Bikin Ribet, Warga Minta Penutupan Jalan di Desa Sambung Grobogan Dibongkar

MuriaNewsCom, GroboganDampak penutupan perlintasan sebidang di Desa Sambung, Kecamatan Godong sejak empat hari lalu makin dirasakan warga sekitar. Ini lantaran, penutupan perlintasan yang menyebabkan aktivitas warga menjadi terhambat.

“Waduh, jalannya kok dipasangi portal. Saya harus lewat mana, ya?” tanya Setyowati, warga dari Kecamatan Gubug yang hendak ke Puskesmas Godong II, Kamis (29/3/2018).

Puskesmas yang dituju pengendara motor itu berada di Desa Sambung. Jaraknya sekitar dua kilometer ke arah utara dari jalan yang ditutup pilar besi itu.

Sejumlah warga dari luar Desa Sambung juga masih banyak yang kecele saat lewat di situ. Soalnya, mereka tidak tahu kalau perlintasan sebidang yang dilewati jalur kereta api tersebut sudah ditutup.

Lantaran jalan tertutup, warga harus menempuh jalur lain menyusuri jalan kampung hingga sampai jalan raya. Namun, kondisi jalan kampung ini relatif sempit dibandingkan ruas jalan yang ditutu. Hal ini cukup menyulitkan bagi warga yang menggunakan kendaran roda empat atau lebih.

Terkait dengan kondisi tersebut, warga meminta agar penutupan jalan dibatalkan dan pilar besi yang sudah terpasang dicabut lagi. Selain aktivitas warga terganggu, ruas jalan yang ada perlintasan sebidangnya tersebut statusnya adalah milik kabupaten yang kondisi jalannya sudah dicor dan lebar.

Baca Juga:

“Saya heran kok yang ditutup malah ruas jalan kabupaten. Di beberapa desa lainnya, perlintasan sebidang yang ditutup adalah jalan kecil atau jalan milik desa. Saya harap, jalan ini bisa diaktifkan lagi karena ada ratusan orang yang lewat tiap hari dari berbagai kecamatan,” cetus Ansori, warga setempat.

Posisi jalan di Desa Sambung ini memang sangat strategis. Jika menyusuri jalan ini ke arah utara sepanjang 5 km dari titik penutupan, akan menembus jalan raya Purwodadi-Semarang. Sedangkan 200 meter arah selatan akan bertemu dengan jalan raya Penawangan-Gubug yang biasanya dijadikan jalan alternatif jika jalur Purwodadi-Semarang terjadi kemacetan atau lonjakan kendaraan.

Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto saat dimintai komentarnya menyatakan, kewenangan penutupan jalan ada pada Kementerian Perhubungan. Pihaknya, tidak mendapat pemberitahuan saat dilakukan penutupan.

Penutupan perlintasan sebidang pada ruas jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong memang sudah jadi usulan pihak desa setempat. Jumlah perlintasan di Desa Sambung ada dua titik. Yakni, pada KM 39 dan KM 42.

“Dari data yang kita miliki, untuk perlintasan yang diusulkan ditutup oleh pihak desa adalah di titik KM 39. Sedangkan yang tetap dibuka di titik KM 42,” jelasnya.

Terkait usulan warga agar perlintasan sebidang itu dibuka lagi, Agung menegaskan, pihaknya akan menampung aspirasi tersebut. Ia menegaskan, pada tanggal 6 April mendatang kebetulan ada undangan rapat di Daop 4 Semarang.

“Nanti saya akan coba komunikasikan terkait penutupan perlintasan sebidang dalam kesempatan itu. Untuk ruas jalan yang ditutup memang statusnya milik kabupaten,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Begini Penjelasan Dishub Grobogan Terkait Penutupan Perlintasan Kereta Api di Desa Sambung

MuriaNewsCom, GroboganPenutupan perlintasan jalur kereta api di wilayah Grobogan saat ini sudah dilakukan pihak Kementerian Perhubungan. Penutupan tersebut dilakukan guna mengurangi angka kecelakaan yang melibatkan kereta api.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto, Rabu (28/3/2018). Menurutnya, sebelum melakukan penutupan, dari Kementerian Perhubungan sudah melakukan beberapa kali sosialisasi pada tahun 2017.

Sosialisasi penutupan perlintasan sebidang dilangsungkan di 12 kecamatan. Dalam sosialisasi tersebut, pihak kementerian juga melibatkan Dinas Perhubungan, kepolisian, dan kecamatan.

Baca: Perlintasan Sebidang di Desa Sambung Grobogan Ditutup, Akses Warga Terganggu

Dalam sosialisasi itu, lanjutnya, pihak desa juga diminta untuk mendata perlintasan yang ada di wilayahnya masing-masing. Dari data itu, pihak desa diberi pilihan untuk menentukan perlintasan yang tetap dibuka dan ditutup. Tenggat waktu untuk memberikan keputusan sampai akhir tahun 2017.

“Penutupan perlintasan sebidang dilakukan setelah hasil pendataan dari desa diserahkan ke Kementrian Perhubungan. Penutupan ini salah satu tujuannya untuk mengurangi angka kecelakaan yang melibatkan kereta api,” jelas mantan kabag humas itu.

Agung menegaskan, jika perlintasan nanti ditutup diharapkan warga bisa beralih melewati jalur lain. Sementara jika menghendaki tetap dibuka maka konsekuensinya harus dipasang palang pintu dan diberi penjaga secara swadaya.

“Semua keputusan kami serahkan ke pihak desa untuk menentukan pilihan,” jelasnya.

Kemudian, pada bulan Januari lalu ada rakor tindak lanjut penataan perlintasan sebidang di gedung Riptaloka, Setda Grobogan. Rakor ini digelar untuk menyingkronkan lagi usulan dari pihak desa.

Terkait penutupan perlintasan sebidang pada ruas jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong memang sudah jadi usulan pihak desa setempat. Jumlah perlintasan di Desa Sambung ada dua titik. Yakni, pada KM 39 dan KM 42.

“Dari data yang kita miliki, untuk perlintasan yang diusulkan ditutup oleh pihak desa adalah di titik KM 39. Sedangkan yang tetap dibuka di titik KM 42,” jelasnya.

Soal adanya penutupan yang sudah dilakukan, Agung menyatakan, pihaknya tidak mendapat pemberitahuan. Soalnya, kewenangan penutupan ada pada Kementerian Perhubungan.

“Besok, kami akan coba cek ke lokasi. Kalau sesuai usulan, memang ada satu perlintasan sebidang yang ditutup disana,” sambungnya.

Ditambahkan, sejauh ini masih ada banyak perlintasan kereta yang tidak berpintu dan ada penjaganya. Dari pendataan yang dilakukan, jumlah perlintasan keseluruhan ada 139 titik.

Perlintasan ini terbentang dari arah barat ke timur. Mulai Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug, Godong, Karangrayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Pulokulon, Geyer, Kradenan, dan Gabus. Dari 139 titik ini, sebagian besar tidak dilengkapi palang pintu atau dijaga petugas.

Editor: Supriyadi

Perlintasan Sebidang di Desa Sambung Grobogan Ditutup, Akses Warga Terganggu

MuriaNewsCom, GroboganTindakan penutupan perlintasan sebidang di wilayah Grobogan yang dilewati jalur kereta api mulai dilakukan instansi terkait. Salah satunya adalah perlintasan sebidang pada ruas jalan di Desa Sambung, Kecamatan Godong.

Penutupan dilakukan dengan menempatkan beberapa pilar besi membentang lebar jalan pada kedua sisi. Akibatnya, akses warga sedikit terganggu.

Itu terjadi lantaran, jalan tersebut selama ini dilalui banyak kendaraan karena menjadi akses penghubung antar desa maupun kecamatan. Yakni, dari wilayah Kecamatan Godong ke Karangrayung, Penawangan dan Gubug.

Dari keterangan warga, penutupan jalan mulai Senin (26/3/2018) kemarin. Ruas jalan yang sebagian besar sudah konstruksi beton ini statusnya milik kabupaten.

Jika menyusuri jalan ini ke arah utara sepanjang 5 km akan menembus jalan raya Purwodadi-Semarang. Sedangkan 200 meter arah selatan akan bertemu dengan jalan raya Penawangan-Gubug yang biasanya dijadikan jalan alternatif jika jalur Purwodadi-Semarang terjadi kemacetan atau lonjakan kendaraan.

Sebagian pengguna jalan sempat kerepotan karena tidak tahu jika perlintasan sebidang itu ditutup. Akhirnya, mereka harus putar balik dan mencari jalan lain melewati  perkampungan untuk menembus jalur Purwodadi-Semarang atau Penawangan-Gubug. Akses jalan inilah yang sekarang digunakan warga pasca penutupan perlintasan sebidang tersebut.

Kroger $5000 Gift Cards to win free at www.krogerfeedback.com

“Hari Senin kemarin saya sempat lewat jalur situ karena mau ke Gubug. Sampai diperlintasan ternyata ditutup dan akhirnya putar balik lewat jalur lain yang menembus jalan Penawangan-Gubug. Soal ditutupnya perlintasan itu, saya belum tahu persis sebabnya. Bisa jadi itu upaya untuk mencegah kecelakaan,” kata anggota DPRD Grobogan HM Misbah, Rabu (28/3/2018).

Dampak penutupan mulai dirasakan warga dan pengguna jalan. Soalnya, jalur tersebut sudah dilewati selama puluhan tahun oleh banyak orang. Termasuk para pelajar dan petani.

Camat Godong Bambang Haryono ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya penutupan perlintasan sebidang tersebut. Menurutnya, jumlah perlintasan sebidang di Desa Sambung ada dua titik. Namun, yang ditutup hanya satu titik saja.

Editor: Supriyadi

Personel Basarnas Pos Jepara Bantu Pencarian Korban Kereta Api yang Terpental ke Sungai

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya pencarian orang tertabrak kereta api di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Grobogan, mendapat tambahan personil dari Basarnas Pos Jepara. Dua anggota Basarnas yang datang dengan mobil operasional dilengkapi perahu karet tiba di kantor BPBD Grobogan, Senin (12/3/2018) siang. Setelah itu, mereka berangkat ke lokasi kejadian bersama personil dari BPBD Grobogan.

Kasi Kedaruratan BPBD Grobogan Masrichan menyatakan, pihaknya memang meminta bantuan Basarnas Pos Jepara untuk membantu mencari keberadaan Mbah Manem,  warga Monggot yang dilaporkan tertabrak kereta api hingga terpental di sungai. Sebelumnya, upaya pencarian juga sudah dilakukan bersama anggota Polsek dan Koramil Toroh dibantu masyarakat serta relawan.

Menurut Masrichan, sebelumnya sudah ada tim dari Basarnas Pos Jepara yang datang ke Grobogan. Tujuannya, untuk mendukung pencarian warga Desa Klitikan, Kecamatan Kedungjati yang dua hari lalu dilaporkan hanyut di sungai Tuntang.

“Sejak pagi tadi, tim SAR gabungan sudah melakukan pencarian orang hanyut di Sungai Tuntang. Kemudian, ada lagi laporan orang hanyut disungai akibat tertabrak kereta di Desa Monggot. Jadi, hari ini kita lakukan operasi pada dua lokasi berbeda,” jelasnya.

Seperti diberitakan, peristiwa yang menimpa nenek berusia 78 tahun itu terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, korban hendak menuju pasar desa dengan berjalan kaki untuk belanja sayuran seperti biasanya.

Saat sampai di jembatan rel yang membentang diatas sungai, ada kereta api Kalijaga jurusan Solo-Semarang yang melintas dari arah selatan. Melihat ada kereta, korban sempat berhenti menunggu kereta lewat.

Sayangnya, posisi korban berhenti masih dekat dengan jalur kereta. Akibatnya, tubuh korban masih sempat tersambar bodi kereta api dan terpental hingga kecebur sungai. Beberapa barang bawaan korban, termasuk KTP dan kartu BPJS sempat ditemukan di dekat lokasi kejadian.

Editor: Supriyadi

Cegah Longsor Lagi, Talud Penahan Rel di Ledokdawan Grobogan Diperkuat

MuriaNewsCom, GroboganJalur kereta api jurusan Solo-Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer memang sudah dinyatakan normal sejak Rabu (21/2/2018) malam. Meski demikian, hingga siang ini, masih ada puluhan pekerja yang melakukan aktivitas di lokasi talud longsor di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, meski jalur sudah normal, namun proses perbaikan talud longsor masih belum sempurna. Pihaknya masih perlu melakukan perbaikan lanjutan pada titik longsor di KM 61+7/8 tersebut.

“Hari ini masih ada perbaikan lanjutan dilokasi yang longsor. Perbaikan lanjutan melibatkan 80 petugas pemeliharaan jalan rel serta alat berat,” jelasnya, Kamis (22/2/2018).

Perbaikan longsoran sudah selesai pada Rabu malam dan pada pukul 20.45 WIB, jalur tersebut sudah dinyatakan normal dan bisa dilalui kereta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

Ia menyatakan, untuk mencegah terjadinya longsor lagi di lokasi tersebut akan dilakukan beberapa langkah penanganan lebih lanjut. Yakni, melakukan penguatan lebih lanjut pada turap penahan tebing pada bagian pinggiran tubuh badan rel.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pemasangan cross drainase dengan pipa PVC ukuran 10 inchi pada jalur rel sepanjang 600 meter. Pipa dipasang tiap jarak 5 meter.

Kemudian, langkah lainnya adalah meninggikan jalur rel dilokasi tersebut agar lebih stabil, dengan penambahan batu kricak.

Seperti diberitakan, talur penahan rel kereta di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, sempat longsor pada Sabtu (17/2/2018) lalu. Setelah diperbaiki, jalur tersebut sudah normal dua hari berikutnya.

Kemudian, talud yang sudah diperbaiki itu kembali longsor pada Rabu dinihari kemarin. Longsornya talud terjadi akibat guyuran hujan deras hampir semalaman. Kondisi tanah yang belum padat sempurna menjadikan talud longsor tergerus hujan dan aliran sungai di sebelah utara jalur kereta.

Editor: Supriyadi

Longsor di Ledokdawan Grobogan Selesai, Jalur Kereta Api Solo-Semarang Kembali Normal

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses perbaikan talud longsor untuk kedua kalinya di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer akhirnya rampung. Kondisi ini menjadikan perjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer kembali normal.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, perbaikan longsoran sudah selesai pada Rabu (21/2/2018) malam. Kemudian, pada pukul 20.45 WIB, jalur tersebut sudah dinyatakan normal dan bisa dilalui kereta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

”Jalurnya sudah normal mulai tadi malam. Namun, kecepatan kereta masih dibatasi sampai kondisi tanah stabil,” jelasnya, Kamis (22/2/2018).

Menurut Suprapto, longsornya talud memang sempat menyebabkan perjalanan kereta sedikit terganggu. Untuk langkah antisipasi, rute kereta terpaksa dialihkan. Yakni, dari Solo Balapan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol menjadi Solo Balapan-Gundih-Gambringan-Ngrombo-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol.

Seperti diberitakan, talur penahan rel kereta di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, sempat longsor pada Sabtu (17/2/2018) lalu. Setelah diperbaiki, jalur tersebut sudah normal dua hari berikutnya.

Kemudian, talud yang sudah diperbaiki itu kembali longsor pada Rabu dinihari kemarin. Longsornya talud terjadi akibat guyuran hujan deras hampir semalaman. Kondisi tanah yang belum padat sempurna menjadikan talud longsor tergerus hujan dan aliran sungai di sebelah utara jalur kereta.

Editor: Supriyadi

Diguyur Hujan Deras, Talud Rel Kereta Api di Ledokdawan Grobogan Kembali Longsor

MuriaNewsCom, GroboganPerjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer dan Stasiun Karangsono, Kecamatan Karangrayung kembali mengalami gangguan. Hal ini terjadi akibat adanya talud jalur rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Rabu (21/2/2018).

Empat hari lalu, lokasi talud tersebut sudah sempat longsor. Namun, pada Senin kemarin, proses perbaikan talud sudah selesai dan kereta sudah bisa berjalan normal melalui jalur tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 06.00 WIB. Selain talud, tebing disebelah selatan rel juga longsor dan runtuhan tanah sempat menutup jalur kereta.

Berdasarkan keterangan warga, longsor lagi talud tersebut kemungkinan besar disebabkan adanya guyuran hujan deras hampir semalaman. Saat hujan deras, kondisi sungai di sebelah utara rel penuh air sehingga menggerus tumpukan karung penahan talud yang baru dipasang beberapa hari sebelumnya.

“Tadi malam memang hujan deras sekali. Bisa jadi, talud yang baru diperbaiki longsor lagi terkikis air karena kondisi tanahnya belum padat betul,” kata beberapa warga setempat.

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, longsor hanya terjadi pada talud penahan rel. Sedangkan kondisi rel atau jalur keretanya masih utuh.

Saat ini proses perbaikan talud sudah dilakukan. Untuk sementara perjalanan kereta pada pagi tadi dialihkan lewat Stasiun Gambringan dan Ngrombo. “Tadi pagi, perjalanan kereta api Kalijaga kita alihkan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Perbaikan Longsor Rampung, Perjalanan Kereta Api Solo-Semarang Kembali Normal

MuriaNewsCom, GroboganProses perbaikan talud longsor di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer akhirnya rampung. Kondisi ini menjadikan perjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer kembali normal mulai hari ini, Senin (19/2/2018).

Sebelumnya, perjalanan kereta sempat dialihkan melalui Stasiun Ngrombo dan Gambringan di Kecamatan Toroh. Pengalihan jalur dilakukan menyusul adanya talud rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Sabtu (17/2/2018).

Manager Humas PT KAI Daop 4 Semarang Suprapto menyatakan, perbaikan longsoran sudah selesai pada Minggu (18/2/2018) malam. Kemudian, pada malam itu juga ada kereta yang melintasi jalur tersebut pada pukul 19.35 WIB.

Yakni, KA 175 atau KA Brantas relasi Blitar-Jakarta. Meski bisa dilalui, namun kecepatan kereta masih dibatasi sekitar 5 km/jam ketika melintasi di lokasi longsor.

”Jalurnya sudah normal mulai tadi malam. Namun, kecepatan kereta masih dibatasi sampai kondisi tanah stabil,” jelasnya.

Menurut Suprapto, longsornya talud memang sempat menyebabkan perjalanan kereta sedikit terganggu. Untuk langkah antisipasi, rute kereta terpaksa dialihkan. Yakni, dari Solo Balapan-Gundih-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol menjadi Solo Balapan-Gundih-Gambringan-Ngrombo-Kedungjati-Brumbung-Semarang Poncol.

”Selama dua hari, kita bikin rekayasa pengalihan jalur kereta setelah ada musibah longsor. Kondisi itu mengakibatkan adanya keterlambatan kereta hingga 1 jam dan kami sudah menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan dan ketidaknyamanan yang terjadi akibat adanya musibah longsor kemarin,” ujarnya.

Seperti diberitakan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat talud yang longsor tersebut, tanah dibawah bantalan rel tergerus sehingga tidak mungkin dilalui kereta. Dilihat dari samping, rel kereta tampak seperti jembatan karena tanah dibawahnya ambrol.

Talud yang longsor tersebut berada dipinggir tikungan sungai. Panjang longsoran mencapai 30 meter, kedalaman 2 meter dan lebar hingga pinggir sungai mencapai 10 meter.

Longsornya talud diketahui salah seorang warga yang lewat jalan setapak disisi selatan rel. Sesampai di lokasi, warga tersebut melihat talud rel longsor.

