Kirab Budaya Buka Luwur HUT Jepara ke-468 Digelar

Luwur atau penutup makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat, diarak dari Pendapa Pemkab Jepara menuju Kompleks Makam Mantingan, Minggu (9/4/2017). Acara tersebut bertujuan untuk mengganti penutup makam yang rutin dilakukan sebelum puncak perayaan HUT Jepara ke 468, Senin (10/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kirab Budaya Buka Luwur dalam rangka HUT Jepara ke-468 dimulai, Minggu (9/6/2017) siang. Acara tersebut menempuh rute dari pendapa Kabupaten Jepara hingga kompleks Makam Mantingan yang berjarak lebih kurang 3,6 kilometer. 

Sebelum dimulai, Bupati Jepara beserta seluruh unsur Forkopinda dan warga dijamu tarian kolosal bertajuk “Laskar Jepara” di halaman Pendapa Jepara. Tarian tersebut mengisahkan perjuangan Ratu Kalinyamat, ikut membantu mengusir penjajah Portugis. 

“Tarian kolosal tersebut mengisahkan perjuangan Ratu Kalinyamat dalam usahanya ikut menumpas penjajah Portugis. Nah intinya, disitu kan beliau meninggal, disitulah tradisi buka luwur (penggantian tutup makam) dilestarikan hingga kini. Kirab tersebut sebagai penanda dalam mengawali prosesi buka luwur” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Deni Hendarko. 

Ia menjelaskan kirab itu diikuti perwakilan dari 16 Kecamatan yang ada di Jepara. Ia menambahkan, jumlah pasukan yang mengikuti kirab disesuaikan dengan umur kabupaten tersebut. 

Setelah lebih kurang 60 menit perjalanan menuju Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan Jepara, rombongan kirab sampai ditempat Jepara. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyerahkan luwur Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin ke pemerintah desa setempat. 

Sebelum proses pergantian dilakukan, terlebih dahulu para unsur forkopinda melakukan doa bersama di Masjid Mantingan.

Editor: Supriyadi

Kirab Budaya, Ribuan Warga Kaliwungu Kudus Rebutan Nasi Berkah

Warga meramaikan kegiatan kirab budaya di Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga meramaikan kegiatan kirab budaya di Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan warga Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, meramaikan ritual penggantian kain luwur Mbah Rogo Moyo di Dukuh Prokowinong, Sabtu (15/10/2016).

Pada kegiatan tersebut, masyarakat mengarak kain luwur dan nasi berkah sejauh 2 kilometer (km).

Ketua penyelenggara, Haryono mengatakan peserta kirab mencapai ribuan orang. Mereka meliputi perwakilan tiap RT, sekolah dan juga warga sekitar yang juga ikut meramaikan kegiatan.

“Para peserta berkumpul menjadi kelompok. Dan tiap kelompok, menyuguhkan atraksi yang mana mewakili keterampilan di desa tersebut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, para peserta kirab berjalan mulai dari Masjid Darul Istiqomah atau yang biasa disebut Masjid Alit. Kemudian peserta kirab mengelilingi kampung dengan mengarak dan beratraksi.

Penampilan yang ditampilkan bermacam-macam. Ada visualisasi tanam Pati, arakan nasi berkah, pertukangan, silat kejawen Patih Arjuna, mitos masyarakat Asemanten dan juga pertanian yang menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat.

Selain itu, kelompok pemuda juga tidak mau kalah dengan menyuguhkan kirab dolanan dan nyanyian bocah dan lain sebagainya. Pertukangan diambil warga lantaran desa itu menjadi awal kemunculan atau cikal bakal seorang tukang dan juga pendiri dan pembuat rumah adat Kudus.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan. Dan kali ini merupakan tahun keenam. Sebelumnya kegiatan hanya dilakukan dengan cara mengarak kain luwur yang digunakan untuk mengganti cikal bakal di desa tersebut. Itupun dilakukan waktu malam hari usai magrib dan hanya diikuti oleh warga pria saja.

“Kegiatan seperti ini sangat ditunggu oleh masyarakat. Bukan hanya masyarakat Desa Kaliwungu saja, melainkan juga masyarakat asal desa lainnya,” ujarnya.

Bukan hanya kirab yang beragam saja yang menjadi menarik dalam ritual tersebut, namun ribuan penonton juga memperebutkan nasi berkah yang juga dibagikan kepada warga. Nasi tersebut dipercaya memberikan berkah untuk yang memakannya, bahkan ada pula yang mempercayai nasinya sebagai obat.

Jumiyati, warga Gebog yang turut hadir juga mengatakan kalau kegiatan sangat menarik. Terlebih, penampilan yang banyak dari tiap RT, membuat suasana penonton semakin berdesakan ingin melihat dari dekat.

“Saya juga menginginkan nasi berkah. Sebab dipercaya kalau nasi tersebut mampu memberkahi bagi siapa saja yang memakannya,” ungkapnya.

Tak hanya itu, penonton juga mengabadikan kegiatan langka dengan kamera. Hal itu dijadikan kenang-kenangan dalam haul cikal bakal Dukuh Winong, Kaliwungu.

Editor : Akrom Hazami

Ini Kesan Warga Kudus Usai Nonton Kirab SMK

uplod jam 20 kirab e

Peserta kirab tampi di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus- Pada peserta dan pengunjung kirab SMK, tak sabar menunggu kegiatan yang sama pada tahun depan. Hal itu dirindukan lantaran kegiatan SMK Weekend dianggap sangat ramai.

Seperti yang diungkapkan Rania, peserta kirab asal SMK NU Banat. Ia sangat senang karena kirab ramai pengunjung. Bahkan, banyak yang mengabadikan momen langka tersebut.

“Semakin banyak yang datang maka semakin bagus. Jadi makin ramai. Sehingga promosi kepada sekolah dan hasil produk juga terlihat,” katanya.

Menurutnya, SMK Weekend juga jadi ajang pengembangan kemampuan siswa SMK. Hal itu dapat meningkatkan popularitas SMK yang nantinya menjadi jujukan para siswa SMP yang melanjutkan sekolah.

Dian Noviani, pengunjung CFD dan penonton kitab sangat takjub dengan penampilan peserta kirab. Lenggak lenggok penari yang hadir dari siswa SMK mampu membuatnya kagum, begitu pun dengan penampilan lainnya.

“Seperti para koki dari SMK 1 Kudus tadi juga bagus. Mudah mudahan tahun depan diperingati lagi, dan semakin meriah lagi,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Kirab SMK di Kudus Meriah

Kirab SMK di Kudus Meriah

Peserta kirab meramaikan kegiatan SMK Weekend di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Peserta kirab meramaikan kegiatan SMK Weekend di Alun-alun Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kegiatan kirab SMK yang diselenggarakan berlangsung dengan meriah di Kudus, Minggu (1/5/2016). Bahkan, jumlah pesertanya mencapai ratusan peserta yang terdiri dari para pelajar.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo menatakan kirab tersebut merupakan kirab yang meramaikan kegiatan SMK Weekend. Dalam kegiatan itu, masing masing SMK menunjukkan atraksi kebolehan atau keunggulan mereka.

“Peserta ada 27 SMK, masing masing beranggota kisaran 20an. Jadi banyak itu peserta yang mengikutinya,” katanya.

Menurutnya, acara itu juga sekaligus meramaikan CFD. Hanya, waktunya lebih lama lantaran tiap peserta diberikan waktu untuk menyuguhkan penampilan terbaik mereka.

Dalam kirab, dilakukan dengan memutar Alun-alun Simpang Tujuh sekali. Peserta sesampainya di depan pendapa melakukan atraksi sesuai dengan kelihaiannya. Berbagai pertunjukan, digelar di antaranya fashion show, tari tarian, PBB dan atraksi kreativitas SMK lainnya.

“Ini juga yang baru tahun ini, jadi modelnya semakin dikembangkan tiap tahunnya,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Tahun Depan, SMK Weekend juga Dipastikan Digelar

Ini Pengalaman Dandim dan Kajari Saat Menghadiri Kirab Budaya

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning (kiri) dan Kajari Purwodadi Abdullah terlihat enjoy mengenakan pakaian adat Jawa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning (kiri) dan Kajari Purwodadi Abdullah terlihat enjoy mengenakan pakaian adat Jawa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Acara kirab budaya dalam rangka hari jadi ke-290 Kabupaten Grobogan menjadi momen yang istimewa bagi beberapa pejabat. Khususnya, Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning.

Baca juga : Bupati Grobogan dan Jajarannya Jalan Kaki 3 Km di Kirab Budaya Ini

Warga Pecicilan Rebut Gunungan Kirab Grobogan, Bupati Mesem

Pasalnya, semua pejabat diharuskan mengenakan pakaian adat Jawa. Memakai beskap dan blangkon. Sebagai orang Batak, mengenakan pakaian adat Jawa terasa spesial buat Dandim. Soalnya, momen seperti itu jarang didapat.

”Ini kedua kalinya, saya menghadiri acara resmi memakai pakaian adat Jawa. Pengalaman pertama memakai pakaian seperti ini saya alami saat tugas di Malang, beberapa waktu lalu,” cetusnya.

Selain dandim, satu pejabat lagi yang jadi perhatian adalah Kajari Purwodadi Abdullah. Meski aslinya Madura, namun Kajari terlihat cukup nyaman ketika menghadiri acara kirab budaya mengenakan pakaian adat Jawa.

”Saya nyaman-nyaman saja memakai pakaian adat Jawa karena sudah beberapa kali pakai,” cetusnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Warga Pecicilan Rebut Gunungan Kirab Grobogan, Bupati Mesem

Warga berebut gunungan di kirab budaya di Kabupaten Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berebut gunungan di kirab budaya di Kabupaten Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Rebutan gunungan hasil bumi yang diarak dalam kirab budaya ternyata menjadi momen yang dinantikan warga. Indikasinya, ribuan warga langsung berebut untuk mendapatkan aneka barang yang tersedia dalam gunungan itu.

Sedianya, gunungan itu baru boleh dibongkar setelah pembacaan doa yang dilangsungkan setelah Bupati Grobogan Bambang Pudjiono menyampaikan sambutan. Namun, saat bupati naik podium, warga sudah merangsek mendekati 12 gunungan yang diletakkan di tengah jalan raya Purwodadi-Pati itu.

Ketika pembaca doa baru memulai tugasnya, antusias warga untuk berebut gunungan tidak bisa dikendalikan.

“Serbu. Ayo kita bongkar gunungannya,” teriak warga yang terlihat bersemangat untuk mendapatkan barang dalam gunungan itu.

Akhirnya sebelum pembacaan doa selesai, gunungan itu sudah kocar-kacir jadi rebutan orang. Selain orang tua dan dewasa, puluhan anak kecil juga ikut berebut gunungan.

“Acara rebutan gunungan dalam kirab budaya ini paling saya nantikan. Rebutan bareng banyak orang rasanya sangat menyenangkan,” kata Tejo, salah satu warga.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Bupati Grobogan dan Jajarannya Jalan Kaki 3 Km di Kirab Budaya Ini

Bupati Grobogan dan Jajarannya Jalan Kaki 3 Km di Kirab Budaya Ini

Peserta kirab budaya di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewCom/Dani Agus)

Peserta kirab budaya di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-290 Kabupaten Grobogan berupa kirab budaya yang dilangsungkan berlangsung meriah, Kamis (3/3/2016).

Ribuan warga terlihat antusias menyaksikan kirab budaya yang digelar di Kecamatan Grobogan mulai pukul 09.15 WIB hingga sekaran ini.

Kirab budaya dihadiri Bupati Grobogan Bambang Pudjiono dan para pimpinan SKPD. Terlihat pula Sekda Grobogan Sugiyanto dan para pimpinan SKPD.

Acara kirab dimulai dari depan Kantor Kelurahan Grobogan di jalan raya Purwodadi-Pati. Rombongan kirab berjalan mengelilingi wilayah Kelurahan Grobogan sejauh 3 km.

Selain dari instansi pemerintahan, peserta kirab juga berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Sebanyak 12 gunungan berisi hasil panen juga ikut dikirab. Gunungan itu nantinya akan dibagikan pada warga setelah kirab berakhir.

“Saya merasa senang karena kirab ini berjalab meriah dan warga masyarakat ikut berpartisipasi dalam acara rutin ini,” kata Bupati Grobogan Bambang Pudjiono.

Menurutnya, kirab budaya ini dilakukan sebagai peringatan perpindahan pusat pemerintahan, dari Kecamatan Grobogan menuju Kecamatan Purwodadi.

“Dulu ibukota Kabupaten Grobogan pusatnya di Kecamatan Grobogan sini. Jadi untuk memperingati peristiwa ini, setiap tahun kita langsungkan kirab budaya,” imbuh Bambang.

Editor : Akrom Hazami

Pernak Pernik Etnis Tionghoa Diburu

Warga hendak membeli pernak pernik etnis Tionghoa di Kudus, Minggu (24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga hendak membeli pernak pernik etnis Tionghoa di Kudus, Minggu (24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bukan hanya warga keturunan Tionghoa yang menyukai pernah pernik beserta pakaian etnis itu. Melainkan warga yang bukan keturunan Tionghoa di Kudus juga sangat menyukai. Hal itu terlihat dari banyaknya pembeli yang datang di stan di depan Kelenteng Hok Hien Bio, Kudus, Minggu (24/1/2016).

Edy Kiswono, pedagang pernak pernik asal Bogor, Jabar, mengatakan, warga Kudus sangat antusias membeli pernak pernik itu. Bahkan, sebagian besar pembeli justru dari warga Kudus asli. “Kalau di persentase, pembeli asal Kudus bisa sampai 90 persen. Sedangkan sisanya baru dari warga keturunan Tionghoa ini,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dengan harga yang terjangkau, membuat minat warga untuk membeli tinggi. Untuk aksesoris, biasanya dijual antara Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Sedangkan untuk pakaian, pedagang membanderol Rp 25 ribu hingga Rp 200 ribu.

Selama dua hari berjualan yaitu Sabtu (23/1/2016) dan Minggu, kata dia, omzet yang diterima termasuk besar. Seperti tahun lalu misalnya, dia mendapatkan omzet hingga Rp 40 juta.

“Kalau tahun ini belum tahu, soalnya sering gerimis atau mendung. Kalau tahun lalu lebih cerah jadi banyak yang datang dan membeli,” ungkapnya.

Menurutnya, pernak pernik hingga pakaian memang hal yang tidak mudah dijual bebas. Sebab hanya momen tertentu, bisa menjumpai pedagang  tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Bikin Geger, Rombongan Kera Sakti Muncul di Kudus

Rombongan Kera Sakti  beraksi dalam kirab di Kudus, Minggu (24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi

Rombongan Kera Sakti  beraksi dalam kirab di Kudus, Minggu (24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi kamu yang besar di era 90-an, ada sebuah serial kolosal Kera Sakti. Ya, itulah kisah perjalanan seekor kera yang terlahir di gunung Huaguo menuju Barat demi mencari kitab suci bersama biksu Tong Sam Chong, siluman babi Tie Pat Kay dan siluman air Sam Cheng. Jelas, tokoh-tokoh itu sangat familiar.

Namun bagaimana jika keempat ikonik itu tiba-tiba muncul di dunia nyata? Nah, hal itulah yang membuat geger warga Kudus, Minggu (24/1/2016). Rombongan pencari kitab suci Tripitaka yang sangat legendaris itu sedang berjalan di jalanan utama Kudus sambil beraksi.

Sontak para penduduk Kudus langsung heboh. Tapi jangan tertipu, rupanya rombongan itu bukanlah Go Kong dan teman-teman yang sebenarnya. Mereka adalah bagian dari peserta kirab Hok Hien Bio Kudus.

Dari 30 kelenteng se-Indonesia yang mengikuti kirab Hok Hien Bio Kudus, memang masing masing menampilkan atraksi tersendiri.  Dari sekian banyak penampilan, yang paling menyita perhatian warga adalah rombongan Kera Sakti.

Ketua Panitia Kirab Riki Shonda mengungkapkan, para peserta kirab dibebaskan menampilkan atraksi. Seperti halnya atraksi Kera Sakti beserta rombongannya. “Iya mereka bebas menampilkan. Seperti rombongan Kera Sakti beserta atraksi lainnya yang juga meramaikan kegiatan ini,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom

Sepanjang perjalanan, rombongan Kera Sakti menjadi perhatian lebih. Hal itu dimanfaatkan warga untuk berfoto bersama. Satu warga foto pertama, seketika warga lainnya mengikuti hal itu. Maka jadilah ajang foto itu mewarnai kegiatan kirab.

Salah satu warga yang terlibat foto bareng Kera Sakti,  Aziz, asal Kecamatan Kota. Dia beserta teman temannya melihat pertunjukan Kera Sakti, kemudian mereka mengajak foto bersama. “Unik ya, ada peserta kirab semacam ini. Dan memang jarang dijumpai kostum semacam ini dalam kirab di Kudus,” ujarnya.

Selain Kera Sakti, juga diramaikan pertunjukan barongsai dan atraksi naga. Selain itu juga terdapat pertunjukan dari ondel ondel Tiongkok.

Editor : Akrom Hazami

Meriah, Kelenteng Se-Indonesia Ikuti Kirab di Kudus

Peserta kirab Kelenteng Hok Hien Bio Kudus berlangsung meriah, Minggu ((24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Peserta kirab Kelenteng Hok Hien Bio Kudus berlangsung meriah, Minggu ((24/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Perayaan kirab Kelenteng Hok Hien Bio Kudus, berlangsung dengan sangat meriah. Bukan hanya karena peserta kirab yang banyak,  melainkan pula antusias masyarakat yang memadati lokasi perhelatan, Minggu (24/1/2016).

Dalam kirab tahunan itu, sedikitnya 30 kelenteng se-Indonesia meramaikan kirab tersebut. Tak tanggung tanggung, kelenteng asal Jakarta dan luar Jawa juga ikut memeriahkan kirab itu.

Ketua Panitia Kirab, Riki Shonda mengatakan, kegiatan kirab dimulai pada pukul 10.00 WIB. Sejak pagi hari, warga sudah memadati lokasi.

“Jarak yang ditempuh sejauh lima kilometer. Mengenai rute yang kami lalui, meliputi start di kelenteng, lalu Jalan Loekmono Hadi, Jalan Mangga, Jalan Wahid Hasyim, Jalan Sunan Kudus,  Alun-alun, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Tanjung,  Jalan Pemuda,  Jalan A Yani baru  kembali ke kelenteng,” teragnya kepada MuriaNewsCom.

Dalam kirab tahun ini terdapat perbedaan dari tahun sebelumya, yakni pada jumlah atraksi pertunjukan barongsai dan naga. Tahun ini hanya dua pasang, sedangkan tahun lalu lebih dari itu yang tampil.

Warga benar-benar menikmati kirab. Tidak heran jika sepanjang rute, warga mengabadikannya dengan kameranya.

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Kelenteng se-Indonesia Bakal Meriahkan Kirab Kelenteng Hok Hien Bio Kudus

Persiapan ritual yang dilakukan di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Persiapan ritual yang dilakukan di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 30 kelenteng dari berbagai daerah se-Indonesia bakal meramaikan kirab Kelenteng Hok Hien Bio Kudus pada Minggu (24/1/2015). Sebagian peserta kirab, hari ini sudang datang di Kudus.

Ketua Panitia Kirab Riki Shonda mengungkapkan, hingga hari ini sebagian besar dan memasuki sore hari, peserta kirab sudah semakin banyak yang berdatangan.”Kalau paling jauh ada dari Manado dan Makassar,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kirab yang dilaksanakan pada Minggu besok, bakal dimulai pada pukul 10.00 WIB. Sebelum kirab dimulai, akan dilakukan ritual terlebih dahulu. Ritual ini, sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Dewa Bumi dan Dewa Langit.

Dirinya mengatakan, kegiatan yang bertujuan sebagai rasa syukur selama setahun itu, sebenarnya dimulai pada hari ini. Namun untuk kegiatan besar berupa kirab dilaksanakan pada hari terakhir.
“Kalau hari ini hanya upacara saja, selain itu juga malamnya sekitar pukul 19.30 WIB, ada ritual Tangsin atau pengobatan. Sedangkan, untuk rute kirab, nantinya akan berkeliling Kota Kudus,” ujarnya.

Editor : Kholistiono 

Masyarakat Kudus Wajib Tampilkan Terbang Papat Disetiap Acara

Terbang papat meramaikan kegiatan Ampyang Maulid di Loram beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Terbang papat meramaikan kegiatan Ampyang Maulid di Loram beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) berharap kesenian terbang papat di Kudus bisa menyasar ke seluruh kalangan masyarakat. Dikarenakan kesenian yang beranggotakan empat penabuh rebana, satu penabuh bedug tersebut saat ini mulai tidak diminati masyarakat, khususnya para pemuda.

Pembina FKTP Kudus Anif Farizi mengatakan, setidaknya penampilan terbang papat bukan sekadar ditampilkan pada saat even besar tertentu saja. Melainkan juga tokoh masyarakat atau seseorang yang mahir kesenian terbang papat bisa saling memperkenalkan kepada masyarakat luas. Supaya kesenian itu bisa ditularkan.

”Bila kesenian itu hanya ditampilkan disaat even besar atau hari besar Islam saja, maka terbang papat belum bisa maksimal diterima masyarakat. Berbeda jika dalam setiap kesempatan atau acara terbang papat turut ditampilkan,” paparnya.

Dia menilai, keaktifan kesenian lokal terbang papat bukan hanya tanggung jawab FKTP saja. Melainkan seluruh warga Kudus, terlebih yang menggandrungi seni musik tradisional di zaman wali tersebut.

Selain itu, pihak FKTP juga selalu mengadakan koordiansi kepada koordinator kecamatan supaya bisa selalu menampilkan atau mementaskan kesenian tersebut. Sehingga para warga lainnya bisa ikut serta dalam pentas tersebut.

”Selama ini kegiatan yang berada di masjid dan musala sudah bisa berjalan dengan baik. Akan tetapi keeksistensian itu bisa bergelora lagi jika seluruh warga bisa berperan aktif nguri-nguri terbang papat tersebut,” ujarnya.

Dia menambahkan, yang penting ialah bagaimana kesenian ini bisa tampil bukan sekadar sebagai bumbu disaat even besar atau hari besar Islam saja. Namun kesenian ini juga bisa tampil pada acara apapun yang digelar oleh masyarakat. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Kirab Budaya Diminta Bukan Hanya Sekadar Seremonial dan Hura-hura

 Dwi Ahmad Rifai, Juru Kunci Air Salamun Desa Jepang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Dwi Ahmad Rifai, Juru Kunci Air Salamun Desa Jepang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Pagelaran kirab budaya yang seringkali diadakan pada momen-momen tertentu, diharapkan tidak hanya sekadar seremonial dan hura-hura. Namun, yang lebih penting adalah makna dari kirab budaya tersebut.

Dwi Ahmad Rifai, salah satu tokoh masyarakat yang sekaligus menjadi Juru Kunci Air Salamun Desa Jepang, Mejobo mengatakan, kirab atau karnaval yang berkaitan dengan budaya itu sebenarnya bukan hanya dipandang sebagai kemeriahan duniawi atau formalitas.

“Kirab atau karnaval Air Salamun di Desa Jepang, Ampyang Maulid di Loramdan lainnya itu harus bisa dipandang sebagai alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan,” katanya.

Dia menilai, yang terpenting dari kirab adalah makna sebagai upaya berkomunikasi dengan Tuhan. Sebab didalam kirab tersebut, terdapat hasil panen yang nantinya akan disodaqohkan kepada masyarakat banyak.

Dengan adanya kirab budaya atau karnaval tersebut, tentunya akan dapat memberikan tuntunan moral yang harus ditanamkan kepada manusia. Yakni selalu bersyukur kepada Tuhan, supaya bisa selalu beramal kepada sesama.

Hal senada juga disampaikan Juru Pelihara Masjid Wali Attaqwa Loram Kulon Afroh Aminuddin. Menurutnya, kirab budaya seperti halnya Ampyang Maulid di tempatnya, bertujuan untuk mengenang jasa para alim ulama yang telah menyebarkan agama Islam di Kudus.

“Misalkan tidak ada kirab Ampyang Maulid dan Air Salamun, masyarakat dimungkinkan tidak tahu bahwa budaya tersebut merupakan peninggalan dari wali. Karenanya, ilmu tersebut harus digali serta disebarkan kepada warga,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Ratusan Anak-anak Tiba-tiba Cegat Pj Bupati Blora di Tengah Jalan, Ngapain?

Anak-anak antusias untuk bersalaman dengan Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Anak-anak antusias untuk bersalaman dengan Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Kirab budaya yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB dari Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora dan berakhir di halaman Gedung DPRD Blora,disambut antusias oleh masyarakat. Puluhan ribu warga memadati sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab, yakni Jalan Pemuda dan Jalan Ahmad Yani.

Kirab budaya diawali oleh Pj Bupati Blora Ihwan Sudrajat beserta istri yang berjalan kaki, yang kemudian diikuti pejabat di lingkungan SKPD, anggota dewan, pelajar dan berbagai organisasi.

Keberadaan Pj Bupati Blora yang ikut dalam rombongan kirab dengan berjalan kaki tersebut ternyata mendapat sambutan yang antusias dari anak-anak. Di sepanjang jalan yang dilalui kirab, anak-anak terlihat mencegat untuk bisa berebut bersalaman dengan orang nomor satu di Kabupaten Blora tersebut. Bahkan, petugas Satpol PP tampak kewalahan mengatasi anak-anak tersebut.

Namun, bagi Ihwan sendiri hal tersebut justru menjadi kebanggaan tersendiri bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena, dirinya pernah berkata, bahwa ia sebagai Pj Bupati Blora berharap kedatangannya disambut dan kepergiannya dikenang.

“saya tentu tak akan lama di Blora, karena saya disini hanya ditugasi untuk mengabdi kepada rakyat Blora. Untuk itu, saya berharap, kedatangan saya agar bisa disambut dan kepergian saya bisa dikenang,” katanya.

Sementara, anak-anak yang bisa bersalaman dengan orang nomor satu di Blora itu mengaku senang. “Saya senang bisa bersalaman dengan Pak Bupati,” ungkap selfi yang berhasil bersalaman.

Kirab budaya tersebut ternyata juga menjadi daya tarik bukan hanya warga Blora saja, namun, dari luar daerah juga banyak yang berbondong-bondong menyaksikan kirab tersebut. “Saya datang dari Tuban bersama rombongan, hanya untuk menyaksikan kirab budaya yang digelar di Blora ini,” Amrullah warga Tuban. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Penampakan Keunikan Kirab Budaya Blora

Kirab budaya dalam rangka Hari Jadi Blora ke-266, Jumat (11/12/2015) (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Kirab budaya dalam rangka Hari Jadi Blora ke-266, Jumat (11/12/2015) (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Salah satu rangkaian Hari jadi Blora yakni kirab budaya. Kegiatan ini dimulai dari Pendapa Rumah Dinas Bupati Blora hingga halaman kantor DPRD Blora, Jumat (11/12/2015).
Acara ini diramaikan oleh pagelaran budaya Blora. Di antaranya tarian barongan, dan tarian adat Nusantara yang dibawakan oleh pelajar dari Blora.

Selain itu ada juga kesenian dari luar Blora yakni Kudus yang membawakan tarian teatrikal dengan tema Pluralisme. Tarian itu mengisahkan perjalanan dakwah Sunan Kudus. Ada juga dari Tuban yang memainkan tarian barongan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika Blora Suntoyo mengatakan kirab budaya merupakan bagian dari rentetan Hari Ulang Tahun ke-266 Blora.

Kegiatan dimulai dari kemarin yaitu penjamasan pusaka keris Kiai Bismo. Kemudian pada Jumat (11/12/2015) pukul 00.00 kirab keris Kiai Bismo. “Sekarang, kirab budayanya,” kata Suntoyo.
Acara ini juga diramaikan oleh pementasan kesenian dari pelajar, berupa tarian tradisional Nusantara yakni dari SMP 1 Blora, SMA 1 Blora, SMA 2 Blora, SMA 1 Tunjungan. (RIFQI GOZALI/AKROM HAZAMI)

Video – Meriahnya Kirab Budaya Rabu Wekasan di Jepang Kudus

Kirab budaya Rabu Wekasan di Desa Jepang, Mejobo. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kirab budaya Rabu Wekasan di Desa Jepang, Mejobo. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kirab budaya Rabu Wekasan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, yang diselenggarakan pada siang ini, berlangsung begitu meriah. Sedikitnya, 70 kontingen yang berasal dari organisasi pemuda, instansi pendidikan,organisasi keagamaan, UMKM dan instansi pemerintah ikut ambil bagian dalam kirab budaya ini.

“Acara ini dimulai dari Kantor Kecamatan Mejobo kemudian berjalan menuju arah barat sekitar 2 kilometer dan finish di depan Masjid Al Makruf Jepang. Setiap kontingen, sedikitnya ada 25 anggota yang ikut, dengan menampilkan beragam kreativitas,” ujar Muh Mastur, Takmir Masjid Al Makmur Jepang.

Ia katakan, kirab budaya tersebut merupakan bagian dari peringatan Rabu Wekasan, yang oleh masyarakat sekitar memiliki nilai sejarah tersendiri. Pada Rabu Wekasan ini, masyarakat melakukan ritual tertentu yang diyakini bisa mencegah turunnya bala atau musibah.

Hal ini, menurutnya sudah dilakukan secara turun temurun. Yakni dimulai sekitar tahun 1919 Masehi. Ketika itu, sering terjadi musibah. Kemudian, penyebar agama yang mengasuh Masjid Al Makruf yang bernama Sayyid Ndoro Ali Al Idrus dari Karangmalang, Gebog menyarankan warga untuk selalu berihktiar dan berdoa kepada Tuhan. Dengan melalui media air sumur peninggalan Sunan Kudus, kemudian Sayyid membuat air keselamatan atau yang disebut air salamun. Ritual ini dilakukan Sayyid ketika pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, yang kemudian air salamun tersebut dibagikan kepada warga.

Hal ini, kemudian dilakukan terus secara turun temurun, yakni ketika pada Rabu Wekasan, warga membuat air salamun. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

 

Video – Kirab Budaya di Pucakwangi Pati Jadi Momen Mengenal Tokoh “Babat Alas” Desa

 

PATI – Kirab budaya bertajuk “merah putih” yang digelar warga Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, Pati, Selasa (3/11/2015) menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenal tokoh yang membuka desa atau dalam bahasa Jawa dikenal “babat alas” desa tersebut.

Di mata masyarakat, sosok Simbah KH Soleh yang dulunya sebagai pendiri Desa Bodeh dikenal warga sebagai pejuang kemerdekaan, sekaligus penyebar agama Islam di kawasan tersebut. Kisah yang berkembang, KH Soleh sempat menjadi buronan bangsa asing karena menentang kolonialisme.

”Beliau adalah pahlawan kami. Beliau menyebarkan agama Islam di kawasan ini dan berjuang agar tanah Nusantara ini tidak diinjak-injak bangsa asing. Beliau sempat menjadi buronan penjajah dan akhirnya bersandar di desa tersebut,” ujar Kepala Desa Bodeh Zamroni kepada MuriaNewsCom.

Namun, kata dia, memang banyak cerita tutur yang berkembang dengan versi yang berbeda dari kisah KH Soleh. ”Banyak versi tentang cerita Mbah Soleh. Tapi, warga memang sepakat jika beliau adalah pejuang agama dan kemerdekaan,” imbuhnya.

Selain mengadakan kirab budaya merah putih, warga juga memperingati haul Mbah Soleh dengan menghadirkan Habib Luthfi bin Yahya yang dikenal sebagai pimpinan perkumpulan tarekat di Indonesia. ”Beliau hadir malam ini untuk mengisi pengajian haul Mbah Soleh,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ribuan Warga Bodeh Pati Rayakan Kirab Budaya “Merah Putih”

Warga mengarak gunungan dalam kirab merah putih peringatan Haul Mbah Sholeh di Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga mengarak gunungan dalam kirab merah putih peringatan Haul Mbah Sholeh di Desa Bodeh, Pucakwangi, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ribuan warga Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, Pati memperingati Haul Mbah KH Soleh dengan merayakan kirab merah putih mengelilingi desa, Selasa (3/11/2015).

Selain menggelar karnaval yang dimeriahkan puluhan marching band dari berbagai daerah, warga juga mengarak dua gunungan besar sebagai simbol penghasilan warga di bidang pertanian. Selain simbol kesuburan, gunungan yang berisi puluhan jenis sayur dan buah diharapkan memberikan semangat bagi petani untuk menyambut masa tanam.

Ratusan pasukan merah putih dari sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah Desa Bodeh juga ikut memeriahkan acara. ”Kirab merah putih sebetulnya diambil dari nama bubur abang di mana dalam tradisi masyarakat Jawa menjadi simbol keselamatan,” ujar Kepala Desa Bodeh Zamroni kepada MuriaNewsCom.

Hanya saja, kata dia, makna merah putih saat ini disimbolkan dengan bendera saka merah putih yang menjadi simbol persatuan dan kesatuan bangsa. ”Selain berharap keselamatan dan kesejahteraan, kirab ini diharapkan bisa merekatkan warga Desa Bodeh,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Budaya Rogo Moyo Kaliwungu Kudus jadi Alat Promosi Desa

Kirab budaya Rogo Moyo Kudus dimainkan di Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kirab budaya Rogo Moyo Kudus dimainkan di Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Merintis desa wisata menjadi salah satu kegiatan memajukan suatu wilayah. Selain itu juga sebagai ajang perkenalan wilayah dengan kekhasannya. Salah satu wilayah Kudus yang menjadi desa rintisan wisata ada di Kaliwungu.

Sebagai salah satu wilayah terkenal di Kudus dengan pagar dan gapura serba ungu juga memiliki hal menarik. ” Yang menarik lainnya adalah wilayah kami terkenal dengan kirab Rogo Moyo sebagai budaya Kudus asli Kaliwungu yang cukup tersohor,” ujar Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu Kudus.

Menurutnya setiap even yang diikuti oleh Kaliwungu, kirab Rogo Moyo selalu dipentaskan. Sebab menurutnya, cikal bakal Kudus dan Kaliwungu ada di sejarah Rogo Moyo. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Ribuan Warga Ramaikan Kirab Budaya Haul Mbah Rogo Moyo

Kirab budaya dalam rangka haul Mbah Rogo Moyo. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kirab budaya dalam rangka haul Mbah Rogo Moyo. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Ribuan warga Desa Kaliwungu  meramaikan kirab budaya, sebagai rangkaian haul Mbah Rogo Moyo di Dukuh Prokowinong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Minggu (25/10/2015).

”Kalau pesertanya ada ribuan,  sekitar 1.366 peserta. Jumlah tersebut bukan hanya dari dukuh Prokowinong saja, tapi dari masyarakat sekitar juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Jadi jumlahnya cukup banyak,” kata Ketua Haul, Haryono.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan. Kali ini, merupakan tahun kelima dilakukan dengan meriah. Tahun lalu, katanya, kegiatan hanya dilakukan dengan cara mengarak kain luwur dan itupun dilakukan waktu malam hari, usai maghrib. Kemudian, yang mengikuti juga hanya kaum laki-laki saja.

Sedangkan untuk kirab kali ini, katanya, banyak pertunjukkan yang ditampilkan warga, di antaranya silat kejawen Patih Arjuna, Asemanten, permainan tradisional dan juga beragam hasil pertanian yang menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat di sana juga ikut diarak.

”Memang banyak budaya yang ditunjukkan dalam kirab ini. Apalagi, Mbah Rogo Moyo merupakan pecipta rumah adat Kudus. Warga ada yang menyajikan ritual Arang-arang Kambang, Joglo Kudus dan juga juga pertukangan, soalnya pendiri juga seorang tukang kayu,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan seperti ini sangat ditunggu oleh masyarakat. bukan hanya masyarakat Desa Kaliwungu saja, melainkan juga masyarakat desa lainnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Tradisi Sedekah Bumi Bisa Tarik Wisatawan Datang ke Blora

Kirab budaya yang berlangsung di Desa Tempuran Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

Kirab budaya yang berlangsung di Desa Tempuran Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Tradisi sedekah bumi yang ada di Blora, diharapkan bisa menjadi salah satu media untuk menarik minat wisatawan datang ke Blora. Seperti halnya yang ada di Desa Tempuran, Kecamatan Blora.

Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten BloraSlamet Pamudji melaluli Kabid Pariwisata Sugiyanto mengatakan, Desa Tempuran merupakan salah satu desa wisata. Dengan adanya tradisi sedekah bumi yang diramaikan dengan kirab budaya, diharapkan jadi daya tarik wisatawan.

”Kegiatan ini juga untuk mempromosikan Desa Tempuran, sebab desa ini merupakan salah satu Desa Wisata. Sehingga, dengan diadakanny acara seperti ini diharapkan bisa menarik para wisatawan untuk datang ke sini,” ujarnya.

Kedepan pihaknya berharap kegiatan seperti ini juga bisa dilakukan di desa-desa yang memliliki potensi wisata agar semakin banyak wisatawan yang datang ke Blora.

”Diharapkan dengan adanya kegiatan seperti ini, wisatawan bisa datang ke sini sekaligus sebagai ajang promosi tempat wisata,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Meriahnya Kirab Budaya di Desa Tempuran Blora

Kirab budaya yang berlangsung pada acara sedekah bumi di Desa Tempuran Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

Kirab budaya yang berlangsung pada acara sedekah bumi di Desa Tempuran Blora (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Sebagai salah satu rangkaian kegiatan gas deso atau sedekah bumi, Desa Tempuran, Kecamatan Blora mengadakan pawai budaya, yang diikuti oleh ribuan peserta pada Jumat (11/10/2015).

Pada kirab budaya ini, ribuan warga mengarak gunungan berupa nasi, lauk pauk dan jajanan. Gunungan diarak dari Balai Desa Tempuran menuju Waduk Tempuran yang jaraknya sekitar 1 Km. Sesampainya di waduk, kemudian gunungan tersebut di doakan, dan selanjutnya dimakan secara bersama-sama.

Kepala Desa Tempuran Sri Hartini mengatakan, sedekah bumi merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yakni pada Jumat Pon bulan Apit pada kalender Jawa.

“Tradisi sekedah bumi ini merupakan suatu bentuk rasa syukur terhadap Tuhan atas limpahan rezeki dan nikmat yang diberikan. Dengan hal ini, masyarakat berharap, hasil bumi atau hasil pertanian dan lain sebagainya semakin melimpah dan warga semakin sejahtera,” katanya.

Dirinya juga mengatakan, acara kirab budaya, pada beberapa tahun terakhir ini, katanya, sempat terhenti. Sehingga, tahun ini sengaja diadakan untuk mengangkat kembali kearifan lokal yang ada di Blora. Apalagi hal ini didukung Dinas Perhubungan, Pariwisata, Kebudayaan, Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten Blora. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Meriahnya Kirab Budaya di Kalirejo Kudus

Peserta karnaval meramaikan kirab budaya di Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta karnaval meramaikan kirab budaya di Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sekitar 5.000 orang warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, memadati kantor desa setempat, Kamis (3/9/2015). Berjubelnya warga tersebut lantarang ingin ikut serta dalam kirab budaya Apitan atau sedekah bumi yang diadakan pemerintah desa setempat.

Perangkat Desa Kalirejo Bagian Kasi Kesra Karno Nur Sholeh mengatakan, kirab budaya menjadi acara yang pas untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

Kirab budaya bukan hanya diselenggarakan untuk HUT RI saja, namun kalau bisa di saat acara sakral atau sedekah bumi seperti ini,” katanya.

Meski kirab budaya tidak ada hadiah atau bingkisan, tapi warga desa setempat tetap menunjukkan rasa antusiasme tinggi.

Selain itu, dari pihak RT dan RW juga berinisiatif berswadaya membuat gunungan, atau merias diri di saat karnaval tersebut.

“Ada sekitar 6 RW dan 31 RT . Warga dari tiap RT mengirimkan 100 orang. Itupun belum dari SD, MI , MTs, MA dan SMK,” paparnya.
Dengan adanya karnaval diharapkan dapat memberikan rasa kebersamaan di antara peserta. Dia menambahkan, yang penting pihaknya bisa membuat warga semakin bersatu dalam menggelar kegiatan apitan sedekah bumi ini. Sehingga ke depannya bisa dijadikan pelajaran, bahwa bulan sakral atau apitan ini harus bisa dimeriahkan. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Tradisi Berebut “Ambengan” Jadi Ajang Pererat Rasa Kebersamaan

Sejumlah warga tengah menunggu ratusan ambengan yang siap diperebutkan usai didoakan di makam leluhur setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga tengah menunggu ratusan ambengan yang siap diperebutkan usai didoakan di makam leluhur setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kirab budaya arak-arakan gunungan yang dilakukan warga Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, berakhir dengan tradisi berebut “ambengan” atau makanan tradisional yang menjadi ajang untuk mempererat kebersamaan. Hal itu dilakukan, usai ambengan didoakan di makam leluhur setempat.

Ambengan merupakan makanan yang terdiri dari nasi lengkap dengan sayuran dan lauk-pauk, yang dibuat untuk makan-makan di makam leluhur. Tradisi ini sudah lama ada di sejumlah daerah di Kabupaten Pati.

”Dengan membuat ambengan, itu bentuk rasa terima kasih kita kepada Tuhan agar dimakan warga bersama. Diharapkan, nilai sodaqoh dan kebersamaan dalam bingkai kekeluargaan bisa terjalin dari tradisi ini,” kata Kepala Desa Ketitang Wetan Suwignyo kepada MuriaNewsCom.

Tak hanya dihadiri warga setempat, tradisi berebut ambengan juga dikuti warga luar daerah. Sementara itu, sejumlah nasi dari gunungan disisihkan untuk dilempar ke sawah dan tambak yang diharapkan bisa memberikan berkah. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Ketitang Wetan Gelar Kirab Budaya Arak-arakan Gunungan

Warga Desa Ketitang Wetan tengah mengarak gunungan keliling desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Desa Ketitang Wetan tengah mengarak gunungan keliling desa. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Warga Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, menggelar kirab budaya berupa arak-arakan gunungan mengelilingi desa, Rabu (19/8/2015). Kegiatan tersebut digelar secara rutin setahun sekali setiap bulan Apit dalam kalender Jawa.

Mereka mengarak gunungan hasil bumi dan nasi tumpeng yang telah dihias menggunakan hasil bumi pula. Dengan kirab tersebut, warga berharap agar diberikan berkah dari Tuhan.

”Ini sudah menjadi tradisi rutin setiap setahun sekali sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berkah dan penghidupan. Hasil bumi memang perlu disyukuri,” kata Hasanudin, warga setempat kepada MuriaNewsCom.

Setelah keliling desa, kirab berakhir di punden yang dianggap keramat penduduk desa. Mereka lantas menggelar ritual dan doa bersama di makam yang dianggap sebagai tokoh babat desa. (LISMANTO/TITIS W)