Musim Kemarau di Pati Diprediksi Berakhir Awal Desember

Warga Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu menerima bantuan air bersih. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu menerima bantuan air bersih. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati memprediksi musim hujan di Pati tiba pada awal Desember 2015. Kendati hujan sempat turun beberapa kali, tetapi kekeringan masih terjadi di sejumlah daerah.

Bahkan, wilayah Pati bagian utara seperti beberapa daerah di Kecamatan Tayu masih ada yang kekurangan air bersih. Sementara itu, beberapa desa di wilayah Pati Kota juga masih dijumpai kekurangan air bersih, lantaran sumber mata air mulai habis.

“Memang Kabupaten Pati sempat diguyur hujan beberapa kali. Tapi, musim hujan masih belum tiba. Kami perkirakan musim kemarau berakhir secara penuh pada awal Desember ini,” ujar Kepala BPBD Pati Sanusi kepada MuriaNewsCom, Rabu (25/11/2015).

Karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air selama musim kemarau ini. “Kemarau periode ini memang cukup lama. Kami imbau agar warga bisa menghemat penggunaan air,” imbuhnya.

Secara terpisah, Sugiarti, warga Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu mengaku sumber air di desanya mulai habis. Padahal, daerah Pati utara selama ini tak pernah kehabisan sumber air.

“Kalau mandi dan mencuci, kami memanfaatkan air di sungai. Untuk kebutuhan masak dan air minum, kami beli air seharga Rp 6.000 per galon,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Masa Kemarau Lebih Lama, Petani Holtikultura Pati Belum Berani Menanam

 

PATI – Jika petani padi di sejumlah daerah di Kabupaten Pati sudah mulai berani menanam padi setelah ada hujan beberapa hari lalu, beda halnya dengan petani holtikultura. Mereka lebih memilih menunggu musim hujan tiba untuk menanam bibit.

Hal ini dikatakan Muslikun, petani holtikultura asal Desa Langenharjo, Kecamatan Margorejo, Pati. ”Saya sudah menebar bibit sebulan yang lalu untuk menyongsong musim hujan, tapi ternyata musim kemarau masih belum berakhir,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Kamis (5/11/2015).

Kendati hujan pertama sempat membasahi tanah, Muslikun belum berani untuk mencabut tanaman dari persemaian untuk ditanam. ”Belum berani. Masih menunggu hujan benar-benar turun. Pertanian padi dengan holtikultura beda,” imbuhnya.

Muslikun memiliki kebun yang berisi beragam jenis sayuran, mulai dari cabai, terong, tomat, dan sawi. Saat ini, ia sebatas menyirami bibit-bibit yang masih berada dalam media persemaian.

”Kami berharap musim hujan segera datang. Setelah itu, saya berani menanam. Tanaman holtikultura tidak bisa tumbuh bagus tanpa ketersediaan air yang cukup,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Darurat Kekeringan, Waduk Gembong Pati Tinggal 547 Meter Kubik

Seorang nelayan tengah mencari ikan di tengah sisa air waduk yang tinggal 547 meter kubik dari kondisi normal yang mestinya 9,5 juta meter kubik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang nelayan tengah mencari ikan di tengah sisa air waduk yang tinggal 547 meter kubik dari kondisi normal yang mestinya 9,5 juta meter kubik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kekeringan yang melanda di Kabupaten Pati sudah mencapai level kritis. Waduk Gembong yang digadang-gadang sebagai pemasok air di sejumlah wilayah di Pati kering kerontang.

Jika kondisi normal, debit air di Waduk Gembong mencapai 9,5 juta meter kubik. Saat ini, debit air Waduk Gembong tinggal 547 meter kubik saja.

Praktis, air tersebut hanya bisa digunakan untuk pembasahan pada bagian waduk saja dan sama sekali tidak bisa digunakan untuk pengairan. ”Ini hanya berfungsi untuk pembasahan saja. Kami berharap agar hujan segera turun,” ujar penjaga Waduk Gembong Susanto kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Salah satu yang ia khawatirkan, kata dia, jika hingga Desember 2015 mendatang sisa air di waduk hingga habis bisa berpotensi menyebabkan keretakan pada tanggul.

”BMKG memprediksi musim hujan tiba pada Desember 2015 mendatang. Semoga sisa air masih cukup sampai musim penghujan tiba, sehingga bisa untuk pembasahan. Kalau sampai kering tanpa air, bisa menimbulkan keretakan pada tanggul,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Paguyuban CB Pati Minta Pemkab Buat Solusi Kekeringan Jangka Panjang

Satu tangki air bersih dari Paguyuban CB Pati diturunkan di Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Satu tangki air bersih dari Paguyuban CB Pati diturunkan di Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Paguyuban Pecinta Motor Klasik CB Kabupaten Pati berharap, agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bisa memberikan solusi kekeringan yang bisa digunakan warga secara berkelanjutan dan jangka panjang.

Pasalnya, kekeringan di wilayah Pati Selatan seperti Tambakromo, Sukolilo, Kayen, Pucakwangi, dan Jakenan selalu dilanda kekeringan panjang dan kekurangan air bersih saat musim kemarau tiba.

Hal ini disampaikan Pengurus Paguyuban CB Pati Hartono saat memberikan bantuan air bersih di 15 titik, 7 desa, dan 4 kecamatan di Pati. ”Kami secara swadaya mengumpulkan dana dari anggota paguyuban dan ada juga donatur yang memberikan sumbangan untuk air bersih di wilayah Pati selatan yang menjadi titik darurat kekeringan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Ia mengatakan, bantuan air bersih memang sangat dibutuhkan masyarakat. Karena itu, selain memberikan bantuan air bersih secara langsung, pihaknya berharap agar Pemkab bisa berkolaborasi dengan sejumlah komunitas untuk memberikan solusi kekeringan dalam jangka panjang.

”Rencananya, paguyuban kami tidak sebatas sebagai komunitas yang mewadahi hobi motor klasik saja, tetapi juga peduli dengan sesama. Saat ini, kemampuan kami sebatas memberikan bantuan bersih saja sebanyak 150.000 liter. Kami berharap, pemerintah bisa memberikan solusi berkelanjutan untuk mengantisipasi kekeringan di wilayah Pati selatan,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Paguyuban Motor Klasik CB Bantu Air Bersih di Wilayah Pati Selatan

Sejumlah warga Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo, berebut air bersih dari Paguyuban Motor Klasik CB Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo, berebut air bersih dari Paguyuban Motor Klasik CB Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 400 orang yang tergabung dalam Paguyuban Pecinta Motor Klasik CB Kabupaten Pati, menggelar bakti sosial dengan memberikan bantuan air bersih kepada warga Pati bagian selatan yang terkena dampak kekeringan. Kegiatan itu rencananya akan berakhir pada Kamis (29/10/2015) mendatang.

”Kami menargetkan ada 25 tangki air dengan masing-masing kapasitas 6.000 liter. Kemarin, sudah ada 15 tangki yang sudah kami salurkan ke sejumlah daerah di Kecamatan Kayen, Tambakromo, Pucakwangi, dan Jakenan,” ujar Pengurus Paguyuban Motor Klasik CB Pati Hartono kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Ia mengatakan, daerah tersebut memang selama ini dikenal sebagai wilayah yang terkena dampak kekeringan saat musim kemarau tiba. Terlebih, kata dia, musim penghujan yang mestinya sudah tiba tetapi tak kunjung datang.

Karena itu, bantuan air bersih dirasa perlu dilakukan untuk meringankan beban mereka. ”Bagi warga Pati selatan, air bersih menjadi harapan yang paling dinantikan. Semoga bisa sedikit mengurangi beban mereka,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Sumber Air Habis, Mesin Pompa Air Warga di Pati Nganggur

Warga Kecamatan Winong sudah lama kesulitan air bersih, saat ini mulai dirasakan warga Kecamatan Pati yang selama ini selalu aman saat kekeringan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga Kecamatan Winong sudah lama kesulitan air bersih, saat ini mulai dirasakan warga Kecamatan Pati yang selama ini selalu aman saat kekeringan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah warga di Kecamatan Pati terpaksa tidak menggunakan mesin pompa air untuk sementara, lantaran sumber air dari dalam tanah sudah mulai habis. Akibatnya, banyak mesin pompa air milik warga menganggur.

“Kalau pagi biasanya masih bisa muncul air. Tapi, kalau siang sampai sore sudah tidak muncul air lagi. Itu pun harus dipancing menggunakan air pada bagian pipa agar bisa muncul air,” ujar Yanto, warga Desa Tambahsari, Pati kepada MuriaNewsCom, Sabtu (24/10/2015).

Bahkan, ia sempat membeli mesin pompa baru karena dikira mesin pompa miliknya sudah rusak, sehingga tidak bisa digunakan untuk menyedot air dari dalam tanah. “Saya sempat beli mesin pompa baru, ternyata masih tidak bisa digunakan untuk menyedot air. Setelah tanya tetangga, hal serupa terjadi. Sumber airnya habis,” tuturnya.

Senada dengan Haryadi (44). Warga Desa Blaru, Kecamatan Pati ini juga kesulitan mendapatkan air dari sumur bornya. Air yang keluar dari sumur bornya sangat sedikit, tak seperti biasanya. “Hujan benar-benar kami nantikan,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Bahaya, Sumber Mata Air Bersih Pati Kering Kerontang

Air yang keluar dari sumur bor di Kecamatan Pati sangat sedikit, karena kekeringan panjang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Air yang keluar dari sumur bor di Kecamatan Pati sangat sedikit, karena kekeringan panjang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sejumlah sumber mata air di sumur bor milik warga mengering. Mesin pompa pun tak mampu lagi menyedot sumber air yang menjadi andalan warga di sejumlah daerah di Kecamatan Pati.

Yanto (36), misalnya. Warga Desa Tambahsari, Kecamatan Pati ini harus menunggu beberapa jam hingga sumber air dari dalam tanah bisa disedot menggunakan mesin pompa air.

“Sepertinya kekeringan sudah sangat parah. Sejak puluhan tahun, daerah ini selalu aman dari kekeringan. Tapi, saat ini kekeringan sudah menyebabkan sumber air di dalam sumur bor mulai habis,” kata Yanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (24/10/2015).

Ia berharap hujan segera tiba. “Kalau wilayah Kecamatan Pati sumber airnya sudah mulai habis, itu pertanda kekeringan sudah terlalu parah. Biasanya, daerah kekeringan selalu berada di Pati bagian timur dan selatan,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Salat Istisqa untuk Songsong Masa Tanam Pertama

 Jemaah perempuan tengah salat istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jemaah perempuan tengah salat istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 3.000 warga dari berbagai kalangan di Kecamatan Gabus menyelenggarakan salat istisqa untuk menyongsong masa tanam pertama. Karena, kekeringan yang melanda pada musim tanam kedua menyebabkan petani gagal panen.

“Sejak bulan Rajab sampai sekarang, hujan tidak juga turun. Padahal, petani pada masa tanam kedua sudah gagal. Panen hanya berhasil berkisar antara 50 hingga 60 persen,” ujar Mudasir, petani asal Desa Gabus yang ikut salat istisqa.

Ia mengatakan, bulan September biasanya petani sudah mulai membuat persemaian untuk menebar benih. Namun, sampai sekarang petani belum berani untuk menebar benih, lantaran belum ada tanda-tanda hujan.

Karena kemarau dan kekeringan dirasa terlalu berkepanjangan yang mengancam masa tanam pertama, mereka akhirnya membuat keputusan untuk menggelar salat istisqa. “Kami memohon kepada Tuhan agar hujan segera turun,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ribuan Warga Gabus Pati Gelar Salat Istisqa

Ribuan warga Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ribuan warga Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Lebih dari 3.000 warga Kecamatan Gabus menggelar salat Istisqa di Lapangan Desa Gabus, Senin (21/9/2015). Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya.

Sebagian besar salat minta hujan dihadiri kalangan petani, pelajar, dan tokoh agama dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. “Musim kemarau terlalu panjang dan kekeringan terus berkepanjangan. Karena itu, kami menggelar salat Istisqa,” ujar Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Saifullah kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, musim kemarau kali ini benar-benar dirasakan masyarakat. Bantuan air dari Kedung Ombo dirasa masih belum mencukupi kebutuhan air di sawah.

“Kekeringan ini sudah mencapai level parah. Hujan adalah satu-satunya harapan kami untuk mengairi sawah. Air hujan diharapkan bisa menghidupi warga, baik itu pertanian maupun kebutuhan lainnya,” tandasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Hanya Andalkan Air Hujan untuk Pengairan Sawah, Petani Pucakwangi Berharap Ada Normalisasi Embung

umlah persawahan di Pucakwangi tampak tidak produktif saat musim kemarau, lantaran sebagian besar petani mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

umlah persawahan di Pucakwangi tampak tidak produktif saat musim kemarau, lantaran sebagian besar petani mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sebagian besar petani di Kecamatan Pucakwangi mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam di sawahnya. Akibatnya, sawah yang mereka kelola tidak produktif dan seperti mati saat memasuki musim kemarau.

Sementara itu, embung yang digadang-gadang sebagai tempat untuk menyimpan air, saat ini kondisinya memprihatinkan. Selain semakin dangkal, embung di Pucakwangi juga kian menyempit sehingga mudah habis saat kemarau tiba.

Hal ini dikeluhkan Suhar, Kepala Desa Kletek, Kecamatan Pucakwangi. Melihat kondisi tersebut, Suhar hanya berharap agar embung kembali dinormalisasi untuk menyelamatkan sawah agar tetap produktif saat musim kemarau.

“Selama ini, petani di sini memang sebagian besar mengandalkan air hujan untuk pengairan sawah. Karena itu, terobosan dan solusi untuk mengatasi ini kami butuhkan. Kami harap Pemkab bisa memberikan solusi yang bisa bermanfaat dalam jangka panjang,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kekeringan di Pucakwangi Pati Mulai Membayangi

Seorang warga di Kecamatan Pucakwangi tengah mengambil air bersih. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang warga di Kecamatan Pucakwangi tengah mengambil air bersih. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Kecamatan Pucakwangi, Pati, merupakan daerah yang rawan terkena bencana kekeringan selama musim kemarau. Karena itu, sejumlah warga meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bisa memberikan solusi yang sistematis, bukan sporadis.

“Kami memang sangat membutuhkan bantuan air bersih saat kekeringan melanda. Tapi, kami berharap ada solusi berkelanjutan yang sifatnya sistematis, bukan mendadak-sporadis,” ujar Kepala Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi Zamroni kepada MuriaNewsCom, Selasa (15/9/2015).

Karena itu, ia mewakili masyarakat berharap agar pemkab bisa memfasilitasi untuk menanggulangi bencana kekeringan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. “Sebagian besar masyarakat di Pucakwangi memang seringkali krisis air bersih saat musim kemarau. Kami berharap pemkab bisa bersinergi dengan masyarakat untuk melakukan manajemen air,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini embung yang ada di desa-desa sudah mulai banyak yang dangkal dan ukurannya semakin mengecil. Dengan demikian, daya tampung air kian berkurang.

“Ini yang perlu dibenahi. Infrastruktur pendukung memang dibutuhkan untuk mengurangi risiko bencana kekeringan,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Krisis Air Bersih, Harga Air di Desa Sitimulyo Pucakwangi Capai Rp 7.000 per Dirijen

Seorang anak ikut mengantri air bersih menggunakan ceret. Sebanyak 15.000 liter air bersih dibagikan Pemkab Pati, PMI Pati dan Bank Jateng di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang anak ikut mengantri air bersih menggunakan ceret. Sebanyak 15.000 liter air bersih dibagikan Pemkab Pati, PMI Pati dan Bank Jateng di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Musim kemarau membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Pati dilanda kekeringan. Salah satunya, Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng.

Tiga bulan kekeringan, warga dilanda krisis air bersih dengan mengeringnya sumur, sungai, termasuk persawahan. Bahkan, untuk mendapatkan air bersih, warga harus rela merogoh kocek Rp 7.000 per dirijen.

”Air di sumur dan sungai sudah tidak ada. Di sawah juga tidak ada air. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih seperti masak dan minum biasanya beli dengan harga mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per dirijen,” ujar Edi (59), warga setempat saat ditanyai MuriaNewsCom, Senin (7/9/2015).

Karena itu, ia berharap agar pemerintah daerah bisa memberikan bantuan yang bisa digunakan secara permanen saat kekeringan melanda. ”Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemkab dan PMI Pati yang sudah memberikan bantuan air bersih sebanyak 15.000 liter air bersih hari ini. Ke depan, kami berharap ada bantuan yang bisa digunakan warga sewaktu-waktu saat kekeringan, entah sumur atau apa,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Sitimulyo Pucakwangi Berebut 15.000 Liter Air Bersih

 

Bupati Pati Haryanto yang merupakan Ketua PMI Pati tengah membagikan air bersih di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi, Senin (7/9/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto yang merupakan Ketua PMI Pati tengah membagikan air bersih di Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi, Senin (7/9/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Warga Desa Sitimulyo, Kecamatan Pucakwangi berebut air bersih saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bersama dengan Bank Jateng dan Palang Merah Indonesia (PMI) Pati memberikan bantuan air bersih sebanyak 15.000 liter, Senin (7/9/2015). Mereka berebut dan antri membawa tempat air, mulai dari dirigen, genuk dari tembikar, timba, dan berbagai wadah lainnya.

Ketua PMI Pati Haryanto mengatakan, Desa Sitimulyo termasuk daerah rawan kekeringan sehingga mendesak untuk diberikan bantuan. ”Ini daerah yang masuk kategori sulit air di Kabupaten Pati. Daerahnya juga susah dijangkau, sehingga bantuan air bersih diharapkan bisa membantu warga,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Bantuan air bersih tersebut rencananya digunakan warga untuk keperluan air minum dan kebutuhan dapur. Dalam waktu dua bulan ini, warga setempat memang kesulitan mendapatkan air bersih.

Karena itu, Pemkab memprioritaskan Desa Sitimulyo sebagai daerah yang mendesak untuk dibantu. Pengurus PMI Pati Bidang Bencana Sugiyono mengatakan, sedikitnya ada 200 tangki air bersih dari PMI Pati yang disebar di lima kecamatan selama kekeringan, antara lain Kecamatan Sukolilo, Pucakwangi, Jaken, Jakenan, dan Batangan.

”Kami lihat, Desa Sitimulyo memang mendesak untuk dibantu sehingga hari ini kami menerjunkan 3 tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter per tangki,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Petani Pati  Berharap dapat Air dari Waduk Kedungombo

 

Seorang warga tengah menjala ikan di Sungai Silugangga, Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Seorang warga tengah menjala ikan di Sungai Silugangga, Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sejumlah petani yang berada di wilayah bantaran Sungai Silugangga, Pati mengeluh, karena air sungainya asin sehingga tidak bisa digunakan untuk mengairi tanaman sawah. Hal ini dikeluhkan Kasmuri (63), petani asal Desa Babalan, Kecamatan Gabus.

Ia mengaku pernah menyiram sejumlah tanaman kedelainya yang berada di pinggiran Sungai Silugangga, tetapi justru daunnya mengering dan mati. Setelah dicek, air sungai menjadi asin lantaran kekeringan dan mendapatkan pasokan dari air laut Juwana.

Karena itu, ia berharap agar air dari Waduk Kedungombo bisa sampai daerahnya. “Informasi yang saya dapatkan, saat ini air Waduk Kedungombo sudah dibuka dan sampai di Kayen. Sepertinya sehari lagi sudah sampai sini,” kata Kasmuri kepada MuriaNewsCom, Senin (7/9/2015).

Ia menganggap air tawar yang dipasok dari Waduk Kedungombo merupakan air kehidupan yang bisa menghidupi petani di sekitarnya. “Kami tidak sabar, air kehidupan itu sampai di wilayah kami,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Petani di Gabus Pati Malah ’Menari’ Saat Bencana Kekeringan

Sejumlah petani di Desa Gabus, Kecamatan Gabus tengah memanen kedelai organik yang mereka tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah petani di Desa Gabus, Kecamatan Gabus tengah memanen kedelai organik yang mereka tanam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Bukan Bumi Mina Tani namanya, jika kekeringan panjang membuat petani di Pati lantas berserah diri dan tidak panen dari apa yang mereka tanam. Panen raya petani di Desa Gabus, Kecamatan Gabus, Pati membuktikan ketangguhan petani di Pati.

Tak tanggung-tanggung, mereka memanen kedelai organik yang ditanam tanpa pupuk dan pembasmi hama kimia. Per hektare saja, mereka bisa memanen kedelai organik mencapai 1,8 ton.

“Kami bersyukur kepada Tuhan yang memberikan rezeki melimpah untuk petani. Meski kekeringan panjang hingga tanah persawahan pecah-pecah dan mengeras, kami masih bisa panen kedelai organik 1,8 ton per hektare,” ujar Ketua Kelompok Tani Tulodho Tani Pardi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (29/8/2015).

Karena itu, sejumlah petani menggelar acara selamatan kenduri panen kedelai dengan membuat tumpeng dan ingkung ayam untuk dimakan bersama di tengah-tengah sawah. Dalam doa petani, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang melimpahkan rezeki. ( LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Air Waduk Seloromo Surut, Nelayan Tak Bisa Lagi Panen Ikan

Karlan, nelayan setempat tidak mendapatkan ikan saat menjaring di Waduk Seloromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Karlan, nelayan setempat tidak mendapatkan ikan saat menjaring di Waduk Seloromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Waduk Seloromo di Desa Gembong, Kecamatan Gembong dimanfaatkan warga sekitar untuk mencari ikan. Ada yang menjadikan nelayan sebagai profesi, ada juga yang memanfaatkan sebagai penghasilan tambahan.

