Gus Yasin Ditanya Soal Janda,  Ganjar Degdegan

MuriaNewsCom, Semarang – Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin mendapat pertanyaan yang cukup mengejutkan saat menghadiri Taaruf Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng yang digelar PW Muhammadiyah Jateng, Sabtu (31/3/2018).

Dalam kegiatan itu, putra KH Maimoen Zubair memaparkan sejumlah program yang akan diusung bersama Ganjar Pranowo. Termasuk janji menyiapkan dana APBD sebesar Rp 331 miliar untuk guru madin, TPQ dan pesantren.

Namun pertanyaan yang muncul dari peserta kegiatan itu tak bersangkutan dengan apa yang dipaparkannya. Melainkan soal janda.

Pertanyaan itu muncul dari Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng, AM Jumai. Menurutnya, dari data BPS jumlah janda di Jateng sebanyak 10 ribu. Artinya angka perceraian tinggi. “Bagaimana mengatasi ini karena dampak perceraian banyak sekali?,” tanyanya.

Ganjar nampak kaget mendengar pertanyaan tersebut. “Pertanyaan pertama langsung marai degdegan,” kata Ganjar.

Namun Gus Yasin terlihat tenang. Ia mengakui jika angka perceraian di Jateng memang tinggi. Bahkan di Wonogiri perceraian terjadi 18 kali perhari.

Saat ini menurut dia, Pemprov Jateng dan DPRD Jateng sudah menyusun Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga.

“Saya di DPRD, Komisi E kemarin mengusulkan dan menggodok perda tersebut, baru digedok, insyaallah 2019 sudah bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Perda tersebut, kata suami Nawal Nur Arafah itu, memberi amanat pemerintah provinsi untuk memberi pendampingan pada keluarga rentan. Selain itu juga membuat program pendidikan pranikah dan konsultasi anak muda.

“Dampak perceraian itu besar. Dari anak, juga budaya, ekonomi keluarga. Maka pendidikan pra nikah ajarkan bagaimana suami isteri saling menghormati dan menghargai,” terangnya.

Ganjar menimpali jawaban Gus Yasin. Menurutnya, perceraian kadang terjadi karena pasangan sudah tidak bahagia lagi. “Jadi bapak ibu, jangan lupa bahagia ya,”  katanya setengah bercanda.

Editor : Ali Muntoha

Sebelum Gantung Diri, Janda 3 Anak di Grobogan Sempat Tulis Wasiat, Ini Isinya

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebelum melakukan bunuh diri, Sri Mulyati (45) Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo ternyata sempat membuat sebuah surat wasiat untuk saudaranya. Surat dengan Bahasa Jawa yang ditulis menggunakan pensil itu dituangkan dalam selembar kertas bergaris.

Isi tulisan dalam surat itu berbunyi “kagem sederek sederek sedoyo kulo. Kulo sekeluarga nyuwun pangaputen, nyuwun tulong ponakan jenengan dekek panti, lan genduk ampon kebebanan nopo2 nggih pakde, bude, bulik, om. matur nuwun”.

Dari keterangan yang dihimpun, surat wasiat tersebut ditemukan di dalam saku pelaku. Kuat dugaan, wasiat tersebut sengaja ditulis untuk kelangsungan anak-anaknya. Seperti diketahui, pelaku bunuh diri adalah janda beranak tiga.

Kades Mayahan Saerozi mengatakan, kejadian memilukan ini memang sempat membuat warga gempar. Hanya dari hasil pemeriksaan polisi, korban meninggal karena bunuh diri dan tidak ditemukan tanda penganiayaan.

”Murni bunuh diri, tak ada tanda-tanda penganiayaan sama sekali,” katanya.

Baca: Janda 3 Anak di Grobogan Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong

Sebelumnya, suasana Dusun Beber, Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo mendadak jadi heboh. Hal ini menyusul adanya teriakan minta tolong karena ada orang yang ditemukan gantung diri sekitar pukul 15.30 WIB.

Tak ayal, teriakan ini langsung menyebabkan puluhan warga setempat berhamburan ke lokasi kejadian. Tempat terjadinya peristiwa bunuh diri berada di sebuah rumah kosong yang selama ini digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pelaku bunuh diri diketahui bernama Sri Mulyati (45), warga setempat. Janda tiga anak itu gantung diri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan belandar bagian tengah.

Saat ditemukan, sudah tercium bau menyengat. Diperkirakan, korban sudah melakukan bunuh diri beberapa hari lalu.

”Saya terakhir ketemu hari Sabtu sore kemarin. Waktu itu, dia masih jualan lontong di rumahnya,” kata Susilo (65), kakak kandung korban, saat ditemui di kamar jenazah RSUD Purwodadi petang tadi.

Susilo merupakan orang yang pertama kali mengetahu peristiwa bunuh diri tersebut. Ceritanya, ia sore tadi hendak mengambil pakan ternak berupa kulit kacang hijau yang sudah dikemas dalam karung dan disimpan di rumah kosong tersebut.

Saat sampai di depan pintu, ia sempat mencium bau menyengat. Ketika pintu dibuka, Susilo kaget bukan main. Ia mendapati tubuh adiknya sudah terlihat kaku dengan leher terjerat tambang plastik.

Editor: Supriyadi

Jual Pupuk Palsu, Janda Cantik Beranak Satu di Rembang Ditangkap Polisi

Siti Muayanah (39) warga RT 1/RW 1 Desa Kasreman, Kecamatan Kota Rembang saat dimintai keterangan oleh petugas. (TRIBRATANEWS REMBANG)

MuriaNewsCom, Rembang – Siti Muayanah (39) warga RT 1/RW 1 Desa Kasreman, Kecamatan Kota Rembang diringkus pihak kepolisian. Janda beranak satu ini kedapatan menjual pupuk palsu merk eSPlus-36 yang menyerupai pupuk bersubsidi Pemerintah jenis SP-36.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP  Ibnu Suka melalui Kepala Unit II Polres Rembang, Iptu Sukarno menyebutkan, penangkapan terhadap pelaku berdasarkan laporan dari Kepala Seksi Pestisida dan Alat Mesin Pertanian pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Ikha Himawan Affandi.

Baca: Ngebut Hindari Hujan Deras, 2 Siswa SMKN 1 Kalinyamatan Jepara Tewas Tabrak Pembatas Jalan

Pelaku diketahui menjual pupuk palsu tersebut di UD Lela Zeeva. Pupuk dijual seharga Rp 105 ribu, sama dengan pupuk SP 36 bersubsidi dari pemerintah. Secara fisik, pupuk berwarna abu-abu dan apabila dipecahkan pada bagian dalam berwarna putih. Jika dicium tidak menimbulkan bau pupuk.

”Kami menetapkan status tersangka pada September 2017 yang lalu. Namun, kami tidak melakukan penahanan karena pertimbangan dia janda anak satu yang harus mengasuh anaknya. Kami kan repot juga kalau seperti ini. Tapi Selasa (28/11/2017) kemarin, sudah kami limpahkan tahap 2 ke JPU untuk diproses,” ungkapnya seperti dikutip Tribratanewsrembang.

Baca: Tak Diberi Uang, Anak di Getassrabi Kudus Tega Pacul Kepala Ibunya Hingga Tewas

Adapun barang bukti yang disita di antaranya 14 sak pupuk yang diduga tiruan, dan beberapa dokumen penjualan, serta surat ijin berupa SIUP HO atas nama tersangka yang dikeluarkan Dinas Perijinan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Rembang.

Atas perbuatan melanggar hukum, tersangka dijerat dengan Pasal 62 ayat (1) Juncto Pasal 8 ayat (1) huruf e undang-undang republik indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dengan ancaman pidana 5 tahun penjara atau denda paling banyak Rp 2 miliar.

Editor: Supriyadi

Hari Pahlawan, Polisi dan TNI Pati Bedah Rumah Janda Miskin di Bogotanjung

Polisi, TNI dan relawan melakukan peletakan batu pertama pada program bedah rumah di Desa Bogotanjung, Gabus, Jumat (10/11/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati, Kodim 0718/Pati bersama relawan Kabupaten Pati memanfaatkan momentum Hari Pahlawan untuk membedah rumah seorang janda miskin di Desa Bogotanjung, Gabus, Pati, Jumat (10/11/2017).

Kapolres Pati AKBP Maulana Hamdan mengatakan, rumah milik janda tidak mampu bernama Ahsiyah (47) sangat memprihatinkan. Setiap hari, ia bersama putrinya yang berusia sepuluh tahun tidur di tanah beralaskan kasur sederhana.

Rumah kecil berdinding anyaman bambu dan berlantaikan tanah itu semakin parah saat diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Pascabencana tersebut, rumah Ahsiyah semakin tidak layak.

“Kami menggandeng berbagai pihak untuk melakukan survei. Rumah Bu Ahsiyah memang layak untuk dibantu, akhirnya kami agendakan program bedah rumah,” ujar AKBP Maulana.

Menurutnya, agenda sosial dan kemanusiaan perlu digalakkan untuk memperingati Hari Pahlawan. Semangat dan perjuangan para pahlawan mesti diresapi untuk membantu sesama.

“Kita ini generasi bangsa. Para pilar bangsa ini, kita isi dengan melanjutkan perjuangan para pendahulu dengan kebaikan. Kita, Polri, TNI dan relawan sama-sama bersatu untuk mengasah hati membantu sesama yang membutuhkan,” imbuhnya.

Ahsiyah sempat meneteskan air mata saat dimintai keterangan wartawan. Dia tidak mengira bila rumahnya dibedah dan dibangun berdindingkan tembok.

Karena itu, Hari Pahlawan membawa berkah tersendiri bagi Ahsiyah. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang sudah membantu.

Selain Kapolres, sejumlah pihak yang hadir dalam bedah rumah tersebut, antara lain Kasdim 0718/Pati Mayor Inf Solihin, Kabag Ops Kompol Sundoyo, Kasat Sabhara AKP Sugino, kepala desa setempat Wartono, dan relawan Kabupaten Pati.

Editor: Supriyadi

Biar Harmonis, 75 Pasangan Calon Pengantin di Grobogan Dibekali Pengetahun Berumah Tangga

Kasi Bimas Islam Kemenag Grobogan Fahrurrozi saat menyampaikan pembekalan pada calon pengantin, Rabu (13/9/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 75 pasangan calon pengantin di Grobogan mendapat pembekalan pengetahuan seputar masalah perkawinan dan cara membina mahligai rumah tangga yang benar. Puluhan calon pengantin yang berasal dari beberapa kecamatan itu akan menjalani pembekalan selama dua hari.

”Ini merupakan program terbaru dan 75 pasangan ini merupakan angkatan pertama yang dapat pembekalan. Mereka yang dapat pembekalan adalah calon pengantin yang sudah mendaftar ke KUA dan akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat,” jelas Kasi Bimas Islam Kemenag Grobogan Fahrurrozi, Rabu (13/9/2017).

Pembekalan terhadap calon pengantin dilaksanakan dua hari, sampai besok. Tiap hari, pembekalan dilangsungkan selama 8 jam hingga selepas asar. Keesokan harinya, peserta kembali datang ke lokasi pelatihan untuk mengikuti sesi terakhir.

Menurut Fahrur, narasumber pembekalan disampaikan oleh Kepala KUA, penyuluh agama Islam, dan beberapa staf dari kantor Kemenag Grobogan. Selain itu, pihaknya juga menggandeng Dinas Kesehatan Grobogan sebagai narasumber pada hari kedua. Dari pihak dinkes akan menyampaikan materi berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan masalah kesehatan umum lainnya.

Pembekalan terhadap calon pengantin itu berasal dari Kementerian Agama. Sumber dananya diambilkan dari penerimaan negara bukan pajak dari biaya nikah dan rujuk.

Fahrur menyatakan, tujuan utama pembekalan itu adalah untuk menguatkan pemahaman tentang pernikahan pada calon pengantin. Dengan memiliki pemahaman yang benar, diharapkan pernikahan mereka bisa harmonis.

”Tujuan lainnya adalah untuk menekan angka perceraian di Grobogan yang masih cukup tinggi. Dengan dapat pembekalan, kita harapkan dampak kedepan bisa menurunkan angka perceraian ini. Dari data yang ada, kasus perceraian itu rentan terjadi saat usia perkawinan berkisar 1-5 tahun,” imbuhnya. 

Editor: Supriyadi

Setiap Bulan Ada Ratusan Janda Baru di Jepara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus perceraian di Kabupaten Jepara ternyata masih sangat tinggi. Rata-rata, setiap hari ada tiga janda baru akibat perceraian tersebut, lantaran selama sebulan mencapai 100 kasus lebih perkara perceraian di Pengadilan Agama Kelas 1 B Jepara.

Hal itu disampaikan Wakil Panitera Pengadilan Agama Jepara Sarwan. Menurut dia, Pengadilan Agama kelas 1 B Jepara tiap bulan memberi putusan 100 lebih perkara perceraian gugat. Dari data ini, tiap hari rata-rata sebanyak tiga pria Jepara menduda.

“Memang kasus perceraian masih cukup banyak. Tingginya angka cerai gugat salah satunya diakibatkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” ujar Sarwan kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, sepanjang 2015, total sebanyak 1.263 perkara cerai gugat diajukan pihak istri. Semua perkara pada tahun lalu itu hampir dipastikan sudah diputus pengadilan. Sedangkan tahun ini, hingga April, sebanyak 506 kasus sudah masuk. Dari jumlah, sebagian besar juga sudah diputus.

“Jumlah cerai gugat tersebut lebih dari dua kali lipat dari perkara cerai talak. Sebab, dari data tercatat, sepanjang 2015, ada sekitar 524 kasus cerai talak,” ungkapnya.

Sedangkan tahun ini hingga akhir April, sebanyak 184 perkara cerai talak masuk ke pengadilan. Sama halnya dengan cerai gugat, sebagian besar perkara sudah diputus. Dari data ini, 1 hingga 2 wanita Jepara menyandang status janda setiap harinya.

Dia menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan istri cerai menggugat suaminya. Salah satunya adalah kasus KDRT. Dalam kasus ini, memang istri banyak menjadi korban sehingga meminta cerai. Selain itu, juga disebabkan perselingkuhan yang dilakukan suami.

Sementara dari data Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB), sepanjang 2015 terdapat 40 kasus KDRT yang terlaporkan. Hingga awal 2016 sampai saat ini, sudah enam kasus yang dilaporkan.

Editor : Kholistiono

Wow! Dalam 2 Bulan, di Rembang Ada Ratusan Janda Baru

Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Rembang Saerozi (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Rembang Saerozi (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang-Sebanyak 203 istri muda di Kabupaten Rembang menjadi janda hanya dalam kurun waktu Januari sampai Februari 2016. Sebagian besar dari ratusan istri muda yang menjanda itu, baru memiliki satu anak kecil.

Hal tersebut disampaikan oleh Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Rembang  Saerozi ketika ditemui MuriaNewsCom, Jumat (11/3/2016). Menurutnya, mayoritas pasangan nikah yang terpaksa cerai, baik cerai talak maupun cerai gugat berusia 20 sampai 35 tahun.

“Rata-rata mereka yang cerai, baik cerai talak maupun cerai gugat, sudah beranak satu. Kebanyakan, mereka merupakan pasangan nikah usia muda,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Saerozi membeberkan cerai talak sebanyak 70 perkara dan cerai gugat sebanyak 133 perkara dalam dua bulan terakhir. Pada bulan Januari terjadi 49 perkara cerai talak dan 69 cerai gugat, sedangkan pada bulan Februari terjadi 21 cerai talak dan 64 cerai gugat.

“Jadi, cerai gugat lebih banyak dibandingkan dengan cerai talak. Selama dua bulan ini, hampir setengahnya sendiri dengan jumlah cerai talak 70 dan cerai gugat 133,” bebernya.

Ia mengimbau kepada para pasangan muda yang sudah berumah tangga, agar tidak mudah mengajukan cerai. Khususnya untuk para suami, diimbau agar tidak menelantarkan istri mereka. Kebutuhan istri baik secara jasmani maupun secara rohani harus terpenuhi.

“Sedangkan bagi yang belum menikah, kalau menikah supaya usianya yang dewasa. Jangan  sampai belum cukup umur sudah menikah. Masih di bawah umur sudah pacaran yang keterlaluan kemudian terpaksa menikah, sangat rentan terjadi perceraian,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

Gagal Nikahi Janda, Rumah Calon Mertua Dibakar

Pelaku pembakaran rumah Martono, warga Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, dibekuk Polres Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelaku pembakaran rumah Martono, warga Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, dibekuk Polres Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Akibat gagal menikahi janda pujaan hati, Martono, warga Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu, berbuat nekat. Dimana, pria yang sebenarnya sudah beristri itu menyalurkan kekesalan dengan membakar rumah Sadiyem, warga Desa Tengowanu Wetan, Kecamatan Tegowanu. Akibat perbuatan ini, pelaku terpaksa harus berurusan dengan aparat kepolisian guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Ariyanto mengungkapkan, pelaku berhasil dibekuk petugas Minggu (20/9/2015) malam sekitar pukul 21.00 WIB saat melintas di dekat Mapolsek Tegowanu. Sementara peristiwa pembakaran rumah itu terjadi Jumat (11/9/2015) dinihari.

Motif pembakaran rumah itu terjadi lantaran pelaku merasa kecewa lantaran tidak jadi menikah dengan anak Sadiyem yang bernama Haryanti. Padahal, keduanya sudah setahun menjalin asmara dan bahkan hasil hubungan itu sudah membuahkan satu orang anak laki-laki yang berusia enam bulan. Sebelumnya, Haryanti yang sekarang statusnya janda, sudah punya dua orang anak.

Karena terlanjur memiliki anak dari hubungan gelap itu, pelaku sebenarnya ingin menikahi Haryanti secara resmi. Namun, orang tua janda tersebut tidak setuju lantaran pelaku sudah punya istri yang tengah bekerja jadi TKI di Malaysia.

”Karena tidak boleh menikahi janda itu, pelaku marah dan merasa sakit hati. Kemudian, kekesalan itu diungkapkan pelaku dengan membakar rumah Sadiyem. Beruntung, ketika baru terbakar sedikit, ada warga yang tahu sehingga berhasil memadamkan api,” imbuh Agung didampingi Kapolsek Tegowanu AKP Bambang Uwarno.

Akibat dari perbuatan ini, korban mengalami kerugian sekitar Rp 5 juta. Sementara pelaku akan dikenai pasal 187 KUHP Yunto 53 dengan ancaman 12 tahun penjara. (DANI AGUS/TITIS W)