Api di Lereng Muria yang Merembet ke Wilayah Jepara Padam Terguyur Air Hujan

Asap tebal mengepul dari puncak Gunung Abiyasa yang berada di kawasan Pegunungan Muria. (BPBD Kudus)

MuriaNewsCom, Jepara – Api yang sempat membakar kawasan lereng Muria telah padam akibat guyuran hujan yang terjadi pada Minggu (24/9/2017) sore. Hal itu merupakan kabar gembira, sebab api yang menjalar ke wilayah Jepara pun turut padam. 

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo mengungkapkan hal tersebut, Senin (25/9/2017). Hal itu sesuai dengan rapat koordinasi dengan Perhutani dan Mantri Hutan Batealit. 

“Informasi yang kami terima, api yang sebelumya menjalar hingga ke petak 64 RPH/Kemantren Batealit juga telah padam karena terguyur hujan pada Minggu sore,” ujarnya. 

Baca Juga: Api yang Membakar Kawasan Hutan Muria Masih Jauh dari Permukiman Warga Jepara

Ia menambahkan, sampai dengan Senin pagi keadaan hutan RPH Batealit masih dalam keadaan terkendali. 

Sebelumnya diberitakan, pada hari Sabtu (23/9/2017), api yang sempat membakar kawasan lereng Muria di Kabupaten Kudus sempat merembet ke Kabupaten Jepara. Hal itu karena angin bergerak ke arah barat. 

Oleh karenanya BPBD Jepara bersama relawan dan warga melakukan pantauan untuk mengantisipasi jikalau api sampai ke permukiman warga. Pemantauan api dilakukan di Bukit Toklik Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling. 

Dari pantauan tersebut, api diketahui masih berada jauh dari permukiman warga. 

Editor: Supriyadi

Pegunungan Muria Kawasan Abiyoso Terbakar

Asap tebal mengepul dari puncak Gunung Abiyasa yang berada di kawasan Pegunungan Muria. (BPBD Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Panas hebat yang melanda Kabupaten Kudus memicu kebakaran pegunungan Muria, kawasan Pendakian puncak Abiyoso. Kebakaran terjadi mulai pagi tadi. Kini luas lahan yang terbakar semakin meluas.

Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan mengatakan, saat ini sudah dilakukan penyisiran lokasi kebakaran dengan menggunakan dron. Hasilnya, hingga Jumat (22/9/2017) sore, panjang lahan pegunungan yang terbakar mencapai satu kilometer. 

“Untungnya yang terbakar bukanlah hutan muria, melainkan semak-semak yang ada di pegunungan. Jadi kondisi masih cukup aman,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, yang bisa dilakukan kini hanya memantau lokasi kebakaran saja. Karena, upaya pemadaman akan sangat sulit lantaran membutuhkan waktu berjam-jam untuk tiba di lokasi kebakaran. Selian itu, medan yang dilalui juga cukup terjal sehingga susah membawa alat pemadam

Saat ini, lanjut dia, komunikasi dengan pihak perhutani dan instansi terkait nasih digalakkan guna memantau perkembangan lebih lanjut kondisi pegunungan. Jika lahan yang terbakar makin meluas dan mengancam masyarakat di Desa Rahtawu, Gebog, maka langkah yang dilakukan adalah pemadaman darurat.

“Seperti kalau sudah mendekati pemukiman warga, maka harus dipadamkan. Atau minimal sudah dekat dengan perkebunan warga juga akan diambil tindakan,” jelasnya.

Pihaknya menunggu hingga besok pagi perkembangan pegunungan yang terbakar. Bahkan direncanakan ada relawan yang naik gunung, untuk memastikan perkembangan di sana.

Editor: Supriyadi

Kabakaran Lahan Jati di Sambirejo Grobogan Bikin Panik Puluhan Penjual Degan

Salah satu warga berjaga-jaga agar kobaran api yang membakar lahan jati tak merembet ke warung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan penjual degan atau kelapa muda di pinggir jalan raya Purwodadi-Blora sempat kalang-kabut. Hal ini terjadi setelah dedaunan kering di bawah areal pohon jati yang ada di belakang deretan warung terbakar, Kamis (14/9/2017) malam.

Dari pantauan di lapangan, puluhan pedagang terlihat bersiaga di sekitar warung untuk mengantisipasi agar kobaran api tidak menjalar ke tempat jualan mereka, yang lokasinya masuk wilayah Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari tersebut.

Tindakan itu dilakukan karena areal yang terbakar hanya berjarak sekitar 2 meter dari warung.

Beberapa pedagang terlihat langsung mengambil tindakan ketika arah kobaran api mendekati warung. Sebelum membesar, pedagang berupaya melakukan pemadaman dengan cara memukul kobaran api menggunakan kayu dan bambu.

“Di belakang warung ini banyak tumpukan kulit dan batok kelapa yang sudah kering. Oleh sebab itu, kami harus mencegah kobaran api mendekat,” kata Susilowati, salah seorang pedagang yang terlihat cukup sibuk memadamkan kobaran api yang mendekati warungnya.

Baca : Buat Status Facebook, Siswa Kebumen Ditangkap, Penasaran? Baca Ini

Di sepanjang jalan raya tersebut, ada sekitar 30 warung yang hampir semuanya berjualan degan. Bangunan warung bentuknya sederhana dan terbuat dari bahan bambu dan papan.

Saat kejadian, kondisi warung sudah tutup. Namun, perabotan yang digunakan untuk jualan masih ditinggal di dalam warung oleh pemiliknya. Seperti bangku, kursi dan balai bambu dan rak kayu.

Para pedagang biasa berjualan dari pagi hingga menjelang petang. Mereka mendapat kabar areal jati terbakar setelah Isya, sekitar pukul 19.15 WIB.

“Saya dikabari tetangga yang kebetulan lewat dan melihat lahan jati di belakang warung terbakar. Kemudian, saya mengabari beberapa kawan lainnya dan meluncur ke sini untuk berjaga-jaga,” ungkap Purwanto, pedagang lainnya.

Hingga sekitar pukul 21.00 WIB, kobaran api masih terlihat cukup besar. Namun, lama kelamaan kobaran api makin mengecil karena dedaunan dan ranting kering sudah habis terbakar.

Belum diketahui pemicu terjadinya kebakaran di lahan jati itu. Pedagang menduga, kebakaran terjadi karena ada orang lewat yang membuang puntung rokok sembarangan.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Kakek 65 Tahun di Tanjungharjo Grobogan Tewas Terpangang

Baca : Hafidin, Bocah 10 Tahun yang Hidupi Ibu dan Kakeknya di Banjarnegara, Dikunjungi Gubernur

Kebakaran di Lereng Gunung Bikin Pusing Pemadam

Kebakaran lereng Gunung Muria tahun 2015 lalu. BPBD Jateng mengantisipasi kerawanan kebakaran di areal gunung di musim kemarau tahun ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Musim kekeringan yang melanda seluruh wilayah di Jawa Tengah menjadikan kerawanan kebakaran menjadi semakin tinggi. Tak hanya di perumahan, kawasan hutan, lereng pegunungan, dan lahan tebu mempunyai kerawanan terbakar yang cukup besar.

Bahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah sangat mengantisipasi adanya kebakaran di kawasan pegunungan. Pasalnya, kebakaran di pegunungan akan sangat menguras energi, karena minimnya sumber daya seperti akses ke sumber air, sehingga pemadaman sangat lambat.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana tak menginginkan kejadian pada tahun 2015 lalu terulang. Pada tahun itu, hampir semua gunung yang ada di Jawa Tengah mengalami kebakaran.

Oleh karenanya, sejak memasuki musim kemarau pihaknya mulai menyiagakan personel dan peralatan yang ada di kawasan pegunungan yang rawan terbakar.

Beberapa gunung yang rawan terbakar pada musim kemarau tahun ini yakni Gunung Gandul Kabupaten Wonogiri, lereng Gunung Tidar Magelang, lereng Gunung Merapi, dan Gunung Lawu, serta lahan tebu di Kabupaten Kudus.

Ia menyebut tantangan yang dihadapi dalam menghadapi kebakaran gunung pada musim kemarau tahun ini lebih berat daripada tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, hal tersebut karena ketersediaan sumber air kini sangat minim.

“Di gunung-gunung tidak ada sumber mata air yang mencukupi. Kalaupun ada jaraknya sangat jauh sehingga jika ada kebakaran di kaki gunung kita harus mengambil air terlampau jauh,” ujarnya.

Kondisi seperti itu ditemui BPBD saat berusaha memadamkan api di lahan tebu yang dua kali terbakar di Kabupaten Kudus. “Semua pihak perlu mengantisipasi naiknya temperatur udara ditambah tiupan angin kencang saat puncak kemarau selama September,” katanya.

Sarwa mengimbau kepada masyarakat agar tidak membakar lahan kering, termasuk para pendaki gunung juga diminta tidak menyalakan api unggun saat mendaki gunung.

“Yang paling utama itu petani setempat jangan membakar lahannya karena percikan api mudah merembet ke pepohonan yang memicu kebakaran hutan,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kiat Perhutani KPH Purwodadi Cegah Kebakaran Hutan

Sejumlah personel Satuan Pengendali Kebakaran (Satdalkar) Hutan KPH Purwodadi berupaya memadamkan api yang membakar kawasan hutan beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Musibah kebakaran di wilayah hutan terutama saat musim kemarau ternyata sudah menjadi perhatian serius dari Perhutani KPH Purwodadi Grobogan.

Untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran, beberapa langkah antisipasi sudah dilakukan. Salah satunya meningkatkan kesiagaan personel yang tergabung dalam Satuan Pengendali Kebakaran (Satdalkar) Hutan.

“Ada beberapa posko Satdalkar di wilayah KPH Purwodadi. Tugas utama Satdalkar ini adalah melakukan pemadaman ketika terjadi kebakaran hutan. Anggota Satdalkar selalu apel siaga rutin,” jelas Administratur KPH Purwodadi Dewanto, Selasa (29/8/2017).

Dijelaskan, selain petugas Perhutani, anggota Satdalkar ini juga diisi pihak luar. Antara lain, dari anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Anggota Satdalkar ini sebelumnya sudah mendapat serangkaian pelatihan dasar pemadaman kebakaran berikut penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).

Untuk mendukung tugas pemadaman, lanjut Dewanto, di setiap posko Satdalkar juga dilengkapi peralatan. Yakni, APAR dan alat pemadaman api tradisional. Dengan adanya peralatan maka akan memudahkan petugas untuk menangani jika terjadi kebakaran hutan sewaktu-waktu.

Selain mengatasi kebakaran, fungsi Satdalkar juga memberikan serangkaian sosialisasi pada masyarakat. Yakni, meminta masyarakat agar tidak menyulut api sembarangan di kawasan hutan, karena bisa menyulut kebakaran yang lebih besar.

Masyarakat sekitar hutan juga diminta agar tidak membakar sisa hasil panen tanpa pengawasan.

Menurut Dewanto, pada musim kemarau seperti ini, tingkat kerawanan terjadinya  kebakaran hutan memang sangat tinggi. Sebab, banyak daun dan semak yang mengering sehingga mudah sekali terbakar.

“Selama ini memang sempat terjadi peristiwa kebakaran hutan di wilayah KPH Purwodadi. Tetapi skalanya tidak begitu besar karena cepat ditangani,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Kebakaran Hutan di Jepara Ancam Perkampungan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Dikabarkan hutan di lereng gunung Muria wilayah Jepara kembali terbakar. Kali ini diperkirakan 10 hektare lahan telah terbakar di kawasan Kecamatan Batealit. Kebakaran terjadi mulai pukul 13.00 WIB, dan dapat dikendalikan oleh warga dengan peralatan seadanya sekitar pukul 16.30 WIB, Selasa (27/10/2015).

Kebakaran itu sempat membuat warga desa tak jauh dari lokasi khawatir. Sebab warga takut kalau api akan merambah ke rumah penduduk. Selain itu, juga memperparah kerusakan pipa air yang sebelumnya juga rusak akibat kasus kebakaran yang sama, sepekan lalu.

Salah seorang warga setempat, Slamet mengatakan, hutan yang terbakar masuk wilayah Hutan Lindung Nogosari yang terletak sebelah utara hutan pinus (Setro) Dukuh Cabe, Desa Batealit.

“Beruntung di sekitar lokasi kebakaran ada saluran pipa air. Jadi dimanfaatkan warga untuk memadamkan api,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, warga membawa ember dan peralatan lainnya untuk
memadamkan api. Termasuk juga menggunakan ranting pohon. Semak dan daun kering dibersihkan untuk mencegah api merembet.

“Api lebih banyak membakar semak dan daun kering. Sebab kondisi hutan
memang tidak terlalu lebat,” ungkapnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

KEBAKARAN HUTAN : Kebakaran di Lereng Gunung Muria Dipastikan Telah Padam

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Muria wilayahKabupaten Jepara dipastikan telah padam. Kepastian tersebutdisampaikan pihak Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Jepara, Kepolisian setempat serta aktifis peduli lingkungan.

Perhutani, melalui KRPH Sumanding GKPH Gajah Biru KPH Pati Senimanmengatakan, api dipastikan telah padam setelah dilakukan pemadamansecara manual dengan bantuan warga dan relawan SAR.

“28 hektare hutan lindung milik Perhutani di wilayah Kabupaten Jeparaterbakar, sejak kemarin. Tapi saat ini sudah padam,” kata Seniman.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kebakaran yang terjadidi Gunung Ngebos lereng Gunung Muria telah berhasil dipadamkan.Menurutnya pemadaman berhasil dilakukan pada pukul 23.00 WIB malamtadi.“Kebakaran yang terjadi kemarin sudah dapat dipadamkan,” katanya.

Lebih detail dikatakan aktifis lembaga peduli hutan, Amin Ayahudi.Menurutnya, untuk peristiwa kebakaran kemarin berhasil dipadamkanmalam tadi. Tapi, pagi hari tadi muncul api di lokasi yang sama.“Tapi menjelang siang tadi sudah dapat dipadamkan,” kata Amin.

Hal senada dikatakan Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono. Diamengatakan, pihaknya telah memastikan peristiwa kebakaran hutan yangada di wilayah perbatasan Desa Papasan, Kecamatan Bangsri dengan DesaTempur, Kecamatan Keling.“Semalam sekitar pukul 23.00 WIB sudah dapat dipadamkan,” kata Timbul. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

KEBAKARAN HUTAN : Perhutani Pastikan 28 Hektare Hutan Lindung di Jepara Terbakar

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pihak Perhutani melalui KRPH Sumanding GKPH Gajah Biru KPHPati Seniman mengatakan, jika kabar kebakaran hutan di lereng Gunung Muriawilayah Kabupaten Jepara memang terjadi.Kebakaran terjadi sejak Selasa (20/10/2015)kemarin. Bahkan, Rabu (21/10/2015) pagi tadi, diketahui kembali muncul
api yang membakar hutan.

Seniman mengatakan, sebanyak 28 hektare hutan lindung milik Perhutanidi wilayah Kabupaten Jepara terbakar, sejak kemarin. Puluhan hektareitu tersebar di tiga titik. Masing-masing di petak 63 Desa Dudakawu,Kecamatan Kembang seluas 10 hektare, petak 7 di Desa Papasan, Kecamatan
Bangsri seluas 8 hektar serta di Petak 14 dan Petak 15 Desa Sumanding,Kecamatan Kembang seluas 10 hektare.

”Kejadian kebakaran sejak kemarin, ada beberapa titik. Lokasinyamemang cukup jauh dan tinggi, sehingga pemadaman dilakukan dengan caramanual,” kata Seniman kepada MuriaNewsCom, Rabu (21/10/2015).

Hal senada juga disampaikan aktifis lembaga peduli hutan, AminAyahudi. Menurut dia, kebakaran kemarin sudah berhasil dipadamkansampai malam hari. Namun, pagi tadi api kembali menyala dankepulan asap pun terlihat.

“Api kembali nyala pagi tadi, tapi berhasil dipadamkan. Pemadamandilakukan oleh Perhutani dibantu warga dan relawan SAR,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Lagi, Hutan di Jepara Terbakar

Ilustrasi

Ilustrasi

 

JEPARA – Hutan di kawasan Gunung Muria di wilayah Kabupaten Jepara kembali terbakar. Kali ini, kebakaran hutan terjadi di tiga titik lokasi, di antaranya yaitu kawasan Lereng Candi Angin, Desa Tempur
Kecamatan Keling, hutan Desa Dudak Awu, Kecamatan Kembang dan hutan Desa Papasan, Kecamatan Bangsri.

Salah satu warga peduli hutan Amin Ayahudi mengatakan, dari laporan Lembaga Masyarakat Peduli Hutan (LMPH), setidaknya pada hari Selasa (20/10/2015) terjadi kebakaran hutan di tiga titik lokasi di kawasan Lereng Muria.

“Ada tiga laporan dari masing-masing lokasi tersebut, bahwa pada siang hari telah terjadi kebakaran hutan,” ujar Amin.

Lebih detail dikatakan, wilayah yang terbakar yaitu Lereng Candi Angin sebelah barat, dan Hutan Papasan sebelah timur. Saat ini, diperkirakan api, nyaris mengarah ke Dukuh Jabung, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji.

Dikatakan Amin, mulai dari Lereng Candi Angin hingga Hutan Papasan bisa mencapai puluhan hektare. Jika hal ini tidak segera ditangani, maka dikhawatrkan api akan merembet dan mengancam ke perkampungan warga.“Kami berharap, agar masyarakat di sekitar Lereng Muria untuk selalu waspada,” imbuhnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, sampai berita ini diturunkan belum mengetahui secara pasti peristiwa tersebut. Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo
mengatakan, pihaknya masih mencari informasi yang valid atas kabar tersebut. Sebab, lokasi yang dikabarkan kebakaran tersebut cukup jauh dari wilayah kota, sehingga membutuhkan waktu untuk cek lokasi. “Kami masih mencari informasi yang valid,” ucap Pujo. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Kerugian Kebakaran Hutan Jepara Capai Puluhan Juta

Api masih membara di hutan yang ada di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Api masih membara di hutan yang ada di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kebakaran yang terjadi di hutan Desa Bategede Nalumsari Jepara, pada Jumat (16/10/2015) kemarin telah membakar sebagian pepohonan. Kerugian dari peristiwa tersebut ditaksir sebesar Rp 20 juta.

“Yang terbakar hanya sebagian kayu dan semak yang ada di hutan. Kerugian sekitar Rp 20 jutaan,” ujar Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Sabtu (17/10/2015).

Beruntung api yang membakar hutan tidak sampai ke area perkampungan warga. Sebab, jarak lokasi kebakaran dengan area perkampungan tidak terlalu jauh. Warga sekitar berhasil memadamkan api dengan peralatan seadanya.

Kebakaran diduga terjadi karena putung rokok yang dibuang oleh warga yang sedang mencari burung. Dugaan tersebut didapatkan usai melakukan olah TKP dan memintai keterangan sejumlah saksi.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara melalui Kasi Kedaruratan dan Rekonstruksi Pujo Prasetyo mengatakan, kebakaran yang terjadi tidak terlalu besar. Tak ada korban jiwa dalam musibah ini.

“Untuk itu, kami mengimbau agar masyarakat selalu berhati-hati terhadap potensi terjadinya kebakaran. Terutama jangan sampai memicu terjadinya kebakaran seperti membuang putung rokok sembarangan dan membakar sampah,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Betapa Sepelenya Penyebab Kebakaran Hutan Bategede Jepara

Warga tampak berada di lokasi kebakaran hutan di Desa Bategede, Nalumsari, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga tampak berada di lokasi kebakaran hutan di Desa Bategede, Nalumsari, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Betapa sepelenya penyebab kebakaran di Jepara. Ya, kebakaran yang terjadi di hutan seluas 50 hektare milik Perhutani di Desa Bategede, Nalumsari, Jepara, Jumat (16/10/2015), diduga karena puntung rokok. Hal itu disampaikan Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiono kepada MuriaNewsCom, Sabtu (17/10/2015).

Menurut Sugiono, dugaan sementara memang ada warga dalam hal ini pencari burung di hutan yang membuang putung rokok secara sembarangan.

Sehingga mengenai daun dan tetumbuhan kering. Kemudian apinya merembet. “Dari keterangan saksi yang kami terima, api berasal dari arah hutan. Sehingga dugaannya seperti itu,” kata Sugiono.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait  kebakaran tersebut. Sementara ini belum ada dugaan lain penyebab kebakaran termasuk adanya kesengajaan dari warga.

Ketiga saksi yang telah dimintai keterangan adalah Rusmadi (45), Rasim (47), dan Supomo. Ketiganya merupakan warga desa setempat yang  kebetulan melihat langsung kejadian kebakaran tersebut. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Kerugian Materiil Kebakaran Hutan Bategede Capai Puluhan Miliar Rupiah

Kebakaran-Hutan-4

Salah seorang warga sedang berada di lahan yang bekas terbakar (MuriaNewsCom/Supriyadi)

JEPARA – Kerugian akibat kebakaran hutan di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara ditaksir mencapai puluhan miliar. Ini mengingat banyaknya pohon jati dan mahoni yang ikut terbakar dengan diameter antara 25-35 sentimeter.

“Memang banyak yang masih berdiri. Tapi bagian bawah sudah jadi arang. Kalaupun bisa hidup mungkin akan berlubang, bahkan bisa jadi langsung mati,” kata Kamituo Desa Bategede, Heri Purwanto.

Ia menyebutkan, saat ini Hutan Bategede memang banyak puhon-pohon besar. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan. Hal inilah yang membuat kawasan Hutan Bategede dikenal lebih rimbun sebagai paru-paru kabupaten. Bahkan terkenal dengan wisata hutan pinus serni.

“Tapi kalau sudah terbakar begini, kemungkinan akan ditebang. Kalau tidak nanti bagian bawah keropos dan roboh,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, tanah yang telah terbakar tak bisa ditanami pepohonan langsung. Melainkan menunggu beberapa waktu supaya dangkel kayu keropos.

“Kalau tidak begitu, ya tidak ada tempat menanam. Karena sejauh ini lahan sudah rapat dengan tanaman mahoni dan jati,” tandasnya.

Heri menambahkan, untuk lahan produktif juga kena dampaknya. Terutama petani cengkeh yang harus gigit jari, mengingat tanaman cengkeh siap panen ikut hangus terbakar.

“Tanaman cengkeh memang tidak tersentral. Tapi kalau dihitung-hitung, totalnya mencapai 10 hektare. Sebagai contoh di dusun kambangan. Disitu mayoritas warga menanam cengkeh,” katanya. (SUPRIYADI/KHOLISTIONO)

Dusun Kambangan Nyaris Rata dengan Tanah Karena Amukan Api dari Hutan Bategede

kebakaran-(3)

Kondisi sebagian hutan Bategede yang terbakar, dan kini apinya sebagian sudah padam (MuriaNewsCom/Supriyadi)

 

JEPARA – Kebakaran hutan di Desa Bategede memang belum sepenuhnya. Puluhan warga Dusun Kambangan Kulon Kali, Jumat (16/10/2015) malam pun harus berjaga-jaga untuk mengintai aksi Si Jago Merah.

Ini lantaran, saat kebakaran terjadi, dusun yang berada sekitar 15 kilometer dari Balaidesa Bategede itu hampir saja dijilat api. Beruntung warga tanggap dan langsung menyiapkan air untuk membasahi tanah perbatasan dusun dan hutan.

“Tadi malam kami tidak ada yang tidur. Semua berjaga melihat api. Apalagi masih ada asap. Khawatirnya api tiba-tiba menjalar hingga perkampungan,” kata Rasem, Warga Dusun Kambangan, Desa Bategede, Sabtu (17/10/2015).

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, sekitar pukul 15.00 WIB, rumah milik Sairin warga setempat hampir terbakar. Ini karena, pohon jati yang berada di belakang rumah tengah meranggas.Daun yang kering tiba-tiba terkena percikan api yang terbawa angin. Beruntung, api tidak membesar.

“Kemarin itu anginya tidak wajar. Daun yang ada di tanah bisa berterbangan karena kencangnya angin,” ujarnya.

Sementara itu, Kamituo Desa Bategede Heri Purwanto meminta warga dusun kambangan tetap tenang. Saat ini titik api di kawasan hutan rakyat dekat pemukiman penduduk sudah padam. Beberapa titik api yang masih ada hanya di hutan pinus bagian barat.

“Tadi saya mendapat kabar, api tinggal sedikit. Bahkan beberapa warga Tempur juga ada yang ikut mengecek. Khawatirnya, Hutan Tempur yang berbatasan dengan Hutan Bategede juga terkena. Tapi sepertinya api memang sudah jinak,” tambahnya. (SUPRIYADI/KHOLISTIONO)

Sepuluh Hektar Kebun Cengkeh Siap Panen Juga Ikut Ludes Dilalap Si Jago Merah

kebakaran (e)

Kondisi sebagian hutan yang terbakar dan apinya telah padam (MuriaNewsCom/Supriyadi)

 

JEPARA – Kebakaran hutan yang terjadi di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara, juga berimbas terhadap perkebunan cengkeh milik warga. Setidaknya, ada sekitar 10 hektar kebun cengkeh siap panen juga ikut ludes terbakar.

”Akibat kebakaran ini, 35 hektare lebih hutan rakyat yang ditanami jati dan mahoni jadi makanan empuk si jago merah. Bahkan,10 hektare cengkeh siap panen juga ludes.Selain itu, hutan pinus milik negara sekitar 5 hektare juga terbakar. Saat ini sebagian api sudah padam. Tapi untuk hutan pinus masih dalam pengecekan,” kata Kamituo Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari Heri Purwanto.

Menurutnya, selain karena terbatasnya air untuk memadamkan api, akses jalan ke hutan juga jadi kendala. Medan yang tinggi dan jalan terjal menjadi kendala utama. Bahkan, warga katanya, juga sudah berupaya untuk menjinakkan api.

“Melihat kejadian terbakarnya hutan, beberapa warga langsung meminta pertolongan, termasuk memberi tahu para perangkat desa. Beberapa orang lainnya, langsung mengitari dengan membuat jarak dengan titik api,” katanya.

Sayang langkah tersebut tak efektif. Tanpa hitungan jam, api langsung membesar. Warga yang datang pun langsung menyelamatkan diri karena ketinggian api melebihi dua meter.”Dari Polsek Nalumsari juga datang. Tapi karena api langsung membesar, tak bisa dijinakkan,” ungkapnya. (SUPRIYADI/KHOLISTIONO)

Puluhan Hektare Hutan Bategede Ludes Terbakar

kebakaran (e)

Kondisi sebagian hutan yang terbakar dan apinya telah padam (MuriaNewsCom/Supriyadi)

 

JEPARA – Sebanyak 50 hektare hutan di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara ludes terbakar, Sabtu (17/10/2015). Hutan yang terletak di perbatasan Kabupaten Jepara dan Kabupaten Kudus dan menjadi paru-paru kedua kabupaten tersebut diperkirakan terus melebar.

Kamituo Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari Heri Purwanto mengatakan, kejadian nahas tersebut terjadi sejak Jumat (16/10/2015) sekitar pukul 07.00 WIB. Mulanya beberapa warga yang hendak ke sawah penasaran dengan asap tebal saat melintas. Setelah dekat mereka mendapati beberapa titik api yang sudah mulai membesar.

“Melihat kejadian itu beberapa warga langsung meminta pertolongan, termasuk memberi tahu para perangkat desa. Beberapa orang lainnya, langsung mengitari dengan membuat jarak dengan titik api,” katanya, Sabtu (17/10/2015).

Sayang langkah tersebut tak efektif. Tanpa hitungan jam, api langsung membesar. Warga yang datang pun langsung menyelamatkan diri karena ketinggian api melebihi dua meter.”Dari Polsek Nalumsari juga datang. Tapi karena api langsung membesar, tak bisa dijinakkan,” ungkapnya. (SUPRIYADI/KHOLISTIONO)