Saya melihat warung-warung tutup kemudian mengambil genset di sebuah warung sekitar pukul 04.30,” aku Ahmad.

Namun polisi yang mendapat laporan pencurian itu, langsung melakukan penelusuran dan menangkap dua tersangka di rumahnya masing-masing. Polisi berhasil mengendus keberadaan tersangka setelah polisi menemukan penadah barang curian, bernama Pramono.

Setelah ditelusuri diketahui jika penjual genset curian tersebut adalah Dedy dan Ahmad Wijayanto. Polisi bergerak cepat dan menangkap para tersangka.

Kapolsek Semarang Selatan Kompol Dedy Mulyadi menyebut, dalam pemeriksaan dan pengembangan juga diketahui para tersangka sebelumnya pernah melakukan aksi pencurian di beberapa wilayah. Di antaranya perampasan di depan Pasar Peterongan, Pasar Bulu, Jalan Tentara Pelajar, warung makan dekat RSUP dr Kariadi dan Roemani.

Sementara terkait rencana pernikahan Dedy, ia memastikan akan mengizinkan pernikahan digelar di kantor polisi. Hanya saja pihak keluarga harus mengirimkan surat permintaan untuk menikah di kantor Polsek Semarang Selatan.

Editor : Ali Muntoha

Dana Rp 60 Miliar Digelontorkan untuk Percantik Kota Lama Semarang

Pekerja tengah melakukan perawatan bangunan tua di Kota Lama, Semarang, beberapa waktu lalu. Kemen PUPR akan mengucurkan dana Rp 60 miliar pada tahun 2018 untuk mempercantik kawasan ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Kawasan Kota Lama Semarang, bakal lebih cantik dan indah. Bagaimana tidak, pemerintah pusat bakal kembali menggelontorkan dana cukup besar. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) direncanakan bakal mengucurkan dana mencapai Rp 60 miliar untuk proyek ini.

Dana ini direncanakan bakal dikucurkan pada tahun 2018 mendatang. Kepastian ini disampaikan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada wartawan Senin (11/9/2017).

 Menurutnya, pada tahun ini Kemen PUPR telah mengucurkan dana, dan tahun depan akan mendapat dana tambahan.

”Tahun 2017 ini dikucurkan dana Rp 10 miliar, dan dilanjutkan tahun 2018. Yang pasti dari Kementerian PUPR akan diluncurkan paket sebesar RP 60 miliar di tahun 2018,” kata Ita sapaan akrab Hevearita.

Namun menurut dia, dana sebesar Rp 60 miliar itu tak hanya fokus untuk membangun kawasan Kota Lama saja, tapi juga untuk mempercantik wilayah-wilayah di sekitarnya. Di antaranya untuk Kali Semarang, Polder, Bubakan dan Cendrawasih maupun area Pecinan.

“Bukan hanya Kota lama saja yang dipercantik, wilayah sekitarnya juga akan dibuat semakin cantik dan indah,” ujarnya.

Ia berharap dengan perbaikan ini, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk terus berkunjung ke Kota Semarang.

”Harapannya, wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Semarang bisa semakin dimanjakan dengan keindahan panorama dan fasilitas yang baik,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan Dijadikan Parkir Truk, Terminal Terboyo Tinggal Kenangan

Bus tengah menunggu penumpang di Terminal Terboyo, Semarang. Tahun 2018 mendatang, terminal ini tak difungsikan lagi untuk angkut dan menurunkan penumpang. (MuriaNewsCom/Akrom Hazami)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah memutuskan untuk mengalihfungsikan Terminal Terboyo, Kota Semarang. Terminal yang puluhan tahun menjadi salah satu trademark Kota Semarang, sebagai terminal angkutan penumpang, bakal dijadikan tempat parkir angkutan barang.

Rencana ini akan direalisasikan pada tahun 2018 mendatang, dan fungsi Terminal Terboyo sebagai terminal angkutan umum akan dihentikan pada akhir 2017.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Fasilitas Parkir Angkutan Barang Terboyo, Slamet Widodo mengatakan, seluruh bus AKP nantinya akan dialihkan ke Terminal Mangkang. Sementara bus AKDP ke Terminal Penggaron kecuali bis AKDP yang dari arah barat.

Ia menyebut, di Kota Semarang ada dua terminal beripe A, yakni Mangkang dan Terboyo. Pengelolaan terminal itu diambil alih Kementerian Perhubungan.

“Karena Mangkang akan jadi terminal terpadu, maka Terminal Terboyo dialihfungsikan menjadi fasilitas parkir angkutan barang,” katanya, dikutip dari Tribun Jateng, Kamis (7/9/2017).

Terminal Terboyo sudah 32 tahun digunakan untuk pusat pemberhentian dan menurunkan penumpang. Terminal ini juga menjadi salah satu ikon Kota Semarang.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, terminal ini sering dilanda rob, sehingga mengganggu akses bus maupun penumpang. “Nantinya di Terminal Terboyo akan ditinggikan sebelum digunakan untuk parkir angkutan barang,” ujarnya.

Pihaknya juga memastikan, sosialisasi tentang pengalihan terminal terus dilakukan. Termasuk kepada operator bus, agen, maupun pedagang di Terminal Terboyo.

Pedagang nantinya dimungkinkan untuk berjualan di Terminal Mangkang. Sementara yang bertahan di Terboyo, akan memberi fasilitas bagi awak angkutan barang yang tengah parkir.

Editor : Ali Muntoha

Tahun Depan Ibu Kota Jateng Bakal Bebas dari Banjir Rob, Benarkah?

Aparat kepolisian melintas di Jalan Kaligawe Semarang, yang sering diterjang rob. Pemkot Semarang yakin tahun 2018 sudah tidak ada rob di kota ini. (Foto : Tribratanews)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang Hendrar Prihadi memastikan tahun 2018 mendatang, Semarang akan bebas dari banjir rob. Langkah-langkah penanganan banjir dan rob di ibu kota Jateng saat ini dinilai sudah menunjukkan perkembangan positif.

Bahkan ia mengklaim, dengan melihat progres pembangunan saat ini sudah bisa untuk menanggulangi rob, terutama di wilayah timur Semarang. Namun untuk lebih maksimal harus menunggu rampungnya seluruh proyek pembangunan.

Proyek itu di antaranya pembangunan kolam retensi Kaligawe dan pemasangan sheet pile di sungai Tenggang.

“Kalau yang rob sudah bisa kita atasi, sedangkan untuk hujan kita masih menunggu seluruh project selesai,” katanya.

Walikota yang akrab dipanggil Hendi itu menyebut, pemasangan sheet pile di sungai Tenggang merupakan bagian dari upaya normalisasi sungai tersebut.

Nantinya untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Kota Semarang, aliran air dari sungai Tenggang sebagian akan dialirkan ke kolam retensi dan sebagian lagi akan dialirkan ke Banjir Kanal Timur.

Untuk skema pengaliran tersebut sendiri direncanakan akan mulai berjalan pada akhir tahun 2017 dengan dibantu dengan pompa portable. Penggunaan pompa portable tersebut dilakukan sembari menunggu pengadaan pompa utama yang akan dilakukan sekitar bulan Februari 2018.

Selain itu, kolam retensi Kaligawe selain dibangun untuk menanggulangi rob dan banjir di wilayah timur Semarang, juga akan digunakan sebagai ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat.

“Nanti di kolam retensi ini juga akan dibangun taman dan jogging track untuk aktifitas warga”, tambah Walikota Hendi.

Editor : Ali Muntoha

Semarang Juga Bakal Bangun Metro Kapsul

LRT Metro yang dibangun di Kota Bandung. Pemkot Semarang juga tengah mengkaji Metro Kapsul untuk diterapkan di ibu kota Jateng ini. (Foto: Twitter/@ridwankamil)

MuriaNewsCom, Semarang – Setelah Bandung mulai membangun moda transportasi LRT Metro Kapsul, hal serupa juga bakal dilakukan di Kota Semarang. Moda transportasi ramah lingkungan ini dianggap paling efektif untuk mengurai kemacetan di kota besar.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, kini mulai menggodok kajian pengembangan Metro Kapsul yang bekerja menggunakan tenaga listrik tersebut.

“Kami tengah mengkaji moda transportasi massal Metro Kapsul. Selain tidak membutuhkan lahan yang banyak, moda transportasi ini juga ramah lingkungan,” kata Sekretaris Bappeda Kota Semarang, M Farhan, dikutip dari Suaramerdeka.com, Jumat (1/9/2017).

Menurutnya, kajian tentang Metro Kapsul ini memang didasari tentang kemacetan di Kota Semarang, yang diprediksi akan semakin parah dalam beberapa tahun ke depan. Ini disebabkan jumlah kendaraan yang terus bertambah dengan tak diimbanginginya kapasitas jalan.

Tiap tahun penambahan kendaraan mencapai 15 persen, sementara penambahan kapasitas jalan hanya sekitar satu persen tiap tahunnya.

Kemacetan yang terjadi, imbuhnya, dapat menyebabkan kerugian finansial bagi masyarakat Kota Semarang. Lebih dari itu, polusi udara juga kian mengancam. Karenanya, mulai dipikirkan tentang moda transportasi massal yang ideal dan ramah lingkungan.

Farhan menjelaskan, Konsep Metro Kapsul hampir sama dengan Light Rapid Transit (LRT), yakni sama-sama di ketinggian. Namun, imbuhnya, bila LRT berbasis rel, Metro Kapsul menggunakan ban. Karena lebih ringan, masa konstruksi pembangunannya akan lebih cepat dibandingkan LRT.

“Harapannya, warga semakin cepat menuju lokasi dan dapat mengurangi polusi udara,” ujarnya.

Metro Kapsul ini mempunyai kapasitas penumpang mencapai 50 orang, dengan daya angkut per jam bisa mencapai 24 ribu orang.

Teknologi yang dikembangkan Pusat Pengembangan Teknologi Transportasi Berkelanjutan (PPTTB) Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, telah dicoba di Subang, Jawa Barat. Metro kapsul dibangun dengan 95 persen komponen lokal.

Editor : Ali Muntoha

Underpass Mulai Dibuka, Jatingaleh Semarang Tak Lagi Macet

Underpass Jatingaleh yang sudah mulai dioperasikan mampu mengurai kemacetan. (Foto : Dokumen)

MuriaNewsCom, Semarang – Sejak 25 Agustus 2017 lalu, Underpass Jatingaleh, Kota Semarang, mulai difungsikan. Kemacetan yang terjadi di jalur tersebut saat ini sudah mulai berkurang,

Pemerintah Kota Semarang dalam pekan ini akan melengkapi jalur underpass dengan rambu-rambu lalu-lintas. “Sejauh ini, jalur Jatingaleh memang sudah mulai lancar. Tetapi, masih butuh penyempurnaan agar sesuai dengan ekspektasi masyarakat,” kata Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Ia menyatakan, Dishub telah diperintahkan untuk memasang rambu-rambu agar masyarakat yang melintas tak bingung.

Proyek “Underpass” Jatingaleh dilakukan sebagai upaya untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di simpul kepadatan arus lalu lintas yang merupakan program dari pemerintah pusat.

Setelah sekian lama proses pengerjaan dan sempat pula molor, akhirnya 25 Agustus lalu “Underpass” Jatingaleh resmi difungsikan dan bisa dilalui oleh pengguna jalan dari dua arah.

Bagi pengendara kendaraan bermotor yang akan memutar atau menyeberang bisa melewati jalur bawah “underpass” yang terdapat di dua titik, yakni tanjakan Gombel dan persimpangan Kesatrian.

Sedangkan bagi pejalan kaki juga telah disediakan tempat penyeberangan khusus yang berada di bawah kedua underpass tersebut sehingga diharapkan rekayasa lalu lintas itu bisa mengantisipasi kemacetan.

“Ya, harapan kami jalur Jatingaleh itu bisa disempurnakan dengan rambu biar tidak membuat bingung. Kalau masyarakat pengguna jalannya bingung kan berpotensi menghambat arus lalu lintas,” kata politikus PDI Perjuangan itu.

Kepala Dishub Kota Semarang Muhammad Khadik memastikan dalam pekan ini rambu-rambu lalu lintas sudah terpasang untuk menyempurnakan fungsi “Underpass” Jatingaleh, Semarang.

Setidaknya ada 45 titik pemasangan rambu lalu lintas di jalur Jatingaleh, termasuk rambu larangan berbelok dan berputar arah karena sudah disediakan jalur khusus.

“Kalau rambu-rambu lalu lintas sudah terpasang tentunya akan semakin optimal peran `underpass` ini,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha