Dua Desa di Jepara Masih Krisis Air Bersih

Sejumlah petugas melakukan droping air bersih di Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Wilayah di Bumi Kartini yang mengalami krisis air berkurang drastis semenjak hujan mulai kerap menyambangi. Namun masih ada dua desa yakni Kedung Malang di Kecamatan Kedung dan Sumberejo di Kecamatan Donorojo yang masih membutuhkan pasokan bantuan air bersih. 

Di Desa Sumberejo droping air bahkan dilaksanakan sembilan kali dalam sepekan. Hal ini karena kontur desa yang berada di ketinggian. Sementara di Desa Kedung Malang, dalam seminggu droping air bersih bisa mencapai enam kali.

“Dari tujuh desa, kini hanya tersisa dua yang masih memerlukan bantuan droping air,”  ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Selasa (24/10/2017).

Ia mengatakan, saat pendistribusian BPBD Jepara menggunakan tangki milik depo isi ulang air swasta dengan kapasitas 5.000 liter. 

Menurutnya, dua desa yang masih mengalami krisis air bersih merupakan desa dengan tempo kekeringan terlama. Hal itu sesuai dengan pengalaman tahun-tahun lalu. 

Adapun, lima desa lain yang sempat mengalami krisis air bersih tahun 2017 adalah,  Bategede, Blimbingrejo, Tunggul Pandean, Kalianyar dan Raguklampitan.

Editor: Supriyadi

Bencana Kekeringan Berakhir, BPBD Grobogan Hentikan Droping Air Bersih

Bantuan air bersih masih terus disalurkan BPBD ke sejumlah desa yang mengalami bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hujan yang hampir tiap hari mengguyur di wilayah Grobogan membawa dampak berakhirnya bencana kekeringan. Dengan turunnya hujan menyebabkan desa yang sebelumnya dilanda kekeringan selama hampir tiga bulan, sudah tidak lagi mengalami kesulitan air bersih.

“Saat ini, kita nyatakan kalau bencana kekeringan sudah berakhir. Sejak pekan lalu, hampir tiap hari turun hujan yang merata di seluruh wilayah Grobogan,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBP Grobogan Budi Prihantoro, Selasa (10/10/2017).

Dengan berakhirnya bencana kekeringan maka pelaksanaan droping air bersih yang sudah dilakukan sebelumnya juga dihentikan. Meski begitu, jika masih ada masyarakat yang membutuhkan, droping air akan segera disalurkan.

“Sejak awal Oktober tidak ada lagi permintaan droping air. Beberapa desa kekeringan yang paling parah sudah kita hubungi dan tidak lagi memerlukan kiriman air bersih,” jelasnya.

Menurut Budi, untuk mengatasi bencana kekeringan, pihaknya mendapat alokasi dana sekitar Rp 150 juta guna pelaksanaan droping air. Selama kekeringan, jumlah bantuan yang disalurkan mencapai 300 tangki.

“Anggaran untuk droping air bersih belum kita pakai seluruhnya. Jadi, kalau ada yang masih butuh kiriman bisa kita beri bantuan,” sambungnya.

Ia menambahkan, selain curah hujan yang tinggi, berakhirnya kekeringan juga disebabkan sudah digelontorkannya lagi pasokan air dari Waduk Kedungombo ke berbagai saluran irigasi.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat lebih mudah mendapatkan air untuk kebutuhan mandi dan pakan ternak. Sebelumnya, pasokan air sempat dihentikan selama dua bulan karena dalam masa pengeringan dan perbaikan saluran irigasi.

Editor: Supriyadi

Kekeringan di Jepara Meluas, Delapan Desa Krisis Air Bersih

Warga Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung mengantre saat mendapat pasokan air bersih dari BPBD Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Hujan yang sempat mengguyur Jepara, tak lantas menghapus bencana krisis air bersih. Kini ada delapan desa melaporkan mengalami kekurangan air bersih, kepada BPBD Jepara.

Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara mengatakan, sebelumnya ada enam desa yang melaporkan kekurangan air bersih. Namun belakangan Desa Sumberejo, Kecamatan Donorojo dan Desa Bategede di Kecamatan Nalumsari yang mengalami krisis air bersih. 

“Di Sumberejo ada empat rukun tetangga yang terimbas kekeringan sehingga membutuhkan bantuan air bersih. Kita sudah melakukan droping ke sana. Sementara di Bategede juga demikian, sudah dilakukan penyaluran bantuan air bersih,” katanya, Rabu (27/9/2017). 

Ia menyebut, hujan yang turun pertama kali pada musim pancaroba justru mengeringkan sumber air warga. Dirinya memrediksi, fenomena tersebut akan terjadi hingga intensitas hujan teratur. 

“Kemarin memang sempat hujan, tapi hujan sekali itu justru mengeringkan sumur warga. Sampai akhir musim kemarau nanti diprediksi akan ada desa lain yang mengalami kekeringan, akan tetapi kami belum bisa memastikan,” tambahnya.

Selain dari BPBD, bantuan air bersih di Jepara juga dilaksanakan oleh pihak lembaga diluar badan tersebut. Jamaludin menyebut, bantuan tersebut berasal dari PMI maupun PD BPR BKK, yang kemudian diarahkan merata ke wilayah yang terkena krisis air. 

Adapun desa-desa yang terlebih dahulu mengalami krisis air bersih adalah, Desa Kedung Malang, Karangaji dan Kalianyar yang terletak di Kecamatan Kedung, disusul dengan Desa Blimbingrejo dan Tunggul Pandean di Kecamatan Nalumsari dan Raguklampitan Kecamatan Batealit.

Editor: Supriyadi

Pemerintah Desa Tlogitirto Grobogan Masukkan Program Droping Air Lewat APBDes

Pemerintah Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus menyalurkan bantuan air bersih pada warga yang terkena dampak kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski terkena dampak kekeringan, namun pemerintah Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus bisa segera menyalurkan bantuan air bersih pada warganya. Tindakan itu bisa dilakukan karena pihak desa sudah mengalokasikan anggaran bantuan air bersih lewat APBDes 2017.

”Alokasi anggaran untuk bantuan air bersih tertuang dalam bidang belanja tak terduga pada pos bencana alam. Nilainya, tidak begitu besar sehingga belum bisa mencukupi kebutuhan semua warga. Meski demikian, adanya bantuan air setidaknya bisa sedikit meringankan beban warga saat dilanda kekeringan,” jelas Kades Tlogotirto Adi Saputra, Senin (25/9/2017).

Menurut Adi, anggaran bantuan air bersih itu dimasukkan pada APBDes berdasarkan prediksi banyak pihak. Yakni, pada tahun 2017 diperkirakan akan terjadi kemarau panjang sehingga sebagian warga akan kesulitan mendapatkan air bersih.

”Ternyata prediksi adanya kemarau panjang benar-benar terjadi tahun ini. Dengan sudah tersedianya anggaran maka bantuan air bersih bisa cepat kita salurkan,” katanya.

Untuk menyalurkan bantuan air bersih tersebut, pihaknya tidak begitu mengalami kesulitan. Soalnya, pengambilan sumber air bisa dilakukan dari Sendang Belik di Dusun Ngrejeng, Desa Tlogotirto. Sendang ini juga menyuplai kebutuhan masyarakat di Kecamatan Gabus dan Kecamatan Kradenan

”Desa Tlogotirto ini punya enam dusun. Saat kemarau ini, ada satu dusun yang paling parah terkena kekeringan karena prasana air bersihnya belum memadai dan kedepan akan kita siapkan,” ungkapnya.

Adi menambahkan, selain dari desa, bantuan air bersih untuk warganya juga datang dari sejumlah pihak lainnya. Antara lain dari, Babinsa dan Babinkamtibmas serta organisasi kemasyarakatan.

”Kita hanya bisa berbagi, belum bisa mencukupi. Semoga upaya ini bisa meringankan warga yg kekurangan air,” imbuh Adi.

Editor: Supriyadi

4 Desa di Kecamatan Kayen Pati Digelontor 4 Tangki Air Bersih

Kepala Disdukcapil Pati Dadik Sumardji menyalurkan bantuan air bersih di Desa Kayen, Pati, Senin (25/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat desa di Kecamatan Kayen mendapatkan bantuan air bersih dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Pati bekerja sama dengan PMI Pati. Bantuan itu diserahkan langsung kepada warga, Senin (25/9/2017).

Bantuan dipusatkan di Desa Kayen, Trimulyo, Pasuruan dan Srikaton. Di Desa Kayen, warga membawa ember untuk menampung air bersih.

Sementara di Trimulyo, air didistribusikan di sumur musala setempat. Sumur itu yang akan digunakan penduduk untuk keperluan air bersih.

Kepala Disdukcapil Dadik Sumardji mengatakan, empat desa di Kayen menjadi sasaran bantuan air bersih karena selama ini belum tersentuh. Padahal, empat desa tersebut sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Hari ini, kami menyisir di rumah-rumah warga untuk mendistribusikan air bersih. Kegiatan ini merupakan inisiatif dan kepedulian Disdukcapil, sehingga kami langsung menggerakkan rekan-rekan untuk menyalurkan air bersih,” ujar Dadik.

Ngatmi (80), penduduk setempat mengatakan, warga selama ini menggunakan air PDAM karena airnya asin. Warga yang kurang mampu masih memanfaatkan air sumur, sedangkan untuk keperluan konsumsi membeli dengan harga Rp 4.000 per galon.

Saat musim kemarau, sumber mata air di sumur habis dan kering kerontang. Karena itu, Ngatmi bersyukur mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah.

Rencananya, bantuan air bersih itu akan digunakan untuk kebutuhan konsumsi, seperti memasak dan minum. Sementara kebutuhan mandi dan mencuci, warga masih menunggu sumber air sumur muncul.

Editor: Supriyadi

4 Desa di Kecamatan Batangan Pati Digelontor 18 Tangki Air Bersih

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan dan jajarannya dibantu anggota TNI AD mendistribusikan bantuan air bersih di empat desa di Kecamatan Batangan, Pati, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak empat desa di Kecamatan Batangan mendapatkan bantuan air bersih sebanyak 18 tangki. Bantuan dari Anggota DPR Firman Soebagyo dan Polres Pati itu didistribusikan pada Sabtu (23/9/2017).

Empat desa yang mendapat bantuan, antara lain Desa Ngening, Lengkong, Gajah Kumpul, dan Pecangaan. Keempat desa tersebut mengalami kekeringan yang cukup parah, sehingga perlu mendapatkan bantuan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Pati untuk menentukan daerah mana yang rawan kekeringan dan warganya betul-betul membutuhkan. Akhirnya ada empat desa yang kami bantu,” ujar Firman.

Setiap tangki berisi 5.000 liter air bersih, sehingga total air bersih yang didistribusikan sebanyak 90.000 liter. Air sebanyak itu disalurkan kepada lebih dari 750 warga.

Rinciannya, Desa Ngening dan Pecangaan mendapatkan lima tangki air bersih. Sementara Desa Lengkong dan Gajahkumpul mendapatkan empat tangki air bersih.

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan menambahkan, warga di empat desa tersebut selama ini kerap kekurangan air bersih saat musim kemarau melanda. Berbagai upaya sebetulnya sudah dilakukan untuk mengurangi risiko kekeringan setiap musim kemarau.

Hanya saja, geografi di kawasan tersebut memang kekeringan saat musim kemarau karena minim sumber mata air. Karena itu, dia berharap bantuan tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-sehari.

Distribusi air bersih sendiri dilakukan anggota polisi dengan melibatkan anggota TNI AD dan pemerintah desa setempat. Warga tampak antusias menyambut bantuan air bersih. Rencananya air tersebut akan digunakan untuk memasak, mandi, dan mencuci peranti rumah tangga.

Editor: Supriyadi

Salurkan Air Bersih, Bupati Grobogan Terkenang Perjuangan ’Ngangsu’ Ketika Masih Muda

Bupati Grobogan Sri Sumarni melangsungkan monitoring sekaligus menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni melangsungkan monitoring sekaligus menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017). Bantuan yang diberikan untuk salah satu desa terdampak kekeringan ini sebanyak enam tangki.

Datangnya bantuan air bersih langsung disambut gembira oleh ratusan warga. Sejak pagi, warga sudah menyiapkan tempat penampungan air di titik distribusi yang sudah ditentukan.

”Alhamdulillah ada bantuan air bersih. Sejak sebulan terakhir, kami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur sudah kering. Untuk kebutuhan sehari-hari, kami mengandalkan air dari embung pertanian dan iuran beli air,” kata Sumini, warga setempat.

Melihat antusias warga menyambut datangnya bantuan air bersih, Sri Sumarni langsung terkenang memori ketika masih muda dulu. Saat kemarau tiba, ia dan saudaranya harus ngangsu air cukup jauh dari tempat tinggalnya di Desa Karangsari, Kecamatan Brati.

Baca Juga: 86 Desa di Grobogan Kesulitan Air Bersih

Selain jauh, saat ngangsu air juga butuh waktu lama karena harus menunggu giliran. Hal itu dilakukan mengingat sumber airnya cukup terbatas, sementara orang yang membutuhkan sangat banyak.

”Kebutuhan air waktu itu sangat banyak karena satu rumah ada 12 orang. Ketika kemarau, tiap hari saya harus ngangsu air pakai klenting. Habis sekolah berangkat ngangsu, nanti pulangnya bisa menjelang petang karena harus antri lama. Kalau pas libur, ngangsu airnya bisa seharian penuh,” katanya.

Sri Sumarni menyatakan, sejak datangnya kekeringan, pihak BPBD sudah menyalurkan lebih dari 200 tangki air ke berbagai desa. Penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan sampai bencana kekeringan berakhir.

”Masyarakat saya minta jangan kuatir. Kalau masih butuh bantuan air langsung hubungi BPBD. Alokasi anggaran untuk penyaluran air bersih masih mencukupi,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

86 Desa di Grobogan Kesulitan Air Bersih

Warga di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan menyambut gembira datangnya bantuan air bersih dari BPBD. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski beberapa hari lalu sempat turun hujan di sebagian wilayah Grobogan namun belum mampu mengatasi kekeringan yang terjadi sejak dua bulan terakhir. Bahkan, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, bencana kekeringan ini justru makin meluas.

”Beberapa waktu lalu, baru beberapa desa yang terkena dampak kekeringan. Saat ini, sudah ada 86 desa di 12 kecamatan yang mengalami kekeringan,” terang Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono pada wartawan, saat menyalurkan bantuan air bersih di Dusun Ngambilan, Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Sabtu (23/9/2017).

Makin meluasnya bencana kekeringan ini membuat pihak BPBD kerepotan mendistribusikan bantuan air bersih. Hal ini terkait keterbatasan armada mobil tangki untuk mengedrop air bersih. Dengan kondisi ini penyaluran bantuan itu harus dilakukan bergiliran.

”Untuk pelayanan droping air ini kita lakukan dengan 8 mobil tangki setiap harinya. Sebagian besar amada droping ini adalah milik PDAM Grobogan. Meski armada terbatas, pelaksanaan droping air kita upayakan semaksimal mungkin. Saat ini, sudah 205 tangki air bersih yang kita salurkan ke desa kekeringan,” jelas Agus.

Disebutkan, dari 19 kecamatan yang ada, selama ini hanya empat kecamatan yang relatif aman dari bencana kekeringan. Yakni, Kecamatan Tegowanu, Klambu, Gubug dan Godong.

Untuk kekeringan paling parah ada di Kecamatan Purwodadi, Geyer, Toroh, Pulokulon, Kradenan, Gabus, Karangrayung, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, dan Grobogan. Di kecamatan ini sebagian besar desanya mengalami kekeringan.

Sementara wilayah Kecamatan Penawangan, Kedungjati, Brati dan Tanggungharjo hanya beberapa desanya saja yang terkena bencana musiman ini.

Untuk penanganan kekeringan tahun ini, lanjut Agus, pihaknya mengalokasikan dana sekitar Rp 150 juta. Jika dana itu habis akan diambilkan anggaran lagi lewat pos dana tak terduga.

Selain dari BPBD, ada juga bantuan air bersih dari pihak luar. Seperti dari PMI, BUMD, Parpol dan organisasi kemasyarakatan.

”Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar bantuan air bersih ini bisa tersebar merata serta mencukupi kebutuhan masyarakat. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat sudah turun hujan sehingga bencana kekeringan ini bisa berkurang,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dana Ratusan Juta Digelontor untuk Bantuan Air Bersih di 97 Desa di Pati

Seorang polisi ikut mendistribusikan air bersih di wilayah Pati yang dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati menganggarkan dana Rp 100 juta untuk menyalurkan air bersih di 97 desa di Pati yang terdampak kekeringan.

Dana tersebut disalurkan dalam bentuk air bersih sebanyak 400 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter per tangki.

Sampai saat ini, sudah ada 88 desa yang mendapatkan bantuan air bersih dengan rincian distribusi sebanyak 282 tangki.

“Mekanismenya, pihak desa harus mengajukan permohonan bantuan. Dari 97 desa yang terdampak kekeringan, sudah ada 88 desa yang mengajukan dan langsung kami dropping,” ujar Kepala BPBD Pati Sanusi Siswoyo, Kamis (21/9/2017).

Selain dari BPBD, bantuan air bersih bisa didapatkan dari instansi lain dan perusahaan seperti program Corporate Social Responsibility (CSR). Karena itu, pihaknya memastikan bila warga yang terdampak kekeringan tidak kekurangan air bersih.

Dia menambahkan, wilayah yang paling sering mengalami dampak kekeringan berada di Pati bagian selatan dan timur. Kondisi itu tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pucakwangi, Winong, Batangan, Gabus dan sebagian Kayen.

Editor: Supriyadi

Air Bersih Langka, Warga Turung Jepara ‘Ngangsu’ Hingga 2 Kilometer

Sejumlah petugas melakukan droping air bersih di Jepara, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sumur-sumur milik warga Dukuh Turung,  Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji mulai mengering. Hal ini telah berlangsung selama dua bulan terakhir.

Kepala Desa Tanjung Dwi Ganoto mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan air harian, warganya harus ngangsu (mengambil air) ke Dukuh Tanjungsari. Hal ini tak mudah, sebab jarak di antara dua dukuh itu berjauhan.

“Untuk mendapatkan air bersih harus ke dukuh sebelah jaraknya sekitar dua kilometer. Belum lagi letak dukuh Turung yang berada di ketinggian 400 meter di atas ketinggian permukaan laut,” kata Ganoto, Kamis (21/9/2017).

Menurutnya, di Dukuh Turung dihuni oleh 48 kepala keluarga. Belakangan kondisi itu kian parah pada puncak kemarau seperti ini. 

Berbagai upaya pun ditempuh warga, termasuk meminta droping air dari kepolisian sektor Pakis Aji. Ganoto mengatakan, sebelumnya sudah ada bantuan dari polsek setempat. 

“Ya bersyukur, dapat meringankan kondisi warga Dukuh Turung yang berada di RT 35 RW 04 Desa Tanjung,” tambahnya.

Selain desa tersebut, di Jepara terdapat wilayah lain yang mengalami kondisi serupa. Diantaranya Desa Kedung Malang, Desa Karangaji dan Desa Kalianyar di Kecamatan Kedung. Yang lain tersebar di Desa Blimbingrejo dan Desa Tunggul Pandean Kecamatan Nalumsari, serta Desa Raguklampitan di Kecamatan Batealit. 

Editor: Supriyadi

Firman: Kekeringan Jangan Dijadikan Celah Pelaku Dagang untuk Impor Pangan

Anggota DPR RI Firman Soebagyo meminta kepada pemerintah untuk mengantisipasi impor pangan di tengah kekeringan yang melanda di sejumlah daerah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menanggapi persoalan kekeringan di Kabupaten Pati. Selain soal kebutuhan air bersih, Firman juga menyoroti masalah kekeringan yang menyebabkan tanaman pertanian puso.

“Pati menjadi salah satu daerah andalan pemerintah pusat karena kontribusinya dalam memasok stok pangan nasional. Kalau pertanian di Pati dilanda kekeringan dan puso, jangan sampai dijadikan celah bagi pelaku dagang untuk impor,” ujar Firman kepada MuriaNewsCom, Selasa (19/9/2017).

Untuk mengatasi hal tersebut, Firman mengaku sudah mendesak Menteri Pertanian agar tidak latah menanggapi tanaman puso akibat dampak kekeringan dengan upaya impor untuk stok pangan nasional.

“Saya sudah ingatkan kepada Menteri Pertanian. Antisipasi kekeringan jangan sampai latah, banyak tanaman puso lantas menjadi celah untuk impor. Itu tidak boleh,” tegas Firman.

Pihaknya juga sudah meminta kepada Bupati Pati Haryanto untuk terus mengawal masalah kekeringan di Pati agar tidak berdampak terlalu luas pada produktivitas hasil pertanian.

Firman sendiri sebetulnya memaklumi kondisi kekeringan karena faktor cuaca. Namun, pemerintah bersama petani diminta untuk proaktif untuk melakukan langkah antisipatif supaya kekeringan tidak terlalu berdampak pada hasil produksi pertanian.

Menanggapi hal itu, Haryanto mengaku sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan upaya antisipatif agar kekeringan yang melanda sejumlah daerah di Pati pada musim kemarau tidak memengaruhi produktivitas hasil pertanian.

Salah satunya dengan agenda penanaman pohon, pencarian sumber mata air untuk pertanian, hingga pembuatan resapan air biopori. Program itu direncanakan menyasar ke sejumlah daerah yang rawan kekeringan pada musim kemarau.

Editor: Supriyadi

Darurat Kekeringan, 3 Desa di Pati Digelontor 7 Tangki Air Bersih

Forkopimda Pati bersama warga berfoto bersama di sela-sela penyaluran air bersih, Senin (18/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tiga desa di Kabupaten Pati sujud syukur setelah digelontor tujuh tangki air bersih dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Pati, Senin (18/9/2017).

Ketiga desa tersebut adalah Desa Sidomukti dan Mojoluhur, Kecamatan Jaken dan Desa Keben, Tambakromo. Rencananya, bantuan air bersih tersebut akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama air minum.

Musim kemarau membuat ketiga desa tersebut dilanda kekeringan, sehingga kekurangan air bersih. Setiap tahun saat musim kemarau, ketiga desa itu sudah kerap dilanda kekeringan. 

“Kita mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa ada beberapa desa yang kekurangan air bersih. Kita tindaklanjuti dengan menyalurkan air bersih sebanyak tujuh tangki,” ujar Bupati Pati Haryanto.

Masing-masing tangki berisi 5.000 liter air bersih. Harapannya, bantuan tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok, seperti memasak dan mandi.

Kepala Desa Mojoluhur, Sumarsono mengaku sujud syukur setelah mendapatkan bantuan air bersih. Selain berharap pada hujan yang turun, dia mengajak warganya agar memanfaatkan bantuan air bersih untuk kebutuhan pokok.

“Karakter tanah di desa kami memang mudah kekeringan. Kami berharap, bantuan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat karena benar-benar dibutuhkan,” tandas Sumarsono.

Selain Bupati, distribusi air bersih juga dihadiri Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan dan Dandim Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma. Sementara warga yang menerima bantuan tampak kegirangan menyambutnya dengan membawa timba dan wadah air lainnya.

Editor: Supriyadi

Kekeringan, Perhutani KPH Purwodadi Bantu Air Bersih di Desa Sekitar Hutan

Beberapa petugas dari Perum Perhutani KPH Purwodadi dan Pramuka Saka Wanabakti menyalurkan bantuan air bersih pada masyarakat yang terkena dampak kekeringan di Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Purwodadi memberikan bantuan air bersih ke sejumlah desa di wilayah kerjanya yang mengalami kekeringan. Salah satunya adalah Desa Gedangan, Kecamatan Wirosari.

Administratur KPH Purwodadi Dewanto mengatakan, pemberian bantuan air bersih itu merupakan kepeduliannya pada warga sekitar kawasan hutan yang terdampak bencana kekeringan sejak beberapa waktu lalu. Upaya meringankan beban warga, saat ini baru sebatas menyalurkan bantuan air bersih.

“Musim kemarau kali ini, ada beberapa desa yang mengalami kekeringan dan sulit mendapatkan air bersih. Salah satunya di Desa Gedangan ini. Dalam penyaluran air bersih, kita juga dibantu adik-adik dari Pramuka Saka Wanabakti Purwodadi,” ujar Dewanto, usai menyalurkan bantuan air bersih, Senin (17/9/2017).

Dewanto mengaku cukup prihatin dengan adanya bencana kekeringan. Terkait kondisi itu, ia berharap agar masyarakat bersama dengan Perhutani selalu mengedepankan upaya pelestarian hutan demi melindungi keberadaan sumber air.

Sementara itu, datangnya bantuan air bersih disambut gembira warga setempat. Begitu armada pengangkut air tiba, puluhan warga langsung antri untuk mendapatkan jatah pembagian.

“Lumayan ada bantuan air bersih.  Dengan datangnya bantuan, minimal saya tidak bingung cari air sampai tiga hari,” kata Sudarno, warga setempat. (NAP)

Editor: Supriyadi

Cara Pemdes Raguklampitan Jepara Biar Kekeringan Tak Jadi ’Hantu’ Tahunan

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Desa Raguklampitan Kecamatan Batealit akan mengambil langkah, agar bencana krisis air tak selalu mengahantui tiap tahun.

Selain berupaya menggandeng Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS), juga memanfaatkan kucuran Dana Desa untuk membuat fasilitas sumur.

Petinggi (Kades) Raguklampitan Maskan mengatakan, saat ini setidaknya ada dua rukun tetangga (RT) yakni 23 dan 26 yang terdampak kekeringan air.

Namun demikian, hal itu telah teratasi dengan permintaan droping  air bersih dari BPBD Jepara. Ia mengakui setiap tahun desa yang dipimpinnya selalu saja mengalami kekeringan.

“Iya memang benar, tiap tahun selalu ada droping dari BPBD Jepara untuk mengatasi hal itu,” katanya, Sabtu (16/9/2017).

Ia mengatakan, kondisi di wilayah tersebut tergolong dataran tinggi. Oleh karenanya, jika musim kemarau tiba sebagian sumur warga mengalami defisit air.

Baca : Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Praktis warga hanya bisa memanfaatkannya untuk hal yang sangat penting seperti minum. Sementara untuk mencuci, kebanyakan warga memanfaatkan air sungai. 

Maskan mengungkapkan, pihaknya telah berbicara dengan pengelola Pamsimas terkait pembuatan sumber air di rukun tetangga di sekitar wilayah RT 23. Survei lapangan pun telah dilakukan, namun dirinya belum mengetahui apakah wilayah tersebut bisa terlayani.

“Kalau nanti tahun 2018 tidak terealisasi (kerjasama dengan Pamsimas) ya kemungkinannya lewat Dana Desa semacam untuk pembuatan sumur,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Musim Kemarau, Warga Sukolilo Pati Manfaatkan Sumber Mata Air Gua Wareh

Penduduk setempat memanfaatkan sumber mata air Gua Wareh untuk mandi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga di kawasan Sukolilo memanfaatkan sumber mata air di Gua Wareh yang terletak di Desa Kedumulyo, Sukolilo, Pati. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di tengah musim kemarau yang mulai melanda Pati selatan.

Kepala Desa Kedumulyo Arif Setyo Handono menuturkan, sumber mata air Gua Wareh tidak hanya dimanfaatkan penduduk setempat, tetapi juga masyarakat desa lain. Bahkan, beberapa warga Cengkalsewu dan Kasian yang jaraknya cukup jauh juga datang ke sana untuk mencuci pakaian.

“Mata air Gua Wareh tidak pernah kering meski musim kemarau dan kekeringan. Makanya menjadi andalan warga untuk kebutuhan hidup sehari-hari, seperti mandi, air minum, mencuci, hingga pengairan pertanian,” ujar Handono kepada MuriaNewsCom, Jumat (15/9/2017).

Sejauh ini, sedikitnya ada 500 kepala keluarga (KK) di Kedumulyo yang memanfaatkan sumber mata air Gua Wareh. Selebihnya, pemanfaatan air digunakan warga dari desa lain.

Sepanjang sejarah, Handono menyebut sumber mata air Gua Wareh tidak pernah habis. Bila terpaksa kekeringan dan habis, hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu, airnya muncul kembali.

Ngatminah, salah satu warga setempat mengaku sering mandi dan mencuci air di Gua Wareh. Selain airnya jernih dan alami, airnya selalu melimpah kendati musium kemarau melanda.

Hanya saja, aktivitas mandi dan cuci baju kerap dikeluhkan wisatawan dan pencinta alam karena dinilai mencemari lingkungan. Karena itu, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memanfaatkan sumber mata air Gua Wareh yang tak pernah habis.

Editor: Supriyadi

Kekeringan, Polres Jepara Sumbang Air Bersih untuk Warga Kedung

Wakapolres Jepara Kompol Aan Hardiansyah saat memberikan bantuan air bersih bagi warga Kedung. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara memberi bantuan air bersih kepada warga Desa Kedung Malang dan Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung, Kamis (14/9/2017). Pada kegiatan itu, dua tanki air dan satu water canon dikerahkan untuk membantu masyarakat di dua desa itu. 

Wakil Kepala Kepolisian Polres (Wakapolres) Jepara Kompol Aan Hardiansyah mengatakan, bantuan tersebut merupakan respon dari laporan yang diterima oleh Polsek Kedung. 

“Dari laporan itu, kita tindak lanjuti dengan menginrimkan bantuan air kepada warga,” katanya. 

Ia mengatakan, pemberian air bersih akan dilakukan secara bertahap dan bergilir ke desa-desa lain. 

Sementara itu, Camat Kedung Sisnanto Rusli menyebut, ada empat desa yang mengalami kesulitan air bersih karena kemarau. Selain Kedung Malang dan Kalianyar adapula desa Panggung dan Desa Surodadi. 

“Pada beberapa desa seperti Kalianyar sudah tersambung pipa PDAM namun alirannya tidak lancar. Beberapa sumur warga juga ada yang mengering,” tuturnya. 

Petinggi Desa Kalianyar Nor Khafid mengatakan, ada sekitar 500 warga yang terimbas krisis air bersih. Adapun kondisi tersebut sudah terjadi sekitar sebulan terakhir. 

Editor: Supriyadi

Atasi Kekeringan, 20 Desa di Pati Bakal Dibangun Pamsimas

Masyarakat Desa Lumbungmas, Pucakwangi saat menerima bantuan air bersih dari Pemkab Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bencana kekeringan yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Pati mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Berbagai bantuan air bersih sudah didistribusikan ke desa-desa terdampak kekeringan.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, upaya penanganan kekeringan di sejumlah desa di Pati bukan hanya dengan menggelontorkan bantuan air bersih. Lebih dari itu, dia akan membuat solusi preventif yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Salah satunya, upaya pengadaan air bersih melalui penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas). Tahun ini, bantuan pamsimas akan diberikan kepada 20 desa.

Bantuan pamsimas diprioritaskan di daerah-daerah yang darurat kekeringan saat musim kemarau tiba. Dana penyediaan pamsimas sendiri diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati dan APBN.

“Dari 20 desa yang mendapatkan bantuan pamsimas, enam desa dianggarkan APBD sedangkan 14 desa lainnya dapat anggaran dari APBN. Upaya itu kami tempuh agar masyarakat bisa meminimalisasi dampak kekeringan,” kata Haryanto, Kamis (14/9/2017).

Selain pamsimas, Haryanto sudah memerintahkan PDAM Tirta Bening untuk menempuh langkah khusus dalam rangka mencari sumber mata air di daerah terdampak kekeringan. Sumber mata air itu yang nantinya akan menjadi penghidupan bagi masyarakat.

Tak hanya itu, Haryanto menginstruksikan instansi terkait dan masyarakat untuk menggalakkan penanaman pohon dan membuat resapan biopori di daerah darurat kekeringan. Menurut dia, berbagai langkah preventif harus dilakukan untuk mengurangi risiko dampak kekeringan.

“Akar pohon itu kan fungsinya ganda, bisa mengikat air saat kekeringan dan menguatkan tanah saat banjir. Karena itu, aksi penanaman pohon, pembuatan resapan biopori dan pencarian sumber mata air sangat perlu untuk menghindari dampak kekeringan yang lebih parah,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Kekeringan, Warga Lumbungmas Pati Digelontor 5 Tangki Air Bersih

Distribusi air bersih di Desa Lumbungmas, Pucakwangi, dihadiri Bupati Pati Haryanto, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Lumbungmas, Kecamatan Pucakwangi mendapatkan bantuan lima tangki air bersih dari Pemkab Pati. Bantuan itu diserahkan langsung kepada warga, Rabu (13/9/2017).

Penyerahan air bersih dilakukan Bupati Pati Haryanto, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Ketua DPRD Pati Ali Badrudin dan anggota DPR RI Evita Nursanty dengan dibantu anggota TNI AD dan polisi.

Haryanto mengatakan, distribusi air bersih ke sejumah wilayah terdampak kekeringan saat ini memang terkendala minimnya truk tangki yang digunakan untuk mengangkut air. Namun, dia optimistis bantuan itu akan terdistribusikan dengan baik.

“Permohonan dari warga tetap kami akan berupaya untuk mencukupi. Tapi pendistribusiannya akan dilakukan secara bertahap, karena armada tangki hanya berjumlah enam unit saja, yaitu dari DPUTR, PDAM, PMI dan BPBD,” kata Haryanto.

Air bersih yang didistribusikan ke berbagai desa terdampak kekeringan diakui akan menyesuaikan kebutuhan warga. Bila distribusi air ke Desa Lumbungmas masih kurang, pihaknya akan kembali mengirimkannya lagi dalam waktu yang dekat.

Sementara itu, Evita akan membawa persoalan kekeringan di Pati untuk dibahas ke parlemen. Dia yang melihat langsung kekeringan di Pati bisa menjadi masukan untuk disuarakan kepada pemerintah pusat.

“Saya sudah melihat secara langsung kebutuhan masyarakat Pati akan air bersih. Ini akan kami gunakan sebagai masukan supaya bisa ditindaklanjuti pemerintah pusat,” tandas Evita.

Editor: Supriyadi

Krisis Air di Jepara Semakin Meluas BPBD Berencana Ajukan Penggunaan Dana Tak Terduga

Seorang warga Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung menuangkan air bersih, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air bersih tak hanya terjadi di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, hingga kini dampak musim kemarau meluas menjadi enam desa. 

“Setelah kemarin terimbas empat desa (Kedung Malang, Kalianyar di Kecamatan Kedung, Blimbingrejo-Nalumsari dan Raguklampitan-Batealit), kini ada dua desa lagi yang melaporkan kondisi kekeringan air, yakni Desa Tunggul Pandean di Nalumsari dan Karangaji di Kecamatan Kedung. Hanya saja, laporan resmi (tertulis) belum masuk kepada kami,” tutur Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara, Rabu (13/9/2017).

Menurutnya, kejadian di Tunggul Pandean berimbas pada sebuah sekolah dan lingkungan disekitarnya. Sementara di Karangaji menimpa pada lingkungan desa. 

Baca Juga: Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Ia mengungkapkan, bila sudah ada surat resmi yang masuk BPBD Jepara akan melakukan droping air. Namun hingga saat ini pihaknya belum melakukannya karena belum ada permintaan droping air secara resmi. 

“Saat ini kami baru melaksanakan droping di empat desa yang telah melakukan pelaporan resmi (Kedung Malang, Raguklampitan, Kalianyar dan Blimbingrejo). Frekuensinya sebanyak tiga kali seminggu,”

Adapun, untuk satu kali droping, BPBD Jepara menurunkan tanki air gunung yang berasal dari Kudus yang bervolume sekitar 7000 liter. 

Terkait dana, Jamal mengatakan akan mengevaluasi penggunaanya. Hal itu karena dimungkinkan krisis air bersih semakin meluas. Padahal anggaran yang digunakan untuk droping air relatif sedikit. 

Dikatakannya sebelumnya, untuk anggaran BPBD diberikan jatah sebanyak Rp 22 juta. Namun ketika dampak musim kemarau semakin meluas, pihaknya bisa saja meminta bantuan dari bupati. 

“Ini nanti anggaran dari APBD untuk droping air kita rekapitulasi berapa yang telah keluar. Jika anggaran tersebut tak terpenuhi, maka kita akan memohon kepada Pak Bupati untuk menggunakan dana tak terduga,” urainya.

Editor: Supriyadi

2 Desa di Kudus Didroping Air Bersih

Proses pendistribusian air bersih yang dilakukan BPBD Kudus di Desa Kalirejo, Selasa (12/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Krisis air bersih yang melanda dua desa di Kabupaten Kudus mendapat perhatian serius BPBD Kudus. Buktinya, mereka melakukan droping air bersih setiap hari untuk memenuhi kebutuhan warga.

Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan pada BPBD Kudus Atok Darmo Broto menyebutkan, dua desa tersebut adalah Desa Menawan, Kecamatan Gebog, dan Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Keduanya sudah didroping air secara rutin sekitar satu pekan.

“Untuk Desa Kalirejo, kami melakukan droping air bersih dua hari sekali. Sedang untuk Menawan, droping air kami berikan kondisional dengan mempertimbangkan kebutuhan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, Desa Kalirejo terakhir kali didroping adalah Selasa (12/9/2017) malam. Dalam sekali droping air bersih, air yang diberikan sejumlah 9.000 liter dengan rincian dari BPBD Kudus 5 ribu liter dan PDAM Kudus 4 ribu liter.

Sementara, untuk Desa Menawan, terkahir kali droping Selasa (12/9/2017) sore. Di sana, air bersih yang di drop sejumlah 5 ribu liter dari BPBD saja. Modelnya, tim BPBD Kudus menyiapkan tandon air, yang nantinya dapat diambil masyarakat setempat.

“Dalam satu desa tidak mengalami kekeringan semuanya. Namun hanya beberapa RT saja, sedang sisanya masih aman air bersih,” jelasnya.

Berdasarkan informasi, lanjut dia, Desa Kutuk Kecamatan Undaan juga mengalami hal yang serupa. Namun untuk wilayah tersebut didrop air bersih dari PMI Kudus .

Editor: Supriyadi

Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung antre air bersih , Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung rela tak mandi untuk berhemat air. Hal itu lantaran sudah seminggu terakhir sumber air PAM yang digunakan sudah tak mengalir. Praktis, warga hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah berupa droping air bersih. 

“Seminggu terakhir ini airnya tidak mengalir sama sekali. Ada air sumur, namun jika musim kemarau seperti ini rasanya asin. Sehingga hanya mengandalkan bantuan untuk masak dan minum. Kalau mencuci atau mandi ya pergi ke rumah saudara yang airnya masih ada,” tutur Warga RT 3/RW 3 Desa Kedung Malang, Khayatun Nissa (40), Rabu (13/9/2017). 

Saat ditemui, Khayatun tengah mengantre air bantuan dari BPBD Jepara. Ia mengatakan, setiap kali bantuan datang ia dapat mengumpulkan sekitar lima jeriken bervolume sekitar 20 liter. 

Dari jeriken tersebut, ia lantas membagi-baginya untuk berbagai kebutuhan seperti memasak dan minum. Dirinya menyebut telah berlangganan air dari Perusahaan Air Minum. Namun di musim seperti ini, tidak ada air yang keluar dari saluran. 

“Biasanya kalau keluar ya bayarnya sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Namun kalau seperti ini ya tetap bayar meskipun sedikit sekitar Rp 40 ribu,” urainya.

Hal serupa diakui oleh Paimatun (50). Menurutnya, ia tidak berlangganan air PAM namun hanya mengandalkan bantuan air bersih. 

“Satu minggu ya habis sakblong (drum ukuran 150 liter). Namun kalau dibuat mandi ya habisnya cepat,” kata dia. 

Staf Kesejahteraan Desa Kedung Malang Muhammad Khamim mengatakan, setidaknya ada dua RT yang terimbas kekeringan. “Satu RT jumlah Kepala Keluarganya ada sekitar 80 sampai 90. Yang terimbas ada dua RT, Rukun Tetangga 3 dan 5,” kata dia. 

Khamim menyebut, setiap tahun daerah tersebut selalu mengalami kekeringan. Namun, ia mengatakan tahun ini yang paling parah. Selain droping air dari BPBD Jepara, desa tersebut juga mendapatkan bantuan air dari PDAM Jepara, guna mengatasi masalah itu.

“Hari ini selain dari BPBD ada juga bantuan dari PDAM Jepara yang menyuplai air kepada warga kami,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

58 Desa dari 7 Kecamatan di Pati Alami Kekeringan, Begini Respon Bupati

Bupati Pati Haryanto bersama instansi terkait menggelar rakor terkait kekeringan di kantor dinasnya, Senin (11/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 58 desa dari tujuh kecamatan di Kabupaten Pati mengalami kekeringan. Hal itu diungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Sanusi Siswoyo, Senin (11/9/2017).

“Sudah ada 58 desa di Pati yang mengajukan permohonan air bersih. Tapi ada empat desa yang belum terakomodasi, karena belum mengajukan permohonan,” kata Sanusi.

Empat desa yang belum mengajukan permohonan, antara lain Desa Lumbungmas, Mojoagung, Sitimulyo dan Mencon. Sementara puluhan desa yang berasal dari Jakenan, Batangan, Gabus, Kayen dan Sukolilo sudah mendapatkan bantuan air bersih.

Menanggapi hal itu, Bupati Pati Haryanto menjadwalkan akan turun ke lapangan untuk menyalurkan bantuan. Ada sekitar 400 tangki air bersih yang akan disalurkan ke sejumlah daerah yang dilanda kekeringan seperti Pucakwangi.

“Anggaran dari BPBD ada 400 tangki air bersih yang akan disalurkan kepada masyarakat terdampak kekeringan. Selain itu, masih ada bantuan dari DPUTR, PDAM dan PMI yang akan segera disalurkan,” jelasnya.

Untuk mengatasi kekeringan, pihaknya juga sudah menggelar rapat koordinasi dengan BPBD, Bagian Kesra, PMI, PDAM dan DPUTR. Hasilnya, bantuan dari Pemkab dan pihak swasta akan digalang untuk selanjutnya didistribusikan kepada warga.

Editor: Supriyadi

Kekeringan Melanda, Ratusan Siswa di Pati Salat Istisqa Minta Hujan

Sejumlah siswa mengikuti dzikir dan doa bersama seusai salat istisqa di lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa Madrasah Miftahul Ulum menggelar salat istisqa di kawasan lapangan Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen, Pati, Kamis (7/9/2017).

Mereka meminta hujan di tengah musim kemarau yang mulai melanda. Para siswa juga menggelar dzikir dan doa bersama seusai mengikuti salat istisqa.

“Waktu ikut salat di lapangan sangat panas sekali. Tapi tetap semangat, kita minta kepada Allah supaya diberikan hujan,” ujar Alfin, salah satu siswa MI Miftahul Ulum.

Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin Kiai Abdul Latif yang memimpin salat tersebut menuturkan, salat istisqa menjadi ikhtiar manusia untuk meminta rezeki berupa hujan yang memberikan manfaat.

Sebab, sejumlah desa di Kacamatan Kayen saat ini sudah mulai kekurangan air. Beberapa warga harus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air yang dibutuhkan saat ini sudah mulai keruh dan aromanya tidak sedap, sehingga benar-benar butuh air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya juga meminta kepada pemerintah supaya memberikan bantuan air bersih di sekolah dan rumah warga yang membutuhkan. Di Madrasah Miftahul Ulum sendiri sudah mulai kekurangan air, sehingga sempat mengganggu proses belajar-mengajar.

Editor: Supriyadi

Nenek Kutuk Kampung di Brebes Ini jadi Daerah Sulit Air Bersih

Foto Ilustrasi. Warga berebut air bersih yang dibagikan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Brebes – Musim kemarau telah melanda beberapa wilayah. Termasuk di Kabupaten Brebes. Meski demikian, selain faktor musim, ternyata ada juga yang mengaitkan kekeringan dengan kutukan seorang nenek.

Yaitu di Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan. Di dukuh itu beredar cerita, kekeringan yang terjadi sampai sekarang merupakan bentuk dari kutukan. Dulunya, warga Pedukuhan Wangon memiliki sumber air seperti kampung pada umumnya. Tapi semuanya berubah akibat adanya kutukan.

Baca : Begini Penampilan Polwan Cantik Saat Nyamar Jadi PSK dan Bekuk Mucikari di Rames Pati 

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan Kurniawan, Kamis (7/9/2017), mengatakan, warga masih mempercayai adanya kekeringan di dukuh juga karena kutukan. “Pedukuhan ini konon dikutuk sehingga tidak memiliki kandungan air di dalam tanahnya,” kata Tarlan.

Semua itu akibat kutukan seorang nenek. Ketika itu, ada seorang nenek yang sedang melakukan perjalanan. Setibanya di Wangon, nenek merasa lelah. Nenek juga merasa sangat dahaga. Dengan langkah lemahnya, nenek mendatangi sejumlah rumah warga untuk minta air.

Dari rumah-rumah yang didatangi itu, pemilik tak juga memberikan air barang setetes kepada si nenek. Nenek pun kesal. Dari mulutnya terucap jika tempat ini tak akan ada air sampai kapan pun. Jadilah sampai sekarang, krisis air bersih masih belum hilang dari dukuh tersebut. Bahkan, sejumlah bantuan untuk menemukan sumber air telah dilakukan pemerintah. Tapi lagi-lagi sumber air tak juga dilakukan.

Baca : Listik 5 Desa di Pati Kota Akan Dipadamkan 8 Jam, Ini Penjelasannya

Beberapa tahun lalu ada pihak swasta yang pengalaman menggarap proyek air bersih ingin membantu warga mengebor, biar dapat air bersih. Bahkan dengan lantang, penyedia jasa pencari sumber air itu rela tak dibayar bila belum menemukan air.

Di lapangan, alat canggih dan pekerja telah dikerahkan. Hingga kedalaman 120 meter, air bersih tak juga muncul. Aksi pengeboran yang dilakukan itu juga bukan kali pertama di Wangon. Tapi sudah ada beberapa perusahaan pencari sumber air yang lebih dulu, dan hasilnya gagal.

Camat Ketanggungan, Laode Aris Vindar mengatakan, sumber air tidak ada sama sekali di Wangon. Padahal di daerah tetangga terdapat sumber air. Maka, pemerintah membangun instalasi air di desa tetangga, Luwung Gede. Dari desa itu, warga bisa mendapatkan pasokan air. Setelah sebelumnya dibuatkan pipa yang menyalurkan air dari Luwung Gede ke Wangon dengan panjang sekitar 3 km.

“Warga Wangon yang ingin menikmati air bersih harus membayar Rp 500 per jeriken. Uang yang terkumpul nantinya untuk biaya perawatan instalasi, dan kebutuhan bahan bakar mesin penyedot air, “ ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Kekeringan Mulai Melanda Pati, Petani Gagal Panen

Seorang petani menunjukkan kondisi sungai di Desa Suwaduk, Wedarijaksa yang biasa mendapatkan pasokan air dari Waduk Gunung Rowo mulai mengering. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kekeringan mulai melanda sejumlah daerah di Kabupaten Pati. Salah satunya kawasan pertanian di Desa Suwaduk, Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

Tashari, petani asal Suwaduk mengatakan, lahan sawah miliknya mengalami kekeringan sekitar seminggu yang lalu. Akibatnya, daun tanaman padi dan tebu yang ditanam mulai menyusut dan kering.

“Kalau padi masih aman, karena kita sering mengairi sawah pakai sumur artesis. Beda dengan tebu yang sulit diairi sehingga tanamannya mulai menyusut dan kecil,” ungkap Tashari, Selasa (5/9/2017).

Selain sudah tidak ada hujan, pasokan air yang biasa mengalir dari Waduk Gunung Rowo juga mulai habis. Akibatnya, sungai besar yang melintas di kawasan Suwaduk mulai mengering.

Ia memastikan, tanaman tebu miliknya akan gagal panen bila dalam waktu sepekan ke depan tidak mendapatkan pengairan atau hujan. Pasalnya, tanaman tebu miliknya sudah mulai mengerdil dan layu.

Kondisi serupa terjadi di kawasan Kecamatan Kayen. Sedikitnya ada 12 hektare sawah yang gagal panen karena kekeringan.

“Ada 36 hektare tanaman padi di Kecamatan Kayen yang gagal panen. 24 hektare yang gagal panen disebabkan organisme pengganggu tanaman, sedangkan 12 hektare lainnya karena kekeringan,” ucap Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi.

Beruntung, tanaman padi di kawasan Kayen yang gagal panen rata-rata masih berusia satu bulan sehingga kerugiannya tidak terlalu besar. Namun, dia berharap agar pengelola waduk segera menggelontorkan air agar bisa dimanfaatkan petani.

Editor: Supriyadi