Seluruh Bocah di Desa Balita Korban Difteri Asal Kendal Diimunisasi Ulang

Ilustrasi (Pixabay)

MuriaNewsCom, Semarang – Pascameninggalnya balita penderita difteri asal Kabupaten Kendal, Rabu (13/12/2017) kemarin, pihak keluarga dan orang-orang dekat korban langsung diperiksa.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal memeriksa kondisi kesehatan warga di sekitar korban, termasuk teman sekolah korban yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Antara Jateng melansir, pemeriksaan dilakukan untuk menghindari mewabahnya penyakit tersebut.

“Kami lakukan penyelidikan epidemologis (PE) menindaklanjuti adanya pasien difteri di Kendal,” kata Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kendal Muntoha, Kamis (14/12/2017).

Hal tersebut diungkapkannya di sela rapat koordinasi dengan dinas-dinas kesehatan kabupaten/kota dan stakeholder terkait mengenai difteri yang berlangsung di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Ia menyebut, langkah PE dilakukan, lantaran korban mempunyai latarbelakang mobilitas yang tinggi. sehingga seluruh orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien diperiksa kesehatanya.

“Kebetulan, mendiang anak ini mobilitasnya tinggi. Jadi, kami lakukan pemeriksaan juga di PAUD tempatnya sekolah untuk mengantisipasi risiko terpapar,” katanya.

Namun, kata dia, hanya yang melakukan kontak dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum pasien meninggal. Jika kontak sudah dilakukan lewat dari dua pekan tergolong aman dari paparan bakteri difteri.

Selain itu, Muntoha mengatakan, imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) juga dilakukan kepada seluruh anak yang ada di desa tersebut untuk melindungi dari potensi terpapar difteri.

Baca : Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Diakuinya, selama ini memang belum semua anak di Kendal mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Sebab ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak imunisasi.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng Dokter Yulianto Prabowo mengatakan, dengan imunisasi dasar secara lengkap setidaknya bisa melindungi anak dari paparan penyakit, seperti difteri.

“Kalau toh terkena pun bersifat ringan dan bisa diatasi. Dari tiga kasus difteri yang kami temukan di Jateng, semuanya status imunisasi dasarnya tidak lengkap,” ujarnya.

Mengenai ORI, ia mengatakan sejauh ini hanya dilakukan di satu desa yang ada di Kendal. Itu karena menindaklanjuti temuan kasus difteri di kabupaten tersebut yang pasiennya akhirnya meninggal dunia.

“Jadi, tidak dilakukan pada all population, melainkan dalam populasi terbatas yang mempunyai risiko tinggi. Meski dibanding daerah lain kasus difteri di Jateng lebih sedikit, kami tetap waspada,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Sambungsari, Kendal, Jateng, meninggal dunia karena kondisinya yang sudah parah ketika dirujuk ke rumah sakit.

Berbagai langkah penanganan sudah dilakukan, termasuk memberikan antidifteri serum (ADS) dan merencanakan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan.

Editor : Ali Muntoha

Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Semarang – Satu dari tiga pasien difteri yang ditangani di RSUP dr Kariadi Semarang, meninggal dunia. Pasien yang meninggal merupakan balita laki-laki berusia 4 tahun, dari Kabupaten Kendal.

Balita itu dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang, pada Selasa (12/12/2017) malam dalam kondisi parah. Tim dokter langsung melakukan penanganan di ruang isolasi IGD. Namun bocah tersebut tak bisa diselamatkan.

”Pasien meninggal pagi tadi pukul 02.00 WIB,” kata dokter sepesialis anak RSUP dr Kariadi Semarang, dr Hapsari SpA (K), kepada wartawan.

Ia mengatakan, pasien tersebut merupakan rujukan dari RSI Kendal. Saat dirujuk ke RS Kariadi, kondisi bocah tersebut sudah sangat parah.

”Saat datang keadaan sudah komplikasi, mengalami sesak nafas berat. Pembesaran kelenjar, ditengarai komplikasi jantung,” ujarnya.

Ia menyebut, tim medis sudah melakukan penanganan serius. Termasuk memberikan serum anti difteri. Selain itu, tim medis juga sudah merencanakan untuk melakukan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan. Namun anak tersebut meninggal dunia dini hari tadi.

Menurutnya, korban sudah terserang diferi sejak 5-6 hari. Namun kemungkinan karena ketidaktahuan tentang gejalan difteri oleh pihak keluarga, sehingga penanganan terlambat.

“Sudah 5 atau 6 hari (menderita Difteri). Demam tidak tinggi, nyeri saat menelan, ngorok, kemudian dibawa ke RSI Kendal. Kemungkinan ketidaktahuan. Ini meninggalnya karena sumbatan pernafasan,” terang Hapsari. 

Selain pasien dari Kendal yang meninggal dunia, ada dua pasien difteri lagi yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi. Dua pasien ini saat ini kondisinya sudah mengalami perkembangan.

Hapsari menyebut, dua pasien itu dirujuk ke RSUP dr Kariadi pada Senin (11/12/2017) lalu. Satu pasien perempuan usia 6 tahun, berasal dari Kabupaten Batang yang dirujuk RSI Kendal. Dan satu pasien laki-laki usia 15 tahun dari Demak.

Dua pasien itu menurut dia, menderita difteri ringan dan bisa ditolong. Saat ini keduanya berada di ruang isolasi bangsal anak.

“Keduanya sudah Difteri. Kriteria Difteri yang perempuan tadi di tonsil, amandel. Yang laki-laki di faring, tenggorokan. Difteri ringan,” ujarnya. 

Ia menyebut, kedua pasien dalam kondisi baik, dan tinggal memberikan antibiotik selama 10 hari. Sebelum keluar dari ruang isolasi, tim medis akan melakukan pencarian kuman difteri selama dua kali.

Dalam dua kasus tersebut, pasien anak perempuan sudah menjalankan vaksinasi lengkap, sehingga difteri yang diderita ringan dan bisa segera diobati. Namun untuk pasien laki-laki ada vaknisasi yang terlewat.

Editor : Ali Muntoha