Jelang Panen Raya, Petani Kedelai di Grobogan Khawatirkan Kondisi Cuaca. Ini Sebabnya?

Petani di Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon sedang melangsungkan panen kedelai. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang panen raya, petani kedelai di Grobogan saat ini dihinggapi kecemasan. Hal ini menyusul kondisi cuaca saat ini yang sering turun hujan pada siang hari. Dengan kondisi cuaca yang seperti ini dipastikan bisa membawa dampak kurang mengenakkan bagi para petani.

“Kalau tidak ada panas matahari, akan berpengaruh pada kualitas kedelai. Jika panasnya kurang bagus maka kadelai yang habis dipanen sulit kering. Kondisi ini bisa berdampak pada harga jual karena kadar air kedelai jadi tinggi,” kata Muhtar, petani kedelai di Kecamatan Pulokulon, Sabtu (16/12/2017).

Panas matahari memang sangat diperlukan petani pasca panen. Sebab, setelah dipetik dari sawah, hasil panen kedelai butuh dijemur dulu hingga kering.

Setelah kering maksimal, maka biji kedelai bisa lebih mudah dikeluarkan dari kulitnya atau dipipil. Proses pemipilan bisa dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pemipil.

Jika kondisi cuaca kurang panas maka kulit kedelai sulit kering. Kondisi ini terkadang bisa menyebabkan biji kedelai tidak bisa berwarna jernih karena muncul bintik-bintik hitam.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, luas areal kedelai tahun ini sekitar 23 ribu hektar. Sebagian besar areal kedelai ada di Kecamatan Purwodadi dan Pulokulon.

Menurutnya, saat ini, sudah ada sebagian petani kedelai  yang melangsungkan panen. Seperti di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon.

“Saat ini belum panen raya. Baru beberapa petani yang mulai panen kedelai karena tanamnya memang lebih awal dari petani lainnya. Panen raya sekitar 10 sampai 15 hari lagi,” katanya, Sabtu (16/12/2017).

Ia menyatakan, hasil panen kedelai kali ini diperkirakan cukup bagus. Sebab, sejak awal tanam hingga menjelang panen, tidak ada gangguan hama ataupun penyakit.

“Hampir semua tanaman kedelai  bagus-bagus. Tidak ada gangguan hama sama sekali. Hanya saja, ketika panen memang kita harapkan cuacanya bisa panas terus. Kalau kondisi cuaca panas maka kualitas kedelai bisa maksimal dan harganya bagus,” katanya.

Editor: Supriyadi

Pemkab Grobogan Bakal Bikin Rekor Muri Pembuatan Tempe Terbesar dari Kedelai Lokal

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto saat menjelaskan proses pembuatan tempe higienis di RKG. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, GroboganPemkab Grobogan saat ini sedang menyiapkan acara untuk menciptakan sebuah rekor Muri. Bentuknya adalah pembuatan tempe terbesar dari bahan baku kedelai lokal.

Pernyataan itu disampaikan Kabag Perekonomian Pemkab Grobogan Pradana Setiawan, Jumat (3/11/2017).

Menurut Pradana, pembuatan tempe terbesar nanti direncanakan berukuran 9 x 12 meter. Untuk pembuatan tempe sebesar ini dibutuhkan bahan baku kedelai sekitar 2 ton.

“Bahan baku pembuatan tempe untuk rekor Muri kita pilih dari kedelai lokal. Saat ini konsep untuk mencitpakan rekor Muri sedang kita matangkan,” cetusnya.

Pembuatan tempe sengaja dipilih dengan bahan baku kedelai lokal yang saat ini sedang dikembangkan Pemkab Grobogan. Penggunaan bahan kedelai lokal ini salah satu tujuannya untuk mengurangi ketergantungan dengan barang impor.

Ia menjelaskan, pembuatan tempe terbesar akan dilangsungkan bersamaan dengan penyelenggaraan Pameran Ekonomi Kreatif Grobogan selama 4 hari. Yakni, dari 30 november hingga 3 Desember mendatang di alun-alun Purwodadi.

Dalam pamera nanti akan ditiampilkan produk ekonomi kreatif yang ada di Grobogan. Produk ekonomi kreatif akan mencakup 16 sub sektor yang ditepatkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Editor: Supriyadi

Pejabat Dinas Pertanian Kalimantan Selatan Belajar Budidaya Kedelai ke Grobogan

Rombongan tamu dari Kabupaten Balangan, Kalsel melihat proses pembuatan tempe higienis di Rumah Kedelai Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganDinas Pertanian Grobogan kedatangan rombongan tamu dari wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (1/11/2017). Rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang ini berasal dari Kabupaten Balangan, Kalsel.

Rombongan dari Kalsel ini dipimpin Sekretaris Dinas Pertanian Balangan Rusdiansyah. Selain pejabat dari dinas pertanian, dalam rombongan itu juga terdapat anggota DRPD, kelompok tani dan sejumlah pelaku usaha di Balangan.

Rusdiansyah menyatakan, tujuan utama datang ke Grobogan adalah ingin menimba ilmu seputar budidaya kedelai. Namun, pihaknya juga ingin belajar budidaya tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai atau Pajale.

Dijelaskan, salah satu hal yang ingin dikembangkan di daerahnya adalah penanganan produk pasca panen. Yakni, membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal. Seperti yang terdapat di Rumah Kedelai Grobogan (RKG).

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini kami nilai sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pasca panennya,” terangnya.

Rombongan tamu dari Kalsel diterima langsung Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto di RKG. Selama berada di RKG, rombongan dari Kalsel sempat mendapat banyak penjelasan mengenai budidaya kedelai andalan varietas Grobogan.

Setelah itu, rombongan juga diajak melihat proses produksi tempe dan tahu higienis serta beragam makanan ringan dari bahan kedelai di lokasi tersebut.

“Terus terang, saya merasa bangga ada rombongan dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budidaya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini membawa manfaat dan bisa secepatnya diaplikasikan di Kabupaten Balangan,” jelasnya.

Setelah dari RKG, rombongan tamu sempat diantarkan untuk melakukan kunjungan lapangan. Yakni, melihat lahan kedelai kelompok tani (Poktan) Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi. Di daerah tersebut, saat ini sudah banyak terdapat tanaman kedelai yang berumur sekitar satu bulan.

Poktan Ngudi Rejeki I menjadi tempat yang tepat untuk belajar kedelai. Soalnya, poktan itu baru saja baru saja dinobatkan jadi juara nasional dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai. 

Editor: Supriyadi

Santri Belajar Inovasi Teknis Budi Daya Kedelai di Kudus

Peserta melakukan foto bersama usai Kursus Agribisnis Inovasi Teknis Budidaya Kedelai di Kudus. (Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan Pemerintah sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Sejarah mencatat para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-citanya.

Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah. Mereka menyusun kekuatan di daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan.

Kini santri dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks. Santri harus mampu mengisi kemerdekaan dengan berjuang melawan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat.

Itulah yang menjadi landasan Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah Kudus untuk terus berupaya memberikan motivasi dan pelatihan bagi tumbuhnya santripreneur. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Kursus Agribisnis Inovasi Teknis Budidaya Kedelai.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Al Mawaddah Kudus dengan bekerja sama BPSDM Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah UPT Soropadan.

Acara dibuka oleh Catur Sulistiyanto Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, didampingi Budi Sulistiyanto dan Haryati (KJF) serta Hardjono, Koordinator BPP Kecamatan Jekulo. Catur dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini merupakan bagian dalam rangka memberikan pengetahuan dan teknis budidaya kedelai.

“Pemerintah pusat mempunyai program upsus Pajale (Padi Jagung Kedelai). Jadi program utama dari pemerintah adalah swasembada padi, jagung dan kedelai ,” ujar kata Catur di hadapan peserta kursus.

 Berdasarkan datanya, untuk mencapai swasembada kedelai, saat ini baru tercapai setengahnya. Yakni target 2,2 juta ton kebutuhan namun saat ini baru dihasilkan produksi kedelai 920 ribu ton.

Menurut Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Al Mawaddah, Sofiyan Hadi, petani harus dibekali teknis budidaya tanaman pangan yang terbukti berhasil sesuai spesifik lokal. Komoditas kedelai tidak harus ditanam di lahan seperti persawahan, karena lahan kering pun dapat ditanami tentunya dengan varietas yang disesuaikan dengan kondisi tanahnya.

Untuk itu, P4S Al Mawaddah berkewajiban mendidik, melatih petani kedelai di Kudus. “Harapannya, para petani nantinya tidak hanya menanam, kemudian menjual begitu saja. Melainkan bisa mengolahnya menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual lebih,” ujarnya.

Acara yang digelar di Aula Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah Honggosoco, Jekulo tersebut, diikuti sebanyak 30 peserta petani yang berasal dari Kudus. Puluhan petani tersebut mengikuti pelatihan selama empat hari dengan menghadirkan pemateri dari Praktisi P4S Al Mawaddah, UPT Soropadan serta Penyuluh Dinas Pertanian dan Pangan Kudus.

Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Kudus Budi Sulistiyanto berharap setelah mengikuti pelatihan para petani dapat menghasilkan produk unggulan ke depannya. “Tanaman kedelai merupakan tanaman prioritas nasional, selain padi dan jagung. Setelah pelatihan ini dapat menghasilkan produk unggulan tentu akan luar biasa,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Dukung Swasembada, Areal Tanam Kedelai di Grobogan Diperluas Hingga 100 Ribu Hektare

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto memimpin ikrar bersama untuk mendukung tanam kedelai 100 ribu hektare, Kamis (12/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Luas areal kedelai di Grobogan bakal mengalami peningkatan signifikan. Soalnya, pada tahun ini areal tanam kedelai diperluas hingga mencapai 100 ribu hektare. Sebelumnya, areal kedelai di Grobogan hanya berkisar 20 ribu hektare saja.

“Tahun ini, kita perluas areal tanaman kedelai sampai 100 ribu hektare. Ini merupakan perintah dari Menteri Pertanian dalam rangka mendukung target swasembada kedelai tahun 2018,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto, saat melangsungkan acara konsolidasi tanam kedelai 100 ribu hektare, Kamis (12/10/2017).

Acara konsolidasi juga dihadiri Dandim 0717 Purwodadi Letkol Jan Piter Gurning, Asisten II Pemkab Grobogan Ahmadi Widodo, perwakilan Bulog 104 Purwodadi, Perhutani KPH Purwodadi, KPH Gundih, dan Telawah. Dalam kesempatan itu, dilangsungkan pula ikrar bersama untuk mendukung program tanam kedelai 100 ribu hektare yang dipimpin Edhie Sudaryanto.

Menurut Edhie, penambahan areal tanam kedelai akan dilakukan dibeberapa lokasi. Yakni, di lahan hutan milik Perhutani, dan areal sawah teknis irigasi. Pada beberapa lahan, penanaman kedelai akan dilakukan dengan model tumpang sari dengan tanaman jagung.

“Lahan perluasan tanam kedelai sudah kita siapkan. Untuk itu, kita juga mengundang berbagai instansi terkait lainnya yang akan mendukung perluasan tanam 100 ribu hektare tersebut,” cetus Edhie.

Komoditas yang ditaman adalah kedelai lokal varietas Grobogan. Varietas asli Grobogan ini sudah mendapat sertifikat nasional. Saat ini, kedelai varietas Grobogan sudah dikembangkan petani di berbagai daerah.

Sejauh ini, kedelai varietas Grobogan punya banyak keunggulan. Seperti umurnya relatif pendek, hasil panennya tinggi dan biji kedelai yang dihasilnya ukurannya cukup besar.

Selain itu, satu keunggulan lainnya adalah tingginya kandungan protein kedelai varietas Grobogan yang mencapai 43 persen. Kandungan protein ini lebih tinggi dari jenis kedelai lainnya, termasuk kedelai impor yang hanya berkisar 34 persen.

Dengan perluasan tanam 100 hektare diprediksi akan bisa menghasilkan panen hingga 200 ribu ton. Asumsinya, tiap satu hektare bisa panen sekitar 2 ton.

Edhie menambahkan, program tanam kedelai 100 ribu hektare juga mendapat dukungan dari pihak Bulog. Nantinya, hasil panen akan dibeli Bulog dan saat ini sudah disiapkan tempat penampungan seluas 4 hektare di Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo.

“Program ini memang harus didukung berbagai pihak. Mulai hilir sampai hulu harus terlibat bersama,” tegasnya. 

Editor: Supriyadi

Pemerintah Percepat Target Swasembada Kedelai di 2018, Begini Langkah Kementan

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto (baju batik) saat melangsungkan pencanangan tanam kedelai serentak di kawasan hutan KPH Gundih di Desa Kalangbancar, Kecamatan Geyer, Grobogan, Jumat (6/10/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganPemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan swasembada kedelai pada tahun 2018. Target ini lebih cepat dari rencana swasembada kedelai semula yang ditetapkan pada tahun 2020.

Hal itu disampaikan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto saat melangsungkan pencanangan tanam kedelai serentak di kawasan hutan KPH Gundih di Desa Kalangbancar, Kecamatan Geyer, Grobogan, Jumat (6/10/2017).

”Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan pangan, termasuk kedelai melalui peningkatan produksi dalam negeri demi terwujudnya swasembada dan kemandirian pangan. Hal ini sesuai cita-cita Nawacita dan amanat undang-undang No 18 tahun 2012 tentang Pangan,” ungkap Gatot.

Pencanangan tanam serentak kedelai juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni dan pimpinan FKPD setempat. Hadir pula, pejabat dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Kodam IV Diponegoro, Perhutani, pengurus LMDH dan HKTI.

Menurut Gatot, upaya percepatan swasembada kedelai diawali dengan tanam serentak di 20 provinsi dengan total lahan seluas 500.000 hektare. Yakni, di wilayah Sumatera seluas 153.000 hektare, Jawa 130.000 hektare, Kalimantan 27.000 hektare, Sulawesi 110.000 hektare, dan Nusa Tenggara 80.000 hektare.

“Kegiatan tanam kedelai dengan dana APBN Perubahan tahun 2017 dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang selama ini belum digarap maksimal. Seperti lahan bekas ambang, lahan perkebunan, lahan kering, lahan bera, lahan tidur, lahan pasang surut serta lahan bekas perluasan areal tanam jagung,” jelasnya.

Gatot menjelaskan, tanam serentak dilakukan dalam rangka menyosialisasikan upaya pemerintah menuju swasembada kedelai tahun 2018. Tujuan lainnya untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat khususnya petani kalau komoditas kedelai bisa ditanam di seluruh daerah pada berbagai tipologi lahan. Dengan demikian, petani di wilayah masing-masing nantinya termotivasi untuk ikut serta menyukseskan swasembada kedelai 2018.

“Target semula, swasembada kedelai ditetapkan tahun 2020. Dengan tanam serentak yang dicanangkan di Grobogan ini, target swasembada kedelai kita ajukan jadi tahun 2018,” jelasnya.

Upaya pencapaian swasembada kedelai, lanjut Gatot, membutuhkan komitmen dan kontribusi dari semua pihak  yang terkait mulai dari hulu sampai hilir. Untuk itu, dalam melaksanakan kegiatan kedelai APBNP 2017 ini, Kementerian Pertanian melibatkan berbagai stakeholders terkait. Seperti Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, BULOG, Perhutani/Inhutani, Perguruan Tinggi, TNI, BPKP, Gakoptindo dan instansi terkait lainnya.

Selain itu, dalam melaksanakan kegiatan Kedelai APBN-P Tahun 2017, Kementerian Pertanian juga menerjunkan 5.000 penyuluh dan 5.000 mahasiswa/alumni Perguruan Tinggi untuk mendampingi kelompok tani. Pendampingan dimulai dari penyiapan lahan sampai panen dan pasca panen kedelai.

Gatot menambahkan, pemerintah juga berupaya untuk mengatasi anjloknya harga kedelai yang sering dikeluhkan petani. Untuk memberikan jaminan pasar bagi petani, pemerintah berupaya mengatur tata niaga impor kedelai, mengupayakan pelaksanaan regulasi Harga Pembelian Pemerintah mengacu pada Permendag 27/M-DAG/PER/5/2017 sebesar Rp 8.500 per kg. Pemerintah akan mendorong Bulog untuk menyerap hasil kedelai ditingkat petani serta bekerjasama dengan Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo).

“Sejak tahun lalu, pemerintah sudah berhasil untuk tidak impor padi dan jagung. Kedepan, targetnya tidak lagi impor kedelai dengan memberdayakan kedelai lokal,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Pejabat dan Pelaku Usaha dari Kalteng Timba Ilmu Budidaya Kedelai ke Grobogan

Kabid Tanaman Pangan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Tengah Sumarli (baju merah) mendapat penjelasan proses pembuatan tempe higienis di RKG. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pengembangan tanaman kedelai lokal yang dilakukan Dinas Pertanian Grobogan dalam beberapa tahun terakhir ternyata mengundang daya tarik dari di sejumlah pihak.

Salah satunya dari pejabat Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan pelaku usaha dari Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) yang menyempatkan datang ke Grobogan untuk belajar soal kedelai.

Rombongan sebanyak 20 orang belajar kedelai di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh. Rombongan dari Kalteng dipimpin Kabid Tanaman Pangan Sumarli.

Kedatangan tamu dari Kalteng diterima Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Grobogan Sunanto. Ikut mendampingi rombongan dari Kalteng, Kasi Pasca Pangan dan Pengolahan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng Cisilia Sunarti.

Selama berada di RKG, mereka mendapat banyak penjelasan dari Sunanto mengenai budidaya kedelai lokal varietas Grobogan. Setelah itu, rombongan diajak melihat proses produksi tempe dan tahu higienis serta beragam makanan ringan dari bahan kedelai.

