Bakal Ada Job Fair, Pencari Kerja di Grobogan Mulai Berburu Kartu Kuning

Puluhan orang sedang mengurus kartu kuning di kantor Disnakertrans Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana kantor Disnakertrans Grobogan terlihat lebih ramai beberapa hari terakhir ini. Kebanyakan, mereka yang datang ke kantor tersebut bertujuan untuk mencari kartu pencari kerja atau yang lebih dikenal dengan istilah kartu kuning.

 

Banyaknya pencari kerja itu salah satunya disebabkan bakal adanya acara job fair atau pameran bursa kerja di Gedung Wisuda Budaya Purwodadi. Rencananya, acara bursa kerja yang digelar Disnakertrans itu bakal dilangsungkan selama dua hari. Yakni, 26-27 Juli mendatang.

“Saya mencari kartu kuning untuk persiapan melamar pekerjaan saat job fair nanti. Mumpung waktunya masih lama, saya persiapkan berkas mulai sekarang,” kata Ratna, salah seorang pencari kartu kuning, Sabtu (22/7/2017).

Kepala Disnakertrans Grobogan Nurwanto menyatakan, pencari kartu kuning memang ada kenaikan. Tepatnya, setelah pengumuman kelulusan siswa SMA/SMK beberapa waktu lalu dan momen Lebaran.

Menurutnya, pencari kerja yang dihitung berdasarkan kepengurusan kartu  AK 1 berkisar 150 orang per hari. Sebelumnya, pencari kartu kuning sekitar 20 hingga 50 orang per hari.

“Setiap selesai kelulusan biasanya memang banyak yang cari kartu kuning. Permintaan kartu kuning terus mengalir karena kebetulan kita akan melangsungkan acara job fair,” jelasnya.

Ditambahkan, acara pameran bursa kerja selama dua hari itu akan diikuti sedikitnya puluhan perusahaan. Selain dari wilayah Grobogan, beberapa perusahaan dari kabupaten tetangga juga sudah mamastikan untuk berpartisipasi dalam acara itu. Seperti, dari Semarang, Jepara, Demak, dan Solo.

 “Dalam acara ini cukup banyak tenaga kerja yang bisa terserap, jumlahnya bisa ribuan. Oleh sebab itu, bagi yang ingin mendapatkan pekerjaan, harap persiapkan diri mulai sekarang,” ungkapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Ketika Ijazah Masih Jadi Tolok Ukur Perekrutan Karyawan

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

KETIKA kita membaca sebuah iklan lowongan kerja, mata kita biasanya langsung nanar pada sebuah jabatan yang dibutuhkan dan kemudian langsung mengenai persyaratannya. Di antaranya adalah minimal tingkat pendidikan.

Tak jarang, bagi sebagian calon tenaga kerja harus memupuskan harapannya untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan yang diinginkan, hanya karena tingkat pendidikan yang tidak sesuai dengan syarat yang dicantumkan perusahaan.

Meskipun, pada dasarnya tingkat minimal pendidikan tak memiliki efek besar untuk mengukur kinerja karyawan. Sebab, banyak faktor lain yang sebenarnya memiliki andil, apakah karyawan tersebut berkompeten atau tidak, bukan karena tingkat pendidikan.

Namun, yang perlu digarisbawahi, bukan berarti pendidikan tidak penting, tetapi dalam konteks perekrutan karyawan, hal tersebut bukan seharusnya menjadi bagian yang harus “dibesar-besarkan” untuk ukuran layak atau tidaknya calon karyawan untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan.

Ada hal yang sangat menarik untuk diulik, dan menurut hemat saya ini sebuah realita yang cukup miris. Adalah ketika, Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara menemukan kasus pemalsuan data di ijazah untuk mengurus kartu kuning, yang bakal dipergunakan untuk melamar pekerjaan.

Pihak dinas menyampaikan, jika hampir setiap hari, petugas menemukan setidaknya dua kasus pemohon kartu kuning yang memalsukan ijazah. Mereka ini, sebagian besar adalah wanita yang akan memasukkan lamaran kerja di sebuha perusahaan garmen atau lainnya.

Biasanya, mereka ini hanya tamatan SMP atau bahkan SD yang ingin bekerja di perusahaan. Karena syarat yang ditentukan perusahaan untuk calon karyawan minimal pendidikannya adalah SMA, maka, mereka yang tamatan SMP atau SD berupaya dengan berbagai cara agar bisa juga melamar di perusahaan yang bersangkutan. Salah satunya adalah dengan memalsukan data ketika mengurus kartu kuning ke Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Hal tersebut terpaksa mereka lakukan, karena merasa mereka mampu dan bisa menempati lowongan yang ditawarkan perusahaan, seperti halnya mereka yang lulusan SMA sederajat. Namun, karena keterbatasan tingkat pendidikan, mereka seolah tidak memiliki kesempatan untuk bisa bekerja di perusahaan, meski hanya sekadar mencoba layak atau tidak.

Bercermin dari hal ini, kita melihat jika ijazah masih cukup “sering” digunakan perusahaan sebagai tolok ukur rekrutmen karyawan dan bukan berdasarkan kualitas. Perusahaan masih sering terperangkap dengan adanya embel-embel yang tertulis dalam ijazah calon karyawan.

Untuk itu, ke depan, seyogyanya perekrutan karyawan tak sekadar terpaku pada embel-embel di ijazah, namun lebih kepada kualitas dan kemampuan calon karyawan. Namun, hal ini bukan berarti mengesampingkan pentingnya pendidikan, tetapi, ini dalam konteks layak atau tidaknya calon karyawan menempati sebuah jabatan di perusahaan.

Saya teringat sebuah artikel menarik yang dimuat di web New York Times, bulan Februari 2014 lalu oleh Thomas L. Friedman. Artikel tersebut berjudul How to Get a Job at Google.

Artikel tersebut berisikan wawancara dengan Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operations for Google, yaitu orang yang bertanggungjawab dalam perekrutan karyawan untuk salah satu perusahaan paling sukses di dunia, yakni Google.

Ada beberapa catatan penting, tentang bagaimana dan apa saja kriteria Google dalam mencari karyawan terbaik untuk bekerja di dalamnya. Pertama, yakni Indek Prestasi Kumulatif (IPK), yang bagi mereka tidak berpengaruh. Google punya kriteria lain bukan hanya itu.

Setidaknya ada lima poin yang dinilai dalam proses rekrutmen. Di antaranya, kemampuan kognitif umum. Bukan IQ, tetapi kemampuan belajar, menyerap sejumlah informasi yang berbeda-beda. Kemudian leadership, yakni menilai calon karyawan dalam bersikap ketika menghadapi masalah, sebagai bagian dari team, maju untuk memimpin. Juga bagaimana efektivitas dari leadership, saat kritis, bagaimana cara melepas kekuasaan dan yang terpenting tujuan akhir bisa tercapai.

Selanjutnya, Humility atau kerendahan hati dalam memecahkan masalah apapun, melangkah mundur dan merangkul ide yang lebih baik dari orang lain. Hal ini penting, karena tidak sedikit yang berpendidikan tinggi yang memiliki ego tinggi  tinggi pula.

Kemudian Ownership. Yakni, perlunya rasa memiliki dan rasa tanggung jawab dalam bekerja memegang jabatan yang mempengaruhi baik secara langsung atau tidak langsung terhadap perkembangan dan kemajuan perusahaan.

Dan, terakhir adalah Expertise. Yaitu, seseorang yang memiliki kemampuan kognitif, rasa penasaran, kemauan belajar yang tinggi serta terampil dalam kepemimpinan.Ada kalanya mereka memiliki ide baru yang sangat berharga dibandingkan dengan orang yang ahli dalam satu bidang saja, yang sudah melakukannya berulang-ulang.

Harapan kita ke depan, semua warga negara miliki hak yang sama untuk mendapatkan pekerjaan, bukan berdasarkan ijazah tapi berdasarkan kualitas. Tetapi, hal ini tentunya tak boleh mengkesampingkan warga untuk terus belajar dan menempuh pendidikan yang tinggi. (*)

Ketahuan Gunakan Data Palsu, Pemohon Kartu Kuning Langsung Disuruh Pulang

Beberapa warga terlihat sedang mengurus kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa warga terlihat sedang mengurus kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Maraknya pemalsuan data di ijazah saat mengurus kartu kuning selama 2 tahun terakhir ini, membuat Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara harus mengambil sikap tegas.

Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas Amrina Rosyida mengatakan, jika ada pemohon kartu kuning yang ketahuan memalsukan data di ijazah atau juga lainnya, maka akan dipersilakan pulang dan mengambil ijazah asli untuk ditunjukan kepada petugas.

“Biasanya pemohon kartu kuning itu kan hanya membawa berkas berupa foto kopi saja, dan terkadang hal itu dimanfaatkan oknum untuk memalsu data. Namun beruntung petugas kita teliti, jadi hal tersebut dapat dihindari.Jika ketauan, maka akan kita suruh pulang terlebih dahulu untuk mengambil berkas yang asli,” ungkapnya.

Ia menilai, dengan langkah itulah nantinya para pemohon kartu kuning bisa menunjukan data asli atau berkas asli yang akan diajukan sebagai persyaratannya.

Perlu diketahui, pemalsuan data pemohon kartu kuning tersebut, rata-rata dilakukan dengan cara menutup nama asli ijazah orang lain dengan diganti nama si pemohon kartu kuning.

“Biasanya, mereka meminjam ijazah temannya yang lulusan SMA. Nah setelah itu, namanya ditutupi dengan ketikan namanya (pemohon). Supaya si pemohon seakan akan lulusan SMA, padahal sebenarnya lulusan SMP atau bahkan SD. Karena memang, biasanya perusahaan membutuhkan tenaga kerja minimal tingkat pendidikannya SMA,” katanya.

Editor : Kholistiono

Begini Ketahuannya Ada Pemohon Kartu Kuning Gunakan Ijazah Palsu

Beberapa pemohon kartu kuning terlihat sedang memadati ruangan di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa pemohon kartu kuning terlihat sedang memadati ruangan di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas Amrina Rosyida pada Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara mengatakan, jika hampir tiap hari pihaknya menjumpai adanya pemohon kartu kuning yang menggunakan identitas palsu atau ijazah palsu.

Hal tersebut terungkap, katanya, petugas menjumpai adanya ketidaksamaan antara data pokok di ijazah dan KTP. Seperti halnya, soal nama pemohon, antara di KTP dan ijazah beda.

“Kita curiga, karena adanya ketidaksamaan nama yang ada di ijazah dengan KTP. Meskipun namanya hampir sama yang ada di KTP, akan tetapi nama yang ada di ijazah itu rata-rata hurufnya tidak sama,” kata Amrina.

Dia melanjutkan, dimungkinkan ijazah yang dipinjam oleh pemohon untuk membuat kartu kuning itu “didempol”.  Yakni, ijazah tersebut difoto kopi terlebih dahulu, kemudian ijazah tersebut ditempeli nama pemohon. Namun, yang terjadi justru nama yang ditempel ke ijazah tersebut itu tidak sama dengan KTP.

Ia menilai, pemalsuan data yang dilakukan pemohon kartu kuning tersebut terlalu dipaksakan demi  ingin mendapatkan kartu kuning untuk melamar ke perusahaan.  “Sebenarnya itu sangat keliru. Sebab untuk mendapatkan kartu kuning mereka melakukan cara seperti itu,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini memang pihaknya berharap supaya pemohon kartu kuning bisa menunjukan ijazah atau persyaatan lainnya yang asli kepada petugas. Hal ini, untuk menghindari adanya pemalsuan data.

Editor : Kholistiono

Waduh! Hampir Tiap Hari Ada Warga Jepara yang Gunakan Ijazah Palsu untuk Urus Kartu Kuning

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Semakin banyaknya peluang kerja di Kabupaten Jepara, semakin tinggi pula angka pencari kerja di tempat tersebut. Hal ini, berimbas pula terhadap meningkatnya pembuatan kartu kuning atau AK I.

Setidaknya, dari data yang ada di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara selama 2016, tercatat ada sekitar 16 ribu warga yang mengurus kartu kuning. Jumlah tersebut naik drastis di banding tahun 2015 lalu yang hanya berkisar 6 ribu.

Namun, di balik meningkatnya jumlah pencari kerja tersebut, ternyata ada cara-cara yang kurang baik ditempuh oleh beberapa warga untuk bisa mendapatkan kartu kuning, yang merupakan salah satu syarat untuk melamar pekerjaan. Yakni, adanya pemalsuan data atau pemalsuan ijazah.

Hal itu diungkapkan oleh Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas pada Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara Amrina Rosyida. “Hampir setiap hari ada sekitar 2 hingga 3 pemohon yang bisa kita temukan menggunakan data palsu yang ada di ijazah,” ujar Amrina.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan pemohon kartu kuning, untuk menyesuaikan persyaratan atau kriteria yang diterapkan perusahaan untuk pelamar kerja. Misalnya saja, minimal harus lulus SMP atau SMA sederajat.

“Biasanya, mereka itu memalsu data seperti halnya tahun ijazah. Misalkan saja, mereka meminjam ijazah temannya, dan nantinya namanya akan diganti dengan nama pemohon kartu kuning. Sehingga seakan-akan mereka sudah berijazah SMA atau lainnya.Padahal, sebenarnya hanya berijazah tingkat SD saja,” ungkapnya.

Katanya, adanya pemalsuan data itu sudah diketahui pihak dinas sejak tahun 2015 silam. Hanya saja, pihaknya hanya memberikan imbauan kepada pemohon kartu kuning supaya tidak melakukan hal itu.

“Sebenanya pemalsuan data itu sejak tahun 2015 lalu. Sebab di tahun itu memang banyak sejaki lowongan kerja di garmen yang rata-rata membutuhkan karyawan wanita serta berpendidikan minimal setingkat SMA,” ucapnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, kini pihaknya akan menertibkan hal itu. Yakni, nantinya pemohon kartu kuning harus bisa menunjukkan ijazah asli. Dengan begitu, pihaknya berharap bisa meminimalisasi adanya pemalsuan data tersebut.

Editor : Kholistiono

Pemkab Kudus Aktif Carikan Pekerjaan untuk Pemohon Kartu Kuning

Jpeg

Para pemohon Kartu Kuning di Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kudus. (MuriaNewsCom/ Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus juga tidak hanya membuatkan kartu AK/I atau Kartu Kining saja.

Mereka juga berupaya mencarikan pekerjaan bagi warga Kudus. Dalam hal ini, ialah Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Pentatrans).

Bagian Pengantar Kerja di bidang Pentatrans, Puspa mengatakan, pihaknya menyetorkan data pemohon Kartu Kuning ke perusahaan yang buka lowongan.”Supaya para perusahaan itu bisa memilih dan memanggil dari mereka untuk diwawancarai,” kata Puspa.

Salah satunya, dicontohkannya, adalah perusahaan yang bergerak di sektor perbankan, baru-baru ini.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, di tahun 2015 ada sebanyak 2.586 orang yang sudah ditempatkan di berbagai perusahaan yang ada di Kudus.

Untuk tahun 2015,  baik mulai Januari hingga Desember 2015 itu ada sebanyak 5.857 orang yang memohon Kartu Kuning. Dari jumlah itu, yang sudah ditempatkan kerja sebanyak 2.586 orang.

Dia menambahkan, sedangkan untuk di tahun 2016, baik mulai dari Januari hingga Mei 2016 ini ada sebanyak 1.945 orang yang memohon Kartu Kuning.

“Dari 1.945 pembuat Kartu Kuning, sebanyak 1.002 sudah bekerja di perusahaan atau di tempat kerja yang ada di Kudus,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Emoh jadi Pengangguran, Lulusan Sekolah Berburu Kartu Kuning di Kudus

Jpeg

Para pemohon Kartu Kuning berada di  Dinosnakertrans Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus –  Para pemohon kartu AK/I atau Kartu Kuning, di kantor Dinosnakertrans Kudus, membeludak, saat ini.

Kartu yang digunakan untuk prasyarat melamar pekerjaan itu terus diburu. Membeludaknya pemohon tersebut lantaran saat ini waktu lulusan sekolah. Terutama lulusan SMP, SMK dan SMA.

Kepala Bidang Penempatan Kerja dan Transmigrasi (Pentatrans) Sajad mengatakan, momen setelah kelulusan ini membuat pemohon meningkat.  “Peningkatannya sampai 100 persen,” kata Sajad.

Para lulusan itu ingin segera mendapatkan kerja. Karenanya, mereka membutuhkan Kartu Kuning.

Dari data yang dihimpun, pemohon kartu didominasi oleh lulusan tingkat SMA. Tiga bulan terahir, mulai dari April 2016 tingkat SD sebanyak 18 orang, SMP sebanyak 45 orang, SMA sebanyak 183 orang.

Tingkat D1 hingga D3 sebanyak dua orang, dan yang terakhir S1 sebanyak 47 orang. “Jadi total keseluruhan sejumlah 295 orang,” tuturnya.

Pada Mei 2016 ada sejumlah 572 orang. Sehinga peningkatannya ada 100 persen lebih.Yakni lulusan SD ada dua orang, lulusan SMP sejumlah 21 orang, lulusan SMA ada sejumlah 528 orang, lulusan D1 hingga D3 ada tiga orang dan lulusan S1 ada 18 orang.

Sementara itu untuk Juni tanggal 1hingga 10 ada sejumlah 237 orang. Di antaranya ialah lulusan SD ada tiga orang, lulusan SMP ada 10 orang, lulusan SMA  209 orang, lulusan D1 hingga D3 ada 2 orang dan lulusan S1 ada 13 orang.

Adapun persyaratan yakni menyertakan fotokopy KTP 1 lembar, fotokopi ijazah terahir 1 lembar, pas foto ukuran 2×3 sebanyak 2 lembar.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pencari Kartu Kuning di Grobogan Meningkat Pascaujian Nasional

Terlihat warga sedang mengurus kartu kuning di Dinsosnakertrans Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Terlihat warga sedang mengurus kartu kuning di Dinsosnakertrans Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Grobogan terlihat cukup ramai orang dalam beberapa hari terakhir. Setiap hari, ada puluhan orang yang datang ke kantor di Jl DR Sutomo Purwodadi tersebut. Sebagian besar mereka ini bertujuan mencari kartu pencari kerja atau yang lebih dikenal dengan istilah kartu kuning.

Sekretaris Dinsosnakertrans Grobogan Sartono mengatakan, jumlah calon pencari kerja dalam.beberapa hari ini memang ada kenaikan. Yakni, pencari kerja yang dihitung berdasarkan kepengurusan kartu AK 1 berkisar 150 orang. Sebelumnya, pencari kartu kuning sekitar 10 hingga 25 orang per hari.

“Setiap pelaksanaan ujian SMA selesai, biasanya memang banyak yang cari kartu kuning. Selain itu, permintaan kartu kuning juga ramai pascalebaran,” jelasnya.

Dikatakan, pada kondisi setelah lulus sekolah, khususnya SMA, biasanya banyak calon pekerja baru yang diajak bekerja kerabat atau temannya. Oleh sebab itu, mereka ini diminta mengurus kartu kuning dulu sebagai salah satu persyaratan melamar pekerjaan.

Kebanyakan, mereka ini akan diajak bekerja di luar kota atau bahkan luar Jawa, sehingga diminta melengkapi semua dokumen yang diperlukan agar tidak bolak-balik.

Sartono menambahkan, naiknya permintaan kartu kuning juga disebabkan adanya beberapa perusahaan di Grobogan yang membutuhkan tambahan karyawan baru.

“Saya dapat info dari saudara kalau ada pabrik baru yang butuh karyawan. Makanya, saya siap-siap dulu cari kartu kuning karena mau ikut masukan lamaran,” cetus Priyanti, salah seorang warga yang sedang mengurus kartu kuning.

Editor : Kholistiono

Banyak Perusahaan di Blora yang Tak Lapor ke Disnakertransos Ketika Buka Lowongan Kerja

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom,Blora – Masih banyak perusahaan di Blora yang tidak melapor ke Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) ketika membuka lowongan pekerjaan.

Joko Hartoyo, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertransos Blora mengungkapkan, dengan tidak melapornya pihak perusaah ketika lowongan kerja, membuat pihaknya kesulitan jika masyarakat meminta informasi mengenai lowongan pekerjaan.

“Bagi perusahaan yang buka lowongan pekerjaan, itu seharusnya melapor kita dulu,” kata Joko Hartoyo, Rabu (24/02/2016).

Menurutnya, laporan lowongan pekerjaan itu mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1980 tentang Wajib Lapor Lowongan Pekerjaan. Di dalam Keppres tersebut, dijelaskan bahwa setiap pengusaha atau pengurus perusahaan wajib melaporkan secara tertulis setiap ada atau akan ada lowongan pekerjaan.

“Dalam laporan pun harus disertakan spesifikasi jenis pekerjaan beserta syarat-syarat.Jadi, jika ada yang menanyakan lowongan pekerjaan kami bisa jawab,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Awal Tahun, Jumlah Pencari Kartu Kuning di Blora Meningkat

Awal Tahun, Jumlah Pencari Kartu Kuning di Blora Meningkat

Joko Hartoyo Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertransos Blora(MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Joko Hartoyo Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertransos Blora(MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Jumlah pencari kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja,Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Blora meningkat pada awal tahun 2016 ini.

