Dinkes Kudus Ambil Sampel Makanan yang Diduga Jadi Penyebab Warga Dersalam Keracunan

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus telah mengambil sampel makanan, yang diduga menyebabkan puluhan warga Dersalam keracunan.

Hikari Widodo Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kudus mengatakan, sampel yang diambil adalah mie dan tempe. Contoh itu kemudian akan dikirimkan ke laboratorium yang ada di Semarang.

“Nanti sampelnya akan dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang. Hasilnya akan diketahui dalam kurun seminggu hingga paling lama sebulan,” tuturnya, Rabu (21/3/2018).

Dirinya mengungkapkan, terdapat keanehan pada kasus keracunan ini. Warga diketahui memakan berkat (makanan hajatan) pada Minggu (18/3/2018) petang. Namun baru dua hari kemudian, ada puluhan warga yang masuk ke rumah sakit dengan keluhan keracunan.

Baca Juga:

“Dari informasi yang kami kumpulkan, hari pertama (Minggu) hanya ada satu orang yang masuk rumah sakit, namun tidak tahu kalau itu keracunan. Senin juga ada lagi yang masuk ke rumah sakit. Namun puncaknya baru pada Selasa, banyak orang yang masuk ke rumah sakit,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Dersalam, Kecamatan Bae mengeluhkan keracunan dan mendapatkan perawatan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Pada Selasa malam, total ada 27 orang yang dirujuk ke rumah sakit tersebut.

Hingga Rabu pagi, jumlah pasien yang dirawat inap menyisakan 16 orang. Sementara 11 orang sisanya sudah diperbolehkan pulang, dan hanya rawat jalan.

“Namun demikian, mereka (yang rawat jalan) tetap dipantau kesehatannya,” ungkap Aris Jukisno Kabid Pelayanan RSUD dr. Loekmono Hadi.

Adapun, hingga Rabu pagi kondisi pasien yang dirawat inap sudah berangsur membaik.

Kasus tersebut bermula ketika warga memakan berkat hajatan, pada Minggu (18/3/2018) sore‎. Namun demikian, gejala keracunan baru terjadi dua hari setelahnya.

Editor: Supriyadi

Mulai Membaik, 11 Korban Keracunan di Kudus Dirawat Jalan, 16 Lainnya Masih Inap

MuriaNewsCom, Kudus – Kondisi pasien yang keracunan makanan kini sudah mulai membaik. Dari 27 pasien yang sempat mendapatkan perawatan di RSUD dr. Loekmono Hadi, kini yang di rawat inap tersisa 16 orang.

Aris Jukisno Kabid Pelayanan RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus mengatakan, kini kondisi pasien jauh lebih baik. Diantaranya mereka yang mengalami muntah-muntah hingga tiga kali, frekuensinya jauh berkurang.

“Totalnya 27 pasien yang masuk ke rumah sakit, sebanyak 16 orang opname, sebelas pasien rawat jalan. Di antaranya ada satu orang yang dirawat di ICU (Intensive Care Unit) kondisinya pun telah membaik,” ungkapnya, Rabu (21/3/2018) pagi.

Baca: Diduga Keracunan Berkat Hajatan, 27 Warga Dersalam Dilarikan ke RSUD Kudus

Selain itu, Dinkes Kudus juga telah mengambil contoh muntahan dan feses dari pasien, untuk kemudian diperiksa di laboratorium. “Meskipun ada 11 orang yang dirawat jalan, namun yang bersangkutan tetap dalam pantauan rumah sakit,” tambahnya.

Seorang keluarga pasien Erna (30) mengatakan, anaknya Nazriel (8) masih mengalami diare. Namun demikian, kondisinya berangsur-angsur membaik.

Dirinya mengaku, anaknya itu mulai merasakan gejala keracunan sejak hari Senin (19/3/2018) sore. Ia pun telah memeriksakan kondisi anaknya ke seorang dokter.

“Menurut dokter pun anak saya itu didiagnosa mengalami keracunan. Setelah dibawa ke dokter, kondisinya semakin memburuk, kemudian saya bawa ke rumah sakit tadi malam (Selasa, 20/3/2018),” ungkap dia.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 27 warga Desa Dersalam, RT 3 RW 5, Kecamatan Bae mengalami keracunan. Diduga sebab musabab keracunan berasal setelah puluhan pasien tersebut mengonsumsi makanan hajatan (berkat).

Adapun, hajatan tersebut diadakan pada seorang rumah warga pada hari Minggu (18/3/2018) sore.

Editor: Supriyadi

Diduga Keracunan Berkat Hajatan, 27 Warga Dersalam Dilarikan ke RSUD Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 27 warga Desa Dersalam, Kecamatan Bae mengalami keracunan makanan. Diduga sumbernya berasal dari penganan yang diperoleh usai hajatan yang digelar oleh seorang warga di RT 1 RW 5 setempat.

Pasien dirawat di RSUD dr. Loekmono Hadi. Pertama kali pasien masuk pada Selasa malam sekitar pukul 20.30 WIB. Jumlahnya terus bertambah menjadi 27 orang hingga Rabu (21/3/2018) dinihari.

Direktur rumah sakit tersebut Abdul Aziz mengungkapkan, kebanyakan pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), mengeluh pusing dan lemas.

“Bahkan ada seorang pasien yang harus dirawat diruang intensif care unit (ICU) karena tingkat kesadarannya menurun dan responnya tidak baik,” kata dia.

Sementara itu, informasi yang dikumpulkan hajatan sendiri digelar pada hari Minggu (18/3/2018). Warga yang mendapatkan berkat (makanan hajatan) pun tak menaruh curiga akan penganan tersebut, lantas memakannya.

Adapun, gejala keracunan seperti mual dan pusing baru dirasakan warga yang mengonsumsi penganan itu, mulai Senin (19/3/2018) sore. Kemudian, pada Selasa gejala itu mulai menguat.

Editor: Supriyadi

Disdikpora Kudus Buru Pedagang Jajanan Sekolah yang Buat Belasan Siswa SDN Kayuapu Keracunan

Siswa dirawat di RSUD Kudus usai mengalami keracunan jajan sekolah Jumat (10/11/2017) lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus tengah memburu pedagang penjual jajanan sekolah yang membuat belasan siswa SDN Kayuapau, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae keracunan.

Hal itu dilakukan untuk meminta keterangan terkait makanan mie cup siap saji yang dijual. Termasuk tambahan bumbu yang diduga sudah kedaluarsa.

Baca: Belasan Siswa SD Kayuapu Kudus Keracunan Jajan Sekolah

Kepala Disdikpora Kudus, Joko Susilo mengatakan, selain meminta keterangan para siswa, pihak dinas juga melakukan penelusuran ke lokasi. Langkah itu dilakukan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di sekolah yang bersangkutan ataupun sekolah lainnya di Kabupaten Kudus.

“Kami sudah ke sana, kami juga sudah mendapat sample makanan yang dimakan siswa. Saat ini sedang di tes di laboratorium oleh DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten) dan kami sedang menunggu hasilnya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (14/11/2017).

Baca: Ternyata, Makanan Ini yang Buat Belasan Siswa SDN Kayuapu Kudus Keracunan

Hanya saja, hingga kini PKL yang bersangkutan belum diketemukan. Pihaknya pun mkhawatir, jika sampai makanan yang meracuni siswa di SDN Kayuapu disantap siswa lainya hingga menyebabkan keracunan.

Padahal, lanjut dia pembinaan harus dilakukan untuk menjamin amannya jajan yang dijual di sekitar sekolah. Minimal, ada jaminan dari PKL bahwa makanan yang dijual aman.

”Rencananya, kami akan meminta semua sekolah untuk berkomunikasi dengan pedagang jajanan yang berjualan di lingkungan sekolah. Tujuannya untuk memastikan jajanan tersebut benar-benar layak konsumsi dan sehat bagi anak,” tegasnya.

Baca: Bertambah Satu Orang, Siswa Keracunan Jajanan Sekolah di Kudus Total 16 Orang

Meski begitu ketika disinggung terkait jalur hukum, Joko mengaku belum berfikir ke arah tersebut. Ia pun mengaku masih mengumpulkan barang bukti termasuk faktor kesengajaan memasukkan bumbu kedaluarsa kedalam makanan.

”Belum sampai situ (jalur hukum). Kami masih mengumpulkan barang bukti, termasuk hasil labnya,” tandasnya.

Editor: Supriyadi

Bertambah Satu Orang, Siswa Keracunan Jajanan Sekolah di Kudus Total 16 Orang

Dokter Aziz Achyar memeriksa kondisi siswa yang mengalami keracunan makanan, Jumat (10/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jumlah korban keracunan jajan sekolah di SDN Kayuapu, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae bertambah satu orang. Dengan tambahan tersebut, total siswa yang keracunan berjumlah 16 orang.

Direktur RSUD dr Aziz Achyar mengatakan,  siswa tersebut bernama Malina, siswi kelas lima. Kondisinya saat ini cukup memprihatinkan lantaran  tidak langsung mendapat perawatan medis.

”Habis Jumatan tadi ada susulan satu siswa. Sama seperti teman-temannya, siswa tersebut juga mengalami keracunan makanan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Baca: Belasan Siswa SD Kayuapu Kudus Keracunan Jajan Sekolah

Berdasarkan keterangan keluarga, lanjut dr Aziz Achyar, sepulang sekolah korban tak menunjukkan tanda-tanda keracunan. Hanya setelah beristirahat, gejala seperti pusing dan mual-mual baru terasa.

Namun, karena tak langsung mendapat pertolongan, kondisi korban cukup parah dibanding dengan korban lainnya. Akibatnya, saat ini korban harus rawat inap untuk pengobatan lebih lanjut.

”Saat ini korban masih di IGD. Kami harap, bagi siswa SD Kayuapu yang mengalami gejala keracunan bisa segera diperiksakan sebelum terlambat,” pintanya.

Sebelumnya, Nurwati, guru SD Kayuapu mengatakan, jumlah siswa yang mengalami keracunan makanan mencapai 15 siswa. Semuanya terdiri dari siswa kelas tiga hingga kelas enam SD tersebut.

“Ada 13 siswa yang terpaksa dirawat di RSUD Kudus. Sedang dua lainya diberikan penanganan di sekolah,” katanya.

Baca: Ternyata, Makanan Ini yang Buat Belasan Siswa SDN Kayuapu Kudus Keracunan

Nurwati menjelaskan, kejadian nahas tersebut terjadi saat jam istirahat sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, ada beberapa murid mengeluh sakit perut ke sejumlah guru. Anehnya, keluhan tersebut tak hanya dialami satu dua siswa saja. Setelah diperiksa ada belasan siswa yang mengeluhkan hal yang sama.

Mendengar hal tersebut, lanjut dia, pihak sekolah langsung menidaklanjuti dengan memberikan penanganan. Lantaran khawatir, belasan siswa langsung dibawa ke RSUD dr Loekmono Hadi untuk penanganan lebih lanjut.

Editor: Supriyadi

Dinkes Cari Sisa Makanan yang Bikin Puluhan Santri Ponpes Pelita Purwodadi Keracunan

Salah satu santri Pondok Pesantren Pelita yang jadi korban keracunan masih menjalani rawat inap di sebuah klinik di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pihak Dinas Kesehatan Grobogan langsung menindaklanjuti adanya puluhan santri Pondok Pesantren Pelita Purwodadi yang mengalami keracunan.

Setelah mendapat informasi, petugas dari Dinkes langung memonitor kondisi korban keracunan yang dirawat di sebuah klinik kesehatan di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi.

Selain itu, ada upaya lain yang dilakukan. Yakni, mencari sisa makanan yang diindikasikan jadi penyebab para santri keracunan.

”Hasil pemeriksaan medis sudah dipastikan kalau anak-anak itu keracunan makanan. Untuk lebih memastikan kita coba cari sisa makanan yang disantap mereka,” kata Sekretaris Dinkes Grobogan Slamet Widodo, Jumat (18/8/2017).

Pihaknya sudah meminta petugas dari Puskesmas Purwodadi II untuk memantau kondisi korban keracunan di klinik kesehatan itu. Kebetulan letak klinik dengan puskesmas tidak terlalu jauh. Selama ini, pihak ponpes memang mengadakan kerjasama kesehatan dengan klinik tersebut.

”Sejak kemarin, kita sudah monitor perkembangan kesehatan korban keracunan. Hari ini tadi, tinggal satu anak yang masih dirawat. Tapi kemungkinan sore nanti atau besok pagi diizinkan pulang karena kondisinya sudah membaik,” jelasnya.

