Warga Bae Kudus Ini Coba Lawan Gerombolan Rampok, Namun Begini Akhirnya

Korban perampokan masih syok setelah gerombolan perampok membobol rumahnya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Aksi perampokan kembali terjadi di Kabupaten Kudus. Senin (20/11/2017) dini hari, segerombolan perampok membobol rumah milik warga di Dukuh Jatisari RT 3 RW 2, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus.

Tak hanya membawa kabur perhiasan emas, uang tunai dan sejumlah barang berharga, perampok juga menganiaya pemilik rumah.

Rumah itu dihuni pasangan suami istri Afrodhi (51) dan Masroh (47). Perampokan terjadi sekitar pukul 01.00 WIB, saat pasangan ini tengah terlelap tidur.

Baca: Disabet Senjata Tajam, Istri Korban Perampokan di Bae Kudus Terima 20 Jahitan di Kepala

Afrodhi menceritakan, perampok yang masuk ke rumahnya sebanyak empat orang. Ia mengaku sempat memberi perlawanan, namun akhirnya tak bisa berbuat banyak karena kalah jumlah.

Ia menceritakan, saat perampok masuk, dia dan istrinya sedang tidur terlelap. Ia baru sadar rumahnya dimasuki rampok saat terbangun melihat mengetahui lampu rumahnya menyala. Padahal sebelum tidur lampu itu sudah dimatikan.

“Saya kaget melihat rumah sudah terang. Kemudian saya ke luar melihat keadaan, ternyata sudah ada segerombolan orang yang masuk ke dalam kamar saya,” katanya.

Baca: Astaga, Gerombolan Rampok di Bae Kudus Juga Gasak Uang Musala

Mengetahui ada orang tak dikenal masuk rumah, ia mencoba memberikan perlawanan. Namun dengan jumlah perampok yang lebih banyak, dia tak kuasa melawannya sendiri meskipun berada dalam rumahnya.

“Perampok berjumlah empat orang, jadi saya tak bisa melawannya sendirian. Keempatnya menggunakan penutup kepala,” ujarnya.

Dia menyebutkan, kawanan perampok tersebut beraksi cukup lama di rumahnya. Perampokan tersebut menggasak sejumlah perhiasan milik pasangan suami istri dan uang senilai jutaan rupiah.

“Pelaku masuk lewat pintu jendela depan rumah dengan cara mencongkelnya. Karena saat saya cek sudah rusak,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Kudus Jalan Mundur Sambil Narik ’Truk Tangki’ Tolak Eksploitasi Air Gunung Muria

Warga menarik truk tangki mainan sambil berjalan mundur dalam aksi unjuk rasa di Alun-alun Kudus, Kamis (2/11/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Belasan warga Kudus yang tergabung dalam Lembaga Aspirasi Publik menggelar aksi unjuk rasa menuntut penghentian eksploitasi air Pegunungan Muria, Kamis (2/11/2017) di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Dalam aksinya mereka melakukan aksi jalan mundur sambil menarik truk tangki mainan. Aksi ini sebagai simbolik, karena selama ini truk tangki yang selalu berlalu-lalang mengangkut air dari Pegunungan Muria.

Aksi jalan mundur dilakukan mulai depan pendapa Kabupaten Kudus mengelilingi Simpang Tujuh. Kemudian masa melanjutkan aksinya dengan jalan mundur di kawasan Jalan Jenderal Sudirman.

Koordinator aksi, Achmad Fikri mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk protes kepada pemerintah yang tak kunjung menghentikan aktivitas eksplotasi air pegunungan. Padahal usaha tersebut sudah dianggap ilegal.

“Jalan mundur ini sebagai simbol kemunduran aturan, yang mana tak segera mengeksekusi eksploitasi air pegunungan,” katanya.

Menurut dia, pemerintah memang telah melakukan penyegelan terhadap sejumlah lokasi pengambilan air Gunung Muria. Namun ia menuding, penyegelan tersebut tak efektif, lantaran tak ada penindakan lebih lanjut.

”Ini bisa dilihat dari sejumlah tempat yang sudah disegel nyatanya juga masih beroperasi,” ujarnya.

Baca : Guyonan Berujung Maut, Pria di Semarang Tewas Dihantam Linggis Temannya

Ia memastikan, pihaknya akan terus menyuarakan untuk mendesak pemerintah bertindak tegas. Pihaknya akan terus mengawal hingga ekploitasi air Pegunungan Muria benar-benar dihentikan.

”Kami melindungi hak-hak petani, air bukanlah untuk dijualbelikan, melainkan untuk kebutuhan bersama,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

BREAKING NEWS : Mobil Kas Keliling Bank Jateng Meledak di Kudus

Kondisi genset yang diduga sebagai sumber ledakan pada mobil kas keliling Bank Jateng di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Mobil kas keliling milik Bank Jateng bernomor polisi H 1464 VA, meledak di kawasan SMPN 1 Jati, Kudus, Jumat (20/10/2017). Ledakan yang diduga berasal dari genset di dalam mobil itu memicu kebakaran dan menghanguskan sjeumlah dokumen di dalam mobil.

Saat kejadian, mobil tersebut tengah digunakan untuk melayani nasabah. Beruntung tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Hanya saja, mobil mengalami kerusakan cukup parah dan dokumen-dokumen di dalam mobil ikut terbakar.

Sofi’i, pegawai Bank Jateng yang berada di lokasi mengatakan, peristiwa itu terjadi sekitar jam 09.30 WIB. Saat kejadian, mobil sempat melayani nasabah di SMP 1 Jati. Namun, tiba-tiba mobil meledak.

“Jadi tiba-tiba terdengar suara ledakan dari mobil. Sesaat kemudian api menjalar dengan dipenuhi banyak asap dari badan mobil kas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, ledakan dan api bersumber dari genset yang terdapat dari sisi kiri mobil. Api yang cepat membesar melalap sekitar bodi mobil kas keliling bagian kiri.

“Kebetulan genset yang digunakan ini adalah genset cadangan. Karena genset yang utama sedang rusak dan masih diperbaiki,” ujarnya.

Sementara, Hengki S, satpam Bank Jateng yang turut mendampingi menambahkan, hanya butuh waktu singkat untuk memadamkan mobil. Pemadaman dilakukan dengan APAR serta air selang yang terdapat dekat dari mobil yang terbakar.

“Dengan APAR dan air, api cepat dipadamkan. Bahkan petugas pemadam saat tiba di lokasi juga api sudah padam,” jelasnya.

Ditambahkan, saat ini belum diketahui jumlah kerugian atas kebakaran itu. Karena dari petugas masih belum menghitung dan mengecek kondisi mobil beserta dokumen serta alat yang ada di dalamnya.

“Tadi sudah ada beberapa yang transaksi, dan beberapa dokumen juga sempat terbakar karena api cukup besar,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Masih Gunakan Mesin Tua, PG Rendeng Kudus Bakal Diberi Suntikan Dana

Pekerja tengah melakukan perawatan mesin produksi di Pabrik Gula Rendeng Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus menjadi salah satu dari tiga pabrik gula di Provinsi Jateng yang akan mendapatkan suntikan dana dari Kementerian BUMN. Dana tersebut akan dikucurkan untuk merevitalisasi mesin, yang masih mengandalkan mesin tua peninggalan Belanda.

Selain PG Rendeng, dua pabrik lain yang juga mendapatkan jatah yakni PG Colomadu Karanganyar dan PG Pangkah Kabupaten Tegal. Tiga pabrik ini akan mendapat kucuran dana pinjaman sebesar Rp 1 triliun.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo mengatakan, kucuran dana untuk revitalisasi tersebut akan membantu upaya Jateng untuk swasembada gula pada 2019 mendatang.

Selama ini menurut dia, tebu hasil panen petani tak bisa tertampung pabrik gula lantaran terbatasnya kapasitas mesin produksi pabrik gula. Dengan revitalisasi maka kapasitas produksi akan bisa meningkat.

“Tiga pabrik gula ini akan mendapat pinjaman dari Kementerian BUMN sebesar Rp 1 triliun. Sehingga bisa membantu upaya revitalisasi pabrik gula,” katanya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk upaya memenuhi swasembada gula. Pasalnya, revitalisasi membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelumnya menyebut, pihaknya berencana merevitalisasi seluruh pabrik gula. sebagai salah satu upaya mendukung dan mewujudkan swasembada gula.

“Nanti akan ada desain ulang pabrik tebu yang ada di Jateng. Karena selain kondisi bangunan pabrik yang jadul, mesinnya juga jelek dimakan usia,” ujarnya.

Menurut dia, revitalisasi pabrik gula yang juga bertujuan meningkatkan produktivitas gula berkualitas itu, perlu dilakukan karena kondisi hampir semua pabrik termasuk mesin penggiling tebu di Jateng sudah tua.

“Padahal selain kualitas tanaman, kondisi pabrik maupun mesin juga mempengaruhi posisi rendemen atau kadar kandungan gula dalam batang tebu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Dewan Tak Permasalahkan Jumlah Minimarket yang Membengkak di Kudus, Ini Alasanya

Mukhasiron, Ketua Komisi B DPRD Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Meskipun jumlah minimarket di Kabupaten Kudus, membengkak melebihi kuota yang ditentukan, namun kalangan DPRD Kudus tak mempermasalahkannya.Dewan menganggap minimarket-minimarket itu beroperasi sebelum aturan baru muncul, yakni Perda Nomor 12 Tahun 2017 yang mengatur tentang pasar modern.

Ketua Komisi B DPRD Kudus, Mukhasiron mengatakan, minimarket tersebut diketahui dibangun sebelum perda anyar disahkan. Sedangkan sebelumnya, aturan belum detail seperti saat ini.

“Kalau sekarang tinggal menjalankan yang belum ada, atau yang sedang proses. Kalau yang sudah tidak bisa ditindak, lantaran aturan lama memperbolehkan. Perbaiki ke depannya saja,” katanya.

Menurut dia, dalam perda tersebut memuat beberapa aturan utama tentang minimarket, dapat diberlakukan di dua kecamatan yang kurang, yaitu Dawe yang kurang dua unit dan Gebog satu unit.

Baca : Jumlah Minimarket di Kudus Ternyata Sudah Membengkak Segini Banyaknya

Hal yang sama juga dikatakan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kududs, Revlisianto Subekti. Menurut dia, aturan lama memang memperbolehkan hal tersebut. Apalagi, kini minimarket sudah beroperasi cukup lama.

“Bagi yang sudah ada, tinggal proses perpanjangan izinya saja yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Dalam aturan terbaru, saat ini minimarket harus berjarak minimal satu kilometer dari pasar tradisional. Kebijakan ini mengubah aturan sebelumnya yang hanya berjarak minimal 500 meter dari pasar tradisional.

Editor : Ali Muntoha

Jumlah Minimarket di Kudus Ternyata Sudah Membengkak Segini Banyaknya

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan minimarket di Kabupaten Kudus benar-benar sudah sangat menjamur. Bahkan jumlahnya sudah membengkak melebihi kuota yang diperbolehkan.

Catatan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kudus, jumlah minimarket di kota ini sudah mencapai 80 unit. Padahal sesuai ketentuan maksimal hanya diperbolehkan sebanyak 62 unit saja.

Minimarket-minimarket tersebut tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Kudus. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kudus, Revlisianto Subekti mengatakan, Perda Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penataan Pasar Modern hanya membatasi jumlah minimarket sebanyak 62 unit saja.

“Dalam perda tersebut, dijelaskan kalau jumlah maksimal minimarket di Kudus sejumlah 62 unit. Faktanya, jumlah jumlahnya sekarang sudah 80 unit,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, keberadaan minimarket yang membengkak melebihi kuota itu terdapat di lima kecamatan.

Yaitu Kecamatan Kota yang terdapat 21 minimarket, dari kuota 19 minimarket. Kecamatan Jekulo terdapat delapan minimarket dari kapasitas lima unit.

Baca : Langgar Ketentuan, Komisi B DPRD Kudus Tegur Indomaret dan Alfamart

Di Kecamatan Mejobo ada tujuh minimarket dari jatah hanya lima. Kemudian Kecamatan Bae ada 10 minimarket dari kuota empat, dan Kaliwungu terdapat 13 minimarket dari jatah lima saja 

Sedangkan, kecamatan yang sesuai dengan perda anyar itu berada di Kecamatan Jati dan Undaan. Untuk Jati, kapasitas 11 minimarket sudah penuh. Begitu pula dengan Undaan yang dijatah tiga minimarket saja.

“Dua kecamatan lainya, yaitu Dawe dan Gebog masih kurang. Untuk Dawe masih kurang dua minimarket dari kuota enam, baru ada empat. Begitu juga Gebog yang kuotanya empat baru ada tiga,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tiga Warga Undaan Kudus Nyaris Terpanggang Hidup-hidup di Dalam Rumahnya

Api membakar rumah milik Suharti, di Desa Karangrowo, RT 5 RW 1, Kecamatan Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Nasib mujur masih menyertai Suharti (40) bersama dua anaknya, yang tinggal di Desa Karangrowo, RT 5 RW 1, Kecamatan Undaan, Kudus. Meski rumah yang mereka tempati hangus dilalap api, namun mereka masih bisa selamat.

Pasalnya, hampir saja mereka terpanggang hidup-hidup, karena masih terlelap tidur saat rumahnya terbakar.

Beruntung, saat api mulai membesar ada warga yang melintas dan mengetahui kebakaran, langsung mendobrak pintu untuk menyelamatkan tiga penghuni rumah tersebut.

Peristiwa kebakaran ini terjadi pada Jumat (22/9/2017) dini hari, sekitar pukul 01.15 WIB. Saat peristiwa itu terjadi, Suharti dan anaknya tengah tidur di dalam kabar, dan tak mneyadari jika rumahnya mulai terbakar.

“Saat itu, terdapat warga yang kebetulan memergoki api yang membakar rumah. Melihat hal itu, warga langsung menggedor-gedor pintu rumah untuk membangun pemiliknya,” kata Kapolsek Undaan AKP Anwar,  kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, setelah terbangun, bersama sejumlah warga lainya pemilik rumah langsung dibawa ke tempat yang aman di musala yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Setelah itu, lanjut Anwar, warga menghubungi pemadam kebakaran untuk membantu memadamkan api yang sudah membesar. Karena jaraknya jauh, pemadam kebakaran dari BPBD Kabupaten Kudus datang cukup terlambat. Sekitar pukul 02.45 WIB api baru bisa dipadamkan.

“Akibat kebakaran yang hebat, kerugian ditaksi mencapai Rp 40 jutaan. Karena hampir semua barang di dalam rumah habis terbakar,” jelasnya.

Pihaknya menduga, kebakaran dipicu dari kompor gas yang digunakan masak air. Karena tak mati sempurna, sehingga membakar rumahnya. Beruntung, dalam kejadian tersebut tak memakan korban dan gas tak meledak.

Editor : Ali Muntoha

Dua Warga Kudus Kembali Meninggal saat Ibadah Haji

Almarhum Sipan Kamto sebelum meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji. (Foto : Saiful Annas/TPHD Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Jumlah warga Kabupaten Kudus yang meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji, kembali bertambah. Dua jemaah yang meninggal dunia itu dikabarkan langsung dimakamkan di Tanah Suci.

Kasi Haji dan Umroh Kemenag Kudus, Sururi mengatakan, dua jemaah yang meninggal dunia yakni Suyatman Budiarso Karjo (60) asal Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, dia meninggal pada 9 September 2017 jam 21.00 waktu setempat.

“Sebelum meninggal, jemaah sudah dirawat di Rumah Sakit An Noor Makkah. Namun karena tak tertolong, akhirnya meninggal dan dimakamkan di Makkah Saudi Arabia,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (11/9/2017).

Menurut dia,  jemaah kedua yakni Sipan Kamto Marwi Sirin (67) warga Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati. Sipan meninggal pada 9 September 2017 lalu, sekitar jam 17.00 waktu setempat.

Baca : Lagi, Jemaah Haji Asal Kudus Meninggal di Mekah

Jemaah yang tergabung dalam Kloter 37 ini, meninggal setelah dirawat selama 12 hari karena penyakit diabetes militus dengan komplikasi. Sipan akhirnya dimakamkan di Arab Saudi tak lama setelah meninggal dunia.

“Untuk keluarga jemaah sudah kami kabari akan meninggalnya jemaah. Kami kabari lewat KUA kecamatan dengan langsung ke rumahnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dua jemaah haji asal Kudus yang meninggal adalah  Sulti Sanaji Ngadiman (61) warga Desa Temulus RT 1 RW 6, Kecamatan Mejobo. Dan Rebo Rukani Mokim (69) asal Desa Berugenjang Kecamatan Undaan telah meninggal lebih dahulu dan sudah dimakamkan.

“Kami mendoakan semoga Khusnul khatimah dan jadi haji mabrur. Dan keluarga yang ditinggal dapat menerima dan tabah,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Baca : Warga Kudus Meninggal saat Haji, Dimakamkan di Tanah Suci

Gudang Kayu di Jati Kudus Ludes Terbakar

Petugas pemadam dan warga bersama-sama memadamkan gudang kayu di Jati, Kudus, yang terbakar, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kebakaran besar terjadi di sebuah gudang kayu di Desa Jati Kulon, RT 3 RW 3, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (30/8/2017) pagi. Api melalap habis seluruh isi gudang hingga menyebabkan kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun warga sekitar sempat panik khawatir jika api terus membesar dan merembet ke bangunan lain.

Informasi menyebutkan, api mulai membakar gudang sekitar pukul 08.00 WIB. Kebakaran tersebut diduga dipicu tak normalnya mesin oven kayu yang saat itu tengah dioperasikan.

Pemilik gudang, Tri Rudi (40) mengatakan, sebelum kebakaran terjadi, mesin pemanas tersebut tengah digunakan untuk mengeringkan kayu. Namun mesin oven itu bekerja terlalu over, sehingga justru membakar kayu-kayu tersebut.

“Di dalam gudang banyak kayu. Jadinya api yang sudah membakar kayu yang tengah dipanaskan. makin membesar dan sampai membakar kayu lainya. Apalagi pemanas juga masih nyala yang membuat suhu dalam gudang semakin panas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kayu yang disimpan di dalam gudang sebagian besar merupakan kayu mahoni dari berbagai ukuran. Kayu-kayu tersebut merupakan pesanan dari sejumlah toko meubel yang ada di Kudus.

Ia menaksir, kerugian yang diderita akibat peristiwa itu mencapai sekitar Rp 20 juta. Yakni kerugian kayu yang terbakar sebesar Rp 18 juta, dan bangunan sekitar Rp 2 juta.

Tri Rudi mengakui, kebakaran itu baru diketahui setelah api membesar, dan terlihat dari kejauhan. Sehingga tak bisa ditangani dengan cepat dan meminimalisasi kerugian.

Kebakaran baru berhasil dijinakkan satu jam lebih setelah petugas pemadam kebakaran bersama warga, berjibaku melakukan pemadaman. Sebagian besar isi gudang sudah menjadi arang.

Editor : Ali Muntoha

Petani Tebu di Kudus Ngluruk Istana Negara, Ini yang Mereka Tuntut

Para petani tebu dari Kabupaten Kudus sebelum bertolak ke Jakarta untuk menggelar aksi demo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Puluhan petani tebu dari Kudus, ngluruk ke Jakarta untuk memprotes kebijakan pemerintah mengenai gula, Senin (28/8/2017) hari ini. Mereka bergabung dengan para petani tebu lain dari seluruh Indonesia yang merasa nasibnya tak digubris pemerintah.

Aksi ini digelar lantaran para petani tebu merasa tercekik dengan kebijakan pembelian gula yang sangat murah, dan dibukannya keran impor. Tempat yang bakal menjadi lokasi demo adalah Istana Negara serta kementerian terkait.

Para petani tebu ini bertolak dari Kudus Minggu (27/8/2017) dengan menumpang bus. Mereka mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pembelian gula segarga Rp 11 ribu per kilogram.

Seorang petani yang ikut berangkat, Agus, mengatakan jumlah petani tebu yang ikut aksi asal Kudus sejumlah 49 petani.

“Ada sejumlah tuntutan yang akan kami sampaikan. Seperti halnya meminta pemerintah mengehentikan impor gula ke Indonesia. Khususnya saat musim giling seperti saat ini,” katanya kepada wartawan.

Mereka mendesak pemerintah menghentikan impor gula, lantaran gula produksi petani lokal masih belum terserap.

Ini dikarenakan kebijakan Bulog yang membeli gula jauh di bawah biaya produksi. Agus menyebut, Bulog hanya membeli gula produksi petani seharga Rp 9,7 ribu per kilogram.

Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan mencapai Rp 10,600 per kilogram. Apalagi saat ini menurut dia, kondisi petani tebu tengah terpuruk, lantaran curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu lalu, hingga membuat hasil panen tak maksimal.

“Akibat cuaca kami mengalami rugi banyak. Jika biasanya bisa menghasilkan 1.000-1.200 kuintal per hektare, kini turun menjadi 500-600 kuintal per hektarenya. Apalagi tanaman tebu dalam panen membutuhkan 10 bulan,” ungkap dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, Bulog membeli gula petani masih di bawah   biaya pokok produksi (BPP) Rp10.600 per kilo. Untuk itu, kini petani menolak menjual gula ke perusahaan milik negara itu.

“Pemerintah harus bertindak dengan menghentikan impor gula. Karena hancurnya harga gula disebabkan impor tersebut,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Mereka Memilih Gelar Upacara Kemerdekaan di Bekas Stasiun Wergu Kudus

Upacara bendera untuk memeringati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di bekas stasiun Wergu Wetan, Kudus, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah komunitas dan warga Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, memilih menggelar upacara kemerdekaan di tempat yang berbeda, Kamis (17/8/2017). Upacara yang digelar secara sederhana itu tak digelar di lapangan seperti umumnya, melainkan di dalam bangunan bekas Stasiun Wergu.

Peserta upcara juga mengenakan kostum-kostum para pejuang. Arief Indaryanto, panitia upacara, ada ratusan peserta yang berasal dari belasan komunitas dan warga Wergu.

“Lebih dari 15 komunitas mengikuti upacara ini. Selain kami dari Karang Taruna, ada komunitas Rumah Dongeng Marwah, Komunikasi Jenang, Pecinta Sejarah, Onto Onto Tok, Kresek, Kudus mengajar dan lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/8/2917).

Ia menjelaskan, dipilihnya tempat ini karena bekas stasiun itu merupakan peninggalan Belanda. Dengan menggelar di tempat bersejarah, maka harapannya jiwa kepahlawanan akan mudah muncul, terlebih bagi para kawula muda agar lebih mencintai Indonesia.

Selain itu, lanjut dia, dengan mengajak sejumlah komunitas di Kudus dan warga, rasa persatuan dan kesatuan antarsesama warga juga akan lebih tercipta, sehingga kemerdekaan Indonesia akan tetap terjaga.

Upacara tersebut mampu menarik perhatian banyak warga. Bahkan mereka yang menonton, ikut hormat dan menyanyikan lagu Indonesia raya saat pengibaran bendera dilangsungkan.

Editor : Ali Muntoha