Mengunjungi ‘Penjara’ yang Sempat Mematahkan Asa R.A Kartini

MuriaNewsCom, Jepara – Raden Ajeng (R.A) Kartini merupakan pejuang emansipasi perempuan asal Jepara. Namun, di balik luasnya pemikiran perempuan yang lahir di Mayong 21 April 1879 itu, ia pernah ‘terpenjara’ oleh adat Pingit.

Salah satu saksi bisu kerasnya adat Jawa terhadap Kartini, adalah ruang kamarnya. Terletak di sisi belakang kompleks pendapa Jepara. Kamar itu memiliki dimensi sekitar 6×5 meter, berlantai tegel warna gelap, dengan daun pintu dan jendela yang tinggi.

Sebelum memasukinya, pengunjung harus melalui sisi kiri pendapa yang kini dijadikan rumah tinggal Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. ‎Nah, ketika telah sampai di ujung bangunan, ruang Pingit berada di sisi kanan, memasuki bangunan utama bagian belakang.

Di bagian selasar luar, terdapat deretan kursi-kursi yang dulu dijadikan kelas, untuk murid-murid Kartini.

Kamar Pingit Kartini sendiri kini dijadikan museum mini. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang, meja lengkap dengan kursi, kacadan beberapa lukisan yang konon lahir dari tangan pejuang wanita itu. Namun sayang, tidak ada barang yang asli, semuanya replika.

Suasana di dalam kamar Pingit ketika ada kunjungan dari siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik, pekan lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini menyebut kamar pingitnya itu sebagai penjara. “…penjara saya adalah rumah besar dengan halaman yang luas di sekelilingnya. Tetapi dilingkari dengan dinding yang tinggi yang mengurung saya…,” seperti tertulis di buku Kartini Penyulut Api Nasionalisme.

Hadi Priyanto seorang peneliti R.A Kartini menyebut, kamar Pingit itu sempat menjadi saksi keputusasaan putri dari Bupati Sosroningrat itu. Bagaimana tidak, keinginannya bersekolah ke Hogore Lagere School(HBS) di Semarang kandas, bertubrukan dengan adat (kebiasaan) Jawa saat itu.

“Ketika itu Kartini berumur sekitar 12 tahun. Usianya masih sangat muda, ketika ia harus menjalani pingitan, ketika dirinya tengah gandrung menimba ilmu. Tak ayal hal itu membuatnya sempat patah arang. Di tahun pertama, ia lebih banyak meratap. Menangis,” tuturnya, saat berkesempatan menyambangi ruang Pingit Kartini, akhir pekan lalu.

Menurutnya, Kartini harus dipingit hingga usianya 23 tahun. Atau, ketika ada seorang pria yang meminangnya untuk menjadi istri.

Setelah tahun pertama di dalam kamar Pingit, luka hati Kartini berangsur-angsur sembuh. Ia kemudian ‘bertamasya’ melalui buku-buku yang dipasok ayahnya, melalui kotak bacaan mingguan atau leestrommed. Di sana ia mulai membaca tentang kisah-kisah kebijakan Jawa seperti Wulangreh karya Pakubuwana IV atau Centini. Selain itu kisah tentang Pandita Ramabai asal tanah India dan berbagai sumber bacaan lain, yang memengaruhi pola pikirnya.

“Di kamar Pingit ini, meubel-meubelnya mulai dari ranjang dan sebagainya merupakan tiruan. Yang asli kini berada di Museum Rembang. Hal itu karena setelah menikah dengan Bupati Rembang, seluruh barang dari Kartini dibawa serta,” jelas Hadi.

Namun demikian, seluruh bagian bangunan hampir belum ada yang berubah. Termasuk daun jendela krepyak setinggi kurang lebih dua meter. Pintu dan ruangan dalan juga tidak berubah.

Editor: Supriyadi

Persijap Kartini Siap Berlaga di Paradise Cup Bali

MuriaNewsCom, Jepara – Persijap Kartini akan ikut ambil bagian pada event bertajuk Paradise Cup di Bali. Ajang ini akan dilaksanakan pada Kamis-Minggu (22-25/2/2018).

Turnamen ini, menurut Presiden Persijap Esti Puji Lestari merupakan ajang untuk menambah pengalaman bermain pemain Persijap Kartini. Adapun penyelenggara kegiatan ini adalah Gobolabali Foundation, bekerjasama dengan Asprov PSSI Bali dan KONI Bali.

“Ajang ini diikuti oleh lima tim. Untuk Persijap Kartini, event ini tentu akan menambah pengalaman bermain dari anak-anak. Pada turnamen ini kami mengincar kemenangan,” ujar Esti, Senin (19/2/2018).

Selain Persijap Kartini, Paradise Cup akan diikuti pula oleh tim dari tuan rumah, PFA Bali, Persegres Gresik, Pro Direct Jakarta dan Jakarta 69. Menggunakan format setengah kompetisi, ajang ini akan mengambil tiga tim teratas untuk mendapatkan reward dari penyelenggara.

Adapun, tim Persijap Kartini kini tengah melakukan training camp di lapangan Diklat BM, Srondol, Kota Semarang. Nantinya pada saat pertandingan, tim akan membawa 17 pemain disertai pelatih Agus Hirmawan berikut ofisial.

