Jadwal Pemadaman di Pati Hari Ini, Kecamatan Winong dan Juwana Mati Lampu

MuriaNewsCom, Pati – PLN Area Kudus hari ini memadamkan listrik di sejumlah desa di wilayah Juwana dan Kecamatan Winong, Pati. Pemadaman dilakukan lantaran adanya perbaikan jaringan listrik.

Humas PLN Area Kudus (Eks Karisidenan Pati) Muhdam mengatakan, untuk wilayah Juwana, yang dipadamkan meliputi jalur RB1 –  418/5 sampai RB1 –  418/70 atau sepanjang Desa Pekuwon, Ketip,  Bringin,  Sejomulyo,  Karangrejo,  Tlogomojo,  Dukuhmulyo (sebagian), dan Desa tluwah (sebagian).

“Rencananya pemadaman akan berlangsung sejak jam 09.00 WIB hingga jam 16.00 WIB, atau saat pekerjaan diselesaikan,” kata dia kepada MuriaNewsCom

Sementara, untuk Kecamatan Winong, padam listrik akan dialami pelanggan sepanjang ABSW PTI.4 588/158. Atau, sejumlah desa meliputi Desa Angkatan kidul, Angkatan lor, Kedalingan, Karangrowo,  Kropak, Gunugpati, Danyangmulyo, Karangsumber, dan Lemah abang.

Berbeda dengan wilayah Juwana, pemadaman disana akan dialami pelanggan mulai jam 11.00 WIB hingga jam 14.00 WIB. Waktu lebih pendek disebabkan Penanganan yang lebih cepat.

“Kami dari PLN di Rayon Pati kota dan Juwana sudah menyampai adanya pemadaman ini,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Ribuan Nelayan di Pati Desak Cantrang Diizinkan Lagi Berlayar

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan nelayan cantrang asal Kabupaten Pati, Senin (8/1/2018) kembali turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi. Mereka tetap menolak kebijakan tentang pelarangan cantrang, karena dianggap akan menghilangkan sumber kehidupan nelayan.

Kali ini mereka menggelar demo di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan Satuan Kerja Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Juwana, Pati.

Koordinator aksi Rasmijan, menyebutkan jumlah masa yang ikut aksi mencapai 2 ribuan nelayan. Semuanya menurut dia, merupakan korban dari kebijakan larangan cantrang.

“Ini aksi kesekian kalinya kami laksanakan. Kami tak akan bosan aksi agar cantrang diperbolehkan kembali,” katanya kepala awak media saat aksi.

Ia menyebut, selama cantrang dilarang beroperasi banyak nelayan yang menganggur. “Cantrang  harus segera dilegalkan, supaya kami tidak nganggur lagi,” tuntutnya.

Dia menyebutkan, jumlah kapal cantrang di Juwana mencapai 150-an kapal dengan ribuan anak buah kapal. Semuanya sudah nganggur, sejak sebelum Desember 2017 lalu. Akibatnya para nelayan bingung memenuhi kebutuhan hidup.

Nahkoda Kapal Cantrang, Nahwi, menambahkan selama ini nelayan sudah cukup menderita. Dengan adanya kebijakan tersebut, membuat nelayan makin sengsara.

“Apa pemerintah mau membuat kami para nelayan menderita dan miskin. Padahal kami itu nelayan Indonesia, bukan asing,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

11 Kapal di Juwana Pati Terbakar, 3 Korban Dilarikan ke Rumah Sakit

Kebakaran kapal di kawasan tambat Pulau Seprapat, Juwana, Pati, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya sebelas kapal yang ditambat di kawasan Pulau Seprapat, Juwana, Pati terbakar, Sabtu (16/7/2017). Insiden tersebut menyebabkan tiga korban dilarikan ke Rumah Sakit Budi Agung Juwana. Keduanya dibawa ke unit gawat darurat (UGD) untuk mendapatkan penanganan medis yang intensif.

Hingga berita ini turun, belum diketahui jenis kapal yang terbakar. Sejumlah petugas tengah melakukan identifikasi jenis kapal dan penyebab kebakaran.

