Dewan Koperasi Soroti Kasus Koperasi Bermasalah di Pati

Polisi menggeledah Kantor Koperasi Arta Jaya Mandiri di Juwana, Rabu (12/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah kasus koperasi bermasalah yang terjadi di Kabupaten Pati mendapatkan sorotan dari Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Jawa Tengah. Masyarakat diminta untuk cerdas bila ingin menginvestasikan uangnya di koperasi.

Ketua Dekopin Jawa Tengah Warsono mengatakan, tidak ada istilah nasabah dalam koperasi. Sebab, koperasi hanya mengenal istilah anggota.

“Kalau pengen jadi nasabah ya jangan di koperasi, tapi di bank. Koperasi itu pemiliknya anggota, yang diminta ngurus itu pengurus dan yang diminta ngawasi itu pengawas. Jadi, masyarakat harus hati-hati,” ucap Warsono saat dihubungi MuriaNewsCom, Jumat (14/7/2017).

Dalam koperasi, tidak ada yang bisa menjamin keamanan uang yang diinvestasikan. Pasalnya, pemilik koperasi adalah anggota, sehingga anggota yang menjamin keamanan uangnya sendiri.

Berbeda dengan perbankan yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dia juga menegaskan bila koperasi tidak mengenal dengan istilah deposito, karena modalnya berasal dari simpanan pokok, wajib, dan sukarela.

“Persoalannya, masyarakat tidak banyak yang tahu koperasi itu mahkluk apa. Asal hutang gampang, naruh uang dengan bunga tinggi. Itu yang harus diluruskan. Masyarakat jangan sampai mudah dibohongi,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pati menggeledah Kantor Koperasi Serba Usaha (KSU) Arta Jaya Mandiri (AJM) di Jalan KH Mansyur, Juwana, Pati, Rabu (12/7/2017).

Penggeledahan dilakukan, menyusul banyaknya aduan dari masyarakat yang menyimpan uangnya di sana tetapi tidak bisa kembali. Beberapa nasabah ada yang menyetor uang untuk deposito dari Rp 160 juta hingga Rp 500 juta.

Adapun kerugian total anggota koperasi yang memiliki uang di Koperasi AJM mencapai Rp 100 miliar. Saat ini, polisi tengah melakukan penyidikan terkait dengan kasus tersebut.

Editor : Kholistiono

Ratusan Koperasi Bermasalah di Pati Terancam Dibubarkan

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pati Singgih Purnomojati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 547 koperasi di Kabupaten Pati dinyatakan bermasalah. Hal itu diungkap Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Pati Singgih Purnomojati.

Ada sejumlah indikasi yang membuat ratusan koperasi di Pati dinyatakan bermasalah. Salah satunya, banyaknya anggota koperasi yang merasa resah, lantaran koperasinya sudah tidak sehat lagi.

“Sesuai dengan agenda reformasi koperasi yang dicanangkan Menteri Koperasi dan UMKM, koperasi bermasalah yang tidak mau dibina akan dibubarkan,” kata Singgih.

Saat ini, ada 1.117 koperasi aktif di Pati. Namun, setelah dilakukan inventarisasi, pemantauan dan pembinaan, pihaknya hanya menemukan 570 koperasi yang sehat. Salah satu indikasi koperasi yang sehat, antara lain aktif melakukan laporan rapat anggota tahunan (RAT).

Sementara itu, 547 koperasi lainnya dinyatakan tidak aktif, bermasalah dan melakukan banyak pelanggaran. Padahal, Singgih selama ini sudah melakukan pembinaan kepada koperasi bermasalah.

Namun, upaya pembinaan tersebut ternyata diabaikan. Banyak koperasi di Pati yang tidak melaporkan pertanggungjawabannya. Karena itu, pihaknya akan segera melakukan pembubaran kepada ratusan koperasi yang dinyatakan bermasalah.

Editor : Kholistiono

Koperasi di Pati Butuh Auditor Independen untuk Antisipasi Kecurangan Pengurus

Jean Christopel Prihyanto, penulis buku Mantra MEA dari Desa saat ditanya soal pentingnya koperasi di era MEA. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jean Christopel Prihyanto, penulis buku Mantra MEA dari Desa saat ditanya soal pentingnya koperasi di era MEA. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pati Slamet Singgih menyarankan supaya koperasi di Pati bisa menggunakan jasa auditor independen untuk mengantisipasi adanya kecurangan yang dilakukan pengurus. Sebab, dalam pelaksanaannya, tak sedikit pengurus yang mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang anggota.

Padahal, koperasi yang dianggap sebagai soko guru perekonomian negeri mestinya mengutamakan kepentingan anggota. Karena itu, auditor independen dinilai punya peran penting untuk menciptakan koperasi yang sehat.

”Banyak koperasi yang tumbang, karena tidak sehat. Itu berawal dari sikap pengurus yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang anggota. Itu yang salah kaprah. Butuh auditor independen untuk membuat koperasi supaya bisa sehat,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Di Pati, sedikitnya 40 persen koperasi tidak aktif lagi karena banyak hal. Namun, hal itu dibarengi dengan pengajuan pendirian koperasi baru yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

”Ada sekitar satu hingga dua koperasi baru yang didaftarkan. Jumlahnya cukup meningkat signifikan, meski kenyataannya 40 persen tidak aktif. Koperasi yang bertumbangan itu disebabkan kesalahan pengelolaan yang tidak berpijak pada nilai-nilai koperasi yang benar,” imbuhnya.

Karena itu, ia menyarankan supaya anggota koperasi mesti berani melakukan kritik terhadap pengurus yang terindikasi tidak bisa mengelola dengan baik. Hal itu diamini Jean Christopel Prihyanto, penulis buku Mantra MEA dari Desa dengan mengambil riset di wilayah Pati.

”Pengawas koperasi harus aktif memantau perkembangan, termasuk anggota dan auditor independen. Itu untuk menyelamatkan koperasi sebagai soko guru ekonomi rakyat dalam rangka bersaing di era MEA seperti sekarang ini,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Koperasi di Pati Rapatkan Barisan untuk Menangkap Peluang MEA

Koperasi Srikandi Jaya Tambakromo memamerkan beragam produk lokal dalam acara RAT yang digelar beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Koperasi Srikandi Jaya Tambakromo memamerkan beragam produk lokal dalam acara RAT yang digelar beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diterima atau tidak, menjadi kesepakatan bersama sebagai kawasan perdagangan bebas di tingkat negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Kondisi itu bisa ditangkap sebagai peluang, sekaligus ancaman.

Karena itu, warga yang bergerak pada basis ekonomi kerakyatan digadang-gadang bisa menangkap peluang MEA. Di Pati, koperasi sudah merapatkan barisan untuk menangkap peluang itu.

”Kita akan perkuat posisi koperasi di Pati untuk mengelola produk usaha mikro kecil dan menengah. Selain menguatkan produknya, kami juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Slamet Singgih, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Pati kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/3/2016).

Ia juga meminta kepada koperasi di Pati untuk saling berkolaborasi dan bersinergi untuk memajukan anggota dalam rangka menguatkan produk lokal. Hal itu diharapkan bisa memperkuat posisi ekonomi kerakyatan di daerah supaya bisa melenggang di panggung MEA.

Salah satu koperasi yang saat ini gencar-gencarnya mengembangkan produk lokal, antara lain Koperasi Srikandi Jaya, Tambakromo, Pati. Ada banyak produk yang mereka pasarkan, mulai dari jeruk pamelo yang menjadi produk unggulan Pati, madu, telur, ketela, getuk goreng, dan beragam produk yang diproduksi warga lokal.

”Visi kami, koperasi bisa menjadi andalan bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Kita yang nantinya akan mengarahkan sisi pemasaran, termasuk kualitas produk seperti terobosan dan inovasi. Dengan kualitas yang bagus ditunjang dengan inovasi yang baik, produk lokal akan bisa bersaing pada MEA,” tukasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni