Yuk, Percantik Rumah Anda dengan Kerajinan Jati dari Jepon Blora yang Murah Tapi Bukan Murahan

Darsono perajin kayu jati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Darsono perajin kayu jati Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Kabupaten Blora yang memiliki kekayaan alam berupa hutan jati yang luas, membuat masyarakat sekitar berupaya memaksimalkan hal tersebut, dengan membuat kerajinan yang berbahan dasar kayu jati.

Desa Jepon, Kecamatan Jepon, Blora, merupakan salah satu sentra kerajinan kayu jati. Di sana, terdapat aneka ragam kerajinan yang menarik, untuk bisa menambah nilai artistik rumah Anda. Dan jangan khawatir, harga kerajinan dari kayu jati di tempat ini harganya bisa lebih murah dibanding di tempat lain. Namun, pastinya hal itu tidak murahan.

“Kalau ada yang beli dengan partai besar, dan langsung kesini kami bisa memberikan harga yang lebih miring,” ungkap Darsono, salah satu perajin kayu jati di Desa Jepon.

Berbagai kerajinan tangan, di tempat ini antara lain, aneka lampu hias, tempat payung, asbak, celengan, patung, piring, tempat makan, meja, kursi, dan lain-lain. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Kreatif! Warga Mintobasuki Pati Sulap Limbah Kedelai Jadi Kerupuk Tinggi Protein

Sri Wartini tengah menjemur kerupuk buatannya dari limbah kedelai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sri Wartini tengah menjemur kerupuk buatannya dari limbah kedelai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Limbah kedelai atau ampas biasanya dijadikan sebagai pakan ternak. Di tangan Sri Wartini, warga Desa Mintobasuki, RT 2 RW 4, Kecamatan Gabus, ampas kedelai disulap menjadi kerupuk yang nikmat dan bergizi.

”Selama ini, limbah kedelai yang digunakan untuk membuat tahu dijadikan pakan ternak. Dari sini, saya berpikir bagaimana caranya memanfaatkan limbah kedelai menjadi barang ekonomis yang layak dikonsumsi,” tutur Sri kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Berawal dari ide kreatif untuk memanfaatkan limbah tersebut, Sri berhasil menyulap ampas kedelai menjadi kerupuk. ”Jangan dikira ampas tahu itu bebas gizi, tetapi masih mengandung protein dan mineral yang cukup tinggi,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar kerupuk ampas tahu buatannya bisa menjadi produk yang dikenal di pasaran. ”Saat ini, pemesan kerupuk masih sebatas dari tetangga dan instansi yang memesan saja,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ini Cara Membuat Miniatur Vespa dari Pelepah Pisang

 Agung menunjukkan miniatur becak dan vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Agung menunjukkan miniatur becak dan vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Siapa sangka pelepah pisang yang biasanya dibuang, tetapi justru bisa dimanfaatkan menjadi beragam kerajinan miniatur seperti vespa, becak, dan tugu monas.

Agung Nugroho (22), warga Dukuh Sekarkurung, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo mengatakan, ide untuk memanfaatkan pelepah pisang berawal dari kegagalannya membuat miniatur dari kertas. Berawal dari sini, ia lantas mencoba membuat miniatur dari pelepah pisang.

“Pertama, cari pelepah pisang yang kering langsung dari pohonnya. Kedua, pelepah itu disetrika agar lurus. Ketiga, pelepah diberikan pola. Selanjutnya ditempeli kardus agar tebal dan kemudian dirangkai menggunkan lem menjadi miniatur sesuai keinginan kita,” tuturnya saat ditemui MuriaNewsCom di rumahnya, Selasa (1/9/2015).

Terakhir, kata dia, kerajinan dilapisi dengan vernis agar mengkilat. Satu miniatur buatan Agung tersebut dihargai Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung tingkat kesulitan miniatur. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Top! Kerajinan Pelepah Pisang Buatan Warga Pati Tembus Malaysia

Agung Nugroho tengah menyelesaikan kerajinan miniatur vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Agung Nugroho tengah menyelesaikan kerajinan miniatur vespa yang dibuat dari pelepah pisang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pelepah pisang sebagian besar dibuang menjadi sampah atau dibiarkan membusuk di tanah pekarangan rumah. Beda halnya dengan Agung Nugroho (22), warga Dukuh Sekarkurung, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo.

Di tangan Agung, pelepah pisang dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan yang unik. Salah satunya, miniatur vespa, becak, hingga tugu monas.

“Pelepah pisang sebetulnya bisa dibuat miniatur apa saja. Tapi, saat ini saya baru merancang miniatur vespa, becak dan monas. Sehari, biasanya saya bisa menghasilkan dua hingga tiga miniatur,” ujar Agung saat ditemui MuriaNewsCom, Selasa (1/9/2015).

Satu miniatur biasanya dihargai dengan Rp 50 ribu. Kendati begitu, miniatur buatan Agung tersebut sempat dihargai Rp 250 ribu. “Pernah ada pemesan dari Malaysia yang membeli dengan hitungan dollar Amerika, yaitu 20 dollar Amerika. Belinya lewat media sosial,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)