Beruntung Tak Dibakar Massa, Pencuri Kotak Amal Musala di Kaliwungu Kendal Ini Babak Belur

Pencuri kotak amal musala, Yudi, mengalami babak belur, di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. (metrojateng)

MuriaNewsCom, Kendal – Yudi Prasetya (24), warga Kelurahan Blumbungan, Kecamatan Jagalan Selatan, Kota Semarang, benar-benar nekat. Yudi mencuri kotak amal di Musala Al Asyari Kampung Pesantren, Desa Krajan Kulon, Kaliwungu, Kendal, Jumat (18/7/2017) siang.

Aksinya terpergok warga. Tentu saja, warga tak tinggal diam. Warga yang diliputi rasa amarah langsung mengejar Yudi. Warga berhasil mengejar Yudi. Pukulan demi pukulan dilayangkan ke wajah pemuda itu. Beruntung, warga tidak sampai melakukan pembakaran seperti yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Polisi yang tiba di lokasi, segera mengamankan Yudi.

Polisi kemudian melarikan Yudi ke Rumah Sakit Darul Istiqomah, Kaliwungu, Kendal. Yudi dalam kondisi tangan terborgol, harus menjalani belasan jahitan akibat luka wajah.  Usai mendapat perawatan, Yudi dibawa ke sel tahanan Mapolsek Kaliwungu.

Sedangkan barang bukti kotak amal yang dicongkel gemboknya diamankan sebagai barang bukti. Polisi mengamankan pula uang dari tangan Yudi sebesar Rp 740 ribu. Polisi masih melakukan penyelidikan kasus pencurian kotak amal ini.

Kepada polisi, Yudi menceritakan, dirinya melakukan pencurian karena butuh uang. Yudi pun mencuri kotak amal. Sebelum mencuri, Yudi pura-pura tidur di Musala Al Asyari. Saat suasana sepi, Yudi segera melakukan aksinya. Yaitu dengan mencongkel gembok yang ada di bagian bawah kotak amal.

Warga memergoki aksinya itu dan menangkapnya. Yudi beralasan tidak memiliki pekerjaan dan uang untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya tidak punya uang. Sebelumnya saya memang tidur di musala,” kata Yudi dikutip dari metrojateng.com.

Sementara itu, menurut Kapolsek Kaliwungu AKP Nanung Nugraha, Yudi sudah dua kali tercatat kasus serupa di kepolisian. “Pelaku diamankan warga yang sudah menghakimi lebih dulu, lalu diserahkan ke polisi,” ujar Nanung.

Editor : Akrom Hazami

Gara-gara Macet di Kaliwungu, Pengendara Harus Tempuh Jarak 3 Km Dalam Waktu Hingga 40 Menit

f-upload jam 16, Jalan Macet 2 (e)

Situasi kemacetan yang terjadi di Jalan Kudus-Jepara, tepatnya di Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kemacetan panjang terjadi di Jalan Kudus – Jepara, tepatnya di Kecamatan Kaliwungu. Setidaknya, kemacetan ini hingga sampai 3 kilometer.Gara-gara ruas jalan tersebut macet, pengendara harus tempuh jarak 3 kilometer dalam waktu hingga 40 menit.

Susilo, warga Gebog yang sedang melintas di ruas jalan tersebut dengan menggunakan mobil mengaku, dirinya harus mengantre untuk bisa melewati jalan tersebut secara bergantian.

“Biasanya paling tidak ada tiga menit. Tapi ini macetnya panjang, jadi harus menunggu sesuai dengan urutan mobil di depan,” keluhnya saat antre.

Dia berharap,perbaikan jalan tersebut segera tuntas diperbaiki, sehingga aktivitas lalu lintas kembali normal. Sebab jika tidak, maka kemacetan dapat lebih panjang dan memakan waktu lebih lama.

Sementara, Wahidi, warga Kaliwungu memilih jalan memutar ketimbang harus menunggu antrean untuk bisa melewati jalan tersebut. Meski lebih jauh, namun hal itu mampu sampai ke luar kemacetan lebih cepat.

“Mending memutar saja, kalau dari timur, lewat Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, kemudian masuk Desa Banget, Desa Gamong dan kembali ke jalan raya. Begitupun sebaliknya, hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Dengan Rp 500 Masyarakat Desa Kaliwungu Mampu Benahi Fasilitas Umum Mandiri

Warga Desa Kaliwungu kerja bakti membersihkan puing bambu lapuk dari angkruk yang roboh. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga Desa Kaliwungu kerja bakti membersihkan puing bambu lapuk dari angkruk yang roboh. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ada yang khas dari cara masyarakat di Desa Kaliwungu untuk memenuhi kebutuhan fasilitas umum. Yaitu dengan iuran Rp 500 dari masyarakat di Desa tersebut yang ditarik setiap malam.

