Gadis Jepang Ini Terkesima Lihat Benda Purbakala di Banjarejo Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan – Rumah Fosil Purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, kedatangan pengunjung istimewa, Senin (21/1/2018). Yakni, gadis asal Jepang bernama Hana Melody yang berasal dari Jepang.

Tamu dari negeri Sakura ini tidak berkunjung sendirian tetapi ada beberapa orang yang mendampingi. Antara lain, seniman dan budayawan asal Kecamatan Tawangharjo Suyadi yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden. Kemudian, ada juga putra Pak Raden bernama Luluk dan istrinya serta dua orang lainnya.

Tamu dari luar negeri ini tiba di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang untuk sementara dijadikan ‘museum’, sekitar pukul 12.30 WIB.  Mereka berdua sempat melihat aneka koleksi benda purbakala sekitar 1 jam lamanya.

”Lumayan lama kami berada di Banjarejo. Tamu dari Jepang tadi merasa senang karena bisa melihat langsung benda purbakala yang jumlahnya sangat banyak,” kata Pak Raden.

Gadis Jepang Hana Melody berfoto bersama saat berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik untuk melihat koleksi benda purbakala, Senin (21/1/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Menurutnya, gadis Jepang tersebut statusnya masih kuliah di Amerika Serikat. Kebetulan, Hana itu sempat berkenalan dengan anaknya yang tinggal di Solo lewat media sosial. Lewat komunikasi online, Hana ingin sekali berlibur ke Indonesia dan minta ditemani jalan-jalan.

”Jadi, kemarin dia datang kesini dan hari ini diajak ke Grobogan. Selain di Banjarejo, tadi juga sempat mampir lihat fenomena alam Bledug Kuwu dan air terjun Widuri. Dia di Grobogan sehari ini, dan nanti malam rencananya mau ke Jogja,” jelasnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik merasa senang dengan adanya kunjungan warga Jepang untuk melihat koleksi benda purbakala tersebut. Dia berharap, potensi purbakala di desanya bisa disebarluaskan pada banyak kalangan biar makin dikenal.

”Semoga dari kunjungan ini bisa membawa dampak positif. Yakni, makin dikenalnya potensi purbakala Banjarejo,” katanya.

Editor: Supriyadi

Keren, 3 Pelajar Wonosobo Wakili Indonesia Berkompetisi Film Pendek di Jepang

Tiga pelajar berprestasi yang akan berkompetisi di Jepang saat bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Tiga pelajar berprestasi asal SMA Negeri 1 Wonosobo Jawa Tengah berhasil mewakili Indonesia mengikuti kompetisi internasional yang digelar di Jepang. Even tersebut yakni Asian International Children’s Film Festival di Jepang dalam perhelatan Japan East Asia Network of Exchange for Students and Youth (Jenesys) 2017.

Ketiga pelajar itu membawa karya sebuah film pendek berjudul Push Me Up!, dan akan bersaing dengan belasan perwakilan dari berbagai negara di Asia. Mereka adalah Alif Kamal Jauhari, Firda Azizah dan Muhammad Raihan Aditama.  

Film pendek berdurasi tiga menit ini menceritakan tentang seorang guru teladan. Guru yang mampu memamahi bahwa setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta memiliki potensi yang berbeda-beda. Pada film ini diceritakan bahwa guru tidak memperlakukan siswanya secara sama.

“Intinya dalam memperlakukan siswaya itu tidak sama, dan tidak menghukum jika siswa lemah dalam satu mata pelajaran. Karena siswa memiliki potensi dan kemampuan masing-masing, dan itulah yang perlu didorong dan dikembangkan,” kata Kamal.

Pada film itu diceritakan ada seorang siswa yang selalu membolos saat jam pelajaran olahraga. Siswa itu justru senang pergi mencari objek foto yang bagus dan ternyata ia suka dengan dunia fotografi. Saat guru tahu bahwa anak itu membolos, guru tersebut tidaklah marah.

“Justru guru itu mendukung dan meminta agar siswanya menekuni hobi fotografinya. Akhirnya siswa itu berhasil menjuarai lomba fotografi dan membanggakan sekolahnya,” terang Kamal.

Ide besar dalam film ini lanjut Kamal adalah konsep Tut Wuri Handayani, yakni bagaimana seorang guru mampu menjadi pendidik sekaligus pemberi semangat dan dorongan dalam mengembangkan bakat, minat setiap siswa didiknya.

Terkait dengan keberangkatannya ke Jepang, ketiga siswa ini mengaku sangat bangga karena bisa mewakili Indonesia di ajang internasional.

“Ini suatu kebanggaan yang luar biasa. Menjadi perwakilan negara dalam ajang internasional, sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semoga apa yang kami persembahkan bisa turut mengharumkan nama bangsa,” ujar Kamal tersenyum.

