Kerusakan Makin Parah, 6 Jembatan Antar Desa di Grobogan Butuh Penanganan Serius

MuriaNewsCom, GroboganPemkab Grobogan tampaknya perlu menaruh perhatian serius pada penanganan kerusakan jembatan antar desa. Tindakan tersebut perlu dilakukan mengingat hingga saat ini ada cukup banyak jembatan penghubung antar desa yang kondisinya cukup mengkhawatirkan. Jika tidak segera ditangani maka jembatan itu dikhawatirkan ambrol dan memutus akses transportasi warga sekitar.

Dari penelusuran dilapangan, sedikitnya ada 10 jembatan rusak yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari 10 titik ini ada enam jembatan yang butuh penanganan segera karena tingkat kerusakannya cukup parah.

Yakni, jembatan di Desa Lebengjumuk, Kecamatan Grobogan. Kemudian jembatan di Desa Tunggak (Toroh), jembatan Desa Kalipang (Gabus), jembatan Desa Truwolu (Ngaringan), jembatan Banjardowo (Kradenan) dan jembatan di Desa Karangsono (Karangrayung).

Rusaknya jembatan itu disebabkan beberapa faktor. Yakni, usianya sudah lama, dan terkena dampak bencana banjir dan tanah longsor.

Jembatan itu sebelumnya dibangun oleh Pemkab Grobogan namun statusnya tetap milik desa. Sesuai aturan terbaru, penanganan aset desa harus dilakukan oleh pemerintah desa setempat.

Kondisi inilah yang menjadikan penanganan jembatan desa menjadi terhambat. Soalnya, keuangan desa tidak mencukupi perbaikan jembatan yang butuh dana besar. Sebagai upaya sementara, pihak desa hanya melakukan upaya darurat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono membenarkan jika saat ini sudah banyak laporan terkait kerusakan jembatan antar desa tersebut. Ia menyarankan, pihak desa agar mengajukan permohonan bantuan khusus ke provinsi atau pusat untuk perbaikan jembatan.

Hal itu bisa dilakukan seperti di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang dapat bantuan pembangunan jembatan gantung.

“Jembatan itu merupakan aset desa sehingga perbaikan jadi tanggung jawab desa. Namun, pihak desa bisa mengajukan bantuan khusus dan kita akan bantu fasilitasi,” katanya.

Editor: Supriyadi

Duh, Jembatan Desa Mantingan Jepara Patah Diterjang Air Bah

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah jembatan penghubung antar rukun warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan-Jepara patah akibat tak kuat gerusan air di sungai setempat, Selasa (13/3/2018). Disamping itu, air pun sempat melimpas ke perkampungan dan menggenangi rumah warga di RT 18 dan RT 3 desa setempat.

Pantauan MuriaNewsCom, panjang jembatan sekitar 10 meter dengan lebar sekira 2,5 meter. Patahan tepat berada di antara sambungan jalan dengan badan jembatan yang bertumpu pada talut sebelah utara.

Akibatnya, warga sekitar bila hendak menuju balai desa atau masjid Agung Mantingan (Makam Kalinyamat), harus memutar 80-200 meter. Lantaran, jembatan tersebut digunakan sebagai alternatif untuk pergi ke tempat tempat tersebut.

Khotib perangkat Desa Mantingan menuturkan, patahnya jembatan tersebut terjadi pada Selasa dinihari sekitar pukul 02.00 WIB. Mulanya, di wilayah tersebut hujan turun begitu deras mulai Senin malam pukul 22.00 WIB,  hingga mengakibatkan debit sungai meningkat.

“Air datang bersama dengan sampah. Sampah kemudian menyumbat aliran sungai yang seharusnya melewati bawah jembatan, kemudian air menggerus talut bagian utara dan menyebabkan patahnya jembatan itu,” tutur dia.

Saat ini praktis warga tak bisa beraktifitas melewati lokasi karena jembatan yang patah total. Warga kemudian terpaksa melewati jembatan lain, walaupun harus memutar.

Khotib menambahkan, saat air meninggi lokasi disekitar jembatan sempat terendam beberapa saat. Meskipun demikian, air tak sempat masuk ke rumah-rumah warga.

“Hanya sampai di teras tidak masuk kedalam. Warga pun tidak ada yang mengungsi,” imbuhnya.

Pemerintah Desa Mantingan menyiagakan puluhan pasukan oranye, untuk menanggulangi dampak lanjutan. Hal itu mengingat, hujan masih sering turun di wilayah tersebut pada malam hari.

“Kami menyiapkan 35 pasukan oranye untuk menanggulangi bencana. Untuk pembenahannya sendiri nanti menunggu bila dana (Dana Desa) masih tersedia, karena sudah dialokasikan untuk pembangunan jalan,” tutup Khotib.

Editor: Supriyadi

Tak Kunjung Ditangani, Kondisi Jembatan di Karangsono Grobogan Bikin Was-was

MuriaNewsCom, GroboganJembatan penghubung antardusun di Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung yang sebelumnya ambrol, saat ini kondisinya makin mengenaskan. Hal ini terjadi akibat tanah di salah satu ujung jembatan longsor tergerus air sungai.

Kondisi ini menyebabkan, landasan darurat yang terbuat dari bambu terlihat melengkung. Meski demikian, warga tetap memanfaatkan jembatan untuk akses menuju dusun seberang. Namun, akses jembatan hanya bisa dilalui pejalan kaki.

Kondisi jembatan yang bikin trenyuh sempat diunggah warga melalui media sosial. Dalam foto tersebut terlihat seorang ibu-ibu membantu beberapa anak sekolah yang akan menyeberangi jembatan. Warga berharap agar kerusakan jembatan segera ditangani karena sudah berlangsung cukup lama.

Selain penghubung antardusun, jembatan tersebut menjadi akses jalan antardesa di dua kecamatan. Yakni, antara Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung dengan Desa Suru, Kecamatan Geyer. Akibat kerusakan jembatan ini, warga harus melewati jalur lain yang jaraknya sekitar 5 kilometer untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Jembatan itu mulai ambrol pada bulan November tahun 2016 lalu dan hingga saat ini belum ditangani. Lokasi jembatan berada di wilayah Dusun Wonorejo, Desa  Karangsono.

Jembatan tersebut berada diatas Sungai Pesanggrahan yang merupakan anakan dari Sungai Serang. Jembatan itu panjangnya 24 meter dengan lebar 3 meter. Ambrolnya jembatan itu disebabkan tanah penyangganya longsor sedikit demi sedikit akibat meluapnya air sungai dan guyuran air hujan.

Tumpukan sampah menyumbat aliran sungai usai hujan deras yang mengguyur Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Dampak longsor menyebabkan salah satu tiang penyangga patah dan mengakibatkan separuh landasan ambrol. Untuk upaya darurat, warga untuk menyambungkan jembatan yang ambrol dengan puluhan batang bambu. Selain dipakai untuk tiang penyangga, bambu juga dipakai untuk landasan jembatan.

