Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Edi sedang menata paralon untuk irigasi sprinkler yang dibangunnya menggunakan dana hingga Rp 80 juta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sistem irigasi sprinkler yang dibuat petani muda asal Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Edi Sukamto, diklaim mempunyai keunggulan tersendiri. Selain memangkas biaya produksi hingga separuh, ada banyak keuntungan yang lain.

Edi menyebut, keuntungan lain dengan irigasi ini adalah kondisi tanah bisa terjaga dengan baik. Soalnya, tanah tidak menjadi padat, karena sering dinjak-injak banyak orang saat proses penyiraman dan perawatan, seperti saat proses manual.

Meski banyak keuntungan, namun tidak semua petani melengkapi sawahnya dengan irigasi sprinkler. Salah satu kendalanya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Untuk membangun jaringan irigasi itu, Edi mengaku sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 80 juta buat beli paralon, perlengkapan lainnya dan biaya pemasangan.

Uang sebanyak ini, paling banyak digunakan untuk membeli paralon atau pipa plastik berbagai ukuran. Jumlah paralon yang dipasang sekitar 2.500 batang.

Biaya pembuatan irigasi masih bisa bertambah untuk membeli mesin sedot dan selang plastik. Kebetulan, Edi sudah sebelumnya sudah memiliki peralatan ini, sehingga tidak butuh budjet baru untuk membeli.

“Kalau dilihat sepintas, biaya pembuatan irigasi memang terbilang sangat mahal. Tetapi kalau dikalkulasi sebenarnya malah murah. Soalnya, jaringan irigasi ini bisa digunakan minimal 5 tahun. Yang berat adalah ongkos bikin pertama,” katanya, sebelum mengajak jalan-jalan mengelilingi areal sawahnya.

Baca juga : Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Pembuatan irigasi sprinkler itu sudah dilakukan awal tahun 2017 lalu. Saat itu, air yang keluar dari irigasi digunakan untuk menyiram tanaman bawang merah. Setelah panen bawang merah, areal sawah ganti ditanami cabai.

Edi mengaku, selama menggunakan irigasi tersebut, belum menemukan kendala serius. Hanya saja, salah satu hal yang dinilai cukup berat adalah proses pengambilan air baku. Soalnya, air baku harus diambil dari Sungai Serang yang lokasinya berjarak sekitar 2 km dari sawahnya.

Pengambilan air dari sungai dilakukan dengan mesin sedot dan airnya dialirkan lewat selang besar menuju pipa besar yang berfungsi sebagai transmisi. Setelah itu, air dibagi lewat jaringan yang sudah tersedia di lahan sawahnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Edi tengah memeriksa jaringan paralon dalam irigasi modern sprinkler di ladangnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemanfaatan teknologi untuk membuat sebuah sistim irigasi mulai dilakukan petani di Grobogan. Salah satu pelakunya adalah Edi Sukamto, petani di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Meski harus mengeluarkan puluhan juta rupiah, namun hasil yang didapatkan cukup luar biasa.

Untuk memudahkan budidaya tanamannya, petani berusia 37 tahun itu membangun sistim irigasi yang dikenal dengan nama sprinkler. Irigasi sprinkler merupakan suatu metode irigasi yang fleksibel.

“Irigasi sprinkler tidak hanya digunakan untuk menyiram tanaman saja. Tetapi juga dapat dipakai untuk pemupukan dan pengobatan. Irigasi sprinkler juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengontrol kondisi iklim sesuai dengan kondisi tanaman,” ujar Edi saat ditemui di lokasi sawahnya yang berada di sebelah selatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Purwodadi itu.

Areal sawah Edi luasnya sekitar 4 hektare. Saat ini, lahan sawahnya dipenuhi tanaman cabai yang berusia sekitar 2 bulan.

Pada areal sawahnya terpasang banyak sekali paralon plastik berbagai ukuran. Selain dipasang menyusuri lahan, banyak juga pipa yang dipasang dengan posisi berdiri dan di atasnya diberi kran khusus.

Fungsi kran ini untuk menyemprotkan air pada tanaman di sekitarnya. Saat proses penyiraman, airnya keluar berputar dari kran dan bentuknya seperti curah hujan.

Baca juga : Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Selain memudahkan proses penyiraman dan perawatan, dengan irigasi berbasis teknologi ini bisa menghemat biaya dibandingkan menggunakan penyiraman manual. Penghematan biaya dikalkulasi bisa sampai 50 persen, karena tidak butuh banyak tenaga kerja.

“Sebelum pakai irigasi sprinkler saya butuh 30 tenaga kerja khusus untuk menyiram tanaman. Dengan tenaga sebanyak ini, butuh waktu penyiraman sampai 2 hari. Sekarang, tenaga kerjanya hanya beberapa orang saja untuk mengawasi kerja sprinkler saat menyentorkan air dan mengoperasikan mesin sedot,” jelas Edi.

Editor : Ali Muntoha