Pengusulan Lasem Jadi Pusaka Dunia Mendapat Respon Positif Dari Warga

Seorang anak melintas di jalan Karangturi gang IV yang dikenal sebagai 'Cina Kecil' di Lasem, Rabu (30/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Seorang anak melintas di jalan Karangturi gang IV yang dikenal sebagai ‘Cina Kecil’ di Lasem, Rabu (30/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Warga Karangturi Kecamatan Lasem mengapresiasi dan merespon positif terkait rencana Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) setempat yang mengusulkan Lasem sebagai kota pusaka dunia.

Ahmad Arif (29) warga gang IV No. 4 Karangturi Lasem mengatakan menyambut positif terkait langkah pemerintah tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut memang diperlukan mengingat masih banyaknya bangunan kuno dan sejarah Lasem yang panjang.

”Ya baguslah kalau seperti itu. Sehingga nantinya kesadaran warga untuk melestarikan bangunan-bangunan kuno meningkat. Karena di sini memang banyak bangunan kuno yang perlu campur tangan pemerintah daerah,” katanya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (30/12/2015).

Arif juga mengaku rumahnya yang terdiri dari kombinasi kayu Jati dan dinding bata kuno sudah berumur lebih dari 100 tahun. Namun, masih banyak bangunan lain yang lebih tua dan memiliki nilai sejarah tinggi. ”Rumah saya ini saja, sudah berumur seratus tahun lebih. Kayu Jatinya masih asli sejak pembuatan pertama,” ungkapnya.

Banyak pihak yang menyebutkan berbagai situs berupa bangunan peninggalan kuno di Lasem, masih terpelihara dengan baik. Karena itu, Lasem sangat layak diusulkan menjadi salah satu warisan dunia atau World Heritage. Salah satunya yakni, peneliti sejarah sekaligus Guru Besar dari Undip Prof. Dr Singgih Tri Sulistiono.

Menurutnya jika disandingkan dengan Kota Malaka, Lasem memiliki lebih banyak keunggulan dari sisi sejarahnya. Sebab diketahui, Malaka dahulu hanyalah perkampungan kecil para nelayan. Sedangkan Lasem mengalami berbagai bentuk peradaban sejak zaman purbakala, masa Hindu-Budha, Jawa, Islam, hingga masuknya budaya Tiongkok. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Impian Lasem Sebagai Kota Pusaka Dunia Semakin Dekat

Salah satu wilayah 'Tiongkok Kecil' di Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Salah satu wilayah ‘Tiongkok Kecil’ di Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Sedikit demi sedikit, impian Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem untuk menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia semakin dekat.

Ernantoro, salah satu pegiat Fokmas Lasem menuturkan, keinginan untuk menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia pertama di Indonesia mulai menemukan titik terang. “Mimpi lasem sebagai Kota Pusaka dunia semakin dekat,” katanya ketika berbincang dengan MuriaNewsCom, Rabu (30/12/2015).

Menurutnya, usaha dan kerja keras Fokmas yang rela mencurahkan ide, pikiran, tenaga hingga dana untuk mewujudkan hal itu tidaklah sia-sia. Dari sisi sejarah, peninggalan sejarah dari masa ke masa di Lasem sudah lengkap. “Akhirnya menjadi impian bersama, bahwa Lasem ini harus dilestarikan dan dipromosikan karena sangat potensial,” ungkapnya.

Ernantoro menjelaskan, kerja keras Fokmas dimulai dengan mengumpulkan data sejarah dan budaya Lasem, membangkitkan kembali kesenian rakyat, mengangkat batik Lasem dan menggandeng para tokoh masyarakat setempat. Semua itu dilakukan demi melestarikan dan mempromosikan potensi Lasem yang masih jarang diketahui.

“Rencananya, Lasem akan dijadikan kunjungan wisata Kota Tua dan perlu dilindungi berbagai bangunan tua yang ada disana. Tidak perlu gedung-gedung baru, hanya saja penataan PKL cukup dirapikan,” imbuhnya.

Terkait dengan penataan di wilayah Karangturi, katanya perlu adanya penataan dan pembuatan gapura yang melambangkan identitas masyarakat Lasem. “Keinginan Fokmas salah satunya wilayah di Karangturi yang milik kabupaten harus ditata, dibersihkan dan dibuatkan gapura berarsitek kombinasi Cina dan pesantren dengan warna merah dan hijau,” jelasnya.

Saat ini, pemerintah setempat sedang serius mengusulkan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia ke Unesco. Banyak pihak menilai, jika dibandingkan dengan Kota Malaka yang merupakan Kota Pusaka Dunia yang diakui Unesco, Lasem memiliki lebih banyak keunggulan dari sisi sejarahnya dan bangunan kunonya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Hore! Lasem Diusulkan Jadi Kota Pusaka Dunia

Seminar penyusunan buku tentang warisan sejarah dan budaya kabupaten rembang tahun 2015 untuk mendukung Lasem sebagai kota pusaka di Pendapa Museum RA Kartini, Senin (21/12/2015).

Seminar penyusunan buku tentang warisan sejarah dan budaya kabupaten rembang tahun 2015 untuk mendukung Lasem sebagai kota pusaka di Pendapa Museum RA Kartini, Senin (21/12/2015).

 

REMBANG – Dalam rangka pengembangan pelestarian situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Rembang, pemerintah daerah setempat bersama peneliti sejarah dari Universitas Diponogero (Undip) Semarang berencana menerbitkan buku tentang sejarah dan Budaya Lasem.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Rembang, Karsono menjelaskan, buku tersebut nantinya berisi tentang berbagai warisan budaya dan benda-benda bersejarah yang ada di Kabupaten Rembang, khususnya yang ada di Kecamatan Lasem.

”Selain itu untuk mendukung Lasem menjadi kota pusaka, dan mengembangkan pelestarian sejarah kebudayaan,” katanya pada seminar yang bertempat di Pendapa Museum RA Kartini, Senin (21/12/2015).

Pada seminar tersebut, peneliti sejarah sekaligus Guru Besar dari Undip Prof. Dr Singgih Tri Sulistiono, mepaparkan, Kota Lasem mengalami berbagai bentuk peradaban sejak zaman purbakala, masa Hindu-Budha, Jawa, Islam, hingga masuknya budaya Tiongkok. Berbagai situs berupa bangunan peninggalan kuno di Lasem, masih terpelihara dengan baik. Karena itu, Lasem sangat layak diusulkan menjadi salah satu warisan dunia atau World Heritage.

Singgih menyebutkan, jika disandingkan dengan Kota Malaka, Lasem memiliki lebih banyak keunggulan dari sisi sejarahnya. Sebab diketahui, Malaka yang dahulu hanyalah perkampungan kecil para nelayan, setelah ditetapkan Unesco kini dipadati wisatawan asing maupun domestik.

”Sekarang perkembangannya di sana luar biasa, padahal jika dibandingkan dengan Malaka, Lasem merupakan kota yang cukup lengkap, mewakili setiap tahap perkembangan zaman yang mencerminkan terjadinya kontak lintas budaya,” tandasnya.

Namun Singgih juga menyayangkan pelaksanaan proyek buku tersebut. Menurutnya, buku sejarah Lasem terkesan kejar tayang dan kurang perencanaan. Apalagi buku tersebut memuat sejarah Lasem yang mengandung perjalanan panjang peradaban. (AHMAD WAKID/TITIS W)