Longsor Belum Tertangani, Kondisi Jembatan Gantung di Truwolu Grobogan Makin Parah

MuriaNewsCom, Grobogan – Kondisi jembatan gantung di Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan saat ini makin membahayakan. Hal ini terjadi karena longsornya salah satu fondasi makin bertambah parah.

Sebelumnya, jembatan itu terpaksa ditutup untuk akses kendaraan akibat fondasinya longsor. Fondasi jembatan yang longsor itu berada disisi timur. Longsornya fondasi menyebabkan adanya rekahan selebar 40 cm antara bagian atas fondasi.

Tanda-tanda longsornya fondasi sebenarnya sudah mulai diketahui sejak Jumat (16/2/2018) lalu. Warga setempat sempat melakukan penanganan darurat pada fondasi longsor.

Namun, upaya ini tidak bisa bertahan lama. Derasnya sungai Lusi akibat tingginya curah hujan menyebabkan titik longsor terhantam air.

“Sekitar jam 13.00 WIB tadi, tanah dibawah fondasi ambles makin parah karena tergerus air sungai. Kondisi jembatan makin membahayakan dan tidak memungkinkan untuk dilewati,” kata Camat Ngaringan Teguh Harjokusumo, Senin (12/3/2018).

Jembatan gantung sepanjang 60 meter tersebut membentang diatas sungai Lusi. Jembatan gantung menjadi akses utama dari Desa Truwolu menuju Desa Kalanglundo dan beberapa desa lainnya diwilayah Kecamatan Gabus.

Dengan putusnya akses jembatan, aktivitas warga jadi terganggu. Untuk menjangkau wilayah sekitarnya, warga harus memutar lewat jalur lainnya yang jaraknya lebih jauh. Warga berharap agar bencana longsor yang menimpa fondasi jembatan segera diperbaiki.

Sementara itu, Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, penanganan bencana longsor pada jembatan gantung itu sudah dianggarkan sebesar Rp 400 juta. Namun, pihaknya masih menunggu proses pencairan dana tersebut agar bisa mengerjakan perbaikan fondasi.

Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan BPBD untuk menangani fondasi jembatan yang longsor tersebut. Meski demikian, upaya penanganan tidak bisa dilakukan segera.

“Kondisi sungai saat ini sedang penuh. Jadi, belum memungkinkan untuk melakukan penanganan longsoran. Kami akan monitor kondisi di lokasi. Kalau sudah memungkinkan akan secepatnya kita tangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Fondasi Tergerus Longsor, Jembatan Gantung di Truwolu Grobogan Terpaksa Ditutup

MuriaNewsCom, Grobogan – Jembatan gantung di Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan terpaksa ditutup untuk akses transportasi bagi warga sekitar. Tindakan itu dilakukan karena kondisi jembatan dinilai sangat membahayakan akibat salah satu fondasi bangunannya tergerus longsor.

Fondasi jembatan yang longsor itu berada disisi timur. Longsornya fondasi menyebabkan adanya rekahan selebar 40 cm antara bagian atas fondasi.

Tanda-tanda longsornya fondasi sebenarnya sudah mulai diketahui sejak Jumat (16/2/2018) malam. Namun pada pagi tadi, kondisi longsoran makin parah, sebelum dilakukan penanganan darurat.

“Musibah longsor cukup parah dan membahayakan jembatan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terpaksa jembatan kita tutup. Kita juga pasang police line dilokasi longsoran agar warga tidak melintas,” kata Kapolsek Ngaringan AKP Sumardi, Sabtu (17/2/2018).

Petugas memberikan garis polisi pada jembatan gantung di Desa Truwolu, Kecamatan Ngaringan yang terpaksa ditutup untuk akses transportasi karena satu fondasi bangunannya tergerus longsor, Sabtu (17/2/2018). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jembatan gantung sepanjang 60 meter tersebut membentang diatas sungai Lusi. Jembatan gantung menjadi akses utama dari Desa Truwolu menuju Desa Kalanglundo dan beberapa desa lainnya diwilayah Kecamatan Gabus.

Dengan penutupan jembatan, aktivitas warga jadi terganggu. Untuk menjangkau wilayah sekitarnya, warga harus memutar lewat jalur lainnya yang jaraknya lebih jauh. Warga berharap agar bencana longsor yang menimpa fondasi jembatan segera diperbaiki.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan Agus Sulaksono ketika dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan DPUPR untuk menangani fondasi jembatan yang longsor tersebut. Meski demikian, upaya penanganan tidak bisa dilakukan segera.

“Kondisi sungai saat ini sedang penuh. Jadi, belum memungkinkan untuk melakukan penanganan longsoran. Kami akan monitor kondisi di lokasi. Kalau sudah memungkinkan akan secepatnya kita tangani,” katanya.

Editor: Supriyadi

Pemkab Jepara Akan Lobi Pusat untuk Perbaiki Jembatan Bumpis

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi (bertelepon) saat melewati Jembatan Bumpis, di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan ketika meninjau kondisi jembatan yang telah rusak, Jumat (22/12/2017) sore. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara akan melobi pemerintah pusat. untuk bisa membiayai perbaikan Jembatan Bumpis di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan, Jepara, yang menghubungkan wilayah Bumi Kartini dengan Kota Wali Kabupaten Demak.

“Karena anggaran kami terbatas, maka kami harus berkreasi untuk mencarikan anggaran minta langsung kepada bapak kita semua (Presiden Joko Widodo),” ujar Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, saat meninjau jembatan tersebut bersama Kepala BBWS Pemali Juana Rubhan Ruzziyatno, Jumat (22/12/2017) sore.

Jembatan Bumpis sepanjang 120 meter, kondisinya kini memprihatinkan. Di sana-sini ditemukan banyak lubang pada lantai kayu. Sementara besi pengaman yang terdapat di sisi kanan dan kiri kondisinya sudah banyak yang tak berada di tempatnya.

Jembatan ini menghubungkan Desa Gerdu di sisi timur Sungai Serang Welahan Drainage (SWD) 2 dan Dukuh Doropayung, Desa Kaliombo, Kecamatan Pecangaan, Jepara pada sisi barat. Jika berjalan lebih ke barat, akan menuju Dukuh Mantren Desa Mutih, Kecamatan Wedung, Demak.

Di antara Dukuh Doropayung, Desa Kaliombo dan Dukuh Mantren, Desa Mutih terdapat sebuah sungai kecil yang dihubungkan dengan Jembatan Sesek selebar lebih kurang 2 meter dengan panjang sekitar 100 meter.

Jembatan tersebut pun sama memprihatinkannya dengan Jembatan Bumpis. Untuk melewatinya, warga harus membayar Rp 1.000 kepada penjaga yang ada di masing-masing pangkal jembatan, sebagai uang perawatan.

“Jembatan ini (jembatan sesek dan bumpis) sebagai akses masyarakat Jepara menuju Demak dan sebaliknya. Urat nadi perekonomian pun sebenarnya bisa lebih digenjot bilamana kondisi kedua jembatan lebih baik. Maka dari itu tujuan kami kesini untuk melihat kondisi langsung dan segera mengusulkan perbaikan,” urainya.

Ia menyebut akan datang ke Jakarta untuk menemui Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono untuk membahas nasib dua jembatan itu.

Harapannya dengan itu, pemerintah akan memprioritaskan perbaikan jembatan yang telah bertahun-tahun dalam kondisi memprihatinkan. 

“Kewenangannya (perbaikan jembatan) ada di pemerintah pusat. Begitu pula dengan Bendungan Karet (Bumpis) yang ada di sini,” kata Kepala BBWS Pemali Juana Rubhan Ruzziyatno.

Menurut kalkulasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara, untuk perbaikan Jembatan Bumpis diperlukan dana sebesar Rp 12 miliar. Itu dengan rincian, lebar jembatan empat meter dan panjangnya 120 meter.

“Kalau lebarnya dibuat enam meter maka memerlukan dana Rp 18 miliar. Sedangkan untuk Jembatan Sesek yang ada di sebelah sana memerlukan dana sekitar Rp 5 miliar dengan sistem gantung dan lebar empat meter. Namun jika lebarnya dibuat enam meter maka dana yang dibutuhkan sebesar Rp 7,5 miliar,” kata Kabid Bina Marga DPUPR Jepara Hartaya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Pulokulon Grobogan Harapkan Pembangunan Jembatan Gantung

Warga Pulokulon, Grobogan melintas di atas jembatan berbahan dasar bambu yang dibuat salah satu warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembuatan jembatan penyeberangan sederhana melintasi sungai Lusi yang diprakarsai Mbah Marno mendapat apresiasi dari banyak orang. Soalnya, banyak warga yang merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan bamboo sepanjang 25 meter tersebut.

Meski konstruksinya sangat sederhana, namun adanya jembatan itu bisa menghemat waktu. Yakni, bagi warga dari Kecamatan Pulokulon yang akan melakukan aktivitas ke Kecamatan Wirosari atau sebaliknya.

Tanpa melewati jembatan itu, warga harus memutar arah lewat jalur yang ada jembatan permanen melintasi sungai Lusi. Kalau memilih lewat jalur itu butuh tambahan waktu sampai 30 menit.

“Kalau lewat jembatan ini bisa potong kompas. Waku tempuh menuju Wirosari jadi dekat. Terus terang, saya sangat salut dengan kreatifitas Mbah Marno untuk bikin jembatan ini. Jembatannya memang sedehana tapi manfaatnya luar biasa,” kata Humas Kwarran Pulokulon Andi Patria yang menemani wartawan ke lokasi penyeberangan unik tersebut, Jumat (13/10/2017).

Baca: Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Meski terbantu dengan hasil karya Mbah Marno, namun warga berharap agar dilokasi tersebut dibangunkan jembatan gantung. Harapan ini dilontarkan karena jalur tersebut memang dinilai sangat strategis dan menjadi akses terdekat antar kecamatan.

“Jalur ini memang sangat strategis dan jadi pilihan warga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengguna jembatan tiap hari. Baik yang pakai motor, sepeda atau jalan kaki. Ada ratusan orang yang memanfaatkan dan kebanyakan adalah warga Pulokulon yang jadi karyawan pabrik di Wirosari dan anak sekolah,” kata Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan tersebut.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Jika nantinya dibangun jembatan gantung, Mbah Marno tidak merasa keberatan meski sumber mata pencahariannya bisa terancam. Bahkan, pria 64 tahun itu malah menyatakan dukungannya.

“Kalau dibangun jembatan gantung disisni saya rasa malah bagus. Jadi, makin banyak yang bisa memanfaatkan. Dari penilaian saya, dititik ini paling pas dibangun jembatan gantung,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Kini Warga Menduran Hanya Butuh 5 Menit untuk ke Kota

Warga sedang memperbaiki landasan jembatan gantung (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Warga sedang memperbaiki landasan jembatan gantung (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Dengan adanya jembatan gantung di Desa Menduran, Kecamatan Brati yang kini sudah diperbaiki, akses warga Menduran menuju kota bisa dilakukan dengan cepat karena hanya butuh waktu sekitar lima menit.

Sebelum ada jembatan, warga setempat harus memutar arah jika harus pergi ke kota khususnya kalau naik kendaraan. Atau jika ingin agak cepat bisa naik perahu yang rute penyeberangannya dijadikan jembatan saat ini.

“Adanya jembatan ini memang terbukti menggerakkan roda perekonomian warga Menduran. Soalnya kalau pergi ke pasar cuma butuh waktu lima menit menit saja,” ujar mantan pemilik perahu penyeberangan sebelum ada jembatan gantung itu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Warga Menduran Swadaya Perbaiki Jembatan Gantung

Warga sedang memperbaiki landasan jembatan gantung (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Warga sedang memperbaiki landasan jembatan gantung (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Sejumlah warga Desa Menduran, Kecamatan Brati, sejak pagi hingga siang tadi sibuk memperbaiki jembatan gantung yang menjadi akses utama dan terdekat menuju Kota Purwodadi. Perbaikan jembatan secara swadaya itu dilakukan lantaran kondisi jembatan terutama bagian landasan perlu diganti.

”Saat ini banyak landasan jembatan yang lapuk karena dimakan usia dan waktunya diganti. Karena terbentur dana, makan jembatan lama yang terbuat dari bahan Bangkirai kita ganti dengan kayu glugu,” ujar Parlan, salah seorang tokoh masyarakat Menduran.

Menurutnya, jembatan gantung yang berada sekitar 200 meter disebelah utara pasar induk Purwodadi itu dibangun sekitar tahun 2002 melalui dana APBD Grobogan.

Selama ini, perbaikan ringan jembatan lebih banyak dilakukan secara swadaya. Misalnya, mengganti kayu landasan dan pengecatan pagar jembatan. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)