SISWA SD HAMIL 7 BULAN : Ayah Pemerkosa Anak Ditangkap saat Asyik Sembunyi di Lamongan

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

 

REMBANG – Kini, ayah bejat pemerkosa anak tiri di Kabupaten Rembang, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Diketahui, Melati, siswi SD hamil 7 bulan setelah diperkosa ayahnya berkali-kali, sejak 9 bulan lalu.

Slamet (54), pelaku warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang, ditangkap Polres Rembang saat sembunyi di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (31/10/2015).

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono melalui Kaurbinops IPTU Martoyo saat dikonfirmasi Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa kasus itu benar terjadi. “Masih diperiksa polisi,” katanya, Senin (2/11/2015).

Polisi sudah menangkap pelaku di Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, setelah sebelumnya sempat lari ke Bojonogero.

Bejatnya aksi pelaku membuat polisi menahannya. Pelaku dijerat dengan UU 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Pasal 81 dan 82. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun.

Pelaku ditangkap tak lama setelah ibu korban, Sutiah yang juga istri Slamet, melaporkan kasus ke Polres Rembang.

Di hadapan polisi, pelaku mengaku melakukan aksi bejat kepada anaknya, di rumahnya.
Aksi bejat itu dilakukan oleh pelaku sejak 9 bulan yang lalu. Yakni pada pagi hari saat ibu korban, belanja ke pasar sekitar pukul 05.30. WIB.

Melati tak kuasa melawan nafsu bejat ayah tirinya. Karena tiap kali minta dilayani, pelaku mengancam akan membunuh korban bila menolak. Perbuatan bejat pelaku dilakukan berkali-kali hingga korban hamil 7 bulan. (AKROM HAZAMI)

SISWA SD HAMIL 7 BULAN : Diperkosa saat Ibu ke Pasar dan Diancam Dibunuh

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

 

REMBANG – Terungkap bahwa aksi bejat ayah perkosa anak tiri di Kabupaten Rembang. Anak tiri yang juga siswi SD itu diperkosa berkali-kali hingga hamil 7 bulan.

Slamet (54) pelaku yang merupakan warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang, mengaku melakukan aksi bejat kepada anaknya, Melati, di rumahnya.

Aksi bejat itu dilakukan oleh pelaku sejak 9 bulan yang lalu. Yakni pada pagi hari saat ibu korban, Sutiah yang juga istri pelaku, belanja ke pasar sekitar pukul 05.30. WIB.

Melati tak kuasa melawan nafsu bejat ayah tirinya. Karena tiap kali minta dilayani, pelaku mengancam akan membunuh korban bila menolak. Perbuatan bejat pelaku dilakukan berkali-kali hingga korban hamil 7 bulan.

Mengetahui anak kandungnya hamil, Sutiah melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desanya dan diteruskan ke Polres Rembang.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono melalui Kaurbinops IPTU Martoyo saat dikonfirmasi Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa kasus itu benar terjadi. “Masih diperiksa polisi,” katanya, Senin (2/11/2015). (AKROM HAZAMI)

SISWA SD HAMIL 7 BULAN : Diperkosa Ayahnya Berkali-kali

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

tersangka yang juga ayah tiri korban, Slamet. (ISTIMEWA)

 

REMBANG – Seorang ayah harusnya melindungi anaknya. Kendati anak itu adalah anak tiri. Namun tidak demikian dengan seorang ayah di Kabupaten Rembang.

Dia adalah Slamet (54), warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang. Pelaku memperkosa anak tirinya. Sebut saja namanya Melati. Korban pemerkosaan itu diketahui masih duduk di bangku SD.

Akibat perbuatan bejat pelaku, Melati hamil 7 bulan. Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono melalui Kaurbinops IPTU Martoyo saat dikonfirmasi Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa kasus itu benar terjadi. “Masih diperiksa polisi,” katanya, Senin (2/11/2015). (AKROM HAZAMI)

Ini Kronologi Pencabulan yang Menimpa Siswi Kelas 5 SD

RS tengah disidik petugas kepolisian Polres Pati, Kamis (27/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

RS tengah disidik petugas kepolisian Polres Pati, Kamis (27/8/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – RS (45), warga Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen terpaksa harus berurusan dengan Polres Pati, lantaran aksi nekatnya mencabuli AN, siswi kelas 5 SD berusia 11 tahun berkali-kali. Ia dijerat Pasal 81 Ayat 2 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo mengatakan, kasus tersebut saat ini sudah dilimpahkan ke unit PPA Satreskrim Polres Pati. “Kami sudah mengamankan sejumlah barang bukti,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku terlebih dahulu memperlihatkan korban dengan film porno melalui ponsel atau HP. Setelah itu, pelaku mengajak korban ke rumah kosong yang tak jauh dari rumahnya.

Di rumah kosong tersebut, pelaku merayu korban untuk melakukan hubungan yang tidak senonoh layaknya adegan dalam film biru itu. Kejadian serupa berulang sekitar sepuluh kali.

Kejadian terungkap, setelah orang tua korban melihat anaknya selalu murung. Selain itu, korban acapkali mengeluh kesakitan di bagian kemaluan. Akhirnya, orangtua korban melapor ke pihak berwenang. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sering Nonton Film Porno, Pria Paruh Baya Ini Cabuli Siswi SD

Petugas kepolisian tengah mengorek keterangan dari RS terkait dengan kasus pencabulan yang dilakukannya kepada siswi SD berusia 11 tahun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian tengah mengorek keterangan dari RS terkait dengan kasus pencabulan yang dilakukannya kepada siswi SD berusia 11 tahun. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Seorang pria paruh baya berinisial RS asal Desa Trimulyo, Kecamatan Kayen mencabuli siswi SD berusia 11 tahun yang merupakan tetangganya sendiri. RS melakukan tindakan keji itu, lantaran sering nonton bokep atau film porno.

Padahal, RS yang berusia 45 tahun ini diketahui punya istri dan dua anak. RS berdalih melakukan aksi kepada A yang masih duduk di bangku kelas 5 SD tersebut atas dasar saling suka.

RS mengaku, dirinya dan A saling menyukai. Sebelum mencabuli, RS memperlihatkan film porno kepada korban.

Ironisnya, aksi tersebut tak hanya dilakukan sekali, dua kali. Namun, aksi tak wajar ini dilakukan hingga sepuluh kali, yakni sejak awal Juni hingga pertengahan Agustus 2015. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Berawal Dikenalkan Teman Dekat, Berlanjut SMS-an, dan Akhirnya Siswi MTs Ini Jadi Korban Pencabulan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kasus pencabulan yang menimpa salah satu anak yang masih berusia 15 tahun, yakni warga Gebog, dan ketika peristiwa pencabulan masih berstatus siswi di salah satu MTs di Gebog, kini kasusnya sudah dilaporkan Polres Kudus.

Firdaus, pengacara dari korban, berinisial N, mengatakan jika kasus yang menimpa kliennya tersebut kini siap untuk disidangkan. Dari keterangan Firdaus, pelaku merupakan masih tetangga dari korban.

Dirinya juga menceritakan, bagaimana awalnya korban bertemu dengan pelaku. Menurutnya, korban pertama kali dikenalkan kepada pelaku oleh teman dekatnya. Dari sinilah, korban dan pelaku kemudian saling berkenalan, yakni sekitar Desember 2013.

Setelah itu, kemudian korban dan pelaku melakukan komunikasi yang lebih intensif melalui SMS dan telepon. Selanjutnya, pada Jum’at (3/1/2014) korban dan pelaku janjian untuk bertemu di Lapangan Jetis Padurenan, Gebog, sore hari sekitar pukul 15.00 WIB.

”Mereka berdua terus berkomunikasi dan layaknya pasangan muda-mudi berpacaran. Semakin intensif antara korban dan pelaku berkomunikasi,” tuturnya.

Kemudian, dua minggu setelah pertemuan tersebut, tepatnya Jum’at (17/1/2014) sekitar pukul 09.00 WIB, korban diajak bertemu di salah satu tempat penitipan sepeda. Kemudian, korban yang membawa sepeda motor sendiri, disuruh pelaku untuk menitipkan kendaraannya tersebut.

Selanjutnya, mereka berdua pergi dengan berboncengan, dan pelaku mengajak korban ke salah satu warnet yang ada di Kudus. Disinilah, awal petaka bagi korban yang mengalami perlakuan pencabulan dari pelaku. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Guru BK di Gebog Berhasil Ungkap Kasus Pencabulan yang Menimpa Siswinya

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Seorang guru Bimbingan Konseling (BK) sebuah MTs di Kecamatan Gebog, berhasil mengungkap kasus Pencabulan yang dialami peserta didiknya.
Guru ini mengungkapkan, bagaimana peristiwa pencabulan yang dialami salah satu anak didiknya tersebut bisa terungkap. Hal ini, tak lepas dari kecuriagaan dirinya, terhadap perilaku salah satu siswinya yang tidak seperti hari-hari sebelumnya. Perubahan tersebut, katanya, cukup jelas, sehingga membuat dirinya ingin tahu lebih jauh.

”Sebenarnya, kecurigaan saya sudah ada sejak 2014 lalu. Ketika itu, sudah ada nampak perubahan sikap anak didik saya ini. Kemudian, secara perlahan saya coba dekati dia, dan bicara dengan halus. Karena, awalnya anak ini ceria, tapi tiba-tiba berubah jadi pendiam,” kata Nurrahmah, guru BK di salah satu MTs.

Semakin lama, katanya, siswi tersebut justru menjadi tambah pendiam dan selalu menyendiri. Bahkan, mungkin karena mentalnya tidak lagi kuat dan karena malu, akhirnya siswi tersebut harus keluar dari sekolah.

”Korban merasa tertekan dan malu, tidak berani keluar rumah dan tidak mau melanjutkan sekolah. Dalam hal ini, kami selaku perwakilan dari keluarga korban mohon keadilan hukum, pelaku harus dituntut dengan adil,” ungkapnya.
Dia menambahkan, kasus tersebut harus diselesaikan, mengingat pelaku usianya sudah dewasa, yakni 26 tahun dan sudah bekerja disalah satu perusahaan rokok di Kudus. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)