Setahun Tak Ditangani, Warga Karangsono Grobogan Sambung Jembatan Ambrol dengan Bambu

Seorang pengendara motor melintasi landasan jembatan yang dibuat dari bambu di Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganJembatan penghubung di Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung yang sebelumnya ambrol, saat ini sudah bisa dilalui meski sifatnya masih darurat.

Hal itu menyusul adanya upaya warga untuk menyambungkan jembatan yang ambrol dengan puluhan batang bambu. Selain dipakai untuk tiang penyangga, bambu juga dipakai untuk landasan jembatan.

”Sejak beberapa hari lalu, warga berupaya memasang bambu untuk menyambung jembatan supaya bisa dilalui kendaraan. Karena sifatnya darurat, hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas. Jembatan itu ambrol separuhnya. Jadi yang separuh bagian disambung bambu,” kata Camat Karangrayung Hardimin, Rabu (1/11/2017).

Jembatan tersebut menjadi akses jalan antar desa di dua kecamatan. Yakni, antara Desa Karangsono, Kecamatan Karangrayung dengan Desa Suru, Kecamatan Geyer. Akibat ambrolnya jembatan ini, warga harus melewati jalur lain yang jaraknya sekitar 5 kilometer untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Jembatan itu mulai ambrol pada bulan November tahun lalu dan hingga saat ini belum ditangani. Lokasi jembatan berada di wilayah Dusun Wonorejo, Desa Karangsono. Jembatan tersebut berada diatas Sungai Pesanggrahan yang merupakan anakan dari Sungai Serang.

Jembatan itu panjangnya 24 meter dengan lebar 3 meter. Ambrolnya jembatan itu disebabkan tanah penyangganya longsor sedikit demi sedikit akibat meluapnya air sungai dan guyuran air hujan.

”Fungsi jembatan ini memang cukup vital. Karena jadi akses warga Karangsono ke Desa Suru yang masuk wilayah Kecamatan Geyer,” kata Hardimin.

Pihaknya sudah melaporkan ke dinas terkait agar segera ada penanganan. Soalnya, jembatan itu sangat dibutuhkan. Terutama, jadi akses masuk mobil untuk membawa hasil pertanian khususnya sayuran yang akan dijual di Purwodadi.

”Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk memperbaki jembatan karena butuh dana cukup besar. Kami butuh dukungan dari Pemkab, provinsi atau pusat untuk perbaikan jembatan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyarankan agar pihak desa mengajukan permohonan bantuan khusus ke provinsi melalui bupati untuk perbaikan jembatan. Hal itu bisa dilakukan seperti di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang dapat bantuan pembangunan jembatan gantung.

”Jembatan itu merupakan aset desa sehingga perbaikan jadi tanggung jawab desa. Namun, pihak desa bisa mengajukan bantuan khusus jika memang kekurangan dana. Nanti akan kita fasilitasi untuk pengajuan bantuan,” katanya.

Editor: Supriyadi

Warga Pulokulon Grobogan Harapkan Pembangunan Jembatan Gantung

Warga Pulokulon, Grobogan melintas di atas jembatan berbahan dasar bambu yang dibuat salah satu warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembuatan jembatan penyeberangan sederhana melintasi sungai Lusi yang diprakarsai Mbah Marno mendapat apresiasi dari banyak orang. Soalnya, banyak warga yang merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan bamboo sepanjang 25 meter tersebut.

Meski konstruksinya sangat sederhana, namun adanya jembatan itu bisa menghemat waktu. Yakni, bagi warga dari Kecamatan Pulokulon yang akan melakukan aktivitas ke Kecamatan Wirosari atau sebaliknya.

Tanpa melewati jembatan itu, warga harus memutar arah lewat jalur yang ada jembatan permanen melintasi sungai Lusi. Kalau memilih lewat jalur itu butuh tambahan waktu sampai 30 menit.

“Kalau lewat jembatan ini bisa potong kompas. Waku tempuh menuju Wirosari jadi dekat. Terus terang, saya sangat salut dengan kreatifitas Mbah Marno untuk bikin jembatan ini. Jembatannya memang sedehana tapi manfaatnya luar biasa,” kata Humas Kwarran Pulokulon Andi Patria yang menemani wartawan ke lokasi penyeberangan unik tersebut, Jumat (13/10/2017).

Baca: Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Meski terbantu dengan hasil karya Mbah Marno, namun warga berharap agar dilokasi tersebut dibangunkan jembatan gantung. Harapan ini dilontarkan karena jalur tersebut memang dinilai sangat strategis dan menjadi akses terdekat antar kecamatan.

“Jalur ini memang sangat strategis dan jadi pilihan warga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengguna jembatan tiap hari. Baik yang pakai motor, sepeda atau jalan kaki. Ada ratusan orang yang memanfaatkan dan kebanyakan adalah warga Pulokulon yang jadi karyawan pabrik di Wirosari dan anak sekolah,” kata Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan tersebut.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Jika nantinya dibangun jembatan gantung, Mbah Marno tidak merasa keberatan meski sumber mata pencahariannya bisa terancam. Bahkan, pria 64 tahun itu malah menyatakan dukungannya.

“Kalau dibangun jembatan gantung disisni saya rasa malah bagus. Jadi, makin banyak yang bisa memanfaatkan. Dari penilaian saya, dititik ini paling pas dibangun jembatan gantung,” katanya. 

Editor: Supriyadi

Mbah Marno, Warga Pulokulon Grobogan Pemilik Jembatan Antarkecamatan

Mbah Marno, pemilik jembatan penyeberangan antar kecamatan sedang bersantai di poskonya di pinggiran sungai Lusi di Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah jembatan sasak dari bambu yang melintasi sungai Lusi ini terlihat ramai. Dalam rentang waktu beberapa menit, ada sepeda motor atau pejalan kaki yang melintas dari kedua arah.

Meski terlihat sangat sederhana, jembatan ini sangat membantu aktivitas banyak orang. Indikasinya, setiap hari ada ratusan motor maupun sepeda yang memanfaatkan jembatan tersebut. Selain itu, jembatan itu juga dimanfaatkan para pejalan kaki yang akan beraktivitas ke sawah.

Padatnya arus kendaraan yang melewati jembatan itu memang masuk akal. Soalnya, jembatan itu menjadi akses alternatif antar kecamatan. Yakni, Kecamatan Pulokulon dan Wirosari.

Pada sisi selatan jembatan masuk wilayah Dusun Pelem, Desa/Kecamatan Pulokulon. Sedangkan diseberang sungai masuk wilayah Dusun Bugel, Desa Sambirejo, Kecamatan Wirosari.

Uniknya, jembatan itu ternyata bisa dikatakan milik perorangan. Yakni, Mbah Marno, warga yang tinggal di Dusun Pelem, Desa Pulokulon. Pria 64 tahun itu sudah membuat jembatan bambu sejak tahun 2000.

Sebelum membuat jembatan, Mbah Marno adalah pemilik perahu penyeberangan yang beroperasi di lokasi tersebut. Saat tiba musim kemarau, otomatis perahu miliknya tak bisa beroperasi karena sungai Lusi menjadi dangkal. Dari kondisi alam itulah, kakek lima cucu itu akhirnya punya gagasan untuk membikin jembatan penyeberangan sederhana.

Selain membantu warga, adanya jembatan itu juga bisa mendatangkan penghasilan. Namun, Mbah Marno tidak pernah mematok tarip bagi pengguna jembatan. Hanya saja, ia menyediakan sebuah kotak didekat poskonya.

“Bayarnya sukarela. Yang mau ngasih, tinggal masukkan uangnya ke dalam kotak. Pendapatan setiap hari, rata-rata bisa sampai Rp 100 ribu,” kata bapak empat anak itu saat ditemui di poskonya di pinggiran sungai Lusi, Jumat (13/10/2017).

Mbah Marno mengisahkan, pada awalnya, pembuatan jembatan seluruh konstruksinya dari bahan bambu. Namun, sejak tahun 2012 lalu, ia membuat dua tiang penyangga dari konstruksi cor beton. Kedua tiang sepanjang 4 meter yang separuhnya dibenamkan ke dasar sungai itu ditempatkan di bagian tengah.

“Buat tiang beton itu habisnya Rp 4 juta waktu itu. Adanya tiang beton bikin jembatan tambah kuat. Selain itu, tiang beton saya pasang untuk memudahkan menemukan titik pembuatan jembatan saat sungai dangkal,” jelasnya.

Saat air sungai Lusi mulai berkurang, Mbah Marno dibantu putra pertamanya Puryono biasanya langsung bersiap membikin jembatan baru. Untuk belanja bambu sebagai tiang penyangga dan bahan landasan serta beli paku menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta. Proses pembuatan jembatan biasanya makan waktu hingga lima hari.

“Saya hanya bikin jembatan kalau kondisi sungai Lusi dangkal seperti ini. Kalau nanti sungainya penuh, jembatannya hanyut. Untuk membantu penyeberangan saya ganti gunakan perahu kayu,” katanya.

Menjelang berakhirnya musim kemarau, Mbah Marno juga punya kesibukan khusus. Yakni, mempersiapkan pembuatan perahu yang akan digunakan saat sungau Lusi penuh air.

“Perahu saya hanyut terbawa banjir. Makanya, saya lagi mau bikin lagi,” cetusnya. 

Editor: Supriyadi