Belajar Toleransi Keberagamaan di Desa Jrahi Pati

Sejumlah jurnalis bersama perangkat Desa Jrahi berfoto bersama, usai diskusi toleransi keberagaman di balai desa setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah jurnalis bersama perangkat Desa Jrahi berfoto bersama, usai diskusi toleransi keberagaman di balai desa setempat. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Di tengah isu intoleransi yang merebak di mana-mana, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Pati bisa menjadi tempat untuk belajar toleransi keberagaman. Penduduk desa wisata yang berada di barat laut Kabupaten Pati ini bisa hidup berdampingan secara rukun dari zaman ke zaman.

Bahkan, warganya diakui tidak mempersoalkan masalah keyakinan di tengah-tengah kehidupan Desa Jrahi yang serba majemuk. Keyakinan dianggap menjadi persoalan individu yang tidak perlu dipertentangkan di tengah publik.

Di Jrahi, ada tiga agama yang berkembang dan hidup berdampingan. 74 persen penduduk Jrahi menganut agama Islam, 15 persen Kristen, dan 11 persen memeluk Buddha. Selain itu, ada sejumlah kelompok penganut agama lokal Jawa, seperti Sapta Dharma.

“Di sini, tidak ada yang mikir masalah agama ketika berbaur dengan masyarakat. Sebab, prinsip penduduk Jrahi adalah kerukunan, toleransi, persaudaraan antarsesama manusia, dan sesama bangsa yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Juremi, Sekretaris Desa Jrahi.

Pada saat malam takbir, misalnya. Semua penduduk Jrahi lintas iman merayakan gema takbir keliling bersama. Begitu juga saat hajatan, semua warga lintas iman ikut guyub rukun mengikuti tradisi hajatan bersama. Ketika arisan, warga berpindah dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya, seperti masjid, musala, gereja atau vihara.

Umat nonmuslim juga menyediakan jajanan khas Lebaran ketika umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, umat nonmuslim ikut memberikan angpao atau wisit kepada anak-anak ketika Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga sebaliknya. Tradisi toleransi di Desa Jrahi tersebut berlangsung sangat lama.

Kerukunan sosial di Desa Jrahi juga bisa dilihat dari tempat pemakaman umum (TPU). Di sana, tidak ada pembedaan antara makam umat Muslim, Kristen, Buddha atau aliran kepercayaan lokal. Warga Jrahi yang meninggal dunia dimakamkan di TPU yang sama.

Editor : Kholistiono

Embung Mini di Jrahi Pati Jadi Destinasi Wisata Baru

 Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pengunjung tengah berwisata di Embung Mini Desa Jrahi, Gunungwungkal, Pati, Sabtu (26/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah embung mini buatan yang digunakan sebagai cadangan air di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, saat ini dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru. Setiap akhir pekan, embung mini selalu dipadati pengunjung lokal dari berbagai daerah.

Embung dengan kedalaman empat meter, luas 3.200 meter persegi dengan kapasitas 11.300 meter kubik tersebut dibuat untuk keperluan pengairan. Namun, pengunjung lokal memanfaatkannya untuk wisata.

Empat gazebo cantik yang ditaruh di setiap sudut embung membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di sini. Norma Risdan, misalnya. Warga Desa Randukuning, Pati Kota ini rela jauh-jauh datang ke embung mini karena penasaran.

“Saya penasaran dengan embung buatan di Desa Jrahi yang saat ini jadi destinasi wisata. Tempatnya asyik dan bagus dengan pemandangan kolam air, pegunungan Muria, dan Vihara Saddhagiri. Lokasinya juga dekat dengan Air Terjun Grenjengan Sewu,” ujar Norma, Sabtu (26/11/2016).

Sayangnya, embung mini masih belum dikelola dengan baik. Keberadaan embung yang saat ini mulai dimanfaatkan menjadi destinasi wisata, masih sebatas berfungsi sebagai cadangan air dan irigasi.

“Memang banyak muda-mudi yang datang untuk berwisata. Tapi, belum dikelola. Tempat parkirnya juga belum ada. Juga tidak ada tiket masuk. Kami tengah melakukan pembahasan bersama sebelum memutuskan untuk mengelola embung mini sebagai destinasi wisata,” kata Juremi, Sekretaris Desa Jrahi.

Editor : Kholistiono