Peristiwa yang Hebohkan Pati Selama Februari 2016

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Februari baru saja berlalu. Beragam peristiwa terjadi dalam sebulan tersebut. Ada beberapa peristiwa yang cukup menyita perhatian publi, khususnya masyarakat Pati sendiri. Berikut ini, kilas peristiwa selama Februari di Pati. Mulai dari kejadian pencabulan, politik, pemerintahan hingga masalah sosial.

Yang masih hangat menjadi perbincangan publik adalah terkait mobil bupati yang digunakan untuk mantenan. Kehebohan tersebut, berawal ketika pemilik akun facebook Ika Pus Pita mengunggah foto yang memperlihatkan mobil dinas Bupati Pati pelat merah bernomor polisi K 1 A yang digunakan untuk acara mantenan di Kebumen

Sontak, postingan itu menuai hujatan dari netizen. Beragam komentar dilayangkan kepada Ika Pus Pita. Yang paling membuat netizen geram, Ika Pus Pita justru membalas komentar: “Lha kenapa pada sewot. Yang punya saja, diam aja kok,” tulisnya.

Selain itu, kejahatan asusila juga tercatat di Februari lalu. Di antaranya, seorang penjual nasi goreng bernama Anggit yang merupakan warga Kecamatan Pati terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian, lantaran diduga mencabuli remaja di bawah umur berinisial DW (17) asal Kecamatan Margorejo.

Pelaku dibekuk petugas Polres Pati, lantaran membawa remaja itu hingga berhari-hari dan dicabuli berkali-kali. Padahal, pelaku dan korban awalnya hanya berkenalan melalui handphone.

Kemudian, ada juga seorang kakek berusia 62 tahun asal Kecamatan Dukuhseti, Pati, Kaswi diduga mencabuli seorang bocah berusia 12 tahun berinisial IN yang tak lain tetangganya sendiri.

Yang tak kalah heboh adalah terkait polemik perpanjangan izin karaoke di Pati. Pada 24 Februari Majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang akhirnya memutuskan perkara izin karaoke di Pati yang diajukan sejumlah pengusaha karaoke.

Dari dua perkara yang diajukan kuasa hukum pengusaha karaoke, satu perkara diputuskan agar Pemkab Pati segera memberikan izin karaoke. Sementara itu, satu perkara lainnya diputuskan supaya Pemkab Pati tidak memberikan izin karaoke.

Selanjutnya ada peristiwa yang mengenaskan. Di antaranya, seorang bocah yang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) bernama Sabrina Dwi Rahmawati, warga Desa Degan, Kecamatan Winong, Pati tewas tenggelam di sungai desa setempat, Selasa (23/2/2016). Kemudian, seorang ibu berusia 45 tahun bernama Parni, warga Dukuh Domo RT 3 RW 1, Desa Glagahkasihan, Kecamatan Gembong terseret arus di sungai setempat, Rabu (17/2/2016) sore.

Di samping itu, peristiwa politik juga tak kalah mencuri perhatian masyarakat. Figur-figur yang ingin maju dalam Pilkada Pati 2017 sudah mulai bermunculan.

Setidaknyasudah ada beberapa tokoh yang ikut penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati melalui PDI Perjuangan Pati. Di antaranya, Budiyono (wabup), Haryanto (bupati), Saiful Arifin, Ampri Shodiqin, Sadewo, Novi Eko Yulianto, Endro Dwi Cahyono, Budiyono (asal Desa Sambirejo).

Editor : Kholistiono

KALEIDOSKOP 2015 : Pilkades Serentak di Pati Catat Sejarah Baru

Pemilihan kepala desa di Kabupaten Pati pada Maret 2015 (MuriaNewsCom)

Pemilihan kepala desa di Kabupaten Pati pada Maret 2015 (MuriaNewsCom)

PATI – Sepanjang tahun 2015 ini, banyak kejadian penting yang mewarnai Kabupaten Pati, termasuk agenda pemilihan kepala desa secara serentak yang diikuti sebanyak 219 desa dari 405 desa yang ada di Kabupaten Pati.

Pilkades serentak yang diselenggarakan pada 28 Maret 2015 tersebut, merupakan kali pertama di Kabupaten Pati. Setidaknya ada 528 calon kepala desa yang mengikuti pesta demokrasi ini.
Dari 528 calon kepala desa tersebut, sebanyak 81 orang merupakan kaum hawa. Banyaknya partisipasi kaum hawa dalam mencalonkan diri sebagai kepala desa ini, merupakan catatan rekor baru di Indonesia untuk pilkades.

Banyaknya calon peserta dari kaum perempuan ini, Museum Rekor Indonesia (MURI) menganugerahkan penghargaan kepada Kabupaten Pati yang telah mencatatkan rekor pilkades dengan jumlah calon wanita terbanyak se-Indonesia. Piagam diserahkan Ketua MURI Paulus Pangka kepada Bupati Pati Haryanto.

Namun, bukan berarti penyelenggaraan pilkades serentak tersebut tanpa ada masalah. Beberapa dinamika muncul dalam proses pelaksanaan pilkades. Di antaranya yaitu, di Desa Gesengan, Kecamatan Cluwak. Di desa ini ada tiga bakal calon yang maju, yakni Sutrisno, Suyanto, dan Sunarso.

Dalam hal ini, panitia membatalkan Suyanto sebagai calon, karena alasan ijazah yang disebut tidak sah. Hal ini kemudian membuat suasana panas. Dari pendukung Suyanto maupun calon lain, sampai melakukan aksi unjuk rasa, dengan tujuan yang berbeda. Masing-masing ada yang pro dan kontra dengan keputusan panitia tersebut. Bahkan, kasus ini juga sempat masuk ke ranah hukum pidana, karen dari pihak Suyanto melaporkan panitia terkait hal ini.

Disisi lain, setelah melakukan beberapa proses, akhirnya panitia pengawas kabupaten mengeluarkan rekomendasi terhadap Bakal Calon Kades Gesengan, Kecamatan Cluwak akhirnya hasil rekomendasi itu telah keluar. Hasilnya disebutkan Panitia Pilkades Gesengan direkomendasikan agar menetapkan 3 calon .

Termasuk menetapkan Suyanto, balon kades yang sebelumnya tidak lolos. Dalam rekomendasi itu disebutkan setidaknya ada empat poin.Poin pertama disebutkan merekomendasikan panitia untuk mencabut dan membatalkan hasil penetapan Calon Kades Gesengan, Kecamatan Cluwak pada 5 Maret. Di poin kedua merekomendasikan kepada panitia pilkades untuk menetapkan tiga calon kepala desa, yakni Sutrisno, Suyanto, dan Sunarso. Selambat-lambatnya 2 X 24 jam setelah surat diterima dan melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Untuk poin ketiga, disebutkan apabila sampai dalam batas waktu seperti disebutkan nomor 2 tidak juga menetapkan kembali, maka Badan Permusyawaratan Desa agar segera mengambil langkah agar pilkades dapat tetap berlangsung.

Selanjutnya, kasus lain dalam pilkades yang mencuat adalah, gugatan kepada Pemkab pati yang dilayangkan Dasar Wibowo,salah satu Calon Kepala Desa Trikoyo, Kecamatan Jaken, yang dinyatakan kalah dalam pilkades. Dasar Wibowo mengklaim dirinyalah yang mendapatkan suara terbanyak. Dalam hal ini, dirinya dinyatakan kalah satu suara dengan calon lain.

Dalam gugatannya di PTUN Semarang, Pemkab Pati dinyatakan kalah. Kekalahan ini membuat Kades Trikoyo Tarmijan yang sudah dilantik, harus turun dari jabatannya.

PTUN Semarang memutuskan agar Surat Keputusan (SK) Bupati Pati Nomor 141.1/2562/2015 tentang Pengangkatan dan Pengesahan Tarmijan sebagai Kepala Desa Trikoyo, dibatalkan. (KHOLISTIONO)

KALEIDOSKOP 2015 : Pati Dikepung Banjir di Awal dan Penghujung Tahun 2015

Peristiwa banjir pada Januari 2015 di Pati Utara (MuriaNewsCom/Kholistiono)

Peristiwa banjir pada Januari 2015 di Pati Utara (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

PATI – Tahun 2015 sudah berganti. Berbagai peristiwa di Kabupaten Pati sepanjang tahun ini menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat. Berbagai peristiwa silih berganti di tahun ini, di antaranya musibah banjir yang menerjan banjir di awal dan penghujung tahun.

Di awal tahun, tepatnya 3 Januari 2015, kawasan Pati bagian utara diterjang banjir cukup parah. Sedikitnya ada 17 desa di tiga kecamatan di Pati yang terendam banjir.

17 desa yang terendam banjir tersebar di Kecamatan Margoyoso, Tayu dan Dukuhseti. Untuk Kecamatan Margoyoso ada 4 desa yang tergenang. Sedangkan yang terparah terjadi di Desa Margotuhu dan Sumerak.

Ketinggian air yang menggenangi rumah-rumah penduduk dan jalan pada saat itu berkisar 20-50 sentimeter.

Akibat banjir tersebut, aktivitas masyarakat terganggu. Hal itu karena akses jalan yang tertutup air juga membuat masyarakat kesulitan untuk berpergian. Bahkan sejumlah kendaraan yang nekat menerjang banjir beberapa di antaranya akhirnya mogok dan harus dituntun.

Bahkan, beberapa fasilitas juga ada yang mengalami kerusakan. Seperti jembatan yang terletak di antara Desa Margoyoso dan Margotuhu rusak dan nyaris putus. Adapun tanggul di Desa Sumerak, Kecamatan Margoyoso juga jebol.

Bencana banjir juga terjadi di penghujung tahun ini. Sedikitnya ada dua kecamatan di Kabupaten Pati, bagian selatan dilanda banjir bandang, pada Sabtu (12/12/2015). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun banjir menyisakan lumpur di permukiman dan jalan.

Kecamatan yang diterjang banjir adalah Kecamatan Kayen dan Sukolilo. Beberapa desa terendam akibat kejadian tersebut.

Kemudian, musibah lain di penghujung November 2015 juga terjadi di Pati bagian timur. Tepatnya di Desa Trikoyo dan Boto, Kecamatan Jaken, Pati. Ratusan rumah yang berada di desa tersebut mengalami kerusakaan akibat diterjang angin lisus. Total ada 627 rumah yang mengalami kerusakan setelah dihajar lisus selama 15 menit.Dari ratusan rumah yang rusak, dua di antaranya rumah roboh dan rata dengan tanah.

Di Desa Trikoyo, tercatat ada 450 rumah yang menjadi korban keganasan lisus. Sementara di Desa Boto ada 175 rumah yang menjadi korban. (KHOLISTIONO)

KALEIDOSKOP 2015 : Ada  24.422 Pengguna Jalan di Pati Ditilang Polisi Selama 2015

Puluhan kendaraan terjaring operasi gabungan di Jalan Lingkar Conge, Juwana, Oktober 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Puluhan kendaraan terjaring operasi gabungan di Jalan Lingkar Conge, Juwana, Oktober 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pengguna jalan di wilayah Kabupaten Pati selama tahun 2015 ternyata banyak yang tidak mematuhi aturan dan melanggar lalu lintas. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pelanggaran lalu lintas selama setahun.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pati, Kamis (31/12/2015), sedikitnya ada 24.422 lembar bukti pelanggaran dari berbagai operasi yang digelar kepolisian.

Tak hanya bukti pelanggaran, polisi juga memberikan teguran kepada pengguna jalan sebanyak 23.451 lembar. “Total pelanggaran lalu lintas ada 47.873 lembar. Tilang sebanyak 24.422 lembar dan teguran 23.451 lembar,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho.

Ia mengatakan, sebagian besar pengguna jalan yang dikenakan tilang disebabkan tidak membawa surat-surat kelengkapan berkendara seperti surat izin mengemudi (SIM) dan surat tanda nomor kendaraan (STNK).

“Beberapa di antaranya, karena tidak mengenakan helm sebagai bagian dari kelengkapan keselamatan lalu lintas. Kami imbau kepada masyarakat untuk membawa surat-surat kendaraan, helm, sabuk keselamatan, dan hati-hati dalam berkendara agar tidak terjadi kecelakaan,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)