Ulama Kendal yang Dibacok Hari Ini Dioperasi, Ganjar Telepon Dirut Rumah Sakit

MuriaNewsCom, Semarang – H Ahmad Zaenuri ulama asal Kendal dan menantunya Agus Nurus Saban yang dibacok pria bergolok, akhir pekan kemarin, Selasa (20/3/2018) hari ini akan menjalani operasi di RSUD Tugurejo, Kota Semarang.

Pengurus NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal itu, akan menjalani operasi penjahitan luka bacokan di bagian kepala. Sementara menantunya akan menjalani operasi yang cukup serius, karena luka bacokan di tangannya mengenai pembuluh nadi.

Calon Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Senin (19/3/2018) petang kemarin, menjenguk dua korban pembacokan yang dilakukan pengamen depresi tersebut.

Kepada Zaenuri dan menantunya, Ganjar mendoakan agar operasi dan perawatannya berjalan lancar. “Mudah-mudahan lancar semua ya, lekas sehat, seger waras,” kata Ganjar.

Ganjar mengatakan sudah menelepon direktur utama RSUD Tugurejo, untuk memberi perhatian lebih kepada dua korban.

Politisi PDI Perjuangan itu juga sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Ia mendapat informasi jika pelaku masih menjalani proses penyidikan, dan motifnya polisi menyimpulkan sebagai tindak kriminal murni.

Pelaku yakni Suyatno alias Bogel (35) diduga ingin merampas tas Agus. Peristiwa itu terjadi di rumah KH Zainuri, Dukuh Krajan, Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal, Sabtu (17/3/2018). Pelaku yang diduga depresi karena dicerai isterinya itu dihajar massa usai membacok Zaenuri dan Agus.

“Kepolisian sudah memproses. Sudah ditangkap orangnya. Dan coba mau dikembangkan motif dari kejadian itu,” ungkap Ganjar.

Baca : Pengurus NU Kendal dan Menantunya Diserang Pria Bergolok, Motifnya Njambret?

Alumnus UGM itu berujar kondisi terbaru KH Zainuri masih butuh perawatan. Tangan kirinya dibalut perban. Begitu juga pada kepala bagian kanan dan kaki kiri pengurus NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kendal itu.  Sedangkan luka pada Agus yang tak lain menantu Zaenuri hanya di pelipis kanan.

“Dibanding menantunya, Pak Kiai lebih banyak lukanya. Tapi alhamdulillah tadi saya tanya semuanya lancar. Tidak ada pusing-pusing. Pak kiai masih bisa guyon (bercanda),” imbuhnya.

Sementara itu, adik Zaenuri, Solikhin, mengungkapkan kepada Ganjar bahwa pelaku terindikasi lebih dari satu. Ia mendapat informasi dari warga jika pelaku datang ke rumah korban bersama temannya. Ia pun sempat melihat pelaku menyambangi rumah korban beberapa hari sebelum kejadian.

“Infonya pelaku datang diboncengkan temannya naik motor, tapi belum ketemu siapa orangnya. Saya juga pernah melihat pelaku duduk di depan rumah kakak saya, melihat saya dia kabur ke timur,” kata Solikhin.

Editor : Ali Muntoha

Pengurus NU Kendal dan Menantunya Diserang Pria Bergolok, Motifnya Njambret?

MuriaNewsCom, Kendal –  Rois Syuriah NU Ranting Desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal, KH Ahmad Zaenuri diserang pria bergolok hingga mengalami sejumlah luka. Sebelum menganiaya ulama itu, pelaku juga menghajar menantunya bernama Agus Nurus.

Pelaku diketahui bernama Suyatni (34) warga Gumuh, Kabupaten, Kendal. Pelaku nyaris dihakimi massa sebelum diamankan ke kantor polisi.

Aksi penyerangan itu terjadi pada Sabtu (17/3/2018) sore. Saat itu Agus Nurus tengah mengeluarkan mobil dan tiba-tiba pelaku datang langsung menyerangnya dengan senjata tajam. Ahmad Zaenuri yang mengetahui anaknya diserang, mencoba menolong namun ia kena bacokan.

“Menantu korban kena bacokan di kepala. Sementara Ahmad Zaenuri kena sabetan golok di tangan,” kata Kasat Rekrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar.

Hingga pagi ini, polisi masih terus mendalami kasus penganiayaan itu. Namun dari pemeriksaan sementara polisi menduga motifnya adalah kriminal murni.

Kasat Rekrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar menyatakan, awalnya pelaku hendak menjambret tas milik anak Ahmad Zaenuri yang bernama Ulfah.

Saat itu Ulfah akan bepergian bersama suami, Agus Nurus. Dari keterangan tersangka untuk memudahkan aksinya ia terlebih dahulu melukai Agus. Mengetahui ada keributan, mertua Agus, Haji Achmad Zaenuri ke luar rumah mencoba menolong namun juga jadi korban.

Setelah membacok korban kedua, pelaku langsung ditangkap oleh warga. Pelaku juga sempat dihakimi, karena melawan. Lalu warga menghubungi polisi agar pelaku segera ditangkap polisi.

“Pada saat dimintai keterangan, tersangka dapat  menjawab pertanyaan penyidik  dengan lancar,” ujarnya.

Tersangka Suyatno, mengaku bekerja sebagai pengamen. Saat itu ia tidak memiliki uang dan bermaksud untuk meminta uang kepada korban.

“Tiga hari ini engga punya uang, saya bingung dan stress. Pas lewat rumah dia (korban),  saya mau minta uang tapi takut tidak dikasih. Ya terus saya tusuk pakai parang biar ngasih,” akunya.

Pelaku diancam dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Dengan jeratan pasal ini pelaku terancam hukuman 9 tahun kurungan penjara.

Editor : Ali Muntoha

Pemandu Karaoke di Kendal Dibunuh Pacarnya yang Begal, Tubuhnya Dicor di Bak Mandi

MuriaNewsCom, Kendal – Aparat Polres Kendal berhasil membekuk pelaku pembegalan yang sering meresahkan masyarakat di kabupaten itu. Dari hasil penangkapan ini, polisi menemukan fakta yang jauh lebih mengejutkan.

Pelaku yang diketahui bernama Didik Ponco Sulistyo (28), mengaku telah membunuh seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu karaoke. Pengakuannya, korban dihabisi enam hari lalu dan dikubur di rumahnya di Desa Puguh, Kecamatan Boja, Kendal.

Polisi yang mendapat pengakuan itu, Jumat (23/2/2018) sore langsung bergerak ke rumah pelaku langsung melakukan penggeledahan dan pemeriksaan. Ternyata tubuh korban disembunyikan di bak kamar mandi oleh pelaku.

Tubuh korban ditimbun menggunakan pasir lalu dicor di bak mandi tersebut. Temuan ini langsung menggerkan warga.

Dari hasil pemeriksaan diketahui jika korban bernama Fitria Anggraeni (24), warga Desa Margosari, Kecamatan Limbangan Kendal. Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar mengatakan, saat ditemukan korban hanya mengenakan celana dalam.

”Korban bekerja sebagai pemandu karaoke di salah satu tempat hiburan di Kecamatan Boja. Penemuan ini dari hasil pengembangan kasus pembegalan,” katanya.

Proses olah TKP di bak mandi, lokasi tempat penguburan korban pembunuhan di Kendal. (istimewa)

Ia menyebut, dugaan sementara korban dibunuh dengan cara dicekik. Namun untuk memastikannya, tubuh korban dikirim ke RS Bhayangkara Semarang untuk dilakukan autopsi. Motif pembunuhan diduga karena masalah utang.

“Kami masih melakukan pendalaman. Kami menduga ada hubungan istimewa antara korban dan tesangka,” ujarnya.

Tubuh korban sengaja dimasukkan ke dalam bak mandi lalu dituup pasir dan dicor untuk agar tak tercium bau busuk.

Ia menyebut, terbongkarnya kasus pembunuhan ini berawal dari penangkapan pelaku dalam kasus pembegalan. Saat digiring untuk menunjukkan barang bukti di rumahnya, pelaku mengaku telah melakukan pembunuhan.

Sementara itu, Kadus Tanggulangin Desa Margosari, Munawar mengatakan, pengakuan dari keluarga, korban dijemput pelaku pada Jumat (16/2/2018) pekan lalu. Selama ini pelaku dan korban memang dikenal cukup akrab, dan pealku sering menjemput korban di rumahnya.

“Namun setelah dijemput pada Jumat pekan lalu, korban tidak pernah pulang dan tidak bisa dihubungi oleh keluarganya,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Kelenteng dan Musala di Kendal Ini Seolah Menyatu, Warganya Sangat Rukun

MuriaNewsCom, Kendal – Di Kabupaten Kendal, terdapat satu-satunya kelenteng yang menjadi tempat ibadah bagi tiga agama, yakni Kong Hu Cu, Tao dan Budha yang sudah berdiri sejak zaman pendudukan Belanda. Karena digunakan sebagai tempat ibadah bersama tiga agama, kelenteng ini diberi nama Tri Dharma.

Namun yang istimewa tak hanya sekadar nilai historisnya saja, melainkan lokasi kelenteng ini. Kelenteng yang berada di Dukuh Kedonsari, RT 03 RW 08, Desa Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, ini berhadapan langsung dengan musala. Musala Al Falah namanya.

Di sinilah letak istimewanya, karena kerukunan antarumat bergama di tempat ini sangat kental. Kelenteng dan musala ini hanya berjarak 50 meter. Bahkan dari jalan raya sepintas kelenteng dan musala itu menyatu menjadi satu. Karena di gapura masuk, nama musala dan kelenteng plus ornamen khas China dipasang menjadi satu.

Kelenteng ini dibangun pada zaman Belanda, dan pada tahun 1976 kelenteng ini mulai dipugar dan dibangun. Lukman Santosa, salah satu pengurus Kelenteng Tri Dharma, warga di kawasan itu sangat rukun, meski berbeda agama.

Bahkan menurut dia, jika kelenteng menggelar acara atau perayaan besar, umat muslim di sekitar kawasan itu saling bahu-membahu memberi pertolongan. “Kami hidup rukun meskipun letak kelenteng kami berhadapan dengan musala. Kami saling menghargai,” kata Lukman dilansir dari kompas.com.

Menurut dia, nama Tri Dharma pada sebuah kelenteng hanya ada di Indonesia. Di beberapa daerah ditemui kelenteng-kelenteng dengan nama ini. Menurut Lukman, sebenarnya ketiga agama ini berdiri sendiri, namun ketiganya memiliki hubungan dan saling memengaruhi.

“Istilah Tri Dharma hanya ada di Indonesia. Umat Tri Dharma beribadah di tempat yang sama, yaitu kelenteng,” ujarnya.

Kelenteng Tri Dharma, jelas Lukman, memiliki kimsien patung Baron Skeber yang berasal dari Eropa, yakni Belanda. Baron Skeber ini hanya terdapat di Kelenteng Tri Dharma Weleri.

Gambaran patung Baron Skeder dapat dilihat dari bentuknya, berhidung mancung, perawakannya kecil dan memakai jubah merah. Sedangkan Dewa atau Kongco utama dari kelenteng ini adalah Hok Thian Hian Siang Tee yang berada di altar utama.

Patung Baron Skeber, menurut Lukman, ditemukan oleh petani Grinsing Batang. Patung itu konon berada di dalam batang pohon singkong yang besar.

“Saat petani itu mau membelah batang pohon itu terkejut ketika mengenai benda keras. Ternyata benda itu adalah patung. Bekas bacokan itu, ada di patung Baron Skeder itu,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

5 Rumah Jebol, Ternak dan Motor Hilang Terseret Banjir Bandang di Kendal

MuriaNewsCom, Kendal – Banjir bandang menerjang wilayah Kaliwungi dan Brangsong, Kendal, Jumat (9/2/2018) malam. Banjir itu membuat lima rumah warga jebol, dan menyisakan tumpukan lumpur.

Bahkan hingga Sabtu (10/2/2018) pagi warga masih berjibaku membersihkan lumpur yang mengendap di jalan maupun di sekitar rumah. Endapan lumpur setinggi 10 sentimeter terlihat di jalan masuk kampung dan rumah-rumah warga.

Tak hanya itu saja, sejumlah hewan ternak dan sepeda motor milik warga juga hilang terseret arus banjir yang datang secara tiba-tiba.

Lokasi yang terparah akibat terjangan banjir bandang berada di Dusun Proto Wetan, Desa Protomulyo, Kampung Citran dan kampung Mranggen. Desa Kutoharjo, serta Dusun Gelung, Desa Magelung. Sedikitnya lima rumah ambruk dan hanyut, sedangkan puluhan lainnya rusak.

Kasmadi warga Proto wetan mengatakan, banjir bandang datang setelah hujan turun secara terus menerus dari Jumat sore. Banjir bandang yang menerjang desanya bahkan mencapai satu meter lebih.

“Tiba-tiba air dari atas mengalir deras menerjang rumah-rumah warga hingga ketinggian satu setengah meter,” katanya.

Bupati Kendal Mirna Annisa, Sabtu (10/2/2016) pagi meninjau lokasi banjir dan memberikan bantuan kepada warga. Dari data BPBD Kendal lima rumah warga rusak parah sedangkan puluhan lainnya rusak.

“Pemkab akan menganalisa penyebab banjr bandang dan akan memperbaiki fasilitas umum yang rusak,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Nasib 4 Sekolah di Kendal yang Tergusur Tol Masih Terkatung-katung

MuriaNewsCom, Kendal  Tiga sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kendal kenda dampak pembangunan tol Semarang-Batang. Empat sekolah itu telah digusur, dan siswanya mengungsi belajar di bangunan madrasah ibtidaiyah (MI).

Sudah tiga bulan siswa di sekolah-sekolah tersebut mengunsgi belajar, namun hingga kini belum ada kejelasan terkait ganti rugi lahan maupun pembangunan gedung baru.

Empat SD yang kena dampak proyek tol itu, yakni SD Sumberagung 1 dan SD Sumberagung 2 Kecamatan Weleri; SD Sumbersari, Kecamatan Ngampel; SD Protomulto, Kecamatan Kaliwungu Selatan dan SMP 2 Pegandon, Kecamatan Pegandon.

Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal, Joko Supratikno, Jumat (9/2/2018) mengatakan, penentuan lokasi dan pembangunan gedung baru masih menunggu kesepakatan (MoU) antara Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dengan pihak desa.