Baca Juga : Diduga Keracunan Makanan, Puluhan Siswa Ponpes Pelita Purwodadi Dilarikan ke Klinik Kesehatan

Dari pantauan di klinik dokter umum suyatno di Jalan Danyang-Kuwu, masih ada satu anak yang dirawat. Yakni, Edo Haryanto (13), siswa kelas 2 SMP IT Pelita. Edo yang kondisinya sudah mulai normal itu didampingi ibunya Rofianah.

Menurut Rofianah, anaknya tidak jajan dan makan rica-rica ayam. Tetapi, dia hanya makan terong yang dimasak di pondok.

”Tidak lama setelah itu, Edo mulai muntah-muntah. Kemudian, buang air besar terus menerus. Sekarang belum boleh pulang. Kemungkinan, masih dirawat sehari lagi,” katanya.

Kepala Pondok Pesantren Pelita Purwodadi Muhammad Solikin membantah jika penyebab keracunan berasal dari menu terong yang dimasak di dalam pondok. Menurutnya, penyebab keracunan itu diduga disebabkan makanan yang dibeli di luar pondok.

”Bukan dari makanan di pondok tapi dari jajan di luar. Kalau berasal dari makanan pondok tentu lebih banyak lagi yang keracunan,” tegasnya pada wartawan

Editor: Supriyadi

Diduga Keracunan Makanan, Puluhan Siswa Ponpes Pelita Purwodadi Dilarikan ke Klinik Kesehatan

Salah satu siswa Ponpes Pelita yang mengalami keracunan masih menjalani perawatan di klinik kesehatan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan siswa dan siswi dari Pondok Pesantren (Ponpes) Pelita Purwodadi, terpaksa dilarikan ke sebuah klinik kesehatan. Gara-garanya, puluhan anak ini merasa lemas dan beberapa di antaranya bahkan sempat pingsan.

Informasi yang didapat menyebutkan, puluhan siswa dan siswi itu dilarikan ke klinik secara bertahap. Yakni, mulai Rabu petang hingga pagi tadi.

Setelah sampai di klinik yang ada di Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi, sebagian anak ini mendapat perawatan lebih intensif dan dipasang selang infus. Usai mendapat perawatan, sebagian korban sudah boleh pulang dan hanya menjalani rawat jalan. Pihak keluarga juga sudah terlihat di klinik untuk mendampingi korban.

Penyebab kejadian ini diduga akibat keracunan makanan. Kabar yang beredar, siang hari sebelum merasa lemas, puluhan anak tersebut sempat menyantap makanan yang dibeli dari luar pondok. Beberapa jam setelah makan, mulai ada anak yang mengalami gejala mual, kepala pusing dan perut terasa panas.

Kepala Ponpes Pelita Muh Solikin, mengatakan jumlah anak didiknya yang menjalani perawatan medis akibat diduga keracunan makanan ada ‎ 23 orang. Dari hasil pemeriksaan dokter, puluhan murid itu mengalami keracunan makanan‎.

“Totalnya ada 23 murid SMP dan SMA. Mayoritas adalah siswa SMP. Pihak keluarga korban juga telah kita untuk mendampingi perawatan anak-anaknya. Untuk biaya pengobatan nanti kita tanggung,” jelasnya pada wartawan, Kamis (17/8/2017).

Menurutnya, siswa-siswi itu keracunan makanan dari hasil jajan di luar pondok, usai pelajaran sekolah. Sebelumnya, pihaknya sudah sering kali mengimbau pada siswa agar tidak sembarangan jajan di luar karena sudah disediakan makan.

Editor: Supriyadi

Begini Kronologi 36 Santri di Bangsri Jepara Diduga Keracunan

racun 2 (e)

Suasana di Puskesmas Bangsri, Jepara menjalani perawatan karena diduga keracunan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sedikitnya 36 santri dari tingkat MA dan MTs Hasyim Asy’ari Bangsri, Jepara dilarikan ke puskesmas setempat, Jumat (13/5/2016) malam. Sampai Sabtu (14/5/2016) siang, mereka masih menjalani perawatan intensif di puskesmas. Mereka diduga keracunan makanan pada acara perpisahan sekolah di aula MA Hasyim Asy’ari.

Di antara makanan yang disuguhkan pada acara, adalah arem-arem, roti, dan lainnya. Namun malam harinya, santri mengalami muntah-muntah dan sakit perut.

Pengasuh Ponpes Hasyim Asy’ari KH Nuruddin Amin mengatakan, peristiwa tersebut bermula pada Jumat sekitar pukul 08.00-11.00 WIB, para santri mengadakan acara muwadda’ah atau perpisahan di aula MA Hasyim Asy’ari kompleks Ponpes Hasyim Asy’ari, Bangsri. “Pada saat acara berjalan dan berlangsung lancar, tidak ada masalah,” kata Amin, Sabtu (14/5/2016).

Namun, lanjut dia, pada sore hari sekitar habis asar, sejumlah santri mulai ada yang mencret dan muntah-muntah. Sehabis magrib semakin banyak santri yang mengalami gejala yang sama. “Mereka yang sakit itu, malam harinya dibawa ke puskesmas,” tambahnya.

Kepala Puskesmas Bangsri, Umi Widi Hastuti mengemukakan, puluhan santri mulai datang ke puskesmas, Jumat sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka datang secara bertahap, tidak secara langsung bersamaan.

Sejauh ini, total sudah ada 36 pasien. Enam di antaranya merupakan santri putra. Satu lagi pasien merupakan orang tua santri yang ikut dalam acara perpisahan. Sedangkan salah satu ustaz juga keracunan dan dirawat di RSI Sultan Hadlirin Jepara.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : 36 Santri  Madrasah Hasyim Asy’ari Jepara Diduga Keracunan 

 

 

36 Santri  Madrasah Hasyim Asy’ari Jepara Diduga Keracunan

keracunan (e)

Seorang santri menjalani perawatan di Puskesmas Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – 36 santri  Madrasah Hasyim Asy’ari, Kecamatan Bangsri, Jepara menjalani perawatan di Puskesmas Bangsri, Sabtu (14/5/2016). Mereka diduga keracunan,  usai acara perpisahan sekolahannya, Jumat (13/5/2015). Setelah sebelumnya, mereka mengalami sakit perut, dan muntah-muntah.

Sekadar informasi, mereka mengonsumsi sejumlah makanan kecil di sela-sela acara perpisahan itu. Seperti arem-arem, roti dan lainnya.

Kepala Puskesmas Bangsri, Umi Widi Hastuti mengatakan, puluhan santri mulai dilarikan ke puskesmas, Jumat sekitar pukul 20.00 WIB. Mereka datang secara bertahap. “Datangnya bertahap, awalnya ada empat santri, kemudian bertambah banyak, secara bertahap,” kata Umi, Sabtu.

Menurut dia, berdasarkan data yang masuk, pasien yang berstatus dari madrasah baik tingkat MA maupun MTs Hasyim Asy’ari sudah ada 36 pasien. Pasien didominasi santi putri. Sedangkan untuk santri putra hanya ada enam orang.

“Ada juga yang merupakan orang tua santri, dan satu ustaz. Bahkan, satu ustaz diketahui dirawat di RSI Sultan Hadirin,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dari ciri-ciri gejala yang dialami pasien, diduga memang keracunan makanan. Ciri-ciri tersebut yakni sakit perut, diare muntah-muntah. Selain itu, ciri-ciri yang sama dialami banyak orang.

“Untuk membuktikan apakah benar keracunan makanan, kami harus mengecek laboratorium sampel makanannya lebih dulu” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

30 Warga Winong Pati Keracunan, 6 Orang Dilarikan ke RS Akibat Makan Nasi Kotak

Seorang warga yang dirawat di rumah sakit karena diduga keracunan nasi kotak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang warga yang dirawat di rumah sakit karena diduga keracunan nasi kotak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 30 warga Desa Winong, Kecamatan Pati Kota mengalami keracunan usai menyantap nasi kotak yang diberikan salah seorang warga, Senin (18/4/2016) malam.

Sementara itu, enam orang di antaranya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Mereka mengalami mual, pusing, muntah-muntah dan diare.

Diduga kuat, mereka mengalami keracunan setelah makan nasi kotak dari hajatan yang dibagikan salah seorang tetangga setempat. “Rasanya mual, pusing, dan muntah,” ujar Suwaji, salah seorang korban.

Hal serupa dialami istri dan mertua Suwaji. “Istri dan mertua saya juga merasakan hal yang sama. Rasanya mual dan pusing seperti keracunan,” ungkapnya.

Kepala Desa Winong, Jarnawi membenarkan informasi insiden tersebut. Bila dihitung, ada sekitar 30 warga yang mengalami gejala serupa. “Ada enam yang dibawa ke rumah sakit. Warga lainnya menjalani rawat jalan,” kata Jarnawi saat dikonfirmasi, Selasa (19/4/2016).

Kendati begitu, pihaknya masih belum bisa memastikan apakah nasi kotak itu jadi penyebab atau tidak. Karena itu, ia sudah membawa sampel nasi kotak ke puskesmas untuk diteliti.

“Kami menduga memang nasi kotak yang jadi penyebab. Meski begitu, kami tidak bisa menduga-duga. Untuk memastikan, kami kirim sampel sisa nasi kotak untuk diteliti petugas Puskesmas,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Diduga Keracunan, 4 Nelayan Asal Pati Tewas di Perairan Maluku

Petugas kepolisian memasukkan jenazah korban ke ambulans untuk dikirim ke rumah duka. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian memasukkan jenazah korban ke ambulans untuk dikirim ke rumah duka. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Empat pengurus kapal KMN Agung Samodra meninggal dunia di atas kapal, karena diduga keracunan. Keempat korban adalah Ari Aprilia Manaf (25), Muhammad Faisal Nahriza (22), Abdul Kholik (43), dan Abdul Rohman (22). Keempatnya merupakan warga Desa Pangkalan, Kecamatan Margoyoso.

”Waktu itu mendapatkan telepon dari Ibu Winulyani, keluarga pemilik kapal. Dia memberitahu terjadi musibah empat orang anak buah kapal (ABK) yang meninggal di atas kapal yang diduga akibat keracunan,” kata Surahman, pengurus kapal asal Desa Bajomulyo, Juwana.

Informasi tersebut, kata dia, diteruskan dari nahkoda kapal bernama Rubiyanto pada Jumat (18/3/2016) lalu. Setelah dicek, keempat orang yang meninggal dunia tersebut merupakan warga Desa Pangkalan, Margoyoso.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, kapal bergerak dan merapat di Pelabuhan Dobo, Maluku Tenggara untuk melakukan proses autopsi terkait dengan penyebab kematian dari para korban. Olah TKP juga sudah dilakukan.

Jenazah korban tiba di Pati pada Minggu (20/3/2016) malam. Keempatnya kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat pada Senin (21/3/2016). Suasana duka menyelimuti keluarga korban.

Pasalnya, tiga dari empat korban masih sangat muda. Mereka bekerja di kapal berminggu-minggu demi sesuap nasi dan membantu ekonomi keluarga.

Editor : Titis Ayu Winarni

Puluhan Mahasiswa Akbid Bakti Utama Pati Keracunan Usai Buka Bersama

Kampus Akbid Bakti Utama yang beralamat di Jalan Ki Ageng Selo 15, Desa Blaru, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Kampus Akbid Bakti Utama yang beralamat di Jalan Ki Ageng Selo 15, Desa Blaru, Kecamatan Pati. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Sebanyak 25 mahasiswa Akademi Kebidanan (Akbid) Bakti Utama, Pati, mengalamai keracunan makanan saat menggelar acara buka bersama. Mereka yang keracunan merupakan mahasiswa yang menempati asrama yang disediakan pihak kampus. Lanjutkan membaca

Diduga Gara-Gara Makan Sate, Puluhan Warga Keracunan

Sejumlah warga yang keracunan masih tebaring lemas di Puskesmas Kecamatan Jiken, Jumat (12/6/2015). (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Niat baik Jumadi warga Dusun Klampok, Desa Genjahan, Kecamatan Jiken, berubah menjadi petaka. Sebab, hidangan syukuran yang dibagikan pada tetangganya dalam rangka menyambut Ramadan membawa korban. Diduga setelah memakan hidangan tersebut, warga mengalami keracunan.

Lanjutkan membaca