Kecelakaan Kerja Menurun, Pemprov Klaim Karena Program Ini

MuriaNewsCom, Semarang – Angka kecelakaan kerja yang terjadi Provinsi Jawa Tengah, pada tahun 2017 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penurunan angka kecelakaan kerja ini, disebut karena kesadaran budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang menguat.

Catatan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertrans) Provinsi Jateng, pada tahun 2017 angka kecelakaan kerja tercatat sebanyak 1.468 kasus.

Kepada Disnakertrans Jateng, Wika Bintang menyebut, kasus di tahun 2017 ini jauh lebih rendah bila dibandingkan pada 2015 dan tahun 2016. Ia menyebut, pada tahun 2016 kasus kecelakaan kerja tercatat sebanyak 3.083 kasus.

“Pada 2016 naik menjadi 3.665 kasus, dan 2017 menurun menjadi 1.468 kasus,” katanya dikutip dari wesite resmi Pemprov Jateng, Rabu (7/2/2018).

Ia menyebut, pihaknya gencar melakukan sosialiasi dan pembinaan tentang K3, kepada industri di Jawa Tengah. Sehingga mampu meningkatkan kesadaran perusahaan akan pentingnya budaya K3. Dan terbukti, angka kecelakaan turun drastis di 2017.

“Kita terus melakukan pembinaan, sosialisasi terus dan menyadarkan perusahaan (pentingnya K3). Tapi kalau rata-rata perusahaan besar, ada bahan baku berbahaya itu sudah mewajibkan kita tidak bisa masuk tanpa APD. Sehingga keselamatan pekerjanya terjamin,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo bersyukur angka kecelakaan kerja bisa ditekan secara maksimal.

“Kalau di Jawa Tengah mulai tahun 2015, 2016, grafiknya naik dan 2017 kemudian bisa turun maka saya menyampaikan terima kasih. Ternyata partisipasi dari perusahaan, kerja sama dengan para pengawas tenaga kerja bisa menurunkan jumlah kecelakaan kerja yang signifikan. Mudah-mudahan nanti ini bisa kita jaga, kita turunkan lagi,” terangnya.

Orang nomor satu di Jawa Tengah itu ingin perusahaan dapat menyusun dan menerapkan mekanisme kerja yang merujuk pada standar K3. Selain itu jug serius melatih tenaga kerjanya agar dapat berperilaku K3 secara tepat.

“Saya berharap betul seluruh perusahaan untuk menyiapkan SOP yang bagus, melatih karyawannya dengan baik. Kalau bekerja harus menggunakan seragam yang aman. Itu wajib. Termasuk gubernur/ bupati/ wali kota atau pejabat siapa pun yang mau menengok harus pakai uniform. Itu sebagai SOP dan contoh, sehingga nanti kita akan terbiasa melakukan itu,” harapnya.

Editor : Ali Muntoha

Korban Kesetrum Listrik di Jepara Alami Luka Bakar 60 Persen

Korban kesetrum mengalami luka bakar sedang dirawat di ruang IGD RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Korban kesetrum mengalami luka bakar sedang dirawat di ruang IGD RSUD Kartini Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang warga bernama Zaenuri, asal Desa Pendosawalan, RT 6 RW 8, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara tersengat listrik saat mengecat atap rumah milik Lutfi yang berada di Desa Tahunan Jepara, Selasa (9/2/2016) sekitar pukul 09.45 WIB. Korban dalam kondisi kritis dan dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kartini Jepara. Zaenuri diketahui mengalami luka bakar cukup parah.

Baca juga : Ngecat Tembok, Seorang Warga Jepara Ini Kesetrum Listrik Hingga Kritis

Salah satu anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Zainudin mengatakan, dari hasil pemeriksaan pihak rumah sakit, korban mengalami luka bakar mencapai 60 persen dari seluruh bagian tubuh. Luka bakar tersebut cukup parah, dan kondisinya kritis.

”Luka bakarnya cukup parah. Saat ini kondisinya masih sadar, dan sedang dalam pemeriksaan dan perawatan pihak rumah sakit,” ujar Zainudin kepada MuriaNewsCom saat berada di RSUD Kartini, Selasa (9/2/2016).

Menurutnya, beruntung saat peristiwa tersengatnya listrik dapat diketahui langsung oleh warga sekitar karena terdapat suara ledakan. Sehingga korban dapat dengan cepat diselamatkan, kemudian dibawa ke RSUD Kartini. Jika penyelamatan itu terlambat, nyawa korban terancam karena kondisinya parah.

Pihak aparat juga telah meminta keterangan kepada sejumlah saksi. Di antaranya istri korban yakni Siti Nur Hidayah, kemudian sejumlah warga termasuk yang memberikan pertolongan yakni Kuswanto dan Supartono, warga sekitar lokasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa ini bermula dari korban, yakni Zaenuri sedang bersih-bersih rumah Lutfi. Saat mau mengecat tembok bagian atas di lantai dua, Zaenuri melihat ada plafon yang basah. Curiga ada yang rusak, dia naik tetapi terkena kabel listrik.

Kemudian Zaenuri pun tersengat listrik hingga tak sadarkan diri di atas lantai dua rumah tersebut. Sontak, ketika Zaenuri kesetrum, terdengar suara ledakan. Kemudian warga sekitar melihat sumber ledakan ternyata diketahui Zaenuri bergelantung di atas rumah tersebut. Kemudian warga sekitar menolong korban dan menghubungi pihak berwajib.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ngecat Tembok, Seorang Warga Jepara Ini Kesetrum Listrik Hingga Kritis

Korban tergelantung di atas rumah warga usai tersengat listrik. (MuriaNewscom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Korban tergelantung di atas rumah warga usai tersengat listrik. (MuriaNewscom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa nahas kembali terjadi di Kabupaten Jepara. Kali ini seorang warga Desa Pendosawalan, RT 6 RW 8, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Zaenuri tersengat listrik hingga kritis. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09.45 WIB, Selasa (9/2/2016) di rumah Lutfi, yang berada di Desa Tahunan, Jepara.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, peristiwa ini bermula dari korban, yakni Zaenuri sedang bersih-bersih rumah Lutfi. Saat mau mengecat tembok bagian atas di lantai dua, Zaenuri melihat ada plafon yang basah. Curiga ada yang rusak, dia naik tetapi terkena kabel listrik.

Kemudian Zaenuri pun tersengat listrik hingga tak sadarkan diri di atas lantai dua rumah tersebut. Sontak, ketika Zaenuri kesetrum, terdengar suara ledakan. Kemudian warga sekitar melihat sumber ledakan ternyata diketahui Zaenuri bergelantung di atas rumah tersebut. Kemudian warga sekitar menolong korban dan menghubungi pihak berwajib.

Sampai berita ini ditulis, Zaenuri dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RA Kartini Jepara. Dua dirawat intensif di ruang instalasi gawat darurat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kesetrum, Kuli Bangunan di Ngembalrejo Kudus Kritis

Lokasi kecelakaan buruh bangunan yang tersetrum listrik di rumah Rohmad di Ngembalrejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

Lokasi kecelakaan buruh bangunan yang tersetrum listrik di rumah Rohmad di Ngembalrejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Nasib nahas menimpa Supon (56), Warga Dukuh Kayuapu, RT 3 RW 5, Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae, Kudus, Rabu (2/12/2015). Pria yang menjadi kuli bangunan tersebut tersetrum listrik saat mengerjakan bangunan fondasi rumah milik Rohmad (69), Warga Desa Ngembalrejo RT 2 RW 1 , Bae, Kudus.

Sejauh ini, korban hanya mengalami luka dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus, guna mendapatkan perawatan intensif.

Penuturan Rohmad, kejadian itu sekitar 09.00WIB saat korban baru selesai melakukan pengerjaan fondasi rumah.

“Kalau kejadiannya saya tidak tahu persis. Pak Supon sudah dibawa ke RS Mardi Rahayu oleh anak saya Doni Hermawan untuk dirawat. Setahu saya, Pak Supon itu karena terkena kabel listrik yang berada di atas persis bagunan. Sebab yang difondasi itu ialah kamar anak saya yang ada di lantai dua,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Korban Runtuhnya Jobong Belum Ditemukan, BPBD Blora Gunakan Alat Berat

Alat berat digunakan tim BPBD Kabupaten Blora untuk memudahkan pencarian korban yang tertimbun reruntuhan batu akibat runtuhnya jobong. (MuriaNewsCom/Priyo)

Alat berat digunakan tim BPBD Kabupaten Blora untuk memudahkan pencarian korban yang tertimbun reruntuhan batu akibat runtuhnya jobong. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Warga Dukuh Desa Wanutengah RT 01 RW 01 Kecamatan Bogorejo, dikagetkan dengan runtuhnya jobong pembakar batu untuk pembuatan gamping. Runtuhnya jobong yang terjadi sekitar pukul 04.30 WIB dini hari tadi, menarik perhatian sejumlah warga sekitar untuk datang melihatnya.

Dari peristiwa tersebut, terdapat salah satu korban yang tertimbun bebatuan. Untuk bisa mengevakuasi korban, pihak BPBD Kabupaten Blora yang dibantu Polsek Bogorejo, terpaksa menggunakan alat berat untuk mengeruk runtuhan batu.

”Kami gunakan satu alat berat berupa bego untuk mengeruk batu-batu, yang menutupi satu pekerja yang merupakan korban runtuhnya jobong untuk dievakuasi,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Blora Sri Rahayu, Sabtu (26/9/2015).

Sementara itu Kapolsek Bogorejo Iptu Putoro Rambe mengungkapkan, saat ini pihaknya juga masih terus berupaya untuk mengevakuasi korban dari runtuhan jobong.

”Kami bersama tim terus berusaha untuk mengevakuasi korban. Oleh karena itu kami mohon kerja samanya agar korban segera ditemukan,” imbuhnya. (PRIYO/TITIS W)

Satu Pekerja Tewas Dalam Peristiwa Ambrolnya Jobong di Blora

Beberapa orang sedang melihat lokasi kejadian ambrolnya jobong (MuriaNewsCom/Priyo)

Beberapa orang sedang melihat lokasi kejadian ambrolnya jobong (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Warga Desa Wanutengah Rt 01/01, Kecamatan Bogorejo, Blora dikagetkan dengan runtuhnya jobong pembakar batu untuk pembuatan gamping. Runtuhnya jobong, terjadi Sabtu (26/9/2015) sekitar pukul 04.30 WIB.

“Saat itu saya sedang menaikan batu dengan mesin didalam jobong, tahu-tahu jobong tersebut ambrol kebawah,” ujarsalah satu pekerja Eko Santosa, Sabtu (26/9/2015)

Ketika melihat kejadian itu, ia bersama teman lainnya langsung bergegas turun kebawah untuk melihat kondisi rekan kerja lainnya.

“Saya langsung turun bersama teman saya yang diatas untuk melihat teman saya yang ada dibawah dengan menggunakan senter,” imbuhnya.

Dalam kejadian ini, ada tiga orang yang sedang bekerja didalam jobong untuk mengambil batu yang telah dibakar dari ketiganya tersebut bernama, Wajib, Kosim dan Tarno.

” Untuk korban bernama Wajib berusia 47 (tahun) warga Dukuh Ketringan,Desa Nglengkir, Kecamatan Bogorejo.Saat itu, korban saat hendak mengambil batu yang telah dibakar, sedangkan Kosim dan Tarno berhasil menyelamatkan diri dari ambrolnya jobong ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Agus salah satu pekerja lain mengatakan, kejadian bermula saat para pekerja melakukan kegiatan masing-masing.Tiba-tiba jobong yang tingginya kurang lebih 4meter ini ambrol kebawah.

“Tadi pagi dapat kabar pukul 04.45 WIB ada salah satu jobong milik bos saya Ramuji runtuh. Saya dibangunkan dan langsung melihat kelokasi dan melaporkan kepada pihak yang berwajib,” terangya.

Kejadian runtuhnya jobong ini, masih ditangani oleh pihak kepolisian bersama pihak BPBD Kabupaten Blora untuk mengevakuasi korban. (Priyo/Kholistiyono)

Waduh, Kecelakaan Kerja di Jepara Jumlahnya Tinggi

Ilustrasi Kecelakaan kerja

Ilustrasi Kecelakaan kerja

 

JEPARA – Kecelakaan kerja yang terjadi pada pekerja di Jepara jumlahnya tergolong tinggi. Sejak awal tahun hingga saat ini telah terjadi 80 lebih peristiwa kecelakaan kerja yang terjadi.

Data tersebut disampaikan Pengawas Tenaga Kerja pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara, Muktiati.

Menurut Muktiati, jumlah tersebut masih sangat mungkin belum mengkover semuanya. Sebab, data tersebut didapatkan dari para pekerja yang terdaftar menggunakan BPJS Ketenagakerjaan. Sedangkan yang tidak menggunakannya, belum terkover.

“Sangat mungkin masih banyak kasus kecelakaan kerja yang terjadi. Sebab, data itu yang menggunakan BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Muktiati kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, masih ada sejumlah perusahaan yang belum mengikutsertakan pekerjanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Dia berharap dengan banyaknya kasus tersebut diharapkan semua perusahaan mendaftarkan pekerjannya dalam program jaminan kesehatan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ini Sikap Pabrik Semen Rembang  Soal Kecelakaan Kerja

kecelakaan-pabrik-semen-rembang-2

Ilustrasi Kecelakaan Kerja

 

REMBANG  –   Sekretaris PT Semen Indonesia (sebelumnya disebut  PT Semen Indonesia Rembang) , Agung Wiharto saat dikonfirmasi membenarkan tentang adanya kecelakan kerja di lingkup proyek pembangunan pabrik semen.

Namun, ia mengaku belum menerima informasi detail soal kronologi pasti kejadian. Hanya, menurutnya kecelakan kerja itu merupakan tanggung-jawab sepenuhnya pihak kontraktor.

“Kami pastikan perusahaan akan bertanggung-jawab penuh terhadap pengobatan korban luka, dan juga santunan untuk korban meninggal dnia. Semuanya telah didaftarkan ke BPJS,” tandas Agung

Kepala Bagian Humas RSUD dr Soetrasno, Giri menyebutkan, korban kecelakaan kerja PT Semen Indonesia  dirawat di Rembang mengalami luka patah tulang tangan serta kaki kanan. Korban dalam kondisi tersadar.

“Korban saat ini  masih berada di UGD. Rencananya korban akan rawat inap di ruang melati kelas II,” jelas Giri. (AKROM HAZAMI)

Korban Kecelakaan Kerja Pabrik Semen Rembang, Apakah Dapat Santunan?

Mayat-1

 

REMBANG – Para korban baik yang meninggal dunia, ataupun yang luka-luka dalam kecelakaan kerja di  area proyek plant site PT Semen Indonesia Rembang (SIR), di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Minggu (30/8/2015), pukul 03.30 WIB, belum jelas apakah dapat santunan.

Keterangan Kapolres Rembang AKBP Winarto kepada MuriaNewsCom, Minggu, polisi telah meminta pihak PT SIR untuk bertanggung jawab kepada korban.

“Kami minta perusahaan untuk menyelesaikan hak-hak korban dulu,” kata Winarto.

Pihaknya sengaja belum meminta keterangan lebih dalam kepada PT SIR soal insiden. Karena yang penting, adalah pemenuhan hak korban lebih dulu.

Korban adalah Basri, merupakan korban meninggal dunia di TKP. Korban merupakan warga Desa Sumber, Kecamatan Randu Blatung Blora. “Korban tewas dikuburkan hari ini di kampung halamannya,” kata Kapolres Rembang AKBP Winarto saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu.

Korban kedua adalah, Slamet mengalami luka-luk seperti di leher, dan beberapa anggota tubuh lainnya. Slamet merupakan warga Desa Mulus, Kecamatan Randu Blatung, Blora.
Selanjutnya korban luka lainnya adalah Kasdullah yang juga satu desa dengan Slamet.

Saat kejadian ada satu korban yang selamat atau tidak mengalami luka. Yakni Hadi, juga satu desa dengan Slamet. (AKROM HAZAMI)

Beginilah Kondisi Lokasi Kecelakaan Kerja Pabrik Semen Rembang Sekarang

Mayat-1

 

REMBANG – Saat ini, lokasi kecelakaan pabrik semen di di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Minggu (30/8/2015), pukul 03.30 WIB, masih mendapatkan pengawasan polisi.

Kapolres Rembang AKBP Winarto kepada MuriaNewsCom, Minggu, menceritakan, kondisi lokasi kecelakaan tidak dilakukan aktivitas pekerjaan.

“Kami telah beri police line (garis polisi,red) di lokasi,” kata Winarto.

Hal itu untuk mempermudah penyelidikan polisi soal insiden yang menewaskan satu pekerja dan dua lainnya luka-luka.

Seperti diketahui, kecelakaan kerja terjadi di  area proyek plant site PT Semen Indonesia Rembang (SIR), di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Minggu (30/8/2015), pukul 03.30 WIB. (AKROM HAZAMI)