“Selama berada disini, kita bantu semaksimal mungkin apa yang dibutuhkan tamu kita dari Kalteng ini. Terus terang, saya merasa bangga ada rombongan dari jauh yang memilih Grobogan sebagai lokasi belajar budidaya kedelai. Harapan saya, apa yang didapat dari sini bisa secepatnya diaplikasikan di Kalteng,” cetusnya. 

Sementara itu, pimpinan rombongan dari Kalteng Sumarli menyatakan, tujuan utama datang ke Grobogan ingin menimba ilmu masalah kedelai. Namun, pihaknya juga ingin belajar budidaya tanaman pangan lainnya, seperti Jagung dan Padi. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan merupakan salah satu sentra penghasil padi, jagung, dan kedelai 

atau Pajale.

Dijelaskan, salah satu hal yang ingin dikembangkan di Kalteng adalah penanganan produk pasca panen. Seperti membuat aneka makanan dari hasil tanaman pangan. Salah satunya, membuat tempe dari bahan kedelai lokal. Oleh sebab itu, dalam rombongannya ada beberapa pelaku usaha pembuatan makanan dari bahan pangan.

“Apa yang sudah dilakukan Dinas Pertanian Grobogan ini sangat bagus. Jadi, tidak hanya budidaya saja tetapi juga pengembangan hingga pasca panennya. Hal inilah nantinya akan coba kita terapkan, yakni pengembangan komoditas sekaligus terintegrasi dengan pengolahan pasca panen,” terangnya.

Editor: Supriyadi

Petani Kedelai di Grobogan Sumringah saat Panen Raya

Petani kedelai di Kecamatan Pulokulon sedang menjemur hasil panen. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petani kedelai di Kecamatan Pulokulon sedang menjemur hasil panen. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki panen raya, para petani kedelai di Grobogan merasa cukup lega. Sebab, harga kedelai hasil panen raya kali ini dinilai cukup bagus.

 “Saat ini harga kedelai memang lumayan tinggi. Sejak beberapa hari lalu, petani mulai masuk panen raya,” kata Ketua Kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon Ali Mukhtar.

Menurut Ali, harga kedelai saat ini berkisar Rp 6.300 – 6.700 per kilogram. Harga ini, tergantung dengan kandungan kadar airnya. Semakin rendah kadar airnya, harganya bisa sedikit naik. Salah satu pakar kedelai di Grobogan ini menyatakan, hasil panen kali ini kualitasnya dinilai cukup bagus. Sebagian besar hasil panen akan digunakan sebagai benih.

Meski demikian, dilihat dari produktivitasnya, musim panen saat ini sedikit turun. Yang mana, dalam areal satu hektare hasil panen berkisar 2,4 ton. Biasanya, bisa sampai di atas 3 ton. “Saat kedelai mulai berbuah awal, sempat ada banjir di wilayah sini sehingga tanaman kedelai terendam. Makanya, produksinya agak turun. Kalau soal hama atau penyakit, hampir tidak ada tanaman yang terserang. Jadi, turunnya hanya masalah alam,” jelasnya.

Sebelum panen raya, para petani kedelai di Grobogan sempat dihinggapi kecemasan. Hal ini menyusul kondisi cuaca yang sering hujan terutama pada siang hari. Dengan kondisi cuaca yang seperti itu dipastikan bisa membawa dampak bagi para petani.

“Kalau tidak ada panas matahari maka kadelai yang habis dipanen sulit kering. Hal ini akan berpengaruh pada kualitas kedelai. Kalau kualitasnya kurang bagus maka harganya pasti turun,” kata Suwarlan, petani kedelai di Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Panas matahari memang sangat diperlukan petani pasca panen. Sebab, setelah dipetik dari sawah, hasil panen kedelai butuh dijemur dulu hingga kering.

Setelah kering betul, maka biji kedelai bisa lebih mudah dikeluarkan dari kulitnya atau dipipil. Baik dilakukan secara manual atau menggunakan mesin pemipil.

Jika kondisi cuaca kurang panas maka kulit kedelai sulit kering. Kondisi ini terkadang bisa menyebabkan biji kedelai tidak bisa berwarna jernih karena muncul bintik-bintik hitam. 

Editor : Akrom Hazami

Sssst! Donat dari Tempe Higienis Rasanya Maknyus

 Bupati Grobogan Bambang Pudjiono tengah mencicipi kue donat dari bahan tempe higienis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Bupati Grobogan Bambang Pudjiono tengah mencicipi kue donat dari bahan tempe higienis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Saat melangsungkan soft opening di Rumah Kedelai Grobogan (RKG) yang ada di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Bupati Grobogan Bambang Pudjiono sempat melihat aneka produk makanan yang dibuat dari bahan kedelai maupun tempe higienis yang dibuat disitu. Namun, dari belasan produk makanan tersebut ada satu yang membuat Bambang penasaran.

Yakni, kue donat yang dibuat dengan bahan utamanya tempe higienis produksi RKG. Untuk menyakinkan, Bambang dan istri kemudian diminta untuk mencicipi produk yang dibuat kelompok usaha bersama (KUB) Dusun Glonggong, Desa Krangganharjo itu.

”Wah, ternyata enak juga dan rasa tempenya juga tidak hilang. Dengan kue donat dari bahan utama tepung terigu, rasanya tidak kalah. Tolong dikembangkan lebih bagus biar cepat dikenal pasar,” kata Bambang pada Agus Triyono, Ketua KUB yang memproduksi kue donat tersebut.

Menurut Bambang, jika nanti terus dibina dan dikelola dengan baik maka produk makanan dari kedelai maupun tempe higienis bisa jadi oleh-oleh khas Grobogan. Selama ini, sudah ada produk lain yang jadi ciri khas Grobogan. Yakni, sale pisang yang produksinya sudah dilakukan di banyak tempat. (DANI AGUS/TITIS W)

Pembuatan RKG Diklaim Mampu Meningkatkan Pendapatan Petani

Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ditemani Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto melihat stok benih kedelai di RKG (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ditemani Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto melihat stok benih kedelai di RKG (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Keberadaan Rumah Kedelai Grobogan (RKG) yang ada di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, ternyata sudah dirancang cukup lama. Sekitar dua tahun lalu, gagasan untuk membuat RKG sudah dimunculkan.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, pembuatan RKG dilatarbelakangi keprihatinan atas kondisi perkedelaian nasional. Dimana, tiap tahun, pemerintah masih mendatangkan impor kedelai karena produksi nasional tidak mencukupi kebutuhan.

“Data tahun 2014 lalu, kebutuhan kedelai nasional sekitar 2,5 juta ton dan produksi kita totalnya 800 ton saja. Kekurangan kedelai ini terpaksa harus didatangkan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Hadirnya kedelai impor itu, disatu sisi berimbas pada penurunan harga kedelai di level petani. Sebab, kedelai lokal harganya terpaksa harus menyesuaikan dengan barang impor yang relatif lebih murah.

Berawal dari itulah, kemudian muncul wacana untuk mendirikan sebuah mini kawasan terpadu kedelai di Grobogan. Sebelum diwujudkan, persiapan awal sudah dilakukan, yakni berupaya meningkatkan produksi kedelai petani.

Saat ini, produksi kedelai di Grobogan sudah berkisar 40 – 60 ribu ton per tahun. Sementara produktivitas hasil panennya bisa mencapai 2,2 ton per hektare.

Menurut Edhie, komoditas kedelai yang dikembangkan adalah varietas Grobogan. Kedelai varietas ini sudah mendapat sertifikasi nasional dan bukan hasil rekayasa genetik atau non GMO. Hal ini, berbeda dengan kedelai impor yang merupakan hasil rekayasa genetik.

“Di RKG yang arealnya sekitar satu hektare ini bisa belajar masalah kedelai dengan lengkap. Mulai dari benih, penanaman, perawatan, panen, pengolahan pascapanen jadi aneka produk makanan, dan pemasarannya. Sejauh ini, sudah ada banyak kelompok tani atau UMKM yang belajar disini. Disamping itu, beberapa dinas dari 4 kabupaten di Jateng dan luar Jawa juga sudah pernah datang kesini,” terang Edhie. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Rumah Kedelai Jadi Ikon Baru Grobogan

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menjelaskan proses pembuatan tempe higienis di RKG pada Bupati Grobogan Bambang Pudjiono (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Edhie Sudaryanto menjelaskan proses pembuatan tempe higienis di RKG pada Bupati Grobogan Bambang Pudjiono (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Keberadaan Rumah Kedelai Grobogan (RKG) milik Dinas Pertanian TPH setempat diharapkan jadi ikon baru pada masa mendatang. Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Bambang Pudjiono saat melakukan soft opening RKG yang berada di Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh, Jumat (27/11/2015).

”Pengelola RKG saya minta agar lari cepat untuk mempromosikan keberadaan RKG ini. Harapan kedepan, RKG nantinya bisa jadi ikon untuk Kabupaten Grobogan,” katanya usai meresmikan Musala Hamdan Kaan yang berada di komplek RKG tersebut.

Menurut bupati, RKG itu bukan sekedar tempat yang dipakai untuk menampung hasil panen kedelai saja. Tetapi, menjadi tempat yang lengkap untuk sarana belajar mulai hilir hingga hulu dari sektor pertanian kedelai.

Dimana, selain ada produksi tempe higienis, ditempat itu juga tersedia benih kedelai berkualitas. Kemudian, ada pula sarana pembelajaran bagi petani dan UKM. Soalnya, ada lokasi tanam kedelai, penjemuran, hingga pengolahan beragam aneka bahan pangan dari bahan kedelai.

“Beragam makanan dari hasil olahan kedelai rasanya tidak kalah dengan produk sejenis yang sudah ada. Kalau dikelola profesional, RKG ini akan maju pesat. Dan, nantinya saya akan meminta Pak Gubernur untuk melakukan Grand Opening RKG ini,” tegas Bambang. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Sst..! Ini Rahasia Buat Kerupuk Limbah Kedelai Uenakk Ala Mintobasuki

Sri Wartini menunjukkan ampas kedelai yang akan dibuat menjadi kerupuk. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sri Wartini menunjukkan ampas kedelai yang akan dibuat menjadi kerupuk. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sri Wartini, warga Desa Mintobasuki RT 2 RW 4, Kecamatan Gabus, Pati, beberkan rahasia membuat kerupuk dari pemanfaatan limbah kedelai.

“Ampas kedelai dikukus hingga matang. Setelah itu, dicampur dengan tepung tapioka dengan perbandingan satu dibanding tiga. Fungsi tepung tapioka sebagai perekat,” katanya kepada MuriaNewsCom, Selasa (9/10/2015).

Selain ampas dan tepung, ia juga mencampurkan bumbu yang dibuat dari bawang putih, daun jeruk, ketumbar dan garam. “Semua bumbu diulek hingga halus dan dicampur bersama dengan air secukupnya,” imbuhnya.

Setelah itu, adonan dihamparkan hingga tipis lalu dijemur hingga setengah kering. “Saat setengah kering, kita potong-potong sesuai selera. Lalu, jemur lagi sampai benar-benar kering. Selanjutnya, tinggal goreng,” kata Sri sembari menata kerupuk buatannya.

Satu bungkus kerupuk kering buatannya, biasanya dihargai antara Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu. “Saya baru coba jual di tetangga dan sekolah-sekolah. Sambil ngantar anak sekolah, saya tawarkan kerupuk,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kreatif! Warga Mintobasuki Pati Sulap Limbah Kedelai Jadi Kerupuk Tinggi Protein

Sri Wartini tengah menjemur kerupuk buatannya dari limbah kedelai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sri Wartini tengah menjemur kerupuk buatannya dari limbah kedelai. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Limbah kedelai atau ampas biasanya dijadikan sebagai pakan ternak. Di tangan Sri Wartini, warga Desa Mintobasuki, RT 2 RW 4, Kecamatan Gabus, ampas kedelai disulap menjadi kerupuk yang nikmat dan bergizi.

”Selama ini, limbah kedelai yang digunakan untuk membuat tahu dijadikan pakan ternak. Dari sini, saya berpikir bagaimana caranya memanfaatkan limbah kedelai menjadi barang ekonomis yang layak dikonsumsi,” tutur Sri kepada MuriaNewsCom, Selasa (6/10/2015).

Berawal dari ide kreatif untuk memanfaatkan limbah tersebut, Sri berhasil menyulap ampas kedelai menjadi kerupuk. ”Jangan dikira ampas tahu itu bebas gizi, tetapi masih mengandung protein dan mineral yang cukup tinggi,” imbuhnya.

Karena itu, ia berharap agar kerupuk ampas tahu buatannya bisa menjadi produk yang dikenal di pasaran. ”Saat ini, pemesan kerupuk masih sebatas dari tetangga dan instansi yang memesan saja,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Pemkab Rembang Terpaksa Impor Ribuan Ton Kedelai

Para petani bersama petugas Dintanhut dan anggota TNI Rembang memanen kedelai di Desa Ringin Kecamatan Pamotan belum lama ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Para petani bersama petugas Dintanhut dan anggota TNI Rembang memanen kedelai di Desa Ringin Kecamatan Pamotan belum lama ini. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang terpaksa mengimpor kedelai guna memenuhi kebutuhan. Sebab berdasarkan hasil akumulasi ketersediaan dan kebutuhan terjadi ketimpangan. Jumlah ketersediaan kedelai di Kota Garam hanya mencapai 1.452,99 ton, namun jumlah kebutuhan menembus 8.207,79 ton. Pemkab setempat pun terpaksa impor bahan baku utama tempe dan tahu tersebut hingga 4.927,88 ton.

“Dari tujuh komoditas pangan, hanya kedelai yang harus kita cukupi dengan impor, hingga kita minus 4.927,88 ton. Kebutuhan kedelan perbulan rata-rata mencapai 1.172,54 ton, sehingga kecukupan stok pangan ke depan kita juga minus empat bulan khusus untuk kedelai,” ujar Dwi Purwanto, Kepala BKP dan P4K Kabupaten Rembang, Selasa (15/9/2015).

Dwi Purwanto mengatakan, stok padi tersedia 119.164 ton dengan jumlah kebutuhan 29.938 ton, sehingga surplus 89.226 ton dengan jumlah kebutuhan mencapai 4.276 ton. Komoditas Jagung ketersediaannya tercatat 76.574 dan tingkat kebutuhannya mencapai 1.169 ton. Sedangkan ketersediaan empat komoditas lainnya, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau masing-masing 30.006 ton, 1.281 ton 1.600 ton, 1.452 ton.

“Sebenarnya permasalahan yang akan kita hadapi jika kemarau hingga Januari 2016 bukan dari ketersediaan pangan, namun ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab dari perhitungan kebutuhan penduduk menunjukkan bahwa semua komoditas pangan aman kecuali kedelai,” kata Dwi Purwanto. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Ini Kisah Sedih Petani Kedelai di Gabus Pati

 

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Sejumlah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Melati II menunjukkan kedelai varietas Grobogan yang berhasil mereka panen. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Ironis, di tengah kesuksesan petani di Desa Babalan, Kecamatan Gabus menghasilkan kedelai varietas Grobogan berkualitas, tetapi minim perhatian dari pemerintah. Usai panen, mereka bingung mencari pengairan sawah untuk masa tanam pertama.

Hal ini mengingat kekeringan masih mengancam petani di Gabus. Bahkan, air dari Sungai Silugangga yang menjadi satu-satunya harapan tidak bisa diandalkan karena airnya asin.

“Justru kalau digunakan untuk menyiram, tanamannya mati karena air Sungai Silugangga saat ini asin akibat kekeringan. Air dari Waduk Kedung Ombo saat ini kami tungu-tunggu kedatangannya untuk menyongsong masa tanam pertama,” kata Ketua Kelompok Tani Melati Putih II, Suparno kepada MuriaNewsCom.

Namun demikian, mesin yang akan digunakan untuk menyedot air di sungai sudah rusak dan tidak layak pakai. Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa memperhatikan nasib petani di Desa Babalan.

“Memang sudah ada mesin untuk menyedot, tetapi sudah tidak layak pakai. Kalau belum ada mesin sampai air Waduk Kedung Ombo mengalir ke Desa Babalan, kami terancam tidak bisa menggunakan air untuk kebutuhan masa tanam pertama,” keluhnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Petani Kedelai di Gabus Pati Berrharap Harga Kedelai Setara Harga Benih

 

Kades Babalan Nining Sudaryati menunjukkan kadelai varietas Grobogan yagn dipanen warganya. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Kades Babalan Nining Sudaryati menunjukkan kadelai varietas Grobogan yagn dipanen warganya. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Wilayah Kecamatan Gabus memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kedelai terbesar di Kabupaten Pati. Kendati kekeringan panjang menerpa hingga tiga bulan, tetapi mereka masih bertahan dan menghasilkan panen sesuai harapan.

Jika petani di Desa Gabus sempat panen kedelai 1,8 ton per hektare, petani di Desa Babalan berhasil panen dengan menembus angka 2,2 ton per hektare.

“Alhamdulillah, petani kedelai di Babalan bisa panen 2,2 ton per hektare dengan kualitas yang bagus. Kedelai Glycine Max atau varietas Grobogan ini butirannya besar-besar. Kami senang dengan hasil ini,” kata Kades Babalan Nining Sudaryati kepada MuriaNewsCom, Kamis (10/9/2015).

Karena itu, ia berharap kepada pemerintah agar kedelai yang dipanen bisa dihargai setara dengan harga benih. “Kami benar-benar berharap agar jerih payah petani yang menghadapi kekeringan tetapi bisa menghasilkan kedelai yang berkualitas diapresiasi dengan membelinya seperti harga benih,” harapnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)