Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Patung Raden Tombronegoro yang berada di depan Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejarah Kabupaten Pati selama ini menginduk pada Babad Pati dan Babad Tanah Jawi. Babad Pati ditulis oleh seorang pujangga pada abad ke-20.

Sementara Babad Tanah Jawi dibuat kalangan keraton yang disebut-sebut bernuansa “Mataram-sentris”. Artinya, sejarah dibuat untuk legitimasi kekuasaan Mataram yang saat ini bertransformasi menjadi Kesunanan Surakarta dan Yogyakarta.

Babad Pati menyebut, penguasa pertama adalah Raden Kembangjoyo, kemudian dilanjutkan Tondonegoro dan Tombronegoro. Selanjutnya, kekuasaan diserahkan kepada para pembesar seperti Ki Ageng Plangitan, Ki Ageng Rogowongso dan kawan-kawan, karena Tombronegoro tidak punya keturunan.

Namun, sejumlah pegiat sejarah di Pati meragukan kisah tersebut sebagai sebuah sejarah. Sebab, sejarawan Belanda yang kerap menulis sejarah Jawa, Johannes de Graaf mencatat, bupati Pati pertama adalah Kayu Bralit.

Kayu Bralit adalah nama lain dari Jati Kusumo yang disebut de Graaf menjadi penguasa pertama Pati pada 1518. Ia merupakan putra dari Puspo Kusumo yang sebetulnya lebih awal bergelar Kayu Bralit.

“Bupati Pati pertama sebetulnya Puspo Kusumo. Dia Kayu Bralit pertama yang gugur mendampingi Pati Unus melawan kedatangan Portugis. Namun, de Graaf mencatat Kayu Bralit adalah putranya, Jati Kusumo,” ujar pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Penguasa Pati pertama merupakan trah dari Majapahit yang kemudian bersilang trah “Ngerang”. Dari sana, lahir tokoh legendaris bernama Umar Nurul Yaqin yang kerap didengar masyarakat Pati sebagai sebutan Ki Ageng Penjawi.

Dia punya dua anak, yaitu Waskita Jawi dan Siddieq Nurul Yaqin yang akrab di telinga masyarakat dengan sebutan Raden Wasis Joyokusumo. Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati, pendiri Mataram yang kemudian melahirkan raja-raja di Jawa seperti Raden Mas Jolang dan Sultan Agung.

Sementara sejarah Wasis Joyokusumo seolah ditelan bumi dan penuh dengan misteri, pascakekalahannya dalam perang saudara melawan kakak iparnya sendiri, Panembahan Senopati.  Karena itu, beberapa sejarawan mempertanyakan siapa sosok Tondonegoro dan Tombronegoro yang tak pernah tercatat dalam sejarah.

Editor : Ali Muntoha