Kekeringan, Polres Jepara Sumbang Air Bersih untuk Warga Kedung

Wakapolres Jepara Kompol Aan Hardiansyah saat memberikan bantuan air bersih bagi warga Kedung. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara memberi bantuan air bersih kepada warga Desa Kedung Malang dan Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung, Kamis (14/9/2017). Pada kegiatan itu, dua tanki air dan satu water canon dikerahkan untuk membantu masyarakat di dua desa itu. 

Wakil Kepala Kepolisian Polres (Wakapolres) Jepara Kompol Aan Hardiansyah mengatakan, bantuan tersebut merupakan respon dari laporan yang diterima oleh Polsek Kedung. 

“Dari laporan itu, kita tindak lanjuti dengan menginrimkan bantuan air kepada warga,” katanya. 

Ia mengatakan, pemberian air bersih akan dilakukan secara bertahap dan bergilir ke desa-desa lain. 

Sementara itu, Camat Kedung Sisnanto Rusli menyebut, ada empat desa yang mengalami kesulitan air bersih karena kemarau. Selain Kedung Malang dan Kalianyar adapula desa Panggung dan Desa Surodadi. 

“Pada beberapa desa seperti Kalianyar sudah tersambung pipa PDAM namun alirannya tidak lancar. Beberapa sumur warga juga ada yang mengering,” tuturnya. 

Petinggi Desa Kalianyar Nor Khafid mengatakan, ada sekitar 500 warga yang terimbas krisis air bersih. Adapun kondisi tersebut sudah terjadi sekitar sebulan terakhir. 

Editor: Supriyadi

Krisis Air di Jepara Semakin Meluas BPBD Berencana Ajukan Penggunaan Dana Tak Terduga

Seorang warga Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung menuangkan air bersih, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air bersih tak hanya terjadi di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, hingga kini dampak musim kemarau meluas menjadi enam desa. 

“Setelah kemarin terimbas empat desa (Kedung Malang, Kalianyar di Kecamatan Kedung, Blimbingrejo-Nalumsari dan Raguklampitan-Batealit), kini ada dua desa lagi yang melaporkan kondisi kekeringan air, yakni Desa Tunggul Pandean di Nalumsari dan Karangaji di Kecamatan Kedung. Hanya saja, laporan resmi (tertulis) belum masuk kepada kami,” tutur Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara, Rabu (13/9/2017).

Menurutnya, kejadian di Tunggul Pandean berimbas pada sebuah sekolah dan lingkungan disekitarnya. Sementara di Karangaji menimpa pada lingkungan desa. 

Baca Juga: Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Ia mengungkapkan, bila sudah ada surat resmi yang masuk BPBD Jepara akan melakukan droping air. Namun hingga saat ini pihaknya belum melakukannya karena belum ada permintaan droping air secara resmi. 

“Saat ini kami baru melaksanakan droping di empat desa yang telah melakukan pelaporan resmi (Kedung Malang, Raguklampitan, Kalianyar dan Blimbingrejo). Frekuensinya sebanyak tiga kali seminggu,”

Adapun, untuk satu kali droping, BPBD Jepara menurunkan tanki air gunung yang berasal dari Kudus yang bervolume sekitar 7000 liter. 

Terkait dana, Jamal mengatakan akan mengevaluasi penggunaanya. Hal itu karena dimungkinkan krisis air bersih semakin meluas. Padahal anggaran yang digunakan untuk droping air relatif sedikit. 

Dikatakannya sebelumnya, untuk anggaran BPBD diberikan jatah sebanyak Rp 22 juta. Namun ketika dampak musim kemarau semakin meluas, pihaknya bisa saja meminta bantuan dari bupati. 

“Ini nanti anggaran dari APBD untuk droping air kita rekapitulasi berapa yang telah keluar. Jika anggaran tersebut tak terpenuhi, maka kita akan memohon kepada Pak Bupati untuk menggunakan dana tak terduga,” urainya.

Editor: Supriyadi

Warga Kedung Malang Jepara Rela Tak Mandi untuk Berhemat Air

Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung antre air bersih , Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga RT 3 dan RT 5 Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung rela tak mandi untuk berhemat air. Hal itu lantaran sudah seminggu terakhir sumber air PAM yang digunakan sudah tak mengalir. Praktis, warga hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah berupa droping air bersih. 

“Seminggu terakhir ini airnya tidak mengalir sama sekali. Ada air sumur, namun jika musim kemarau seperti ini rasanya asin. Sehingga hanya mengandalkan bantuan untuk masak dan minum. Kalau mencuci atau mandi ya pergi ke rumah saudara yang airnya masih ada,” tutur Warga RT 3/RW 3 Desa Kedung Malang, Khayatun Nissa (40), Rabu (13/9/2017). 

Saat ditemui, Khayatun tengah mengantre air bantuan dari BPBD Jepara. Ia mengatakan, setiap kali bantuan datang ia dapat mengumpulkan sekitar lima jeriken bervolume sekitar 20 liter. 

Dari jeriken tersebut, ia lantas membagi-baginya untuk berbagai kebutuhan seperti memasak dan minum. Dirinya menyebut telah berlangganan air dari Perusahaan Air Minum. Namun di musim seperti ini, tidak ada air yang keluar dari saluran. 

“Biasanya kalau keluar ya bayarnya sekitar Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu. Namun kalau seperti ini ya tetap bayar meskipun sedikit sekitar Rp 40 ribu,” urainya.

Hal serupa diakui oleh Paimatun (50). Menurutnya, ia tidak berlangganan air PAM namun hanya mengandalkan bantuan air bersih. 

“Satu minggu ya habis sakblong (drum ukuran 150 liter). Namun kalau dibuat mandi ya habisnya cepat,” kata dia. 

Staf Kesejahteraan Desa Kedung Malang Muhammad Khamim mengatakan, setidaknya ada dua RT yang terimbas kekeringan. “Satu RT jumlah Kepala Keluarganya ada sekitar 80 sampai 90. Yang terimbas ada dua RT, Rukun Tetangga 3 dan 5,” kata dia. 

Khamim menyebut, setiap tahun daerah tersebut selalu mengalami kekeringan. Namun, ia mengatakan tahun ini yang paling parah. Selain droping air dari BPBD Jepara, desa tersebut juga mendapatkan bantuan air dari PDAM Jepara, guna mengatasi masalah itu.

“Hari ini selain dari BPBD ada juga bantuan dari PDAM Jepara yang menyuplai air kepada warga kami,” pungkasnya. 

Editor: Supriyadi

September Krisis Air di Jepara Diprediksi Semakin Parah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air  bersih di Jepara diperkirakan meluas di bulan September 2017. Hal itu disebutkan oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Rabu (30/8/2017). 

Prediksi tersebut dikatakannya melihat kondisi cuaca yang sangat panas dan mentari yang terik. “Diperkirakan pada bulan September akan banyak desa yang mengajukan bantuan air bersih. Hal itu terutama bagi yang menjadi langganan krisis air bersih,” kata dia. 

Menurutnya, saat ini baru tiga desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni Desa Kedung Malang dan Kalianyar yang ada di Kecamatan Kedung dan Raguklampitan di Kecamatan Batealit.

Jamaludin menjelaskan, bantuan air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan pada dua desa di Kecamatan Kedung. Sementara itu di Raguklampitan, droping air dilakukan sebanyak tiga kali dalam sepekan.

Untuk mengatasinya, BPBD Jepara telah menyiapkan khusus untuk memberikan bantuan air bersih. Namun demikian, langkah tersebut dilakukan untuk penanggulangan jangka pendek. Untuk langkah lebih lanjut seperti pembuatan sumur pantek, hal itu belum bisa dilakukan. 

Editor : Ali Muntoha 

Krisis Air Landa Tiga Desa di Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air di Jepara mulai meluas. Kini ada tiga desa di dua kecamatan yang telah mengajukan permintaan droping air bersih, yakni Kedung Malang-Kedung, Kalianyar-Kedung, dan Raguklampitan-Batealit.

Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi BPBD Jepara Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan air pada tiga desa tersebut. Dirinya menyebut, proses bantuan dilakukan dengan memberikan tandon air di beberapa titik yang kemudian diisi dengan air bantuan dari pemerintah.

“Seperti Desa Kalianyar, kita sudah mengirimkan tandon air kemudian sudah diisi dengan air bantuan. Kami jatah untuk di sana selama dua sampai tiga hari. Namun jika membutuhkan, setiap saat pemerintah desa bisa berkoordinasi dengan kami (BPBD),” ujarnya, Selasa (22/8/2017).

Ia mengatakan, dua dari tiga desa yang kini kekurangan air yakni Kedung Malang dan Kalianyar sejatinya telah tersalur fasilitas PDAM. Hanya saja di musim seperti ini, kondisi sumber air baku penyedia air bersih tersebut tidak maksimal, sehingga tidak mengalir ke dua desa itu. 

“Sementara kalau di Raguklampitan memang belum ada PAM. Kalau ngangsu (mengambil air) pun jauh karena letaknya berada di atas. Sehingga meminta bantuan dari BPBD untuk droping air,” tambahnya.

Menurutnya, hingga medio bulan Agustus 2017 pihaknya belum menerima permintaan droping air dari desa lain

Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memetakan beberapa daerah yang rentan kekeringan. Di antaranya, Raguklampitan, Rajekwesi, Tunngul, Pandean, Bate Gede, Kedung Malang, Karangaji, Gerdu, Kaliombo, Sinanggul dan Kepuh. 

Adapun, di tahun ini BPBD Jepara menyiapkan anggaran sebesar Rp 22 juta, guna mengatasi dampak musim kemarau. Dana tersebut digunakan untuk penyaluran air pada daerah yang mengalami kekeringan.

Editor: Supriyadi

Kini, Desa di Jepara yang Kekeringan Berkurang

Warga mendapat bantuan air bersih di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga mendapat bantuan air bersih di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meskipun ada satu desa yang masih mengalami kekeringan yakni Desa Sumber Rejo,Kecamatan Donorojo, Jepara. Mayoritas desa yang kekeringan di musim kemarau saat ini sudah kembali normal.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin.

Menurut dia, beberapa desa yang sebelumnya mengalami krisis air bersih kategori parah dan sedang, saat ini sudah hampir teratasi lantaran sudah beberapa kali diguyur hujan. Sumur warga lambat laun sudah terisi air. Termasuk di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong dan Desa Blimbingrejo, Kecamatan Mayong yang mengalami krisis air terparah saat kemarau kemarin.

“Sebelumnya, total ada 14 desa yang mengalami krisis air bersih. Tapi sudah teratasi dengan adanya hujan yang turun meskipun masih jarang,” katanya.

Lebih lanjut dia membeberkan, desa tersebut adalah Desa Rajekwesi, Singorojo Kecamatan Mayong, Desa Tunggul Pandean, Bategede dan Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Desa Kedung Malang dan Surodadi Kecamatan Kedung, Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, Desa Karang Aji Kecamatan Kedung, Desa Kepuk Kecamatan Bangsri, Sumber Rejo Kecamatan Donorojo, Desa Gerdu dan Kaliombo Kecamatan Pecangaan, dan Kalipucang Kecamatan Welahan.

“Turunnya hujan di beberapa wilayah itu praktis membuat intensitas droping air menurun hingga 60 persen lebih. Saat ini tak ada jadwal khusus droping. Biaya beli air dari depo pun tak dibayar di muka seperti sebelumnya. Kami hanya menunggu kalau ada permintaan dari warga,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Duh, Sumber Rejo Jepara Kekeringan

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Meskipun hujan sudah kerap turun di sejumlah wilayah, nyatanya masih ada satu desa di Kabupaten Jepara yang mengalami kekeringan. Bahkan, desa tersebut masih membutuhkan suplai air bersih seperti puncak musim kemarau kemarin. Hal itu disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin.

Menurut dia, intensitas hujan yang belum merata di sejumlah wilayah di Jepara membuat sejumlah desa yang mengalami krisis air bersih masih harus diberikan bantuan (droping) air bersih, meski intensitasnya sudah berkurang.

“Yang paling parah di Desa Sumber Rejo, Kecamatan Donorojo. Di sana, masih membutuhkan bantuan air seperti puncak musim kemarau kemarin,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Jumat (27/11/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, Desa Sumber Rejo memang sampai saat ini belum pernah turun hujan. Wilayah Jepara utara seperti diketahui, hujan hanya turun sampai di wilayah Kecamatan Bangsri. Kondisi ini berbeda dengan di wilayah selatan.

“Di Jepara bagian selatan sudah sangat sering turun hujan. Tapi yang bagian utara sangat jarang bahkan ada beberapa desa yang belum tersentuh air hujan,” ungkapnya.

Dengan kondisi ini, droping air bersih masih dilakukan sebanyak enam kali dalam sepekan. Droping air masih mengandalkan drum air yang diangkut dengan mobil pikap. Air diambil dari sumber terdekat. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

PDAM Jepara Jamin Embung Bapangan Nantinya Tak Akan Kering

Ilustrasi_Waduk

 

JEPARA – Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM) Kabupaten Jeparaberencana membangun embung dengan memanfaatkan sungai yang telah matidi Bapangan. Rencananya, bekas aliran sungai yang membujur dari DesaSenenan, Kecamatan Tahunan hingga Kelurahan Bapangan, Kecamatan Kota
Jepara dijamin tidak akan kering meskipun kemarau panjang.

Hal itu disampaikan Direktur PDAM Jepara Prabowo. Menurutnya,pihaknya telah menyusun skema pembangunan agar nantinya embung tetapterisi air ketika musim kemarau panjang.

“Kami juga menyertakan sebuah skema bagaimana embung dalam detailenginering detail (DED) yang kami susun. Nantinya memiliki volume airyang tetap, setidaknya tetap terisi dengan air meski saat musim
kemarau,” ujar Prabowo kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, embung nantinya memang akan mengambil air dari aliranSungai Bapangan dan air hujan. Air akan dialirkanke embung secara maksimal saat musim hujan. Dengan luasan area yangkemungkinan bisa mencakup 25 hektare serta memiliki kedalaman hinggadelapan meter, diyakini sudah cukup mampu menampung air, bahkan hinggamusim kemarau.

Hal ini ditambah lagi dengan kondisi Sungai Bapangan yang masih tetapmengalirkan air saat puncak musim kemarau, meski hanya sedikit. Aliranair yang kecil tersebut tetap akan dimanfaatkan. Dengan demikian,embung yang juga digunakan untuk instalasi pengelolaan air bersihtersebut akan tetap bisa berproduksi meski saat musim kemarau. (WAHYUKZ/KHOLISTIONO)

Atasi Kekeringan, Ini Langkah yang Dilakukan BPBD Jepara

(ISTIMEWA)

(ISTIMEWA)

 

JEPARA – Untuk mengatasi kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara tak hanya melakukan droping air bersih tetapi juga membuat sumur. Rencana pembuatan sumur dikeluarkan beberapa waktu lalu dan kali ini sudah mulai direalisasikan.

Kepala BPBD Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin mengtakan, pihaknya sudah mulai merealisasikan rencana pembuatan sumur bagi warga korban kekeringan.

“Kami membuat empat sumur. Rinciannya, dua sumur bur, satu sumur pantek dan satu sumur gali,” ujar Jamaluddin kepada MuriaNewsCom, Rabu (4/11/2015).

Menurutnya, pembangunan empat sumur tersebut sudah direncanakan sejak tahun lalu. Kebetulan, tahun ini mendapatkan bantuan dari pusat.

“Alokasi bantuan itu memang khusus untuk penanganan bencana kekeringan terutama untuk pembuatan sumur,” katanya.

Dia menambahkan, sebelum melaksanakan pembangunan tersebut, pihaknya telah melakukan survei dilapangan. Hasilnya memang cocok dibangun sumur sebagaimana yang direncanakan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Penderita Ispa di Jepara Didominasi Usia 1 hingga 5 Tahun

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa) sangat rawan terjadi pada  pergantian musim atau musim pancaroba ini. Masyarakat diminta mewaspadai jenis penyakit ini meski tak terlalu berbahaya.

Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, yang paling banyak terjangkit Ispa, yakni Balita pada usia 1 hingga 5 tahun. Pada tingkatan tertentu, Ispa bisa menjadi pneumonia yang membahayakan.

Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati mengungkapkan, penyakit ini secara umum disebabkan pencemaran udara. Sehingga ada larangan membakar sesuatu yang menimbulkan asap berlebihan.

”Biasanya memang anak balita yang sering terkena Ispa, seperti pilek, batuk dan lainnya,” ungkap Susi kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Lanjutnya, gejala yang muncul akibat penyakit Ispa diantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dan tenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit. Meski dianggap bukan penyakit yang berbahaya.

Namun masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulai pengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yang begitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/TITIS W)

Waspada! ISPA Mengancam Jelang Musim Pancaroba

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang perubahan musim dari kemarau ke musimpenghujan, sejumlah penyakit mengancam. Salah satu yang patutdiwaspadai adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Halitu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, DwiSusilowati kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Menurutnya, semua wilayah di Kabupaten Jepara berpotensi tersebarvirus tersebut. Sebab, virus tersebut sangat mudah menyerang dalamkondisi cuaca yang tidak stabil. Terlebih dengan tingkat polusi dandebu serta bakteri yang banyak.

”ISPA berpotensi dimana saja, bahkan membakar sampah saja juga bisamenyebabkan ISPA, karena bisa menganggu pernafasan,” kata DwiSusilowati.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penyakit ISPA umumnya disebabkan karenapencemaran udara. Pada tingkatan tertentu, ISPA bisa menjadi pneumoniayang membahayakan. Gejala yang muncul akibat penyakit ISPAdiantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dantenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit.

Jika hal itu terjadi, masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulaipengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yangbegitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Perpanjang Jadwal Suplai Air, BPBD Jepara Butuh Tambahan Dana

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin menyatakan, pihaknya meminta perpanjangan jadwal suplai bantuan air bersih kepada korban bencana kekeringan.

”Jadwal semula hanya sampai tanggal 4 November, tapi kami mengajukan tambahan satu bulan kedepan sampai 4 Desember,” kata Jamuddin kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Menurut dia, hal itu dilakukan karena dimungkinkan musim kemarau akan lebih panjang. Meski mengajukan permintaan perpanjangan jadwal, tapi untuk alokasi anggaran dari APBD 2015 masih tetap seperti semula.

”Anggaran sendiri semakin menipis. Tapi kami masih mengandalkan APBD dan jika nanti kurang akan mencari sumber dana lainnya,” ungkap Jamal.

Dia menambahkan, ada beberapa sumber dana lain, terutama dari CSR perusahaan yang ada di Kabupaten Jepara. Baru-baru ini, pihaknya juga mengaku telah ada yang mau member bantuan dana, tapi dia terpaksa menolak sebelum dana dari APBD habis.

”Meski dimungkinkan butuh tambahan dana ,tapi untuk saat ini masih belum,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Masih Kekeringan, Jadwal Suplai Air di Jepara Diperpanjang Hingga Desember

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memasuki November ini, sedikitnya 11 Desa yang ada di 8 Kecamatan di Kabupaten Jepara ternyata masih membutuhkan suplai air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Bahkan, ada beberapa desa yang minta tambahan jumlah tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin. Menurut dia, di beberapa wilayah di Jepara memang sudah ada yang sempat turun hujan. Meski demikian, bencana kekeringan belum berakhir.

”Justru kami minta perpanjangan jadwal suplai air yang seharusnya berakhir pada 4 November, tapi diperpanjang satu bulan sampai 4 Desember nanti,” kata Jamal kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, perpanjangan itu dilakukan karena melihat musim kemarau masih berlanjut. Apalagi baru-baru ini ada desa yang baru menginformasikan meminta bantuan suplai air.

”Seperti di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari. Pihak Desa baru minta bantuan suplai air. Tapi saya minta permintaannya menggunakan surat resmi agar tidak ada masalah di administrasi,” ungkapnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Kekeringan Kian Parah, Suplai Air Ditambah

Sejumlah warga Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara, mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah warga Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara, mendapatkan bantuan air bersih dari BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Makin meluasnya wilayah yang terjadi bencana kekeringan seiring dengan musim kemarau yang tak kunjung usai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara terus melakukan suplai air bersih ke sejumlah Desa.

Salah satu yang jadi perhatian adalah Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Karena, desa tersebut terjadi kekeringan yang cukup parah. Padahal, sebelumnya desa tersebut tidak terlalu parah sehingga cukup mengagetkan pihak BPBD Jepara.

“Untuk itu, kami terus melakukan suplai air bersih ke Desa Blimbingrejo. Setiap hari kami suplai air bahkan dari awal terjadinya kekeringan, tiap harinya bertambah dari dua tangki ke empat tangki setiap hari,” ungkap Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom ketika melakukan suplai air di Desa Blimbingrejo, Kamis (8/10/2015.

Menurutnya, kekeringan terus meluas di sejumlah desa. Untuk hari ini tadi, pihaknya mengirimkan suplai air dua mobil tangki di sore hari. Hal ini dilakukan agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi dengan baik.

“Kami mengirimkan air bersih setiap hari kepada Desa yang mengalami kekeringan parah,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Blimbingrejo Jepara jadi Desa Terparah yang Dilanda Kekeringan

Sejumlah warga di Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara, mengantre mendapatkan suplai air dari BPBD Jepara, Kamis (8/10/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah warga di Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara, mengantre mendapatkan suplai air dari BPBD Jepara, Kamis (8/10/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Musim kemarau di Kabupaten Jepara tak kunjung usai. Bahkan, sejak awal musim kemarau sampai saat ini sebagian besar wilayah di Jepara belum pernah turun hujan. Hal ini membuat bencana kekeringan semakin meluas. Bahkan, sebagian di antaranya telah terjadi darurat air bersih.

Hal ini seperti yang terjadi di Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Di desa tersebut telah terjadi kekeringan sejak awal Agustus lalu. Bahkan, sampai saat ini kekeringan semakin parah lantaran semakin banyak sumur milik warga yang mengering.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno mengatakan, Desa Blimbingrejo tahun ini merupakan daerah yang terparah terjadi bencana kekeringan. Padahal, tahun lalu tidak sampai separah ini.

“Sangat tidak diduga kalau Desa Blimbingrejo ini menjadi wilayah yang paling parah, karena tahun-tahun sebelumnya paling hanya sebagian saja yang sumurnya mengering,” kata Lulus kepada MuriaNewsCom, Kamis (8/10/2015).

Sementara itu, Kepala Desa Blimbingrejo Sutoyo mengatakan, sejak Agustus lalu, sejumlah warganya sudah mengalami kekeringan. Sehingga pihaknya meminta bantuan kepada BPBD Jepara.

“Kami sejak Agustus sudah meminta bantuan, akhirnya mulai pertengahan Agustus kami sudah menerima bantuan tersebut,” katanya.

Menurutnya, sejak akhir September lalu hingga saat ini bencana kekeringan di wilayahnya semakin parah. Sehingga, jika sebelumnya hanya butuh bantuan dua tangki air sejak beberapa waktu yang lalu jumlah tangki ditambah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Desa yang Akan Dibangun Sumur Pantek

sumur_bor

 

JEPARA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin mengatakan, Sejauh ini, dua desa secara resmi mengajukan pembuatan sumur pantek untuk konsumsi warga, yakni Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo dan Desa Kepuk Kecamatan Bangsri.

Jamaludin menjelaskan, untuk Desa Kepuk, cukup membuatkan sumur dan jaringan perpipaan lantaran sudah memiliki tandon air. Untuk Desa Sinanggul, pembuatan sumur dilakukan di RW yang berbeda dari yang sudah ada. Sumur pantek yang sudah ada dibangun di wilayah Sinanggul bagian selatan. Sumur yang baru, akan dibangun di wilayah bagian utara. Tidak hanya sumur, tandon beserta jaringan perpipaan juga akan dibangun.

”Selain sumur, Desa Kepuk juga meminta bantuan pipa guna mengganti pipa yang rusak. Pipa tersebut terhubung dengan salah satu sumber di wilayah setempat,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Jamal mengakui pembuatan sumur pantek memang tidak sesuai target. Hal itu lantaran rekanan yang ditunjuk saat ini tengah menggarap di lokasi lainnya. Untuk pembuatan sumur pantek dengan pipa primer sejauh 200 meter, paling tidak dibutuhkan biaya Rp 15 juta.

Selain sumur untuk menyalurkan ke warga, BPBD juga akan membuat sumur untuk irigasi. Sumur itu akan dibangun di Desa Menganti Kecamatan Kedung dan Desa Karanggondang Kecamatan Mlonggo. (WAHYU KZ/TITIS W)

Atasi Krisis Air, BPBD Jepara Segerakan Pembangunan Sumur Pantek

sumur_bor

 

JEPARA – Badan  Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara sebelumnya merencanakan pembangunan sumur pantek, untuk mengatasi bencana kekeringan yang kerap melanda sejumlah wilayah di Jepara tiap tahunnya. Kali ini pembangunannya segera direalisasikan lantaran bantuan dana sebesar Rp 450 juta dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah cair beberapa waktu yang lalu.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin mengatakan, sampai saat ini kekeringan yang menyebabkan wilayah mengalami krisis air bersih sudah kian parah. Sumur pantek dibuat untuk penanganan jangka panjang krisis air bersih.

”Desa-desa yang mengalami krisis air bersih sejak awal musim kemarau terus menambah permintaan. Kekeringan juga kian meluas. Rencana pembuatan sumur pantek memang untuk semua desa yang mengalami kekeringan. Hanya saja, kemungkinan tahun ini belum bisa semuanya lantaran dalam pembuatan sumur perlu kajian,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Sejauh ini, dua desa secara resmi mengajukan pembuatan sumur pantek untuk konsumsi warga, yakni Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo dan Desa Kepuk Kecamatan Bangsri. Untuk Desa Kepuk, cukup membuatkan sumur dan jaringan perpipaan lantaran sudah memiliki tandon air. (WAHYU KZ/TITIS W)

Banyak Desa di Jepara Minta Tambahan Kuota Bantuan Air Bersih

Sejumlah warga menerima bantuan air bersih dari BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah warga menerima bantuan air bersih dari BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Selama musim kemarau tahun ini, sebagian besar wilayah Kabupaten Jepara kekurangan air bersih. Bahkan, sejumlah wilayah yang sebelumnya didroping air bersih juga meminta tambahan kuota.

”Lantaran tak kunjung turun hujan, beberapa desa yang sudah dibantu air bersih tersebut meminta tambahan kuota,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, awalnya masing-masing desa mendapatkan droping air bersih dari dua truk tangki tiap pekannya. Tapi beberapa sudah meminta tambahan. Dia mencontohkan, seperti Desa Tunggul Pandean dan Rajekwesi meminta tambahan sehingga saat ini BPBD memberikan jatah droping air empat kali dalam sepekan, Blimbingrejo dan Sinanggul sebanyak tiga kali. Adapun Kedung Malang, Surodadi dan Karang Aji masih dua kali tiap pekannya.

Khusus untuk Sumber Rejo, dijatah enam kali tiap pekannya. Hanya saja, BPBD tidak bisa memberikan pelayanan sebagaimana wilayah lainnya. Sebab medan menuju desa tersebut terlalu sulit. BPBD pun menyerahkan operasional droping air bersih ke Pemerintah Desa (Pemdes).

”Tinggal nanti biayanya berapa akan kami tanggung. Kami rasa ini lebih efektif sebab berkaca dari pengalaman tahun lalu, truk tangki mengalami kerusakan saat mengirimkan air bersih ke sana,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Krisis Air di Jepara Makin Meluas

Salah seorang warga Jepara menunjukkan kran air yang tidak mengalir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga Jepara menunjukkan kran air yang tidak mengalir. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Krisis air bersih di musim kemarau ini di Kabupaten Jepara, wilayahnya makin meluas. Jika di akhir bulan Agustus lalu hanya ada enam desa yang mengalami krisis hingga minta droping air bersih. Kini sedikitnya sudah ada delapan desa yang mengalami kekurangan air bersih.

”Desa yang mengalami kekurangan air bersih semakin bertambah,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, sebelumnya ada enam desa yang meminta droping air bersih, yakni Desa Rajekwesi Kecamatan Mayong, Desa Tunggul Pandean dan Desa Blimbingrejo Kecamatan Nalumsari, Desa Kedung Malang dan Surodadi Kecamatan Kedung, serta Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo.

”Tapi sejak beberapa hari terakhir ini, dua desa yakni Karang Aji Kecamatan Kedung dan Sumber Rejo Kecamatan Donorojo sudah meminta droping air bersih,” kata Jamal.

Dia menambahkan, proses droping air dengan menggandeng pihak ketiga saat ini sedikit mengalami kendala. Khususnya desa yang dilayani depo dari Mayong. Pasalnya, sumber air yang biasanya dimanfaatkan depo itu saat ini mengalami kekeringan. Untuk itu, BPBD mengalihkan pelayanan oleh depo itu, ke depo lainnya yang sumber airnya masih stabil. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ribuan Warga Jepara Gelar Salat Istisqa

salat-istisqa

Ribuan warga Jepara sedang mengikuti Salat Istisqa (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ratusan warga Jepara meminta hujan dengan melakukan Salat Istisqa di tengah Alun-alun Kabupaten Jepara, Jumat (18/9/2015) pagi tadi. Hal ini, karena sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara sudah mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Para jemaah antusias mengikuti salat ini. Tak hanya warga sekitar, tapi juga ratusan karyawan atau pegawai negeri sipil dan pejabat di Pemkab Jepara, Forkopinda, ormas, hingga pelajar juga ikut. Mereka memadati alun-alun sejak pukul 06.00 WIB. Salat ini dipimpin KH Ubaidillah Nur Umar.

Selama musim kemarau ini, memang di Jepara belum pernah turun hujan. Untuk itu, Salat Istisqa dilaksanakan. Sebelum melaksanakan salat, para jemaah juga melakukan istighotsah dan sholawat.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud solidaritas sebagai sesama warga negara dan sebagai umat manusia karena di wilayah Jepara mengalami kekeringan. Dengan ini diharapkan hujan cepat turun.

“Ini sebagai wujud solidaritas dan kesadaran kita bahwa bagaimanapun juga, air bersih merupakan kebutuhan pokok. Sehingga memang perlu selalu ada termasuk air hujan yang nantinya dapat digunakan sebagai air bersih setelah melalui proses,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

BPBD Jepara Klaim Sumber Air Bersih Aman

 

Salah satu warga mendapatkan suplai air bersih beberapa waktu lalu. Pihak BPBD Jepara mengklaim sumber air bersih masih aman. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu warga mendapatkan suplai air bersih beberapa waktu lalu. Pihak BPBD Jepara mengklaim sumber air bersih masih aman. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencara Daerah (BPBD) Jepara mengklaim sumber air bersih untuk pengiriman air ke wilayah yang mengalami kekeringan masih aman. Sejauh ini, BPBD Jepara mendapatkan bantuan air dari Gunung Muria.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin, mengatakan, pihaknya mengakui bahwa sumber air bersih yang digunakan untuk mengirim bantuan di wilayah Jepara, salah satunya diambilkan dari Gunung Muria, di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

”Setidaknya ada tiga pihak swasta yang kami gandeng untuk mengirim bantuan air bersih ke wilayah kekeringan. Salah satunya memang mengambil air dari Gunung Muria,” jelas Jamal kepada MuriaNewsCom

Lebih lanjut dia mengatakan, masalah itu sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Mengingat cakupan wilayah kekeringan yang ditangani oleh depo itu luas dan dengan volume yang besar. Untuk itu pihaknya juga sudah menanyakan hal ini.

”Kami sudah menanyakan terkait masalah itu. Jawabannya memang masih aman. Sebab yang dipersoalkan merupakan pengambilan air yang ada di wilayah Perhutani. Sedangkan, depo terkait memiliki sumber air sendiri,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Alhamdulilah, Desa yang Alami Kekeringan di Jepara Terus Disuplai Air

Beberapa warga menerima bantuan suplai air dari BPBD Jepara belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

Beberapa warga menerima bantuan suplai air dari BPBD Jepara belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu Kz)

 

JEPARA – Wilayah kekeringan di Kabupaten Jepara memang cukup luas. Beberapa desa di Jepara sudah diberi suplai air bersih setiap pekan. Bahkan, setiap pekan, beberapa desa disuplai antara dua hingga tiga tangki air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Saat ini, desa yang sudah mendapatkan kiriman air adalah Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong; Desa Tunggul Pandean dan Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari; Desa Kedung Malang dan Surodadi, Kecamatan Kedung; serta Desa Sinanggul, Kecamatan Mlonggo.

Rata-rata, masing-masing desa itu mendapatkan kiriman air bersih dari dua truk tangki tiap pekannya. ”Khusus untuk Desa Rajekwesi, warga meminta tambahan kuota air, sehingga kiriman air di desa itu menjadi tiga tangki tiap pekan,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jamaludin kepada MuriaNewsCom

Seperti diketahui, BPBD Jepara menggandeng pihak swasta dalam pengiriman air bersih. Setidaknya ada tiga depo air yang digandeng. Untuk wilayah Jepara bagian selatan, dipenuhi oleh depo yang mengambil air dari Gunung Muria.

“Ada tiga pihak swasta yang kami gandeng. Mereka sudah dibagi wilayahnya masing-masing. Mereka memiliki fasilitas truk tangki dengan kapasitas antara 5000 hingga 6000 liter air. Termurah, kami harus membeli air itu dengan harga Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu/tangki. Termahal, kami membelinya dengan harga Rp 325 ribu hingga Rp 350 ribu/tangki,” jelas Jamal. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Penyebab dan Solusi Atasi Krisis Air Bersih di Karimunjawa

ilustrasi kekeringan (ISTIMEWA)

ilustrasi kekeringan (ISTIMEWA)

 

JEPARA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin menerangkan, sumur-sumur milik warga di Karimunjawa yang selama ini menjadi sumber air utama, mengering akibat musim kemarau. Hal ini menjadi penyebab utama krisis air yang terjadi di wilayah terluar Kabupaten Jepara itu. Tepatnya di beberapa dukuh di Desa Kemojan Karimunjawa.

“Ketiga dukuh di Desa Kemojan, yakni Dukuh Gonipah, Batu Lawang, dan Duku Mrican terletak di area dataran tinggi. Adapun dukuh lain di Desa Kemojan yang berada di daerah lebih rendah sumur milik warga masih bisa mengeluarkan sumber air,” ujar Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Kamis (3/9/2015).

Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau ini, warga terpaksa harus membeli air, atau mengambil air dari sumur terdekat yang masih mengeluarkan sumber air. Pihaknya pun merencanakan pemberian bantuan (droping) air bersih ke wilayah itu. Hanya saja, saat ini masih memerlukan kordinasi dengan perangkat desa, warga serta pihak swasta yang akan digandeng.

“Sulit jika kami menyuplai air dari daratan Jepara. Kami rencanakan akan mengambilkan air dari sumber air yang ada di sana. Sementara ini, kami sudah melakukan pengecekan sumber air yang akan digunakan untuk menyuplai warga yang mengalami krisis air bersih,” kata dia.

Selain itu, pihaknya juga memberikan saran kepada Pemerintah Desa setempat agar mengajukan proposal pembuatan sumur kepada BPBD. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Duh, Kekeringan Mulai Terjadi di Karimunjawa

ilustrasi kekeringan (ISTIMEWA)

ilustrasi kekeringan (ISTIMEWA)

 

JEPARA – Bencana krisis air bersih alias kekeringan tak hanya menyerang sejumlah daerah di daratan Jepara saja. Namun, kini sudah mulai menyerang di kawasan terluar Kabupaten Jepara, yakni kawasan destinasi nasional Karimunjawa. Sedikitnya, ratusan kepala keluarga (KK) di Karimunjawa saat ini kesulitan mendapatkan air bersih.

”Ratusan KK di Karimunjawa, tepatnya di sejumlah dukuh di Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa, mengalami krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air, ratusan KK itu terpaksa harus membeli air dan menimba di sumur terdekat,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Kamis (3/9/2015).

Lebih lanjut Jamaludin membeberkan, sejumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih di Kecamatan Karimunjawa tersebut adalah Dukuh Gonipah, Batu Lawang, dan Duku Mrican yang terletak di Desa Kemojan.

”Data itu kami peroleh setelah melakukan survey desa tersebut akhir Agustus lalu. Jumlah pastinya kami belum tahu. Hanya saja kami perkirakan ratusan KK. Sebab dukuh-dukuh tersebut padat penduduk,” katanya.

Dia menambahkan, krisis air tersebut membuat pihaknya harus berfikir keras untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab, opsi untuk melakukan droping air dari daratan Jepara tentu bukan menjadi pilihan yang tepat. (WAHYU KZ/TITIS W)

Hingga Nopember, Kekeringan Mengancam Kudus

Sungai Gelis dengan kondisi air yang menyusut dimanfaatkan beberapa warga untuk mengambil pasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sungai Gelis dengan kondisi air yang menyusut dimanfaatkan beberapa warga untuk mengambil pasir. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bencana kekeringan tahun ini masih mengincar Kudus, setidaknya, ancaman kekeringan bakal datang sampai Nopember mendatang.

Hal itu disampaikan Kasi Dal dan Guna pada Balai PSDA Serang Lusi Juwana Jawa Tengah Sumaji H, menurutnya berdasarkan informasi yang didapatnya, perkiraan cuaca di Kudus bakal terus mengalami kemarau hingga Nopember mendatang.

”Itupun baru perkiraan saja, kalaupun benar, hujan juga biasanya tidak akan langsung deras, namun baru gerimis saja. Sehingga untuk kembali memenuhi tampungan air masih menunggu hingga beberapa saat,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kerusakan hutan di Kudus sangat parah, sehinggga tanpa adanya kesadaran dari masyrakat bakal membuat hutan di Kudus dan aliran sungainya semakin rusak.

”Perlu kesadaran bersama terkait hal tersebut, sehingga semuanya perlu sadar tentang hutan yang sudah rusak,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)