DPRD Sarankan Wonosoco Jadi Daerah Agrowisata

Ketua DPRD Kudus Masan memberikan sambutan dalam pengukuhan Kelompok Tani Hutan Ngudi Makmur Desa Wonosoco. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Desa Wonosoco, di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, dipandang mempunyai potensi besar di sektor pariwisata. Oleh karananya, kalangan DPRD Kudus menyarankan agar desa itu dikembangkan menjadi agrowisata.

Hal ini diungkapkan Ketua DPRD Kudus, Masan, dalam pengukukuhan Kelompok Tani Hutan Ngudi Makmur, di Balai Desa Wonosoco, Senin (2/10/2017). Dalam kegiatan itu juga dihadiri sejumlah anggota Komisi B DPRD Kudus serta Wakil Administratur Perhutani KPH Purwodadi Teguh Waluyo.

Menurut dia, geografi Desa Wonosoco yang dialiri sungai dari aliran sistem waduk Kedungombo yang membelah desa dan diapit perbukitan karst, menjadikan wilayah tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata.

“Kami di DPRD memiliki pemikiran untuk mengembangkan Wonosoco menjadi daerah agrowisata. Program serupa mulai diterapkan di Desa Wates, Kecamatan Undaan. Ada lahan seluas empat hektare di Wates yang siap digarap untuk agrowisata,” katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan pembenahan dan dukungan infrastruktur. Saat ini menurut dia, penataan akses infrastruktur jalan dan jembatan menuju Wonosoco terus dikebut.

Untuk mengimbanginya, pihaknya berharap warga sungguh-sungguh menata wilayah desanya.

“Jika warganya tidak sungguh-sungguh, maka mimpi mewujudkan Wonosoco sebagai daerah agrowisata tentunya sulit terwujud,” ujarnya.

Sementara Kades Wonosoco Setya Budi menyampaikan kekhawatirannya atas ancaman banjir bandang yang melanda desanya saat musim hujan. Ia menyebut, banjir bandang kerap menerjang Wonosoco sejak 2009.

“Kondisi perbukitan di Wonosoco sudah sangat parah dan belum tertangani dengan baik,” paparnya.

Sejumlah petak lahan lain seperti petak VI yang masuk ke wilayah Desa Prawoto, Pati kondisinya juga tak lebih baik. Namun karena statusnya milik Perhutani, warga maupun pemerintah desa tak bisa berbuat banyak.

“Kami berharap dengan terbentuknya kelompok tani hutan ini, ada langkah sinergis antara masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta Perhutani sebagai pemangku lahan,” harapnya. 

Wakil Administratur Perhutani KPH Purwodadi Teguh Waluyo mengakui, kerusakan lahan di perbukitan Wonosoco cukup mengkhawatirkan. Dengan menggandeng LMDH, pihaknya akan berupaya mengembalikan lahan tersebut kembali hijau.

Warga akan dilibatkan dalam langkah nyata dalam melakukan reboisasi di lahan yang kritis. Tak hanya itu, LMDH juga diminta ikut membantu mendorong meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga hutan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Ketua DPRD Usulkan Usaha Depo Air Minum Dikelola Desa

Ketua DPRD Kudus, Masan, saat membahas mengenai usaha depo air minum di kawasan lereng Gunung Muria. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus, Masan, menilai usaha depo air bersih yang menjamur di kawasan Desa Colo dan Kajar, Dawe, tak memberi konstribusi apapun untuk pemerintah, terutama desa.

Padahal, bisnis tersebut mempunyai potensi yang cukup besar. Oleh karenanya, ia menyarankan agar usaha pengambilan air bersih ini dikelola desa, sehingga hasilnya bisa kembali untuk kesejahteraan warga desa.

Usulan ini disampaikan Masan, setelah ia melakukan pengecekan ke depo air di Desa Kajar maupun Colo. Pengecekan itu untuk menindaklanjuti kedatangan kelompok pemanfaat air Muria ke gedung DPRD Kudus, beberapa waktu lalu.

“Saya sudah meninjau ke lokasi. Dan ternyata usaha-usaha itu tak banyak memberi manfaat ke warga sekitar, bahkan tidak ada kontribusi yang masuk ke desa,” katanya, Jumat (1/9/2017).

Menurut dia, tak hanya usaha depo air saja yang memanfaatkan air pegunungan muria secara besar-besaran, usaha toilet di sekitar makam Sunan Muria juga memanfaatkan air Muria untuk kegiatan komersial. ”Kontribusi ke desa juga tidak ada,” ujarnya.

Masan juga mempertanyakan pernyataan pengusaha yang mengaku hanya memanfaatkan air sisa untuk dijual. Ia meminta statemen air sisa itu didefinisikan secara jelas. Sebab jika memang benar air sisa, seharusnya tidak dijual untuk kebutuhan air minum.

“Ketika kebutuhan air rumah tangga dan pertanian di wilayah lereng Muria belum terpenuhi, seharusnya jangan disebut dengan air sisa,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Colo Joni Awang juga menyebut jika keuntungan usaha depo air, sepenuhnya masuk ke pengusaha. Ia juga telah mendapat surat dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) tentang pembekuan usaha depo air yang tak berizin.

Kepala Satpol PP Kudus Djati Solechah menegaskan siap melakukan penertiban usaha yang masih nekat beroperasi. Terlebih sebanyak  24 usaha depo air yang tersebar di Desa Colo, Kajar, Dukuh Waringin, dan Piji tidak berizin.

Hanya, kewenangan penindakan berada di tangan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BBWS Pemali Juwana. “Akhir Agustus 2017 seharusnya usaha depo air ilegal sudah tutup. Jika dibutuhkan, Satpol PP siap menerjunkan tim untuk membantu penertiban. Namun memang ada koordinasi tertulis agar kami tidak disalahkan,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ketua DPRD Kudus Sidak Penyaluran Rastra, Minta Beras Berkutu Jangan Diterima

Sidak penyaluran beras masyarakat sejahtera (Rastra). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus Masan menggelar sidak penyaluran beras masyarakat sejahtera (Rastra) di Balai Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Senin (19/6/2017).

Masan mengatakan, sidak ini digelar untuk memastikan kualitas beras yang diterima warga baik dan sudah sesuai dengan ketentuan. “Jika ada beras yang kualitasnya buruk, berkutu, bau, atau berasnya lembut, dikembalikan saja. Jangan diterima. Laporkan ke camat agar diganti oleh Bulog,” katanya.

Dari pantauannya, beras rastra yang telah disalurkan kualitasnya baik. Beras itu merupakan beras panenan tahun ini, atau maksimal enam bulan berada di gudang penyimpanan beras milik Bulog.

“Dibanding tahun sebelumnya, kualitas rastra tahun ini lebih baik. Ini merupakan hasil dari desakan Pemkab Kudus agar Bulog menyalurkan rastra dengan kualitas baik untuk masyarakat di Kudus,” katanya.

Masan berharap beras seharga Rp 1.600 per kilogram yang telah disalurkan, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga penerima. Terlebih saat ini menjelang Lebaran, harga-harga kebutuhan pokok masyarakat mengalami kenaikan.

“Beras rastra ini memang tidak diberikan kepada semua masyarakat. Ada syarat dan kategori penerimanya. Jadi bagi yang tidak menerima, jangan iri. Yang menerima juga tidak usah dipamer-pamerkan,” katanya.

Masan justru berharap warga yang tahun ini mendapat jatah rastra, tahun depan tidak lagi masuk dalam daftar penerima rastra. Itu artinya, tingkat perekonomian warga semakin meningkat.

Pada sidak kemarin, politisi PDI Perjuangan itu juga memberi kejutan kepada warga lanjut usia. Ia meminta sebanyak 12 warga yang usianya paling tua, untuk maju untuk menerima rastra gratis. “Uangnya disimpan saja, Rastranya biar saya yang bayar,” katanya.

Di Kudus, total ada sebanyak 35.166 keluarga penerima rastra. Camat Jekulo Dwi Yusi Sasepti mengatakan, ada sebanyak 4.773 keluarga di Kecamatan Jekulo yang mendapat jatah rastra tahun ini. Jumlah ini mengalami penurunan sebanyak 288 keluarga, dari jumlah tahun lalu sebanyak 5.061 keluarga. Penyaluran rastra kini masih terus berlangsung di sejumlah desa.

Editor: Supriyadi

Ketua DPRD Kudus Dorong Ada Tes Urin Bagi Anggota Dewan

Ketua DPRD Kudus Masan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ketua DPRD Kudus Masan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tertangkapnya Ketua Komisi C DPRD Kudus Agus Imakudin karena kasus narkoba menjadi tamparan tersendiri bagi lembaga legislatif. Terkait penangkapan itu, hingga kini Ketua DPRD Kudus Masan masih enggan untuk berkomentar terkait sikap resmi lembaganya. “Saya no comment dulu lah, nanti saja kalau sudah jelas,” ujarnya.

Meski demikian, dirinya mendorong dan setuju jika ada tes urin bagi anggota dewan secara keseluruhan. Hal itu, untuk melihat secara jelas apakah ada anggota dewan yang memang menggunakan sabu atau tidak. Sehingga, nantinya tidak ada persepsi macam-macam dari masyarakat.

Baca juga : BNNP Masih Gencar Interogasi Agus Imakudin

Namun, untuk melakukan tes urin tersebut, katanya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan harus melalui proses pengusulan anggaran terlebih dahulu. Sebab, tidak mungkin tes urin tersebut harus menggunakan biaya pribadi.

“Saya tidak bisa langsung memerintahkan anggota untuk lakukan tes urin. Saya di sini itu sebagai ketua bukan kepala. Untuk menentukan kebijakan, tentunya harus melakukan musyawarah terlebih dahulu,” ungkapnya.

Baca juga : Ketua Komisi C Ditangkap BNNP, Ketua DPRD Kudus : Kemarin Masih Ikut Paripurna

Editor : Kholistiono

 

Ketua DPRD Kudus: Uang Negara Itu Banyak, Harus Buat Sejahtera Rakyat

 

 Ketua DPRD Kudus Masan bersama Sekda Noor Yasin memberikan bantuan saat tarawih keliling di beberapa wilayah, yang dilakukan saat bulan puasa seperti sekarang ini (Istimewa)


Ketua DPRD Kudus Masan bersama Sekda Noor Yasin memberikan bantuan saat tarawih keliling di beberapa wilayah, yang dilakukan saat bulan puasa seperti sekarang ini (Istimewa)

   MuriaNewsCom, Kudus – Kesiapan pejabat di Kabupaten Kudus untuk maju menjadi calon bupati atau wakil bupati pada pilkada 2018 mendatang, memang semakin terlihat jelas. Salah satunya adalah Ketua DPRD Kudus Masan, yang menyatakan siap maju juga.

Hal itu disampaikan saat taraweh keliling di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, Jumat (10/6/2016). Masan menyatakan, bahwa pihaknya juga siap untuk meneruskan perjuangan Bupati Kudus Musthofa ke depannya. ”Jadi bupati atau wakil bupati, Alhamdulillah. Nggak jadi, ya gak apa-apa,” katanya.

Masan mengatakan,  yang penting menjadi pemimpin itu ada manfaatnya bagi masyarakat. Pemimpin juga berani nekat-nekatan. Pemimpin tidak cukup hanya baik saja.”Saya pertama mencalonkan diri jadi DPRD, saya hanya nekat-nekatan. Alhamdulillah jadi. Yang kedua juga kemudian jadi lagi,” katanya.

Menurut Masan, dirinya didatangi kiai, dan dinasehati mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. ”Kulo diisanjangi pak yai, nek pingin dadi pemimpin dadio wong loma. Wanio janji. Ciri-cirine wong loma kui wani janji, ning ojo ngapusi (saya dinasehati pak yai, kalau ingin jadi pemimpin, jadilah orang yang tidak pelit. Berani berjanji. Ciri-cirinya orang yang tidak pelit itu berani berjani. Tapi jangan menipu, red),” terangnya.

Salah satu yang hendak dibenahi Masan adalah soal jalan. Menurutnya, banyak jalan yang masih rusak di wilayah ini, termasuk jalan yang menjadi kewenangan dari pihak provinsi. ”Nah malam ini, tidak lama masih di 2016 ini, perubahan jalan ini harus menjadi lebih baik. Tidak usah bingung. Negara uangnya banyak, kok bingung,” terangnya.

Dalam sambutannya, Masan juga meminta warga untuk mendukung Bupati Kudus H Musthofa untuk bisa maju menjadi calon gubernur Jawa Tengah. Apalagi, saat ini bupati terus berkeliling di Jawa Tengah, untuk mengerjakan program yang telah disetujui Presiden Joko Widodo.

”Sudah lebih separuh dari Jawa Tengah telah menyetujui MoU dengan Kudus, terkait dengan program Kredit Usaha Produktif (KUP). Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mendoakan dan mendukung program yang telah dilahirkan H Musthofa, agar program tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Sekali lagi, Masan menambahkan jika yang penting menjadi pejabat itu harus ada manfaatnya untuk masyarakat. Dirinya selalu berdoa seperti itu setiap harinya. ”Bisa menjadi pejabat tapi tidak bisa bermanfaat bagi mayarakat, mendingan tidak usah jadi pejabat. Hal itu malah hanya membuat dosa,” imbuhnya.

Editor: Merie

Sekda dan Ketua DPRD Kudus Siap Duet Maju Jadi Calon Bupati dan Wabup

Ketua DPRD Kudus Masan dan Sekretaris Daerah (Sekda) Noor Yasin menghadiri acara taraweh keliling ke beberapa wilayah di Kudus. Dalam kesempatan itu, ditegaskan jika keduanya siap berduet untuk maju di pilkada 2018 mendatang. (Istimewa)

Ketua DPRD Kudus Masan dan Sekretaris Daerah (Sekda) Noor Yasin menghadiri acara taraweh keliling ke beberapa wilayah di Kudus. Dalam kesempatan itu, ditegaskan jika keduanya siap berduet untuk maju di pilkada 2018 mendatang. (Istimewa)

  MuriaNewsCom, Kudus – Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus H Noor Yasin secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon bupati Kudus, pada pemilukada 2018 mendatang.

hal itu disampaikannya, saat melaksanakan program tarawih keliling di Musala An Nur, Keluarahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, Jumat (10/6/2016) malam. Menurut Noor Yasin, apabila memang didukung seluruh warga Kudus, dirinya siap maju jadi calon bupati.

”Apabila bapak atau ibu memberikan doa dan dukungan, serta atas ridho Allah SWT, Insya Allah saya siap bersama-sama dengan teman-teman, untuk meneruskan program Pak Bupati Musthofa,” terangnya.

Yang dimaksud dengan teman-teman oleh Noor Yasin sendiri, salah satunya disebutkan adalah Ketua DPRD Kudus Masan. ”Bersama teman-teman, Pak Masan atau siapa pun itu, saya siap meneruskan program,” jelasnya.

Namun, Noor Yasin juga menjelaskan bahwa pihaknya juga siap untuk mendukung Bupati Musthofa sebagai calon gubernur Jawa Tengah mendatang. ”Dan mari kita dukung supaya Pak Bupati Kudus Musthofa, juga bisa menjadi calon gubernur Jawa Tengah,” ujarnya.

Sedangkan Ketua DPRD Kudus Masan sendiri menyatakan bahwa pihaknya juga siap untuk meneruskan perjuangan bupati Kudus ke depannya. ”Jadi bupati atau wakil bupati, Alhamdulillah. Nggak jadi, ya gak apa-apa,” katanya.

Senada dengan sekda, Masan juga mengajak masyarakat untuk mendukung Bupati Musthofa yang akan mencalonkan gubernur Jawa Tengah. ”Jadi mari bersama-sama mendukung supaya ada putra asli Kudus yang menjadi gubernur. Paling ngak, kalau Pak Mushofa jadi gubernur, maka ngak ada jalan yang jelek,” jelasnya.

Editor: Merie

Ketua DPRD Diwaduli SMP Undaan Kudus Sering Banjir

Ketua DPRD Kudus Masan saat melakukan kunjungan ke SMP 1 Undaan

Ketua DPRD Kudus Masan saat melakukan kunjungan ke SMP 1 Undaan

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Guru dan murid SMP 1 Undaan Kabupaten Kudus sambat karena tak bisa beraktivitas di luar kelas ketika hujan deras turun. Lapangan untuk olahraga maupun upacara yang berada di bagian selatan sekolah kerap banjir, terutama saat turun hujan deras.

Wakil Kepala SMP 1 Undaan Ahmad Khotib mengatakan, pihaknya telah berupaya menangani hal itu. Sekolahnya beberapa kali sudah mengusulkan bantuan pembangunan lapangan indoor.

“Keberadaan lapangan indoor sangat menunjang kegiatan siswa di luar ruang kelas. Kami berharap DPRD Kudus bisa memfasilitasinya,” kata Khotib.

SMP 1 Undaan memiliki sebanyak 714 siswa. Dia menambahkan, sekolanya beberapa tahun terakhir mendapat kucuran anggaran baik dari pemerintah pusat maupun Pemkab Kudus untuk pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas, hingga perbaikan pagar sekolah.

Dari sekian proyek tersebut, hanya pagar sekolah di bagian belakang yang hasilnya kurang memuaskan.

Ketua DPRD Kudus Masan saat meninjau sekolah itu, mengaku sudah sering mendapat usulan untuk membangun lapangan indoor di SMP 1 Undaan. “Karena itu saya datang mengecek langsung kondisi sekolah yang dimaksud,” katanya.

“Kami berharap sekolah segera membuat perencanaan, agar usulan pembangunan lapangan indoor bisa dibahas pada APBD Perubahan 2016 akan segera dibahas dalam waktu dekat ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ketua Dewan Kudus Punya Cerita Menarik soal Pilkades

Ketua DPRD Kudus Masan berbincang dengan CEO MuriaNewsCom dan Koran Muria Deka Hendratmanto, saat berkunjung ke kantor redaksi, Rabu (23/3/2016). (MuiraNewsCom/Akrom Hazami)

Ketua DPRD Kudus Masan berbincang dengan CEO MuriaNewsCom dan Koran Muria Deka Hendratmanto, saat berkunjung ke kantor redaksi, Rabu (23/3/2016). (MuiraNewsCom/Akrom Hazami)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua DPRD Kudus Masan mengunjungi kantor redaksi MuriaNewsCom dan Koran Muria, Rabu (23/3/2016). Satu hal yang menarik adalah bagaimana kisahnya ikut serta dalam dalam proses pemilihan kepala desa (pilkades).

Diterima CEO MuriaNewsCom dan Koran Muria Deka Hendratmanto, Masan bercerita bagaimana dirinya terlibat dalam pilkades di desanya. ”Waktu itu ada pencalonan di desa saya. Sebagai orang yang ikut di dalamnya, saya membutuhkan banyak amunisi untuk bisa menang,” jelasnya.

Nah, dari usulan salah satu tim suksesnya, disarankan supaya pergi ke salah satu kiai yang ada di sebuah daerah. Menurut tim sukses tersebut, jika pergi ke sana, makan akan bisa menang. ”Meski saya tidak percaya, tapi saya ikuti saja kemauan tim sukses saya,” ujarnya.

Di tempat sang kiai, Masan diperlihatkan bagaimana dia bisa memenangkan proses pemilihan. Termasuk melihat bagaimana banyaknya uang yang dimiliki oleh kiai tersebut, yang bisa dijadikan salah satu sarana untuk menang.

”Saya juga diperlihatkan sebuah kamar yang katanya isinya uang semua. Tapi uangnya tidak kelihatan kalau dilihat secara kasat mata. Harus dibuka dulu aura mata saya, supaya bisa melihat. Tapi sekali lagi saya tidak percaya. Malah penasaran ingin melihat apakah memang benar isi kamar itu uang. Hanya saat saya minta izin masuk kamar, tidak diperbolehkan,” paparnya.

Tidak kekurangan akal, Masan kemudian izin ke toilet. Sambil pergi ke belakang itulah, dia menyempatkan diri untuk melihat isi kamar. Yang setelah dibukanya, memang tidak berisi apa-apa.

”Saya semakin tidak percaya. Karena tidak ada isinya. Mungkin karena mata saya belum dibuka auranya itu. Tapi yang membuat saya makin tidak percaya adalah saya disuruh investasi Rp 15 juta, supaya keinginan saya terkabul. Lah, ini bagaimana. Wong saya sedang butuh uang banyak, malah disuruh investasi. Akhirnya ya, batal saya percaya. Balik kanan pulang,” tuturnya.

Masan berkunjung ke kantor redaksi MuriaNewsCom dan Koran Muria hanay sendirian saja. Setelah sebelumnya berkunjung ke SMP 1 Undaan, Kecamatan Undaan, untuk mengecek kondisi sekolah yang sering kebanjiran itu.

Editor: Merie