Editor: Supriyadi

Upaya Penanaman Kembali Pohon Kantil ‘Kartini’ Terhalang Kondisi Akar yang Rapuh

MuriaNewsCom, Jepara – Rencana Pemkab Jepara menanam kembali pohon kantil bersejarah di lingkungan pendapa yang tumbang, terkendala kondisi akar pohon tersebut. Setelah diipantau seksama, banyak diantaranya yang sudah membusuk.

“Dari pengamatan, akar pohon kantil tersebut banyak yang busuk dan keropos,” kata Kepala Bagian Umum Setda Jepara Ony Sulistiawan, Rabu (17/1/2018).

Menurutnya, upaya penanaman kembali Pohon Kantil berusia lebih kurang 150 tahun itu karena faktor kesejarahan. Dalam catatan sejarah, pohon tersebut merupakan tempat Pahlawan Perempuan asal Jepara RA Kartini merenungkan pemikirannya.

Baca: Pohon Kantil Berusia 150 Tahun Tempat R.A. Kartini Merenung Tumbang, Apa Maknanya?

Seperti diberitakan, pohon kantil berdiameter satu meter dan tinggi sekira 10 meter itu tumbang pada Selasa (16/1/2018) dini hari. Berada di belakang pendapa kabupaten, pohon tersebut menimpa ruangan yang digunakan ajudan bupati beristirahat. Beruntung, kejadian itu tak menimbulkan korban jiwa.

Ony melanjutkan, meskipun menghadapi tantangan berupa busuknya akar-akar dari pohon kantil itu, namun pihaknya tetap mengusahakan penanaman kembali. Hal itu akan dikomunikasikan dengan pihak terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup.

“Nanti tetap akan kami usahakan, akan tetapi hal itu membutuhkan konsutasi dengan pihak terkait,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Pohon Kantil Berusia 150 Tahun Tempat R.A. Kartini Merenung Tumbang, Apa Maknanya?

MuriaNewsCom, Jepara – Pohon Kantil atau Cempaka Putih (Magnolia Alba) tempat R.A. Kartini (Pahlawan Emansipasi Perempuan) melepas penat dan merenung tentang bangsa tumbang, Selasa (16/1/2018). Lalu apakah makna dibalik kejadian itu?

Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini Indonesia memaparkan pandangannya. Menurutnya, tumbangnya pohon berusia sekitar 150 tahun dan tinggi mencapai 10 meter itu tak lebih dari kejadian alam biasa. Ia memandang, tak perlu ada upaya pengkultusan terhadap pohon tersebut.

“Itu hanya peristiwa biasa, karena pohonnya sudah tua dan karena Jepara semalam diterpa hujan dan angin,” ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan, bahwa memang benar di bawah pohon tersebut Kartini muda sering bermain ataupun merenung. Lantaran di masa mudanya (umur 12,5-16 tahun) ia tak diperbolehkan keluar areal Pendapa Kabupaten Jepara.

Selain itu, lokasi pohon tersebut juga berada persis di depan kamar Ngasirah, ibu kandung R.A. Kartini yang saat itu menjadi Garwa ampil atau selir dari RM Adipati Aryo Sosroningrat. Pada masa itu, status garwa ampil lebih rendah dari Raden Ajeng Kartini.

“Dalam suratnya pohon tersebut diceritakan sering dibuat oleh Kartini sebagai tempat merenung tentang bangsa. Di situ dia merasa nyaman, kembangnya pun wangi. Diperkirakan usianya lebih tua dari Kartini,” bebernya.

Dijelaskannya, saat itu ketika tak bisa keluar dari lingkungan Pendapa, pohon kantil tersebut sering menjadi tempat pelepas penat.

“Tidak perlu dikultuskan (pohon kantil) apalagi dihubung-hubungkan dengan tahayul. Namun yang perlu diingat adalah ajaran-ajaran Kartini yang lahir dari hasil perenungannya di bawah pohon itu. Semangat Kartini perlu dilestarikan dari generasi ke generasi,” pesan Hadi.

Editor: Supriyadi

Pembangunan Gapura Plengkung di Jalan Kartini Jepara Bakal Disesuaikan Konsep City Walk

Gapura Plengkung kini telah dirobohkan, rencananya akan dibangun lagi sesuai konsep City Walk dan berciri khas Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gapura Plengkung yang ada di kawasan Alun-alun Jepara dirobohkan. Rencananya, pemkab akan membangun lagi penggantinya disesuaikan dengan konsep City Walk yang tengah dikerjakan pada sepanjang ruas Jl Kartini. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Budiarto mengatakan, Gapura Plengkung penanda masuk kawasan alun-alun sudah tidak sesuai dengan kondisi lalu lintas. Hal itu karena bangunan tersebut menjorok sekitar satu meter pada bahu jalan, dan rawan menyebabkan kecelakaan.

“Nantinya akan dibangun gapura baru yang dibentuk sesuai denfan karakter Jepara, dengan ornamen ukiran,” katanya. 

Ia menyebut, hal tersebut merupakan upaya Pemkab untuk menata Jepara sebagai kota wisata yang modern. Oleh karena itu, pelebaran jalan di kawasan itu perlu dilakukan guna mempermudah pengguna jalan. 

Terkait City Walk di ruas Jl Kartini, nantinya lebar jalan akan diperluas menjadi 14 meter. Sedangkan trotoar di sisi kiri akan dibuat menjadi 4 meter, adapun sisi kanan akan berukuran 2 meter. 

Sementara di kawasan sekitar Masjid Baitul Makmur, lebar jalan akan menjadi 8 meter. Sedangkan trotoar pada sisi kanan dan kiri dibuat masing-masing 2 meter. 

Konsekuensinya, beberapa pohon berukuran besar yang ada di sepanjang jalan tersebut harus dipindah. Bahkan nantinya, pada sisi utara hanya akan diberi pot dalam ukuran besar serta ditanami tanaman rimbun. 

Editor: Supriyadi

Hadi Priyanto : Banyak yang Salah Memaknai Hari Kartini

Hadi Priyanto saat menyerahkan buku Kartini, pada sebuah acara di Bangsri beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom, Jepara – Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini mengaku spirit Kartini tak banyak dipahami generasi muda dengan benar. Ia berujar semangat dan pemikiran Kartini justru  “dipersempit” sebagai hanya pahlawan emansipasi semata.

Hadi mencontohkan, kelahiran Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April itu dengan berkebaya. “Padahal banyak hal yang dilakukan oleh Kartini. Namun cita-cita, gagasan dan apa yang telah dilakukan oleh Kartini untuk bangsanya justru dipersempit dengan hanya memaknai sebagai pahlawan emansipasi,” katanya, Sabtu (29/4/2017).

Dirinya menjelaskan, sosok itu pernah menjadi tokoh sentral di tengah pemuda pergerakan mahasiswa Stovia Jakarta. Bahkan di tahun 1903, Kartini dan para pemuda terpelajar telah membentuk organisasi Jong Java.

“Padahal kalau kita belajar dari sejarah, pada tahun 1915 baru berdiri organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian pada tahun 1923 berubah jadi Jong Java,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, pikiran Kartini tentang kebhinekaan juga belum banyak diketahui orang. Kartini, menurut Hadi, memiliki toleransi yang teramat tinggi terhadap pemeluk agama dan suku bangsa lain. Bahkan, beasiswa yang sedianya diperuntukan bagi Kartini dan Rukmini, diserahkan kepada Agus Salim yang berasal dari Sumatera.

Selanjutnya, peran Kartini dalam pengembangan seni ukir, pendidikan, perlawanan terhadap ketidakadilan sayangnya dimaknai pada kulit luar.

“Mestinya, setiap kali kita memperingati hari lahir Kartini, kita harus menggali pokok pikiran dan gaasannya yang masih relevan dalam pembangunan bangsa,” tegas Hadi.

Editor : Kholistiono

Bumi Kartini Expo 2017 Resmi Dibuka

Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid melakukan pemotongan pita simbol dimulainya Bumi Kartini Expo 2017, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bumi Kartini Expo resmi dibuka bertepatan dengan hari lahir Kartini ke -138, Jumat (21/4/2017). Kegiatan yang digelar hingga 23 April 2017 itu diikuti oleh 50 stand usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Asisten III Setda Jepara Fatkurozzi menyebut, kegiatan ini tak hanya diikuti UMKM lokal tetapi juga dari luar daerah seperti Solo dan Pati. Selain itu, dipamerkan pula 10 stand kuliner khas Jepara, berikut lomba fashion show berbahan dasar kain troso dan batik.

“Pameran ini mempunyai peran yang sangat strategis bagi pelaku usaha. Ajang ini menjadi strategi pemasaran yang efektif dan tidak jarang menjadi kunci sukses ekspansi bisnis dalam persaingan usaha,” katanya.

Pihaknya mengharapkan, agar para pengusaha benar-benar memanfaatkan momen ini. Hal itu karena tidak semua warga Jepara telah mengenal produk-produk lokal.

Sementara itu anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid menyebut, peran penting pengusaha mikro dalam pembangunan perekonomian warga. Politisi parta Gerindra itu mengakui keunggulan UMKM.

“Usaha kecil mikro relatif tahan dari goncangan ekonomi global. Artinya ketika ada gonjang-ganjing pada perekonomian global, mereka tetap bertahan,” ujarnya.

Namun demikian, UMKM dinilai masih memiliki beberapa kelemahan, di antaranya dalam sektor keuangan, produk dan manajemen keuangan. Selain itu kendala faktor produksi juga menjadi aral, karena saat ini usaha mikro kecil dan menengah bersaing dengan perdagangan global.

“Kami juga mendatangkan Penyertaan Modal Nasional Madani (PNMN) untuk memberikan pelatihan bagi penguatan produk, kemasan dan juga menyediakan pinjaman,” ungkap Wachid. 

Editor : Kholistiono

Salon Rias di Rembang Laris Manis di Hari Kartini

Puluhan anak-anak mengantre untuk dirias menggunakan pakaian adat, guna memperingati Hari Kartini di Rembang, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada Jumat (21/04/2017) ini ternyata membawa berkah bagi sejumlah salon dan persewaan baju adat. Sewa biasanya didominasi siswa sekolah dari SD hingga SMA yang hendak memperingati Hari Kartini dan diwajibkan menggunakan baju adat. Dengan diantar oleh orang tua maupun kerabat lainnya, mereka harus rela antre untuk berhias diri sejak dari dini hari tadi.

Seperti halnya Salon Melvis yang berada di Jalan Majapahit Nomor 5 Rembang, Kelurahan Leteh. Salon yang ada di tepi jalan ini sudah dibanjiri oleh anak-anak yang akan menggunakan jasanya mulai dari pukul 02.00 WIB dini hari tadi.

“Sejak pukul 02.00 WIB mereka sudah mulai datang untuk dirias. Tapi, sebelum mereka datang, kita kita memang sudah menyiapkan segala sesuatunya. Baik pakaian yang sudah dipesan, maupun peralatan make up-nya, agar bisa dikerjakan cepat,” ujar Martin, adik dari pemilik Salon Melvis.

Lebih lanjut ia juga menyatakan, jika, sebelumnya mereka sudah didata terlebih dahulu mengenai waktu atau jam mulai dirias. Sehingga, mereka yang mau dirias sudah mempersiapkan diri mengenai waktunya.”Kita sebelumnya sudah mendata mereka. Mau dirias pukul berapa dan lainnya. Supaya nantinya juga bisa urut,” paparnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai jumlah pengguna jasa di saat Hari Kartini ini, ia mengutarakan bahwa saat ini terhitung ada sekitar 40 hingga 50an anak-anak. “Mulai dari sebelum Hari Kartini kemarin, sudah ada sekitaran 40 anak. Mungkin ini juga masih ada yang datang di luar data itu. Ya kalau ditotal ya sekitaran 50 lah Mas,” ujarnya.

Sementara itu, untuk harga jasanya, ia juga mematok dengan harga yang mudah dijangkau oleh masyarakat. “Kalau harganya sendiri sih sekitaran Rp 75 hingga Rp 100 ribu. Dan itupun tergantung pria dan wanita. Bila wanita, ya rata-rata Rp 100 ribu, sebab tata riasnya sedikit rumit. Sedangkan pria paling hanya menyewa baju dan dirias secara sederhana,” paparnya.

Dia menambahkan, harga itu sudah termasuk sewa pakaian adatnya. Sehingga harganya juga cukup murah. Selain itu, jika pada hari biasa hanya menggunakan satu perias, namun khusus Hari Kartini memakai 3 perias lagi.

Editor : Kholistiono

2 Perempuan Insipratif Asal Rembang Terima Penghargaan KICI Award 2017

Saswati Ningrum (enam dari kanan), salah satu perempuan asal Rembang yang menerima penghargaan KICI Award 2017, Kamis (20/4/2017) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sepuluh perempuan dari berbagai daerah menerima penghargaan Komunitas Ibu Cerdas Indonesia (KICI) Award 2017. Dua di antaranya berasal dari Rembang. Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan di Alun-alun Rembang,Kamis (20/4/2017) malam.

Kedua perempuan inspiratif asal Rembang tersebut yakni Saswati Ningrum (36) warga Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu dan  Nurul Azizah Khoiriyah asal Dukuh Nyikaran, Desa Kemadu, Kecamatan Sulang. Penghargaan diberikan oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz  dan Ketua KICI Ratih Sanggarwati.

Saswati mengaku senang menjadi salah satu perempuan yang menerima penghargaan. Sebagai penyandang cacat, dirinya sukses mengembangkan usaha konveksi dan mengajak sesama penyandang cacat lainnya untuk ikut berkecimpung di “Saras Modist”.

“Untuk menjadi Kartini masa kini itu mudah, tidak perlu kaya, tetapi dengan keterbatasan, kita mau mengkontribusikan apa yang kita punya untuk orang-orang di sekitar kita. Kuncinya di mana ada kemauan di situ ada jalan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua KICI Ratih Sanggarwati mengungkapkan, bahwa perempuan Indonesia tidak boleh berpangku tangan saja ketika melihat ketertindasan yang dialami perempuan lain. Hal itulah yang dilakukan RA Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan.

“Hal itu pula yang membuat kami memilih Rembang menjadi tempat bermuhasabah,silaturahim. Tempat merajut kecerdasan di daerah ini, supaya perempuan-perempuan cerdas seperti yang ada di Rembang,” tuturnya.

Untuk itu, KICI memberikan penghargaan kepada sepuluh ibu dari berbagai daerah yang menginspirasi banyak orang. Harapannya dengan kegiatan semacam itu menjadi motivasi perempuan lain bergerak seperti mereka yang mendapat penghargaan malam ini.

Ketua TP PKK Kabupaten Rembang yang juga istri bupati, Hasiroh Hafidz sangat mengapresiasi pemberian penghargaan bagi mereka yang telah gigih berjuang bagi dirinya maupun orang banyak. Harapannya bisa menjadi inspirasi bagi perempuan Indonesia khususnya perempuan di Rembang.

Selain dua perempuan asal Rembang, ada delapan wanita lain dari berbagai daerah yang juga menerima penghargaan KICI Award 2017. Di antaranya yakni Hadijah (67) penggerak pendidikan dasar di DKI Jakarta,Farha Ciciek (54) aktivis kemanusiaan dari Desa Ledokombo, Jember, Jawa Timur,  Irma Husnul Hotimah (42) perintis sagon bakar crispy dari Tangerang Selatan. Selanjutnya Novi Kurbiasih (32) aktivis buruh migran dari Semarang, pelopor aneka ragam kue kering asal Bandung, Roro Ina Wiyandini (54),Karyati Vederubun seorang guru dari Maluku yang rela mengajar di tempat yang jauh hingga harus naik perahu terlebih dulu,Sugiarsih, aktivis perempuan dari Sragen dan Ririn Hanjar Susilowati aktivitas HIV AIDS dari Sragen.

Editor : Kholistiono

 

Ribuan Warga Rembang Ikuti Kirab Pataka Kata-kata Mutiara Kartini

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat memasangkan pataka untuk dikirab. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Rembang – Kata – kata mutiara Raden Ayu Kartini kembali dikirab mulai dari  museum sampai makam Kartini di Bulu, Kamis (20/4/2017). Kirab pataka sendiri diikuti oleh ribuan orang dari berbagai instansi,organisasi dan komunitas.

Kirab diawali pementasan tari Sang Kartini dengan   prosesi pengambilan bendera yang bertuliskan kata-kata mutiara yang terpilih. Selanjutnya Istri Bupati Hasiroh Hafidz mengambil dua bendera pataka yang masing-masing bertuliskan kata-kata mutiara Kartini dan wajah Kartini. Setelah itu diserahkan kepada  Bupati Rembang Abdul Hafidz dan dipasangkan ke tiang bendera untuk dikirab.

Ribuan pengiring yang berjalan kaki terlihat memakai baju kebaya dan adat Jawa. Dari sebagian mereka juga membawa sejumlah lampion dengan berbagai bentuk dan gambar wajah pahlawan emansipasi wanita, Kartini.

Bupati seusai memberangkatkan kirab mengatakan, kirab pataka merupakan prosesi yang sakral. Hal itu  menggambarkan ketika RA Kartini saat disemayamkan dulu yang diiring oleh banyak orang.

“Karena ketokohan RA Kartini inilah masyarakat merasa ngiring jenazahnya Ibu Kartini. Dan mengenang semangat yang diwariskan, termasuk makna dari kata-kata mutiara yang dikirab,” ujarnya.

Kirab tahun ini pun sangat memberikan spirit bagi jajaran pemkab dengan kedatangan enam keluarga Kartini yang sebelumnya juga hadir pada jamuan makan malam beberapa hari yang lalu. Hal itu dianggap sebagai motivasi bagi pemkab untuk terus menggelorakan RA Kartini di Rembang.

Kata-kata mutiara yang dikirab berbunyi “Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri. Paham lama yang sudah turun temurun,tiada dapat dengan sebentar saja disisihkan akan menggantinya dengan paham baru. Berkuasa paham yang lama itu,oleh karena masih dihormati orang seluruh negeri,tetapi tumbuhan muda yang segar itu tentulah akan menang jua.”

Rute kirab pataka sendiri mulai start pukul 15.00 WIB dari museum RA Kartini ke utara masuk jalan pantura ke barat ke arah Tugu Adipura ke selatan arah Jalan Pemuda sampai finish di  Soetomo ke selatan sampai makam Kartini di Bulu. Ada tiga pos yang menjadi titik estafet , yakni pos galonan yang diberangkatkan Wakil Bupati Bayu Andriyanto didampingi Istri Vivit Bayu Andriyanto, pos kedua di Kecamatan Sulang dan pos di Bulu, serta finish di makam yang akan diterima oleh Hasiroh Hafidz untuk disemayamkan semalam di sana.

Editor : Kholistiono

Ada Kebiasaan Kartini yang Disebut Sama dengan Remaja Zaman Sekarang

Edi Winarno (dua dari kanan) dalam sebuah acara dialog budaya di Pendopo Museum RA Kartini kemarin. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Rembang – Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang Edi Winarno mengatakan, ada kebiasaan Raden Ayu (RA) Kartini saat remaja yang hampir sama dengan remaja pada zaman sekarang.

Hanya saja, ia mengatakan, bahwa kesamaan kebiasaan Kartini ketika itu yakni selalu membuka buku, membaca buku di saat bangun tidur. Sedangkan anak zaman sekarang, membuka handphone dan kemudian membaca seusai tidur.

“Kartini itu, selalu membuka dan membaca buku seusai atau saat bangun tidur. Sedangkan remaja saat jni, selalu membuka dan membaca WA, BBM, Faceebook dan sejenisnya saat bangun tidur,” kata Edi.

Dengan kebiasaan yang positif itulah, menurut dia, Kartini mempunyai ilmu pengetahuan yang luas, khususnya ilmu pengetahuan umum maupun agama.

“Kebiasaan membuka dan membaca buku itu, menunjukan bahwa kaum wanita telah diangkat. Yakni memberikan contoh, bahwa kaum wanita harus bisa mempunyai keterampilan, pengetahuan dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Sementara itu, ia juga berharap supaya kebiasaan Kartini saat remaja dapat dicontohkan pada remaja saat ini. “Ya setidaknya dapat dicontoh (membuka, membaca buku). Meskipun hanya beberapa menit saja. Sehingga ilmu pengetahuan remaja dapat berkembang pesat,” ucap pria yang juga menjabat Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Rembang.

Editor : Kholistiono

37 Stand Pamerkan Potensi Desa di Gebyar Mayong

Stand makanan dan obat-obatan alami potensi salah satu desa di Kecamatan Mayong yang ikut hadir dalam acara Gebyar Mayong, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Acara bertajuk Gebyar Mayong digelar di Kompleks Kecamatan Mayong. Selama tiga hari, ajang itu akan menampilkan 37 stand pameran dari 18 desa ditambah pihak swasta, yang memamerkan keunggulan wilayah mereka.

Panitia acara Gebyar Mayong Arif Budianto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan ajang untuk memeringati hari lahir RA Kartini yang jatuh pada 21 April. “Pelaksanaan acara ini juga digabung satu dengan ajang Hardiknas. Tujuannya adalah membangun sinergi antara Kecamatan Mayong dan Hardiknas serta mengembangkan ekonomi kreatif,” katanya.

Ia menjelaskan, puluhan stand tersebut akan memamerkan produknya hingga tanggal 21 April 2017. Selepasnya, acara akan tetap dilangsungkan hingga puncak acara Hardiknas pada 2 Mei 2017.

Lebih lanjut ia mengatakan, anggaran total kegiatan tahunan itu adalah Rp 75.712.000. Namun demikian, Arif menyebut hingga kini baru terkumpul Rp 58 juta. 

“Memang baru terkumpul Rp 58 juta, tapi kami yakin sebelum akhir acara para donatur yang berasal dari perusahaan besar akan memberikan sumbangannya,” kata dia.

Pantauan MuriaNewsCom, beberapa stand yang ada memamerkan potensi desanya. Seperti Desa Mayong Lor yang memajang hasil kreasi warganya berupa tembikar. Adapula yang mengunggulkan produk makanan dan obat-obatan alami.

Editor : Kholistiono

Keakraban dalam Jamuan Makan Malam dengan Keluarga Raden Ayu Kartini di Rembang

Keluarga besar Raden Ayu Kartini foto bersama Bupati Rembang Abdul Hafidz, Wabup Rembang Bayu Andriyanto, Wakil Kedutaan Besar Belanda Michael dan Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Selasa (18/4/2017) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang menyelenggarakan jamuan makan malam bersama keluarga besar Raden Ayu Kartini di Pendapa Museum Kartini Rembang, Selasa (18/4/2017). Hadir dalam kesempatan itu, perwakilan Kedutaan Pemerintah Belanda, Bupati Rembang Abdul Hafidz, keluarga besar RA Kartini dan tamu undangan.

Dalam kesempatan itu, keluarga Kartini memberikan restu jika Kartini milik Kabupaten Rembang. Bupati  menyebutkan, ada data yang menguatkan bahwa istri Bupati Rembang Djojo Adhiningrat itu layak menjadi milik Rembang. Di antaranya RA Kartini berjuang dan berkuasa di Rembang, melatih berbagai keterampilan termasuk dimakamkan di Rembang.

“Raden Ayu Kartini menjadi milik Rembang. Bukan milik siapa-siapa. Sebab, Kartini memperlihatkan performnya juga di Rembang. Salah satunya, ia juga  latihan membatiknya di Rembang, keterampilannya di Rembang serta jasadnya juga di Rembang,” ujarnya.

Untuk itu, pemkab saat ini berupaya untuk mengobarkan semangat Kartini, termasuk budaya yang diwariskannya. Menurutnya, dengan berbagai budaya dan fakta sejarah darinya itu, pihaknya memperjuangkan Kartini  di Kabupaten Rembang.

Ia juga menyampaikan, bahwa di Belanda, sosok Kartini sangat dikagumi.  Di Negara Kincir Angin, Kartini menjadi inspirasi banyak orang. Karena itu, sebagai warga negara Indonesia juga harus mengagumi sosok  Kartini.

Di sisi lain, perwakilan Duta Besar Belanda, Michael mengutarakan, bahwa kegiatan semacam ini merupakan langkah yang bagus. “Edukasi itu penting bagi anak muda, penerus bangsa. Supaya nantinya ilmu pengetahuan, pendidikan yang diajarkan Kartini dapat diterapkan di zaman sekarang ini,” tambahnya.

Sementara itu, Joddy Mulya Setya Putra canggah dari Raden Ayu Kartini mewakili keluarga  berterima kasih kepada Pemkab Rembang. Selain sebagai penghargaan terhadap jasa-jasa pahlawan emansipasi wanita, sekaligus sebagai bentuk upaya untuk melestarikan budaya yang telah diwariskan leluhur.

“Di zaman era milenia saat ini, masyarakat banyak yang meninggalkan budayanya. Terlebih sekarang kaum millennial lebih mengikuti kemajuan teknologi,”ungkapnya.

Ia menilai, kebudayaan Indonesia yang sudah diajarkan oleh pendahulu bangsa tentunya mempunyai nilai nilai luhur yang dapat diterapkan dalam waktu saat ini.

Untuk diketahui keluarga besar Kartini yang hadir pada malam tersebut cucu menantu RA Kartini Sri Bijatini, dua cicit yang bernama Rukmini dan Samingun Bawadiman, cicit menantu Umiyati serta dua canggah Kartini juga Joddy Mulya Setya Putra dan Hanif Satrio Rahmansyah.

Editor : Kholistiono

Pengunjung Padati Tempat Ari-ari Kartini di Mayong Jepara

Sejumlah siswa antusias melihat tempat disimpannya ari-ari (plasenta) pahlawan nasional RA Kartini, yang berada di kompleks Kantor Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua hari jelang peringatan hari kelahiran RA Kartini, pengunjung terlihat memadati tempat ari-ari (plasenta) di Kompleks Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto di depan petilasan yang dilindungi oleh kaca tersebut. 

Seperti Maria Ulfah (60). Guru di TK Aisyiah Sengon itu mengatakan datang bersama murid-muridnya. “Saya tiap tahun rutin ke sini (kompleks Kecamatan Mayong), tujuannya mendampingi murid mengikuti lomba. Selepas tadi mewarnai, saya ajak murid saya ke tempat ari-ari Bu Kartini,” ujarnya yang telah mengajar sejak tahun 1975 itu. 

Ia mengatakan, selalu berusaha menularkan semangat Kartini kepada anak didiknya. Menurutnya, jasa pahlawan wanita itu membawa banyak perubahan kepada kaumnya. 

“Ya selalu saya ceritakan tentang jasa Bu Kartini dalam emansipasi wanita. Kalau dulunya wanita cuma bisa uleg-uleg (memasak) sekarang sudah bisa merambah ke pekerjaan lain,” tuturnya. 

Tempat ari-ari Kartini sendiri merupakan sebuah pendapa, yang terdapat sebuah monumen berbentuk bunga lotus. Di atasnya terdapat sebuah panci dari tanah. Monumen itu dilindungi oleh kaca agar tidak tersentuh oleh tangan pengunjung. 

Sementara, di samping kiri bangunan tersebut, didirikan sebuah monumen yang bertuliskan “Tempat RA Kartini dilahirkan 21 April 1879”. 

Editor : Kholistiono

Disparbud Jepara Akan Lacak Benda Sejarah di Luar Negeri

Sejumlah orang saat mengunjungi Museum Kartini Jepara, Selasa (18/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara akan menelusuri sejumlah benda bersejarah yang tersimpan di luar negeri. Satu benda sejarah yang kini telah terdeteksi adalah korespondensi Ratu Shima kepada pemerintah Granada (Spanyol). 

Hal itu dikatakan oleh Kepala Disparbud Jepara Deni Hendarko. Menurutnya, jejak sejarah Ratu Shima tersimpan dalam bentuk surat di Spanyol. Sementara ini, pihaknya terus melakukan penelusuran lewat berbagai media.

“Kami melacak melalui berbagai medium termasuk melalui media sosial. Selain itu satu staf kami telah melakukan koordinasi dengan personel kedubes di sana,” ujarnya, Selasa (18/4/2017). 

Menurutnya, hingga kini pihaknya belum bisa mengakses artefak kesejarahan yang berada di Spanyol itu. Deni menyebut, saat ini benda tersebut sedang dalam tahap penelitian. “Paling tidak kita tahu koleksi tersebut lewat reproduksi digital atau minimal fotonya,” imbuhnya. 

Sementara itu, Windi, Staf Disparbud Jepara menyebut benda sejarah tersebut berupa korespondensi Ratu Shima dengan penguasa Granada saat itu.

Editor : Kholistiono

Pemkab Jepara Dapat Hibah 26 Foto Kartini dari Belanda

Sejumlah pengunjung sedang melihat koleksi di Museum Kartini, Selasa (18/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendapat hibah foto-foto Kartini dari Pemerintah Belanda, sejumlah 26 buah. Bila sesuai rencana, foto hasil reproduksi digital itu akan sampai di Jepara pada hari Rabu (19/4/2017).

“Bila tidak hari Rabu ya Kamis itu (foto Kartini) sampai di Jepara. Selanjutnya akan dipamerkan sementara di Pringgitan yang ada di kompleks Pendapa Pemkab Jepara. Setelahnya, akan dipamerkan di Museum Kartini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Deni Hendarko, Selasa (18/4/2017).

Ia menyebut, sejumlah foto yang dihibahkan oleh Belanda mendokumentasikan potret Kartini, keluarga dan Jepara tempo dulu. Dikatakan Deni, beberapa foto tersebut dimungkinkan serupa dengan koleksi yang ada di Museum Kartini. Namun demikian, dari segi kualitas barang tersebut dinilai lebih baik. 

Dirinya menjelaskan, sebelumnya Belanda hanya akan menghibahkan foto dalam bentuk digital sebanyak 75 buah. Namun terdapat perkembangan situasi,di mana 26 dari 75 file digital telah dicetak. 

Hal itu karena potret-potret yang dihibahkan merupakan reproduksi digital, dari karya asli. Sementara yang tersimpan di Museum Kartini merupakan reproduksi dari karya yang juga telah direproduksi. Ditambahkan Deni, selain koleksi foto ada juga catatan-catatan pemikiran atau korespondensi Kartini yang ikut dihibahkan.

Menurutnya, sebelum dihibahkan, Disparbud Jepara telah melalui serangkaian pembicaraan dengan berbagai pihak, termasuk pegiat sejarah dan pemerintah Belanda. 

Namun demikian, Disparbud belum bisa mendapatkan karya asli dari koleksi kesejarahan Jepara. “Untuk mendapatkan hibah tersebut kami melalui proses meminta izin dengan Kedutaan Belanda. Itupun kami tidak bisa mengambil langsung, akan tetapi melalui pihak Belanda baru diserahkan ke kita sebagai hibah,” imbuh Deni. 

Sementara itu, Staf Museum Kartini Reza menyebut, koleksi fofo-foto Kartini ada sekitar 90 buah, yang terpajang. Koleksi itu terdiri dari foto dalam ukuran besar dan kecil.

Editor : Kholistiono

Pemkab Rembang Bakal Peringati Weton Raden Ayu Kartini Setiap Senin Pahing

Festival budaya Senin Pahingan yang digelar kemarin di Pendapa Museum Kartini. (Istimewa)

MuriaNewsCom,Rembang – Dalam rangka menggeliatkan peringatan Hari Kartini di Kabupaten Rembang, Bupati Rembang Abdul Hafidz berniat akan memperingati hari lahir Raden Ayu (RA) Kartini setiap 35 hari sekali pada hari Senin Pahing.

Senin Pahing merupakan weton dari RA Kartini. Keinginan melestarikan budaya dalam hal ini memperingati weton dari pahlawan nasional itu merupakan bentuk keseriusan pemkab dalam menggaungkan peringatan Hari Kartini.

Ia mengakui, budaya mampu memengaruhi psikologis dan perkembangan pembangunan suatu daerah. Bersama Wakil Bupati Bayu Andriyanto, Hafidz berkomitmen akan melestarikan budaya lokal.

“Kenapa budaya lokal kami angkat? Karena budaya ini punya nilai strategis untuk mengawali kemajuan-kemajuan. Maka bisa saya sampaikan, negara boleh maju, teknologi boleh maju namun budaya lokal tidak boleh tenggelam,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, beberapa hal yang dikagumi dari RA Kartini. Yang pertama tentang konsistensi memperjuangkan hak-hak kaum perempuan meskipun banyak rintangan dan komitmennya dalam memajukan bangsa.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Dwi Purwanto mengatakan, rencana Dinbudpar akan menyelenggarakan Senin Pahingan secara rutin. Pusat kegiatan Senin Pahingan dilaksanakan di Pendapa Museum RA Kartini.

Editor : Kholistiono

Muskitnas Gelar Pameran Keliling “Sisi Lain Kartini”

Seorang petugas dari Muskitnas sedang menjelaskan tentang pameran Sisi Lain Kartni. Pameran ini berlangsung di area Museum Kartini, Senin-Sabtu (17-22/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas) mengadakan pameran keliling bertajuk “Sisi Lain Kartini” di Museum Kartini Jepara Senin-Sabtu (17-22/4/2017). Kegiatan ini menyasar kawula muda untuk mengenalkan pemikiran tokoh emansipasi itu. 

Kartini yang lahir pada 21 April 1879 itu ditetapkan sebagai pahlawan nasional atas perjuangannya terhadap hak asasi perempuan.

Kasi Pengkajian Koleksi Muskitnas Isnudi mengatakan, pameran itu menitikberatkan pada kajian pemikiran Kartini. Hal itu didasarkan atas fakta bahwa pemikiran tokoh tersebut menjadi titik berat perjuangan putri Jepara tersebut. 

“Kami tidak membawa barang-barang Kartini, karena di Museum Kartini sudah banyak dipamerkan. Akan tetapi tidak banyak yang dinarasikan oleh karenanya kami pemikiran tokoh tersebut. Hal itu didasari bahwa ide dan semangat juang melalui pendidikan adalah titik tolak perjuangan Kartini,” ucapnya, Senin (17/4/2017).

Menurutnya, banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikirian Kartini, di antaranya pandangannya tentang poligami. Saat masih kecil, diceritakan Kartini tidak menyukai adat tersebut, namun pada akhirnya ia menjadi bagian dari adat itu.

Di samping itu, diceritakan pula kegigihannya dalam mencapai cita-cita. Diceritakan Isnudi, tokoh tersebut sempat akan memasuki sekolah kedokteran, namun hal itu urung karena sistem pendidikan yang tak memihak perempuan. 

“Pernah suatu kali, Kartini hendak menjadi seorang dokter, namun cita-citanya pupus karena sekolah kedokteran saat itu tidak menerima murid wanita,” imbuhnya. 

Ia mengatakan, untuk memasuki  pameran tersebut pengunjung tidak dikenakan biaya. Muskitnas juga menyediakan pemandu yang akan mengungkap terkait sisi lain Kartini. 

Plt Bupati Jepara Sholih dalam sambutannya, mengapresiasi pameran tersebut. Dalam keterangan tertulisnya mengatakan, agar pameran tersebut dapat meningkatkan kebanggaan masyarakat dan pada akhirnya memberi semangat nasionalisme kepada pemuda.

Editor : Kholistiono

Yang Perlu Kamu Tahu, Gelar RA untuk Kartini Kini Kepanjangannya Bukan Lagi Radeng Ajeng

Foto Raden Ayu Kartini yang terpasang di Musem Kartini Rembang (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Singkatan gelar RA untuk Kartini, yang semula memiliki kepanjangan Raden Ajeng, kini telah diubah menjadi Raden Ayu. Terkait hal ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Rembang gencar untuk melakukan sosialisasi terkait perubahan tersebut.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, Winaryu Kustiyah mengatakan, perubahan tersebut tidak lepas dari kajian atau penelitian mendalam dari pakar sejarah. Katanya, gelar Raden Ajeng pada masanya disematkan hanya untuk wanita yang belum menikah.

“Sedangkan bagi perempuan atau wanita yang sudah menikah, maka langsung berubah menjadi Raden Ayu. Sementara itu, Kartini telah menikah dengan Bupati Rembang Raden Mas Djojo Adiningrat. Maka sebutan Raden Ajeng dianggap tidak relevan lagi,” katanya.

Selain itu, pihak Dinbudpar juga sudah menggelar rapat dengan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) telah disepakati bahwa kepanjangan itu sudah diubah. Yakni menjadi Raden Ayu.

Sementara itu, pihaknya juga mengimbau kepada pihak terkait, baik mulai dari kalangan pelajar, instansi, sekolah atau yang lainnya bisa ikut mensosialisasikannya.

“Selama ini, warga memang sudah terbiasa dengan sebutan nama Raden Ajeng Kartini atau disingkat dengan RA. Namun untuk saat ini mulailah menggunakan nama Raden Ayu Kartini, sekaligus untuk membiasakan. Terlebih lagi, sebutan itu jangan disingkat lagi dengan singkatan RA. Akan tetapi langsung disebutkan saja Raden Ayu, baik di acara seremonial, acara pemerintahan dan lainnya,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono