Edarkan Uang Palsu, Warga Welahan Jepara Ditangkap Polisi 

MuriaNewsCom, Jepara – Dhorikin (43) dicokok  polisi karena edarkan uang palsu (upal). Aksinya terpegok warga, saat ia mencoba membelanjakan uang palsu pecahan 50 ribu untuk membeli rokok, di Desa Mindahan Kidul RT 5 RW 6, Kecamatan Batealit, awal minggu ini.

Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, terakhir kali warga Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan itu mengedarkan upal untuk membeli satu slot rokok. Ia membeli rokok tersebut dengan pecahan dua lembar 50 ribu upal dan sisanya adalah uang asli.

“Kejadiannya Selasa (27/3/2018) saat itu tersangka membeli rokok merek Sukun Exucutive satu slot. Namun istri korban curiga dengan uang yang diserahkan. Tak terima, pemilik Toko Deni tersebut mengejar pelaku dan menghentikannya di Desa Raguklampitan. Saat itu pemilik toko memberitahukan bahwa uang yang dibelanjakan palsu. Pelaku sedianya akan menukarnya, namun karena korban takut diberi upal lagi, tersangka kemudian diserahkan kepada Polsek Batealit,” jelasnya, Kamis (29/3/2018).

Dari kantong tersangka, disita empat lembar upal dengan pecahan 50 ribu. Masing-masing memiliki nomor seri TKM868822 sebanyak dua buah, selembar berseri FMH437311 dan nomor seri FMH437315.

Berdasarkan pengakuan tersangka, ia membeli rokok tak hanya di Batealit. Ternyata ia juga membeli rokok di dua toko di Nalumsari, di Desa Pancur dan dua lainnya di Desa Raguklampitan. Menurutnya, modus yang digunakan adalah menyisipkan dua lembar upal pecahan 50 ribu di antara uang asli. Adapun satu slot rokok ia beli dengan harga Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu.

“Saya mendapatkan uang palsu ketika berbelanja di Pasar Tanah Abang. Kemudian saya ditawari upal. Mulanya saya tolak karena tak punya uang, tapi orang itu memberikan uang palsu senilai 700 ribu dan meminta saya membelanjakannya. Setelah berhasil, saya diminta menghubungi orang itu lagi untuk menebus uang palsu,” tutur tersangka Dhorikin.

Dirinya mengaku, menyasar toko-toko dikawasan perdesaan. Hal itu karena, pedagang toko di desa tidak begitu memerhatikan uang asli dan upal.

Editor: Supriyadi

Tergerus Air, Jalan Penghubung Dua Desa di Karimunjawa Jepara Ambrol

MuriaNewsCom, Jepara – Jalan penghubung Desa Karimunjawa dan Desa Kemojan putus. Hal itu karena, gorong-gorong yang ada di bawahnya tak kuat menahan gerusan air, sehingga ambrol dan menyisakan rekahan besar sekitar pukul 07.30 WIB.

Kepala Desa Karimunjawa Arif Rahman membenarkan hal tersebut. Menurutnya, jalan yang putus melintang sepanjang lebih kurang 3 meter. Sementara kedalamannya mencapai 2,5 meter.

Praktis, jalan tersebut tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat atau lebih. Namun untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki, masih memungkinkan lewat.

“Ada jembatan darurat yang dibuat dari kayu untuk dilewati oleh motor dan pejalan kaki,” tuturnya.

Hanya saja, ia mengakui hal itu kurang efektif. Apalagi, jalan tersebut merupakan akses utama, dari Desa Karimunjawa menuju Desa Kemojan.

Wisatawan terlihat menyebrang melalui jembatan darurat yang dipasang diatas rekahan jalan, yang tadi pagi sekitar pukul tujuh ambrol. Jalan tersebut merupakan akses utama dari Desa Karimunjawa ke Desa Kemojan, Rabu (28/3/2018). (ISTIMEWA)

Hal serupa diungkapkan Sekretaris Camat Karimunjawa Noor Sholeh. Menurut dia, akses tersebut merupakan akses satu-satunya menuju Kemojan. Praktis, ambrolnya jalan mengganggu lalu lalang warga, termasuk para wisatawan.

“Untuk tur darat memang tidak memungkinkan. Tadi ada turis yang menyeberang melalui jembatan darurat. Namun Karimunjawa kan terkenal dengan tur laut,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, pihak Kecamatan Karimunjawa, hari ini akan membuat jalan alternatif. Hal itu dilakukan, agar aktifitas warga dan wisatawan tidak terganggu.

Menurut Sholeh, pembukaan jalan alternatif akan menggunakan alat berat. Selain itu, warga sekitar dan paguyuban pengemudi juga turut ambil bagian dalam swadaya tersebut.

“Lokasi jalan alternatif berada 25 meter dari jalan yang putus. Sebenarnya jalan (ambrol) itu sudah menjadi TO (Target Operasi) dari PUPR (untuk dibenahi). Tahun ini memang sudah dianggarkan, namun memang karena kondisi hujan dan keadaan jalan sudah parah, akhirnya ambrol,” urainya.

Sebelum ambrol, jalan tersebut sempat mengalami penurunan ketinggian. Hal itu kemudian telah dilaporkan kepada dinas terkait, untuk ditindaklanjuti.

Editor: Supriyadi

17 ABK KM Bintang Sinar Rezeki yang Tenggelam di Perairan Jepara Dipulangkan ke Kampung Halaman

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 17 Anak Buah Kapal (ABK) KM Bintang Sinar Rezeki dipulangkan ke asal mereka masing-masing, Sabtu (24/3/2018). Mereka menumpang kapal Express Bahari dari Karimunjawa-Jepara, pukul 09.00 WIB.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jepara Arwin Noor Isdianto mengatakan, ke tujuh belas ABK tersebut dalam kondisi sehat. “Kemarin kan ada 29 ABK yang diselamatkan setelah kapal KM Bintang Sinar Rezeki tenggelam. Sebanyak 10 orang sudah dipulangkan langsung (Kamis,22/3/2018) setelah kejadian. Dua orang masih dirawat di RSUD Kartini dan 17 orang lainnya dipulangkan hari ini,” ungkapnya.

Menurutnya, ke 17 ABK yang dipulangkan hari ini berasal dari empat wilayah. Diantaranya Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kabupaten Pemalang. Setelah turun dari kapal penyerangan, para nelayan tersebut kemudian didata dan dicek kesehatannya.

“Sementara yang dua orang (Sutomo dan Bahrudin) yang kemarin ditemukan terapung di sekitar Pulau Mandalika, masih harus mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit. Mengingat kondisi kesehatannya belum pulih benar,” tambah Arwin.

Suroto, seorang penyintas kecelakaan kapal tersebut mengatakan, saat diselamatkan kondisi awak kapal memang tercerai berai. Mereka berpegangan pada gabus atau apapun yang dapat menyelamatkan jiwa mereka.

“Kapal saat itu terbalik. Solar pun tumpah. Saya juga terpaksa menyelam untuk menghindari tertimpa badan kapal yang oleng,”. ujar warga Depok, Kabupaten Batang itu.

Diberitakan sebelumnya, KM Bintang Sinar Rezeki berbobot 125 GT tenggelam di perairan Jepara. Dari 29 ABK, 10 diantaranya diselamatkan nelayan di perairan Dukuh Pailus, Desa Karanggondang-Mlonggo. Sementara 17 lainnya diselamatkan Kapal Jasa Samudra menuju Karimunjawa.

Sedangkan dua sisanya, baru dapat diselamatkan pada Jumat pagi. Mereka terpisah dari rombongan dan dapat ditemukan setelah 28 jam mengambang di lautan. Beruntung nyawa mereka dapat terselamatkan, dan kini mendapatkan perawatan di RSUD Kartini.

Editor: Supriyadi

Tukar Guling Tanah Desa Tanggul Tlare Jepara Akhirnya Dibatalkan, Ini Penjelasan Sang Kades

MuriaNewsCom, Jepara – Rencana tukar guling tanah desa yang dilakukan Pemdes Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung akhirnya dibatalkan. Kepastian itu dilakukan setelah ada penolakan dari warga di balai desa setempat, Jumat (23/3/2018).

Kades Tanggul Tlare Baidi mengaku memang ada pembicaraan (dengan investor) terkait tukar guling. Namun, hal itu menurutnya baru sebatas rencana.

”Kalau dari skala 100 persen baru 10 persen, baru pembicaraan. Rencananya mau dibuat POM Bensin sampai ke belakang area (dekat pantai) nanti untuk wisata,” jelasnya.

Baca Juga: 

Hanya saja, ia menyebut sudah melakukan sosialisasi kepada warga. Saat itu, ia mengklaim tidak ada penolakan. Namun demikian, warga memang tak setuju jika peruntukan tukar guling untuk pembangunan hotel.