Sebelum terbang ke Jepang, ketiganya pamitan kepara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kedatangan para siswa dengan didampingi kepala sekolah serta dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah itu bertemu Ganjar di Kantor Gubernur Jateng, Rabu (15/11/2017) kemarin.

“Saya doakan semoga sukses dan menjadi pemenang, saya sangat mengapresiasi dan bangga ada anak-anak Jateng yang berprestasi bahkan sampai internasional,” kata Ganjar.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan berkarya di dunia seni menjadi salah satu cara anak muda untuk turut serta memajukan bangsa. Tentu saja dengan membuat film-film yang berkualitas dan sarat akan pesan moral. “Jangan hanya di Jepang ini saja, setelah ini kalian juga harus tetap berkarya, ciptakan film-film yang berkualitas ya,” pesannya memberi semangat.

 Ganjar juga berharap agar ada anak muda yang mau tampil menjadi sineas handal di tengah maraknya isu hoax serta film-film yang kurang mendidik. Sebab itu, tiga pelajar berprestasi ini ungkapnya diharapkan bisa turut andil untuk untuk memberikan fim-film berkualitas.

“Ini harus dilanjutkan, film dengan pesan moral harus terus diproduksi. Jangan khawatir, karena menjadi seniman di dunia industri kreatif saat ini juga merupakan profesi yang menjanjikan,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Duh, Senangnya Warga Jepang ini Tonton Pagelaran Wayang Kulit di Pendapa Grobogan

Raomu Mochida, pemuda asal Jepang serius menyaksikan pagelaran wayang kulit di pendapa kabupaten (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Malam terakhir di Grobogan membawa kenangan tersendiri bagi pemuda asal Jepang Raomu Mochida. Sebab, sebelum meninggalkan Grobogan, pemuda berusia 20 tahun itu punya kesempatan menyaksikan pagelaran wayang kulit rutin tiap malam Jumat Kliwon di pendapa kabupaten, Kamis (30/3/2017) malam.

Meski tidak mengerti isi ceritanya, namun Mahasiswa Tokyo Gakugei University itu terlihat serius menyaksikan pertunjukkan kesenian tradisional tersebut. Bahkan, saat gamelan ditabuh, ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seakan menikmati alunan musik yang terdengar. Tingkah pemuda berkulit bersih itu sempat menarik perhatian penonton yang hadir di pendapa.

Sayangnya, Raomu tidak bisa menyaksikan pagelaran wayang hingga tuntas. Sebab, dia harus berkemas karena pagi ini, Jumat (31/3/2017) ia harus terbang kembali ke negaranya.

“Saya senang sekali bisa lihat pertunjukkan ini. Mohon pamit, saya besok pulang ke Jepang dan terima kasih atas bantuannya selama di sini. Semoga saya bisa datang lagi ke Grobogan,” katanya.

Pemuda Jepang tersebut sebetulnya tidak sengaja dapat kesempatan nonton pagelaran wayang. Sebelum pentas rutin dimulai, Raoumu dan beberapa koleganya di Grobogan ceritanya sedang menggelar acara perpisahan dengan makan bareng di kawasan alun-alun yang letaknya di seberang kantor Pemkab Grobogan.

Selesai makan, terdengar alunan musik gamelan yang cukup keras dari tempatnya makan. Merasa penasaran, Raomu pun menanyakan suara musik apa yang terdengar tersebut.

“Daripada susah menjelaskan, akhirnya kita ajak saja orangnya ke pendapa. Jadi, acara nonton wayang ini tidak teragendakan. Soalnya, saya juga tidak tahu kalau ada pagelaran wayang,” kata Ketua Yayasan Bakti Indonesia (YBI) Grobogan Andreas Nugroho.

Kedatangan Raomu di Grobogan adalah sebagai volunteering servise dari organisasi kemanusiaan internasional Dejavato Foundation. Kedatangannya memang diminta oleh YBI.

“Jadi YBI ini kebetulan bermitra dengan Dejavato Foundation. Sengaja kami minta didatangkan volunteer kesini. Sebelumnya, sudah ada tiga pemuda dari Jepang yang dikirim kesini,” jelas Andreas.

Menurut Andreas, kedatangan Raomu ke Grobogan dalam rangka memberikan motivasi pada anak sekolah dasar supaya gemar berbahasa asing. Khususnya, Bahasa Inggris. Sebab, kemampuan berbahasa asing itu suatu saat pasti dibutuhkan.

“Selama disini, Raomu sudah mendatangi beberapa SD. Di situ, ia mengajak anak-anak bermain dan belajar dengan Bahasa Inggris,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)