4 Desa di Kecamatan Kaliwungu Diminta Waspadai Banjir

Kondisi sungai SWD II yang mengalami pendangkalan dan diprediksi ketika musim penghujan tiba, banjir bisa melanda beberapa desa di sekitar aliran sungai (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kondisi sungai SWD II yang mengalami pendangkalan dan diprediksi ketika musim penghujan tiba, banjir bisa melanda beberapa desa di sekitar aliran sungai (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kemarau yang berkepanjangan diprediksikan akan menimbulkan efek turunnya curah hujan yang cukup tinggi di Kudus. Hal ini harus diwaspadai, khususnya warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Serang Welahan Drain (SWD) II Kaliwungu. Karena, saat ini sungai mengalami kondisi pendangkalan.

“Di Kaliwungu sendiri yang paling dikhawatirkan adalah masyarakat yang bermukim didekat sungai SWD II,” ujar M. Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Menurutnya, pendangkalan sudah cukup parah, dan pada tahun lalu juga sudah tidak mampu menahan debit air yang banyak. Sehingga, membuat desa disekitar sungai mengalami banjir.

Fitrianto menambahkan, ada 4 Desa di Kaliwungu yang berada didekat aliran Sungai SWD II, yaitu Desa Setrokalangan, Banget, Blimbing Kidul dan Gamong. “Keempat daerah tersebut yang harus lebih waspada, karena lokasinya yang berada disekitar aliran sungai, ” imbuhnya.

Nur Hadi, salah satu warga Desa Setrokalangan juga mengatakan, jikapada musim penghujan sebelumnya terjadi banjir. “Banjir itu sudah menjadi hal biasa, karena wilayah kami termasuk langganan. Jadi kita harus siaga dan bersiap diri mulai saat ini,” ungkapnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Jika Musim Hujan Tiba, Sungai SWD II Diprediksi Tak Mampu Tampung Debit Air

 

 

ondisi Sungai SWD II yang mengalami pendangkalan, sehingga kemungkinan tidak akan mampu menampung air jika hujan tiba (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

ondisi Sungai SWD II yang mengalami pendangkalan, sehingga kemungkinan tidak akan mampu menampung air jika hujan tiba (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang saat ini dialami berbagai daerah, termasuk di Kudus menjadi persoalan tersendiri bagi warga. Selain kekeringan yang sudah melanda berbagai daerah, ancaman banjir juga tidak kalah meresahkan. Hal tersebut menjadi kegelisahan bagi masyarakat di Kecamatan Kaliwungu.

Sekretaris Kecamatan Kaliwungu M. Fitrianto mengatakan, kemarau yang berkepanjangan, biasanya setelahnya akan menimbulkan dampak hujan deras dalam kurun waktu lama pula. “Dengan curah hujan yang tinggi, tentunya akan membuat debit air makin banyak dan berkemungkinan akan meluap sampai ke pemukiman warga, ” ujarnya pada MuriaNewsCom.

Tahun sebelumnya, salah satu sungai yang menjadi menampung air terbanyak adalah Sungai Serang Welahan Drain (SWD) II yang ada di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. Karena tak dapat menampung air yang banyak, akhirnya meluap.

“Apalagi sekarang dengan kemarau yang berkepanjangan, ancaman banjir juga makin besar. Untuk itu, kami minta warga waspada pada ancaman banjir yang kemungkinan besar akan kembali terjadi,” katanya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Ini Daerah di Grobogan yang Relatif Aman dari Ancaman Kekeringan

Dropping air bersih di salah satu desa di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dropping air bersih di salah satu desa di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, dari 19 kecamatan di Kabupaten Grobogan, ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan. “Empat kecamatan itu adalah, Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu,” jelas Agus.

Ia katakan, hingga saat ini, bencana kekeringan sudah melanda 87 desa di 15  kecamatan yang ada di Grobogan.

Menurutnya, untuk membantu kesulitan warga, pihak BPBD sudah menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa kekeringan. Sejak beberapa bulan terakhir, sudah lebih 1.000 tangki air bersih yang sudah disalurkan ke wilayah bencana.

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro menambahkan, bantuan air bersih yang disalurkan selama ini hanya bersifat sementara. Untuk mengatasi kekeringan perlu upaya lain yang harus dilakukan. Antara lain, memperbanyak pembuatan sumur dan embung untuk menampung air ketika musim hujan tiba. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gawat! Kekeringan di Grobogan Makin Parah, Pemda Tetapkan Status Siaga Darurat

Dropping air bersih di salah satu desa di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dropping air bersih di salah satu desa di Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBGAN – Meski sudah berlangsung sekitar empat bulan, namun bencana kekeringan yang melanda wilayah Grobogan belum ada tanda-tanda berakhir. Bahkan, wilayah yang terkena bencana makin bertambah dari hari ke hari.

Status siaga darurat sudah ditetapkan Bupati Grobogan Bambang Pudjiono terkait kekeringan yang melanda wilayah tersebut. Status satu level dibawah darurat ini ditetapkan seiring makin bertambahnya jumlah desa yang mengalami bencana kekeringan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono mengatakan, hingga saat ini, bencana kekeringan sudah melanda 87 desa di 15  kecamatan.

Dijelaskan, jumlah desa kekeringan ini dinilai naik pesat karena pada bulan sebelumnya, baru sekitar 60 desa di 14 kecamatan yang mengalami bencana.

”Jika dalam waktu dekat tidak turun hujan, maka desa kekeringan diperkirakan akan bertambah. Sebab, dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

234 SC Kudus Bantu Air Bersih di Desa Kesambi

Bantuan air bersih oleh Komunitas 234 SC Kudus di Desa Kesambi (Istimewa)

Bantuan air bersih oleh Komunitas 234 SC Kudus di Desa Kesambi (Istimewa)

 

KUDUS – Musim kemarau yang cukup panjang, mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus mengalami dampak kekeringan. Seperti halnya di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Di Tempat ini, sebagian sumur warga sudah tidak berfungsi lagi, karena airnya sudah mengering. Meskipun masih ada, namun airnya berwarna kekuningan, sehingga tak layak untuk dikonsumsi lagi. Bahkan, untuk mendapatkan air, warga terpaksa harus mencari ke daerah lain.

Kondisi ini, membuat sejumlah orang yang  tergabung dalam Komunitas 234 SC Kudus tergerak untuk ikut berempati melalui pemberian bantuan air bersih.  Setidaknya, 1 truk tangki yang berisi 6000 liter air bersih disalurkan di tempat tersebut pada Minggu (4/10/2015).

Menurut Deni Eko Mulyono,Ketua 234 SC Kudus , kegiatan penyaluran air bersih ini bertujuan untuk membantu warga Kesambi yang sedang mengalami krisis air bersih. Pihaknya, berupaya untuk ikut serta meringankan beban warga yang mengalami kekeringan.

”Apa yang kami lakukan, semoga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Meskipun bantuan ini tidak seberapa, namun, diharapkan dapat digunakan untuk warga yang sedang membutuhkan,” katanya.

Jumhari, Ketua RW 8 Desa Kesambi menyampaikan terima kasih atas bantuan air bersih yang telah diberikan Komunitas 234 SC Kudus. ”Warga sangat antusias dengan adanya bantuan ini, dan kami harap ada komunitas lain yang turut membantu memberikan air bersih ke tempat kami,” ungkapnya. (KHOLISTIONO)

Ini Desa yang Akan Dibangun Sumur Pantek

sumur_bor

 

JEPARA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin mengatakan, Sejauh ini, dua desa secara resmi mengajukan pembuatan sumur pantek untuk konsumsi warga, yakni Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo dan Desa Kepuk Kecamatan Bangsri.

Jamaludin menjelaskan, untuk Desa Kepuk, cukup membuatkan sumur dan jaringan perpipaan lantaran sudah memiliki tandon air. Untuk Desa Sinanggul, pembuatan sumur dilakukan di RW yang berbeda dari yang sudah ada. Sumur pantek yang sudah ada dibangun di wilayah Sinanggul bagian selatan. Sumur yang baru, akan dibangun di wilayah bagian utara. Tidak hanya sumur, tandon beserta jaringan perpipaan juga akan dibangun.

”Selain sumur, Desa Kepuk juga meminta bantuan pipa guna mengganti pipa yang rusak. Pipa tersebut terhubung dengan salah satu sumber di wilayah setempat,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Jamal mengakui pembuatan sumur pantek memang tidak sesuai target. Hal itu lantaran rekanan yang ditunjuk saat ini tengah menggarap di lokasi lainnya. Untuk pembuatan sumur pantek dengan pipa primer sejauh 200 meter, paling tidak dibutuhkan biaya Rp 15 juta.

Selain sumur untuk menyalurkan ke warga, BPBD juga akan membuat sumur untuk irigasi. Sumur itu akan dibangun di Desa Menganti Kecamatan Kedung dan Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo. (WAHYU KZ/TITIS W)

Atasi Krisis Air, BPBD Jepara Segerakan Pembangunan Sumur Pantek

sumur_bor

 

JEPARA – Badan  Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara sebelumnya merencanakan pembangunan sumur pantek, untuk mengatasi bencana kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jepara tiap tahunnya. Kali ini pembangunannya segera direalisasikan lantaran bantuan dana sebesar Rp 450 juta dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah cair beberapa waktu yang lalu.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin mengatakan, sampai saat ini kekeringan yang menyebabkan wilayah mengalami krisis air bersih sudah kian parah. Sumur pantek dibuat untuk penanganan jangka panjang krisis air bersih.

”Desa-desa yang mengalami krisis air bersih sejak awal musim kemarau terus menambah permintaan. Kekeringan juga kian meluas. Rencana pembuatan sumur pantek memang untuk semua desa yang mengalami kekeringan. Hanya saja, kemungkinan tahun ini belum bisa semuanya lantaran dalam pembuatan sumur perlu kajian,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Sejauh ini, dua desa secara resmi mengajukan pembuatan sumur pantek untuk konsumsi warga, yakni Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo dan Desa Kepuk Kecamatan Bangsri. Untuk Desa Kepuk, cukup membuatkan sumur dan jaringan perpipaan lantaran sudah memiliki tandon air. (WAHYU KZ/TITIS W)

Gawat, Air Waduk Tempuran Menipis PDAM Blora Putus Layanan Air

Kondisi Waduk Tempuran saat kondisi airnya terus menyusut. (MuriaNewsCom/Priyo)

Kondisi Waduk Tempuran saat kondisi airnya terus menyusut. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Blora terpaksa menghentikan layanannya kepada para pelanggan di Kota Blora. Hal itu disebabkan air baku yang diolah untuk diditribusikan untuk pelanggan, di Waduk Tempuran menipis. Bahkan, PDAM masih belum tahu sampai kapan pemutusan air tersebut.

”Ya karena air baku untuk diolah dan didistribusikan pada para pelanggan yang berasal dari Waduk Tempuran dalam kondisi menipis,” jelas Direktur Utama PDAM Blora Eko Budi Risetiyawan, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya kondisi kritis ini belum bisa diprediksi hingga kapan. Sebab, satu-satunya cara agar Waduk Tempuran bertambah debit airnya adalah dari hujan. ”Hujan yang ditunggu itupun belum tentu datangnya. Jadi untuk bisa kembali mensuplai air kepada semua pelanggan, harus menunggu debit air naik kembali,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku di kota Blora ada sekitar 2000 lebih pelanggan. Menurutnya, dengan kondisi musim kemarau panjang ini warga cukup memahami. Sedangkan untuk soal pembayaran, para pelanggan menyesuaikan dengan materai yang ada di rumah warga. Praktis, dengan tidak aliran air dirumah warga materai itupun juga tidak berjalan.

Hingga saat ini PDAM mencoba mengantispasi krisis air di kota Blora dengan berupaya mencari air baku. Namun, hal itu diakuinya masih sangat sulit karena saat ini masih berada pada musim kemarau yang panjang. ”Kita tunggu sampai Oktober, yang jelas saat ini kejadian kekurangan air tentu tidak hanya di Blora saja,” ujarnya.

Eko mengatakan penghentian air ini tidak terjadi di seluruh kabupaten Blora. Namun hanya terjadi di sekitar Blora kota, untuk layanan air PDAM di lokasi lain masih cukup aman. ”Di Cepu dan Randublatung masih aman. Sebab sumber air di dekat daerah itu masih cukup,” terangnya. (PRIYO/TITIS W)

Warga Ngampon Blora Dapat Aliran Air

bantuan-air

Warga saat mengambil air bersih bantuan dari GPS Simpatik (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Kemarau panjang membuat sejumlah wilayah terkena dampaknya, di antaranya, di Dukuh Jebulang, Desan Ngampon, Kecamatan Jepon,  Blora. Beberapa bulan belakangan, tempat ini mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Terkait hal ini, Gerakan Peduli Sesama ( GPS) melakukan aksi simpati dengan memberikan bantuan air bersih di tempat tersebut. ”Ini bukan yang pertama kali kami lakukan, dan hal ini merupakan bentuk kepedulian dari GPS,” ujar Ketua Gerakan Peduli sesama (GPS) Kabupaten Blora Edi Kurnianto, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya, kekeringan yang melanda beberapa wilayah, menjadi sebuah keprihatinan. Karena, air merupakan hal yang pokok untuk kehidupan manusia.

Dirinya berharap, dengan adanya bantuan tersebut, dapat meringankan beban masyarakat. Karena, berdirinya komunitas tersebut, salah satu tujuannya adalah untuk melakukan gerakan sosial.

Sementara itu, salah satu warga Dukuh  Jelubang, Desa NgamponSupriyanto mengaku senang atas bantuan-bantuan yang diberikan. Sebab,pihaknya memang membutuhkan bantuan tersebut.

”Senang bisa dapat bantuan, terlebih bantuan air, sebab di musim kemarau seperti ini, kami sangat membutuhkan air. Semoga kedepan kegiatan positif seperti ini terus bisa dilakukan,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Korban Kekeringan Blora Berebut Air Bersih

Sejumlah warga Ketileng saat berebut bantuan air dari PG Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah warga Ketileng saat berebut bantuan air dari PG Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Blora, membuat Pabrik Gula (PG) Blora bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan DPC Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Kabupaten Blora menyalurkan bantuan air bersih di desa yang tersebar di wilayah Kabupaten Blora.

“Kami tahu hampir semua wilayah Blora kekurangan air. Oleh sebab itu untuk meringankan bebab para warga kami memberikan bantuan air pada desa-desa yang memang berada daerah kuning atau rawan kekeringan,” kata Manajer Tanaman PG Blora, Wahyuningsih, Senin (21/9/2015).

Menurutnya untuk meringankan beban para warga, PG Blora menyaluran bantuan air bersih yang akan dilakukan secara bertahap ke desa yang memang membutuhkan bantuan tersebut. Selain itu, program bantuan ini termasuk salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) PG Blora yang merupakan bentuk kepedulian untuk warga Blora dan sekitarnya.

