Pastikan Stok Aman, Polsek Lasem Pantau Distribusi Gas Elpiji Bersubsidi 

MuriaNewsCom, Rembang – Polsek Lasem kembali memantau distribusi gas elpiji 3 kg di sejumlah titik. Hal itu dilakukan untuk memastikan stok aman, sekaligus mengantisipasi penyimpangan yang dilakukan para agen ataupun distributor.

Kapolsek Lasem AKP Didik Dwi Susanto menyebutkan, sedikitnya ada tiga pangkalan yang didatangi petugas. Ketiga pangkalan tersebut di antaranya pangkalan di Desa Gedongmulyo, pangkalan Desa Sumbergirang, dan pangkalan di Desa Jolotundo.

”Pengecekan yang dilakukan meliputi berapa jumlah pengiriman dan harga eceran tertinggi (HET). Kami tidak mau ada pedagang yang bermain curang,” katanya seperti dikutip dari laman resmi Humas Polres Rembang.

Dari pengecekan tersebut, lanjutnya, hasilnya bervariasi. Itu lantaran ada pangkalan yang menerima jatah 400 – 600 an tabung per pekan. Begitu pula soal harga, untuk elpiji 3 Kg ada yang menjual Rp 16.000 hingga Rp 18.500. Sejauh pengamatannya, belum muncul gejolak, terkait masalah elpiji bersubsidi.

Karena gas tersebut hak dari keluarga kurang mampu, pihaknya menghimbau kepada pemilik pangkalan, supaya elpiji 3 Kg dijual tepat sasaran. Tujuannya supaya tidak ada keluhan dari masyarakat .

”Tiap kita datang ke pangkalan, yang dicek stok sama HET nya. Harga tertinggi memang beda – beda. Sejauh pantauan kami masih dalam batas kewajaran. Belum muncul antrean panjang. Pantauan ini merupakan bentuk pengawasan atas perintah pimpinan,” terang AKP Didik.

Selain mengecek stok gas elpiji 3 kg, Kapolsek juga meminta kepada keluarga yang mampu agar tidak membeli gas elpiji 3 Kg. Saat ini sudah ada alternatif lain, seperti Bright Gas isi 5,5 kg dan isi 12 Kg yang termasuk non subsidi.

”Yang subsidi sebaiknya untuk masyarakat yang kurang mampu. Saat ini sudah ada Bright Gas yang harganya juga ekonomis,” tambahnya.

Editor: Supriyadi

Dewan Tak Ingin Tahun 2018 Masih Ada Kelangkaan Elpiji 3 Kg

MuriaNewsCom, Semarang – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah menyoroti sering terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg, terutama saat momen hari besar.

Kelangkaan elpiji 3 kg terjadi di sejumlah daerah di Jateng, sehingga akibat kelangkaan itu, harga elpiji 3 kg melambung. Harga gas tersebut naik  bahkan sampai kisaran Rp 22 ribu dari yang harga normal Rp 18 ribu.

“Kami berharap pemerintah, dalam hal ini PT Pertamina agar bisa melakukan pemantauan dan pengawasan yang ketat terhadap distribusi elpiji 3kg tersebut,” katanya.

Saat ini, menurut Riyono, kelangkaan elpiji yang dirasakan masyarakat lebih disebabkan permintaannya yang naik.

Selain itu, juga menemukan bahwa elpiji 3 kg digunakan rumah tangga mampu. Padahal, elpiji 3 kg adalah gas bersubsidi yang diperuntukan bagi masyarakat tidak mampu.

Riyono  mengatakan, Elpiji merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi masyarakat dan bisa memengaruhi kondisi ekonomi rakyat kecil. Dia juga berharap pada tahun 2018 ini tidak terjadi lagi kelangkaan gas 3 kg.

Pertamina juga diminta perlu memberikan penambahan kuota distribusi. Mengingat kebutuhan masyarakat cukup tinggi.

“Apalagi kelangkaan elpiji 3kg tersebut telah memicu kenaikan  harga di tingkat pengecer dari harga resmi yang  telah ditetapkan oleh pemerintah dan PT Pertamina,”ujarnya.

 

Editor : Ali Muntoha

Pertamina Jamin Tak Ada Gejolak Harga Elpiji di Jateng

Petugas menurun Elpiji tiga kilogram saat operasi pasar di Kecamatan Jati. Pertamina memastikan tak ada gejolak harga elpiji di masyarakat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Semarang – PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV menjamin ketersediaan elpiji di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istiemwa Yogyakarta (DIY) aman dan tidak terjadi gejolak harga. Terutama saat momen Natal dan Tahun Baru 2018.

“Kami sudah mengecek ke beberapa pangkalan, tidak terjadi antrean, stok di pangkalan juga masih banyak,” kata GM PT Pertamina MOR IV, Yanuar Budi Hartono dikuti dari Antara Jateng, Senin (11/12/2017).

Menurut dia, jika ada kekosongan, itu karena baru ditukar pembeli dan masih menunggu dari agen. ”Kondisi di Jateng dan DIY normal,” ujarnya.

Yanuar juga memastikan bahwa ketersediaan elpiji akan aman, sehingga masyarakat diharapkan membeli elpiji sesuai kebutuhan. Apalagi elpiji juga bisa dibeli di pangkalan elpiji yang ada di SPBU.

Sebelumnya, tambah Yanuar, Pertamina juga sempat melakukan operasi pasar di sejumlah SPBU salah satunya di SPBU Jalan Fatmawati Semarang.

Akan tetapi, hasilnya penjualan normal dan tidak ada pembelian yang berlebihan, meskipun sudah menyosisalisasikan kepara para lurah dan camat terkait mengenai operasi pasar tersebut.

“Kondisi itu akan berbeda jika kondisi di lapangan kosong. Kalau kondisi kosong, sekejap sudah habis. Kemarin bahkan masih sisa. Dari 360 tabung elpiji, hanya 105 yang terjual,” terangnya.

Yanuar memastikan kondisi di Jateng-DIY aman, karena PT Pertamina siap memberikan tambahan pasokan sesuai kebutuhan masyarakat. Selain itu masyarkaat bisa mendapatkan elpiji di mana saja, termasuk pangkalan elpiji yang berada di masing-masing SPBU.

“Kami akan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagian besar SPBU sudah menjadi pangkalan elpiji. Sehingga saat hari Minggu libur, masyarakat masih tetap bisa mendapatkan elpiji di pangkalan SPBU. Kondisi ini juga dapat menjadi stabilisator harga elpiji baik 3 kg, Bright Gas 5.5 kg, maupun yang 12 kg,” kata Yanuar.

Editor : Ali Muntoha

Pemkab Jepara Gelar Operasi Pasar Atasi Kelangkaan Elpiji

Operasi Pasar yang dilakukan guna mengatasi kelangkaan elpiji beberapa saat lalu, di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara melakukan operasi pasar guna mengatasi kelangkaan gas elpiji kemasan tiga kilogram (melon). Total ada 2.600 tabung yang akan didistribusikan ke beberapa kecamatan yang mengalami ketersendatan pasokan tabung melon. 

Kabag Perekonomian Setda Jepara Adi Nugroho mengungkapkan, 2.600 tabung yang didistribusikan melalui operasi pasar merupakan bagian dari 7.280 tabung melon yang diberi oleh Pertamina. Adapun 4.680 sisanya akan didistribusikan melalui agen-agen elpiji. 

Operasi pasar telah dilakukan sejak Senin (11/9/2017) yakni, Desa Jambu-Mlonggo, Desa Troso-Pecangaan, Kelurahan Kedungcino-Jepara. Adapun hari ini operasi pasar dilakukan di Damarwulan-Keling dan Keesokan harinya di Desa Mayong Lor-Mayong. Setiap kali operasi pasar, dijatah 520 tabung. 

Menurutnya, kondisi kelangkaan elpiji di Jepara selain banyaknya konsumsi karena khajatan, juga karena kondisi psikologis masyarakat. “Warga banyak melakukan aksi borong karena pangkalan belum menerima setoran tabung dari agen. Oleh karenanya menjadikan kelangkaan dan naiknya harga,” ujarnya, Kamis (14/9/2017).

Ia menyatakan, Jepara telah mendapatkan tambahan gelontoran tabung elpiji tiga kilogram sebanyak 20.160 buah. Dari jumlah itu sebanyak 12.880 diturunkan langsung ke agen, sedangkan 7.280 sebagian di droping melalui mekanisme operasi pasar. 

Per bulan, rerata kebutuhan elpiji di Jepara sekitar 600 ribu lebih. Sedangkan pada bulan bulan Agustus meningkat menjadi 700 ribu.

“Jepara dapat jatah 8.204.333 di tahun 2017. Hingga saat ini masih ada sisa jatah sebanyak 2.706.000 hingga bulan Desember. Masih cukup banyak, jadi saya harap warga tidak panik. Kalau ada kelangkaan Pertamina akan menambahkan kuota,” terangnya.  

Editor: Supriyadi