Mengenal Si Denok, Jati Keramat di Blora Berusia 300 Tahun 

MuriaNewsCom, Blora – Denok sejatinya adalah nama panggilan untuk anak perempuan. Namun, di Blora nama ini dipergunakan untuk sebutan pohon jati tertua.  Pohon jati ini dapat kita temui di RPH Temetes BKPH Temanjang, Kecamatan Banjarejo. Di area hutan milik Perhutani ini, Denok berdiri sudah sekitar 300 tahun.

Masyarakat setempat mempercayai keberadaan Denok ini sebagai tempat yang keramat. Karena itu, Denok kini menyandang status situs budaya dan tempat ritual bagi masyarakat. Heri, warga Blora mengatakan banyak orang ngalap berkah dengan melakukan ritual di pohon denok itu.

Jati Denok  sendiri memiliki diameter berukuran tiga meter dan bentuknya menyerupai fosil. Konon, pohon ini dinamakan Denok karena pangkal pohon terdapat blendong atau gembol yang oleh masyarakat dinamakan denok.

Heri menambahkan, selain karena ada blendong tadi juga dikaitkan dengan cerita legenda di masa lalu. “Konon di masa itu Jati Denok merupakan tempat pemandian Putri Jonggrang Prayungan. Tempat itu diinjak seorang pangeran dan bekas injakan itu menggelembung. Jadi itu asal-usul Jati Denok jika dikaitkan dengan ceritera legenda,” ujar Heri yang mendampingi MuriaNewsCom selama di Blora.

Untuk mencapai lokasi memang harus membutuhkan persiapan khusus karena jalur menuju RPH Termetes BKPH Temanjang ini sangat ekstrem. Meski dinilai ekstrem, tidak menciutkan nyali para wisatawan untuk datang ke lokasi itu. Ratman misalnya. Warga Purwodadi  datang ke lokasi pohon jati denok ini karena disertai rasa penasaran.

“Penasaran, Mbak. Jati kok namanya Denok. Setelah tahu asal usulnya ternyata memang bagus dan bersih,” katanya.

Ratman beserta wisatawan lainnya baik dari dalam maupun luar Blora pun langsung mengabadikan diri lewat swafoto dengan background Jati Denok ini. “Bahkan, ada yang datang ke sini dengan segala harapan. Mereka percaya harapan itu akan terkabul,” pungkas Heri.

Editor: Supriyadi

Tersandung Ilegal Logging, Seorang Oknum Perhutani KPH Gundih Diamankan Polisi

MuriaNewsCom, Grobogan – Jajaran Polres Grobogan bekerjasama dengan Perum Perhutani KPH Gundih kembali berhasil mengungkap kasus illegal logging di wilayah tersebut. Dalam pengungkapan kasus ini, petugas berhasil mengamankan dua orang yang diduga menjadi pelaku atau tersangka.

Pelaku pertama yang diamankan diketahui bernama Yudi Ariswanto (42), warga Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh. Ironisnya, pelaku ini tercatat merupakan karyawan dari Perhutani KPH Gundih.

Sedangkan satu pelaku lagi yang diamankan adalah Agus Eko Prasetyo alias Gepeng (35), warga Desa Monggot, Kecamatan Geyer. Kedua pelaku diamankan hari Rabu (7/3/2018) kemarin.

Selain pelaku, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti kayu jenis sonokeling. Jumlah kayu sebanyak 3 potongan. Panjang tiap potongan sekitar 2,5 meter dengan diameter 30-50 centimeter.

“Pelaku saat ini ditahan di Mapolres dan barang buktinya masih kita amankan di Polsek Geyer. Pelaku akan kita jerat dengan Undang Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan hutan,” ungkap Kapolsek Geyer AKP Sunaryo, Kamis (8/3/2018).

Pengungkapan kasus itu berawal dari informasi adanya penebangan satu pohon sonokeling di petak 31 E, RPH Bancar, BKPH Juworo yang masuk wilayah Desa Sobo, Kecamatan Geyer. Saat dicek ke lokasi, pohon yang berukuran sangat tinggi tersebut diperkirakan sudah dipotong menjadi beberapa potongan. Namun, dilokasi kejadian hanya tersisa tiga potongan saja.

Dari olah TKP, polisi menemukan ada jejak ban mobil yang tertinggal. Setelah melakukan penelusuran, tiga potongan kayu sonokeling lainnya ditemukan disebuah pekarangan kosong didekat rumah Yudi Ariswanto. Polisi juga menemukan indikasi jejak ban mobil dilokasi penebangan mirip dengan model ban kendaraan yang sering digunakan Yudi.

“Setelah kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut, kedua pelaku mengakui perbuatannya. Meski demikian, kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut,” imbuhnya.

Sebulan sebelumnya, Jajaran Polres Grobogan bekerjasama dengan Perum Perhutani KPH Gundih juga berhasil mengungkap kasus illegal logging. Dalam pengungkapan kasus ini, petugas berhasil mengamankan satu orang pelaku atau tersangka.