“Untuk penyaluran bantuan air bersih tahap pertama ini kami lakukan di Desa Ketileng, Todanan yang berdekatan dengan PG Blora dan nantinya secara bertahap akan meluas ke desa yang memang membutuhkan air,” imbuhnya.

Diharapkan dengan bantuan air ini nantinya bisa bermanfaat bagi warga. Mengingat saat ini memang banyak yang membutuhkan air.

Desa Ketileng ini diberi air sebanyak 4 tangki atau sekitar 20.000 liter air. (PRIYO/AKROM HAZAMI)

Ribuan Warga Gabus Pati Gelar Salat Istisqa

Ribuan warga Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ribuan warga Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Lebih dari 3.000 warga Kecamatan Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Senin (21/9/2015). Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya.

Sebagian besar salat minta hujan dihadiri kalangan petani, pelajar, dan tokoh agama dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. “Musim kemarau terlalu panjang dan kekeringan terus berkepanjangan. Karena itu, kami menggelar salat Istisqa,” ujar Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Saifullah kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, musim kemarau kali ini benar-benar dirasakan masyarakat. Bantuan air dari Kedung Ombo dirasa masih belum mencukupi kebutuhan air di sawah.

“Kekeringan ini sudah mencapai level parah. Hujan adalah satu-satunya harapan kami untuk mengairi sawah. Air hujan diharapkan bisa menghidupi warga, baik itu pertanian maupun kebutuhan lainnya,” tandasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Banyak Ibu di Blora Berbondong-bondong Menuju Hutan, Ada Apa?

Sejumlah ibu-ibu rumah tangga berjajar mencuci bersama di tengah hutan di Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah ibu-ibu rumah tangga berjajar mencuci bersama di tengah hutan di Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA- Musim kemarau yang terjadi hingga saat ini masih melanda Kabupaten Blora. Hal itu membuat warga di sekitar hutan utamanya, memanfaatkan air sumber di tengah belantara.
Seperti yang dilakukan warga Cabak yang berbatasan dengan Desa Nglobo di Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora.

“Hal seperti ini sudah terjadi dua bulan terakhir. Tepatnya pada Juli lalu warga sini sudah kekurangan air. Untuk bisa memenuhi air harus mencari sumber air hingga tengah hutan,” kata salah satu warga, Suarti, Sabtu (19/9/2015).

Pemandangan seperti ini sudah terjadi sejak dua bulan terakhir dan bisa dijumpai setiap pagi dan sore hari.

“ Kalau pagi ramai. Terlebih kalau hari Minggu pasti ramai ibu-ibu berbondong-bondong, membawa bak berisi baju-baju cucian,” ungkapnya.

Selain untuk mencuci para ibu rumah tangga, di kompleks yang dinamakan Tapaan ini juga ada sumber mata air bersih lainya. Yang biasanya digunakan untuk para bapak-bapak mengambil air.

“Namanya Tapaan kalau pagi jam 05.00-07.00 WIB. Seperti dan sore pasti di sini ramai baik orang mengambil air, mandi maupun mencuci. Tempat mencuci dan mengambil air pun juga beda dan saya jamin ini airnya bersih sebab dari sumber yang ada di tengah hutan.(PRIYO/AKROM HAZAMI)

Berharap Hujan, Ratusan Warga Desa Belor Salat Istisqa

Ratusan warga Desa Belor, Kecamatan Ngaringan saat melaksanakan salat Istisqo siang tadi usai salat Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan warga Desa Belor, Kecamatan Ngaringan saat melaksanakan salat Istisqo siang tadi usai salat Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Ratusan warga Desa Belor, Kecamatan Ngaringan, siang tadi melangsungkan salat Istisqa. Usai salat Jumat, warga langsung berbondong-bondong menuju lapangan desa yang jadi tempat pelaksanaan salat Istisqa. Pelaksanaan salat untuk meminta hujan itu dipimpin pemuka agama Desa Belor Romadhon Mahfud.

Kepala Desa Belor Sulistiono mengatakan, pada musim kemarau ini, warganya diterpa banyak kesulitan untuk mendapatkan air. Sebab, selama lima bulan terakhir, di wilayah desanya belum terguyur air hujan. Kondisi itu membuat warga cemas lantaran  sungai dan sumber air bersih sudah mulai menipis.

”Kekeringan kali ini memang cukup parah, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, persediaan air sudah kecil sekali dan warga khawatir kehabisan air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari kami,” katanya.

Dikatakan, sebelum melaksanakan salat Istisqa, selama beberapa hari warga menjalankan puasa. Sehingga warga yang ikut salat memang diutamakan yang masih dalam kondisi berpuasa.

”Saya berharap dalam waktu dekat sudah turun hujan. Sebab, dalam waktu dekat sudah memasuki musim tanam pertama (MT1). Tentunya, untuk memulai MT1 ini petani butuh banyak air guna mempersiapkan lahan pertanian. (DANI AGUS/TITIS W)

Dropping Air Bersih Sampai di Rutan Blora

Beberapa penghuni rutan saat mengantri air bersih (MuriaNewsCom/Priyo)

Beberapa penghuni rutan saat mengantri air bersih (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA –Kemarau panjang yang melanda wilayah Blora, tidak hanya berdampak terhadap sulitnya lahan pertanian mendapatkan air, namun, hal ini juga dirasakan penghuni rumah tahanan (Rutan) Blora. Hal ini, membuat beberapa pihak bersimpati untuk melakukan dropping air ke rutan.

”Alhamdulillah sudah dua minggu ini mendapat bantuan dari PWI dan PMI sebanyak 10 tangki dengan rincian 1 tangki dari PMI dan 4 tangki dari perwakilan PWI,” ujar Kepala Rutan Blora Andi M Syarif,Kamis(17/9/2015)

Menurutnya,  di dalam area rutan sebenarnya sudah ada 11 sumur, namun musim kemarau yang berkepanjangan membuat sumur-sumur yang ada mulai mengering. Mata air yang keluar juga mulai berkurang. 11 titik sumur tersebut, sudah  tidak mampu memenuhi kebutuhan penghuni rutan.

Dengan adanya bantuan ini, pihaknya merasa terbantu. Sebab, selama ini penghuni rutan memang sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

”Kebutuhan air bersih adalah merupakan kebutuhan pokok dari para narapidana, oleh sebab itu adanya bantuan ini tentu sangat berharga bagi warga rutan,” ungkapnya.

Sementara itu perwakilan PWI Wahono mengungkapkan, bantuan yang diberikan untuk Rutan Blora tersebut, karena Rutan Blora kekurangan air. ”Sumur-sumur yang ada di rutan mulai mengering, sehingga dengan inisiatif dengan menggandeng salah satu perusahaan, kami berikan bantuan air bersih bagi penghuni rutan,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Anggaran Miliaran Rupiah untuk Pembebasan Lahan Embung Kaliombo Batal Terserap

Embung Banyukuwung di Desa Sudo, Kecamatan Sulang ini merupakan salah satu embung besar di Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Embung Banyukuwung di Desa Sudo, Kecamatan Sulang ini merupakan salah satu embung besar di Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

REMBANG – Rencana pembangunan embung berskala besar di Desa Kaliombo,Kecamatan Sulang dipastikan batal dilaksanakan tahun ini. Sebab, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang tak bisa menyerap anggaran sebesar Rp4,8 miliar untuk pembebasan lahan bagi embung setempat. Kini pemkab tidak berwenang melakukan pembebasan lahan untuk rencana penambahan embung besar seiring diambil alihnya kewewenangan itu oleh pemerintah pusat.

Hari Susanto, Plt Sekda Rembang menyatakan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengamanatkan bahwa pembebasan lahan untuk kepentingan umum, kini menjadi kewenangan pemerintah pusat. Padahal menurutnya, sebelumnya pembebasan lahan menjadi kewenangan daerah.

“Akibatnya anggaran Rp4,8 miliar dari APBD untuk pembebasan lahan Embung Kaliombo menjadi tidak bisa diserap tahun ini. Sejauh ini kami masih menunggu penjabaran aturannya. Apalagi selain Embung Kaliombo, pemkab juga berencana membangun Embung Trenggulunan di Kecamatan Pancur,” ujar Hari Susanto, Rabu (16/9/2015). (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Ini Daftar 62 Desa di Rembang yang Butuh Bantuan Air Bersih

Warga Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang ketika menerima bantuan air bersih. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Warga Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang ketika menerima bantuan air bersih. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang telah merilis daftar 62 desa yang kini masih dilanda bencana kekeringan. Dari puluhan desa yang tersebar di 12 Kecamatan tersebut terdapat puluhan ribu warga yang membutuhkan bantuan air bersih. Berikut MuriaNewsCom hadirkan daftar desa jika anda ingin menyalurkan bantuan kepada mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih tersebut.

Berdasarkan data dari BPBD setempat, di Kecamatan Sulang terdapat tujuh desa yang dilanda bencana kekeringan, yakni Pranti, Sulang, Pedak, Landoh, Kaliombo, Jatimudo dan Pragu. Sementara itu di Kecamatan Bulu tercatat ada lima desa, yaitu Lambangan Wetan, Pondok Rejo, Jukung, Waru Gunung dan Pinggan. Di Kecamatan Kaliori juga ada lima, yakni Sambiyan, Sidomulyo, Banggi, Gunungsari dan Kuangsan.

Selanjutnya, di Kecamatan Sumber tercatat 13 desa, yaitu Tlogotunggal, Ronggomulyo, Sumber, Logede, Kedung Tulub, Pelemsari, Krikilan, Logung, Bogorejo, Jatihadi, Grawan, Polbayem dan Sekarsari. Kecamatan Kragan 12 desa, Mojokerto, Kendalagung, Ngasinan, Narukan, Sudan, Sumbergayam, Sendang, Sendangmulyo, Sendang Waru, Woro, Sumur Tawang dan Sumur Pule.

Masing-masing empat untuk Kecamatan Sedan dan Lasem. Kecamatan Sedan diantaranya Sambong, Lemah Putih, Dadapan dan Kumbo. Kecamatan Lasem, Dasun, Tasiksono, Selopuro dan Sendangasri. Lalu Kecamatan Pamotan, Sumbangrejo, Segoromulyo dan Ketanggi. Kecamatan Pancur, Kedung, Warugunung dan Gemblengmulyo.

Lalu masing-masing dua desa untuk Kecamatan Rembang, Sluke dan Sale. Secara berurutan yaitu Desa Pasarbanggi dan Kedungrejo Kecamatan Rembang, Manggar dan Labuhan Kidul Kecamatan Sluke serta Bitingan dan Rendeng Kecamatan Sale. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Kekeringan Semakin Parah, Puluhan Ribu Penduduk Rembang Butuh Bantuan Air Bersih

 

Sejumlah warga mengantre menanti bantuan air bersih dari Pemkab Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Sejumlah warga mengantre menanti bantuan air bersih dari Pemkab Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Sejak musim kemarau melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Rembang, tercatat ada sekitar puluhan ribu penduduk yang membutuhkan bantuan air bersih. Ribuan warga yang dilanda bencana kekeringan itu tersebar di 62 desa di 12 kecamatan. Sedangkan jika dihitung secara jumlah kepala keluarga (KK), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan ada 19.310 KK yang kelimpungan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

“Jumlah penduduk, kepala keluarga atau jiwa yang dilanda krisis air bersih tersebut didata langsung oleh pemerintah tiap desa. Data valid dari desa memang sangat kami perlukanuntuk menentukan berapa tangki air yang mesti dikirim,” ujar Akhmad Makruf, Kepala Seksi Logistik dan Kedaruratan pada BPBD Rembang, Rabu (16/9/2015).

Akhmad Makruf mengatakan, satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter biasanya digunakan untuk memberikan bantuan kepada 200 jiwa yang kekurangan air. Menurut Makruf, dampak kemarau terhadap ketersediaan pasokan air bersih tahun ini diketahui lebih parah jika dibandingkan tahun 2014.

“Sebab desa-desa yang tahun lalu hampir tidak pernah meminta bantuan air bersih kini mengusulkan bantuan. Misalnya seperti Desa Kuangsan dan Banggi Kecamatan Kaliori serta Pinggan, Kecamatan Bulu,” kata Akhmad Makruf. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Hanya Andalkan Air Hujan untuk Pengairan Sawah, Petani Pucakwangi Berharap Ada Normalisasi Embung

umlah persawahan di Pucakwangi tampak tidak produktif saat musim kemarau, lantaran sebagian besar petani mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

umlah persawahan di Pucakwangi tampak tidak produktif saat musim kemarau, lantaran sebagian besar petani mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sebagian besar petani di Kecamatan Pucakwangi mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam di sawahnya. Akibatnya, sawah yang mereka kelola tidak produktif dan seperti mati saat memasuki musim kemarau.

Sementara itu, embung yang digadang-gadang sebagai tempat untuk menyimpan air, saat ini kondisinya memprihatinkan. Selain semakin dangkal, embung di Pucakwangi juga kian menyempit sehingga mudah habis saat kemarau tiba.

Hal ini dikeluhkan Suhar, Kepala Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi. Melihat kondisi tersebut, Suhar hanya berharap agar embung kembali dinormalisasi untuk menyelamatkan sawah agar tetap produktif saat musim kemarau.

“Selama ini, petani di sini memang sebagian besar mengandalkan air hujan untuk pengairan sawah. Karena itu, terobosan dan solusi untuk mengatasi ini kami butuhkan. Kami harap Pemkab bisa memberikan solusi yang bisa bermanfaat dalam jangka panjang,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kekeringan di Pucakwangi Pati Mulai Membayangi

Seorang warga di Kecamatan Pucakwangi tengah mengambil air bersih. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang warga di Kecamatan Pucakwangi tengah mengambil air bersih. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Kecamatan Pucakwangi, Pati, merupakan daerah yang rawan terkena bencana kekeringan selama musim kemarau. Karena itu, sejumlah warga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bisa memberikan solusi yang sistematis, bukan sporadis.

“Kami memang sangat membutuhkan bantuan air bersih saat kekeringan melanda. Tapi, kami berharap ada solusi berkelanjutan yang sifatnya sistematis, bukan mendadak-sporadis,” ujar Kepala Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi Zamroni kepada MuriaNewsCom, Selasa (15/9/2015).

Karena itu, ia mewakili masyarakat berharap agar pemkab bisa memfasilitasi untuk menanggulangi bencana kekeringan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. “Sebagian besar masyarakat di Pucakwangi memang seringkali krisis air bersih saat musim kemarau. Kami berharap pemkab bisa bersinergi dengan masyarakat untuk melakukan manajemen air,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini embung yang ada di desa-desa sudah mulai banyak yang dangkal dan ukurannya semakin mengecil. Dengan demikian, daya tampung air kian berkurang.

“Ini yang perlu dibenahi. Infrastruktur pendukung memang dibutuhkan untuk mengurangi risiko bencana kekeringan,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kemarau Panjang, Warga Blora Ambil Air Hingga ke Tengah Hutan

f-kekeringan (1) (e)

Foto : Tono warga Cabak sedang mencari air bersih di Sungai Lograk Jiken (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat beberapa daerah di Blora mengalami kekeringan. Bahkan, dampaknya sampai ada warga yang di daerahnya kekurangan air bersih. Salah satunya di Desa Cabak, Kecamatan Jiken. Dampak dari kekeringan membuat warga harus berburu air hingga ke tengah hutan.

“Warga Desa cabak sudah kesulitan air sejak bulan Juni lalu. Saat itu, warga masih memanfaatkan air yang ada di sumur dekat rumah.Namun lama kelamaan sekarang sudah mengering dan harus mencari air bersih untuk bisa dikonsumsi,” jelas Tono, salah salah satu warga cabak, Selasa (15/9/2015).

Menurutnya, untuk bisa medapatkan air bersih para warga saat musim kemarau seperti ini mencari air hingga menempuh jarak beberapa kilo, bahkan warga Desa Cabak memanfaatkan air di Sungai Lograk yang ada di tengah hutan untuk kebutuhan rumah tangga yang jaraknya lumayan jauh.

“Jadi airnya untuk minum, mandi dan mencuci, sebab airnya cukup jernih dan bersih sehingga warga sering memanfaatkan air ini untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

Sungai Lograk Jadi Sasaran Warga Cabak Blora untuk Dapatkan Air

f-kekeringan (e)

Sejumlah warga saat mengantri mengambil air bersih di Sungai Lograk (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat beberapa daerah di Blora mengalami kekeringan. Bahkan, dampaknya sampai ada warga yang di daerahnya kekurangan air bersih. Salah satunya di Desa Cabak,Kecamatan Jiken.

Dampak dari kekeringan membuat warga harus berburu air hingga di suatu daerah, di mana ada mata air bersih untuk bisa di konsumsi. Hal ini membuat warga Cabak memanfaatkan Suungai Lograk yang berada di tengah hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

”Kalau musim kemarau seperti ini yang tak punya uang buat beli air ya ambilnya di Sungai Lograk ini,” jelas Tono, warga Cabak, Selasa (15/9/2015).

Menurutnya untuk mengambil air di Sungai Lograk itu sudah mulai dilakukan beberapa bulan yang lalu. Sebab, sumur miliknya tak lagi mengeluarkan air, karena sudah mengering. Untuk mengambil air dari rumahnya ke Lograk itu, membutuhkan waktu cukup lama. Sebab, jarak dari rumah ke Lograk sekitar 2 kilometer.

“Ya lumayan jauh, jalannya juga nggak begitu bagus dan harus ekstra hati-hati saat membawa air, sebab saat sekali ambil biasanya membawa 2-3 jerigen,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu warga lainya Andi mengaku,untuk mengambi air dalam sehari ia lakukan dua kali, yakni pagi dan sore. Air yang diambil digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh keluarganya.

“Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan sore saat mau mandi pasti ambi air dulu. Dalam sehari mengambil air hingga 15-25 jerigen,’’ imbuhnya.

Dia berharap, dalam waktu dekat ada pihak yang memberikan bantuan air bersih di desanya. Sebab, tahun-tahun sebelumnya dari kalangan swasta dan pemerintahan juga banyak memberikan bantuan. “Harapannya ada bantuan air seperti tahun-tahun sebelumnya yang ada bantuan air,” katanya.

Sementara itu, kepala pelakasana BPBD Blora Sri Rahayu mengungkapkan, saat ini pihaknya terus melakukan bantuan air di wilayah Blora yang terkena dampak kekeringan. Dalam hal ini, pihaknya juga membutuhkan dari pihak lain yang mau untuk memberikan bantuan air bersih.

“Saat ini kami terus melakukan dropping air bersih, untuk daerah yang belum mendapat kami harapkan bersabar. Saat ini juga sudah ada bantuan air bersih yang diberikan dari sejumlah instansi maupun perusahaan, namun tentu masih kurang mengingat warga yang membutuhkan air bersih cukup banyak,” terangnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)

BPBD Jepara Klaim Sumber Air Bersih Aman

 

Salah satu warga mendapatkan suplai air bersih beberapa waktu lalu. Pihak BPBD Jepara mengklaim sumber air bersih masih aman. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu warga mendapatkan suplai air bersih beberapa waktu lalu. Pihak BPBD Jepara mengklaim sumber air bersih masih aman. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencara Daerah (BPBD) Jepara mengklaim sumber air bersih untuk pengiriman air ke wilayah yang mengalami kekeringan masih aman. Sejauh ini, BPBD Jepara mendapatkan bantuan air dari Gunung Muria.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin, mengatakan, pihaknya mengakui bahwa sumber air bersih yang digunakan untuk mengirim bantuan di wilayah Jepara, salah satunya diambilkan dari Gunung Muria, di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

”Setidaknya ada tiga pihak swasta yang kami gandeng untuk mengirim bantuan air bersih ke wilayah kekeringan. Salah satunya memang mengambil air dari Gunung Muria,” jelas Jamal kepada MuriaNewsCom

Lebih lanjut dia mengatakan, masalah itu sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Mengingat cakupan wilayah kekeringan yang ditangani oleh depo itu luas dan dengan volume yang besar. Untuk itu pihaknya juga sudah menanyakan hal ini.

”Kami sudah menanyakan terkait masalah itu. Jawabannya memang masih aman. Sebab yang dipersoalkan merupakan pengambilan air yang ada di wilayah Perhutani. Sedangkan, depo terkait memiliki sumber air sendiri,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Alhamdulilah, Desa yang Alami Kekeringan di Jepara Terus Disuplai Air

Beberapa warga menerima bantuan suplai air dari BPBD Jepara belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

Beberapa warga menerima bantuan suplai air dari BPBD Jepara belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

 

JEPARA – Wilayah kekeringan di Kabupaten Jepara memang cukup luas. Beberapa desa di Jepara sudah diberi suplai air bersih setiap pekan. Bahkan, setiap pekan, beberapa desa disuplai antara dua hingga tiga tangki air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Saat ini, desa yang sudah mendapatkan kiriman air adalah Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong; Desa Tunggul Pandean dan Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari; Desa Kedung Malang dan Surodadi, Kecamatan Kedung; serta Desa Sinanggul, Kecamatan Mlonggo.

Rata-rata, masing-masing desa itu mendapatkan kiriman air bersih dari dua truk tangki tiap pekannya. ”Khusus untuk Desa Rajekwesi, warga meminta tambahan kuota air, sehingga kiriman air di desa itu menjadi tiga tangki tiap pekan,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin kepada MuriaNewsCom

Seperti diketahui, BPBD Jepara menggandeng pihak swasta dalam pengiriman air bersih. Setidaknya ada tiga depo air yang digandeng. Untuk wilayah Jepara bagian selatan, dipenuhi oleh depo yang mengambil air dari Gunung Muria.

“Ada tiga pihak swasta yang kami gandeng. Mereka sudah dibagi wilayahnya masing-masing. Mereka memiliki fasilitas truk tangki dengan kapasitas antara 5000 hingga 6000 liter air. Termurah, kami harus membeli air itu dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu/tangki. Termahal, kami membelinya dengan harga Rp 325 ribu hingga Rp 350 ribu/tangki,” jelas Jamal. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kemarau, Hanya 2 Kecamatan di Rembang yang Bebas dari Kekeringan

Kemarau

Suko Mardiono, Pj Bupati Rembang naik ke atas truk tangki air ketika menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih belum lama ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Bencana kekeringan di Kabupaten Rembang kini kembali meluas ke hampir seluruh wilayah kecamatan di Kota Garam. Jika sebelumnya tercatat 51 desa yang tersebar di 11 kecamatan, kini jumlahnya kembali bertambah. Sebanyak 7 desa dilaporkan menyusul mengalami krisis air atau total telah ada 58 desa di 12 kecamatan yang kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.

Data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tersebut sekaligus mengungkap hanya terdapat dua kecamatan yang masih bebas bencana kekeringan, yakni Gunem dan Sarang. Namun ancaman kekeringan di dua wilayah itu masih mungkin terjadi mengingat puncak kemarau yang diprediksi berlangsung cukup lama.

”Beberapa desa belakangan dilanda krisis air diantaranya Manggar dan Labuhan Kidul Kecamatan Sluke, Gunungsari-Kaliori, Ketangi-Pamotan, Gemblengmulyo-Pancur, dan Sendangasri-Lasem. Kini hanya desa-desa di kecamatan Sarang dan Gunem yang masih terbebas dampak kekeringan,” ujar Ahmad Makruf, Kasi Logistik dan Kedaruratan pada BPBD Rembang, Selasa (8/9/2015).

Krisis Air Bersih, Harga Air di Desa Sitimulyo Pucakwangi Capai Rp 7.000 per Dirijen

Seorang anak ikut mengantri air bersih menggunakan ceret. Sebanyak 15.000 liter air bersih dibagikan Pemkab Pati, PMI Pati dan Bank Jateng di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang anak ikut mengantri air bersih menggunakan ceret. Sebanyak 15.000 liter air bersih dibagikan Pemkab Pati, PMI Pati dan Bank Jateng di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Musim kemarau membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Pati dilanda kekeringan. Salah satunya, Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng.

Tiga bulan kekeringan, warga dilanda krisis air bersih dengan mengeringnya sumur, sungai, termasuk persawahan. Bahkan, untuk mendapatkan air bersih, warga harus rela merogoh kocek Rp 7.000 per dirijen.

”Air di sumur dan sungai sudah tidak ada. Di sawah juga tidak ada air. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih seperti masak dan minum biasanya beli dengan harga mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per dirijen,” ujar Edi (59), warga setempat saat ditanyai MuriaNewsCom, Senin (7/9/2015).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah daerah bisa memberikan bantuan yang bisa digunakan secara permanen saat kekeringan melanda. ”Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkab dan PMI Pati yang sudah memberikan bantuan air bersih sebanyak 15.000 liter air bersih hari ini. Ke depan, kami berharap ada bantuan yang bisa digunakan warga sewaktu-waktu saat kekeringan, entah sumur atau apa,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)