Cegah Kecelakaan, Jalur Cepat Pati Diusulkan Penambahan Pita Kejut

Kecelakaan antara sepeda motor dan bus Nusantara di Jalan Pati-Kudus Km 3 beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kecelakaan antara sepeda motor dan bus Nusantara di Jalan Pati-Kudus Km 3 beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kecelakaan yang terjadi di sejumlah jalan di Pati terbilang sangat tinggi. Dalam kurun waktu tiga bulan sejak Januari 2016, sedikitnya ada 246 kasus kecelakaan.

Mirisnya, dari 246 kasus kecelakaan tersebut, 43 orang di antaranya meninggal dunia. Selebihnya, mereka mengalami luka-luka. Kondisi tersebut membuat petugas kepolisian Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pati berpikir keras agar angka kecelakaan bisa ditekan. Salah satunya dengan mengusulkan penambahan pita kejut di beberapa bagian jalur lambat.

“Dari ratusan kasus kecelakaan dalam tiga bulan terakhir itu, sebagian besar penyebabnya didominasi karena kecepatan pengendara yang tinggi. Kecepatan tinggi biasanya dipicu karena terburu-buru di jalan yang lurus,” kata Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari, Jumat (22/4/2016).

Karena itu, pihaknya mengusulkan kepada Bina Marga agar sejumlah jalan lurus bisa ditambah pita kejut. Tujuannya, pengendara yang berkendara terlalu cepat bisa diingatkan dengan pita kejut.
“Pita kejut akan memberikan efek kaget pada pengendara. Dengan efek itu, pengendara diharapkan bisa mengurangi kecepatan yang menjadi pemicu kecelakaan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

3 Jalur Tengkorak di Pati yang Sering “Makan” Korban

Petugas kepolisian tengah melakukan pendataan kecelakaan yang terjadi di Jalan Pati-Kudus, Pati Kota beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian tengah melakukan pendataan kecelakaan yang terjadi di Jalan Pati-Kudus, Pati Kota beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Angka kecelakaan di Pati yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir, membuat petugas Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Pati melakukan pemetaan daerah rawan kecelakaan untuk kemudian dilakukan antisipasi.

Dari hasil pemetaan, ada tiga jalur yang dianggap paling banyak terjadi kecelakaan. Pertama, sejumlah jalur di wilayah Pati Kota. Kedua, sejumlah jalur di wilayah Kecamatan Margorejo. Ketiga, jalur di wilayah Kecamatan Juwana.

Kasatlantas Polres Pati AKP Ikrar Potawari kepada MuriaNewsCom, Jumat (22/4/2016) mengatakan, waktu paling rawan terjadi kecelakaan mulai dari pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB. Waktu paling rawan kedua, mulai pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB.

“Dari data yang kami himpun, kecelakaan paling rawan di wilayah Pati Kota dengan waktu sekitar pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB. Meski jam itu jarang pengendara, tetapi kondisinya yang lengang justru pengendara banyak yang ngebut dibarengi kondisi ngantuk,” kata Ikrar.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya akan meningkatkan patroli dan imbauan pada jam kecelakaan rawan terjadi. Papan imbauan untuk tidak mengebut juga akan ditambah. Upaya tersebut diharapkan bisa menekan angka kecelakaan di Pati.

Editor : Akrom Hazami

Ssst..Ini Lho Alasan Jalur Tengkorak Blora Kerap Tewaskan Pengendara di Blora

jalur Blora Rembang, salah satu jalur yang sering terjadi kecelakaan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

jalur Blora Rembang, salah satu jalur yang sering terjadi kecelakaan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Banyaknya kecelakaan di jalan raya, membuat lokasinya disebut jalur tengkorak. Di Blora, terdapat beberapa jalur tengkorak, yakni ruas jalur Blora menuju Rembang, tepatnya di kilometer 3, kilometer 4 dan kilometer 7. Selanjutnya, yakni ruas jalan Blora menuju Cepu tepatnya di kilometer 8 dan kilometer 9. Terakhir, ruas jalan Blora-Ngawen-Kunduran, tepatnya di kilometer 8, kilometer 9, kilometer 13 dan kilometer 19.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Blora AKP Handoko Susesno melalui Kepala Unit Pendidikan dan Rekayasa (Kanit Dikyasa) Ipda Yogo Sulistiyo mengatakan, banyaknya kecelakaan di jalan tersebut biasa terjadi karena kesalahan manusia. Seperti, ketidaksabaran pengendara mendahului pengendara yang lain yang paling sering terjadi.

“Di jalur yang rawan kecelakaan itu, ruas jalannya juga halus dan baik. Jadi, tak jarang pengendara kebut-kebutan di ruas jalan itu. Kalau jalur Blora Rembang, selain kondisi jalan bagus, kontur dan bentuk jalan juga mempengaruhi. Yakni, jalan yang berkelok dan naik turun,” jelas Yogo MuriaNewsCom (05/03/2016).

Sedangkan, untuk mengantisipasi bertambahnya korban berjatuhan di jalur tersebut, pihaknya telah melakukan beberapa upaya. Di antaranya dengan memasang baliho dengan slogan ajakan kepada pengendara agar berhati-hati ketika melewati jalur tersebut. “Di beberapa titik juga kami pasang peringatan agar pengendara lebih berhati-hati,” kata dia.

Yogo mengaku, sampai saat ini pihaknya masih kebingungan dalam mencari komunitas masyarakat. Komunitas tersebut yang nantinya akan dijadikan corong bagi masyarakat dalam mengampanyekan keselamatan dalam berkendara.

Editor : Akrom Hazami
Baca juga : Hati-hati, Ini Jalur Tengkorak di Blora yang Harus Diwaspadai

Hati-hati, Ini Jalur Tengkorak di Blora yang Harus Diwaspadai

Ruas jalur Blora Rembang yang biasa terjadi kecelakaan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Ruas jalur Blora Rembang yang biasa terjadi kecelakaan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan ruas jalan raya yang biasa terjadi kecelakaan, lazim disebut jalur tengkorak. Di Blora ada beberapa tempat yang mendapat predikat jalur tengkorak. Karena seringnya terjadi kecelakaan.

Kepala Satuan Polisi Lalulintas (Kasatlantas) kepolisian Resort (Polres) Blora, AKP Handoko Suseno melalui Kepala Unit Pendidikan dan Rekayasa (Kanit Dikyasa) Ipda Yogo Sulistiyo mengungkapkan, jalan yang mendapat predikat jalur terngkorak yakni ruas jalur Blora menuju Rembang, tepatnya di kilometer 3, kilometer 4 dan kilometer 7. Selanjutnya, yakni ruas jalan Blora menuju Cepu tepatnya di kilometer 8 dan kilometer 9. Terakhir, ruas jalan Blora-Ngawen-Kunduran, tepatnya di kilometer 8, kilometer 9, kilometer 13 dan kilometer 19.

Kenapa ruas jalan tersebut disebut jalur tengkorak, Ipda Yogo menjelaskan, dari pihak kepolisian setelah melakukan evaluasi atas seringnya terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut. Ia menjelaskan, ketika terjadi kecelakaan lebih dari empat kali di titik yang sama, maka jalan tersebut layak mendapatkan jalur tengkorak.

”Pihak kami telah menghitungnya secara cermat untuk menentukan jalur tersebut jalur tengkorak,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni