Keren, Siswa SDN 04 Purwodadi Grobogan Ternyata Pintar Main Ketoprak

Siswa SDN 04 Purwodadi saat beraksi dalam pentas kesenian tradisional ketroprak di aula UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Purwodadi, Rabu (6/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah pentas kesenian tradisional ketroprak cukup istimewa tersaji di aula UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Purwodadi, Rabu (6/12/2017). Dibilang istimewa karena semua pemain dan kru gamelan yang tampil dalam pentas itu bukan orang dewasa seperti biasanya.

Mereka yang tampil dalam pentas ketoprak ini seluruhnya adalah siswa sekolah. Tepatnya, siswa dari SDN 04 Purwodadi, Grobogan. Dalam pentas ketoprak ini mengambil lakon atau cerita “Rebutan Keris Mpu Gandring”. Meski masih anak-anak, namun penampilan yang disuguhkan cukup memukau puluhan penonton.

Para pemain terlihat piawai dalam memainkan adegan demi adegan. Dalam pentas selama hampir dua jam itu tidak terlihat rasa canggung atau rasa malu meski mereka dintonton pegawai dinas pendidikan, wali murid serta teman satu sekolahan.

“Kami sudah mempersiapkan pentas ini dengan serius. Sebelum pentas, anak-anak sudah latihan rutin hampir tiga bulan. Total ada 18 pemain dan 19 kru karawitan yang terlibat dalam pentas ini. Mereka adalah siswa kelas IV dan V,” kata Kepala SDN 04 Purwodadi Widarti.

Ia menyatakan, dalam pentas ketoprak ini sengaja memilik lakon “Rebutan Keris Mpu Gandring”. Lakon ini dipilih untuk menyampaikan satu pesan positif. Yakni, sesuatu hal yang diperoleh dengan cara yang tidak benar maka hasilnya tidak akan bermanfaat.

Dalam lakon tersebut, Tohjoyo merebut tahta dengan cara yang salah. Pada akhirnya, ia harus turun tahta dalam waktu singkat.

Menurut Widarti, pentas ketoprak itu digelar untuk melihat sampai sejauh mana hasil latihan yang dilakukan para siswa. Yakni, siswa yang mengikuti ekstra kurikuler karawitan dan teater. Selain itu, pentas juga dimaksudkan untuk ikut andil melestarikan salah satu kesenian asli Indonesia agar tidak punah tergerus zaman. (NAK)

Editor: Supriyadi

Warga Getassrabi Kudus Rela Tak Tidur Hingga Subuh Demi Lihat Adegan Ini

Aksi para pemain ketoprak saat sesi perang, yang tak hanya menengangkan kadang juga diisi banyolan yang membuat penonton terpingkal-pingkal. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketoprak masih menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu banyak orang di Kabupaten Kudus. Bahkan untuk menyaksikan drama tradisional ini, mereka rela begadang hingga menjelang subuh.

Ini terlihat ketika pertunjukan ketoprak Kridho Caritho asal Pati, dipentaskan di Lapangan Sipengkol, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, Minggu (24-25/9/2017) tadi. Ketoprak memang biasa digelar hingga semalam suntuk.

Pementaan yang dimulai semenjak habis Isya itu, sudah diserbu masyarakat setempat. Tak hanya dari Kecamatan Gebog, masyarakat dari Kecamatan Kaliwungu juga berbondong-bondong untuk menyaksikan.

“Pertunjukan semacam ini sangat jarang, makanya datang untuk menyaksikan. Apalagi ini hiburan yang gratisan,” kata Abdul, warga Getassrabi saat menyaksikan ketoprak.

Warga lain yang juga turut menyaksikan adalah Nasir, warga Kaliwungu. Menurut dia, pertunjukan ketoprak merupakan pertunjukan daerah yang khas dan apik. Untuk itu, saat ada kabar adanya ketoprak dia sering meluangkan waktu guna menyaksikan.

“Sering nonton jika ada pertunjukan ketoprak. Bahkan sampai luar kecamatan juga pasti akan tak datangi untuk menonton,” ungkap dia.

Tak hanya penasaran akan jalannya cerita ketoprak, hal yang paling ditunggu penonton yakni muncul dagelan.  Seperti diungkap M Munir, warga Desa Kaliwungu, Gebog, menurut dia, dalam pertunjukan ketoprak, yang paling ditunggu-tunggu adalah keluarnya pelawak dagelan.

“Biasanya lawakan keluarnya malam, yaitu setelah cerita dari pertunjukan dilaksanakan. Makanya kalau ada ketoprak, biasanya berangkat setelah tengah malam,” terangnya.

Menurut dia, lawakan dianggap lebih menghibur ketimbang cerita  pertunjukan ketoprak, lantaran lebih jelas dan singkat. Lain halnya dengan pertunjukan sendiri, yang memakan waktu  berjam-jam hingga terkadang membuat penonton jenuh.

