Berharap Ada Perbaikan, Pria di Grobogan Ini  Panjatkan Doa di Atas Jembatan Berlubang

MuriaNewsCom, GroboganBeragam cara dilakukan warga agar kerusakan insfrastruktur jalan dan jembatan di wilayahnya bisa segera dapat perhatian pemerintah setempat. Misalnya, dengan menami pisang pada lokasi kerusakan infrastruktur.

Selain itu, ada juga cara terbaru yang dilakukan warga agar kerusakan infrastruktur segera ditangani. Upayanya, dilakukan dengan memanjatkan doa pada titik kerusakan.

Hal inilah yang dilakukan seorang pria yang mengharapkan agar segera dilakukan perbaikan jembatan berlubang di Desa Sambongbangi, Kecamatan Kradenan, Selasa (6/2/2018). Aksi yang dilakukan pria bernama Tri Arianto itu bahkan sempat diunggah dalam akun media sosial dan mendapat banyak respon dari warganet.

Jembatan sepanjang 25 meter yang mengalami kerusakan itu berada di Dusun Kedungmacan. Kerusakan jembatan dengan lebar 3,5 meter itu berada pada bagian landasan.

Pada bagian tengah landasan jembatan terdapat lubang cukup besar. Ukurannya hampir mencapai 1 meter persegi. Dalam lubang itu masih terlihat besi penahan landasan yang dibuat dengan konstruksi beton.

Jembatan tersebut merupakan akses vital karena jadi penghubung antar desa. Selain itu, jembatan tersebut juga jadi akses utama menuju desa-desa di wilayah Kecamatan Gabus bagian utara. Seperti, Desa Banjarejo dan Karangrejo.

”Lubang pada jembatan sudah muncul sekitar tiga tahunan. Sempat ditutup tetapi tidak bisa tahan lama. Landasannya perlu dibongkar dan dibangun ulang. Sengaja saya berdoa disini supaya jembatan segera diperbaiki,” kata Tri Arianto.

Permintaan perbaikan jembatan sudah dilaporkan pada dinas terkait. Namun, sejauh ini perbaikan landasan secara permanen belum terealisasi.

”Lubang pada jembatan itu sudah berulangkali bikin pengendara terperosok. Soalnya, dari kejauhan lubangnya tidak kelihatan. Bagi pengendara yang tidak pernah lewat sini, tidak tahu kalau ada lubang dibagian tengah,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Dana Membangun Jembatan di Grobogan Ternyata Fantastis, Ini Angkanya

Sejumlah warga membuat jembatan darurat dari konstruksi kayu dan bambu untuk akses penyeberangan saat elevasi sungai dangkal karena dampak kemarau. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan banyak warga agar daerahnya dibangunkan jembatan tampaknya tidak bisa direalisasikan dengan cepat. Faktor dana menjadi salah satu kendala utama untuk pembangunan jembatan di wilayah Grobogan.

Kadinas PUPR Grobogan Subiyono menyatakan, dari pendataan lapangan yang dilakukan, kebutuhan jembatan mencapai 163 titik. Banyaknya kebutuhan itu disebabkan wilayah Grobogan memiliki sekitar 200 sungai. Baik sungai besar yang melintasi antar kabupaten, sungai antar kecamatan dan anakan sungai.

Dijelaskan, kebutuhan 163 jembatan itu rinciannya adalah 150 jembatan kecil dan sedang, 8 jembatan gantung, dan  5 jembatan permanen. Hal ini disesuaikan dengan kondisi sungai yang akan dibuatkan jembatan di atasnya.

Pembangunan jembatan kecil dan sedang butuh dana skitar Rp 500 sampai Rp 700 juta per titik. Kemudian anggaran untuk membangun jembatan permanen per titik sekitar Rp 7 miliar. Sedangkan pembangunan jembatan gantung butuh duit sekitar Rp 5 miliar per titik.

“Untuk pembangunan jembatan butuh dana besar sekali. Kalau dibangun semua maka harus ada anggaran sekitar Rp 176 miliar,” jelasnya.

Menurut Subiyono, untuk saat ini, anggaran Pemkab Grobogan belum memungkinkan untuk membangun semua jembatan karena terbatasnya anggaran.

Sebagian besar anggaran yang tersedia masih  diprioritaskan dulu untuk perbaikan infrastruktur jalan. Pada tahun ini, alokasi perbaikan jalan nilainya hampir Rp 400 miliar.

Pada tahun ini, lanjutnya, baru dapat membangun atau memperbaiki dua jembatan permanen yang jadi akses pengubung antar kecamatan. Yakni, jembatan di Kecamatan Godong dan Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus yang dianggarkan Rp 7 miliar.

Selain itu, ada dua jembatan gantung yang dibangun pada tahun ini. Pembangunan jembatan gantung tersebut terealisasi setelah ada bantuan dari Kementerian PUPR.

Ditambahkan, selain jalan, infrastruktur jembatan itu telah masuk program prioritas. Alokasi anggaran pembangunan jembatan nanti dipilih lagi yang tingkat kebutuhannya paling mendesak. Kalau tidak bisa tahun ini akan dianggarkan tahun depan dengan melihat kemampuan keuangan daerah.

“Meski dana kita terbatas untuk pembangunan jembatan namun kami tetap melakukan upaya. Salah satunya, mengajukan proposal bantuan pada Pemprov dan Kementerian PUPR,” jelasnya.

Sementara itu, belum adanya pembangunan jembatan membuat warga setempat menggunakan sarana seadanya untuk akses penyeberangan. Sebagian ada yang membuat jembatan darurat dari konstruksi kayu dan bambu.

Kemudian, ada yang memanfaatkan perahu atau rakit untuk menyeberangi sungai. Bahkan, ada juga yang nekat hanya menggunakan tambang untuk menyeberang.

Editor : Ali Muntoha