“Dengan ini ya, rencana (tukar guling) gagal. Karena kalau diteruskan akan menimbulkan ekses yang berkepanjangan,” terangnya.

Proses audiensi berakhir dengan damai. Kedua pihak, yakni pemerintah desa dan warga Tanggul Tlare mencapai kata sepakat. Hal itu dituangkan dalam surat pernyataan pembatalan proses tukar guling yang dilakukan oleh Pemdes.

Untuk mengamankan keadaan, Polres Jepara menurunkan puluhan personel. Selain itu beberapa aparat dari Satpol PP dan TNI pun ikut turun untuk mendinginkan suasana.

“Sebanyak 48 personel dari kepolisian kami turunkan bersama unsur keamanan dari TNI, Satpol PP, untuk mengamankan jalanya audiensi ini,” papar Wakapolres Jepara Kompol Aan Hardiansyah‎.

Editor: Supriyadi

Tolak Tukar Guling Tanah Aset Desa, Warga Tanggul Tlare Jepara Geruduk Balai Desa

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung memprotes langkah pemerintah desanya yang berencana menukar guling tanah aset desa. Mereka merasa tidak pernah diajak berembug terkait rencana tersebut.

Hari Jumat (23/3/2018) pagi,  sekitar pukul 09.00 WIB, warga berkumpul di Balai Desa Tanggul Tlare. Selain kepala desa Baidi Asy Syafii, hadir pula forum pimpinan kecamatan (Forkopimcam) Kedung.

Yusuf Andrean seorang warga mengatakan, rencana tukar guling tersebut mengemuka di awal bulan Maret 2018. Saat itu warga mendengar desas desus tanah milik desa yang berada di Jl Bulak Baru, hendak dijadikan SPBU.

“Namun kami tidak diberitahu, tidak disosialisasi, hanya beberapa orang warga saja yang tahu. Kami sempat menanyakan (audiensi) ke Bupati Jepara terkait mekanisme tukar guling, namun disana dijelaskan prosesnya tak segampang itu. Perlu proses yang alot. Namun ini dalam waktu sebulan sudah ada persetujuan dari beberapa orang untuk tukar guling,” kata dia.

Spanduk besar berisi penolakan tukar guling dibentangkan Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung sebagai wujud kekecewaan terhadap pemerintah desa setempat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dirinya menyebut, sudah beberapa kali bertanya kepada kades terkait hal itu. Namun warga tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Hingga akhirnya warga memasang spanduk penolakan, dilokasi yang rencananya akan ditukar guling.

Adapun, lokasi yang ditukar guling seluas lebih kurang 4000 meter persegi, akan ditukar dengan tanah seluas 12 ribu meter persegi.

“Tanah ini (yang hendak ditukar guling) dulunya pengairan tapi sudah lama tak digunakan. Akhirnya disewa masyarakat untuk tambak. Adapula di beberapa bagian ditanami pohon bakau, untuk mencegah abrasi,” ungkapnya yang juga anggota karangtaruna tersebut.

Ia berharap agar aset tanah tersebut dapat digarap secara swakelola oleh pemdes Tanggul Tlare. Dengan itu, ia berharap kemanfaatannya dapat dinikmati lebih besar bagi warga.

Editor: Supriyadi

Pemkab Jepara Ajak Perusahaan Swasta Wujudkan SiAngsa

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara gandeng perusahaan swasta guna wujudkan sistem pengangkutan sampah berbayar berbasis daring (online). SiAngsa atau Sistem Informasi Angkut Sampah, digadang dapat memaksimalkan upaya pemerintah menuntaskan masalah sampah yang menjadi momok di Bumi Kartini.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurohman mengatakan, volume sampah yang dihasilkan oleh warga sebesar 1.128 ton per hari. Namun hanya 11,51 persen atau 129,2 ton sampah, dari jumlah tersebut yang dapat tertampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Dengan aplikasi SiAngsa, diharapkan pada 2022 kabupaten Jepara dapat mengangkut sampah dengan volume 127-390 ton per hari. Harapannya di tahun itu, sebanyak 15 kecamatan akan tercover oleh layanan tersebut,” ujarnya, sebagaimana rilis yang diterima MuriaNewsCom, Rabu (21/3/2018).

Fatkhurohman mengatakan, saat ini telah layanan terkait sampah telah mengcover 13 kecamatan. Namun, DLH memiliki sejumlah unit pengangkut yang hanya mampu menangani 9,5 persen dari kebutuhan layanan ideal.

Subiyanto Sekrataris Badan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah (BPKAD) Kabupaten Jepara pun juga mengatakan hal senada. Dari aspek pengelolaan keuangan daerah tidak memungkinkan bagi daerah untuk secara fleksibel bisa melakukan angkut sampah berbayar.

APBD Kabupaten Jepara juga terserap cukup besar dan sistem retribusi telah diterapkan. Hanya saja realisasi yang ada ternyata hanya dibayar oleh 38 persen dari total potensi tertagih. Sementara APBD tidak cukup mampu menangani seluruh persoalan yang ada.

“Oleh karenanya, kami berharap (pihak swasta) kami harapkan tidak hanya berorientasi bisnis tetapi juga filantropis (amal),” ujarnya, mewakili Bupati Jepara Ahmad Marzuqi.

Dirinya berharap, perusahaan-perusahaan wajib Corporate Social Responsibility (CSR) di Jepara mampu memberikan manfaat kepada banyak orang. Khususnya untuk mengatasi berbagai isu lingkungan hidup yang ada di Kabupaten Jepara secara keseluruhan.

Selain Pemkab dan Forum Literasi Lingkungan Hidup (FL2H) Kabupaten Jepara, serta keterlibatan KPP Pratama, beberapa perwakilan CSR yang diundang, termasuk PT Hwa Seung, PT Yazaki Sami, PT Sumitomo, PT Starcam, PT Kanindo, PT Parkland, dan PT Samwon.

Editor: Supriyadi

Mayat Terapung di Saluran Irigasi Gegerkan Warga Desa Kecapi Jepara

MuriaNewsCom, Jepara – Sesosok mayat ditemukan di saluran irigasi Dukuh Grobogan, Desa Kecapi RT 42 RW 08, Kecamatan Tahunan, Rabu (21/3/2018), pagi.

Kapolsek Tahunan AKP Sama’i menyebut, identitas mayat itu adalah Aris Setiawan (26). Ia adalah warga Desa Bulungan RT 10 RW 04 Kecamatan Pakis Aji. Diduga, kematian korban karena terpeleset dan tercebur di saluran irigasi.

“Berdasarkan penuturan keluarga, Aris juga pernah memiliki riwayat penyakit epilepsi‎,” tuturnya.

Adapun, kronologi penemuan mayat terjadi sekitar pukul 07.30 WIB. Seorang saksi yakni Hadi Mustiko, lewat di samping saluran irigasi. Kemudian, ia melihat ada sesosok tubuh pria yang tertelungkup di saluran tersebut.

Mengetahui hal itu, ia lantas mengabarkannya kepada warga sekitar dan pihak berwenang. Tak berselang lama, petugas dari BPBD Jepara dan Polsek Tahunan tiba ditempat, untuk mengevakuasi mayat tersebut.

Kontan kejadian itu membuat warga sekitar gempar dan mendatangi lokasi kejadian.

Dari pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Puskesmas Tahunan, terdapat luka lecet ringan pada bibir. Adapun, penyebab kematian diduga karena kehabisan oksigen karena tenggelam.

“Luka di bibir bawah dimungkinkan karena korban terbentur saat terjatuh. Kehabisan oksigen ditengarai sebagai penyebab kematiannya. Berdasarkan pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” kata Sama’i.

Dari keterangan keluarga, Aris keluar dari rumah seorang diri untuk membeli gagang cangkul. Saat itu, diketahui cuaca sedang turun hujan deras.

Editor: Supriyadi

Curi Burung Lovebird, Pemuda Bertato di Jepara Diringkus Warga

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Kelurahan Panggang, Jepara menangkap seorang pencuri burung yang beraksi di rumah Iskandar, Selasa (20/3/2018) pagi. Saat ditangkap, pencuri berinisial DN itu sudah mengantongi seekor burung jenis Lovebird dalam sebuah kantong plastik hitam.

Ipul warga setempat mengungkap, peristiwa itu terjadi pada pukul 09.00 WIB. Ketika itu, ia diberitahu oleh seorang tukang sapu yang melihat gerak-gerik mencurigakan di halaman rumah Jl Ki Mangunsarkoro No 15.

“Karena tidak berani (menangkap) akhirnya ia mengundang warga sekitar untuk menangkapnya. Pertama kali baru saya dan rekan saya yang menangkap, kemudian ramai orang di sini membantu menangkap,” ujar dia.

Menurutnya, saat ditangkap pelaku tidak melakukan perlawanan. Namun di tangan pelaku diamankan sebuah gunting berukuran besar.

“Guntingnya itu untuk menggunting kawat kandang burung Lovebird. Udah dapat satu tadi dia,” kata dia.

Saat ditangkap, pelaku yang badannya dirajah tato ini, berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Saat pertama ia mengaku warga Kelurahan Panggang, namun selanjutnya ia mengaku berasal dari Bangsri.

Beruntung, ia tidak menjadi bulan-bulanan warga sekitar yang geram atas perbuatannya.

Iskandar, pemilik rumah mengatakan, burung Lovebird nya berharga sekitar Rp 250 ribu per ekor. Namun demikian, kasus pencurian burung bukan baru sekali terjadi.

“Kehilangan (burung) ya bukan hanya sekali, dulu pernah juga, malah beserta kandangnya. Kalau itu (burung yang dicuri) jenisnya Love Bird, harganya paling mahal Rp 250 ribu,” tuturnya.

Adapun, saat ini, pelaku telah diamankan di markas polisi setempat untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Editor: Supriyadi

Jepara Dianggap Seksi Sebagai Jujugan Investasi

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara merupakan daerah yang banyak diincar oleh investor untuk menanamkan modalnya. Namun hal ini harus diikuti keseriusan pemerintah, untuk mempermudah perizinan dan menyediakan tenaga kerja.

Hal itu disampaikan Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Tengah Gideon Suhartoyo, Minggu (18/3/2018), saat peringatan Hari Pekerja Nasional di Pantai Kartini. Menurutnya, bersama tiga kabupaten lain, Bumi Kartini dianggap kondusif sebagai lokasi industri besar.

“Ada empat daerah di Jawa Tengah yang dianggap seksi oleh investor. Yakni Jepara, Brebes, Salatiga dan Grobogan. Apa faktornya? satu kondusif dan kedekatan dengan pelabuhan serta jalan tol,” katanya.

Namun, lanjut Gideon, pemerintah daerah tak lantas ongkang-ongkang kaki. Pemkab Jepara dituntut  melakukan pembenahan kemudahan perizinan dan peningkatan kapasitas pekerja.

Jika tidak, maka akan banyak pekerja lokal yang terserap ke industri-industri besar yang diramalkan akan migrasi ke Jepara. “Jepara ini seksi sekali untuk industri yang akan bermigrasi dari Jawa Barat, DKI Jakarta dan Vietnam. Namun hal itu harus diikuti komitmen pemerintah,” ujarnya.

Disinggung persaingan mendapatkan pekerja, antara industri besar dengan UMKM di Jepara, Gideon tak menampik hal itu. Menurutnya, solusi upah sektoral dapat memangkas kesenjangan tersebut.

“Itulah kenapa upah sektoral itu penting, bayangkan sekarang seorang ibu rumah tangga memunyai usaha gorengan dengan dua karyawan, kan tak mungkin kemudian dia disuruh bayar sesuai upah minimum kabupaten,” jelasnya.

Hal tersebut diakui oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Beberapa saat lalu, ia menyebut, wilayahnya ini memang menjadi incaran investor.

“Beberapa hari yang lalu saya mengikuti buisness meeting (pertemuan bisnis) di Solo. Dari beberapa kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah, yang menyita simpati calon investor itu kabupaten kita Jepara,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Marzuqi menyebut, dirinya telah bertemu beberapa di antaranya. Di sektor perusahaan padat karya ada yang telah menjajaki kemungkinan berbisnis dan membuka pabrik di wilayah Jepara.

“Ada perusahaan tekstil yang kini berada di Boyolali yang telah berkomunikasi dengan saya, apakah bisa saya memenuhi pekerja. Waktu itu saya jawab kalau untuk penuhi langsung saya tidak bisa, tapi kalau untuk mengomunikasikannya bisa. Hal itu karena, perusahaan disana mulai kewalahan untuk mencari pekerja,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Geram Uluran Salamnya Ditolak PPD Jepara 

MuriaNewsCom, Jepara – Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo geram karena uluran salam tangannya ditolak oleh seorang anggota PPD (Panitia Pengawas Desa) Jobokuto, Kecamatan Kota Jepara. Hal itu terjadi saat dirinya berkunjung ke Pasar Jepara Satu, Minggu (18/3/2018).

Pantauan MuriaNewsCom, insiden itu terjadi ketika Ganjar hendak melangkahkan kaki ke area pasar. Saat itu ada beberapa warga yang mengerubungi Ganjar hendak bersalaman. Di antara kerumunan, Anggota PPD Jobokuto Mashardi juga ada untuk melaksanakan tugas pengawasan.

Saat cagub nomor urut satu itu hendak menyalami petugas panwas tersebut, yang bersangkutan malah menolaknya.

Sampeyan jangan seperti ini wong Jawa lho. Ini kan jaga silaturahmi saja kok gak mau. Gak enak lho ini, sampeyan  tegur saya saja tidak apa-apa. Nanti saya telepon Bawaslu,” ucap Ganjar.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dirinya tak mau pilgub di Jateng menjadi ajang yang seram. Dirinya mengaku lebih baik dilarang secara terbuka atau dilarang dari awal.

“Ini sudah dua kali, sebelumnya makan saja diawasi. Jangan-jangan nanti saya mandi juga diikuti. Bahkan saya kaget, saya ajak salaman saja tak mau. Jangan sampai nilai-nilai kultur hancur karena pilkada,” ungkapnya.

Ditemui sehabis insiden, Mashardi tak banyak berkata. Namun menurutnya, hal itu (menolak salaman) merupakan bagian dari tugasnya.

“Saya kalau menjawab (klarifikasi) tak bisa, karena bukan wewenang saya. Nanti saja konfirmasi (Ketua) Panwaslu saja. Namun kalau saya pribadi sih tidak apa-apa kalau diajak salaman. Tapi ini kan sedang tugas,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Panwaslu Jepara Arifin mengatakan, tidak ada instruksi khusus yang melarang bersalaman dengan cagub. Akan tetapi, dirinya menyebut hal itu (menolak salaman), sebagai bentuk kehati-hatian.

“Itu merupakan bentuk kehati-hatian dari teman-teman panwas, agar tak dianggap subyektifitas. Tidak ada instruksi, hanya saja memang perlu menjaga sikap dan perilaku. Kita berhati-hati karena sekarang memasuki masa pilkada, menjaga sikap di mata orang lain,” jelas dia.

Ia berkata, permasalahan itu telah rampung karena pihaknya telah menjelaskannya kepada Ganjar Pranowo. “Saya juga telah membicarakannya dengan calon (Ganjar) dan permasalahan itu sudah selesai,” sebut Arifin.

Editor : Ali Muntoha

Hormati Hari Raya Nyepi, Umat Islam di Plajan Jepara Kumandangkan Azan Tanpa Pengeras Suara

MuriaNewsCom, Jepara – Jarum jam di Masjid At Taqwa Desa Plajan, sudah menujukan pukul 11.00 WIB, namun tak seperti Jumat biasanya, hari itu tak ada suara ngaji yang terdengar dari pelantang. Lalu apakah, peralatan pengeras suara masjid itu rusak?

Ternyata tidak, hari itu (Jumat, 16/3/2016) bersamaan dengan ibadah Mecaru atau Tawur Agung yang dilaksanakan di Pura Puser Bumi, dekat masjid. Tidak hanya hari itu, besok (Sabtu, 17/3/2018) seluruh masjid dan musala yang ada di dekat tempat peribadatan Umat Hindu, tidak akan menggunakan pelantang suara jika sedang azan.

Hal itu diakui oleh seorang marbot atau nadhir Masjid At Taqwa Kemadi. Menurutnya, sejak bertahun-tahun lalu setiap kali Hari Raya Nyepi, Umat Islam dan umat lainnya melakukan penghormatan bagi mereka umat Hindu.

“Penghormatan yang kami lakukan (umat Islam) adalah tidak menggunakan pengeras suara ketika sedang azan. Hal itu dilakukan dengan tujuan agar tidak mengganggu pelaksanaan nyepi,” ujarnya.

Selain itu, seluruh masyarakat yang ada di Desa Plajan, juga diimbau untuk tak membuat suara gaduh. Termasuk tidak menghidupkan suara musik keras-keras atau menggeber motor.

Ia menjelaskan, masjid akan berhenti menggunakan pengeras suara mulai dari Sabtu dinihari, hingga Minggu dinihari. Lantaran pada saat itu, umat Hindu yang ada di lingkungan tersebut sedang menjalankan Caturbrata Penyepian.

“Hal itu adalah bentuk toleransi kami kepada umat Hindu. Tidak azan dengan pengeras suara, tidak menyetel musik, tidak bekerja dengan alat yang berisik pokonya tidak membuat gaduh. Nanti kalau lebaran tiba, umat Hindu juga bertoleransi dengan ikut merayakan Idul Fitri, hingga menjaga tempat peribadatan,” urai dia.

Kamedi menyebut, di RT 1 RW 7 Desa Plajan, terdapat 48 Kepala Keluarga, sepuluh diantaranya adalah pemeluk agama Hindu. Meskipun minoritas, namun tidak lantas mengurangi penghormatan dari mayoritas Umat Islam.

“Imbauan dari desa sudah sejak dua hari lalu, namun meskipun tak ada imbauan, masyarakat sudah tahu terkait toleransi tersebut. Kami juga melakukan ronda untuk menjaga keamanan selama nyepi,” tuturnya, yang juga Ketua RW 07, Dukuh Bale Romo, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji.

Penelusuran MuriaNewsCom, di desa itu terdapat 14 masjid, 40 musala, empat pura, dan satu gereja. Sementara jumlah penganut Islam berjumlah 7.515 orang. Hindu 435 orang, Kristen 55 orang dan Budha empat orang.

Editor: Supriyadi

Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun, Jalan di Jepara Ini Berubah Jadi Wisata Jeglongan Sewu

MuriaNewsCom, Jepara – Selain terkenal dengan wisata pantai yang sangat indah, di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Nalumsari ternyata ada wisata jeglongan sewu loooh..

Ya, kata jeglongan sewu muncul dari warga sekitar yang kesal dengan sikap pemerintah daerah yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang menghubungkan antara Desa Tunggul Pandean dengan Nalumsari. Jalan tersebut dibiarkan rusak lebih dari tiga tahun hingga membuat kekesalan warga memuncak.

Iin Wulandari (25), warga Tunggul Pandean mengaku sejak tahun 2014 jalan tersebut sudah rusak. Bahkan, kini semakin parah dan kubangan jalan semakin dalam dan lebar.

“Rusaknya semakin parah, tidak ada yang bisa dipilih, hingga membuat kami kesal dan membuat istilah jeglongan sewu,” ungkapnya.

Menurut Iin, selain ditempeli tulisan “selamat datang di wisata jeglongan sewu” jalan rusak sepanjang dua kilometer lebih itu juga ditanami pohon pisang dan pohon2 lainya. “Di jalan itu sampai ditanami pohon pisang, bahkan pisangmya tumbuh subur dan sampai berbuah,” jelasnya.

Dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten Jepara untuk segera memperbaiki jalan tersebut sehingga aktivitas warga lancar dan ekonomi kembali pulih.

“Saya berharap pemerintah segera memperbaiki jalanya jadi semua aktifitas warga kembali normal,” pinta guru SMK tersebut.

Seorang warga melintas di jalan rusak di Tunggul Pandean Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Zainal (27), warga Nalumsari juga mengungkapkan hal yang sama. Sejak jalan tersebut rusak, aktifitas antara dua desa tersebut lumpuh. “Harusnya Desa Tunggul ini dekat dengan Nalumsari, tapi karena jalanya rusak parah jadinya malas lewat jalan tersebut dan akhirnya memutar cukup jauh,” katanya.

Awalnya, tambah Zainal, saat kerusakanya masih sedikit, para warga iuran untuk membeli sertu untuk menguruk dan menutup jalan2 yang berlubang. Namun karena tidak perbaikan dari pemerintah, lama-lama warga kesal dan membiarkan jalan tersebut.

“Saya heran, apa bupati atau anggota DPRD kabupaten Jepara ini tidak pernah dengar? Atau tidak pernah ada aduan dari pemerintah kecamatan kalau ada jalan yang rusaknya sangat parah bertahun-tahun seperti ini,” tanyanya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya dan aktifitas warga tidak terganggu. “Kami sangat berharap jalanya segera diperbaiki agar warga tidak terganggu perjalananya. Apalagi saat hujan atai setelah hujan, sering pengendara motor jatuh karena terperosok dikubangan yang cukup dalam itu,” kata Zainal.

Editor: Supriyadi

Jelang Nyepi, Umat Hindu Jepara Larut dalam Prosesi Tawur Agung

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat Hindu Jepara melakukan ritual Mecaru atau Tawur Agung di Pura Puser Bumi, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jumat (16/3/2018). Laku itu dilakukan sebagai rangkaian ritual sebelum memasuki Nyepi yang akan jatuh pada hari Sabtu (17/3/2018).

Sejak Jumat pagi pukul 09.00 WIB umat Hindu dari berbagai wilayah yang ada di Jepara, memadati pura yang terdapat di Dukuh Bale Romo, Desa Plajan RT 1 RW 7 itu. Begitu umat memasuki halaman pura, setiap dari mereka diberi kewangen  atau buket kecil yang diisi dengan bunga warna warni.

Mengikuti prosesi tersebut, warga terlihat khusyuk. Sebelum doa yang dipimpin seorang mangku dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan wejangan oleh pendarma wacana dari Kalimantan Puspo Rinanjoyo. Namun demikian, karena ukuran tempat ibadah yang kecil, maka prosesi doa harus dibagi menjadi dua waktu.

Ngarbiyanto ketua panitia acara tersebut mengungkapkan, peserta upacara mecaru diikuti oleh sekitar 500 umat Hindu se Jepara. Tujuannya untuk membersihkan sekaligus mempersiapkan diri jelang Nyepi.

Seorang warga melakukan prosesi Tawur Agung yang dilakukan di Pura Puser Bumi, Dukuh Bale Romo, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jumat (16/3/2018). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

“Upacara Mecaru atau Tawur Agung  ini diselenggarakan untuk membersihkan buana agung dan buana alit, atau kalau diartikan sebagai pembersihan terhadap semesta dan diri kita sebagai manusia,” tuturnya.

Menurutnya, setelah bersembahyang di pura, nantinya umat akan melakukan ritual mecaru di rumah masing-masing. Pada tahun tahun ini, ada yang spesial karena Hari Raya Nyepi berbarengan dengan hari Saraswati.

“Pada tahun Saka 1940 (penanggalan Hindu) kali ini istimewa, sebab Nyepi bersamaan dengan Hari Saraswati atau turunnya ilmu suci pengetahuan. Maka dari itu pelaksanaannya agak berbeda, nanti malam pukul 00.00 WIB akan di mulai persembahyangan Saraswati. Sementara besok (Sabtu) pukul 06.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB keesokan harinya akan dilaksanakan Catur Brata Penyepian,” jelas Ngarbiyanto.

Editor: Supriyadi

Alat Berat Dikerahkan Bersihkan Pantai Teluk Awur dari Berton-ton Sampah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah alat berat diturunkan untuk membersihkan tumpukan sampah yang ada di Pantai Telukawur, Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis (15/3/2018). Hal ini mengingat, sampah yang terakumulais di destinasi wisata itu diperkirakan mencapai 10 ton lebih.

Asrofi, Kepala Desa Telukawur mengatakan, tumpukan sampah itu berasal dari sungai yang bermuara di pantai tersebut. Disebutkannya, pada musim hujan seperti ini, tumpukan sampah selalu ada saja yang datang. Hal itu praktis mengganggu wisatawan yang datang ke tempat itu.

“Sampah berasal dari sungai yang bermuara ke laut ini. Pada musim ini sangat sulit dibersihkan karena selalu saja terseret ombak,” ujarnya.

Menurutnya, petugas honorer dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara selalu disiagakan mengangkut sampah setiap hari. Namun mereka selalu kesulitan mengingat jumlah sampah yang terlalu banyak.

Pihaknya mengatakan, pemerintah desa tidak ingin masalah sampah di Pantai Teluk Awur mengganggu wisatawan. Oleh karenanya, dirinya menegaskan akan terus fokus membersihkan pantai tersebut.

Hal itu tak lepas dari lokasi pantai yang berada di Desa Teluk Awur. Secara langsung dan tidak, hal itu memengaruhi pemasukan warga desa yang menjadikan wisata pantai sebagai mata pencaharian.

Editor : Ali Muntoha

Tak Ada Berani Nebang, Randu Alas Ratusan Tahun di Jepara Ini Mitosnya Bisa Keluarkan Darah

MuriaNewsCom, Jepara- Pernahkah Anda melihat pohon raksasa berukuran besar berusia ratusan tahun, tanpa ada mitos-mitos penunggu yang menyertainya?.

Jika pun ada, pastinya pohon itu sudah ditebang dijadikan berbagai macam barang furniture, atau bahkan jadi kayu bakar. Apalagi jika pohon tersebut berada di Jepara, yang mayoritas penduduknya adalah perajin mebel.

Hampir sebagian besar keberadaan pohon tua raksasa, selalu diikuti dengan cerita-cerita mistis di seputar pohon tersebut. Seperti yang ada di Kabupaten Jepara.

Di Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Jepara terdapat pohon Randu Alas yang berdiri kokoh dan rimbun. Pohon ini menjadi cagar alamnya Desa Petekeyan. Tentu saja ada mitos yang beredar dari mulut ke mulut mengenai keberadaan pohon ini.

Kini semua warga Petekeyan ingin melindungi pohon yang mitosnya menjadi ”rumah” bagi sesepuh mereka yang bernama Mbah Sirah Somasari itu.

Fatkhurraman (55), warga Petekeyan, mengaku sejak dia lahir pohon tersebut sudah sebesar itu, sehingga dia tidak tahu secara pasti usia pohon tersebut.

“Sejak saya lahir bahkan sejak mbah saya kecil, pohon itu sudah ada di sana. Kami tidak ada yang tau pastinya kapan pohon itu mulai tumbuh,” ungkap pengusaha mebel ini.

Menurutnya, pohon yang berdiameter lebih dari 15 meter itu memiliki mitos jika tidak bisa ditebang. Bahkan saat industri mebel di Jepara sedang berkembang pesat, banyak pengusaha yang mengincar pohon yang berada di Pasar Petekeyan tersebut.

“Dulu ada yang ingin menebang pohon itu. Namun pekerja yang mau memotong malah sakit, karena melihat darah yang keluar dari pohon besar itu,” ceritanya.

Bahkan saat mulai dibangun pasar serta toko-toko pada tahun 80an, randu alas ini juga pernah akan ditebang lagi, namun juga muncul keganjilan yang membuat pohon itu gagal ditebang.

“Pas mau dibangun pasar, pohon ini mau ditebang, karena takut kalau roboh atau pakang-pakang-nya (dahan-ranting) jatuh dan merusak kios, atau melukai warga yang sedang beraktivitas di pasar. Namun gagal juga karena mesin pemotongnya meletus,” jelas Fathur saat ditemui di bawah pohon randu alas ini.

Hingga saat ini, tambahnya, tidak ada orang yang berani menebang pohon tersebut. Apalagi banyak muncul cerita-cerita mengerikan bagi orang yang nekat menebang pohon tua tersebut.

“Tidak ada yang berani memotong. Selain mengeluarkan darah, konon ceritanya pohon ini sebagai rumahnya Mbah Sirah Somasari, yang harus kami hormati dan lindungi sebagai sesepuh Desa Petekeyan ini,” ungkapnya.

Pohon randu alas yang rimbun menjadi peneduh pedagang dan pembeli di pasar Desa Petekeyan. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Buaya Putih Penjelmaan Abdi Sunan Ampel

Nasir (35), warga Demangan mengaku juga mendengar banyak cerita dan mitos mengenai pohon itu. Selain cerita pohon yang mengeluarkan darah jika ditebang, ia mengaku melihat hal yang ganjil di bawah itu.

Saat menjelang maghrib, dia mengaku pernah melihat kerumunan warga yang sedang selametan di bawah pohon tersebut. Padahal tak ada satupun orang di sekitar yang melihat aktivitas tersebut.

“Saat itu mau maghrib, saya melihat kerumunan warga ramai di bawah pohon, saya kira memang sedang ada selametan atau apa gitu. Paginya saya tanya teman saya yang tinggal di seberang jalannya, tapi tidak ada acara apa-apa. Bahkan tidak ada yang selametan pada malam itu. Entah itu nyata atau hanya penglihatan saya saja,” kenangnya.

Sementara itu, Mbah Hj Minik (84) sesepuh yang juga istri mantan Petinggi  Desa Petekeyan itu menuturkan, dulunya ada seorang sesepuh yang bernama Mbah Sirah Somasari yang sering tinggal di bawah pohon itu untuk membuat aren.

“Zaman wali songo membangun Masjid Demak, Sunan Ampel mendengar dendangan yang sangat indah yang dibuat oleh Mbah Sirah Somasari saat mencari aren. Suara tersebut terdengar hingga Kerajaan Demak,” ceritanya.

Karena penasaran dengan suara itu, Sunan Ampel mengutus abdinya untuk mencari suara tersebut. ”Hingga akhirnya ketemu mbah Sirah di bawah pohon itu dan membawanya untuk bertemu Sunan Ampel,” jelasnya.

Mbah Sirah disebut mempunyai kesaktian. Namun banyak orang yang mencoba menghasut Sunan Ampel untuk menghukum Mbah Sirah. Hingga akhirnya saat tertidur di depan pintu kamar Sunan Ampel, kepala Mbah Sirah terkena tongkat Sunan Ampel dan meninggal.

“Mbah Sirah meninggal dengan mengeluarkan darah putih yang membuat Sunan Ampel menangis sambil meminta maaf kepada Mbah Sirah, karena dia adalah orang yang jujur dan suci. Sunan Ampel menyuruh abdinya yang disabda menjadi buaya putih untuk mengantar jenazah Somasari hingga ke Desa Petekeyan, namun sampai saat ini jenazah Mbah Somasari tidak sampai di Petekayan namun terdampar di pesisir Desa Semat,” ceritanya.

Belum ada pembuktian atau penelitian secara ilmiah mengenai cerita ini. Namun sebagian besar warga mempercayai mitos ini, sebagai bagian kekhasan budaya desa tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Warung di Jepara Ini Minta Ampun Murahnya, Sepuluh Ewu Sak Waregmu

MuriaNewsCom, Jepara- Bagaimana tidak jadi ampiran (tujuan), ketika terpampang baliho besar di pinggir jalan yang bertuliskan Rp 10 ribu sakwaregmu plus free wifi.

Penasaran dengan menu-menunya, akhirnya banyak orang mampir untuk mencicipi masakan “Warung Mbak Ina” yang terletak di Jalan Lingkar Rengging, Pecangaan. Tepatnya di deretan ruko belakang Terminal Pecangaan tersebut.

Ya.. tak sedikit orang yang akhirnya ketagihan setelah merasakan masakan Warung Mbak Ina tersebut. Bahkan warung yang menjajakan berbagai menu masakan ini jadi ampiran sopir-sopir, karyawan dan juga warga yang melintas jalan tersebut.

Fahrudin (35), seorang karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi ini mengaku setiap kali tugas ke luar, dirinya selalu mampir ke warung ini. Selain makanannya yang enak, harga yang murah dan tempat yang bersih menjadi pilihan dia bersama teman-temanya saat jam makan siang.

“Tadinya hanya penasaran dengan tulisan Rp 10 ribu sakwaregmu, tapi setelah mampir ternyata makananya tidak mengecewakan, rasanya enak, seperti masakan rumah, dan harganya sangat bersahabat buat karyawan seperti kami,” ungkap bapak dua anak itu.

Baliho besar di depan warung membuat banyak orang penasaran. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Menurutnya, menu yang paling unggulan di ini yaitu pindang srani dan mangut ikan asap. “Pindang sraninya sangat segar, jooss untuk dimakan di siang-siang yang panas. Apalagi mangut ikan asapnya juga sangat mak nyus,” jelasnya.

Kuswati (40), warga Mlonggo ini juga mengakui menu masakannya bermacam-macam, sehingga banyak pilihan. “Menunya banyak pilihan, kalau saya biasanya suka pecel kadang juga sayur lodehnya enak,” katanya.

Setiap akan pergi ke luar kota, lanjut Kuswati, mampir terlebih dahulu ke warung ini untuk sarapan ataupun makan siang.

“Kalau makan di sini, lumayan bisa hemat, satu keluarga biasanya cuma habis Rp 35 ribu kami semua sudah kenyang,” terang ibu satu anak itu.

Pelanggan tengah menikmati makanan di Warung Mbak Ina Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Amirotun Nailiyah (24), biasa dipanggil Mbak Ina tersebut mengaku sejak lulus kuliah 2014 lalu, dia mulai merintis warungnya itu bersama dua karyawanya.

“Saya mencoba menyediakan menu masakan rumahan, seperti sayur lodeh, pecel, rames, sop, pindang srani, mangut, pecel lele ataupun ikan goreng,” ungkap alumni Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan managemen tersebut.

Untuk pindang srani biasanya ia menggunakan ikan patikoli, karena dinilai paling pas dan enak. Ibu satu anak ini mengaku dengan membuat menu yang serba Rp 10 ribu, dirinya bisa membantu banyak orang.

“Ya kita saling membantu. Saya membantu orang-orang yang sedang lapar dengan banyak menu masakan dengan harga murah, namun tetap menjaga rasa dan kebersihanya. Karena dengan menyediakan tempat yang bersih membuat orang-orang yang sedang menikmati makananya terasa nyaman juga,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Gerebeg Gudang Miras, Satpol PP Jepara Sita Ribuan Botol Minuman Berbagai Merek

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara menyita ribuan botol minuman beralkohol dari sebuah gudang, di terminal lama, Kelurahan Jobokuto RT 1 RW 4, Selasa (13/3/2018). Kini kasus tersebut masih dalam penyidikan, sebab saat penyitaan pemilik gudang tidak berada di tempat.

Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jepara Anwar Sadat mengatakan, penyitaan miras dilakukan karena mendengar adanya laporan masyarakat.

“Saat itu kami sedang melakukan patroli terkait penilaian Adipura. Saat itu kami dapat laporan dari masyarakat di pojokan belakang terminal lama (ada gudang penyimpan miras). Setelah berpatroli, kami lantas menyelidiki gudang tersebut, ternyata benar di sana tersimpan ribuan botol miras,” kata dia.

Menurut dia, saat digrebeg gudang tersebut dalam kondisi lengang. Namun demikian, beberapa waktu lalu pihaknya pernah menyita 1.157 botol miras di gudang yang ada di sebelah gudang yang kini digerebeg.

“Ternyata gudang ini (yang digerebeg tahun 2018) dijadikan tempat penyimpanan miras juga. Oleh karena itu kami bawa barang bukti miras, kami amankan di kantor Satpol PP. Untuk tersangkanya diduga kuat berinisial DW,” ujar Sadat.

Ia menerangkan pada penyitaan kali ini pihaknya mengamankan 1.317 miras berbagai merek. Mulai dari Proost hingga Anker Bir.

Istono Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Jepara mengatakan, pihaknya akan menelusuri pemilik miras tersebut. Menurutnya, yang bersangkutan diduga pemain lawas yang telah lama menjadi distributor minuman beralkohol.

“Ia (pelaku) diduga pemain lawas yang menjadi rujukan bagi toko-toko kecil,” urai dia.

Menurutnya, tersangka akan dikenai tindak pidana ringan, karena diduga sudah berulang kali melakukan tindakan tersebut.

Editor: Supriyadi

Dapat Rapor Merah dari KPK, Pemkab Jepara Perketat Pemberian Tambahan Penghasilan PNS

MuriaNewsCom,Jepara – Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) menilai sistem pemberian tambahan penghasilan (tamsil) oleh Pemkab Jepara, masih jelek. Hal itu karena sistemnya masih mengacu pada presensi datang dan pulang, tak memperhatikan kinerja dan produktifitas pegawai selama waktu kerja.

Oleh karena itu, pemerintah kabupaten berencana mengetatkan pemberian tamsil pada para pegawai. Sholih, Sekretaris Daerah (Sekda) Jepara mengatakan, pihaknya akan membenahi sistem tersebut dalam waktu dekat.

“Selama ini pemberian tamsil hanya mengacu pada absensi datang dan pulang. Ke depan tidak begitu, nanti juga akan dipertimbangkan rentang kerja pada jam dinas yang tercatat pada Laporan Kinerja Harian (LKH). Di dalamnya, kegiatan selama berdinas akan dicantumkan,” tuturnya, dalam rilis yang diterima MuriaNewsCom.

Dengan metode tersebut, ia berharap pegawai dapat lebih optimal bekerja. Selain itu dirinya berharap agar Apartur Sipil Negara menjadi lebih produktif.

Untuk lebih menggenjot kinerja, ia juga berencana menerapkan sanksi pemotongan jumlah tamsil, jika ASN tak tepat waktu. Sistem seperti itu juga mengantisipasi pegawai yang hanya suka santai-santai dalam bekerja.

Menurutnya, penilaian LKH dilakukan langsung oleh atasan. Setiap bulan, akan dilakukan penilaian, yang akan menentukan besaran tamsil.

Dirinya mengakui, salah satu penyebab perombakan sistem pemberian tamsil karena rapor jelek yang diberikan KPK, terkait hal itu. Dikatakan Sholih, Komisi Pemberantasan Korupsi menilai sistem yang dibangun pemkab Jepara belum baik.

“Bukan belum baik besarannya (tamsil), tapi sistemnya. Kalau besarannya sana (KPK) tidak masalah, mau kecil mau besar sesuai kemampuan. Tapi sistemnya itu yang belum (bagus). Sehingga dalam waktu dekat ini nanti akan kita perbaiki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ada beberapa hal yang dapat menjadi pengurang tamsil para ASN. Diantaranya, keterlambatan masuk kerja, tidak mengikuti apel, pulang cepat atau sebelum waktunya, cuti, sampai tidak masuk kerja tanpa keterangan.

Editor: Supriyadi

Awas Ketagihan, Ikan Asap Pesajen Jepara Ini Nikmatnya Minta Ampun

MuriaNewsCom, Jepara– Adakah yang tau ikan asap? Ya.. ikan asap adalah ikan laut yang diproses dengan cara pengasapan dengan kayu bakar. Biasanya pengasapan dilakukan hingga dua jam atau matang sampai ke seluruh bagian daging ikan.

Berbeda dengan ikan yang digoreng atau dibakar, hanya dengan asapnya saja ikan-ikan laut yang sudah dibersihkan dan diiris-iris menjadi beberapa bagian ini, tidak merusak vitamin dan protein yang terkandung di dalamnya. Karena itu banyak orang yang ketagihan.

Hal itulah yang membuat sebagian warga kelurahan Pesajen mencoba meraup rupiah lebih banyak. Kelurahan yang posisinya di tengah kota dan dekat dengan Pantai Kartini ini bahkan dikena sebagai pusat pengolahan ikan asap.

Jika anda berwisata ke Pantai Kartini atau jalan-jalan ke Pulau Panjang, sempatkan diri untuk membeli ikan asap ini agar tidak menyesal sudah berkunjung kota Kartini.

Hampir seluruh warga di Pesajen ini merupakan nelayan dan pembuat ikan asap. Sebagai usaha yang sudah turun temurun dari generasi sebelumnya. Kini dengan banyaknya jenis ikan yang diasap semakin banyak orang yang gemar makan ikan. Selain harganya yang murah, ikan ini juga banyak mengandung vitamin dan protein.

Salah seorang pedagang sedang menjajahkan berbagai macam jenis ikan asap di Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Norma (23), salah seorang penjual ikan asap di Pesajen ini mengaku pengolahan ikan asap itu berasal dari usaha neneknya yang turun ke ibunya hingga ke dirinya. “Saya tinggal meneruskan usaha keluarga saja. Pengasapan ikan ini sudah ada sejak zaman nenek saya”ungkap gadis manis itu.

Menurutnya ikan yang paling banyak menjadi idola pembeli adalah ikan tongkol. Selain harganya yang murah, ikan ini memiliki daging yang tebal dan memiliki rasa yang sangat khas.

“Kalau yang paling banyak dicari ikan tongkol, dan tengiri. Kalau ikan manyung biasanya langsung habis karena sudah dipesan oleh warung-warung makan,” katanya.

Norma menjelaskan biasanya sehari dia bisa membuat ikan asap hingga 50 kg bahkan hingga 80 kg. Harganya pun bervariasi, untuk ikan tongkol perpotong dia jual Rp 2.000 – Rp 3.000. Untuk ikan pari Rp 1.500- Rp 3.000, ikan tengiri Rp 3.000-Rp 3.500 tergantung besar kecilnya.

Sedangkan untuk ikan yang berjenis patikoli, kakap merah atau kakap putih biasanya dibiarkan utuh tanpa diiris.”Kalau ikan yang jenis kakap atau patikoli atau JT biasanya diasap utuh tanpa diiria-iris. Biasanya harganya mulai Rp 10.000- Rp 30.000 tergantung besar kecilnya ikan,” jelasnya.

Sejumlah warga sedang memproses mengasap ikan di Kelurahan Pesajen, Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Pedangan lain, Uswah (37), mengaku selain warga asli Jepara, kini mulai banyak pembeli dari luar daerah yang datang ke warungnya itu. “Biasanya hanya bakul, atau warga sekitar aja yang membeli kesini, tapi sekarang ini sudah banyak orang-orang dari luar daerah seperti Kudus, Demak, Semarang dan Solo juga pada mampir kesini,” ungkapnya.

Dirinya sangat senang pada akhirnya ikan asap asal Jepara ini mulai dikenal oleh berbagai daerah dan semakin diidolakan banyak orang. “Kami bersyukur kalau ikan asap ini semakin banyak dicari dan digemari oleh banyak orang,” tambahnya.

Dyah (36), pembeli asal Solo ini mengaku dirinya tidak pernah lupa untuk membawa ikan asap ini setiap datang ke Jepara. “Setiap cari barang (meubel) ke Jepara, saya selalu menyempatkan diri membeli ikan asap ini, karena rasanya yang khas dan harganya murah, disimpan lama di kulkas juga awet. Jadi bisa menjadi persediaan makanan di keluarga kami,”jelas ibu dua anak ini.

Editor: Supriyadi

Sakit Hati Hendak Ditinggal Nikah, Pria di Jepara Sebar Video Zinahnya ke Facebook

MuriaNewsCom, Jepara – Sakit hati karena hendak ditinggal menikah mantan pacar, Kasmudi (23) nekat sebar video perzinahannya dengan si mantan. Akibat tindakannya, ia terancam dibui karena melanggar undang undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kasmudi yang warga Desa Karanganyar RT 01 RW 01 Kecamatan Welahan itu, mengaku sudah 9 tahun berpacaran dengan M (25). Namun tak dinyana, takdir memisahkan sepasang kekasih itu. M memilih pria lain, dan hendak menikahinya.

Merasa sakit hati dengan rencana pernikahan M, Kasmudi akhirnya kalap. Ia tak ingin pujaan hatinya menikah dengan pria lain, akhirnya Kasmudi mengunggah video persetubuhannya dengan M, di laman Facebook milik M.

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho mengatakan, Kasmudi bisa mengunggah video zinah itu ke laman FB M, karena tersangka tahu password dan nama penggunanya.

“Yang bersangkutan (M dan Kasmudi) pernah pacaran selama 9 tahun. Karena M ingin menikah dengan orang lain, Kasmudi sakit hati kemudian menjelek-jelekan korban dengan mengupload video berbau porno ke laman FB korban. Tersangka tahu nama pengguna dan passwordnya,” jelasnya.

Menurut kapolres, saat masih menjadi pasangan M dan Kasmudi pernah melakukan perzinahan. Kemudian, Kasmudi merekamnya menggunakan HP milik M. Setelahnya, Kasmudi kemudian menyalin file video tersebut ke HP miliknya sendiri.

Yudhi mengimbau, agar warga berhati-hati dan menjaga kerahasiaan akun media sosial virtual. Menurutnya, akun tersebut merupakan hal pribadi yang patut dirahasiakan.

“Kami imbau warga waspada, mohon kalau memiliki akun FB (Media sosial) password selalu diganti,” tuturnya.

Sementara itu, Kasmudi menyebut memang pernah merekam video perzinahannya dengan M. Dan pada saat itu, dilakukan sepengetahuan M.

“Pacar (mantan) saya ya tahu pas direkam, karena untuk pribadi,” ungkapnya.

Kasmudi sendiri ditangkap pada Senin (5/3/2018). Ia terancam kurungan badan selama maksimal enam tahun. Tersangka melanggar pasal 45 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 29 UU RI No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Editor: Supriyadi

Besok, PLN Jepara Pemadamkan Listrik Selama 7 Jam, Ini Jadwalnya

MuriaNewsCom, Jepara – PT PLN Rayon Jepara, Jumat (9/3/2018) besok, akan melakukan pemadaman listrik bergilir selama tujuh jam. Rencananya, pemadaman akan dilakukan di Desa Krapyak dan sekitarnya mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Pemberitahuan tersebut tertera dalam surat resmi PLN Rayon Jepara dengan nomor 0048/STH.00.01/R-JPA/2018 yang ditandatangani langsung oleh Manager PT PLN (Persero), RM Dimas Adhi P kepada Kapala Kelurahan/Desa di Jepara, Selasa (6/3/2018).

Berdasarkan surat edaran tersebut, RM Dimas Adhi P menjelaskan, pemadaman listrik disebabkan adanya pemeliharaan jaringan dan potong pohon. Oleh karenanya memerlukan waktu sekitar tujuh jam.

“Pemadaman listrik ini meliputi wilayah Desa Krapyak dan sekitarnya. Wilayah JP4-119 sampai dengan JP4-153. Dari pukul 09.00- 16.00 WIB. Karena ada pemeliharaan jaringan dan pangkas pohon ini, kami mohon maaf atas ketidaknyaman pemadaman listrik tersebut” jelasnya.

Dimas pun meminta pihak pemerintah desa dapat memberitahukan pengumuman tersebut kepada seluruh warga Krapyak dan sekitarnya agar bersiap-siap saat pemadaman terjadi. Termasuk menyiapkan genset untuk keperluan industri ataupun meubel supaya tak terganggu.

“Kami berharap pemerintah desa dapat segera mengumumkan kepada warga semua, sehingga bagi industri2 meubel bisa menyiapkan gensetnya. Dan wargapun tidak terganggau aktivitasnya” terang surat itu.

Editor: Supriyadi

Menengok Pasar Rambutan Jepara, Tempatnya Wisatawan dan Tengkulak Berburu Buah Lokal

MuriaNewsCom, Jepara – Tak hanya buah durian, salah satu buah yang sangat melimpah di Kabupaten Jepara ini adalah rambutan. Bagi kalian yang sedang menikmati liburan di kota sejuta pantai ini, jangan lupa menyempatkan diri untuk mampir di pasar rambutan, tepatnya di area Pasar Baru Ngabul.

Setiap hari, pasar ini selalu ramai lalulalang antara petani rambutan, tengkulak dari berbagai kota hingga wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh buah yang keluarnya berbarengan dengan buah durian ini.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan satu jenis saja buah rambutan seperti di kota-kota lainya. Beberapa jenis rambutan di antaranya yaitu rambutan lokal, rambutan tempel, rambutan binjai, rambutan rafia dan juga rambutan kelengkeng.

Untuk rambutan lokal Jepara, rasanya khas. Ada asam manis namun kurang ngelotok. Berbeda dengan rambutan tempel. Ia memiliki rasa asam manis, dagingnya tebal, dan juga ngelotok.

Sementara untuk rambutan binjai memiliki kulit lebih tebal, daging buahnya juga tebal, ngelotok dan rasanya manis.

Sedangkan rambutan yang paling memiliki rasa yang sangat manis adalah rambutan rafia dan rambutan kelengkeng. Banyak orang mengatakan dua jenis rambutan ini sama. Padahal bagi petani rambutan di Jepara, dua jenis rambutan ini berbeda.

Meski keduanya sama-sama sangat manis, namun untuk membedakanya rambutan jenis rafia ini kulitnya memiliki rambut sedikit panjang dan bentuknya agak oval. Sedangkan rambutan jenis kelengkeng ini memiliki bentuk yang bulat, dan kulitnya tipis, rambutnya pendek dan bagian tengahnya memiliki belahan.

Sejumlah pedagang rambutan menjajahkan barang dagangannya di Pasar Ngabul Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Kamsani (53), salah seorang petani rambutan mengaku, tahun ini musin rambutan di Jepara cukup panjang. Ia memiliki sekitar 20 pohon rambutan, dan mulai dipanen dari bulan November 2017 hingga Maret 2018 ini masih ada buah rambutan yang dipanen.

“Kali ini musimnya lumayan panjang, buahnya juga melimpah, jadi dalam satu pohon kami bisa memanennya hingga beberapa kali” ungkap laki-laki asal Ngabul ini.

Menurut dia, setiap selesai memetik rambutan, dia membawanya ke Pasar Ngabul yang baru untuk dijual kepada konsumen langsung ataupun tengkulak yang datang dari luar kota.

“Kalau tidak hujan, biasanya harganya agak murah, tapi kalo pagi hujan, harga rambutanya bisa naik,” katanya.

Kamsani mengatakan jika pagi turun hujan, hanya sedikit petani yang memetik dan menjualnya ke Pasar Ngabul, sehingga harganya bisa naik. “Karena sedikit yang petik, jadinya harganya bisa sampai Rp 12 ribu pergendel (sekitar 5kg). Tapi jika panas, semua petani memetik dan membawanya ke Ngabul jadinya harganya murah Rp 8- Rp 10 ribu pergendel” jelasnya.

Selain itu, H Imron, tengkulak yang memiliki kios di Pasar Ngabul ini mengaku dirinya mengumpulkan rambutan berjenis binjai dan kelengkeng untuk dikirim ke Jakarta dan Surabaya.

“Para petani langsung setor ke sini. Biasanya permintaan dari Jakarta itu yang jenis binjai dan kelengkeng. Kalau ke Surabaya rambutan tempel dan kelengkeng. Setelah kumpul banyak saya titipkan bus, disana sudah ada yang ambil,” katanya.

Sedangkan Darwati (40), tengkulak asal Wonosobo ini mengaku rambutan asal Jepara ini lebih mudah dijual di daerahnya. Pasalnya buahnya rata-rata manis dan daging buahnya tebal. “Selain itu ngelotok, jadi lebih mudah jualnya dari pada rambutan dari daerah lain” jelasnya.

Setiap dua hari sekali, Darwati dan suaminya datang ke Jepara untuk kulakan rambutan, “Minimal ya satu bak L300 ini harus penuh, sampainya di Wonosobo sudah ditunggu sama pedagang-pedagang buah lainya” kata ibu dua anak ini.

Tak hanya tengkulak, ani (28) wisatawan asal Demak beserta rombonganya ini juga tak mau ketinggalan untuk membeli rambutan sebagai oleh-oleh untuk keluarganya itu.

“Saya tidak menyangka teŕnyata ada pasar khusus rambutan di Jepara. Saat melintas saya pikir hanya pasar biasa, ternyata isinya pedagang rambutan semua. Harganya sangat murah dibandingkan di tempat saya, juga banyak pilihan jadinya saya sangat senang,” ungkapnya.

Editor: Supriyadi

Mengunjungi ‘Penjara’ yang Sempat Mematahkan Asa R.A Kartini

MuriaNewsCom, Jepara – Raden Ajeng (R.A) Kartini merupakan pejuang emansipasi perempuan asal Jepara. Namun, di balik luasnya pemikiran perempuan yang lahir di Mayong 21 April 1879 itu, ia pernah ‘terpenjara’ oleh adat Pingit.

Salah satu saksi bisu kerasnya adat Jawa terhadap Kartini, adalah ruang kamarnya. Terletak di sisi belakang kompleks pendapa Jepara. Kamar itu memiliki dimensi sekitar 6×5 meter, berlantai tegel warna gelap, dengan daun pintu dan jendela yang tinggi.

Sebelum memasukinya, pengunjung harus melalui sisi kiri pendapa yang kini dijadikan rumah tinggal Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. ‎Nah, ketika telah sampai di ujung bangunan, ruang Pingit berada di sisi kanan, memasuki bangunan utama bagian belakang.

Di bagian selasar luar, terdapat deretan kursi-kursi yang dulu dijadikan kelas, untuk murid-murid Kartini.

Kamar Pingit Kartini sendiri kini dijadikan museum mini. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang, meja lengkap dengan kursi, kacadan beberapa lukisan yang konon lahir dari tangan pejuang wanita itu. Namun sayang, tidak ada barang yang asli, semuanya replika.

Suasana di dalam kamar Pingit ketika ada kunjungan dari siswa-siswi SMA/SMK yang mengikuti pelatihan jurnalistik, pekan lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini menyebut kamar pingitnya itu sebagai penjara. “…penjara saya adalah rumah besar dengan halaman yang luas di sekelilingnya. Tetapi dilingkari dengan dinding yang tinggi yang mengurung saya…,” seperti tertulis di buku Kartini Penyulut Api Nasionalisme.

Hadi Priyanto seorang peneliti R.A Kartini menyebut, kamar Pingit itu sempat menjadi saksi keputusasaan putri dari Bupati Sosroningrat itu. Bagaimana tidak, keinginannya bersekolah ke Hogore Lagere School(HBS) di Semarang kandas, bertubrukan dengan adat (kebiasaan) Jawa saat itu.

“Ketika itu Kartini berumur sekitar 12 tahun. Usianya masih sangat muda, ketika ia harus menjalani pingitan, ketika dirinya tengah gandrung menimba ilmu. Tak ayal hal itu membuatnya sempat patah arang. Di tahun pertama, ia lebih banyak meratap. Menangis,” tuturnya, saat berkesempatan menyambangi ruang Pingit Kartini, akhir pekan lalu.

Menurutnya, Kartini harus dipingit hingga usianya 23 tahun. Atau, ketika ada seorang pria yang meminangnya untuk menjadi istri.

Setelah tahun pertama di dalam kamar Pingit, luka hati Kartini berangsur-angsur sembuh. Ia kemudian ‘bertamasya’ melalui buku-buku yang dipasok ayahnya, melalui kotak bacaan mingguan atau leestrommed. Di sana ia mulai membaca tentang kisah-kisah kebijakan Jawa seperti Wulangreh karya Pakubuwana IV atau Centini. Selain itu kisah tentang Pandita Ramabai asal tanah India dan berbagai sumber bacaan lain, yang memengaruhi pola pikirnya.

“Di kamar Pingit ini, meubel-meubelnya mulai dari ranjang dan sebagainya merupakan tiruan. Yang asli kini berada di Museum Rembang. Hal itu karena setelah menikah dengan Bupati Rembang, seluruh barang dari Kartini dibawa serta,” jelas Hadi.

Namun demikian, seluruh bagian bangunan hampir belum ada yang berubah. Termasuk daun jendela krepyak setinggi kurang lebih dua meter. Pintu dan ruangan dalan juga tidak berubah.

Editor: Supriyadi

Hari Ini Panwaslu Jepara Bakal Preteli Atribut Kampanye yang Menyalahi Aturan

MuriaNewsCom, Jepara – Panwaslu Jepara hari ini dijadwalkan melakukan pencopotan sejumlah Alat Peraga Kampanye (APK), Kamis (1/3/2018).

“Penertiban APK berlaku untuk pemilu legislatif maupun pemilu presiden (Pileg dan Pilpres). Kita sudah memiliki dasar hukum yakni PKPU 4 tahun 2017 dan edaran KPU tentang kampanye,” ujarnya Ketua Panwaslu Jepara Arifin.

Menurut peraturan, tahapan pileg maupun pilpres dimulai pada September 2018. Sehingga, ketika pemasangan APK dilakukan sebelum jadwal, praktis menyalahi aturan yang telah dibuat.

Bahkan, lanjut Arifin, pemasangan APK yang tak sesuai jadwal bisa mengarah pada tindak pidana pemilu.

Dirinya menyebut, saat ini partai diperbolehkan melakukan sosialisasi pencalonan (pileg atau pilpres) secara internal. “Itupun harus melakukan pemberitahuan sebelumnya,” imbuh Arifin.

Dari pemetaan Panwaslu Jepara, APK yang hendak ditertibkan merata di seluruh Bumi Kartini. Macam atribut yang ada tidak hanya gambar calon namun juga bendera partai.

Untuk mengefektifkan penertiban, panwaslu akan menggandeng Satpol PP, Polres, Kodim, KPU dan Panwascam. “Harapannya satu hari ini bisa selesai dilakukan karena kami melibatkan petugas ditingkat kecamatan,” tutur dia.

Kemarin, Rabu (28/2/2018) Panwaslu Jepara pun telah melakukan koordinasi dengan pengurus partai terkait pencopotan APK.

Editor: Supriyadi

Tak Kuat Didera Hujan, Sebuah Rumah di Desa Pancur-Jepara Longsor

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah milik Miftahus Sururi (50), di Dukuh Randubango RT 6 RW 2 Desa Pancur, Kecamatan Mayong, Jepara, longsor akibat pondasinya tergerus hujan lebat semalaman. Akibatnya, sebuah kamar tidur dapur dan dapur ambrol tak bisa dihuni.

Miftah menyebutkan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/2/2018) dini hari. Sekitar pukul 04.00 WIB ia dibangunkan oleh anaknya ketika tengah terlelap di ruang tamu.

“Saat itu anak saya tiba-tiba membangunkan saya, karena mendengar bumi keras dari bagian rumah, krak..krak..krak...Mulanya saya tak tahu, tapi kemudian kami sekeluarga ke luar rumah. Ketika berada di luar, rumah bagian samping kiri mulai longsor,” katanya ditemui MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, sebelum kejadian tersebut tak ada tanda-tanda terlebih dahulu. Dirinya mengungkapkan, bagian rumahnya yang longsor menempel pada pagar rumah.

Sedangkan, bagian pagar rumah sampingnya ia bangun dengan tidak menggunakan pondasi cakar ayam. “Bertahun-tahun lalu juga tidak apa-apa ketika ada hujan deras. Namun kali ini, pondasi tidak kuat menahan derasnya air dan kemudian longsor,” tuturnya.

Selain ruangan-ruangan rumah yang hancur karena longsor, sebuah sepeda motor miliknya juga ikut tertimbun material. Dari kejadian tersebut, ia menaksir kerugiannya mencapai Rp 40 juta.

“Untuk langkah sementara, saya bersama warga menahan tembok yang masih tersisa dengan bambu. Kemudian selanjutnya kami membersihkan material yang longsor,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha