Di Persidangan, PNS Asal Tayu Pati Bantah Lakukan Pemukulan Terhadap Bocah Ini

Keluarga korban tengah menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga korban tengah menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pegawai negeri sipil (PNS) berinisial S yang diduga melakukan penganiayaan kepada seorang bocah bernama Nouval Haidar yang tak lain tetangganya sendiri di Desa Pondohan, Kecamatan Tayu akhirnya memasuki persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Negeri Pati, Kamis (11/2/2016).

Dalam persidangan yang Diketuai Majelis Hakim Etri Widayati, S membantah semua keterangan saksi yang dihadirkan. S mengaku memang melempar menggunakan batok kelapa, tapi tidak melakukan pemukulan.

“Saya akui memang melempar anak itu dengan batok kelapa kering. Tapi, saya tidak melakukan pemukulan dan penyeretan sebagaimana dikatakan saksi,” ujar S di depan majelis hakim.

Sementara itu, salah satu saksi mengaku, bila S sempat melakukan pemukulan dan penyeretan. Namun, saat dikonfirmasi sejumlah awak media, S memilih untuk tidak bicara.

“Tidak, tidak,” ujar S saat ditemui awak media usai menjalani persidangan. Pihak keluarga korban sendiri menggelar aksi dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Stop Kekerasan pada Anak di Kabupaten Pati.”

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Dituduh Maling Durian, Siswa di Tayu Dihajar Oknum PNS

Dewan Pendidikan Pati Minta Guru Tak Gunakan Kekerasan dalam Mendidik

Keluarga salah satu murid SMPN 1 Tambakromo yang demo di Pengadilan Negeri Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keluarga salah satu murid SMPN 1 Tambakromo yang demo di Pengadilan Negeri Pati beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom,Pati – Sederet kasus yang mencatut profesi guru hingga ke meja hijau membuat sejumlah guru trauma dalam mendidik murid. Salah satunya, kasus penganiayaan murid di SMPN 1 Tambakromo yang mengakibatkan seorang guru divonis dua bulan.

Karena itu, Ketua Dewan Pendidikan Pati Sutaji mengimbau kepada guru untuk tidak menggunakan cara kekerasan dalam mendidik. Pasalnya, kekerasan dinilai tak lagi sesuai dengan konteks pendidikan saat ini.

”Tidak usah pakai cara kekerasan. Tidak usah takut mendidik, asal mengajar sesuai dengan standard operating procedure (SOP) mengajar dan manajemen pendidikan,” tuturnya saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (29/1/2016).

Ia mengatakan, saat ini sudah ada standar mengajar sesuai dengan aturan. Ada nilai-nilai atau point yang bisa dijadikan standar sanksi tanpa harus menggunakan cara kekerasan.

”Kalau ada standar sanksi seperti nilai atau sanksi, ya itu saja dijalankan. Jangan sampai menggunakan kekerasan karena ini zamannya berbeda dengan dulu,” imbuhnya.

Kendati begitu, pihaknya meminta agar guru tidak takut berlebihan akibat banyaknya upaya kriminalisasi yang dilakukan orang tua kepada guru. ”Kalau kita mengajar dan mendidik dengan baik, saya kira tidak bisa dimejahijaukan,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Bocah 14 Tahun Asal Kembang Pati Dianiaya dengan Belati

Ilustrasi kekerasan anak (www.rmol)

Ilustrasi kekerasan anak (www.rmol)

 

MuriaNewsCom,Pati – Lagi-lagi pentas dangdut memakan korban. Di Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati pada akhir 2015 lalu terjadi penganiayaan pada bocah berusia 14 tahun usai pentas dangdut di desanya.

Bocah berinisial DP itu ditusuk menggunakan belati pada bagian kepala dan dipukuli hingga babak belur, setelah bersama gerombolan orang yang melempari batu kepada gerombolan orang yang melintas. Insiden ini diamini Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

“Informasi yang kami terima dari Kanit Reskrim Polsek Dukuhseti, ada salah seorang yang lewat di jalan setelah menonton dangdut. Tiba-tiba saja, seseorang itu dilempari menggunakan batu dari segerombol orang di Desa Kembang,” ujar Sundoyo kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/1/2016).

Tak terima dilempari batu, seseorang tersebut akhirnya memanggil teman-temannya dan mendatangi gerombolan tadi. Di sana, beberapa orang dianiaya karena telah melempari batu orang yang lewat.

“Salah satu yang terkena penganiayaan secara bersama-sama, bocah berusia 14 tahun. Ia mengalami luka cukup serius, antara lain luka robek pada bagian kepala, memar di perut dan wajah hingga dilarikan ke RSI Margoyoso,” tuturnya.

Ia mengatakan, kasus tersebut memang cukup rumit, karena bisa jadi korban yang dianiaya juga merupakan pelaku yang melempari batu. Karena itu, pihaknya saat ini sedang mendalami kasus tersebut.

“Saat ini, kami sudah mengantongi identitas tersangka. Namun, kami masih mendalami kasus ini karena memang cukup rumit. Korban bisa jadi tersangka dan sebaliknya. Kami terus dalami kasus ini,” pungkasnya

Editor : Kholistiono