Namun, data sementara yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan menyebutkan, sebelas kapal yang terbakar merupakan jenis cantrang dan freezer. Aktivitas pengelasan pada bagian kapal diduga menjadi penyebabnya.

Kebakaran kapal di kawasan tambat Pulau Seprapat, Juwana, Pati, Sabtu (15/7/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

“Informasinya, kebakaran bermula dari pengelasan pada Kapal Mekar Jaya. Sekitar sebelas kapal terbakar, mungkin lebih. Korban dua orang dibawa ke RS Budi Agung Juwana,” kata relawan Peduli Bencana Kabupaten Pati, Azka Anggara.

Sejumlah unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api. Namun, mereka sempat terkendala karena akses menuju tambat kapal di kawasan Pulau Seprapat sulit dilalui.

Editor : Akrom Hazami

Ribuan Warga Juwana Gelar Tradisi Sedekah Laut

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut Juwana, Minggu (26/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut Juwana, Minggu (26/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Ribuan warga dari berbagai desa di Kecamatan Juwana membanjiri kawasan alun-alun Juwana hingga tempat pelelangan ikan (TPI) Bajomulyo, Minggu (26/7/2015). Mereka melakukan larung sesaji yang dikenal dengan sedekah laut.

Tradisi sedekah laut diawali dengan pawai yang mengarak miniatur kapal nelayan berisi kapal kambing dan sejumlah nasi tumpeng, lengkap dengan jajan pasar. Warga ikut mengarak miniatur kapal hingga dilarung di laut.

Sebelum dilarung, tokoh agama setempat berdoa terlebih dahulu. Mereka berdoa memohon berkah kepada Tuhan, sekaligus mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah diberikan kelancaran dalam mencari ikan.

Tradisi tersebut sudah berlangsung secara turun temurun dan menjadi kebiasaan masyarakat Juwana. Dalam perkembangannya, tradisi ini menyedot perhatian warga untuk menjadi tontonan dan hiburan yang menyenangkan.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, tradisi larung sesaji di laut Juwana sudah ada sejak 50 tahun yang lalu. Hal tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, karena diberikan rezeki melimpah melalui pekerjaan mencari ikan di laut.

”Larung menjadi harapan agar nelayan memperoleh rezeki yang lancar dalam mencari ikan. Selain itu, larung menjadi salah satu doa nelayan kepada Tuhan agar dihindarkan dari musibah,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Riwayat Batik Bakaran Juwana

Motif batik tulis Bakaran bila dilihat dari segi warna mempunyai mempunyai ciri tersendiri, yaitu warna yang mendominasi batik Bakaran adalah hitam dan coklat. Unsur corak atau motifnya beraliran pada corak motif batik Tengahan dan batik Pesisir. Aliran Tengahan, karena yang memperkenalkan batik tulis pada wilayah Desa Bakaran adalah dari kalangan kerajaan Majapahit. Dan Jenis motif tengahan ini diindikasikan pada corak batik Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Namtikar, Limanan, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Nogo Royo, Gandrung, Rawan,Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggaran, Kedele Kecer, Puspo Baskora, ungker Cantel, blebak lung, dan beberapa motif tengahan yang lain.
Sedangkan beraliran batik tulis pesisir, karena secara geografis letak wilayah Desa tersebut memang terdapat dipesisir pantai dan aliran pesisir ini diindikasikan pada motif batik tulis, blebak Urang, dan loek Chan. Pada umumnya corak batik Bakaran berbeda dengan corak batik daerah lain, baik dari segi gambar, ornamen maupun warnanya. Pada setiap motif umumnya mempunyai makna yang sangat filosofis.
Dari laman humas.patikab.go.id, keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran tak lepas dari buah didikan Nyi Banoewati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.
Motif batik yang diajarkan Nyi Banoewati adalah motif batik Majapahit, misalnya, sekar jagat, padas gempal, magel ati, dan limaran. Sedangkan motif khusus yang diciptakan Nyi Baneowati sendiri yaitu motif gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di Tiras Pandelikan.
     Waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewati. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Banoewati yang sedang membatik melonjak gembira. Sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam, yang memang saat itu aktifitasnya disibukkan dengan membatik.

Lanjutkan membaca