“Fungsi jembatan ini memang cukup vital. Karena jadi akses warga Karangsono ke Desa Suru yang masuk wilayah Kecamatan Geyer,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Rabu (21/2/2018).

Pihaknya sudah melaporkan ke dinas terkait agar segera ada penanganan. Ini lntaran, jembatan itu sangat dibutuhkan. Terutama, jadi akses masuk mobil untuk membawa hasil pertanian khususnya sayuran yang akan dijual di Purwodadi.

“Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk memperbaki jembatan karena butuh dana cukup besar. Kami butuh dukungan dari Pemkab, provinsi atau pusat untuk perbaikan jembatan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyarankan agar pihak desa mengajukan permohonan bantuan khusus ke provinsi melalui bupati untuk perbaikan jembatan. Hal itu bisa dilakukan seperti di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang dapat bantuan pembangunan jembatan gantung.

“Jembatan itu merupakan aset desa sehingga perbaikan jadi tanggung jawab desa. Namun, pihak desa bisa mengajukan bantuan khusus jika memang kekurangan dana. Nanti akan kita cek dan fasilitasi untuk pengajuan bantuan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Dibiarkan Rusak Selama 7 Tahun, Jembatan di Desa Lajer Grobogan Kian Memprihatinkan

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Lajer, Kecamatan Penawangan, Grobogan berharap ada penanganan jembatan rusak dari instansi terkait. Harapan itu dilontarkan karena kerusakan jembatan sudah terjadi cukup lama, yakni sekitar tahun 2011 lalu.

Selain itu, jembatan yang ada di Dusun Bringin tersebut punya peran cukup vital. Selain jadi akses antardesa, jembatan sepanjang 25 meter itu juga jadi jalur alternatif menuju wilayah Kecamatan Karangrayung.

Dari pantauan di lapangan, kerusakan terjadi pada dua tiang penyangga jembatan yang ambles. Kondisi ini menjadikan posisi satu sisi jembatan terlihat miring.

Sampai saat ini, jembatan tersebut memang masih difungsikan. Bahkan, kendaraan roda empat masih sesekali melintas dari kedua arah. Hanya saja, kendaraan yang membawa muatan tidak berani melintas karena khawatir jembatannya ambrol.

”Jembatan ini merupakan jalan pintas dari Kecamatan Penawangan dan Kecamatan Karangrayung. Kalau tidak lewat sini, harus mutar cukup jauh,” kata Suradi, warga setempat.

Jembatan tersebut awalnya dibangun masyarakat secara swadaya, puluhan tahun lalu. Hingga saat ini, belum sempat ada proyek renovasi jembatan diatas Kali Lanang tersebut.

”Kami berharap, kerusakan jembatan segera ditangani. Memang ada jembatan gantung tapi tidak bisa dilalui roda empat,” imbuh Ansori, warga lainnya.

Editor: Supriyadi

Sebentar Lagi Warga Mangunrejo Grobogan Tak Perlu Lagi Naik Perahu Seberangi Sungai

Inilah penampakan jembatan gantung melintasi sungai Lusi yang menghubungkan Desa Mangunrejo, Kecamatan dengan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Kamis (22/12/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon, Grobogan, sebentarlagi tak perlu kesusahan untuk menyeberang menuju desa di seberang sungai.

Karena sebentar lagi jembatan gantung yang dibangun melintasi Sungai Lusi itu akan segera rampung. Jembatan itu menghubungan Desa Mangunrejo dengan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari.

Sebelumnya warga harus menaiki perahu untuk menyeberangi sungai ini.

“Alhamdulillah, pembangunan jembatannya sudah hampir selesai. Sebentar lagi, akses transportasi menuju Wirosari bisa lebih mudah dan cepat,” kata Marjo, warga Mangunrejo, Kamis (22/12/2017).

Menurutnya, selama ini, akses transportasi dari kedua desa memanfaatkan jasa perahu penyeberangan tradisional. Saat ini, perahu masih tetap beroperasi sampai jembatan selesai dibangun dan bisa dimanfaatkan penggunaannya.

“Sehari-hari, warga masih pakai jasa perahu kalau mau ke Wirosari dan sebaliknya. Kalau tidak pakai perahu, kami harus memutar cukup jauh, sampai 20 km,” cetus Gunadi, warga lainnya.

Warga masih menyeberang menggunakan perahu selama jembatan belum jadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jembatan gantung yang konstruksinya nampak kokoh itu memiliki panjang sekitar 70 meter dan lebarnya 1,8 meter. Alokasi dana untuk pembangunan jembatan nilainya sekitar Rp 5 miliar. Pembangunan jembatan sudah dilakukan sejak awal September 2017 lalu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyatakan, dana pembangunan jembatan gantung ini berasal dari Kementerian PUPR. Jumlah jembatan yang dibangun ada dua titik.

Satu lagi adalah pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan dengan Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari. Jembatan ini alokasi dananya sekitar Rp 4 miliar.

“Sebelumnya, kita memang mengajukan bantuan pembangunan jembatan lewat Kementerian PUPR. Kami mengucapkan terima kasih dengan adanya bantuan jembatan ini. Dalam waktu dekat, masyarakat akan memiliki akses transportasi yang lebih cepat dan mudah,” jelasnya. 

Editor : Ali Muntoha

Setahun Tak Ditangani, Warga Karangsono Grobogan Sambung Jembatan Ambrol dengan Bambu

Seorang pengendara motor melintasi landasan jembatan yang dibuat dari bambu di Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJembatan penghubung di Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung yang sebelumnya ambrol, saat ini sudah bisa dilalui meski sifatnya masih darurat.

Hal itu menyusul adanya upaya warga untuk menyambungkan jembatan yang ambrol dengan puluhan batang bambu. Selain dipakai untuk tiang penyangga, bambu juga dipakai untuk landasan jembatan.

”Sejak beberapa hari lalu, warga berupaya memasang bambu untuk menyambung jembatan supaya bisa dilalui kendaraan. Karena sifatnya darurat, hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas. Jembatan itu ambrol separuhnya. Jadi yang separuh bagian disambung bambu,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Rabu (1/11/2017).

Jembatan tersebut menjadi akses jalan antar desa di dua kecamatan. Yakni, antara Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung dengan Desa Suru, Kecamatan Geyer. Akibat ambrolnya jembatan ini, warga harus melewati jalur lain yang jaraknya sekitar 5 kilometer untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Jembatan itu mulai ambrol pada bulan November tahun lalu dan hingga saat ini belum ditangani. Lokasi jembatan berada di wilayah Dusun Wonorejo, Desa Karangsono. Jembatan tersebut berada diatas Sungai Pesanggrahan yang merupakan anakan dari Sungai Serang.

Jembatan itu panjangnya 24 meter dengan lebar 3 meter. Ambrolnya jembatan itu disebabkan tanah penyangganya longsor sedikit demi sedikit akibat meluapnya air sungai dan guyuran air hujan.

”Fungsi jembatan ini memang cukup vital. Karena jadi akses warga Karangsono ke Desa Suru yang masuk wilayah Kecamatan Geyer,” kata Hardimin.

Pihaknya sudah melaporkan ke dinas terkait agar segera ada penanganan. Soalnya, jembatan itu sangat dibutuhkan. Terutama, jadi akses masuk mobil untuk membawa hasil pertanian khususnya sayuran yang akan dijual di Purwodadi.

”Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk memperbaki jembatan karena butuh dana cukup besar. Kami butuh dukungan dari Pemkab, provinsi atau pusat untuk perbaikan jembatan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyarankan agar pihak desa mengajukan permohonan bantuan khusus ke provinsi melalui bupati untuk perbaikan jembatan. Hal itu bisa dilakukan seperti di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang dapat bantuan pembangunan jembatan gantung.

”Jembatan itu merupakan aset desa sehingga perbaikan jadi tanggung jawab desa. Namun, pihak desa bisa mengajukan bantuan khusus jika memang kekurangan dana. Nanti akan kita fasilitasi untuk pengajuan bantuan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Ombudsman Lakukan Pemeriksaan Jembatan Batang Bambu di Kelurahan Sunggingan Kudus

Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah saat memantau jembatan dengan dua bilah bambu di Kelurahan Sunggingan, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

MurianewsCom, Kudus – Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah melakukan pemeriksaan jembatan tidak layak di Kelurahan Sunggingan, Kabupaten Kudus.

Sebagaimana yang diketahui, beberapa hari terakhir media massa ramai memberitakan jembatan di Kelurahan Sunggingan terdiri dari dua batang bambu yang diikat dan sebatang bambu sebagai pegangan.

Jembatan dibangun atas inisiasi warga untuk mempermudah akses anak-anak menuju sekolah. Pemeriksaan yang dilakukan Ombudsman Jawa Tengah ini merupakan bagian dari inisiatif atas prakarsa sendiri sebagai lembaga negara pengawas penyelenggaraan pelayanan publik.

Menindaklanjuti permasalahan tersebut, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah telah meminta keterangan Kepala MI Mafatihul Ulum terkait lalu lintas penggunaan jembatan.

Menurut keterangan Yusuf Falah selaku Kepala MI Mafatihul Ulum, jembatan dibangun oleh wali murid secara swadaya untuk akses mengantar anak-anak ke sekolah. Apabila melewati jembatan layak yang telah ada, masyarakat harus menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer.

Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah juga meminta keterangan Lurah Sunggingan terkait hal ini. Lurah menyampaikan bahwa pihak kelurahan pernah membahas dan mengajukan usulan pembangunan jembatan tersebut kepada Camat sejak Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2013.

Pada tahun 2016 dan 2017, Lurah telah kembali mengajukan usulan dalam Musrenbang. Diperkirakan pembangunan jembatan memakan biaya 800 hingga 1 milyar Rupiah.

Dalam kesempatan yang sama, Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah meminta klarifikasi kepada Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus terkait pembangunan jembatan.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus menyampaikan pihaknya masih melakukan kajian dan analisa untuk mengevaluasi kemanfaatan pembangunan jembatan. Pemerintah Kabupaten Kudus telah melihat kondisi di lapangan.

Plt. Kepala Perwakilan Ombudsman Jawa Tengah, Sabarudin Hulu menyampaikan, sesuai Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, sudah menjadi kewajiban  Pemerintah Kabupaten Kudus memberikan kepastian dalam hal kajian dan analisa kemanfaatan pembangunan jembatan.

Ini mengingat sejak tahun 2013, Lurah Sunggingan telah mengajukan permohonan melalui Musrenbang dan belum memperoleh kepastian apakah pengajuan tersebut disetujui atau tidak. Apalagi, melihat kondisi jembatan saat ini sangat memprihatinkan dan membahayakan keselamatan masyarakat yang menggunakannya.

 Selanjutnya, Ombudsman Jawa Tengah melakukan monitoring tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Kudus.

“Kami imbau agar masyarakat berhati-hati dalam menggunakan jembatan tersebut dan sebaiknya menggunakan jembatan yang layak demi keselamatan sembari menunggu hasil kajian pemkab kudus.” tutup Sabarudin.

 

Editor: Supriyadi

Memilukan, Siswa MI Mafatihul Ulum Kudus Harus Lewati Dua Bilah Bambu untuk Sampai ke Sekolah

Sejumlah siswa MI Mafatihul Ulum, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus saat melewati jembatan bambu ke sekolah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah siswa MI Mafatihul Ulum, Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota harus menantang maut saat menempuh perjalanan ke sekolah. Itu karena mereka harus menyeberang jembatan darurat dari bambu, yang sangat sederhana.

Jembatan tersebut, hanya terbuat dari dua buah dilah bambu yang memanjang sekitar 10 meter di atas Kali Gelis. Untuk menyeberang, para siswa harus bergantian sambil berpegangan sebilah bambuyang digunakan untuk pembatas.

Baca Juga: Bayar PSK Cantik dengan Uang Palsu, Lelaki Hidung Belang di Blora Ini Dicokok Polisi

Adi Ardian (10), siswa yang turut menyebrang mengaku terpaksa menggunakan medan yang ekstrim tersebut. Karena, jalur tersebut jauh lebih cepat sampai sekolah ketimbang jalur yang normal.

“Kalau memutar melewati Jembatan Ploso. Itu memakan jarak yang jauh mencapai satu kilometer. Jadi lebih lama sampai sekolah,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurut dia, dengan menyebrangi sungai membuat para siswa lebih cepat sampai. Karena, rumahnya yang berada di Desa Sunggingan seberang sungai, sedang sekolahnya terdapat seberangnya lagi.

Baca Juga: Begini Kondisi Gedung SD 5 Sambungharjo Grobogan yang Bikin Geleng-geleng Nitizen

Saat musim hujan dan banjir, lanjut dia, para siswa memilih memutar meski jauh karena medan yang tak memungkinkan. Karena jarak yang jauh, maka orang tua terkadang memilih mengantarkannya.

Para orang tua, juga khawatir akan jembatan tersebut. Seperti Zubaidah (32), dia mengatakan, dirinya khawatir saat anaknya menyeberang jembatan yang berbahaya itu. Karena, jembatan yang sederhana itu pernah menceburkan anaknya.

“Karena khawatir memilih mengantar anak saya. Saya masih takut jika ada apa-apa dengan anak saya,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Jembatan Gantung di Lokasi Penyeberangan Maut di Tanjungsari Grobogan Mulai Dibangun

Sebuah alat berat dikerahkan untuk memasang tiang pancang di lokasi pembangunan jembatan gantung di Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MurianewsCom, Grobogan – Prosesi mengubur jenazah menuju pemakaman dengan menyeberangi Sungai Lusi di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan dalam waktu dekat dipastikan tidak dilakukan lagi.

Hal ini seiring sudah dimulainya tahapan awal pembangunan jembatan gantung di lokasi penyeberangan maut tersebut.

”Pembangunan jembatan gantung di Desa Tanjungsari sudah mulai dipersiapkan. Tahap awal masih membuat fondasi untuk tiang pancang jembatan pada kedua sisi sungai,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono, Selasa(19/9/2017).

Usulan pembangunan jembatan gantung di lokasi itu muncul setelah terjadi peristiwa orang hanyut saat mengantar jenazah pada Rabu (8/2/2017) lalu.

Saat itu, warga yang ikut mengantar jenasah hanyut terseret arus Sungai Lusi di Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Korban diketahui bernama Jumeno (28) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Wirosari yang saat itu sedang melayat kerabat dari istrinya.

”Setelah peristiwa orang hanyut beberapa bulan lalu, kami memang langsung menindaklanjuti untuk pembangunan jembatan gantung. Selain akses ke pemakaman, jembatan gantung nanti juga bisa terhubung dengan wilayah Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari,” terang Subiyono.

Menurut Subiyono, selain di Tanjungsari, dalam waktu bersamaan juga dibangun jembatan gantung di Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. Jembatan yang juga melintasi sungai Lusi itu jadi akses menuju Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari.

Kedua jembatan gantung itu ukurannya hampir sama, yakni panjang 70 meter dan lebarnya 1,8 meter. Alokasi dana untuk pembangunan masing-masing jembatan nilainya sekitar Rp 5 miliar.

”Dana pembangunan dua jembatan gantung ini berasal dari Kementerian PUPR. Kita sebelumnya memang mengajukan bantuan pada kementerian untuk pembangunan jembatan gantung tersebut. Pembangunan kedua jembatan ditarget rampung dalam waktu 120 hari,” jelas mantan Kepala Dinas Pengairan Grobogan itu.

Editor: Supriyadi

Membahayakan, Jembatan Pemacu Adrenalin di Rejosari Grobogan Tak Boleh Dilalui Kendaraan

Dua pengendara motor dengan hati-hati melintasi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap kondisi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan akhirnya ditindaklanjuti pihak desa. Rencananya, jembatan yang menghubungkan Desa Kradenan dan Desa Rejosari itu tak boleh dilalui sepeda motor lantaran kondisi jembatan yang semakin membahayakan.

Kepala Desa Rejosari Lapar menyatakan, penutupan jembatan untuk pengendara motor dijadwalkan mulai bulan depan jembatan. Menurutnya, konstruksi jembatan yang baru terbentang lempengan besi itu hanya diperuntukkan bagi sepeda dan pejalan kaki.

Namun, seringkali pengendara motor tetap nekat untuk melintas dengan alasan memperpendek jarak tempuh.

“Nanti akan kita pasang larangan bagi pemotor untuk lewat. Saya akan kerjasama dengan Karang Taruna untuk mencegat pengendara supaya jangan lewat jembatan,” katanya.

Lapar menyatakan, pihaknya memang belum mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan jembatan. Sebab, dana yang tersedia juga digunakan untuk perbaikan jalan desa.

Hanya, ia berjanji, tahun ini akan dianggarkan dana untuk pengecoran dan penambahan lempengan besi senilai Rp 200 juta dari alokasi dana desa (ADD).

Jembatan  panjangnya sekitar 60 meter. Sebelumnya, jembatan diatas sungai Ngrowo ini terbuat dari kayu dan sempat beberapa kali hanyut saat banjir.

Sejak beberapa tahun lalu, pihak desa berupaya membuat jembatan permanen dengan konstruksi beton untuk tiang penyangga. Namun, proses perbaikan jembatan akhirnya belum terselesaikan sampai saat ini.

“Pembangunan jembatan itu kita lakukan bertahap karena keterbatasan dana. Saat ini, sudah terbangun tiga pilar penyangga. Setelah itu, akan dipikirkan untuk membuat landasannya,” jelas Lapar pada wartawan.

Meski pembangunan belum rampung, namun jembatan itu tetap digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Beberapa pilar besi baja panjang untuk sementara difungsikan sebagai landasan.

Namun, tidak semua orang berani melintasi landasan darurat tersebut. Terutama, para pengendara sepeda atau motor. Beberapa orang yang mencoba menyeberangi jembatan dikabarkan sempat kecebur sungai.

“Pilar besinya memang kuat tetapi untuk menyeberangi jembatan butuh nyali besar. Selain itu, saat melintas butuh ketenangan dan keseimbangan karena kanan kirinya tidak ada pagar pengamannya. Saya kalau melintasi jembatan pasti sambil deg-degan,” kata Suranti, warga Kradenan yang sudah beberapa kali melintasi jembatan tersebut.

Editor: Supriyadi

Pembangunan Jembatan Gantung di Kedungjati Grobogan Diusulkan ke Kementerian 

Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) saat melakukan survei tebing Sungai Tuntang di Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan, Senin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keingian warga Desa Ngombak dan Desa Kentengsari di Kecamatan Kedungjati, Grobogan untuk dibuatkan jembatan gantung mendapat respons positif. Dalam waktu dekat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan mengusulkan pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan kedua desa tersebut pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, sebelum mengajukan permohonan, pihaknya sudah menerjunkan tim teknis ke lokasi. Tujuannya untuk melakukan survei awal, mengmpulkan data dan informasi pendukung serta membuat desain jembatan.

Direncanakan jembatan gantung tersebut memiliki panjang 85 meter dengan lebar 1,8 meter. Jembatan ini akan membentang di atas Sungai Tuntang.

“Segera kami usulkan ke Kementerian PUPR untuk mendapatkan pendanaan. Mudah-mudahan permohonan ini disetujui. Pada tahun ini, pihak kementrian sudah memberikan bantuan jembatan gantung di Kecamatan Pulokulon dan Kradenan,” jelasnya, Senin (7/8/2017).

Menurutnya, dari hasil pemetaan yang dilakukan akses jalan di Desa Ngombak menjadi aset desa. Kondisi ini menyebabkan pihaknya tidak bisa menganggarkan karena jadi kewenangan desa.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, untuk mendukung terwujudnya pembangunan jembatan, pihak desa juga sudah melakukan persiapan sesuai kemampuan. Misalnya, membuat akses jalan dengan cor beton ke lokasi yang saat ini digunakan sebagai penyeberangan warga.

Selain itu, pihak desa juga sudah memiliki tanah yang akan dijadikan landasan bagi pembuatan fondasi jembatan. Untuk lahan itu, tidak perlu ada pembebasan tanah.

Menurut Kartini, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang.

Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung. Sebab, keberadaan jembatan dibutuhkan warga desanya dan desa tetangga.

“Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pembangunan Jembatan Penghubung 2 Desa di Kecamatan Kedungjati Bisa Diwujudkan, Begini Caranya

Warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, membutuhkan pembangunan jembatan untuk memudahkan aktivitas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keinginan warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan dibangunkan jembatan gantung masih ada peluang kendati pihak desa belum memiliki anggaran.

Caranya, dengan pihak desa diminta mengajukan permohonan bantuan keuangan khusus ke pemkab atau provinsi untuk pembangunan jembatan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menanggapi harapan warga dua desa tersebut untuk dibangunkan jembatan di atas sungai Tuntang.

“Beberapa waktu lalu, Desa Karangsari, Kecamatan Brati berhasil mendapat bantuan pembangunan jembatan gantung. Caranya dengan mengajukan bantuan ke provinsi,” katanya.

Menurutnya, dari hasil pemetaan yang dilakukan akses jalan di Desa Ngombak menjadi aset desa. Kondisi ini menyebabkan pihaknya tidak bisa menganggarkan karena jadi kewenangan desa.

Subiyono menyatakan, kebutuhan pembangunan jembatan besar maupun gantung memang cukup tinggi. Sebab, wilayah Grobogan terdapat sekitar 200 aliran sungai. Beberapa di antaranya merupakan aliran sungai besar, seperti Lusi, Serang, dan Tuntang.

Terkait kondisi itu, sudah banyak alokasi dana yang disalurkan untuk pembangunan jembatan. Sebelum dibangun jembatan, terlebih dahulu harus dilakukan kajian teknis. Yakni, untuk melihat lokasi, potensi, jumlah penduduk dan biaya. “Kalau hasil kajian teknis dinyatakan layak maka pembangunan jembatan di lokasi tersebut akan diprioritaskan,” jelasnya.

Ditambahkan, saat ini, pihaknya sedang mengkaji dan mendata jumlah kebutuhan jembatan tersebut untuk dimintakan bantuan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada tahun ini, pihak kementrian memberikan bantuan jembatan gantung di Kecamatan Pulokulon dan Kradenan.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang. Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung.

Menurut Kartini, pihaknya akan tetap berupaya mencari jalan keluar agar jembatan tersebut bisa terwujud. Sebab, keberadaan jembatan dibutuhkan warga desanya dan desa tetangga. “Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sebentar Lagi, Prosesi Pemakaman Jenazah di Tanjungsari Grobogan Tak Perlu Nyeberang Sungai

Tim dari Kementerian PUPR menyurvei lokasi yang akan dibangun jembatan gantung di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom / Dani Agus).

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Grobogan, agar dibuatkan akses jembatan menuju tempat pemakaman mendapat respons positif. Dalam waktu dekat, pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan membangun sebuah jembatan gantung yang membentang Sungai Lusi.

“Pihak Kementerian PUPR mengabulkan permohonan kita supaya dibantu jembatan gantung di Desa Tanjungsari. Pembangunannya akan dilakukan tahun ini. Dengan adanya jembatan, warga nantinya tidak perlu lagi berenang menyeberangi sungai saat mengantar jenazah,” kata Kepala Dinas PUPR Grobogan Subiyono, Kamis (20/4/2017).

Subiyono mengatakan, dalam pembangunan jembatan gantung tersebut, pemkab tidak mengeluarkan dana. Untuk biaya konstruksi jembatan sudah ditangani kementerian.

Dalam pembangunan jembatan juga tidak perlu ada pembebasan lahan. Sebab, lokasi yang ditempati konstruksi jembatan masih bagian dari sempadan sungai milik Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana yang ad di bawah naungan kementerian PUPR. “Semua biaya pembangunan jembatan nanti dari kementerian. Perkiraan biaya yang diperlukan sekitar Rp 3-4 miliar,” jelas mantan Kadinas Pengarian itu.

Masih menurut Subiyono, tim dari kementerian telah menyurvei lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk membangun jembatan gantung. Dalam survey yang dilangsungkan Rabu (19/4/2017) tersebut, tim juga menggerahkan drone untuk memetakan lokasi.

Editor : Akrom Hazami  

Selesai Dibangun, Jembatan Banyu Semurup Rahtawu Kudus Kini Lebih Kokoh

Kadinas PUPR Sam’ani Intakoris (baju batik coklat) meninjau jembatan Banyu Semurup bersama petugas PUPR, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus selesai membangun Jembatan Banyu Semurup Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Pembenahan jembatan yang nyaris ambrol itu, menggunakan anggaran pemeliharaan rutin pada Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala Dinas PUPR Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, pembenahan dilakukan di sebagian besar jembatan. Mulai dari pondasi awal hingga baja penyangga. Namun secara keseluruhan bentuk dan material masih memanfaatkan jembatan yang lama.

“Dalam pembangunan jembatan ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta. Jumlahnya lebih besar dari perkiraan awal karena usai jembatan yang memang sangat lama,” katanya saat meninjau lokasi, Kudus (15/3/2016).

Menurutnya, pada bagian atas jembatan juga sudah dicor beton. Kemudian,  untuk dinding jembatan yang retak juga dibenahi ulang agar nantinya jembatan mampu awet seperti sedia kala dan mampu menopang beban yang besar.

Tak hanya itu, pada bagian bawah pondasi juga diberikan cor beton. Itu, bakal membuat jembatan lebih ampuh dan kokoh ketimbang struktur awal yang hanya dengan dinding di kedua sisi sebagai penyangga semata.

Berdasarkan data, pembongkaran jembatan, lanjutnya, sudah dimulai Minggu (11/12/2016). Kondisi sekarang sudah rampung dalam beberapa pekan yang lalu. Namun, masih nampak aktivitas untuk mengecat dinding jembatan.

“Rencananya akan kami aspal juga, Dengan demikian akan lebih awet. Karena jika ada yang terkikis atau rusak, maka aspalnya yang rusak,” ungkapnya.

Jembatan Banyu Semurup memiliki panjang 10 meter, lebar 6 meter dan melintang di atas sungai berkedalaman sekitar 15 meter. Jembatan dibangun sekitar tahun 1970. Memiliki kondisi di salah satu jalan ujung jembatan  berlubang dengan diameter sekitar 40 cm dan berpotensi semakin melebar.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Perbaikan Darurat Pilar Jembatan Desa Karanglangu Grobogan Rampung

Tiang besi untuk menyangga jembatan di Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati sudah rampung didirikan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses perbaikan darurat pilar jembatan di Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati akhirnya rampung dikerjakan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono pada wartawan, Rabu (8/3/2017).

“Alhamdulillah, pemasangan tiang besi untuk penahan jembatan sudah selesai dikerjakan. Tinggal penyempurnaan saja. Penanganan darurat bisa kita kerjakan sesuai target,” katan Subiyono di Grobogan,.

Penanganan darurat sudah dimulai seminggu lalu dengan alokasi dana sekitar Rp 40 juta. Pekerjaan ditarget selesai dalam sepekan.

Setelah penanganan darurat dilakukan, selanjutnya akan diteruskan dengan penanganan secara permanen. Untuk perbaikan permanen akan dialokasikan dana sekitar Rp 200 juta.

Perbaikan permanen dilakukan dengan membuat satu pilar penyangga baru dengan konstruksi beton. Posisi pilar baru akan ditempatkan sekitar satu meter dari pilar lama yang hampir ambrol diterjang banjir beberapa hari lalu. Titik pembuatan pilar baru sudah disesuaikan dengan konstruksi bangunan yang sudah ada.

“Jadi, untuk perbaikan permanen harus didahului penanganan darurat. Jembatan harus dikasih tiang penyangga besi supaya aman,” sambungnya.

Seperti diberitakan, akses transportasi warga Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati mulai tersendat sejak Minggu (26/2/2017). Hal ini menyusul terkikisnya salah satu pilar penyangga jembatan yang menghubungkan Dusun Kleben dan Dusun Karanglangu.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan terpaksa dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyebrangi jembatan yang melintasi sungai Bancak tersebut.

Kepala Desa Karanglangu Slamet Agus Kanugroho menyatakan, terkikisnya salah satu pilar jembatan diketahui Minggu pagi. Diperkirakan, pilar terkikis akibat diterjang air sungai yang mengalir deras pada diniharinya.

“Jembatan tersebut memiliki panjang 90 meter dengan lebar 3,8 meter. Ketinggian jembatan dari dasar sungai sekitar 15 meter. Sungai Bancak yang ada di bawah jembatan berhulu dari wilayah Salatiga dan bermuara ke Sungai Tuntang.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting bagi warga setempat. Sebab, jembatan itu jadi akses yang menghubungkan Desa Karanglangu menuju Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro, Boyolali dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan terpaksa dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyeberangi jembatan yang melintasi sungai Bancak tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Diterjang Banjir Bandang, Jembatan Desa Karanglangu Grobogan Terancam Ambrol

Salah satu pilar jembatan yang melintasi Sungai Bancak di Dusun Kleben, Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati, Grobogan, rusak setelah diterjang banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Akses transportasi warga Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati mulai tersendat sejak Minggu (26/2/2017). Hal ini menyusul terkikisnya salah satu pilar penyangga jembatan yang menghubungkan Dusun Kleben dan Dusun Karanglangu.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyebrangi jembatan tersebut.

“Demi keamanan, untuk sementara kendaraan berat (bermuatan) saya larang melintas. Ini, untuk menghindari agar jembatan tidak ambrol karena pilar yang terkikis air sangat parah kondisinya,” ungkap Kepala Desa Karanglangu Slamet Agus Kanugroho.

Menurut Slamet, terkikisnya salah satu pilar jembatan diketahui Minggu (26/2/2017) pagi. Diperkirakan, pilar terkikis akibat diterjang air sungai yang mengalir deras pada dini harinya.

“Malam minggu kemarin memang turun hujan sangat deras sejak sore hingga jelang dini hari. Kondisi itu menjadikan sungainya penuh air dan alirannya sangat deras sekali,” jelasnya.

Jembatan tersebut memiliki panjang 90 meter dengan lebar 3,8 meter. Ketinggian jembatan dari dasar sungai sekitar 15 meter. Sungai Bancak yang ada di bawah jembatan berhulu dari wilayah Salatiga dan bermuara ke Sungai Tuntang.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting bagi warga setempat. Sebab, jembatan itu jadi akses yang menghubungkan Desa Karanglangu menuju Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro, Boyolali dan Desa Bantal Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Slamet menambahkan, jembatan tersebut merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda. Informasi yang didapatkan, terakhir ada perawatan jembatan sekitar tahun 1980.

“Jadi, ini memang jembatan kuno dan sempat dirawat tahun 1980. Setelah itu belum ada perawatan lagi. Kami berharap kondisi jembatan yang rusak segera ditangani dinas terkait,” harapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

2 Jembatan di Jepara Bakal Dipercantik dengan Ukiran

Proyek pengerjaan pagar jembatan Kali Wiso yang berada di sebelah utara Pendapa Kabupaten Jepara sudah dimulai. Nanti, pagar jembatan akan diberi hiasan ukiran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua jembatan di Jepara wilayah kota, rencananya bakal dikasih pagar dengan hiasan ukiran khas Jepara. Dua jembatan tersebut, yakni, Jembatan Kali Kanal Timur di Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota yang ada di Jalan Pemuda, kemudian Jembatan Kali Wiso di kawasan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pengerjaan pembangunan pagar jembatan tersebut sudah dimulai. Di sisi kanan dan  kiri jembatan, sudah dipasang pagar dari seng setinggi dua meter, agar pengerjaan tak mengganggu arus lalu lintas.

Kabid Bina Marga pada Dinas Penkerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang Jepara Hartaya mengatakan, perbaikan pagar jembatan tersebut, salah satunya untuk mendukung pencapaian Adipura 2017. Agar tidak terkesan biasa-biasa saja, kemudian dipilihlah bentuk ukiran sebagai karakter dari Jepara.

”Konsep pagarnya nanti biasa. Hanya saja, di bagian beton untuk penyangga pagar akan dipenuhi ukiran. Sementara itu, tinggi pagar sekitar 1 meter dan desainnya sudah ada,” ujar Hartaya.

Kemudian, mengenai anggaran pembuatan hiasan pagar tersebut, ia memaparkan, bahwa akan diambilkan dari anggaran pemeliharaan di tahun 2017. “Pengerjaan proyek diperkirakan membutuhkan waktu empat bulan, yakni dari awal Februari hingga akhir Mei 2017. Proyek tersebut digarap menggunakan anggaran pemeliharaan 2017, dengan masing-masing jembatan dianggarkan Rp 180 juta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Jembatan Boto Lor Bae Dibiarkan Roboh  

Warga melihat bekas jembatan yang roboh yakni jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melihat bekas jembatan yang roboh yakni jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus, hingga kini kondisinya memprihatinkan. Kondisi jembatan yang tinggal fondasi hingga kini masih belum tertangani.

Kadus Kauman Umar Khattab mengatakan, pihaknya sudah sering menyampaikan soal pentingnya jembatan. Namun hingga kini tak juga dipenuhi.

“Kami sudah meminta bantuan untuk pembangunan jembatan. Namun sampai kini tidak kunjung juga diperbaiki. Sehingga untuk daerah sebelah harus memutar cukup jauh sekitar satu kilometer,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk bantuan yang sudah didapat, kata dia, kini hanya bongkahan besi bekas jembatan dari Undaan. Besi tersebut berukuran cukup besar dan memiliki panjang 10,5 meter. Besi tersebut didapatkan dari Dinas Bina Marga, Pengairan, dan ESDM Kudus saat diminta bantuan.

Dikatakan kalau dulunya terdapat jembatan tua yang menghubungkan satu dukuh di sana. Hanya, karena jembatan sudah roboh maka akses disana juga sangat terganggu.

Setelah itu dibangunkan jembatan sementara yang dibuat dari bambu. Namun karena bangunan yang seadanya membuat roboh dan tidak berusia panjang, yang mengakibatkan kini warga  kembali terpisah.

Siswoto, warga mengatakan kalau jembatan sangat dibutuhkan. Namun dia heran mengapa hingga kini tidak kunjung juga dibangunkan dengan jembatan baru yang kokoh.

Editor : Akrom Hazami

Ambrolnya Jembatan Somosari Jepara Disebut-sebut Akibat Galian C

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebab ambrolnya jembatan di Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Jepara yang menghubungkan ke sejumlah dukuh masih menjadi misteri. Jika dilihat secara kasat mata, penyangga jembatan sisi timur ambrol. Diduga kuat, tanah yang menjadi lokasi penyangga jembatan tak kuat dengan derasnya arus sungai. Tak cukup disitu, desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar, menduga arus sungai yang deras tersebut ada kaitannya dengan aktivitas galian C yang berada di dekat jembatan yang mengalihkan aliran air sungai.

Dari pantauan MuriaNewsCom, posisi jembatan yang ambrol adalah separuh dari jembatan yang berukuran sekitar 20 meter. Separuh jembatan itu ambrol total, sedangkan sisi barat hanya retak saja. Ketika dilihat, air sungai hanya melewati aliran atau jalan air di satu sisi saja, yakni sisi timur.

Berdasarkan keterangan Kholik, Carik Desa Somosari, dulunya air melewati di kedua sisi, baik timur maupun barat.“Ada pergeseran jalur aliran air sungai. Mungkin karena pergeseran itu, yang semestinya lewat dua jalur menjadi kumpul di satu jalur, arus sungai semakin deras di sisi timur dan tanah tergerus hingga akhirnya jebol,” ungkap Kholik kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya, dulunya pinggir-pinggir sungai sisi timur merupakan lahan persawahan. Namun, saat ini sebagian sudah tergerus hingga menjadi bagian dari sungai. Melihat kondisi ini, diakuinya sangat memprihatinkan.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara Hanif Kurniawan mengatakan, perubahan aliran air sungai tersebut memang berisiko tanah tergerus, sehingga mengakibatkan jembatan roboh.

“Jika nanti dibangun baru, konstruksi bangunan jembatan harus berubah. Sebab, aliran sungai sudah berubah. Pondasi tengah jembatan yang semestinya mampu memecah derasnya arus tidak berfungsi lagi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Jembatan Roboh, Warga Harus Mencari Jalan Lain Sejauh 10 Km di Somosari Jepara

Jembatan Trembes Ambol, Warga Gunem dan Pamotan Rembang Terancam Terisolasi

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan penghubung kecamatan Gunem – Pamotan yang berada di Desa Trembes, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Ambrol, Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Akibat ambrolnya jembatan tersebut, warga sekitar kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terutama bagi yang hendak bepergian menggunakan mobil. Warga Trembes, Sodikin (24), mengatakan warga yang dari Gunem mau ke Pamotan atau sebaliknya harus menempuh jarak dua kali lipat dari sebelumnya.

Menurutnya, mobil pengangkut hasil pertanian atau pedagang yang kulakan kebutuhan pokok dari Pamotan, terpaksa lewat pertigaan Songkelmereng, Kecamatan Bulu – Timbrangan – Tegaldowo.
”Untuk roda empat ketika jembatan masih normal, kira-kira hanya perlu waktu setengah jam untuk ke Gunem dari Pamotan atau sebaliknya. Namun, sekarang harus berputar melalui Songkelmereng, paling cepat ya satu jam,” jelasnya.

Dijelaskan olehnya, warga menutup akses jembatan tersebut untuk kendaraan roda empat sejak Sabtu (27/2/2016). Penutupan ditandai dengan pemasangan peringatan, di sisi utara maupun selatan jembatan.
”Penutupan jalan dilakukan karena jika tetap digunakan, warga khawatir jembatan itu ambrol hingga memakan korban. Ternyata, tadi malam ambrol. Beruntung tidak ada korban jiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Trembes, Andri Pujianto, saat dikonfirmasi menuturkan ambrolnya jembatan karena bagian pondasi bawah rusak tergerus air dari embung yang berada tepat di sampingnya.
”Keberadaan jembatan yang berusia puluhan tahun tersebut sangat menunjang aktivitas masyarakat. Sehingga dengan ambrolnya jembatan pasti berdampak kepada warga sekitar,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Jembatan Dusun Lebengjumuk-Purwo Grobogan Putus

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

 

GROBOGAN – Akibat hujan yang turun pada Minggu malam (13/12) jembatan penghubung Lebengjumuk dan Purwo, Grobogan putus. Jembatan yang putus ini adalah jembatan alternatif yang dibuat di sebelah utara jembatan utama. Sudah hampir 1 tahun lebih jembatan utama putus.

Masyarakat bergotong royong untuk membuat jembatan alternatif dengan memanfaatkan sawah di sebelah jembatan utama. “Kalau kami tidak gotong royong bikin jembatan seperti ini, desa kami terisolir. Kami harus memutar puluhan kilometer kalau tidak lewat jembatan ini,” kata Lasman, salah seorang warga Dusun Lebeng.

Sementara itu, menurut Yoto, warga Dusun Purwo, penduduknya juga kesulitan kalau mau ke sawah atau mencari rumput, karena biasanya naik motor ke Dusun Lebeng.

Sebenarnya sudah pernah ada petugas yang katanya dari Pemda Grobogan meninjau dan memfoto jembatan yang runtuh. Namun, sudah lebih dari satu tahun belum juga ada tindakan nyata dari Pemda Grobogan. Warga sangat menunggu bantuan dari pemerintah daerah untuk segera ada perbaikan jembatan.

Kepala Desa Lebengjumuk, Bambang mengatakan pihaknya sudah berusaha menyampaikan runtuhnya jembatan ke kecamatan untuk diteruskan ke Pemda atau BPBD Grobogan. Namun, sampai saat ini belum juga ada respons.

Jembatan Ploso Kembali Ditutup, Ada Apa?