Pelaku yang diamankan diketahui bernama Agus Purnomo (37), warga Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer. Pelaku ini tercatat merupakan karyawan dari Perhutani KPH Gundih yang bertugas menjadi Mandor Polter.

Selain pelaku, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti kayu mahoni. Jumlah kayu sebanyak 347 batang yang sudah dipotong dalam berbagai ukuran. Yakni, mulai panjang 190-720 cm dengan ketebalan bervariasi.

Editor: Supriyadi

Banjir Akibat Hujan Rendam Permukiman di Jati Kudus

banjir jati

Warga membersihkan rumahnya yang didera banjir di Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan lebat yang melanda Kudus semalam Minggu (22/1/2017), mengakibatkan banjir di sejumlah tempat di Kudus, Senin (23/1/2017). Genangan juga berasal dari sejumlah limpasan sungai yang meluap. Limpasan tersebut sampai merendam rumah warga.

Seperti halnya di Kecamatan Jati, Kudus. Sejumlah tempat terendam banjir. Pemandangan tersebut nampak pada di Dukuh Kencing, Desa Jati Wetan.

A Kusuma, warga setempat mengatakan warga sudah waspada sejak semalam. Saat itu hujan cukup tinggi di kawasan Jati. “Tidak semua daerah kena banjir, paling yang kena banjir bagian tengah ke timur saja. Sementara bagian barat masih cukup aman lantaran kondisi tanahnya cukup tinggi,” kata Kusuma kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Warga masih siaga. Melihat cuaca yang masih mendung serta air di Sungai Gelis yang nyaris meluap, membuat warga siaga. Banjir di kawasan tersebut memang beberapa kali terjadi di musim hujan. Namun setelah dibangunkan talut di bantaran sungai Gelis, banjir jarang dijumpai lagi. Hal itu karena air melimpas ke bagian barat sungai ketimbang ke timur.

Sementara, Camat Jati Andreas Wahyu mengatakan jika hujan lebat yang terjadi semalam membuat sejumlah kawasan mengalami genangan. Seperti halnya di desa Jati Wetan dan Tanjung karang. “Kedua daerah di Jati itu memang sering terjadi banjir. Bahkan beberapa kali sampai masuk kedalam rumah, saat hujan tiba sangat lebat,” ungkap dia.

Dikatakan Andreas, ketika hujan semalam langsung dilakukan pemantauan oleh pihak kecamatan. Beberapa ruas jalan dan gang terendam oleh air. Bahkan diakuinya kalau genangan sampai memasuki kawasan rumah.”Jumlahnya hanya sedikit yang sampai masuk rumah. Ada tapi hanya beberapa saja dan jumlahnya sangat kecil,” ungkap dia. 

Ditambahkan, banjir terjadi karena limpasan air dari sungai Wulan. Terlebih, semenjak kemarin terjadi perbaikan tanggul di wilayah perbatasan Kudus Purwodadi, yang menyebabkan air melimpas ke permukiman.

Editor : Akrom Hazami

Tanggul Rawan Retak, Camat Jati Siapkan Sak Pasir

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna kendaraan melintasi banjir beberapa waktu lalu di jalan sekitar Kecamatan Jati. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sebagai daerah yang rawan terjadi banjir, Kecamatan Jati juga harus bersiap dalam menghadapi risiko yang ditimbulkan. Seperti halnya adanya tanggul yang rawan retak, pihak Camat Jati menyiapkan sak berisi pasir untuk membendungnya.

Camat Jati Harso Widodo mengatakan, pihak kecamatan sudah menyiapkan sak pasir untuk menanggulangi bencana yang mungkin terjadi di Jati. Sebagai daerah bawah, potensi banjir dan genangan lebih mudah terjadi.

”Kita antisipasi adanya tanggul yang retak, sehingga membahayakan para warga. Untuk itu kami juga sudah menyiapkan sak guna membendung tanggul yang berpotensi retak,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya sosialisasi dengan pihak desa juga sudah dilakukan, sebab pihak desa yang lebih tahu tentang bencana yang mungkin terjadi di Kecamatan Jati. Sehingga, komunikasi juga terus dibuatkan.
Beberapa daerah yang rawan adanya banjir, kata dia, tercapai di beberapa titik. Seperti di sekitar Proliman Tanjung, Pasuruan Lor, Megawon, Ngembal, jati Kulon, Jati Wetan, dan juga sekitar Ngembal.
Untuk antisipasi, pihak kecamatan mengajak masyarakat melakukan kerja bakti berupa membersihkan lokasi sekitar dari sampah yang dapat mengganggu arus air.