Ia menyebut, pihaknya hanya sebagai fasilitator antara BUJT dengan pihak desa. Karena bangunan sekolah dan tanah merupakan milik/aset pemerintah desa.

“Jadi kesepakatannya antara desa dengan BUJT, bukan dengan Disdikbud. Baru setelah ada kesepakatan akan kami mintakan persetujuan atau mengetahui kepala daerah yakni bupati Kendal,” katanya.

Ia menyebut, hingga kini kesepakatan antara BUJT dengan pihak desa belum dilaksanakan. Sehingga pihak Disdikbud belum bisa menentukan lokasi dimana empat sekolah itu akan dibangun nantinya. “Kami hanya fasilitator saja antara BUJT dengan Desa dan sekolah,” ujarnya.

Salah satu sekolah terdampak tol, SMP 2 Pegandon di Desa Rejosari. Bangunan sekolahnya bersebelahan persis dengan proyek tol Semarang- Batang. Tiga ruang kelas yang berada di sebelah selatan sekolah itu sudah rata dengan tanah.

Kepala SMP 2 Pegandon, Darmono mengatakan, beberapa waktu lalu dirinya mengikuti rapat antara pihak pengembang proyek dengan pemkab mengenai nasib sekolah yang dipimpinnya. “Hasil rapatnya nanti sekolah kami akan direlokasi ke tempat baru. Lokasinya tidak jauh dari lokasi yang saat ini,” ucapnya.

Ia berharap jika benar akan direlokasi, maka aset yang dimiliki sekolahnya tetap sama di lokasi yang baru. “Kalau sudah demi kepentingan nasional, mau tidak mau kami harus mengalah, asalkan jika berada di lokasi baru maka kami mendapatkan apa yang kami miliki sebelumnya,” ucapnya.

Sementara itu, Humas PT Waskita Karya Proyek tol Semarang – Batang Seksi IV dan V, Agus Khozin menuturkan, pihaknya memastikan segera menyediakan lokasi baru untuk sekolah yang terkena dampak pembangunan proyek tol. “Secepatnya kami akan carikan lokasi baru dan di bangun sekolah baru,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Elang Brontok yang Nyaris Punah Pingsan Tersengat Listrik di Kendal

MuriaNewsCom, Kendal – Elang brontok yang berkerabat dekat dengan elang Jawa ditemukan pingsan setelah menabrak kabel listrik di Kabupaten Kendal. Burung yang kerap disebut sebagai burung rajawali ini pingsan tersengat listrik saat memburu mangsa.

Burung ini saat ini sudah sangat jarang ditemui, meskipun belum masuk kategori punah. Oleh karenanya burung ini termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, dan PP Nomor 7 Tahun 1999, serta PP Nomor 8 Tahun 1999.

Burung itu ditemukan oleh Sukroniswanto (35), warga Dusun Sentul, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, pada Rabu (7/2/2018) lalu tak jauh dari rumahnya. Saat ditemukan, elang itu dalam kondisi pingsan setelah menabrak kabel.

Sukroniswanto sempat merawat burung tersebut, sebelum melapor ke Polsek Sukorejo. Kapolsek Sukorejo AKP Haryo Deko Dewo mengatakan, setelah mendapat laporan pihaknya menerjunkan anggota untuk berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kendal.

“Kemudian warga yang menemukan elang Jawa (elang brontok) tersebut melaporkan kejadian itu ke Polsek Sukorejo dan langsung kami teruskan untuk diserahkan kepada petugas BKSDA Kendal,” katanya.

Burung itu kemudian diserahkan pada BKSDA Kendal pada Kamis (8/2/2018) kemarin. Menurut dia, penyerahan disaksikan Kanit Sabhara Polsek Sukorejo Ipda Yudhi Supada serta Bhabinkamtibmas Brigadir Slamet Heriyanto.

Elang brontok memang merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi dari kepunahan. Satwa liar yang salah satunya ditemukan pingsan di kawasan Kendal itu merupakan burung yang hidup di kawasan Asia Selatan hingga Asia Tenggara, mulai India, Sri Lanka, Filipina, serta Indonesia.

Editor : Ali Muntoha

Suasana Tempo Dulu di Pasar Karetan Kendal, Bayar pun Pakai Girik

MuriaNewsCom, Kendal – Berbagai macam hal yang berbau jadul, kini mulai populer dan masuk dalam berbagai lini. Tak terkecuali dalam masalah kuliner. Berbagai macam kuliner tradisional yang sudah mulai langka kini mulai bermunculan kembali.

Bahkan di Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, bahkan ada pasar khusus yang menyajikan berbagai macam penganan tradisional. Namanya Pasar Karetan. Pasar ini sangat eksotis, dengan nuansa hutan karet dan persawahan.

Bahkan di pasar ini, model pembayarannya pun tidak menggunakan mata uang rupiah, melainkan koin yang disebut girik.

Pengunjung harus menukarkan uang dengan girik tersebut. Girik tersedia dalam pecahan dua setengah hingga lima puluh. Pengunjung bebas menukarkan girik tanpa ada batasan minimal ataupun maksimal.

Kuliner tradisional yang dijajakan di Pasar Karetan

Pengelola Pasar Karetan, Don Kardono, mengatakan tujuan dibangunnya pasar ini adalah membangun membangun budaya pasar yang bernuansa pariwisata, dengan mengurangi penggunakan bahan-bahan plastik dan styrofoam. Wadah diganti dengan bahan-bahan yang berasal dari alam yang ramah lingkungan.

Menu kuliner yang dijual merupakan menu jadul yang sudah mulai jarang ditemukan. Di pasar ini ada lapak penjual semuanya menggunakan kayu. Termasuk wadah yang digunakan untuk makanan, berupa tembikar, daun dan batok kelapa.

“Pedagang yang berjualan di Pasar Karetan ini merupakan warga sekitar yang diberdayakan. Mereka semua mengenakan baju tradisional. Ini sebagai salah satu sarana menjaga tradisi lama yang nyaris tidak populer lagi,” ujarnya.

Sensasi menikmati makanan tradisional terasa kental, karena suasana pasar yang berada di tengah kebun karet. Pemandangannya masih asri. Pengunjung bebas memilih tempat untuk menikmati makanan tradisional, bisa di gazebo kayu atupun lesehan di rumput.

Mainan jadul pun juga dijual di Pasar Karetan

Untuk menuju pasar karetan, pengelola menyediakan angkutan wisata yang disediakan secara gratis. Kurang dari dua menit dari tempat parkir, pengunjung sudah bisa tiba di depan Pasar Karetan. Tidak ada tiket masuk ke lokasi Pasar Karetan.

Tidak hanya makanan tradisional yang menjadi daya tarik. Permainan tradisional dan spot  foto dengan latar belakang pemandangan alam yang asri bisa didapat di Pasar Karetan.

“Penataan makanan di rombong penjual juga artistik. Kalau difoto bagus. Sudah jadi obyek yang layak medsos. Tidak asal,” tutur Don Kardono.

Mendatangi Pasar Karetan serasa kembali ke zaman dulu. Seluruh pengenanan yang dijajajakn menggunakan bahan alami. Harga makanan yang disajikan di sini mulai Rp 2.500 hingga Rp 25 ribu.

Namun Pasar Karetan ini tak buka setiap hari. Pasar ini hanya buka khusus pada hari Minggu mulai pukul 07.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Editor : Ali Muntoha

Pesta Oplosan 2 Hari Berturut-turut, 3 Warga Kendal Langsung Game Over

MuriaNewsCom, Kendal – Minuman keras (miras) oplosan kembali memakan korban. Tiga warga Desa Kalirandugede, Kecamatan Cepiring, Kendal, Kamis (18/1/2018) malam tewas usai pesta miras oplosan di rumah salah satu korban.

Pesta miras itu dilaksanakan selama dua hari berturut-turut hingga membuat ketiganya langsung ’game over’. Tiga orang yang meninggal akibat pesta miras itu yakni, Munjari (47) Kamidun (48), dan Aziz Azisun (49).

Munjari dan Kamidun meninggal saat menjalani perawatan di RS Soewondo Kendal, sementara Azisun meninggal di RS Meilia Cibubur. Ketiga korban langsung dimakamkan Jumat (19/1/2018).

Informasi yang beredar, peristiwa tersebut dimulai saat seluruh korban melakukan pesta miras di Munjari Selasa pagi. Saat itu ia melihat Munjari sedang minum bersama 6 orang, termasuk Azizun dan Kamidun hingga Selasa sore.

Pesta miras itu kembali dilanjutkan di rumah Kamidun. Keesokan harinya, Munjari dan Kamidun mengantarkan Azizun ke Stasiun Weleri. Azizun hendak berangkat ke Jakarta dalam rangka urusan pekerjaan.

Sebelum kereta datang mereka bertiga kembali menenggak miras sebagai tanda perpisahan. Malamnya usai mengantarkan Aziz, dua korban mengeluh mual dan pandangannya kabur.

Keduanya meninggal dalam perawatan di RS Soewondo Kendal sedangkan Aziz Azisun dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah tiba di Jakarta dan meninggal Kamis malam.

“Korban minum di dalam rumah Munjari, ada empat orang satu orang lainnya tidak dikenal. Malam setelahnya mengeluh sesak nafas dan mual dan pandangannya mulai kabur,” kata Mahmud, Kadus Randusari.

Miras yang diminum tiga korban merupakan miras oplosan yang dibeli dari warung milik Asrof. Miras dibeli dengan harga Rp 25 ribu per liter.

Kapolres Kendal AKBP Adi Wijaya mengatakan, korban tewas setelah menenggak minuman keras oplosan. Ia juga menyebut, pihaknya tengah memeriksa kandungan dalam miras oplosan itu. ”Sejumlah saksi kami mintai keterangan,” terangnya.

Meski demikian, polisi mengalami kendala untuk mencari barang bukti. Pasalnya, miras yang membuat tiga orang itu tewas semuanya telah habis diminum para korban.

Editor : Ali Muntoha

Polisi di Kendal Ini ‘Bisiki’ Ibu-ibu yang Mau Bunuh Diri di Rel, Selanjutnya Ini yang Terjadi

MuriaNewsCom, Kendal – Seorang ibu bernama Yaminah (34), warga Desa Ngelak, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terlihat termenenung di pinggir rel kereta api, di Kampung Pandean Kecamatan Kaliwungu, Kendal, akhir pekan kemarin.

Gerak-gerik ini mencurigakan, seperti seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Kecurigaan ini diamati oleh petugas jaga perlintasan rel. Petugas ini kemudian melapor ke Polsek Kaliwungu.

Berselang tak berapa lama, Bhabinkamtibmas Polsek Kaliwungu, Aiptu Rupii dan anggota SPKT Polsek Kaliwungu datang ke lokasi Yaminah yang mencoba bunuh diri. Dengan tenang Aiptu Rupii mendekati ibu tersebut.

Dengan hati-hati bhabinkamtibmas ini membujuk Yaminah agar mengurungkan niatnya. Pendekatan yang dilakukan polisi ini mampu menyentuh hati Yaminah yang tengah putus asa, sehingga ia mulai bisa mengontrol emosi.

Ibu Yaminah ini putus asa karena masalah keluarga dan ekonomi. Ia jauh-jauh dari Malang untuk menemui suaminya di Tegal. Kemungkinan hubungan rumah tangga mereka lagi bermasalah. Namun di perjalanan, ia kehabisan bekal dan semakin putus asa.

Beruntung Aiptu Rupii berhasil menenangkan ibu tersebut. Ia memberi pengertian bahwa cara yang akan ditempuh adalah salah, dan tak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Emosi ibu itu pun meredam dan mengurungkan niatnya.

“Setelah dilakukan pendekatan dan diberikan pengertian oleh Aiptu Rupii, akhirnya niat bunuh diri diurungkan dan Yaminah mau untuk diajak ke Polsek Kaliwungu,” kata Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya, melalui Kapolsek Kaliwungu AKP Nanung Nugroho.

Ia juga menyebut, sebelum mencoba bunuh diri di rel, Yaminah juga sempat mencoba bunuh diri saat berada di kota Kendal. Yaminah mencoba mengakhiri hidupnya dengan minum obat sakit kepala yang dicampur soda.

Beruntung aksi itu berhasil diketahui warga, yang kemudian membawa Yaminah ke RSUD Soewondo Kendal. Nyawanya berhasil diselamatkan, namun Yaminah kembali mencoba bunuh diri.

“Setelah kondisinya agak membaik ia melanjutkan perjalanan ke arah Kaliwungu dan sampai di rel Pandean/ Ia berniat untuk mencoba bunuh diri kembali,” tambah AKP Nanung.

Setelah mendapatkan arahan dan mengerti, Yaminah akhirnya sadar dan bersedia pulang ke Malang. Oleh Polsek Kaliwungu Yaminah diantar ke Terminal Mangkang dan dititipkan bus untuk bisa kembali ke Malang.

Editor : Ali Muntoha

Seluruh Bocah di Desa Balita Korban Difteri Asal Kendal Diimunisasi Ulang

Ilustrasi (Pixabay)

MuriaNewsCom, Semarang – Pascameninggalnya balita penderita difteri asal Kabupaten Kendal, Rabu (13/12/2017) kemarin, pihak keluarga dan orang-orang dekat korban langsung diperiksa.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal memeriksa kondisi kesehatan warga di sekitar korban, termasuk teman sekolah korban yang pernah melakukan kontak dengan pasien. Antara Jateng melansir, pemeriksaan dilakukan untuk menghindari mewabahnya penyakit tersebut.

“Kami lakukan penyelidikan epidemologis (PE) menindaklanjuti adanya pasien difteri di Kendal,” kata Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kendal Muntoha, Kamis (14/12/2017).

Hal tersebut diungkapkannya di sela rapat koordinasi dengan dinas-dinas kesehatan kabupaten/kota dan stakeholder terkait mengenai difteri yang berlangsung di Kantor Dinas Kesehatan Jawa Tengah.

Ia menyebut, langkah PE dilakukan, lantaran korban mempunyai latarbelakang mobilitas yang tinggi. sehingga seluruh orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien diperiksa kesehatanya.

“Kebetulan, mendiang anak ini mobilitasnya tinggi. Jadi, kami lakukan pemeriksaan juga di PAUD tempatnya sekolah untuk mengantisipasi risiko terpapar,” katanya.

Namun, kata dia, hanya yang melakukan kontak dalam waktu kurang dari dua pekan sebelum pasien meninggal. Jika kontak sudah dilakukan lewat dari dua pekan tergolong aman dari paparan bakteri difteri.

Selain itu, Muntoha mengatakan, imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) juga dilakukan kepada seluruh anak yang ada di desa tersebut untuk melindungi dari potensi terpapar difteri.

Baca : Balita Pasien Difteri Meninggal di RS Kariadi Semarang

Diakuinya, selama ini memang belum semua anak di Kendal mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Sebab ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak imunisasi.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng Dokter Yulianto Prabowo mengatakan, dengan imunisasi dasar secara lengkap setidaknya bisa melindungi anak dari paparan penyakit, seperti difteri.

“Kalau toh terkena pun bersifat ringan dan bisa diatasi. Dari tiga kasus difteri yang kami temukan di Jateng, semuanya status imunisasi dasarnya tidak lengkap,” ujarnya.

Mengenai ORI, ia mengatakan sejauh ini hanya dilakukan di satu desa yang ada di Kendal. Itu karena menindaklanjuti temuan kasus difteri di kabupaten tersebut yang pasiennya akhirnya meninggal dunia.

“Jadi, tidak dilakukan pada all population, melainkan dalam populasi terbatas yang mempunyai risiko tinggi. Meski dibanding daerah lain kasus difteri di Jateng lebih sedikit, kami tetap waspada,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang pasien difteri berusia empat tahun asal Sambungsari, Kendal, Jateng, meninggal dunia karena kondisinya yang sudah parah ketika dirujuk ke rumah sakit.

Berbagai langkah penanganan sudah dilakukan, termasuk memberikan antidifteri serum (ADS) dan merencanakan trakeostomi karena selaput membran di tenggorokan sudah menutup saluran pernafasan.

Editor : Ali Muntoha

Logo Kabupaten Kendal Tuai Kontroversi

Logo Kabupaten Kendal yang baru dan yang lama. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kendal – Logo Kabupaten Kendal mengalami pergantian pada 2011 lalu, tepatnya saat pemerintahan Widya Kandi Susanti dan KH Mustamsikin. Namun, beberapa waktu terakhir muncul sejumlah pihak yang ingin logo lama dikembalikan.

Tak pelak hal itu membuat Bupati Kendal Mirna Anissa bereaksi. Mirna membuat Surat Keputusan untuk mengkaji ulang dan memberikan kesempatan kepada elemen masyarakat dan juga tokoh masyatakat untuk membahas kembali.

Kepala Bagian Organisasi Setda Kandal Agus Dwi Lestari kepada media Kamis (16/11/2017) mengatakan adanya desakan elemen masyarakat tersebut pihaknya diberikan tugas untuk membahas dan mengkaji ulang logo baru yang saat ini dipertanyakan. Focus Group Discussion (FGD) digelar oleh pemkab Kendal melalui Bagian Organisasi sebagai langkah awal dalam pengkajian ulang penggantian logo.

“Kami akan melakukan FGD, survey lapangan dan juga sarasehan serta seminar sebelum menentukan lembali ke logo lama atau tetap di logo yang baru,” ujar Agus dilansir dari KRJogja.com.

Taguh Yuwono pakar kebijakan publik mengatakan bahwa logo sangat penting sebagai identitas. Tanpa logo orang tidak akan mengenal suatu barang daerah atau negara. “Semua orang tau kalau merah putih adalah bendera negar Indonesia, tanpa itu kita tidak mengetahui mana indonesia, jadi kehadiran logo sangat penting,” ujar Teguh.

Menentukan logo harus memperhatikan sejarah karena logo sangat berkaitan dengan sejarah, dua logo yang ada, faktor sejarah harus diperhatikan.

Sementara itu mantan Bupati Kendal Masduki Yussak menyayangkan penggantian logo, pasalnya logo lama sarat dengan sejarah. Menurutnya logo Kendal harus ada gambar kendilnya, pasalnya sejarah menggambarkan bahwa para pejuang melawan penjajah makan kenyang dengan menggunakan kendil.

“Para tokoh sangat menyayangkan hilangnya kendil di logo yang baru padahal maknanya sangat dalam kendil tersebut, ketika ada wacana kembali ke logo lama saya sangat setuju,” ujar Masduki.

Pakar desain grafis dan branding Anis Rufiyanto menjelaskan bahwa logo hendaknya simpel dan bisa dilihat oleh masyarakat. Jika melihat dua logo yaitu logo lama dan baru dirinya mengatakan logo lama sangat sakral dan bersejarah serta simpel dan penuh makna. Sedangkan logo yang baru yang saat ini berlaku masih standar.

“Jika melihat logo yang ada logo pertama simpel dan besar makna sedangkan logo baru sangat stndar,” ujar Anis.

Sementara itu dengan tegas tokoh agama Mochtarom Rahmat mengatakan untuk kembali ke logo lama karena nilai sejarah dan sangat menggambakan kondisi Kabupaten Kendal. “Tanpa mengurangi rasa hormat kami tokoh agama di Kendal untuk kembali ke logo lama karena melihat kepada sejarah, dan tergambar kondisi masyarakat Kendal,” ujat Mochtarom.

 

Editor : Akrom Hazami

Sejoli Diciduk Usai Sebut Polisi Begal di Medsos  

Muda mudi yang melakukan ujaran kebencian menjalani pembinaan dari Polres Kendal. (Humas Polres Kendal).

MuriaNewsCom, Kendal – Kesal lantaran ditilang dalam sebuah razia kendaraan bermotor yang digelar oleh Satuan Lalu Lintas Polres Kendal pada Sabtu (21/10/2017), sepasang muda mudi membuat postingan bermuatan ujaran kebencian yang kemudian diunggah ke sebuah grup media sosial Facebook.

Dalam postingannya yang menggunakan akun Ciu  Mailing menyebutkan “lurrrr galuuuurrr seng dino iki intok iki sopo ??? aku di begal di kai koyok ngene ! , yang disertai dengan foto surat tilang dari Sat Lantas Polres Kendal dengan pelanggaran tidak memiliki SIM.

Mendapati postingan bernada ujaran kebencian seperti itu di media sosial, Polres Kendal  meluruskannya. Kemudian melakukan penelusuran dan mendapati pemilik asli dari akun Ciu Mailing bernama DS (17), perempuan, warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Kendal.

Dari hasil klarifikasi kepada yang bersangkutan, postingan tersebut memang di unggah sendiri namun dari pengakuannya disuruh oleh tunangannya NB (24) yang juga merupakan warga Ketapang.

Mereka mengatakan setelah ditindak tilang oleh Sat Lantas Polres Kendal, lalu melanjutkan perjalanannya hingga ke wilayah Mranggen Kabupaten Demak. “Saya yang menulis dan menguploadnya, tapi isi postingan disuruh oleh tunangan saya”, kata DS.

Atas postingannya itu, mereka mengaku menyesal dan minta maaf kepada kepolisian serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa dan membuat surat pernyataan yang disaksikan oleh Kasat Lantas Polres Kendal AKP Edy Sutrisno, Kaurmintu Sat Lantas dan dari Humas Polres Kendal.

Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya, melalui Kasubbag Humas AKP Nurhidajat menjelaskan bahwa pasangan remaja tadi membuat ujaran kebencian yang ditujukan bagi Polres Kendal yang sedang melaksanakan tugas. Maka dari itu yang bersangkutan kemudian dipanggil untuk diminta klarifikasinya.

“Polisi sudah benar melakukan tindakan tilang, namun si pelanggar justru membuat postingan hate speech di medsos. Maka dari itu perlu diluruskan. Dan kepada yang bersangkutan dilakukan pembinaan”, katanya.

Editor : Akrom Hazami

Guru Ngaji Ditangkap Densus 88 di Kendal

ILUSTRASO

MuriaNewsCom, Kendal – MK (33) guru ngaji salah satu pondok pesantren di Desa Pagersari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, ditangkap Densus 88 Anti Teror, Selasa (24/10/2017) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Kapolres Kendal, AKBP Adi Wijaya, membenarkan adanya penangkapan yang dilakukan Densus 88 terhadap seorang warga Kendal. Kini yang ditangkap, telah dibawa ke Jakarta setelah sebelumnya dibawa ke Semarang lebih dulu.

Kapolsek Patean, AKP Abdullah Umar mengatakan, penangkapan dilakukan Densus pagi tadi. “Densus 88 jam 07.00 tadi,” kata Abdullah.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Luxio Tabrak Truk Semen di Kendal, 3 Penumpang Tewas 5 Lain Kritis

Kondisi mobil Luxio yang remuk setelah menabrak truk semen di Kendal. Tiga orang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kendal – Kecelakaan maut terjadi di jalan pantura Cepiring, Kendal, Selasa (17/10/2017) subuh. Daihatsu Luxio nopol B 1965 EFZ berpenumpang delapan orang yang melaju dari arah Jakarta menabrak truk tangki semen nopol W 9519 UZ.

Akibatnya, tiga orang penumpang tewas, sementara lima orang lainnya kritis dan dilarikan ke rumah sakit. Mobil Luxio yang terlibat kecelakaan tersebut juga remuk.

Tiga penumpang yang tewas yakni Ade Rodrygo Maspaitella (45) warga Depok, Jawa Barat; Wardiman (48) warga Klaten; dan Sutinah (60) warga Klaten. Sementara sopir Luxio itu Irwansyah Ariwibowo (45) warga Depok, Jawa Barat, selamat dan dirawat di RS Baitul Hikma Kendal bersama penumpang selamat lainnya.

Kasatlantas Polres Kendal AKP Eddy Sutrisno menjelaskan, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi dan melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan.

Berdasarkan keterangan saksi, kecelakaan terjadi di sekitar jembatan Cepiring. Saat itu menurut dia, mobil Luxio melaju dari arah barat (Jakarta) tiba-tiba menabrak patok perbaikan jalan dan trotoar, hingga keluar jalur.

Sementara dari arah berlawanan melaju truk tangki semen. Kecelakaan pun tak terhindarkan. Diduga sopir Luxio kurang kosentrasi atau mengantuk saat melaju.

“Karena jaraknya sudah dekat dan pengemudi Luxio tidak dapat menguasai laju kemudian menabrak bagian bamper depan truck tanki semen,” ujarnya.

Ia memastikan pihaknya akan melakukan penyelidikan secara rinci untuk mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan ini.

Sementrara itu, pihak Jasa Marga juga memastikan, seluruh biaya perawatan korban kecelakaan di rumah sakit akan ditanggung Jasa Marga. Ahli waris korban meninggal dunia juga akan mendapat santunan sebesar Rp 50 juta.

Editor : Ali Muntoha

PK Cantik Tusuk Temannya di Lokalisasi Gambilangu Kendal

Pemandu karaoke (PK) Heni Wahyuningsih alias Yola (19) saat diperiksa polisi di Mapolsek Kaliwungu Kendal, Rabu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kendal – Seorang pemandu karaoke (PK) cantik bernama Heni Wahyuningsih alias Yola (19) tega menusuk teman sesama PK di kompleks Lokalisasi Gambilangu (GBL), Dukuh Mlaten, Desa Sumberejo, Kaliwungu, Kendal, Rabu (4/9/2017). Korbannya adalah Suryani (35) alias Tya. Pelaku menusuk korban menggunakan gunting ke bagian dada sampai tembus paru-paru.

Warga melarikan korban ke Rumah Sakit Soewondo Kendal untuk mendapatkan perawatan. Sampai saat ini, korban masih dirawat secara intensif. Sedangkan pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menghuni salah satu sel tahanan di Mapolsek Kaliwungu Kendal.

Info yang dihimpun, Yola saat itu sedang dalam pengaruh minuman keras. Yola marah dengan Tya karena ucapannya yang dianggapnya menyakitkan. Saat itu,  pelaku sedang diantar tamunya ke tempat kos tidak jauh dari tempat karaoke. Saat dibonceng motor inilah, korban Tya menegur pelaku dengan kalimat yang menyinggung.

Karena tidak terima diejek korban pelaku kemudian mengambil gunting dari dalam kamar dan mendatangi korban. “Saya sebenarnya tidak ada masalah sama Tya tapi dia ngatain, ‘wah gemblek’ane anyar, gitu terus,” kata pelaku kepada polisi.

Yola kemudian ganti baju dan mendatangi korban dengan membawa gunting. Yola mengaku saat itu Tya yang mulai lebih dulu. Tya menarik rambut dan tubuh Yola. Yola pun langsung menusuk gunting ke dada bagian tengah Tya.

Kapolsek Kaliwungu AKP Nanung Nugraha Indaryanto mengatakan, perbuatan yang dilakukan pelaku karena rasa tersinggung terhadap korban. “Pelaku takut kalau pacarnya tahu. Maka dia masuk ke kamar mengambil gunting,” kata Nanung.

Akibat perbuatannya, pelaku harus menjalani hukuman penjara paling lama tujuh tahun. Pelaku dijerat dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

Editor : Akrom Hazami

Ngerinya Aksi Pembunuhan Paranormal di Kendal Ini

Polisi saat menemukan mayat korban di hutan di Temanggung. (Polres Temanggung)

MuriaNewsCom, Kendal – Pembunuhan sadis terjadi di Kabupaten Kendal, dengan mayatnya dibuang di hutan karet Desa Selosabrang, Bejen, Temanggung, 6 September 2017.

Korbannya adalah Sugeng Raharjo (37) warga Kelurahan Klidang Los, Kabupaten Batang. Namun siapa sangka, otak pembunuhan sadis paranormal itu adalah seorang perempuan, Dewi Purnama (37) warga Boja, Kabupaten Semarang.

Kepada polisi saat reka ulang di Mapolres Kendal, Selasa (26/9/2017), Dewi memperlihatkan aksi sadisnya bersama para pelaku lain. Ide pembunuhan tersebut dilakukan Dewi karena kesal kepada korban Sugeng. Sudah hampir satu tahun, Dewi berobat ke Sugeng, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.

Padahal, Dewi telah mengeluarkan uang sekitar Rp 150 juta. Setiap periksa, Dewi harus merogoh kocek Rp 5 sampai Rp 10 juta. “Tapi penyakit kanker saya enggak sembuh juga,” kata Dewi.

Dewi pun menyusun rencana jahat. Dewi terlebih lebih dulu meminta teman dekatnya, Wisnu Heru Susanto, untuk menagihkan uang yang selama ini dibayarkan ke Sugeng.

Dewi pun membuat janji bertemu dengan Sugeng. Dewi pun berhasil mengajak Sugeng, dengan berboncengan ke RM Duren Jati, Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal.

Pada reka ulang, Wisnu terlebih dulu mengajak Didit, Aris, Kuncoro, Fajar, dan Sunarto, menikmati minuman keras di hutan Darupono. Letak hutan dan RM Duren Jati berdekatan. Jadi mereka tahu Dewi dan Sugeng tiba.

Wisnu dan pelaku langsung menemui mereka. Pelaku mengapit Sugeng di bangku tengah. Pelaku Didit yang duduk di belakang menjerat leher Sugeng dengan tali tambang. Dalam kondisi tersebut, Sugeng memberontak. Hal itu membuat Aris bereaksi. Dipukulnya kepala Sugeng menggunakan botol minuman keras.

Di saat itu, pelaku Fajar yang duduk di samping Sugeng langsung menusuk kepala leher belakang korban menggunakan gunting. Sugeng pun semakin tak berdaya. Tubuh Sugeng dimasukkan ke karung dan dibuang ke perkebunan karet PTPN IX Bojongrejo di Dusun Sapen, Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung. Pada 9 September, mayat ditemukan.

Usai menjalankan aksi kejamnya, para pelaku menerima upah dari Dewi. Paling banyak upahnya adalah Kuncoro, Sunarto dan Didit. Masing-masing mereka menerima uang Rp 500 ribu. Aris menerima uang Rp 450 ribu, dan Fajar menerima Rp 150 ribu.

Kepada wartawan, Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Aris Munandar mengatakan, motif pembunuhan itu karena pelaku Dewi kesal kepada korban lantaran penyakitnya tak sembuh juga. “Tujuh pelaku kena pasal berlapis yakni 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 351 tentang penganiayaan dan 338 tentang pembunuhan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Kantor Aset Daerah di Komplek Perkantoran Bupati Kendal Terbakar

Petugas pemadam kebakaran saat berada di lokasi kejadian. (Foto: Unggul P-KR Jogja)

MuriaNewsCom, Kendal – Kebakaran terjdi di kompleks kantor Bupati Kendal, Selasa (19/9/2017), pagi hari. Tepatnya  di lantai dua ruang bidang pengelolaan aset daerah Badan Keuangan Daerah Pemkab Kendal.

Kebakaran tidak mengakibatkan korban jiwa. Saat ini, jumlah kerugian masih dikalkulasi. Adapun untuk penyebab kebakaran sendiri, diduga karena arus pendek. Untuk lebih jelasnya, polisi masih melakukan penyelidikan, baik keterangan saksi, maupun hasil olah tempat kejadian.

Kepala Bidang Pengelolaan Aset Daerah, Aris Irwanto mengatakan telah terjadi kebakaran di tempat kerjanya. Satu hari sebelumnya, dia telah mencium bau sangit di kantor itu. Kebakaran baru diketahui pagi ini. Saat itu, dirinya baru tiba dari luar, untuk mengantar anaknya sekolah.

Dia melihat asap dari lantai dua. Begitu didatangi, kebakaran terjadi dengan menghanguskan dokumen. Sedangkan perangkat komputer bisa diselamatkan. Sejumlah pegawai telah membersihkan ruang. Pegawai yang biasa ngantor di tempat itu, menempati lobi pelayanan pajak dan bangunan.

Penjaga gedung ruang bidang pengelolaan aset daerah, Nur Aziz memadamkan api saat mendengar teriakan kebakaran menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Sekitar empat mobil pemadam kebakaran dikerahkan. Kini api telah berhasil dipadamkan.

 

Editor : Akrom Hazami

Hingga Senin Pagi, Polisi masih Periksa Kasus Kecelakaan KA di Kendal yang Tewaskan 5 Orang

Kondisi bangkai mobil yang ditabrak KA Kaligung di Desa Gebang, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal. (tribratanews)

MuriaNewsCom, Kendal – Kecelakaan maut terjadi di Gemuh, Kabupaten Kendal,Minggu (20/8/2017). Kecelakaan melibatkan sebuah mobil berwarna hitam Avanza B 998 RS dan Kereta Api (KA) Kaligung di perlintasan tanpa palang pintu km 32+4/5, di Jalan Gebang Selatan, Kecamatan Gemuh.

Saksi mata, Eko Purwanto (30) melihat kjadian berawal saat mobil akan melewati perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu. Tiba-tiba ada kereta api melintas. Nahas, bagian belakang mobil tertabrak KA. Seketika, lima orang penumpang mobil meninggal dunia di tempat kejadian.  Seluruth korban dilarikan ke RSI Muhammadiyah Kendal.

Para korban adalah Muhammad Thamrin (63), Lina Retnowati (32), Nabila Jaquin (13), Muhammad Paris Ramadhan (2 ) dan Renan (8 bulan). Mereka satu keluarga. Sekeluarga itu baru pindah ke Kendal pada awal Ramadan 2017. Semula keluarga tersebut tinggal di Kalideres Jakarta Barat.

Mereka baru menetap di Penyangkringan, Kecamatan Weleri ,kabupaten Kendal. Rencananya, mereka dari Penyangkringan menuju rumah kakeknya, Suwandi, di Tejorejo, Ringinarum, Kendal. “Cucu saya yang SMP itu telepon saya terus. Bilang Kek saya mau main ke rumah kakek,” kata Suwandi kakek korban, menirukan cucunya dikutip dari tribunjateng.com.

Katanya, cucunya telepon sekitar pukul 11.30 WIB. Sekitar 20 menit kemudian Avanza hitam itu mengalami kecelakaan. Saat melintasi perlintasan tanpa penjaga palang pintu, tiba-tiba tersambar KA Kaligung.

Posisi mobil itu sedang berada di atas rel kereta api. Saat itu, KA yang sedang melintas cepat menyambar mobil. Hingga mobil pun terpental dan terseret. Korban terlempar keluar dari mobil dan bergelimpangan.

Suwandi tak tahu apa yang terjadi. Namun ada firasat tak enak hati. Kenapa si cucu tidak menelepon lagi. Dirinya pun telepon ponsel Lina, anaknya. Telepon masuk tapi tak diangkat. Kemudian telepon cucunya, juga masuk dan tidak ada yang mengangkat. Suwandi pun makin deg-degan dan hatinya gundah.

Suwandi menelepon anaknya yang lain. Barulah dikabari jika anak cucunya mengalami kecelakaan tertabrak kereta api. Suwandi berusaha tegar meski sangat berat. Dia pun bergegas ke rumah sakit di Kendal untuk memastikan dan melihat langsung tubuh anak cucunya. Kelima jenazah kemudian dibawa ke rumah kakak pertama Lina di Desa Tejorejo, Ringinarum.

Sementara kondisii KA Kaligung tak mengalami masalah kendati usai menabrak mobil. “Keretanya aman dan normal sampai tujuan. Tak ada kerusakan,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Kuswoyo.

Baca juga : Kecelakan KA Tewaskan Sekeluarga di Kendal, Pemerintah Harus Ikut Tanggung Jawab

Kapolres Kendal AKBP Adiwijaya melalui Kasat Lantas AKP Edi Sutrisno, mengatakan, kronologi dari tabrakan maut tersebut bermula dari Avanza yang berjalan dari arah barat atau Weleri menuju arah timur ke Gemuh. Sesampainya di lokasi, mobil Avanza tersebut belok kanan melintas jalur kereta api sebidang tanpa palang pintu dan saat itu juga melintas Kereta Api Kaligung jurusan Tegal – Semarang dari arah barat.

“Diduga pengemudi mobil ketika melintas jalur rel kurang berhati-hati dan akhirnya tertabrak Kereta Api hingga terseret ke timur sejauh 25 meter”, terangnya.

Polisi sampai saat ini masih melakukan mendalam ihwal kasus kecelakaan ini. 

Kepala Cabang PT Jasa Raharja Jateng, Harwan Muldidarmawan mengatakan pihaknya bakal segera mencairkan santunan untuk ahli waris korban. Para korban dijamin UU.34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Besar santunan kematian untuk korban meninggal karena kecelakaan adalah Rp 50 juta dan segera diserahkan kepada ahli waris.
Adapun ketentuan ahli waris sudah ada dalam undang-undang tersebut. Pencairannya dilakukan pada hari ini, Senin (21/8/2017).

Editor : Akrom Hazami

Beruntung Tak Dibakar Massa, Pencuri Kotak Amal Musala di Kaliwungu Kendal Ini Babak Belur

Pencuri kotak amal musala, Yudi, mengalami babak belur, di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. (metrojateng)

MuriaNewsCom, Kendal – Yudi Prasetya (24), warga Kelurahan Blumbungan, Kecamatan Jagalan Selatan, Kota Semarang, benar-benar nekat. Yudi mencuri kotak amal di Musala Al Asyari Kampung Pesantren, Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal, Jumat (18/7/2017) siang.

Aksinya terpergok warga. Tentu saja, warga tak tinggal diam. Warga yang diliputi rasa amarah langsung mengejar Yudi. Warga berhasil mengejar Yudi. Pukulan demi pukulan dilayangkan ke wajah pemuda itu. Beruntung, warga tidak sampai melakukan pembakaran seperti yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Polisi yang tiba di lokasi, segera mengamankan Yudi.

Polisi kemudian melarikan Yudi ke Rumah Sakit Darul Istiqomah, Kaliwungu, Kendal. Yudi dalam kondisi tangan terborgol, harus menjalani belasan jahitan akibat luka wajah.  Usai mendapat perawatan, Yudi dibawa ke sel tahanan Mapolsek Kaliwungu.

Sedangkan barang bukti kotak amal yang dicongkel gemboknya diamankan sebagai barang bukti. Polisi mengamankan pula uang dari tangan Yudi sebesar Rp 740 ribu. Polisi masih melakukan penyelidikan kasus pencurian kotak amal ini.

Kepada polisi, Yudi menceritakan, dirinya melakukan pencurian karena butuh uang. Yudi pun mencuri kotak amal. Sebelum mencuri, Yudi pura-pura tidur di Musala Al Asyari. Saat suasana sepi, Yudi segera melakukan aksinya. Yaitu dengan mencongkel gembok yang ada di bagian bawah kotak amal.

Warga memergoki aksinya itu dan menangkapnya. Yudi beralasan tidak memiliki pekerjaan dan uang untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya tidak punya uang. Sebelumnya saya memang tidur di musala,” kata Yudi dikutip dari metrojateng.com.

Sementara itu, menurut Kapolsek Kaliwungu AKP Nanung Nugraha, Yudi sudah dua kali tercatat kasus serupa di kepolisian. “Pelaku diamankan warga yang sudah menghakimi lebih dulu, lalu diserahkan ke polisi,” ujar Nanung.

Editor : Akrom Hazami

Warga Kendal Bisa Dengarkan Lagu Kebangsaan Tiap Pagi Lewat Aplikasi Android Ini 

Tampilan aplikasi Android Kendal Gema Kebangsaan. (kendalkab.go.id)

MuriaNewsCom, Kendal – Bupati Kendal Mirna Annisa, meluncurkan aplikasi android Kendal Gema Kebangsaan, Kamis (17/8/2017) usai Upacara HUT ke 72 RI di Alun – Alun Kabupaten Kendal. Aplikasi bertujuan untuk menumbuhkan jiwa dan semangat nasionalisme kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ).

Menurut Mirna, aplikasi tersebut utamanya ditujukan pada anak – anak muda agar rasa dan semangat nasionalismenya bangkit. Sehingga rasa cinta pada tanah air Indonesia tetap ada dan bisa diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari -hari. Dan Kabupaten Kendal bisa menjadi pelopor dan aplikasi tersebut bisa disebarluaskan ke seluruh Indonesia.

Apikasi tersebut, bisa diunduh lewat google Play Store di gawai pintar (smartphone) masing – masing. Program tersebut sebenarnya dinisiasi oleh Dandim Kendal untuk menumbuhkan nasionalisme di kalangan pemuda dan baru pertama kali di Indonesia. Isi aplikasi, lanjut Mirna, berupa lagu – lagu kebangsaan yang diputar setiap pukul 06.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB secara serentak dan otomatis di 266 desa dan 20 kelurahan se-Kabupaten Kendal.

“Kita kumandangkan, kita bangun semangat kebersamaan mulai hari ini (17/8/2017). Tiap pukul 6 pagi untuk Indonesia Raya, pukul 13 lagu Garuda Pancasila dan pukul 21.00 WIB dengan lagu Indonesia Pusaka,” terangnya dikutip portal resmi Kabupaten Kendal.

Menurut Mirna, aplikasi tersebut diharapkan dinstall oleh semua PNS dan perangkat desa se-Kabupaten Kendal untuk menjaga jiwa patriotisme bangsa lewat penanaman nilai – nilai kebangsaan lewat lagu – lagu perjuangan. Di kelurahan, desa dan sekolahan bisa didengarkan lagu – lagu kebangsaan tersebut lewat speaker pada PJU yang disebut Tiang Kebangsaan dengan tenaga matahari ( solar cell ) yang diberi speaker.

Ketika ditanya apakah ada sanksi bila tidak menginstal aplikasi tersebut, Bupati menjawab, bahwa nasionalisme diharapkan tumbuh dengan kesadaran diri dan tidak dipaksa – paksa.

Andrian selaku anggota Tim IT dari aplikasi itu, mengatakan, pihaknya  menerima masukan lagu kebangsaan baru atau diganti lagu baru.

 

Editor : Akrom Hazami

PKPI Kendal Hanya Incar 4 Kursi

KENDAL-PKPI tampaknya tak muluk-muluk dalam memasang target pada Pileg April mendatang. Di tingkat kabupaten/kota, partai yang dimpimpin mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso itu, terkesan mencari target aman.
Seperti PKPI Kendal, yang dalam Pileg 2014 mendatang, hanya menargetkan mendapatkan empat kursi di DPRD setempat.  Pengurus DPC PKPI Kendal Miftahul Amin mengakui, partai berlambang burung elang tersebut memang belum eksis.
Bahkan perolehan suara di parleman sangat minim. Meski demikian, pihaknya tidak berkecil hati untuk menjadi caleg yang diusung PKPI.
”Secara umum partai kami belum eksis. Namun kami mempunyai strategi untuk meraih target itu. Selain melakukan pendekatan personal, kami juga melakukan penggalangan massa melalui kerabat dan teman. Jadi, dari 18 caleg PKPI yang ada di seluruh Kendal, target kami harus memperoleh empat kursi di DPRD Kendal,” katanya kepada Koran Muria, Selasa (28/1).

Lanjutkan membaca