Menurut Joko Hartoyo, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Disnakertransos Blora meningkatnya jumlah pencari kartu kuning tersebut, dikarenakan banyak usia produktif dari lulusan SMA sederajat yang akan mencari pekerjaan.

Dari data yang dihimpun MuriaNewsCom, terhitung sejak 1 Januari 2016 sampai saat ini sudah ada 435 pencari kartu kuning. Jika dibandingkan dengan Desember 2015 lalu, jumlah pencari kartu kuning ada 165 orang.

“Mayoritas pencari kartu kuning merupakan lulusan SMA sederajat dan juga mereka yang akan lulus dari bangku sekolah.Dalam sehari, rata-rata ada 20 orang yang mencari kartu kuning,” kata Joko Hartoyo kepada MuriaNewsCom, Rabu (24/2/2016).

Untuk penyerapan tenaga kerja yang mencari kartu kuning di Blora, Hartoyo tidak bisa menghitung pastinya apakah mereka terserap sebagai tenaga kerja di Blora semua. Pasalnya, tidak banyak dari pencari kartu kuning yang akan bekerja di luar Blora

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ingin Dapat Kerja? Jangan Lupakan Kartu Jos Berikut

Ingin Dapat Kerja? Jangan Lupakan Kartu Jos Berikut

Warga tampak melakukan pembuatan kartu kuning di kantor Dinsosnakertrans Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kalau Anda ingin dapat kerja, jangan lupakan yang satu ini. Yaitu kartu kuning. Karena fungsinya yang penting membuat banyak warga yang berburu memohon agar bisa mendapatkan kartu ini.

Pembuat surat kuning atau surat pencari kerja, belakangan ini jumlahnya membeludak dibandingkan dengan hari biasanya. Bahkan, kenaikan terus terjadi selama Agustus 2015.

Kabid  Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Pentatrans) Dinsosnakertrans Kudus Sajad mengatakan, dalam sehari belakangan ini, jumlah pemohon surat kuning mencapai puluhan orang. Jumlah tersebut mengalami  kenaikan yang sangat drastis, jika dibandingkan dengan bulan Juli lalu dan  hari biasanya yang tidak tentu jumlahnya.

“Ini sangat padat dan sangat banyak. Dan kebanyakan yang mengajukan surat tersebut adalah mereka yang baru lulus dari sekolahnya. Kejadian itu disebabkan, banyak lulusan jenjang SMA yang menginginkan langsung bekerja,” kata Sajad, kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski jumlah pemohon sangat banyak, namun pihaknya mengaku tidak ada kendala dalam memberikannya. Bahkan, dengan adanya tes untuk mengetahui bakat pencari kerja, juga tidak ditemukan kendala.

Dia menambahkan, dalam Dinsos, juga dilakukan kerja sama dengan perusahaan lain. Hal itu membantu pencari kerja lantaran pemkab juga membantu menyalurkanny ke perusahaan yang membutuhkan karyawan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Pencari Kartu Kuning Mulai Ramai Datang ke Dinsosnakertrans

Para pencari kerja datang ke kantor Dinsosnakertrans Grobogan untuk mendapatkan kartu kuning. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para pencari kerja datang ke kantor Dinsosnakertrans Grobogan untuk mendapatkan kartu kuning. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Sejak masuk pertengahan puasa, suasana Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Grobogan terlihat cukup ramai. Setiap hari ada puluhan orang yang datang ke kantor di Jl DR Sutomo Purwodadi tersebut. Sebagian besar mereka ini bertujuan mencari kartu pencari kerja atau yang lebih dikenal dengan istilah kartu kuning. Lanjutkan membaca

Ada Inovasi Baru di Dinsosnakertrans Kudus, Pencari Surat Kuning Dites Bakat Dahulu

Pembuat surat kuning menyerahkan hasil tes kepada petugas (MURIANEWS/FAISOL HADI)

KUDUS – Dinas Sosial, Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kudus memberikan pemahaman terhadap pencari kerja yang membuat surat kuning. Hal itu dilakukan guna melihat kemampuan dan bakat pencari kerja sebelum melamar kerja.

Lanjutkan membaca