Kejadian itu kemudian segera dilaporkan pada warga setempat yang bekerja jadi pegawai PT KAI. Selanjutnya, informasi itu secepatnya diteruskan ke Stasiun Gundih dan pihak terkait lainnya.

Editor: Supriyadi

Terkikis Air Sungai, Talud Rel Kereta Api di Ledokdawan Grobogan Longsor

MuriaNewsCom, GroboganPerjalanan kereta api dari Solo menuju Semarang melalui Stasiun Gundih, Kecamatan Geyer dan Stasiun Karangsono, Kecamatan Karangrayung terpaksa mengalami gangguan. Hal ini terjadi akibat adanya talud jalur rel kereta api yang longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Sabtu (17/2/2018).

Informasi yang dihimpun dari lokasi menyebutkan, longsornya talud itu diketahui sekitar pukul 05.00 WIB. Akibat talud yang longsor tersebut, tanah di bawah bantalan rel tergerus sehingga tidak mungkin dilalui kereta. Dilihat dari samping, rel kereta tampak seperti jembatan karena tanah dibawahnya ambrol.

Talud yang longsor tersebut berada dipinggir tikungan sungai. Panjang longsoran mencapai 30 meter, kedalaman 2 meter dan lebar hingga pinggir sungai mencapai 10 meter.

Para pekerja memeriksar rel kereta api yang terkena dampak longsor di titik KM 61+7/8 di Dusun Bayo, Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, Sabtu (17/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

“Longsornya diketahui sehabis Subuh. Sejak beberapa hari terakhir memang hujan deras dan kondisi sungai penuh air,” ujar Kades Ledokdawan Budiyono di lokasi longsor.

Menurutnya, longsornya talud diketahui salah seorang warga yang lewat jalan setapak disisi selatan rel. Sesampai di lokasi, warga tersebut melihat talud rel longsor.

Kejadian itu kemudian segera dilaporkan pada warga setempat yang bekerja jadi pegawai PT KAI. Selanjutnya, informasi itu secepatnya diteruskan ke Stasiun Gundih dan pihak terkait lainnya.

“Saya bersyukur sekali, peristiwa talud longsor cepat diketahui warga. Soalnya, sekitar pukul 06.15 WIB biasanya ada kereta penumpang yang lewat jalur itu,” katanya.

Tidak lama setelah laporan diterima, puluhan petugas dari PT KAI sudah datang ke lokasi untuk melakukan penanganan longsor. Tampak pula di lokasi, Kapolsek Geyer AKP Sunaryo dan sejumlah anggotanya. Melihat parahnya longsoran, proses penanganan diperkirakan memakan waktu 2-3 hari.

Editor: Supriyadi

Kapolres Pastikan Jalur Rel Kereta Api di Grobogan Aman Jelang Natal dan Tahun Baru

Sejumlah personil dari Polres Grobogan bersama petugas Stasiun Ngrombo mengecek kondisi rel kereta, Rabu (20/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jalur rel yang melintas di Kabupaten Grobogan dinilai siap dan aman untuk dilalui kereta (KA) pada arus mudik pada momen natal dan tahun baru nanti.

Hal itu disampaikan Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano usai melakukan pengecekan jalur KA bersama jajaran dan petugas Stasiun  Ngrombo di Kecamatan Toroh, Rabu (20/12/2017).

Kapolres juga berkoordinasi dengan kepala masing-masing stasiun terkait rencana pengamanan. Selain jajaran kepolisian, beberapa instansi terkait lainnya juga akan dilibatkan dalam pengamanan Natal dan tahun baru 2018.

“Dari hasil pengecekan dilapangan, kami menyimpulkan bahwa jalur kereta api di Kabupaten Grobogan dalam kondisi aman,” tegasnya.

Kaur Bin Ops Sat Sabhara Ipda Mujiyadari menambahkan, jalur kereta yang melewati Stasiun Ngrombo perlu mendapat perhatian lebih. Soalnya, jalur itu merupakan akses utama kereta tujuan Surabaya-Jakarta dan sebaliknya.

“Jalur ini sangat padat sehingga perlu mendapat perhatian lebih intensif. Selain kereta penumpang, banyak juga kereta barang yang melewati Stasiun Ngrombo baik dari arah Jakarta maupun Surabaya,” katanya.

Ia menambahkan, selain menyisir rel dan bantalan sejauh beberapa kilometer, pihaknya juga mengecek sarana pendukung yang ada di komplek stasiun. Dari pengecekan tidak ditemukan hal-hal yang membahayakan.

Editor: Supriyadi

Rawan Kecelakaan, Warga Desak Pemasangan Palang di Perlintasan Desa Sedadi Grobogan

Perlintasan kereta api di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan belum dilengkapi palang pintu dan penjaga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSejumlah warga meminta agar perlintasan kereta di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan segera dibuatkan palang perlintasan kereta api. Langkah itu diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan di kemudian hari.

Sebelumnya, usulan untuk pembuatan palang pintu di perlintasan tersebut sudah sering dikemukakan. Namun, sampai saat ini, pembuatan palang pintu belum kunjung direalisasikan.

Dari keterangan warga, selama ini sudah beberapa kali terjadi kecelakaan antara kendaraan bermotor dengan kereta. Kecelakaan terbaru menimpa truk molen yang terjadi Selasa (12/12/2017) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Beruntung, dalam kejadian ini, sopir truk hanya mengalami luka ringan meski kendaraannya ringsek.

Sekitar tiga bulan sebelumnya, peristiwa kecelakaan juga terjadi di lokasi yang sama. Terakhir, adalah tertabraknya mobil Xenia oleh kereta barang, Kamis (21/9/2017) sekitar pukul 06.40 WIB.

”Perlintasan di sini memang rawan kecelakaan. Peristiwa kecelakaan sudah beberapa kali terjadi. Tapi, setahu saya, kecelakaan di sini belum pernah menimbulkan korban jiwa,” cetus Budiyono, warga setempat.

Menurut warga, belum dipasangnya palang pintu di lokasi itu juga dinilai cukup mengherankan. Alasannya, jalan raya yang dilalui perlintasan itu statusnya milik kabupaten dan arus lalu lintasnya cukup padat karena jadi akses antar kecamatan.

Selain itu, perlintasan yang berada di sebelah barat sungai Serang tersebut juga dekat dengan Stasiun Sedadi. Jarak perlintasan dengan kantor stasiun hanya sekitar 300 meter saja. Dengan kondisi itu, pemasangan palang pintu harusnya jadi skala prioritas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Grobogan Agung Sutanto menyatakan, sejauh ini memang masih ada banyak perlintasan kereta yang tidak berpintu dan ada penjaganya. Dari pendataan yang dilakukan, jumlah perlintasan  keseluruhan ada 139 titik. 

Perlintasan ini terbentang dari arah barat ke timur. Mulai Kecamatan Tegowanu, Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug, Godong, Karangrayung, Penawangan, Purwodadi, Toroh, Pulokulon, Geyer, Kradenan, dan Gabus.

Dari 138 titik ini, baru 13 titik perlintasan yang dilengkapi pintu atau dijaga petugas. Sementara titik perlintasan lainnya belum ada pintu maupun penjaganya. Beberapa perlintasan  yang arus lalu lintasnya cukup ramai biasanya ada penjaga swadaya.

Menurut Agung, selain memasang rambu peringatan, Pemkab Grobogan juga mengajukan bantuan pembuatan palang pintu perlintasan sebidang kereta pada pihak Kementrian Perhubungan. Permintaan bantuan disebabkan belum adanya biaya dari dinasnya untuk membangun palang pintu. Bantuan pembuatan palang pintu diajukan untuk 11 titik.

“Surat permohonan bantuan ditandatangani bupati dan sudah kita kirimkan akhir Mei lalu. Totalnya permohonan bantuan ada 11 titik perlintasan sebidang yang tersebar di beberapa kecamatan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Truk Molen Hancur Diterjang Kereta Api di Perlintasan Tanpa Palang Dekat Stasiun Sedadi

Polisi menunjukkan truk molen yang ringsek setelah tertabrak kereta api di perlintasan tanpa palang pintu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kecelakaan kembali terjadi di perlintasan tanpa palang pintu di Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, Grobogan Selasa (12/12/2017) malam. Sebuah truk molen pengangkut material cor beton disambar kereta api sekitar pukul 22.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, truk warna putih dengan nopol Z 9727 AA saat itu melaju dari arah selatan. Sebelumnya, truk sempat mengirim material untuk pengecoran jalan di Desa Sedadi.

Sesampai perlintasan tanpa palang pintu di sebelah timur Stasiun Sedadi, truk langsung saja melaju. Padahal pada saat bersamaan ada kereta api penumpang Kertajaya yang melaju dari arah barat (Jakarta) menuju Surabaya.

Lantaran jarak sudah dekat, tabrakan tidak bisa dihindari. Beruntung, saat itu hanya sebagian bodi depan kendaraan yang masuk ke pinggir rel kereta.

Akibat tabrakan tersebut bodi depan truk rusak parah. Sedangkan sopir truk sempat tergencet bodi kendaraan yang ringsek disambar kereta.

Puluhan warga yang ada di sekitar lokasi, langsung berhamburan untuk memberikan pertolongan. Sopir truk bernama Ade Jumena (50), warga Sukabumi, Jabar, akhirnya bisa dievakuasi dari dalam kendaraan.

Selanjutnya sopir dilarikan ke Klinik Sedadi Husada yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian.

“Kemungkinan sopirnya kurang waspada saat lewat perlintasan tanpa palang pintu. Di lokasi ini sudah beberapa kali terjadi kecelakaan,” kata Sutrimo, warga setempat.

Sementara itu, Kapolsek Penawangan AKP Wakijo ketika dimintai komentarnya menyatakan, dalam peristiwa itu, sopir truk hanya menderita luka ringan saja. Meski demikian, bodi depan kendaraan mengalami kerusakan cukup parah.

“Sopirnya cuma luka ringan saja. Ini masih kita lakukan penyelidikan lebih lanjut,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Proyek KA Kedungjati-Tuntang yang Mangkrak Harus Segera Dilanjutkan

Ilustrasi pekerja tengah membangun jalur rel baru.  (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah didesak untuk segera melanjutkan proyek reaktiviasi jalur rel kereta api Kedungjati-Tuntang yang mangkrak sejak 2015 lalu. Terlebih jalur tersebut dinilai sangat strategis untuk pengembangan kawasan wisata Borobudur.

Desakan ini dikatakan pengamat transportasi dari Universitas Katholik Soegijapranata Semarang, Dojoko Setidjowarno. Menurut dia, pemerintah yang saat ini tengah gencar melakukan pembangunan jalur ganda KA Bogor Sukabumi, seharusnya diimbangi dengan jalur KA Kedungjati-Tuntang, Semarang, Jawa Tengah.

“Sementara di Jawa Tengah telah lama dilakukan reaktivasi jalur Kedungjati-Tuntang sepanjang 30 kilometer yang hingga sekarang tidak jelas kelanjutannya alias mangkrak,” katanya dikutip dari Antara.

Menurut Djoko, Jalur Kedungjati-Tuntang sangat strategis untuk pengembangan Kawasan Wisata Borobudur. Ia menyebut, karena jalur KA tidak kunjung terbangun, akhirnya diputuskan bangun Tol Bawean-Yogyakarta dan dimasukkam dalam Proyek Strategis Nasional.

Dia menilai, jalan tol dibangun pada koridor tertentu untuk tujuan industrialisasi. Namun pada koridor tertentu punya potensi tertentu lain,seperti pariwisata yang akan lebih terdongkrak dengan hadirnya kereta api.

”Apalagi jalur KA antara Tuntang-Ambarawa-Secang-Magelang-Yogya masih tersedia. Hanya saja sekarang sebagian ditempati warga,” ujarnya.

Djoko menyebutkan, investasi membangun tol tersebut butuh sekitar Rp 10,8 triliun. Sementara untuk aktifkan jalur KA sepanjang 121 kilometer memerlukan sekitar Rp 4,8 trilun atau setengah dari biaya tol.

Dia berpendapat, membangun rel ganda Bogor-Sukabumi lebih tinggi nilai politisnya, sementara mengaktifkan jalur rel Kedungjati-Tuntanghingga Yogyakarta dapat menyelamatkan lingkungan.

“Walau sebenarnya dengan jalur yang belum ganda sekarang masih mencukupi untuk mobilitas warga Sukabumi ke Bogor atau sebaliknya, dan lagi sebentar lagi akan beroperasi Tol Bogor-Sukabumi yang akan menambah kapasitas prasarana,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Rail Clinic, Kereta Api Bak Puskesmas Dinikmati Warga Kedungjati Grobogan

Warga sekitar Stasiun Kedungjati memanfaatkan pelayanan kereta kesehatan (Rail Clinic) di Stasiun Kedungjati, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga sekitar Stasiun Kedungjati memanfaatkan pelayanan kereta kesehatan (Rail Clinic) di Stasiun Kedungjati, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan warga yang tinggal di sekitar Stasiun Kedungjati di Kecamatan Kedungjati, Grobogan, Selasa (10/5/2016) memanfaatkan layanan kesehatan gratis melalui kereta kesehatan atau rail clinic milik PT KAI.

Kereta kesehatan yang memiliki rangkaian dua gerbong tersebut baru pertama kalinya memberikan layanan kesehatan di wilayah Kedungjati.

“Dalam rangka program BUMN hadir untuk negeri, PT KAI memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Pelayanan kesehatan di Stasiun Kedungjati ini merupakan lokasi kelima kegiatan rail clinic,” ungkap Kepala PT KAI Daerah Oprasional (Daop) IV Semarang Andika Tri Putranto melalui Manajer Humas PT KAI Daop IV Semarang Gatut Sutyatmoko.

Menurutnya, dengan kereta kesehatan tersebut, pihaknya mengadakan pengobatan dan penyuluhan kesehatan secara gratis. Pembuatan kereta kesehatan tersebut dilatarbelakangi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya di bidang kesehatan dengan memanfaatkan jalur kereta api sehingga dapat menembus daerah yang sulit dilalui oleh kendaran bermotor.

Kereta kesehatan yang memiliki dua gerbong itu baru diresmikan pada 12 Desember 2015 lalu. Di dalam gerbong ini terdapat pelayanan kesehatan umum, klinik gigi, mata, bersalin, laboratorium, dan farmasi.

Selain pengobatan gratis, lanjut Gatut, pihaknya juga melakukan pemeriksaan mata serta pembagian 50 kacamata secara gratis, penyuluhan tentang kesehatan, dan edukasi keselamatan serta perjalanan Kereta Api Indonesia.

“Dengan adanya kegiatan bakti sosial ini, kami berharap terjalin hubungan yang harmonis antara perkeretaapian dengan masyarakat. Melalui kegiatan ini kami juga mengharapkan supaya masyarakat ikut peduli untuk menjaga jalur kereta api,” jelasnya.

