Kisah KHR Asnawi, Tiap Jumat Pahing Berjalan 36 Km Ajarkan Agama

cak nun

Kegiatan pembacaan Salawat Asnawiyah di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain menjadi tokoh nasional, KHR Asnawi juga dikenal sebagai seorang guru ngaji. Hal itu dapat dilihat, dari keberadaan madrasah Qudsiyyah, yang didirikan olehnya.

Di antaranya, setiap Jumat Pahing, dia berjalan kaki sejauh 36 km demi mengajarkan ngaji kepada masyarakat.

“Tiap Jumat Pahing beliau ke gunung Muria, Masjid Muria. Dengan jalan kaki, beliau kesana demi mengajarkan tentang agama” kata KH Muzammil yang berasal dari Madura, Jatim.

Menurutnya, yang juga Ketua Bahtsul Masail Yogyakarta, apa yang dilakukan KHR Asnawi itu secara rutin hendaknya bisa dilanjutkan oleh generasi generasi selanjutnya.

Dia juga mengatakan kalau salawat merupakan cara doa menjadi mustajabah. Sebab, dengan salawat maka pasti mendapat pahala.

Dia sangat setuju jika Salawat Aswaniyah dibawa cak Nun. Karena Salawat Asnawiyyah jika dibawakan Cak Nun bisa sampai Nasional, bahkan bisa mencapai internasional.

“Sebelum pengajian ini, saya ziarah ke makam Mbah Asnawi,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

KHR Asnawi Disebut Tokoh Pluralisme Sebelum Gus Dur

satu abad qudsiyyah tyg pkl 2300 wib (e)

Pendiri Madrasah Qudsiyyah Kudus KHR Asnawi. (Foto by pp alghozaliyah.blogspot.com)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Peran KHR Asnawi terhadap Madrasah Qudsiyyah tentu tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, Kiai Aswani disebut sebagai tokoh pluralisme sebelum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Salah satu santri Madrasah Qudsiyyah Kudus yang mengaku bernama Ihwan, (15), mengutrakan bahwa sosok KHR Asnawi itu bisa dikatakan sebagai tokoh pluralisme zaman dahulu.

Menurut Ihwan, kata pluralisme atau memahami perbedaan itu memang muncul saat Gus Dur menjabat presiden. ”Akan tetapi pluralisme itu juga muncul saat KHR Asnawi masih hidup. Sebab ajaran Sunan Kudus untuk menghormati berbagai agama, khususnya Hindu dan berbagai ras, juga diajarkan KHR Asnawi kepada warga Kudus,” paparnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (13/4/2016).

Selain itu, lanjut Ihwan, KHR Asnawi juga sangat menghargai dan menghormati sesama umat beragama. Sebab saat beliau mengajarkan ilmu agama, pasti dengan cara persuasif.

”Kata guru saya, KHR Asnawi itu orangnya halus. Beliau dikatakan halus lantaran ajaran ilmu agama yang disampaikan kepada murid atau warga sekitar, dijalankan dengan cara pendekatan persuasif. Di mana cara itu juga pernah dilakukan Sunan Kudus saat menyebarkan agama di wilayah menara ini,” tuturnya.

Dia menambahkan, sikap pluralisme dari KHR Asnawi terlihat sangat jelas karena beliau telah menciptakan shalawat. Di mana bait terakhirnya memang ada kata ”Indonesia Raya”.

”Sebab kata itu bisa merujuk pada semua warga negara Indonesia tanpa kecuali. Supaya dijaga keselamatannya dari bencana atau penjajah,” imbuhnya.

Editor: Merie