Untuk Bantuan Air Bersih, Pemkab Kerjasama dengan Perusahaan

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS –  Pendistribusian air bersih kepada desa yang mengalami kekeringan, Pemkab Kudus sejauh ini melakukan kerjasama dengan perusahaan untuk melakukan doping air bersih.

Menurut Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan, beberapa perusahaan seperti Sukun, Djarum, Nojorono dan beberapa SPBU memiliki komitmen untuk mau membantu melakukan droping air bersih.

“Ini sudah terjadi setiap tahun, dan beberapa perusahaan di Kudus memang ada yang memiliki komitmen untuk melakukan droping air. Sedangkan, kami pemkab mempercayakan ke PDAM, karena anggaran berada disana,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kemarau tahun ini diprediksi bakal berakhir sebentar lagi.“Sebab kabar yang kami terima dari BMKG, untuk Kudus musim penghujan akan datang pada akhir Nopember atau 10 hari terakhir pada bulan ini,” ugnkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

11 Desa di Kudus Andalkan  Bantuan Air untuk Kebutuhan Harian

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Setidaknya ada 11 desa di Kudus yang mengalami kekurangan air akibat dampak dari lamanya musim kemarau. Untuk mencukupi kebutuhan air dalam sehari-hari, mereka mengandalkan bantuan air bersih.

“Ada 11 desa, untuk di Kecamatan Kaliwungu itu ada Desa Papringan, Desa Kedungdowo, Desa Sidorekso, Desa Blimbing Kidul dan Prambatan kidul. Sedangkan untuk Kecamatan Mejobo, yakni Desa Temulus, Hadiwarno, Jojo. Untuk Jekulo yaitu  Desa Bulung Kulon, Bulung Cangkring dan Sadang,” kata  Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan kepada MuriaNewsCom.

Dirinya mengatakan, untuk pada awal kemarau dahulu, Kecamatan Undaan juga sempat mengalami kekurangan air, namun katanya, saat ini sudah terpenuhi. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Gawat, Kekeringan di Kudus Semakin Parah

Masyarakat mendapatkan droping air bersih saat kemarau panjang ini (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Masyarakat mendapatkan droping air bersih saat kemarau panjang ini (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini, berdampak terhadap kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Kekeringan yang terjadi, pada saat ini cukup parah ketimbang tahun lalu. Bahkan, untuk bulan ini, jumlah wilayah yang mengalami kekeringan terus bertambah.

Hal itu diungkapkan Kepala Pemadam Kebakaran Kudus Hardi Cahyana. Pada tahun sebelumnya,katanya,  kekeringan hanya menimpa tiga desa saja, yaitu Desa Setrokalangan,Desa Papringan dan Banget. Begitu juga dengan dua tahun sebelumnya  yang hanya terjadi di dua desa saja.

“Sampai saat ini sudah ada 11 desa yang kami droping air.Dari sekian banyak desa yang kami droping air, beberapa di antaranya bahkan sampai berebut mendapatkan air lebih dulu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Hingga kini, kata Hardi, mulai September lalu hingga kini lebih dari tiga juta liter air bersih diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan air.

“Kalau dalam beberapa hari tidak ada hujan, maka kekeringan akan semakin bertambah. Hingga kini saja banyak yang menghubungi untuk penambahan droping air,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Warga Rahtawu Kudus Ramai-Ramai Emoh Garap Sawahnya

Aliran air sungai di Gunung Muria yang berkurang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Aliran air sungai di Gunung Muria yang berkurang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang sedang dialami oleh berbagai daerah termasuk Kudus membuat permasalahan baru yang harus diterima oleh masyarakat.

Bagi masyarakat yang hidupnya bergantung pada hasil panen dari sawah tentunya di musim kemarau berkepanjangan menjadi persoalan tersendiri.

“Karena stok air tinggal sedikit, banyak sawah milik warga yang akhirnya ditinggalkan sementara karena tidak mampu mengairi,” ujar Sugiyono, Kepala Desa Rahtawu.