Karlan, nelayan setempat mengatakan, waduk memang sedikit banyak telah membantu masyarakat sekitar. “Ada yang dijadikan penghasilan tetap untuk menjual ikan. Ada juga yang untuk penghasilan tambahan, misalnya untuk lauk,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Jumat (28/8/2015).

Karena itu, banyak juga masyarakat yang mengeluh saat debit air waduk menyusut. Karena, nelayan sulit mendapatkan ikan saat air waduk surut.

“Kalau air waduk penuh, warga setempat biasanya panen ikan. Tapi, kalau airnya surut, cari ikan juga sulit,” keluhnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Antisipasi Kemarau Panjang, Setiap Rumah di Pati Mestinya Punya Biopori

Direktur PDAM Tirta Bening Pati Harsanto. Ia berpendapat, rumah di Pati mestinya punya biopori. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Direktur PDAM Tirta Bening Pati Harsanto. Ia berpendapat, rumah di Pati mestinya punya biopori. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

 

PATI – Setiap rumah di Pati semestinya memiliki resapan tanah atau dikenal dengan biopori. Hal tersebut untuk mengatasi kekeringan panjang saat musim kemarau dan kebanjiran hebat saat musim penghujan yang biasa terjadi di Pati.

“Kecenderungan rumah saat ini tanahnya diplester menggunakan semen atau paving bersemen, sehingga menutup resapan air yang sebetulnya berfungsi baik untuk mengelola air,” ujar Direktur PDAM Tirta Bening Pati Harsanto kepada MuriaNewsCom, Kamis (13/8/2015).

Karena itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar setiap rumah setidaknya memiliki resapan air untuk mengatasi genangan air yang berpotensi menyebabkan banjir. “Biopori sangat bermanfaat untuk kelangsungan ekosistem secara menyeluruh. Kesadaran ini harus digalakkan secara serentak,” tuturnya.

Ia menambahkan, kalau ingin betul-betul membuat biopori, sisihkan beberapa bidang tanah untuk membuat lubang dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos.

“Sampah organik berfungsi untuk menghidupi fauna tanah di mana secara berkelanjutan bisa menciptakan pori-pori dalam tanah yang baik. Selain bisa dimanfaatkan untuk tanaman, sistem biopori diharapkan bisa mengatasi masalah kekeringan dan kebanjiran,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kekeringan Picu Kenaikan Harga Cabai

Sunami, penjual cabai di Pasar Rogowongso menunjukkan cabai merah yang saat ini tembus Rp 33 ribu/kg. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sunami, penjual cabai di Pasar Rogowongso menunjukkan cabai merah yang saat ini tembus Rp 33 ribu/kg. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kekeringan yang melanda di sejumlah daerah di Jawa Tengah, memicu naiknya harga cabai di pasaran. Pasalnya, kekeringan membuat hasil panen berkurang, yang berimbas pada sulitnya stok cabai.

Hal ini diakui Sunami, warga Desa Bumiayu, Kecamatan Wedarijaksa, yang menjual cabai di Pasar Rogowongso, Pati. ”Dalam beberapa pekan terakhir, stok cabai sulit. Terutama cabai merah dan lombok setan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (12/8/2015).

Biasanya, Sunami mengambil cabai dari petani cabai di Kayen, Juwana, hingga ke luar daerah seperti Kudus dan Rembang. Sementara itu, daerah tersebut sampai sekarang masih kekeringan, lantaran kemarau panjang.

”Sampai sekarang, harga cabai merah mencapai Rp 33 ribu per kilogram, sedangkan lombok setan tembus Rp 55 ribu per kilogram. Lombok setan yang saat ini banyak dicari pembeli untuk berbagai keperluan, baik warung makan hingga orang punya hajatan,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pemkab Pati Bersinergi Kerahkan Pasokan Air untuk Warga

Dua warga asal Desa Sendangsoko tengah mengambil air bersih di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dua warga asal Desa Sendangsoko tengah mengambil air bersih di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati sudah mempersiapkan pasokan air bersih untuk menyuplai warganya yang saat ini kekurangan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyediakan 315 tangki air bersih dengan kapasitas 3.000 liter per tangki.

Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) menyediakan 200 tangki, PDAM menyediakan 80 tangki, serta Bakorwil I/Pati sudah menyalurkan air bersih sebanyak 156 tangki. ”Kami mencoba untuk bersinergi kepada dinas terkait untuk mengatasi kekurangan air bersih yang dihadapi warga,” kata Kapala BPBD Pati Sanusi Siswoyo kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sejumlah daerah yang saat ini kekurangan air bersih, antara lain Kecamatan Gabus, Kayen, Jakenan, dan Puncakwangi. ”Di daerah tersebut, airnya rasanya asin sehingga biasanya digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara itu, bantuan air bersih digunakan untuk kebutuhan minum,” tuturnya.

Kekurangan air bersih, kata dia, merupakan fenomena tahunan warga Pati yang berlangsung selama musim kemarau. ”Ini memasuki musim kemarau panjang. Kekurangan air bersih, salah satunya dipicu dari kemarau yang menyebabkan kekeringan,” pungkasnya. (Lismanto/TITIS W)

Dinas Pertanian Pati Minta Pasokan Air Waduk Kedung Ombo Dipercepat

Kondisi areal sawah di salah satu daerah di Kecamatan Winong yang tidak ditanami, lantaran tanahnya mengering, padat, dan pecah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi areal sawah di salah satu daerah di Kecamatan Winong yang tidak ditanami, lantaran tanahnya mengering, padat, dan pecah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kekeringan parah yang mendera sejumlah wilayah di Kabupaten Pati menyebabkan sejumlah sawah mengalami puso (tidak mengeluarkan hasil). Karena itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Pati Mochtar Effendi meminta agar pasokan air dari Waduk Kedung Ombo dipercepat.

Waduk yang menjadi andalan pertanian di Pati, yakni Waduk Gunung Rowo belum diperbaiki. Sementara itu, pasokan air pertanian dari Waduk Seloromo akan distop tiga hari mendatang, lantaran sudah habis.

”Kami betul-betul berharap agar instansi terkait bisa membantu masalah warga Pati dengan mempercepat penggelontoran air dari Waduk Kedung Ombo. Dengan demikian, kami berharap agar dampak kekeringan tidak bertambah,” tutur Mochtar.

Sementara itu, Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Jawa Tengah Edi Sutrisno mengaku, kondisi kekeringan di Pati saat ini sudah kritis. Karena itu, ia juga berharap hal yang sama.

”Sesuai dengan rencana, Waduk Kedung Ombo akan mengairi sawah di Pati pada September. Namun, kalau sudah parah, sebaiknya dipercepat,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

44.000 Keluarga di Pati Kekurangan Air Bersih

Dua warga asal Desa Sendangsoko tengah mengambil air bersih di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dua warga asal Desa Sendangsoko tengah mengambil air bersih di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sekitar 44.000 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Pati mengalami krisis air bersih. Kondisi tersebut sebagian besar dialami penduduk di Pati bagian selatan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Sanusi Siswoyo mengatakan, krisis air bersih saat ini dialami sekitar 99 desa yang terbesar di 10 kecamatan. Karena itu, pihaknya sudah menyiapkan bantuan air bersih untuk desa yang membutuhkan.

”Sebagian besar berada di daerah Pati selatan. Daerah tersebut dikenal dengan kondisi airnya yang payau. Kami sudah siapkan bantuan air bersih,” ujar Sanusi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan 4.290 tangki untuk mencukupi 99 desa di 10 kecamatan yang ada di Pati. ”Kebetulan, sejumlah perusahaan swasta juga sudah memberikan bantuan. Ini akan kami fokuskan di Pati bagian selatan,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

1.010 Hektare Lahan Sawah di Pati Rusak Karena Kekeringan

Kondisi lahan jagung di salah satu kecamatan Winong saat kekeringan panjang melanda. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi lahan jagung di salah satu kecamatan Winong saat kekeringan panjang melanda. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 1.010 hektare lahan sawah di 10 kecamatan di Kabupaten Pati mengalami kerusakan, lantaran kekeringan panjang akibat musim kemarau. Lahan tersebut menjadi keras, nelo (pecah-pecah), dan tandus.

Salah satu kecamatan dengan tingkat kekeringan terparah dialami Kecamatan Winong yang mencapai 17 desa. Karena itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati akan membentuk tim reaksi cepat untuk mengatasi masalah tersebut.

”Kami akan membentuk tim reaksi cepat untuk menangani masalah ini. Kami akan menentukan titik kekeringan, kemudian memberikan bantuan kepada petani agar tidak sampai puso lagi,” ujar Kepala Dispertanak Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengaku, kekeringan di Pati memiliki dampak yang signifikan di bidang pertanian. Hampir sebagian besar sawah petani mengalami puso (tidak mengeluarkan hasil). (Lismanto/TITIS W)

Waduk Gembong Kehabisan Air, Petani Pati Diimbau Buat Sumur Pantek

Seorang nelayan tengah mencari ikan di Waduk Seloromo, Desa Gembong, Kecamatan Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang nelayan tengah mencari ikan di Waduk Seloromo, Desa Gembong, Kecamatan Gembong. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Musim kemarau yang melanda sejumlah daerah membuat petani di Pati mengeluskan dada. Selain kekeringan mendera, Waduk Gunung Rowo tak berfungsi, kini Waduk Seloromo kurang tiga hari lagi akan menghentikan irigasi airnya.

Hal tersebut disebabkan semakin menipisnya debit air dan akan disisakan 500 meter kubik untuk keperluan pembasahan konstruksi waduk agar tidak mengalami keretakan. Karena itu, petani diimbau untuk membuat sumur pantek atau sumur bor.

Dengan begitu, petani tidak lagi mengandalkan pasokan air dari waduk. “Sumur pantek langsung bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan. Kalau petani sudah melakukan antisipasi ini jauh-jauh hari, mereka tidak kerepotan saat terjadi kekeringan panjang seperti ini,” kata Kasi Bina Manfaat Bidang Pengairan dan ESDM Dinas Pekerjaan Umum Pati Sumarto.

Ia menambahkan, debit air di Waduk Seloromo awalnya memang diharapkan bisa menjadi andalan petani memasuki musim kemarau dan berhentinya Waduk Gunung Rowo. Di luar perkiraan, kapasitas Waduk Seloromo sudah tak bisa memenuhi kebutuhan petani ketika kekeringan masih melanda. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ironis, Warga Pati Gantungkan Hidup dari Air Kubangan

Sejumlah warga memanfaatkan embung untuk keperluan rumah tangga di tengah kekeringan yang melanda di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga memanfaatkan embung untuk keperluan rumah tangga di tengah kekeringan yang melanda di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kubangan untuk menampung air atau dikenal sebagai embung menjadi salah satu harapan warga Pati untuk menyuplai kebutuhan air saat kekeringan melanda.

Salah satunya, embung di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan.

Sejumlah warga di sekitar memanfaatkan air di dalam embung untuk keperluan mandi, mencuci, termasuk pengairan di sawah. Namun, kapasitas air di dalam embung tidak cukup untuk mengairi puluhan hektare sawah di sekitarnya, sehingga masih dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga saja.

“Embung yang berada di tanah banda desa ini cukup membantu warga untuk keperluan kebutuhan air, misalnya mencuci dan mandi,” ujar Jarkasi (35), warga Desa Sendangsoko, Kecamatan Jakenan kepada MuriaNewsCom.

Namun, kata dia, kekeringan yang melanda lahan sawah di Pati membuat tanah keras, pecah, dan membentuk lubangan sehingga kapasitas embung saja tidak cukup untuk mengairi sawah.

“Kondisi sawah kering di sekitar Jakenan dan Winong memang sudah parah. Kami berharap musim hujan segera tiba,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Embung yang jadi Andalan saat Bencana Kekeringan di Pati, Kini Mengering

Kondisi embung di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan saat musim kemarau panjang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi embung di Desa Kedungmulyo, Kecamatan Jakenan saat musim kemarau panjang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pasokan air embung di Kabupaten Pati semakin menipis. Hal ini disebabkan kemarau panjang, sehingga menyebabkan kekeringan.

Embung yang digadang-gadang sebagai tempat untuk menabung air di musim kemarau, ternyata tak mampu memenuhi kebutuhan air pertanian saat musim kemarau. Hal ini diakui Legiman, warga Desa Sendangsoka, Kecamatan Jakenan.

“Musim kemarau ini memang cukup panjang, sehingga menyebabkan kekeringan akut. Bahkan, embung yang dulu biasanya menjadi andalan petani untuk mengairi sawah, kini semakin menipis dan tidak bisa memenuhi,” ujar Legiman.

Dari pantauan MuriaNewsCom, kondisi areal persawahan di sekitar embung dibiarkan mengering dan tidak ditanami. Karena tanah sudah terlanjur keras dan pecah sehingga sudah tidak bisa ditanami.

Hal tersebut dianggap ironis. Sawah yang berada di sekitar embung pun terbengkalai tak ditanami, bahkan tanaman palawija sekalipun.
“Saat ini, embung belum bisa memenuhi kebutuhan air untuk sawah. Kemarau kali ini memang sangat panjang,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)