Jembatan Ploso, Kecamatan Jati, Kudus yang kembali ditutup membuat pengguna jalan berbalik arah mencari jalan lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jembatan Ploso, Kecamatan Jati, Kudus yang kembali ditutup membuat pengguna jalan berbalik arah mencari jalan lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sudah sekitar dua pekan terakhir jembatan Ploso yang sudah selesai dibangun dapat dilalui kendaraan. Namun pada Minggu (20/12/2015) sore jembatan tersebut kembali ditutup. Sehingga pengguna jalan yang biasa melewatinya, akhirnya harus berputar balik untuk mencari jalan lainnya.

Salah satu mandor pekerja Jembatan Ploso, Ngarijo mengatakan, pihaknya diimbau oleh Dinas PU Kudus untuk membersihkan peralatan pertukangan serta material yang masih berada di jalan pada Minggu (20/12/2015) sore ini.

”Saya diimbau oleh Dinas PU untuk melakukan kebersihan jalan dan jembatan pada Minggu sore. Sebab pada Seninnya akan di pasang tratak ataupun perlengkapan lainnya. Setelah itu, hari Selasa (22/12/2015) akan diresmikan Bupati Kudus,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, selain penutupan jalan juga terdapat kegiatan pemasangan tratak di sebelah barat jembatan Ploso, Jati. Untuk para pengguna jalan diimbau untuk sementara menggunakan jalan lainnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Jembatan Kaliampo Pati Kembali Memakan Korban, Satu Orang Tewas

Ilustrasi Kecelakaan

Ilustrasi Kecelakaan

 

PATI – Setelah truk trailer bermuatan besi oleng dan hampir menabrak satu rumah di sebelah timur Jembatan Kaliampo Jalan Pati-Kudus, Dukuh Kaliampo, Desa Wangunrejo, Margorejo, Pati, kini kawasan tersebut kembali memakan korban, Sabtu (19/12/2015).

Kecelakaan antara mobil Mitsubishi Box bernopol L8158FS dengan truk fuso bernopol BD8865EU di kawasan tersebut mengakibatkan Suwatono (56) yang mengemudikan Mitsubishi mengalami patah pada tangan bagian kanan, putus pada kaki kanan dan cedera kepala hingga meninggal dunia.

Sementara itu, sopir truk fuso yang diketahui bernama Afrizon (39) hanya mengalami luka-luka ringan. “Sopir fuso baik-baik saja, sedangkan sopir mobil box meninggal dunia karena mengalami cedera pada bagian kepala, kaki kanan putus dan tangan kanan patah,” ujar Kanit Laka Polres Pati Ipda Imam Basuki kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, daerah tersebut memang rawan terjadi kecelakaan karena daerahnya lurus dan merupakan titik lelah. “Daerah yang lurus tak harus berkendara kencang. Justru harus selalu hati-hati karena di situ titik lelah,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Masih Butuh Bantuan Stimulan, Warga Dawe Gotong Royong Bangun Jembatan

Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Ratusan warga Dukuh Pasiran, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe Kudus, kemarin Minggu (18/10/2015) melakukan gotong royong membangun jembatan secara swadaya dengan dukungan dana desa. Meski begitu, untuk bisa merampungkan pekerjaan seratus persen, warga berharap bisa mendapatkan bantuan stimulan dari pemerintah kabupaten.

Jembatan alternatif yang menghubungkan Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan, Desa Margorejo Dawe, dengan panjang 14 meter dan lebar 2,5 meter itu diyakini mampu menahan kekuatan minimal 10 ton. Pembangunan jembatan tersebut menggunakan dana desa sebesar Rp 20 juta dan swadaya masyarakat sekitar Rp 40 juta.

Kepala Desa Margorejo Ahmad Baskhoro mengatakan, pemanfaatan dana desa dinilai lebih efektif karena mampu mendorong warga untuk berswadaya membangun desa. ”Selain iuran, warga secara sukarela melakukan gotong royong untuk mengurangi beban biaya pembangunan. Mereka akhirnya juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan merawatnya,” ujarnya, Senin (19/10/2015).

Pembangunan jembatan Dukuh Pasiran-Gentungan diawali tahun 2014 dengan pembuatan pondasi. Karena ketiadaan dana saat itu, baru dapat dilanjutkan awal Oktober 2015. Melalui dana desa dan swadaya masyarakat, pembangunan jembatan diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 100 juta. Saat ini dana yang keluar mencapai Rp 60 juta.

Untuk proses finishing, antara lain pembuatan pagar sisi kanan dan kiri jembatan, serta pengaspalan masih dibutuhkan dana cukup besar. ”Warga berharap ada bantuan stimulan berupa aspal, sehingga seluruh kegiatan pembangunan jembatan bisa dirampungkan,” katanya, didampingi Kadus Ahmad Mirkan, Staf Kasi Pemdes Ahmad Khambali, dan Ketua RT.02- RW.08 Desa Margorejo Ahmadi.

Tahun 2015 ini Desa Margorejo mendapatkan dana desa dari pemerintah pusat sebesar Rp 303 juta. Dana tersebut telah didistribusikan melalui berbagai kegiatan, antara lain pembangunan jembatan, talud, dan pengaspalan jalan. Sejumlah kegiatan lain yang telah dilaksanakan yakni di Dukuh Bandung, Gading, dan Dukuh Karangpanas. Rencana terakhir di Dukuh Pelang.

”Bantuan kegiatan melalui dana desa mampu menyedot swadaya masyarakat hingga mencapai ratusan juta,” tandas Camat Dawe Eko Budi Santoso, yang ikut turun bersama warga Dukuh Pasiran saat gotong royong membangun jembatan. (MERIE)

Foto:
Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

Ini Pemicu Jebolnya Penahan Air Jembatan Sampang

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pembangunan Jembatan Sampang berkonstruksi baja di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Sejumlah kendala acapkali ditemui pekerja.

Bahkan, kisdam atau penahan air jembol diterjang arus air Sungai Juwana, Senin (28/9/2015). Akibatnya, kelanjutan pembangunan jembatan itu harus menunggu rapat koordinasi dengan semua pihak terkait.

General Manager PT Marga Karya Pati Budi Santoso mengatakan, penyebab jebolnya kisdam ditengarai karena urukan tanah untuk kisdam sudah mulai jenuh berada dalam kepungan air sungai.

“Urukan tanah untuk kisdam waktu itu sudah mengalami kejenuhan, sehingga penahannya jebol. Selain itu, sempat terjadi bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang hingga menuju hulu,” imbuhnya.

Kondisi itu menciptakan pusaran air dalam alur kali yang menyebabkan ambrolnya kisdam. Akibat musibah itu, kelanjutan pembangunan jembatan harus ditunda untuk sementara waktu. (LISMANTO/KHOLISTIONO)