Selain lawakan, lanjut dia, yang menarik dari pertunjukan juga adanya musiknya. Keberadaan musik dalam ketoprak membuat penonton yang awalnya ngantuk jadi hilang karena adanya musik yang asik.

“Apalagi lagunya banyak layaknya orkes, jadi lebih menarik. Dan jika orkes cenderung ribut, lain halnya dengan musik dalam ketoprak yang lebih damai,” imbuh dia.

Pertunjukan ini juga dihadiri sejumlah tokoh, seperti Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Sri Hartini yang kini maju mencalonkan diri sebagai bakal calon bupati Kudus. Serta Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono, yang maju di bursa Pilgub Jateng.

Sri Hartini menjelaskan, pertunjukan ketoprak tersebut, merupakan kegiatan yang digelar Pemprov Jateng. Kegiatan merupakan wujud dari keinginan masyarakat setempat yang menginginkan adanya hiburan saat dewan mengatakan komunikasi dengan masyarakat.

“Selain itu, ini juga upaya melestarikan budaya daerah yang sudah mulai bergeser dengan budaya asing,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hanya Iuran Rp 1.000, Emak-emak di Runting Pati Berhasil Gelar Ketoprak

Pagelaran seni ketoprak di kawasan Runting Kulon, Tambaharjo, Pati, Sabtu (12/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Emak-emak di Dukuh Runting Kulon, Desa Tambaharjo, Pati, yang tergabung dalam kelompok “Srikandi Runting” menggelar agenda bersih desa dengan menanggap ketoprak, Sabtu (12/8/2017).

Uniknya, pagelaran ketoprak itu diambil dari iuran warga sebesar Rp 1.000 per hari. Dikumpulkan sejak November 2016, uang itu berhasil terkumpul yang digunakan untuk hiburan seni ketoprak.

Ketua Panitia, Muanah mengatakan, ada 70 rumah di wilayah rukun tetangga (RT) 3 yang mengumpulkan dana tersebut. Dari 70 rumah, hanya 40 rumah yang aktif secara rutin menyumbangkan Rp 1.000 setiap hari.

“Ada 40 rumah yang rutin iuran, sedangkan 30 lainnya terkadang mau, terkadang tidak. Kita tidak membebani, karena niatnya untuk hiburan seni bersama saat sedekah bumi bersih desa berlangsung,” kata Muanah.

Yang lebih menarik, semua panitia ternyata dari kalangan ibu-ibu. Mereka bahu-membahu dari menghimpun dana Rp 1.000 setiap hari untuk dikumpulkan ke bank hingga pelaksanaan agenda ketoprak.

Mereka mengenakan seragam berlogo “Srikandi Runting Kulon” saat pementasan ketoprak berlangsung. Sementara untuk konsumsi makanan dan air minum, mereka meminta bantuan dari warga RT 1,2, 3, dan 4.

“Acara ini dilaksanakan secara mandiri dari ibu-ibu secara gotong-royong. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak pemerintah desa,” imbuhnya.

Adapun lakon ketoprak yang dipilih mengambil tema “Joko Tani”. Selain menghibur masyarakat, pilihan tema itu diharapkan bisa mengembalikan semangat para pemuda modern untuk bertani.

 

Editor : Akrom Hazami

Ketoprak Kancil Arum Joyo Pati Ramaikan Sedekah Bumi Sidorekso Kaliwungu Kudus

Suasana kegiatan kegiatan Sedekah Bumi/Apitan bertajuk Sidorekso Mantu, di lapangan SDN 1 Sidorekso, Sabtu (5/8/2017). (Pemdes Sidorekso)

MuriaNewsCom, Kudus – Karang Taruna Bahurekso, Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, akan menggelar kegiatan Sedekah Bumi/Apitan bertajuk Sidorekso Mantu, di lapangan SDN 1 Sidorekso, Sabtu (5/8/2017) mulai siang ini hingga malam hari.

Ketua Karang Taruna Bahurekso, Desa Sidorekso Siswanto, mengatakan kegiatan Apitan adalah rutin tiap tahun. Tujuannya untuk melestarikan budaya  yang sudah ada di desa ini. “Tujuannya meneruskan kebudayaan. Nguri-uri kebudayaan,” kata Siswanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu siang.

Pada Sabtu siang ini, acara dimulai yakni perhelatan seni ketoprak. Yaitu mulai sekitar pukul 13.00 WIB-17.00 WIB. Kemudian, malam harinya kegiatan akan dilanjutkan kembali.

Suasana kegiatan kegiatan Sedekah Bumi/Apitan bertajuk Sidorekso Mantu, di lapangan SDN 1 Sidorekso, Sabtu (5/8/2017). (Pemdes Sidorekso)

 

Pantauannya di lokasi siang ini, kemeriahan sudah tampak. Warga telah berbondong-bondong ke lokasi. Sementara para penjual juga telah berjajar sesak di tepi jalan.

Editor : Akrom Hazami