Lagi, Pocong Hantui Pengadilan Negeri Pati

Replika pocong dihadirkan di depan Pengadilan Negeri untuk mengawal sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Replika pocong dihadirkan di depan Pengadilan Negeri untuk mengawal sidang putusan kasus pembunuhan warga Desa Kembang, Dukuhseti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ada tren yang tak biasa dari warga Pati saat mengawal persidangan di Pengadilan Negeri Pati. Replika pocong acapkali dijadikan simbol matinya keadilan di meja hijau tersebut.

Setelah replika pocong hadir saat mengawal kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan pendekar PSHT beberapa waktu lalu, kini giliran puluhan warga Desa Kembang, Dukuhseti, Pati membawa replika pocong untuk mengawal kasus pembunuhan yang mengorbankan warganya bernama Arif Pranoto.

Septi Herlina Saputri yang merupakan istri korban saat ditanya MuriaNewsCom, Kamis (10/3/2016) mengatakan, replika pocong itu menjadi aksi simpatik dari tetangga untuk mengawal sidang putusan.

“Ini aksi dari tetangga yang simpatik kepada kami. Pocong menjadi simbol bahwa kami menuntut agar terdakwa dihukum mati atau setidaknya seumur hidup,” tuturnya.

Hukum mati. Begitu tuntutan warga yang dituliskan dalam replika pocong berbalut kain kafan. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan “Preman Kampung Membantai dengan Kejam, Merampas Nyawa. Tindakan Tidak Manusiawi.”

Karena itu, mereka tidak puas setelah majelis hakim akhirnya memberikan vonis pidana 15 tahun penjara untuk ketiga terdakwa yang terbukti membunuh korban. “Kami tidak puas. Menghilangkan nyawa harus mendapatkan hukuman yang setimpal,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Hii….Keranda Mayat Muncul di Depan Pengadilan Negeri Pati 

Saksi Kasus Dugaan Pengeroyokan Warga PSHT Pati Dilaporkan ke Polisi

Ratusan warga yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pati di depan Pengadilan Negeri (PN) Pati menuntut keadilan, Selasa (23/2/2016).

Ratusan warga yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pati di depan Pengadilan Negeri (PN) Pati menuntut keadilan, Selasa (23/2/2016).

 

MuriaNewsCom, Pati – Dua saksi yang dianggap memberikan keterangan palsu di meja hijau terkait dengan kasus dugaan pengeroyokan anggota PSHT Pati, Supadi dan kedua temannya, Nova Putra Anggara dan David Firmansyah dilaporkan kepada polisi, Selasa (23/2/2016).

Kuasa hukum Supadi, Ujang Wartono mengatakan melaporkan kedua saksi karena sudah memberikan keterangan di depan majelis hakim dengan tidak benar. Ada ketidaksesuaian antara keterangan yang satu dengan yang lainnya.

”Ada yang tidak sesuai antara saksi satu dengan saksi yang lain. Karena sudah memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan fakta, padahal mereka sudah disumpah, mereka kami laporkan ke polisi,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Usai ketiga terdakwa divonis bebas, Ujang yang dikawal ratusan anggota PSHT bertolak dari Pengadilan Negeri Pati ke Mapolres Pati untuk melaporkan saksi yang dianggap memberi keterangan palsu. Mereka menuntut agar kasus tersebut diusut tuntas dengan menjunjung tinggi keadilan.

”Kami ingin keadilan benar-benar ditegakkan. Jangan sampai negeri ini dinodai dengan ketidakadilan. Kami berharap agar laporan kami segera diproses pihak kepolisian secepatnya,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Hii….Keranda Mayat Muncul di Depan Pengadilan Negeri Pati

Keranda mayat dengan pocong yang terbuat dari batang pisang berada di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Keranda mayat dengan pocong yang terbuat dari batang pisang berada di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan warga yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pati membawa keranda mayat di depan Pengadilan Negeri (PN) Pati, Selasa (23/2/2016).

Mereka membawa keranda mayat dalam mengawal salah satu anggota PSHT Supadi dan kedua temannya, Nova Putra Anggara dan David Firmansyah yang menjalani sidang putusan atas kasus dugaan penganiayaan.

Kehadiran keranda mayat menjadi simbol matinya keadilan. Beberapa bunga tabur, menyan dan dupa tampak di bawah keranda.

Setelah menunggu lebih dari dua jam, mereka bersorak gembira setelah mendengar putusan hakim yang memutuskan bahwa Supadi dan kedua temannya dinyatakan tidak bersalah. Karena itu, ketiganya yang didakwa melakukan penganiayaan akhirnya dibebaskan.

Kuasa hukum terdakwa, Ujang Wartono menilai, putusan hakim sudah tepat karena memang penganiayaan itu tidak terbukti. “Putusan hakim sudah tepat, karena memperhatikan fakta hukum yang ada,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, keterangan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak sesuai antara saksi satu dengan saksi yang lainnya. Sementara itu, saksi yang dihadirkan terdakwa dinilai sudah sesuai.

Editor : Kholistiono

Baca juga : 700 Pendekar Silat Geruduk Pengadilan Negeri Pati

Masih Ada Dua Anggota Geng Motor Ninja di Grobogan yang Diburu Polisi

Di lokasi inilah terjadi pengeroyokan terhadap pelajar SMK yang dilakukan anggota komunitas motor Ninja. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi inilah terjadi pengeroyokan terhadap pelajar SMK yang dilakukan anggota komunitas motor Ninja. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaku pengeroyokan yang dilakukan anggota komunitas motor Ninja terhadap pelajar SMK ternyata tidak hanya dilakukan tiga orang saja. Tetapi ada lima orang yang ditengarai melakukan pengeroyokan.

Baca juga : 3 Anggota Geng Ninja Keroyok Siswa SMK di Grobogan

Dari lima orang pelaku, tiga orang diamankan polisi. Masing-masing, Budi Santosa (26) warga Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari dan Samsul Ali (21) warga Desa Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo. Satu lagi adalah Yeriko (24) warga Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringan.

Sedangkan dua orang lagi berhasil kabur tidak lama setelah melakukan aksi pengeroyokan. Satu diantara pelaku yang melarikan diri itu diduga kuat sebagai provokator pengeroyokan.

”Pelaku ada lima orang, tiga orang kita amankan dan dua lagi masih kita kejar. Dua pelaku yang kabur ini sudah kita kantongi identitasnya. Satu orang Brati dan satunya dari Kradenan,” ungkap Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto.

Seperti diketahui, peristiwa pengeroyokan terhadap pelajar SMK kelas II Yuazit Kun (18) warga Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati itu terjadi, Minggu (14/2/2016) dinihari lalu. Saat itu ia tengah nongkrong bersama temannya di depan Stadion Krida Bhakti, Purwodadi.

Tidak lama kemudian, datang belasan pengendara motor Ninja ke lokasi tersebut. Ketika berada di sana, beberapa pengendara sempat menggeber-geberkan gasnya hingga menimbulkan suara bising.
Korban kemudian mendatangi mereka untuk mengingatkan agar tidak membunyikan motor dengan keras. Setelah menyampaikan peringatan, justru korban malah dipukuli beberapa pegendara motor itu hingga mengalami luka di bagian kepala dan sempat dirawat di rumah sakit.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo ketika dimintai tanggapannya mengaku sangat menyayangkan terjadinya peristiwa itu. Menurutnya, selama ini, pihaknya sudah sering melakukan pembinaan pada komunitas-komunitas motor. Selain pembinaan tertib berlalu lintas, juga diberikan pemahaman soal menjaga kamtibmas dengan bagaimana bersikap saat berkendara.

”Setiap malam Minggu kami biasanya menyambangi komunitas-komunitas motor yang ada di sini. Dalam kesempatan itu kami gunakan untuk melakukan pembinaan,” katanya.

Dikatakan, sikap menggeber-geberkan kendaraan itu di sisi lain dapat memengaruhi psikologis seseorang. Dengan begitu, emosi seseorang dapat terpacu naik. ”Suara bising kendaraan ini bisa memacu emosi seseorang. Makanya, pemakaian knalpot brong kami larang. Selain bikin emosi, knalpot ini juga tidak sesuai standar,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Sadis, Warga Kembang Pati Ini Dikeroyok dan Dibacok 6 Orang

Petugas kepolisian menunjukkan foto sebatang kayu yang dijadikan barang bukti. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang warga Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati berinisial S (27) dikeroyok enam orang hingga menyebabkan luka bacok pada bagian kepala. S juga mengalami luka memar di badan dan luka tusuk pada bagian perut.

Hal itu diungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo. ”Kami mendapatkan laporan dari korban. Saat ini, kami sudah mengamankan barang bukti berupa sebatang kayu dengan ukuran satu meter yang digunakan pelaku untuk melakukan penganiayaan,” ujar Sundoyo kepada MuriaNewsCom, Selasa (26/1/2016).

Kejadian bermula, saat S berada di depan rumah warga di Desa Kembang RT 3 RW 2, Dukuhseti, Pati. Korban dianiaya seorang berinisial HN (22) bersama dengan lima teman lainnya hingga menyebabkan luka bacok pada kepala korban, memar-memar pada badan dan luka tusuk pada bagian perut.

”Dari pengakuan korban, sebatang kayu ukuran satu meter sempat dipukulkan satu kali pada kaki kanan korban. Kami masih mendalami motif kasus itu. Semoga bisa terungkap,” katanya.

Saat ini, polisi memburu lima pelaku lainnya yang masih buron. Salah satunya, NS, W dan S yang merupakan warga Desa Dukuhseti, JAE warga Desa Tegalombo, serta H warga Desa Banyutowo.

Editor : Titis Ayu Winarni

Lho! Lapor Polisi, Pendekar Asal Pantirejo Pati Ini Malah Jadi Terdakwa

Ratusan massa dari PSHT menggelar aksi solidaritas untuk mendukung Supadi di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan massa dari PSHT menggelar aksi solidaritas untuk mendukung Supadi di depan Pengadilan Negeri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Supadi, seorang pendekar yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Tarate (PSHT) asal Desa Sambirejo, Kecamatan Gabus, Pati menjadi terdakwa dalam kasus pengeroyokan setelah konser dangdut di desanya beberapa waktu lalu.

Padahal, menurut pengakuan Eko Supriyanto yang menjadi kuasa hukum Supadi , kliennya itu tidak bersalah. Bahkan, ia menuding pihak kepolisian salah dalam melakukan penyidikan.

Pasalnya, Supadi dan kedua kawannya melaporkan kepada pihak kepolisian sekitar pukul 01.00 WIB beberapa waktu lalu. Namun, pihak lawan juga melaporkan Supadi dan kedua kawannya itu ke pihak kepolisian pada pagi harinya.

“Klien kami melaporkan lebih dahulu. Kenapa yang maju di persidangan malah klien Supadi dan kedua kawannya? Supadi itu mestinya jadi korban. Kami punya buktinya. Kami yakin Supadi dikriminalisasi. Orang yang tidak salah malah dihukum,” kata Eko saat dimintai keterangan MuriaNewsCom, Senin (18/1/2016).

Karena itu, ia menyayangkan sikap pihak kepolisian yang dinilai tidak bekerja sesuai dengan prosedur. “Mana yang lapor duluan, harusnya yang ditindaklanjuti. Saya juga punya hasil visum dari Nova, kawan Supadi. Ia punya luka di kepala. Itu menjadi bukti bahwa ia juga korban,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Jadi Korban dan Pelaku Penganiayaan, Pria Asal Gembong Ini Dibekuk Polisi

Kapolsek Gembong AKP Sugino tengah mengintrogasi para pelaku pengeroyokan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kapolsek Gembong AKP Sugino tengah mengintrogasi para pelaku pengeroyokan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Seorang pria berinisial AS berusia 24 tahun terpaksa dibekuk petugas Polsek Gembong, meski ia menjadi korban penganiayaan. Pasalnya, setelah dianiaya, ia ganti menganiaya orang.

Akibatnya, ia harus mendekam di tahanan Polsek Gembong meski dalam keadaan luka sayatan benda tajam pada bagian tangan kiri. Hal ini diungkap Kapolsek Gembong AKP Sugino.

Ia mengatakan, AS sempat dianiaya dalam sebuah acara konser dangdut di Desa Bermi pada Sabtu (16/1/2016) malam. Namun, AS bersama dengan rekan-rekannya kemudian mencegat pelaku di lokasi yang tidak jauh dari acara dangdut.

“AS dan rekan-rekannya mencegat pria berinisial SS (22) yang merupakan warga Desa Bermi. Namun, seorang guru honorer tak bersalah yang lewat justru jadi sasaran bagi AS dan kawan-kawan. Mereka menghajar guru honorer dengan membabi buta menggunakan kayu dan batu. Padahal, AS mestinya jadi korban. Tapi, dia juga pelaku pengeroyokan guru honorer hingga menyebabkan kaki kanan korban patah tulang,” ujar Sugino kepada MuriaNewsCom, Senin (18/1/2016).

Atas perbuatannya itu, AS bersama tiga rekannya digelandang di Mapolsek Gembong. AS sendiri mengalami luka sayat pada tangan bagian kiri hingga sobek.

“AS diduga terkena sabetan benda tajam. Namun, SS mengaku tidak menggunakan senjata tajam. Padahal, tangan AS mengalami luka seperti terkena sabetan benda tajam. Kasus ini tengah kami dalami lebih lanjut. Motif pengeroyokan itu kami duga karena balas dendam,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

700 Pendekar Silat Geruduk Pengadilan Negeri Pati

Ratusan massa PSHT menggeruduk Pengadilan Negeri Pati, Senin (18/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan massa PSHT menggeruduk Pengadilan Negeri Pati, Senin (18/1/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya ada 700 massa pesilat yang tergabung dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pati menggeruduk Pengadilan Negeri (PN) Pati, Senin (18/1/2016).

Mereka menuntut agar anggotanya yang saat ini menjadi terdakwa dibebaskan. Karena, anggota PSHT yang diketahui bernama Supadi, warga Desa Pantirejo, Kecamatan Gabus, Pati, dinilai tidak bersalah dalam insiden baku hantam yang terjadi di desanya beberapa waktu lalu.

Sekretaris PSHT Pati Tri Cahyono kepada MuriaNewsCom mengatakan, aksi demonstrasi tersebut menjadi bagian dari solidaritas sesama anggota PSHT. Lagipula, mereka yakin bahwa anggota itu tidak bersalah, sehingga pihaknya menuding ada unsur “kriminalisasi” dalam penetapan Supadi menjadi tersangka hingga terdakwa.

“Kami berharap agar Supadi bisa bebas. Kami yakin dia tidak bersalah. Kami tahu Supadi itu pendiam dan tidak suka berkelahi. Ini namanya kriminalisasi. Orang yang mestinya tidak salah malah dikenakan sanksi pidana,” imbuhnya.

Mereka membawa spanduk berisi tuntutan agar kasus yang sebenarnya diusut tuntas. “Kasus dulurku Supadi banyak rekayasa, usut otak di belakangnya. Walaupun kami bukan satu darah, tapi kami lebih dari saudara,” tulis salah satu spanduk.

Aksi tersebut dijaga ketat pihak kepolisian. Kendati begitu, aksi berjalan lancar tanpa ada kericuhan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)