Yang paling terlihat adalah mulai mengeringnya sumber air yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Dirinya menambahkan hanya tersisa 20% sawah yang masih digarap oleh warganya yang memiliki lahan di sekitar aliran sungai.

Berdasarkan pendapat warga, jika masih mengelola sawah sementara kecukupan air tidak terjamin maka kerugian semakin besar karena gagal panen.

Meskipun dengan kondisi saat ini dengan lahan yang tidak dikelola juga mengakibatkan warga rugi. “Akan tetapi lebih baik memang tidak perlu digarap dahulu karena akan semakin rugi jika sampai gagal panen,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Gawat, Sungai di Gunung Muria Mulai Kering

Aliran air sungai di Gunung Muria yang berkurang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Aliran air sungai di Gunung Muria yang berkurang. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Sudah telat beberapa bulan, dan hujan belum juga turun. Hingga pertengahan bulan Oktober yang biasanya sudah didominasi dengan hujan ini juga belum memperlihatkan tanda-tanda akan hujan. Hal tersebut membuat berbagai daerah makin lama mengalami kekeringan. Sementara wilayah pemasok air di pegunungan juga mulai kering.

Saat ini kekeringan sungai sudah sampai di salah satu desa di kawasan Gunung Muria. Adalah Desa Rahtawu. Ini diungkapkan oleh Sugiyono, Kepala Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, sejak beberapa waktu lalu sudah mulai tampak kekeringan di aliran sungai desa.

“Bisa dilihat sekarang debit air tinggal sedikit. Sementara pada aliran sungai-sungai kecil bahkan sudah kering sekali,” ujarnya pada MuriaNewsCom.

Menurutnya kekeringan ini termasuk parah mengingat pada tahun-tahun sebelumnya sungai belum pernah mengering seperti saat ini. Bahkan tanah di sekitar aliran sungai juga mulai tandus. (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Karena Tanggung Jawab Pusat, Normalisasi Sungai SWD II Disebut Lambat

Kondisi Sungai SWD II yang kini mengalami pendangkalan (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kondisi Sungai SWD II yang kini mengalami pendangkalan (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS –Kondisi pendangkalan yang terjadi pada Sungai SWD II karena sudah lama tidak dinormalisasi membuat Pemerintah Kecamatan Kaliwungu mengambil tindakan dengan melaporkan kondisi terakhir sungai ke dinas terkait. Sebab, kondisi ini bisa menyebabkan banjir ketika musim hujan tiba, dan warga yang bermukim di dekat aliran sungai akan terkena dampaknya.

“Namun SWD II tersebut menjadi tanggung jawab pusat bukan pemerintah kabupaten. Sehingga, untuk jalur pembenahannya perlu waktu. Kami juga sudah menyampaikan pada masyarakat untuk tanggap bencana,”  ujar M. Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu kepada MuriaNewsCom.

Meskipun masyarakat di sekitar aliran sungai sudah terbiasa dengan banjir,  akan tetapi pihaknya tetap mengupayakan untuk keselamatan warga. Sebab, lokasi desa yang berada di sekitar aliran sungai posisinya juga rendah , sehingga membuat potensi banjir makin besar. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

4 Desa di Kecamatan Kaliwungu Diminta Waspadai Banjir

Kondisi sungai SWD II yang mengalami pendangkalan dan diprediksi ketika musim penghujan tiba, banjir bisa melanda beberapa desa di sekitar aliran sungai (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kondisi sungai SWD II yang mengalami pendangkalan dan diprediksi ketika musim penghujan tiba, banjir bisa melanda beberapa desa di sekitar aliran sungai (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kemarau yang berkepanjangan diprediksikan akan menimbulkan efek turunnya curah hujan yang cukup tinggi di Kudus. Hal ini harus diwaspadai, khususnya warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Serang Welahan Drain (SWD) II Kaliwungu. Karena, saat ini sungai mengalami kondisi pendangkalan.

“Di Kaliwungu sendiri yang paling dikhawatirkan adalah masyarakat yang bermukim didekat sungai SWD II,” ujar M. Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Menurutnya, pendangkalan sudah cukup parah, dan pada tahun lalu juga sudah tidak mampu menahan debit air yang banyak. Sehingga, membuat desa disekitar sungai mengalami banjir.

Fitrianto menambahkan, ada 4 Desa di Kaliwungu yang berada didekat aliran Sungai SWD II, yaitu Desa Setrokalangan, Banget, Blimbing Kidul dan Gamong. “Keempat daerah tersebut yang harus lebih waspada, karena lokasinya yang berada disekitar aliran sungai, ” imbuhnya.

Nur Hadi, salah satu warga Desa Setrokalangan juga mengatakan, jikapada musim penghujan sebelumnya terjadi banjir. “Banjir itu sudah menjadi hal biasa, karena wilayah kami termasuk langganan. Jadi kita harus siaga dan bersiap diri mulai saat ini,” ungkapnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Jika Musim Hujan Tiba, Sungai SWD II Diprediksi Tak Mampu Tampung Debit Air

 

 

ondisi Sungai SWD II yang mengalami pendangkalan, sehingga kemungkinan tidak akan mampu menampung air jika hujan tiba (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

ondisi Sungai SWD II yang mengalami pendangkalan, sehingga kemungkinan tidak akan mampu menampung air jika hujan tiba (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang saat ini dialami berbagai daerah, termasuk di Kudus menjadi persoalan tersendiri bagi warga. Selain kekeringan yang sudah melanda berbagai daerah, ancaman banjir juga tidak kalah meresahkan. Hal tersebut menjadi kegelisahan bagi masyarakat di Kecamatan Kaliwungu.

Sekretaris Kecamatan Kaliwungu M. Fitrianto mengatakan, kemarau yang berkepanjangan, biasanya setelahnya akan menimbulkan dampak hujan deras dalam kurun waktu lama pula. “Dengan curah hujan yang tinggi, tentunya akan membuat debit air makin banyak dan berkemungkinan akan meluap sampai ke pemukiman warga, ” ujarnya pada MuriaNewsCom.

Tahun sebelumnya, salah satu sungai yang menjadi menampung air terbanyak adalah Sungai Serang Welahan Drain (SWD) II yang ada di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. Karena tak dapat menampung air yang banyak, akhirnya meluap.

“Apalagi sekarang dengan kemarau yang berkepanjangan, ancaman banjir juga makin besar. Untuk itu, kami minta warga waspada pada ancaman banjir yang kemungkinan besar akan kembali terjadi,” katanya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

234 SC Kudus Bantu Air Bersih di Desa Kesambi

Bantuan air bersih oleh Komunitas 234 SC Kudus di Desa Kesambi (Istimewa)

Bantuan air bersih oleh Komunitas 234 SC Kudus di Desa Kesambi (Istimewa)

 

KUDUS – Musim kemarau yang cukup panjang, mengakibatkan sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus mengalami dampak kekeringan. Seperti halnya di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Di Tempat ini, sebagian sumur warga sudah tidak berfungsi lagi, karena airnya sudah mengering. Meskipun masih ada, namun airnya berwarna kekuningan, sehingga tak layak untuk dikonsumsi lagi. Bahkan, untuk mendapatkan air, warga terpaksa harus mencari ke daerah lain.

Kondisi ini, membuat sejumlah orang yang  tergabung dalam Komunitas 234 SC Kudus tergerak untuk ikut berempati melalui pemberian bantuan air bersih.  Setidaknya, 1 truk tangki yang berisi 6000 liter air bersih disalurkan di tempat tersebut pada Minggu (4/10/2015).

Menurut Deni Eko Mulyono,Ketua 234 SC Kudus , kegiatan penyaluran air bersih ini bertujuan untuk membantu warga Kesambi yang sedang mengalami krisis air bersih. Pihaknya, berupaya untuk ikut serta meringankan beban warga yang mengalami kekeringan.

”Apa yang kami lakukan, semoga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Meskipun bantuan ini tidak seberapa, namun, diharapkan dapat digunakan untuk warga yang sedang membutuhkan,” katanya.

Jumhari, Ketua RW 8 Desa Kesambi menyampaikan terima kasih atas bantuan air bersih yang telah diberikan Komunitas 234 SC Kudus. ”Warga sangat antusias dengan adanya bantuan ini, dan kami harap ada komunitas lain yang turut membantu memberikan air bersih ke tempat kami,” ungkapnya. (KHOLISTIONO)

Warga : Sumur Pompa Harus Dipantau dengan Baik

Warga sedang membuat sumur bor. Sumur bor akan segera dibuat di Desa Setrokalangan untuk mencukupi kebutuhan pertanian. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga sedang membuat sumur bor. Sumur bor akan segera dibuat di Desa Setrokalangan untuk mencukupi kebutuhan pertanian. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu warga Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu Mohamad Sholeh mengutarakan, bila sumur bor untuk pengairan sawah itu bisa terbangun, maka harus selalu dipantau.

”Setidaknya jika sumur itu bisa terwujud, maka harus selalu dijaga dan dirawat. Sebab bila tidak dirawat, maka akan rusak bahkan mati seperti beberapa sumur mati yang ada di desa Blimbing Kidul,” katanya.

Selain itu, lanjut Mohamad, untuk penjagaan bisa diserahkan kepada gabungan kelompok tani (gapoktan) atau juga perangkat bagian kaur umum. Sehinga warga yang mengoperasikan tanpa izin bisa terawasi.

Dengan adanya inisiatif pihak desa yang mengusulkan sumur pompa tersebut, warga berharap supaya fasilitas itu dimanfaatkan dengan baik. ”Sumur itu bisa bermanfaat untuk pertanian di desa ini. Sehingga disaat musim tanam pertama yang masih dalam musim kemarau ini, semua warga tidak serta merta mengandalkan sungai SWD saja,” ujarnya.

Dia menilai, jika petani selalu menggantungkan sungai Serang Welahan Drain (SWD), maka disaat musim kemarau meraka kesulitan mendapatkan air untuk bercocok tanam. Sehingga saat musim bercocok tanam bisa mundur atau bahkan gagal.

”Saat ini memang terkadang petani membuat sumur manual (tanah) yang ada di sawah masing-masing untuk mendapatkan air. Namun sumur itu tidak aman, oleh sebab itu kondisi itu harus diperbaiki dengan membangun sumur bor untuk petani,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Musim Tanam Jangan Hanya Andalkan Sungai Saja

Warga sedang membuat sumur bor. Sumur bor akan segera dibuat di Desa Setrokalangan untuk mencukupi kebutuhan pertanian. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga sedang membuat sumur bor. Sumur bor akan segera dibuat di Desa Setrokalangan untuk mencukupi kebutuhan pertanian. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna memenuhi kebutuhan air di saat musim tanam, pemdes Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, berupaya mengusulkan pembuatan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

Kepala Desa Setrokalangan Edi Siswanto mengetakan, meskipun air sungai berlimpah, namun kondisi semacam itu hanya disaat musim hujan saja. Namun disaat musim tanam pertama atau kemarau ini, sungai Serang Welahan Drain (SWD) andalan desa sudah tidak berair.

Oleh karenanya pihak desa berupaya membuat sumur bor. Usulan tersebut disalurkan kepada dinas terkait. Sehinga kedepannya bisa dibuatkan sumur untuk perairan sawah warga. ”Untuk usulan itu nantinya ditujukan kepada balai pengelolaan sumber daya air. Balai besar yang ada di Semarang. Selain itu juga dinas pertanian terkait,” paparnya.

Dengan begitu, desa yang berpenduduk sekitar 3.500 jiwa serta terdiri dari 15 RT dan 3 RW tersebut bisa memberikan fasilitas pertanian yang memadahi terhadap warganya.

”Memang kita akui, bahwa desa ini disaat musim hujan sering terlanda banjir dari sungai SWD jurusan Jepara. Sedangkan di musim kemaru pasti kekeringan. Sehinga kami ingin membuat sumur untuk menyediakan air disaat musim kemaru,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk penempatan sendiri nantinya pihaknya akan memusyawarahkan terhadap warga serta RT dan tokoh setempat. Sehingga penempatannya bisa sesuai dan tidak menyulitkan warga mengambil air. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Pembagian Air Bersih, Warga Bawa Ember Cat di Undaan Kudus

Aktivitas bantuan air bersih yang dilakukan klub mobil AJC. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bantuan air bersih yang dilakukan di Desa Kutuk dan Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, diterima dengan antusias oleh masyarakat. Warga rela mengantre demi mendapatkan air dalam jumlah terbatas itu.

Ketua Abunawas Jeep Community (AJC) Hadi Prayitno mengatakan, bantuan air telah dilakukan. Meski jumlahnya sangat terbatas, warga tetap bisa menerimanya dengan senang.

“Warga membawa barang seadanya, mulai ember, tempat air mineral hingga ember cat juga tak luput dari bawaan warga untuk mendapatkan air, mereka sangat menanti kedatangan air bersih,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Di Desa Kutuk,misalnya. Ada kisaran 200 orang warga yang sudah menanti air bersih tersebut. Mereka sudah siap dari pagi  hari untuk mendapatkan air bersih tersebut. Di Desa Lambangan, warga sudah lama menunggu bersama kepala desa setempat. Jumlah warga  yang menerima sekitar 400 orang.

“Kami terenyuh melihat mereka, mudah mudahan pemerintah dapat memberikan air bersih secara rutin kepada mereka agar tidak mengalami hal semacam itu,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

 

 

Patut Dicontoh! Aksi Klub Mobil Peduli Korban Kekeringan Kudus

Aktivitas bantuan air bersih yang dilakukan klub mobil AJC. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Abunawas Jeep Community (AJC) mengirimkan puluhan ribu air bersih untuk warga Undaan Kudus. Hal itu mereka lakukan untuk aksi sosial kepada masyarakat Kudus yang mengalami kekurangan air bersih.

Ketua AJC Hadi Prayitno mengatakan, bantuan air bersih merupakan progam dari komunitas. Mereka melihat  warga Kudus yang membutuhkan bantuan air bersih guna memenuhi kebutuhan harianya..

“Kegiatan dimulai pagi tadi Minggu (30/8/2015). Sekitar pukul 08.00 WIB. Pelaksaan kami lakukan di dua Desa di Undaan. Yakni Desa Kutuk dan Lambangan” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, pada pengiriman air dilaksankan secara bergantian. Mulai dari Desa Kutuk pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WB. Kemudian dilakukan di Desa Lambangan sesudahnya.

Dia menambahkan, total yang diberikan ada enam tangki dengan kapasitas delapan ribu air bersih. Sumber biaya yang diperoleh adalah dari iuran anggota yang berjumlah 67 anggota yang meliputi Kudus dan Pati.

“Ini merupakan kegiatan sosial kami, sebelumnya kami juga sering melakukannya, seperti donor darah dan bantuan untuk korban bencana,” imbuhnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Gak Main-Main! Konsultan Belanda Didatangkan untuk Atasi Krisis Air Kudus

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – PDAM Kudus akan mendatangkan konsultan dari Belanda. Tujuannya untuk mengkaji kemungkinan pemanfaatan dari sumber daya air itu.

“Mereka (Belandar,red) mempunyai kemampuan untuk mengolah dan menyimpan sumber daya air dengan baik, dan jika memungkinkan hal itu dapat dilaksanakan,” kata Direktur PDAM Kudus Achmadi Safa.

Upaya lain yang dapat dilakukan dalam menghadapi krisis air 2032 mendatang, yakni dengan penggunaan air permukaan. Hal itu dapat membantu jika air permukaan habis.

Menurutnya, wacana pemanfaatan air permukaan sudah digulirkan sejak Waduk Logung dirintis serta proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) mulai dibangun.

“Baik Logung maupun SPAM Dadi Muria dinilai sebagai upaya menghadapi potensi krisis air bersih pada masa mendatang. Baik dari Logung maupun SPAM diprediksi dapat memasok air bersih sebesar masing-masing 200 liter per detik,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, satu liter per detik dapat digunakan untuk menyediakan air untuk 80 kepala keluarga. Pada saat bersamaan, pihaknya juga berusaha mengekplorasi sumber air permukaan lainnya, seperti sungai Gelis. Dari sumber daya air yang ada disiapkan untuk dibangun yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Terancam Bencana Krisis Air di Masa Depan, Kudus Tawarkan Solusi

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Berbagai upaya harus mulai dilakukan sekarang untuk menghadapi pengurangan cadangan air di semua kawasan kota Kudus. Hal itu dilakukan guna menanggulangi dan mempersiapkan jika nantinya bencana tersebut datang.

Direktur PDAM Kudus Achmadi Safa memiliki cara untuk mengatasinya. Cara tersebut diupayakan dengan cara jangka pendek dan jangka panjang. Upaya tersebut juga sudah mulai dilakukan.

” Upaya jangka pendek yakni dengan membuat sumur air bawah tanah baru. Saat ini kami mempunyai 39 unit sumur produksi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, dua sumur lainnya masih dalam proses perbaikan. Dari 39 unit sumur produksi, delapan delapan unit di antaranya selalu berkurang elevasi airnya setiap musim kemarau. Meskipun hal tersebut tidak mengganggu pasokan air untuk pelanggan, tetapi perusahaan pelat merah itu harus mengeluarkan biaya operasional lebih banyak dibandingkan saat kondisi normal.

Dia menjelaskan, pompa penyedot harus diturunkan lebih dalam lagi pada sumur yang berkurang debitnya. Semakin dalam pompa diturunkan maka energi listrik yang digunakan akan semakin besar.

“Pengeluaran kami akan lebih besar lagi, bahkan untuk membuat satu sumur saja dapat menghabiskan buat sampai Rp 1 miliar,” ujarnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Bencana Seperti Ini yang Bikin Anak Cucu di Kudus Menderita

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga tampak beraktivitas di Sungai Gelis, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Potesi terjadinya krisis air bersih di Kudus merupakan hal yang sulit untuk dihindari. Kondisi tersebut merupakan kondisi alam yang tidak dapat dielakkan. Kejadian tersebut terjadi akibat sederet kejadian lingkungan yang terjadi.

Hal itu diungkapkan Direktur PDAM Kudus Achmadi Safa. Menurutnya, perkiraan pada tahun 2032 Kudus akan kekurangan air bersih. Bahkan bencana tersebut dimungkinkan bisa datang lebih cepat jika kondisi alam di Kudus semakin rusak.

“Prediksi tersebut muncul karena DAS di Kudus sudah mulai rusak, pegunungan dan hutan yang dapat menampung air atau cadangan air juga mulai gundul, akibatnya air tidak dapat tertahan lama dan langsung mengucur ke bawah karena tidak dapat terserap dengan baik,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, hal lain yang menyebabkan krisis nya air di Kudus mendatang adalah, makin bertambahnya jumlah penduduk di Kudus. Sehingga kebutuhan air juga semakin meningkat. Padahal, jumlah sumber air masih tetap tiap tahunnya

Dia menjelaskan pula jika hujan di setiap tahunnya juga selalu sama. Padahal tampungan air milik warga tetap sama dan yang membutuhkan selalu bertambah. Belum lagi dengan kondisi penyimpanan air yang selalu berkurang membuat pasokan air juga menipis. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Air Sungai di Kudus Turun 80 Persen

Sungai Gelis dengan kondisi air yang menyusut dimanfaatkan beberapa warga untuk mengambil pasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sungai Gelis dengan kondisi air yang menyusut dimanfaatkan beberapa warga untuk mengambil pasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Akibat kerusakan hutan yang terjadi di lereng Pegunungan Muria, menyebabkan rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS) di daerah sekitar Muria, termasuk juga di Kudus. Akibatnya, debet air sungai di Kudus juga mengalami penurunan.

”Wilayah Pegunungan Muria, diyakini menjadi penyebab berkurangnya debet air sungai. Sebab DAS yang dapat menahan air sudah mulai rusak, sehingga ar yang mengalir dapat langsung habis lantaran tidak tertahan,” kata Kasi Dal dan Guna pada Balai PSDA Serang Lusi Juwana Jawa Tengah Sumaji H, kepada MuriaNewsCom.

Dia mengatakan, untuk menangani hal tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, lebih dari 50 tahun secara terus menerus guna memberikan perbaikan DAS di daerah pegunungan muria supaya DAS kembali normal.

Dia menambahkan, beberapa daerah yang sungai yang mengalami penurunan debet air seperti Sungai Piji, Dawe, Logung, dan Sungai Gelis. Sungai besar tersebut kondisinya juga sangat berubah, terlebih kemarau panjang yang meminta Kudus membuat cepat menyerangnya sungai dan realitasnya debet airnya.

”Kalau dulu sungai di Kudus mampu mengalir sepanjang tahun, namun sekarang setiap musim kemarau selalu berkurang bahkan ada pula yang habis,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ingin Miliki Perumahan? Ada Progam Angsuran KPR Hingga 15 tahun Lo..

Salah satu perumahan Graha Candika Mukti (MuriaNewsCom/Ayu Kazmi)

Salah satu perumahan Graha Candika Mukti (MuriaNewsCom/Ayu Kazmi)

 

 

KUDUS – Membeli rumah memang bukan perkara mudah. Faktor biaya yang cukup mahal membuat masyarakat harus benar-benar menyisihkan banyak uang agar mampu membeli rumah sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

Fasilitas kredit yang ditawarkan pihak bank dengan perumahan bisa menjadi alternatif mempermudah pembiayaan. Kebanyakan perumahan juga memberi kemudahan dengan bantuan pengurusan proses KPR konsumen ke bank.

Mario, salah satu pengelola perumahan Graha Candika Mukti mengatakan, bagi konsumen yang benar-benar membutuhkan rumah namun tidak memiliki biaya bisa memilih KPR. “Bahkan ada pilihan KPR hingga 15 tahun bagi yang membutuhkan, ” jelasnya.

Jangka 15 tahun tersebut dapat ditentukan dari usia konsumen. Hal itu berdasarkan kebijakan masing-masing bank yang dipilih konsumen. Mario menambahkan, kemudahan KPR berjangka sangat membantu bagi konsumen yang membutuhkan pembayaran jangka panjang.

“Tentunya untuk mendapatkan KPR jangka panjang tersebut, setelah melalui administrasi serta disetujui oleh bank,” jelasnya saat ditemui di lokasi.

Sehingga, untuk semakin mempermudah pihaknya membantu administrasi ke bank. Tidak hanya 15 tahun, banyak bank yang juga menawarkan pilihan KPR sesuai dengan kebutuhan konsumennya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Bakal Siapkan Bunker untuk Antisipasi Habisnya Air di Kudus

Petugas PDAM sedang meninjau bak penampungan air (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas PDAM sedang meninjau bak penampungan air (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

 

KUDUS – Untuk mengantisipasi habisnya debet air di Kudus, yang diperkirakan habis pada 2032 mendatang, direncanakan bakal dibuatkan langkah teknis untuk mengantisipasi hal tersebut. Diantaranya adalah bunker penyimpanan air bawah tanah.

Sinarko Wibowo, Konsultan Royal HaskoningDHV, semacam lembaga nirlaba dari pemerintah Belanda yang digandeng PDAMmengatakan, dalam empat bulan mendatang, pihaknya akan menggali data sebanyak-banyaknya dari Sungai Gelis.

”Mulai dari debit dan kondisi alam di sekitarnya, khususnya daerah aliran Sungai Gelis mulai dari hulu hingga lilir, mana saja yang dapat ditampung,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Menurutnya, bila memungkinkan, akan dibuatkan semacam parit panjang untuk menampung air saat kemarau. Namun, infrastruktur tersebut membutuhkan perangkat lainnya,di antaranya regulasi terkait penggunaannya.

Tujuannya, katanya, agar jangan sampai pemanfaatan tidak sesuai dengan rancangan semula. Opsi lainnya yang mungkin akan dikaji untuk dilakukan juga sudah disiapkan.

Satu diantaranya, penyimpanan air ke rongga tanah. Termasuk juga, kemungkinan pembuatan semacam bunker atau tempat penyimpanan air bawah tanah yang sewaktu-waktu dapat digunakan.

“Mengenai caranya, bisa dengan cara disuntik atau alamiah. Jika sudah disuntik, maka daerah sekitar bakal lebih awet memiliki cadangan air,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Alamak! 2032 Kudus Diprediksi Krisis Air

Petugas PDAM sedang meninjau bak penampungan air (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas PDAM sedang meninjau bak penampungan air (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

 

KUDUS – Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus Achmadi Syafa Mengatakan, dalam waktu yang tidak lama lagi, Kudus bakal megalami krisis air. Hal itu disebabkan banyaknya sumber air yang mulai mengering.

”Berbagai upaya untuk mengatasi hal tersebut sudah mulai dilakukan saat ini, salah satunya dengan menggali potensi air permukaan pada sungai-sungai yang ada di lereng Pegunungan Muria,” kata Achmadi, kepada MuriaNewsCom Kamis (13/8/2015).

Menurutnya, langkah lain mengatasi krisis air adalah dengan membuat unsur baru.Namun, selama setahun PDAM hanya mampu membuat tambahan empat sumur saja. Padahal, jika hanya mengandalkan sumur, maka setiap tahun setidaknya membutuhkan enam sampai tujuh sumur baru.

”Setiap membuat satu sumur, mulai dari pengeboran dan sampai selesai membutuhkan biaya sekitar Rp 1 miliar. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan pembuatannya. Sedangkan untuk setahun, kami hanya mampu membuat maksimal empat sumur baru,” ujarnya.

Dia menambahkan, pada 2007 lalu, level terendah air PDAM sedalam 65 – 70 meter saja. Namun sekarang, kedalaman sumur mencapai 150 meter lebih. Kedalaman tersebut akan semakin dalam jika kondisi kekurangan air tidak segera diatasi.

Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan air di Kudus. penambahan sumur bukanlah satu-satunya alternatif. Pada 2032 mendatang, diprediksi debit air milik PDAM akan habis. Namun perkiraan itu bisa lebih cepat jika melihat kondisi yang semacam ini.

Dia menjelaskan, hutan yang gundul dan air yang sudah sangat lama tertampung membuat pasokan cepat habis. Terlebih struktur tanah yang membuat air tidak dapat mengendap lama sehingga air akan cepat hilang.

”Seharusnya dengan biopori dapat membuat air berhenti dalam kawasan itu.Namun, harus dengan jumlah yang banyak juga tentunya. Selain itu, juga dapat diatasi dengan pembuatan situ atau tampungan air. Setidaknya ada 5 sampai 7 situ,sehingga cukup untuk menambah pasokan air di Kudus,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)