Ditambahkan, program layanan kesehatan itu nantinya akan dilakukan secara berkesinambungan.  Yang mana, kereta kesehatan pertama dan satu-satunya di Indonesia itu akan membuka pelayanan pada dua stasiun di setiap Daerah Operasionalnya.

’’Kereta ini dibuat oleh bangsa kita sendiri dengan memodifikasi KRD atau kereta disel. Kita patut berbangga dengan karya anak bangsa ini.  Di Indonesia baru ada satu unit ini saja, makanya pelayanannya harus dibagi-bagi pada setiap Daop,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Antisipasi Longsor dan Sabotase, Anggota Polsek Gabus Cek Kondisi Rel Kereta Api

Salah satu personel Polsek Gabus sedang mengecek kondisi rel kereta bersama petugas PT KAI. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu personel Polsek Gabus sedang mengecek kondisi rel kereta bersama petugas PT KAI. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah polsek di wilayah Polres Grobogan menaruh perhatian serius dengan kondisi rel kereta api di Grobogan. Salah satunya, dilakukan jajaran Polsek Gabus yang wilayahnya terdapat rel kereta api jalur Surabaya-Jakarta.

Pengawasan kondisi rel itu dilakukan seiring masih tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Perhatian yang diberikan itu terkait dengan langkah antisipasi kemungkinan adanya tanah longsor di ruas rel kereta api tersebut. Selain itu, kegiatan itu juga dilakukan untuk menekan adanya aksi pencurian dan sabotase.

”Kegiatan itu dilakukan bersamaan dengan agenda pemeriksaan rutin yang dilakukan petugas dari PT KAI. Bersama petugas pemeriksa rel KA, anggota ikut jalan kaki menyusuri rel kereta api. Dengan cara ini, bisa kita ketahui apakah baut yang hilang atau tanda-tanda bahaya lainnya. Misalnya, ada ruas tanah yang longsor,” kata Kapolsek Gabus AKP Abas.

Dalam pengecekan itu, petugas sempat menemukan beberapa baut yang kendor. Seketika itu juga, baut yang terlihat kendor langsung diperbaiki petugas karena jika dibiarkan terlalu lama bisa mengganggu perjalanan kereta.

”Dengan adanya pemeriksaan ini, akan memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang menggunakan angkutan kereta api. Kegiatan ini kita lakukan sesuai jam kontrol dari PT KAI, sehingga tidak mengganggu jadwal perjalanan kereta,” imbuhnya.

Sementara itu, dari informasi yang didapat, perjalanan kereta yang ada di wilayah Grobogan memang sempat terhenti gara-gara ada talud penahan lintasan kereta yang longsor. Seperti, di jalur kereta yang ada di Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer yang sempat longsor pada (3/4/2015) lalu. Akibat peristiwa ini, perjalanan kereta dari Solo-Semarang via Stasiun Gundih sempat terhenti selama tiga hari.

Editor : Titis Ayu Winarni

Polres Blora Bakal Bentuk Satgas Relawan untuk Ditempatkan di Perlintasan Sebidang

Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana (MuriaNewsCom/PRIYO)

Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Menyikapi masih banyaknya perlintasan sebidang pada jalur kereta api yang berada di wilayah Blora, Kapolres Blora AKBP Dwi Indra Maulana menyatakan, jika pihaknya bakal membentuk satgas relawan.
Menuruntya, nantinya satgas relawan tersebut bertugas untuk mengatur lalu lintas di perlintasan sebidang yang tak berpalang, yang dibantu dengan personel kepolisian. Lanjutkan membaca

Awas! 13 Perlintasan Sebidang di Blora Tak Berpalang

Rambu yang berisi imbauan untuk lebih berhati-hati yang terpasang pada salah satu perlintasan sebidang tak berpalang (MuriaNewsCom/PRIYO)

Rambu yang berisi imbauan untuk lebih berhati-hati yang terpasang pada salah satu perlintasan sebidang tak berpalang (MuriaNewsCom/PRIYO)

BLORA – Sebanyak 21 perlintasan sebidang pada jalur kereta api yang ada di wilayah Blora mulai dari Kecamatan Jati, Randublatung, Kedungtuban dan Cepu, 13 di antaranya merupakan perlintasan yang belum ada palangnya.Dari 13 titik tersebut, menyebar di berbagai kecamatan yang dilintasi jalur kereta api jurusan Surabaya- Jakarta. Lanjutkan membaca

Pemkab Grobogan Diminta Perhatikan ”Pintu Pencabut Nyawa” Kereta Api

perlintasan liar (e)

Pintu perlintasan kereta api di Grobogan tidak dilengkapi dengan palang keamanan dan petugas. Hal ini sangat berbahaya bagi para pengguna jalan, terutama saat arus mudik/balik Lebaran. (MURIANEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Guna memberi kelancaran arus mudik dan balik lebaran, Pemkab Grobogan serta dinas diminta memberi perhatian lebih terhadap perlintasan kereta api (KA) yang ada diwilayah tersebut. Pasalnya, beberapa perlintasan sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kematian. Lanjutkan membaca