Baca juga : Salut! Masyarakat Desa Kaliwungu Kompak Laksanakan Kerja Bakti

Seperti halnya diungkapkan Ketua RT 2 RW 6 Desa Kaliwungu, Munasri, dia mengungkapkan, selain kerja bakti, masyarakat desanya juga terdapat iuran wajib yang diambil tiap malam.

”Jadi tiap hari ada jimpitan, hanya Rp 500 saja. Hasilnya dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi kembali ke masyrakat lagi fungsinya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kebutuhan masyarakat yang dimaksud, di antaranya perawatan jalan gang. Biasanya, saat kerja bakti pula, dilakukan pembenahan fasilitas umum yaitu penambahan jalan yang rusak atau berlubang.

Selain jalan, perawatan juga dilakukan untuk lampu penerangan. Lampu penerangan juga fasilitas umum di desa. Sehingga jika lampu mati, maka dapat dilaporkan dan menggunakan kas desa untuk menggantinya.

”Tiap selapan sekali atau 45 hari sekali dilakukan di tingkat RT, itu untuk menampung kebutuhan masyarakat. Bukan hanya RT sini saja melainkan juga RT lainnya,” ungkapnya.

Dia berharap hal itu dapat dilakukan dengan rutin. Sebab sebagi forum untuk membenahi kebutuhan masyarakat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Salut! Masyarakat Desa Kaliwungu Kompak Laksanakan Kerja Bakti

Salut! Masyarakat Desa Kaliwungu Kompak Laksanakan Kerja Bakti. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salut! Masyarakat Desa Kaliwungu Kompak Laksanakan Kerja Bakti. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Masyarakat Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, semakin intensif menggalakkan kerja bakti di lingkungan desa. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan desa yang bersih, terutama pada musim hujan ini.

Seperti halnya diungkapkan Munir, warga Dukuh Winong, Kecamatan Kaliwungu. Menurutnya di kawasan Kaliwungu memang sering diselenggarakan kerja bakti untuk kebutuhan masyarakat.
”Sering ada kerja bakti. Seperti beberpa waktu yang lalu juga ada kerja bakti membersihkan jalan dan gorong-gorong,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kerja bakti biasanya dilakukan pada saat masyarakat libur bekerja. Bisa dilakukan pada Jumat atau bahkan Minggu pagi.

Dia menjelaskan, biasanya kerja bakti dimulai pada pukul 06.00 pagi hingga selesai. Meski pagi, namun masyarakat banyak yang datang. Sehingga kerja bakti selalu dipadati warga.

”Kalau yang tidak ikut, biasanya mereka membawakan jajan atau makanan ringan untuk warga yang bersih-bersih. Jadi saling bekerja sama antar warga,” ungkapnya.

Dia berharap kerja bakti dapat dijadwalkan dengan rutin. Sebab Hal itu dilakukan untuk kebutuhan masyarakat dan juga kebutuhan masyarakat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Warga Mijen Kaliwungu Kudus Ikhlaskan 2 Km Lahannya Jadi Jalan

Ujung jalan lingkar yang masih belum dibangun, warga menginginkan jalan segera dibangun meski tidak diganti lahan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ujung jalan lingkar yang masih belum dibangun, warga menginginkan jalan segera dibangun meski tidak diganti lahan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sejauh dua kilometer lahan warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu rela tidak diganti untuk pembangunan jalan. Warga sepakat untuk tidak mendapatkan ganti rugi, melainkan hanya mendapatkan kemudahan saja.

Hal itu diutarakan Kades Mijen, Kecamatan Kaliwungu Sukri, menurutnya dalam pembangunan jalan yang menelan tanah warga itu, tidak ada ganti rugi. Melainkan, warga dijanjikan kemudahan dalam mengurus hingga gratis dalam membuat surat tanah dan IMB.

”Warga di sini khususnya yang dilewati jalan, dapat kemudahan dalam urus surat tanah dari Badan Pertanahan Nasional. Bahkan, pemerintah juga menjanjikan untuk urus IMB secara cuma-cuma. Hal itu disampaikan kepada kami saat pertemuan beberapa kali,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dia mencontohkan seorang warga yang ingin memecah tanah untuk ahli warisnya. Yakni Mbah Sukrin, mumpung diberikan fasilitas secara gratis, dia memanfaatkan mengurus sertifikat tanah yang dipecah tanahnya untuk anak-anaknya.

Hanya, usulan pemecahan yang dilakukannya bersama dengan warga lainnya itu, masih belum jadi hingga sekarang. Sukri mengungkapkan, hal itu disebabkan banyaknya warga yang mengurus.
”Kalau pemohon awalnya 84, namun sekarang menjadi 192. Itu juga membuat lama pembangunan dilanjutkan,” katanya.

Mengenai infrastruktur lokasi jalan, dia menjelaskan sudah ada jembatan yang kokoh berdiri di sana. Sehingga, tinggal melanjutkan pembangunan jalan saja.

”Kalau sudah jadi, harga tanah di sana bisa naik banyak. Bahkan bisa naik hingga 10 kali lipat dari harga semula,” ungkapnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Cabut Tuntutan Pembebasan Lahan, Warga Mijen Kaliwungu Kudus Inginkan Jalan Lingkar Segera Jadi

Jembatan di desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu yang sudah kokoh sejak 2003 lalu. Jembatan itu dibangun untuk membuat jalan lingkar dengan menyambungkan Mijen dengan Klumpit Gebog. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Jembatan di desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu yang sudah kokoh sejak 2003 lalu. Jembatan itu dibangun untuk membuat jalan lingkar dengan menyambungkan Mijen dengan Klumpit Gebog. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Ratusan warga Mijen, berharap pembangunan jalan di lingkar utara segera diselesaikan. Bahkan, untuk menyukseskan pembangunan jalan itu, para warga sampai mencabut tuntutan yang sebelumnya pernah dilayangkan.

Hal itu diutarakan Kades Mijen, Kecamatan Kaliwungu Sukri, menurutnya tuntutan kepada pihak kepolisian sudah dicabut lantaran warga sepakat untuk terus dibangunnya jalan yang tembus hingga Peganjaran, Bae, Kudus itu.

”Kami sudah mengadakan pertemuan selama beberapa kali dengan warga. Hasilnya, semua sepakat kalau jalan segera dibangun hingga selesai,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sebelumnya, kata dia, memang ada warga yang melaporkan kasus jalan lingkar itu kepada pihak kepolisian. Hanya, laporan itu sudah sangat lama dan malah mengganggu pembangunan jalan.

Tidak hanya itu, laporan warga yang didampingi oleh LSM yang enggan disebutkan namanya, juga sampai pada Kejati. Namun, para warga sekarang sudah sepakat untuk tidak meneruskan perkara pembebasan tanah jalan lingkar itu.

”Apalagi yang bersangkutan, dalam hal ini yang melaporkan juga sudah meninggal. Sehingga warga lain yang ada, berniat agar jalan segera diselesaikan,” ujarnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Ribuan Warga Ramaikan Kirab Budaya Haul Mbah Rogo Moyo

Kirab budaya dalam rangka haul Mbah Rogo Moyo. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kirab budaya dalam rangka haul Mbah Rogo Moyo. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Ribuan warga Desa Kaliwungu  meramaikan kirab budaya, sebagai rangkaian haul Mbah Rogo Moyo di Dukuh Prokowinong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Minggu (25/10/2015).

”Kalau pesertanya ada ribuan,  sekitar 1.366 peserta. Jumlah tersebut bukan hanya dari dukuh Prokowinong saja, tapi dari masyarakat sekitar juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Jadi jumlahnya cukup banyak,” kata Ketua Haul, Haryono.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahunan. Kali ini, merupakan tahun kelima dilakukan dengan meriah. Tahun lalu, katanya, kegiatan hanya dilakukan dengan cara mengarak kain luwur dan itupun dilakukan waktu malam hari, usai maghrib. Kemudian, yang mengikuti juga hanya kaum laki-laki saja.

Sedangkan untuk kirab kali ini, katanya, banyak pertunjukkan yang ditampilkan warga, di antaranya silat kejawen Patih Arjuna, Asemanten, permainan tradisional dan juga beragam hasil pertanian yang menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat di sana juga ikut diarak.

”Memang banyak budaya yang ditunjukkan dalam kirab ini. Apalagi, Mbah Rogo Moyo merupakan pecipta rumah adat Kudus. Warga ada yang menyajikan ritual Arang-arang Kambang, Joglo Kudus dan juga juga pertukangan, soalnya pendiri juga seorang tukang kayu,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan seperti ini sangat ditunggu oleh masyarakat. bukan hanya masyarakat Desa Kaliwungu saja, melainkan juga masyarakat desa lainnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)