”Bahkan untuk pernahkah desa, juga dilakukan antisipasi bencana. Sehingga Jika ada bencana dapat segera diungsikan,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Sekap Petugas, Kawanan Pencuri Gasak Kayu Jati Berusia Setengah Abad

Lokasi kayu jati yang dicuri kawanan penjahat di petak 48 b, RPH Dersemi BKPH Bandung, Kecamatan Ngaringan (dok Perhutani KPH Purwodadi)

Lokasi kayu jati yang dicuri kawanan penjahat di petak 48 b, RPH Dersemi BKPH Bandung, Kecamatan Ngaringan (dok Perhutani KPH Purwodadi)

 

GROBOGAN – Aksi pencurian kayu di kawasan hutan Perhutani KPH Purwodadi diwarnai aksi nekat dari kawanan penjahat. Dimana, sebelum melakukan aksinya, para pembalak kayu ini berani menyekap tiga petugas panjaga hutan.

Informasi yang didapat menyebutkan, kasus pencurian kayu ini terjadi Minggu (13/12/2015) dinihari, di petak 48 b, RPH Dersemi BKPH Bandung, Kecamatan Ngaringan. Dalam aksinya, kawanan pembalak berhasil menebang pohon jati istimewa yang usianya lebih dari 50 tahun. Jati yang ditebang pelaku tingginya dari pangkal hingga ujung mencapai 20 meter. Sementara diameter bagian pangkalnya hampir mencapai 2 meter. Jati kualitas super ini harga jualnya diperkirakan mencapai ratusan juta.

Meski sudah berhasil ditebang, kayu yang diambil kawanan pencuri itu hanya sekitar 8 meter saja di bagian pangkal. Kayu ini dipotong lagi jadi dua bagian, masing-masing sepanjang 4 meter. Sedangkan sisanya masih dibiarkan berada di kawasan hutan yang letaknya tidak jauh dari tempat munculnya harimau di pinggiran Desa Bandungsari, beberapa waktu lalu.

Administratur KPH Purwodadi Damanhuri ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya kasus pencurian kayu jati tersebut. Selain dilaporkan pada pihak kepolisian, kasus itu juga sudah dikabarkan pada Kepala Perum Perhutani Divre Jawa Tengah. ”Kejadian pencurian kayu itu sekitar pukul 00.35 WIB. Kasus ini masih ditindaklanjuti pihak terkait,” katanya.

Menurutnya, beberapa saat sebelum kejadian, tiga petugas penjaga hutan yang sedang beristirahat di pos penjagaan usai melakukan pantauan, tiba-tiba didatangi 6 orang tak dikenal yang menutup wajahnya dengan cadar. Salah seorang diantaranya menondongkan senjata api dan lima orang lainnya mengacungkan samurai terhadap tiga petugas tersebut. Salah seorang pelaku mengatakan kalau sebentar lagi mau bekerja (menebang pohon) dan tiga petugas itu diminta jangan bergerak dan bertindak macam-macam.

Para penjahat ini juga sempat meminta HP dan memotong kabel sepeda motor para petugas. Para penjahat juga mematikan lampu yang ada di dalam dan di luar pos sehingga suasana jadi gelap. ”Kira-kira 15 menit setelah petugas disekap, terdengar suara seperti pohon yang roboh. Kemudian disusul ada suara kendaraan dan dan teriakan banyak orang yang bergegas menaikkan kayu ke atas truk. Sekitar pukul 03.30 WIB, terdengar suara kendaraan itu pergi meninggalkan kawasan hutan dan tidak lama kemudian, para penyekap juga pergi menggunakan sepeda motor,” jelas mantan Administratur KPH Bondowoso itu.

Setelah penyekap pergi, tiga petugas itu langsung melakukan pengecekan dan didapati ada satu batang pohon yang ditebang. Selanjutnya, dengan berjalan kaki sekitar 3 km, lantaran sepeda motor diputus kabelnya, petugas berhasil menjangkau pos penjagaan lainnya untuk meminta bantuan dan melaporkan kasus tersebut.

Masih dikatakan Damanhuri, setelah melakukan penyelidikan, pada Minggu pagi, ada informasi kalau kayu hasil curian itu berada di salah satu tempat penggergajian kayu di wilayah Ngawen, Blora. Setelah mendapat informasi ini, pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Polres Grobogan dan mendatangi lokasi tersebut.

Saat sampai dilokasi tersebut sekitar pukul 12.00 WIB, kayu yang diduga hasil kejahatan itu sudah dibelah menjadi papan dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar sekitar 40 cm serta tebalnya 8 cm.
”Setelah diteliti petugas, kayu yang sudah berbentuk papan itu sesuai dengan jati yang dicuri di kawasan hutan. Karena pemilik tempat penggergajian tidak bisa menunjukkan dokumen, maka kayu sebanyak 6.118 meter kubik tersebut akhirnya kita sita,” tambahnya.

Oleh pemilik tempat penggergajian kayu berinisial SD, kayu itu dikirim seseorang berinisial BY. Semula, BY sempat meminta agar SD membeli dua gelondong kayu yang masing-masing berukuran 4 meter itu. Namun, karena SD tidak mau maka BY meminta agar kayu itu dibelah saja menjadi papan.
”Kasus ini, masih ditangani pihak kepolisian. Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi Polres Grobogan,” katanya. (DANI AGUS/TITIS W)