Anggaran Pemeliharaan Jalan di Kudus Tahun 2018 Capai Rp 5 Miliar

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus mengalokasikan dana infrastruktur jalan mencapai Rp 5 miliar, di tahun 2018. Tidak hanya untuk jalan saja, dana itupun akan digunakan untuk pemeliharaan jembatan hingga pengairan.

Pada minggu ini, beberapa ruas jalan di Kota Kudus mendapatkan giliran diperbaiki. Di antaranya di Jl A.Yani, HM Basuno dan Jl dr Ramlan.

Adapun, panjang ruas jalan yang diperbaiki memiliki dimensi yang berbeda. Jl A. Yani memiliki panjang 778 meter dengan lebar 4,5 meter, Jl dr. Ramlan memiliki panjang 250 meter dengan lebar 8 meter. Sedangkan, Jl HM Basuno memiliki tiga ruas yang memiliki panjang masing-masing 50 meter, dengan lebar yang berbeda-beda, dua ruas selebar 6,25 meter dan satu ruas 6,40 meter.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Samani Intakoris mengatakan, tiga jalan tersebut merupakan area penting bagi lalu lintas warga. Jalan Ahmad Yani menurutnya, merupakan akses utama menuju pusat kota. Sedangkan di Jl dr. Ramlan dan HM Basuno terdapat banyak lubang.

“Perbaikan dilakukan dari akhir pekan lalu. Perbaikan tidak pernah tuntas, karena setiap ada kerusakan langsung kami coba perbaiki,” tuturnya.

Ia mengatakan, kebijakan untuk melakukan pemeliharaan jalan bukan saja di ruas jalan kabupaten. Bahkan untuk ruas jalan nasional pun turut disasar untuk diperbaiki.

“Pertimbangan ini (perbaikan jalan nasional) dilakukan karena kami sudah berkoordinasi dengan instansi terkait,” urainya.

Editor: Supriyadi

Lihat Jalan Rusak, Ganjar : Dalane Bodhol Ya, Ngetril-ngetril

MuriaNewsCom, Cilacap – Calon Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo cukup kaget melihat kerusakan jalan di salah satu desa di Cilacap. Bahkan kerusakan jalan itu cukup parah, hingga ia menyebut jalan itu layaknya hanya untuk trabas.

Jalan rusak itu berada di Desa Keleng, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Ganjar merasakan kerusakan jalan itu langsung dengan mengendarai sepeda onthel, Selasa (27/3/2018).

Saat berkunjung di desa ini, warga desa itu menang sengaja meminta Ganjar menaiki sepeda onthel dari jalan masuk desa. Tujuannya, warga ingin Ganjar merasakan  secara langsung betapa parahnya jalan utama di Desa Keleng itu.

Aspal sudah tergerus, tinggal batu dan tanah. Lubang besar menganga di sana sini. Melewati jalan ini dengan sepeda motor, sudah seperti trabas saja. “Wah dalane bodhol ya, ngetril ngetril,” kata Ganjar sembari mengonthel sepedanya.

Sepanjang dua kilometer, Ganjar mengonthel bersama istrinya Siti Atikoh. Warga desa Keleng mengikuti di belakang. Saat ngonthel itu beberapa warga meneriaki meminta Ganjar untuk memperbaiki jalan tersebut.

Dalam dialog dengan warga, Ganjar menyebut jika kades setempat sudah menghadap dirinya beberapa waktu lalu. Karena jalan tersebut kewenangan kabupaten, maka ia meminta usulan diajukan ke bupati Cilacap.

“Usulan sudah disampaikan, saya minta kabupaten menindaklanjuti, mampunya berapa, sisanya provinsi yang kasih bantuan keuangan,” ujarnya.

Sebelum ke desa ini, Ganjar juga mnenggelar silaturahmi di Kantor DPC PDIP Cilacap. Dalam dialog ini dibahas mengenai industri jamu yang menjadi gantungan hidup warga Cilacap.

Ganjar mengatakan, industri jamu di Cilacap harus didorong agar mampu tumbuh menjadi sentra ekonomi yang produktif. Saat ini, meski terus berproduksi tapi standarisasi jamu Cilacap harus ditingkatkan.

Saat ini yang terpenting adalah melakukan pendataan terhadap pelaku usaha jamu. “Dari data tersebut, bisa diketahui masalah yang ada, petakan persoalan. Selanjutnya, pendaftaran ulang ini pengusaha yang eksis, ini yang biasa, ini yang butuh bantuan. Dari situ kan dilakukan pembinaan,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Ruas Jalan Rusak Milik Provinsi Jateng di Wilayah Grobogan Mulai Diperbaiki

MuriaNewsCom, Grobogan – Perbaikan sejumlah ruas jalan rusak milik Provinsi Jateng yang ada di wilayah Grobogan mulai dilakukan sejak beberapa hari lalu. Antara lain, di ruas jalan menuju Kudus di wilayah Kecamatan Brati.

Kemudian perbaikan ruas jalan rusak juga mulai dikerjakan di jalan Purwodadi Semarang di wilayah Kecamatan Godong. Sebelumnya, perbaikan jalan sudah dimulai lebih dulu di jalan Gajah Mada Purwodadi yang statusnya juga milik provinsi.

Perbaikan ruas jalan dilakukan dengan mengerahkan alat berat untuk membongkar beton. Adanya proses perbaikan jalan rusak ini sempat menyebabkan arus lalu lintas sedikit tersendat karena kendaraan harus melaju bergantian. Kemacetan terlihat cukup panjang saat jam-jam sibuk.

“Ruas jalan itu rusak karena beton cor pecah dan harus dibongkar. Setelah itu akan kita cor beton ulang. Kami mohon maaf atas gangguan ini. Kami imbau pada para pengendara untuk lebih bersabar saat melewati titik perbaikan jalan tersebut,” kata Kepala BPT Dinas Bina Marga dan Cipta Karya wilayah Purwodadi Barkah Widiharsono, Jumat (16/3/2018).

Ia mengatakan, perbaikan jalan di Godong dilakukan pada sembilan segmen dengan ukuran 6 x 3,5 meter untuk ruas jalan tersebut. Pemeliharaan rutin jalan masing-masing dianggarkan sebesar Rp 175 juta.

Perbaikan jalan juga dilakukan di ruas jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya di wilayah Kecamatan Brati. Di ruas tersebut, perbaikan ruas jalan rusak dilakukan pada 10 segmen.

“Perbaikan ruas jalan rusak baru kita mulai. Perbaikan ini kami targetkan sudah rampung sebelum bulan Ramadan nanti,” katanya.

Editor: Supriyadi

Dibiarkan Rusak Bertahun-tahun, Jalan di Jepara Ini Berubah Jadi Wisata Jeglongan Sewu

MuriaNewsCom, Jepara – Selain terkenal dengan wisata pantai yang sangat indah, di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Nalumsari ternyata ada wisata jeglongan sewu loooh..

Ya, kata jeglongan sewu muncul dari warga sekitar yang kesal dengan sikap pemerintah daerah yang tidak kunjung memperbaiki jalan yang menghubungkan antara Desa Tunggul Pandean dengan Nalumsari. Jalan tersebut dibiarkan rusak lebih dari tiga tahun hingga membuat kekesalan warga memuncak.

Iin Wulandari (25), warga Tunggul Pandean mengaku sejak tahun 2014 jalan tersebut sudah rusak. Bahkan, kini semakin parah dan kubangan jalan semakin dalam dan lebar.

“Rusaknya semakin parah, tidak ada yang bisa dipilih, hingga membuat kami kesal dan membuat istilah jeglongan sewu,” ungkapnya.

Menurut Iin, selain ditempeli tulisan “selamat datang di wisata jeglongan sewu” jalan rusak sepanjang dua kilometer lebih itu juga ditanami pohon pisang dan pohon2 lainya. “Di jalan itu sampai ditanami pohon pisang, bahkan pisangmya tumbuh subur dan sampai berbuah,” jelasnya.

Dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah daerah Kabupaten Jepara untuk segera memperbaiki jalan tersebut sehingga aktivitas warga lancar dan ekonomi kembali pulih.

“Saya berharap pemerintah segera memperbaiki jalanya jadi semua aktifitas warga kembali normal,” pinta guru SMK tersebut.

Seorang warga melintas di jalan rusak di Tunggul Pandean Jepara. (MuriaNewsCom/Novi Andriani)

Zainal (27), warga Nalumsari juga mengungkapkan hal yang sama. Sejak jalan tersebut rusak, aktifitas antara dua desa tersebut lumpuh. “Harusnya Desa Tunggul ini dekat dengan Nalumsari, tapi karena jalanya rusak parah jadinya malas lewat jalan tersebut dan akhirnya memutar cukup jauh,” katanya.

Awalnya, tambah Zainal, saat kerusakanya masih sedikit, para warga iuran untuk membeli sertu untuk menguruk dan menutup jalan2 yang berlubang. Namun karena tidak perbaikan dari pemerintah, lama-lama warga kesal dan membiarkan jalan tersebut.

“Saya heran, apa bupati atau anggota DPRD kabupaten Jepara ini tidak pernah dengar? Atau tidak pernah ada aduan dari pemerintah kecamatan kalau ada jalan yang rusaknya sangat parah bertahun-tahun seperti ini,” tanyanya.

Dia berharap pemerintah segera memperbaikinya dan aktifitas warga tidak terganggu. “Kami sangat berharap jalanya segera diperbaiki agar warga tidak terganggu perjalananya. Apalagi saat hujan atai setelah hujan, sering pengendara motor jatuh karena terperosok dikubangan yang cukup dalam itu,” kata Zainal.

Editor: Supriyadi

Jalan Longsor Tergerus Air, Akses Transportasi Warga Dokoro Grobogan Terganggu

MuriaNewsCom, Grobogan – Akses jalan raya dari Desa Dokoro ke Desa Karangasem di Kecamatan Wirosari saat ini terputus untuk kendaraan roda empat. Hal ini terjadi akibat adanya ruas jalan longsor di Dusun Blimbing, Desa Dokoro sejak beberapa hari lalu.

Ruas jalan longsor panjangnya mencapai 6 meter, lebar 3 meter dan kedalaman sekitar 1,5 meter.

Kades Dokoro Masrukin menyatakan, longsor disebabkan terkena gerusan air yang mengalir dari kawasan hutan melewati saluran atau parit disebelah jalan. Padahal di bawah jalan longsor itu sebenarnya ada gorong-gorong untuk belokan air dari parit tersebut.

“Gorong-gorongnya ukurannya terlalu kecil. Ketika hujan deras beberapa hari lalu, gorong-gorong tidak mampu menampung volume air sehingga pecah dan menyebabkan jalan di atasnya longsor. Ruas jalan ini statusnya milik kabupaten,” jelasnya.

Setelah jalan longsor, pihaknya langsung mengerahkan warga untuk kerja bakti. Yakni, membuat jalan darurat yang hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Untuk kendaraan roda empat yang akan menuju Desa Karangasem atau Kecamatan Wirosari harus memutar melewati jalan Dusun Kuniran.

Menurut Masrukin, longsornya jalan sudah dilaporkan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Petugas dari DPUPR sudah mengecek kerusakan jalan dan akan segera melakukan penanganan.

“Kemarin ada beberapa pegawai DPUPR yang meninjau lokasi. Rencananya, pada titik longsor akan dibuat jembatan. Sehingga aliran air dari atas yang posisinya berbelok di titik longsor itu bisa mengalir lancar,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala DPUPR Subiyono menyatakan, kerusakan infrastruktur yang disebabkan bencana memang akan ditangani secepatnya. Terutama yang berkaitan dengan jalan karena banyak dibutuhkan warga.

“Longsornya jalan di Desa Dokoro sudah kita cek untuk mengetahui tingkat kerusakan. Nanti, segera kita tangani seperti longsornya jalan di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan yang saat ini sudah selesai diperbaiki,” katanya.

Editor: Supriyadi

Nah Lho! Jalan Dibiarkan Rusak Pemerintah Bisa Dipidana

MuriaNewsCom, Semarang – Kerusakan jalan seolah menjadi hal yang lumrah terjadi setiap musim hujan. Namun kadangkala, kerusakan jalan itu tak langsung ditangani dan bahkan hingga dalam waktu yang sangat lama.

Akibatnya, kerusakan jalan sering mengganggu aktivitas warga, bahkan kerap memicu kecelakaan. Masyarakat biasanya hanya pasrah dan mengeluh. Padahal yang belum banyak diketahui, masyarakat sebenarnya bisa melakukan langkah hukum.

Bahkan pemerintah bisa terkena jeratan pidana jika sengaja membiarkan jalan tetap rusak. Pakar Transportasi dari Unika Soegijapranoto Semarang, Djoko Setijowarno menyebut, sesuai UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Linta dan Angkutan Jalan, pemerintah mempunyai kewajiban untuk langsung memperbaiki kerusakan jalan.

“Aparat Kementerian PUPR atau Dinas Bina Marga/Dinas PU di daerah sesuai kewenangan, masih banyak yang tidak memahami akan jeratan hukum akan mengenai mereka, jika membiarkan jalan rusak tanpa dilakukan perbaikan segera,” katanya dilansir Metrojateng.com, Rabu (28/2/2018).

Ia menyebut, dalam pasal 24 ayat 1 undang undang tersebut secara tegas dijelaskan, penyelenggara wajib segara dan patut memperbaiki kerusakan jalan yang dapat memicu kecelakaan. Namun selama ini yang sering jadi alasan adalah masalah cuaca dan anggaran.

Menurutnya, jika kondisi cuaca dan keterbatasan anggaran, ada langkah yang harus dilakukan pemerintah. Yakni memberikan peringatan kepada pengguna jalan untuk lebih waspada dan berhati-hati.

”Ini sesuai pasal 24 ayat 1. Jika belum dilakukan perbaikan jalan yang rusak, penyelenggara jalan wajib memberi tanda atau rambu pada jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Begitu juga dengan pasal 273 juga menyebut sanksi terhadap pembiaran kerusakan jalan ini. Jika kerusakan jalan mengakibatkan kecelakaan dan menimbulkan korban ringan, penyelenggara jalan bisa dipidana kurungan paling lama enam bulan atau denda maksimal Rp 12 juta.

Sementara jika mengakibatkan luka berat, bisa dipidana kurungan maksimal 1 tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta. Jika korban meninggal dunia, dapat dipidana penjara hingga 5 tahun atau denda paling banyak Rp 120 juta.

Sementara, jika penyelenggaran jalan tidak memberi tanda atau rambu pada jalan rusak dan belum diperbaiki dapat dipidana kurungan penjara hingga 6 bulan atau dendan bayar maksimal Rp 1,5 juta.

Editor : Ali Muntoha

Banyak Lubang, Penggunaan Jalan Purwodadi – Kudus Diminta Hati-hati

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pengguna jalan yang melintasi jalur Purwodadi-Kudus sebaiknya perlu berhati-hati. Soalnya, saat ini banyak muncul lubang jalan yang bisa membahayakan pengendara, khususnya pengendara sepeda motor.

Dari pantauan di lapangan, jalan yang terdapat banyak lubang terlihat mulai dari sebelah barat SMPN 1 Grobogan hingga wilayah Kecamatan Brati. Di ruas jalan milik Pemprov Jateng ini ada beberapa titik jalan berlubang.

Lubang pada jalan berkonstruksi cor beton terlihat cukup panjang di beberapa titik. Kondisi ini menyebabkan para pengendara harus mengurangi kecepatan.

“Lubang jalan ini mulai muncul sejak dua bulan terakhir. Kondisi lubang jalan makin tambah banyak dan melebar akibat huyuran hujan,” kata Zulkifli, warga setempat, Jumat (15/2/2018).

Lubang jalan yang sempat muncul tampaknya sudah sempat ditutup menggunakan lapisan aspal. Namun, penutupan lubang dengan aspal tampaknya tidak bisa maksimal. Banyaknya kendaraan yang lewat, terutama kendaraan bertonase besar menjadikan aspal penutup lubang cepat mengelupas.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa menyatakan, laporan adanya lubang jalan di ruas jalan tersebut sudah diterima. Pihaknya, langsung melakukan pengecekan ke lapangan.

Dijelaskan, untuk menekan kecelakaan, upaya sementara sudah dilakukan dengan memberi tanda disekeliling lubang jalan dengan cat semprot. Hal itu dilakukan agar pengendara sudah mengetahui ada lubang jalan dari kejauhan sehingga bisa mengurangi kecepatan.

“Memang ada cukup banyak lubang jalan yang kita temukan. Kondisi jalan di jalur menuju Kudus sudah kita koordinasikan dengan instansi terkait agar segera ditangani,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPT Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya Pemprov Jateng Wilayah Purwodadi, Barkah Widiharsono membenarkan adanya beberapa kerusakan pada ruas jalan Purwodadi-Kudus tersebut. Menurut Barkah, kerusakan di jalur tersebut akan segera ditangani.

“Saat ini, masih dalam proses pengadaan. Dalam waktu dekat akan kita perbaiki,” katanya.

Perbaikan ruas jalan yang berlubang di jalur Purwodadi-Kudus akan dilakukan dengan cara pembetonan ulang. Titik yang berlubang akan dipotong dan dilapisi lagi dengan beton baru. Kemudian untuk jalan yang tingkat kerusakannya lebih ringan akan ditambal.

Menurut Barkah ada beberapa faktor yang menyebabkan jalan itu rusak. Antara lain, tonase kendaraan yang melintasi diatas kelas jalan, kontur tanah dan kualitas serta umur jalan yang sudah lama.

Editor : Supriyadi

Perbaikan Jalan Diponegoro Purwodadi yang Njeglong Telan Rp 1,2 Miliar

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya lubang di ruas Jalan Diponegoro Purwodadi, Kabupaten Grobogan, akan segera ditangani dalam waktu dekat. Pemkab Grobogan melalui Dinas PUPR sudah mengalokasikan dana untuk perbaikan jalan menuju Solo itu senilai Rp 1,2 miliar.

Kepala Dinas PUPR Grobogan Subiyono menyatakan, meski sudah ada alokasi dana tetapi proses perbaikan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Soalnya, harus dilakukan proses pelelangan pekerjaan terlebih dulu.

“Anggarannya cukup besar. Jadi, perlu melalui proses lelang dulu,” katanya.

Menurutnya, penanganan jalan berlubang itu akan ditangani darurat terlebih dahulu. Yakni, menutup lubang jalan dengan lapisan aspal ATB. Terutama di sekitar kawasan perempatan Danyang yang tingkat kerusakannya dinilai paling parah.

Aspal untuk penanganan darurat sudah disiapkan, tetapi belum bisa digelar di jalan. Soalnya, kondisi cuaca masih hujan hampir tiap hari.

“Aspalnya sudah siap. Kita tunggu cuaca dulu. Kalau pas tidak hujan akan segera kita gelar,” katanya.

Baca : Lubang Di Jalan Diponegoro Purwodadi Membahayakan

Selain jalan berlubang, kawasan Perempatan Danyang juga selalu terendam air hingga 25 sentimeter saat hujan deras. Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas jadi tersendat dan menimbulkan kemacetan cukup panjang karena kendaraan harus berjalan pelan.

“Untuk banjir di Perempatan Danyang disebabkan mampetnya saluran drainase di sekitarnya. Kalau ini sudah kita tangani dengan membersihkan sampah dan mengeruk sedimentasi di saluran drainase,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

 

Lubang di Jalan Diponegoro Purwodadi Membahayakan

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pengendara dan warga di sekitar Jalan Diponegoro Purwodadi berharap agar ada penanganan lubang jalan yang muncul di kawasan tersebut. Harapan itu dilontarkan lantaran keberadaan lubang jalan sudah membahayakan pengguna jalan. Khususnya, pengendara sepeda motor.

“Beberapa hari lalu, saya nyaris terperosok lubang di dekat Perempatan Danyang. Saya berharap lubang jalan ini segera ditutup karena membahayakan. Lebih-lebih kalau malam atau pas hujan karena lubangnya gak begitu kelihatan,” cetus Ari Ansori, warga Godong yang beberapa hari lalu sempat melintasi Jalan Diponegoro.

Dari pantauan di lapangan, keluhan warga ini memang ada benarnya. Pada ruas jalan sepanjang 1,5 km yang terbelah dua lajur ini memang banyak terdapat lubang jalan. Baik sisi timur menuju arah Solo maupun sisi barat yang mengarah ke kota Purwodadi.

Lubang yang ada di ruas Jalan Diponegoro membahayakan pengguna jalan dan butuh penanganan secepatnya.
(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Lubang jalan ini, ada yang berukuran kecil dan dangkal. Namun, banyak pula yang ukurannya lebar dan dalam sehingga membahayakan pengguna jalan.

Keberadaan lubang di Jalan Diponegoro ini paling banyak terdapat di sekitar traffic light Perempatan Danyang. Lubang jalan di sekitar sini ukurannya cukup lebar dan dalam.

Bahkan, tepat di tengah perempatan ada satu lubang cukup besar. Selain cukup dalam, pada lubangan ini juga nongol rel kereta api.

Sekadar diketahui, sisi timur jalan Diponegoro ini, dulunya memang merupakan jalur kereta api jurusan Purwodadi-Solo. Tetapi, setelah jalur itu tidak aktif, relnya tetap berada disitu dan ditutup aspal guna pelebaran ruas jalan.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panjie Gedhe Prabawa menyatakan, setelah masuknya musim hujan memang terdapat banyak lubang jalan bermunculan. Pihaknya, langsung melakukan pengecekan ke lapangan ke sejumlah ruas jalan menuju kota sekitar.

“Memang ada cukup banyak lubang jalan yang kita temukan. Nanti akan kita koordinasikan dengan instansi terkait agar segera ditangani,” jelasnya, Senin (01/01/2018).

Dijelaskan, sebelum dilakukan penanganan, upaya sementara sudah dilakukan. Yakni, memberi tanda di sekeliling lubang jalan dengan cat semprot. Upaya itu dilakukan agar pengendara sudah mengetahui ada lubang jalan dari kejauhan sehingga bisa mengurangi kecepatan.

Editor : Ali Muntoha

 

Ganjar Klaim 4 Tahun Bangun 1.000 KM Jalan di Jateng

Pekerja tengah melakukan pembetonan jalan. Selama 4 tahun terakhir Pemprov Jateng telah membangun lebih dari 1.000 km jalan provinsi. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Selama memimpin Jawa Tengah atau empat tahun terakhir, Gubernur Ganjar Pranowo mengklaim telah membangun lebih dari 1.000 km jalan provinsi. Hingga saat ini kondisi jalan milik provinsi yang dalam kondisi baik mencapai 88,92 persen.

Data pada Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta karya Provinsi Jateng, dalam pencanangan Tahun Infrastruktur yang dilakukan sejak 2014, peningkatan jalan provinsi telah mencapai 1.569,294 km.

Rinciannya, pembetonan jalan sepanjang 364,735 km dan overlay serta pelebaran jalan sepanjang 640,209 km.

Kondisi ini jauh meningkat dibanding pada 2013, di mana jalan provinsi yang telah dilakukan pembetonan baru 202,941 km. Sedangkan overlay dan pelebaran hanya mencakup 361,409 km.

”Jika ditotal, peningkatan jalan provinsi pada era Ganjar Pranowo saja mencapai 1.007,944 km,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Jateng Bambang NK.

Ia menyebut, total panjang jalan provinsi saat ini 2.404,741 km, dan yang dalam kondisi baik mencapai 88,92 persen. “Ini sesuai target RPJMD, meningkat dari 86,5 persen pada 2013,” ujarnya.

Jalan-jalan di Jateng tak hanya mulus tapi juga lebar. Panjang jalan dengan lebar lebih dari enam meter kini mencakup 77,46 % dari sebelumnya hanya 50,44 % pada 2013.

Sedangkan jalan kabupaten/kota, 62,76 persen dalam kondisi baik. Meningkat drastis dari 2013 yang hanya 50,48 persen. Sementara jalan nasional kondisi baik telah mencapai 92,03 persen.

Selain itu, akses jalan penunjang pariwisata juga meningkat menjadi 71,04 persen. “Sepanjang 368,852 kilometer dari 519,223 kilometer jalan menuju lokasi wisata kini telah tertangani baik,” tegas Bambang.

Ganjar Pranowo menyatakan, pihaknya juga terus mendorong pembangunan infrastruktur yang menjadi kewenangan pusat serta kabupaten/kota. Untuk pusat terutama jalan tol trans Jawa yang ditargetkan selesai pada 2018.

Menurut Ganjar, infrastruktur memang menjadi fokus utama pada tahun-tahun awal dirinya menjabat. Ia mengapresiasi keseriusan jajaran pemprov yang merespon program Tahun Infrastruktur untuk memenuhi ekspektasi masyarakat.

“Sejak saya dilantik laporan dan pengaduan masyarakat paling banyak soal jalan rusak, sekarang dengan pembenahan maksimal keluhan-keluhan baik di twitter maupun website Laporgub sudah jauh berkurang,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Perintahkan Monitoring Proyek Ditingkatkan

Saat sidak, Bupati Grobogan Sri Sumarni sempat menyalami seorang bocah dari Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo yang akan berangkat sekolah dengan diantar ibunya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) untuk meningkatkan intensitas monitoring ke lokasi proyek.

Khususnya, proyek yang bersentuhan dengan masyarakat, seperti perbaikan jalan dan jembatan. Hal itu perlu dilakukan untuk melihat perkembangan dilapangan dan memastikan pekerjaan sudah dilakukan sesuai ketentuan.

“Tahun anggaran 2017 tinggal menyisakan waktu tiga bulan lagi. Untuk itu monitoring harus lebih ditingkatkan frekuensinya. Saya tidak ingin kebiasaan menunda pekerjaan hingga menumpuk pada akhir tahun jangan sampai terjadi lagi. Program kerja yang sudah direncanakan agar segera dilaksanakan tepat waktu,” cetusnya, saat sidak proyek perbaikan jalan, Sabtu (30/9/2017).

Sidak proyek perbaikan jalan dilangsungkan seharian dan ada beberapa titik yang dipantau. Antara lain di wilayah Kecamatan Tawangharjo, Kradenan, Pulokulon, dan Toroh. Kepala DPUPR Grobogan Subiyono dan Kabag Humas Ayong Muchtarom ikut mendampingi Sri Sumarni saat melangsungkan sidak.

Menurutnya, semua pekerjaan yang bersentuhan dengan masyarakat luas harus mendapat prioritas. Misalnya, sarana jalan dan jembatan karena hasilnya sudah sangat dinantikan masyarakat luas. Ia juga meminta rekanan yang memenangkan lelang proyek perbaikan jalan untuk bekerja secara profesional dan mematuhi semua komitmen yang tertuang dalam kontrak.

“Tahun ini, dana Rp 420 miliar kita kucurkan khusus untuk perbaikan jalan. Kepala DPUPR harus memastikan anak buahnya melakukan monitoring dengan baik. Kalau ada rekanan yang tidak mengerjakan proyek sesuai ketentuan segera diberi sanksi sesuai aturan. Dalam pengawasan proyek, kita juga melibatkan aparat penegak hukum melalui tim TP4D,” tegasnya.

Sejumlah warga yang kebetulan berpapasan dengan Sri Sumarni sempat melontarkan ungkapan terima kasih atas datangnya proyek perbaikan jalan. “Sekarang jalannya sudah mulus. Saya kalau ngantar anak berangkat sekolah jadi mudah,” ungkap salah seorang warga Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, saat bertemu bupati ketika akan mengantar anaknya sekolah dengan sepeda roda tiga. 

Editor: Supriyadi

Anggaran 420 Miliar untuk Perbaikan Jalan Rusak di Grobogan Ternyata Masih Kurang, Ini Alasannya

Meski sudah digelontorkan dana besar namun masih banyak ruas jalan di Grobogan yang butuh sentuhan perbaikan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MurianewsCom, Grobogan – Pemkab Grobogan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sudah mengalokasikan dana fantastis untuk perbaikan jalan remuk tahun ini. Yakni, sebesar Rp 420 miliar yang digunakan untuk perbaikan jalan sepanjang 161 km.

Meski demikian, dana yang sudah digelontorkan itu ternyata belum mencukupi untuk memperbaiki semua jalan rusak yang ada di Grobogan.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono mengungkapkan, jalan dengan status milik kabupaten panjang keseluruhan mencapai 890 km. Dari angka ini, jalan yang kondisinya baik baru 48,5 persen atau sekitar 400 km. Dengan perbaikan tahun ini, ditargetkan bisa mengurangi ruas jalan rusak sekitar 15,5 persen atau sepanjang 161 km.

”Dengan perbaikan yang kita lakukan saat ini, ruas jalan yang rusak tinggal 36 persen saja. Sisanya akan diperbaiki bertahap pada tahun anggaran berikutnya dengan menyesuaikan anggaran yang tersedia,” jelas Subiyono, saat mendampingi Sekda Grobogan Moh Sumarsono ketika melangsungkan kegiatan monitoring beberapa titik proyek perbaikan jalan sambil bersepeda, Jumat (29/9/2017).

Baca Juga: Fantastis, Perbaikan Jalan di Grobogan Tahun ini Telan Dana 420 Miliar

Menurut Subiyono, untuk menuntaskan perbaikan jalan berikutnya masih butuh dana sekitar Rp 800 miliar. Tahun 2018 dan 2019, ditargetkan dana perbaikan jalan rusak dialokasikan Rp 400 miliar per tahunnya. Dengan demikian, perbaikan semua ruas jalan kabupaten bisa tuntas dalam dua tahun anggaran mendatang.

Ditambahkan, perbaikan jalan di Grobogan memang membutuhkan dana yang sangat besar. Sebab, luas wilayah Grobogan menempati peringkat kedua di Jawa Tengah sehingga ruas jalan yang dimiliki sangat panjang.

Selain itu, perbaikan jalan harus dilakukan dengan konstruksi beton yang membutuhkan dana sangat besar. Kondisi ini terjadi lantaran tekstur tanah di Grobogan relatif labil, tidak seperti di daerah lainnya.

”Kondisi tanah kita, angka CBR nya rendah sekali. Sehingga harus dilakukan konstruksi beton. Hal ini yang menjadikan biaya perbaikan jalan butuh dana besar,” kata mantan Kepala Dinas Pengairan itu.

Editor: Supriyadi

Fantastis, Perbaikan Jalan di Grobogan Tahun ini Telan Dana 420 Miliar

Petugas melakukan perbaikan jalan di salah satu sudut di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perbaikan jalan rusak di Grobogan tahun ini barangkali mencatat rekor paling besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terkait dengan besarnya alokasi dana dan panjang jalan yang diperbaiki.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, proyek perbaikan jalan tahun 2017 ini alokasi anggarannya mencapai Rp 420 miliar. Dana sebanyak ini digunakan untuk perbaikan jalan sepanjang 161 km dengan konstruksi beton.

Perbaikan ini tersebar merata di 19 kecamatan dan diprioritaskan untuk jalan yang jadi akses antar desa dan antar kecamatan.

”Jalan yang diperbaiki tahun ini memang cukup panjang. Kalau dikalkulasi, panjang jalan yang diperbaiki ini sejauh Purwodadi sampai Pekalongan,” jelas Subiyono, saat mendampingi Sekda Grobogan Moh Sumarsono ketika melangsungkan kegiatan monitoring beberapa titik proyek perbaikan jalan sambil bersepeda, Jumat (29/9/2017).

Dijelaskan, Selain APBD, dana perbaikan jalan tahun ini berasal dari beberapa sumber lainnya. Antara lain, dari dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK) dan bantuan keuangan Provinsi Jateng. Selain itu, Pemkab Grobogan juga mengajukan pinjaman pada pihak ketiga sebanyak Rp 200 miliar khusus untuk proyek perbaikan jalan.

Perbaikan jalan dengan dana Rp 420 miliar itu terbagi sekitar 250 paket pekerjaan. Semua paket pekerjaan yang dananya dari APBD penetapan sudah dalam tahap pelaksanaan dengan progres rata-rata sekitar 65 persen.

”Kalau pekerjaan yang dananya dari APBD penetapan sudah jalan semua. Untuk pekerjaan dari APBD perubahan senilai sekitar Rp 38 miliar, baru selesai lelang. Pertengahan Oktober nanti baru dimulai. Semua proyek perbaikan jalan ini didampingi tim TP4D Kejaksaaan Negeri Grobogan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

DPRD Jateng Sebut Jalan di Pati Lebih Baik dari Daerah Lain

Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah Kartina Sukawati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota Komisi D DPRD Jawa Tengah Kartina Sukawati menyebut, jalan di Kabupaten Pati jauh lebih baik dari kabupaten lain. Hal itu didasarkan pada sejumlah pengamatan yang ia lakukan selama terjun ke lapangan.

“Saat ini jalan di Pati jauh lebih baik daripada kabupaten lain, karena adanya pemerataan pembangunan. Kita harapkan wilayah lainnya di Jateng tiga mengikuti, terutama Blora dan Rembang,” ujar Ina, Senin (11/9/2017).

Sesuai dengan Perda tentang Standarisasi Jalan Kolektor Primer dan Sekunder di Provinsi Jawa Tengah, jalan provinsi sekarang ini harus memiliki ruang milik jalan selebar tujuh meter. Dengan demikian, jalan provinsi di Jawa Tengah dipastikan sudah baik karena mengacu pada standar baru yang ditetapkan Perda.

Di Pati sendiri ada empat jalan yang semula berstatus jalan kabupaten beralih menjadi jalan provinsi. Salah satunya, jalan yang berhubungan dengan perbatasan, Jalan Kembangjoyo dan Jalan Dr Susanto Pati.

“Jalan kabupaten yang beralih status menjadi jalan provinsi tentu akan jauh lebih baik. Sebab, jalan provinsi sudah punya standar baru yang diatur Perda. Rata-rata jalan provinsi sudah dicor,” jelas Ina.

Ia menambahkan, jalan yang baik akan berpengaruh pada kemajuan suatu daerah. Pasalnya, infrastruktur jalan menjadi jalur perputaran ekonomi masyarakat yang turut memberikan kontribusi pada negara.

Karena itu, Ia akan terus memperjuangkan infrastruktur jalan di wilayah Jateng, terutama dapil III. “Kita sering sidak di perbatasan-perbatasan wilayah antarkabupaten. Jalannya memprihatinkan, sehingga kalau kabupaten tidak mampu kita ambil alih,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Warga Kasreman Keluhkan Truk Pengangkut Material PT Malindo Feedmill yang Lewat Permukiman

Tampak truk pengangkut material pembangunan pabrik milik PT Malindo Feedmill melintasi jalan poros Desa Kasreman saat pagi hari. Hal ini, disebut-sebut berdampak adanya polusi dan jalan rusak di desa setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Warga Desa Kasreman, Kecamatan Rembang, mengeluhkan banyaknya truk pengangkut material yang akan digunakan untuk membangun pabrik milik PT Malindo Feedmill yang berada di desa tersebut.

Syarifin, salah satu warga Desa Kasreman RT 08 RW02 mengatakan, sejak kendaraan pengangkut bahan bangunan melintasi jalan dalam desa atau kawasan permukiman warga, mengakibatkan polusi. Tak hanya itu, katanya, hal tersebut juga berdampak kerusakan jalan.

“Selain itu, jalur yang dilalui truk-truk tersebut banyak anak-anak kecil yang  bermain. Sehingga orang tua khawatir. Apalagi kalau pas waktu pulang sekolah, namanya anak-anak, kadang bercanda, kalau pas ada truk pengangkut material itu kan mengkhawatirkan juga,” katanya.

Ia berharap, supaya pemerintah desa bisa memfasilitasi dan memediasi antara warga dan pihak perusahaan, agar hal seperti ini dapat dicarikan solusi terbaik. Sehingga, warga tidak dirugikan dengan adanya pembangunan pabrik di desanya itu.

Sementara itu, Kepala Desa Kasreman Karyono menyampaikan, jika banyaknya truk yang mengakses jalan desa, warga yang tinggal di tepi jalan menjadi terkena dampak polusi udara.

“Soal ini, kami akan mengarahkan kendaraan agar masuk dari arah utara, lewat pantura. Selama ini masuknya lewat gapura Desa Kasreman, sehingga melewati permukiman warga,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Jalan Rusak di Desa Pasucen Pati Bakal Dibetonisasi

Sebuah kendaraan truk melintasi jalan Desa Pasucen yang mengalami kerusakan parah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jalan di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati yang dikeluhkan warga karena banyak berlubang dan tidak layak akhirnya akan segera dibetonisasi. Hal itu disampaikan Kepala Desa Pasucen, Ikhwan Rosyadi, Selasa (14/3/2017).

Rencananya, betonisasi akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang. Betonisasi direncanakan menggunakan dana desa dan dana aspirasi.

“Rencana pengaspalan sebetulnya sudah dilakukan pada 2016 lalu. Hanya saja, anggaran baru cair pada Juni 2017. Kondisi semacam ini, masyarakat mesti tahu sehingga bisa saling memahami,” ungkap Ikhwan.

Langkah betonisasi akan dilakukan, karena jalan tersebut selama ini banyak dilalui truk bermuatan tanah. Karena itu, penggunaan aspal dinilai kurang tepat sehingga butuh jalan berbeton yang lebih kuat.

“Banyak truk bermuatan tanah yang lewat. Kalau perbaikan jalan menggunakan aspal, saya kira akan cepat rusak lagi. Karena itu, kami merencanakan akan melakukan betonisasi supaya lebih awet,” tuturnya.

Baca juga : Warga Keluhkan Rusaknya Jalan Desa Pasucen Pati yang Tak Kunjung Diperbaiki

Penggunaan dana desa untuk betonisasi jalan diakui tidak cukup. Untuk itu, pihaknya membutuhkan dana aspirasi supaya perbaikan jalan dengan betonisasi dapat berjalan baik dengan anggaran yang memadahi.

Dia menambahkan, proses betonisasi akan dilakukan secara bertahap dengan melakukan betonisasi sepanjang 200 meter. Bila ada anggaran lagi, ia berjanji akan melakukan betonisasi seluruh jalan sehingga masyarakat bisa menikmati akses jalan yang baik.

Editor : Kholistiono

Warga Keluhkan Rusaknya Jalan Desa Pasucen Pati yang Tak Kunjung Diperbaiki

Pengguna jalan tengah melintas di jalan Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil yang rusak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah warga Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati mengeluhkan kondisi jalan penghubung Wonokerto-Pasucen yang rusak parah. Pada saat hujan, kubangan jalan tertutup air sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan.

Salah satu yang mengeluhkan kondisi jalan tersebut, antara lain Sunaryo, warga setempat. Dia mengatakan, kerusakan jalan tersebut sudah lama terjadi. Namun, sampai saat ini diakui belum ada perhatian dari pemerintah desa.

“Sampai saat ini, belum ada perbaikan jalan, baik pengaspalan maupun penambalan. Kabarnya sempat mau diaspal lagi, tapi sampai saat ini tidak ada kabarnya lagi,” ungkap Sunaryo, Senin (13/3/2017).

Dia cukup menyayangkan pemdes, lantaran masing-masing desa setiap triwulan mendapatkan bantuan dana desa. Menurutnya, dana desa bisa digunakan untuk kepentingan infrastruktur. Terlebih, akses jalan desa memang mengalami kerusakan yang cukup parah.

“Saat ini ada dana desa. Namun, jalan yang rusak masih belum mendapatkan perhatian. Padahal, akses jalan penting untuk perputaran ekonomi masyarakat. Mestinya segera diperbaiki biar dana desa dirasakan untuk kepentingan publik,” harap Sunaryo.

Sementara itu, Muhammad Arifin, salah satu pengguna jalan merasa ikut prihatin. Sebab, jalan tersebut sempat membuat pengguna jalan mengalami kecelakaan.

Dia berharap, pemdes segera memperbaiki jalan tersebut sehingga pengguna jalan nyaman dan aman ketika melintas. Selain persoalan keselamatan, akses jalan yang baik juga diakui bisa melancarkan akses roda perekonomian penduduk setempat.

Editor : Kholistiono

 

Protes Jalan Rusak, Warga Tanam Kembang di Tengah Jalan Soekarno-Hatta Jepara

Jalan Soekarno-Hatta Jepara, tepatnya di depan BRI Unit Ngabul yang ditanami kembang sejak sepekan terakhir ini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Sejumlah ruas jalan beraspal di wilayah Kabupaten Jepara mengalami kerusakan yang cukup parah. Baik itu jalan nasional dan jalan kabupaten, kondisinya memprihatinkan.

Pantauan MuriaNewsCom di Jalan Soekarno-Hatta, Jepara, tampak ada beberapa lubang di jalan yang membahayakan bagi pengendara, khususnya pengendara sepeda motor. Bahkan, warga sengaja menanam kembang di tengah jalan yang kondisinya berlubang. Hal tersebut sebagai bentuk protes atas lambannya penanganan pemeliharaan jalan oleh pihak terkait.

Jalan berlubang tersebut berada persis di depan Kantor BRI Unit Ngabul. Di mana, jalan tersebut merupakan akses utama dari Kota Jepara menuju Kudus, Demak atau Semarang.

Edi Susilo, salah satu warga Langon, Kecamatan Tahunan yang berdekatan dengan lokasi tersebut mengatakan, jalan berlubang di kawasan tersebut sudah sekitar tiga pekan lalu. Sedangkan, kembang yang ditempatkan warga di tempat itu sudah sekitar sepekan lamanya.

“Lubang itu memang cukup membahayakan bagi pengendara sepeda motor. Terlebih pengguna jalan yang berasal dari Jepara menuju ke selatan. Sebab, letaknya berada di sebelah timur marka jalan,” katanya.

Ia menilai, penanaman kembang tersebut bisa efektif memberikan tanda bahaya bagi pengguna jalan. “Sebelum diberikan pohon, sempat ada pengendara yang jatuh lantaran salah satu rodanya terperosok di dalam lubang itu. Terlebih, di saat hujan lebat. Sebab saat hujan, jarak pandang terbatas, dan lubangnya pun tertutup air, sehingga penglihatan menjadi samar,” ungkapnya.

Dirinya juga menyatakan, jika sejauh ini, belum ada pihak terkait yang datang meninjau kondisi jalan tersebut. “Kalaupun ada dinas atau pihak terkait yang memantau, tentunya di pinggir atau sisi lubangan itu sudah diberikan cat, pilok atau penanda lain yang biasanya aka nada perbaikan. Namun, setahu saya juga belum ada,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

Baru Sebulan Diperbaiki, Aspal di Sepanjang Jalan R Suprapto Purwodadi Sudah ‘Dirusak’ Lagi

Sebagian ruas Jalan R Suprapto Purwodadi yang baru selesai diaspal ulang akhir tahun 2016 dibongkar oleh pekerja proyek penggalian fiber optic. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sebagian ruas Jalan R Suprapto Purwodadi yang baru selesai diaspal ulang akhir tahun 2016 dibongkar oleh pekerja proyek penggalian fiber optic. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sejumlah warga dan pengendara yang melintasi jalan R Suprapto dalam beberapa hari terakhir menyoroti kondisi jalur utama Kota Purwodadi. Hal ini terkait adanya proyek penggalian kabel optik yang dilakukan sejak sepekan terakhir.

Adanya pekerjaan ini membuat sebagian aspal jalan terpaksa dibongkar oleh pekerja. Padahal, pada akhir tahun 2016 lalu, jalan sepanjang sepanjang 1,6 km itu baru saja selesai diaspal ulang dengan dana Rp 3,2 miliar.

“Proyek pengaspalan Jalan R Suprapto ini kan baru satu bulan lalu selesai. Lha kok sudah diacak-acak lagi,” ungkap Ahmadun, warga yang melintas di jalan tersebut.

Selain itu, warga juga mengeluhkan adanya sebagian gundukan tanah bekas galian yang dibiarkan di pinggir jalan. Sebab, keberadaan gundukan tanah itu dinilai cukup mengganggu.

Adanya belasan gundukan tanah di sisi barat jalan juga mengurangi lahan parkir sepeda motor. Sebab, di ruas sebelah barat memang digunakan untuk areal parkir kendaraan roda dua. Sedangkan di sisi timur tempat parkir roda empat.

Adanya gundukan tanah yang jumlahnya mencapai belasan titik itu juga rawan menimbulkan kecelakaan. Terutama, saat ada hujan deras yang mengguyur lokasi itu. Jika terkena hujan maka gundukan tanah itu akan jadi lembek dan sebagian meluber ke tengah jalan.

Kondisi itu menjadikan jalan menjadi licin. Jika tidak hati-hati, pengendara bisa tergelincir. Terutama saat melakukan pengereman.“Sebagian tanah bekas galian memang sudah dimasukkan karung. Tetapi, kalau hujan bekas tanah galian yang ada disekitar lubang jadi lembek dan keluar ke jalanan lewat sela-sela tatanan karung,” cetus Ismi, warga lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono ketika dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya sudah menyikapi adanya proyek galian fiber optic tersebut. Secepatnya, dia akan mengundang rekanan yang mengerjakan proyek tersebut supaya berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Rencananya, besok atau lusa kita akan undang rekanannya. Nanti kita akan hadirkan pula perwakilan dari Dinas Perhubungan, Satpol PP, Badan Lingkungan Hidup, dan Perizinan,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

Jalan Pertanian di Blora Rusak Parah, Warga Minta Perhatian Pemkab

Jalan pertanian rusak parah di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Jalan pertanian rusak parah di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Jalan pertanian sepanjang tiga kilometer yang ada di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora rusak parah. Kerusakan tersebut ditengarai oleh seringnya truk pengangkut hasil pertanian dan peternakan di daerah tersebut.

Yudi Noor (34), warga setempat, mengaku bahwa kerusakan jalan tersebut sejak musim panen pertama hingga musim panen kedua. Pasalnya, seusai panen, banyak kendaraan rda empat yang melewati jalur tersebut.

Ia juga merasa kesulitan ketika harus melewati jalur tersebut ketika hendak ke sawah. ”Rekoso banget, jalan berupa lumpur yang naik sepeda harus dituntun,” kata Yudi.

Dia memerinci kerusakan jalan terlihat mulai dari jalan dengan lebar lima meter di sebelah timur  dukuh Doyok hingga pertigaan makam. Akses transportasi sepanjang 1,5 kilometer tersebut memang masih berbatu yang rusak akibat guyuran hujan dan tonase yang lemah.

Untuk kerusakan kedua, dari pertigaan makam memasuki jalan setapak bekas rel kereta api. ”Jalan sejauh dua kilometer dengan lebar tiga meter itu tidak bisa dilewati sepeda motor,” ungkapnya.

Hutomo, Kepala Dukuh Doyok, mengaku, bahwa akses mobilisasi pertanian yang melewati jalan tersebut sangatlah vital. Setiap hari dilewati warga Dukuh Ngriking, Kemiri, Nglahar, Ngrejeng, Kodokan dan beberapa desa lain untuk mengambil rumput pakan ternak sapi di lahan Perhutani BKPH Ngrangkang.

”Pemdes sudah pernah memprogramkan berupa proyek pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Namun realisasinya nihil. Kita belum tahu kapan akan dibangun,” ujarnya.

Dia mengharapkan supaya Bupati Blora Djoko Nugroho melalui SKPD terkait dan anggota DPRD Kabupaten Blora dapat memprogramkan pembangunan JUT. Sehingga ribuan petani yang melewati jalan tersebut dapat lancar.

”Kalau tidak tahun ini, Pemkab dan DPRD bisa memprogramkan pada tahun 2017 atau tahun 2018,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

PLTU Tanjung Jati B Jepara Berdalih, CSR Perbaikan Jalan Terjadi Miss Komunikasi

Jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Corporate Social Responsibility (CSR) PLTU Tanjung Jati B (TJB) Jepara sebesar Rp 1,5 miliar untuk perbaikan jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul tahun 2015 belum dilaksanakan. Pihak PLTU TJB mengakui hal itu, dan beralasan jika tahun lalu memang belum terlaksana karena terjadi mis komunikasi antara mereka dengan pihak Pemkab Jepara.

Staf Humas PLTU TJB Jepara, Grahita Muhammad mengatakan dana yang dialokasikan untuk perbaikan jalan memang belum terlaksana. Persoalan tersebut diakuinya lebih pada mis komunikasi. Sebab pihaknya tetap berkomitmen melakukan perbaikan badan jalan lingkar sesuai hasil “kesepakatan” dengan Pemkab Jepara.

”Masalahnya ada pada mis komunikasi. Sebenarnya sudah dianggarkan, namun pelaksanaannya melalui proses. Ketika diproses terjadi mis komunikasi dengan Pemkab,” ujar Grahita, Kamis (26/5/2016).

Lebih lanjut dia menerangkan, tahun 2015, pihaknya sebenarnya sudah menindaklanjuti surat dari Bupati Jepara terkait perbaikan sejumlah titik di jalan lingkar Mulyoharjo – Ngabul. Namun karena perbaikan badan jalan itu menelan anggaran hingga Rp 1,5 miliar maka mensyaratkan adanya proses lelang agar kegiatan itu bisa dilaksanakan.

“’Kalau di atas Rp 300 juta memang harus lelang. Dan proses itu kita tempuh,” kata dia.

Ternyata saat proses lelang sedang berjalan, lanjut dia, sejumlah titik badan jalan yang rusak itu justru malah dikerjakan pemkab. Praktis, pihaknya pun menghentikan proses lelang hingga akhirnya kegiatan perbaikan yang seharusnya menjadi jatah Pembangkitan TJB pada tahun 2015 pun diurungkan.

”Infonya pemkab kelebihan anggaran makanya titik-titik yang rusak itu dikerjakan sendiri. Kita juga tidak mungkin mengerjakan karena sudah diperbaiki,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya memastikan jika kegiatan perbaikan badan jalan lingkar yang dibiayai CSR PLTU TJB itu akan dilakukan tahun ini. Anggaran yang digelontorkan sekitar Rp 1,3 miliar. ”Saat ini masih proses lelang. Kalau proses itu rampung langsung dikerjakan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara untuk Perbaikan Jalan 2015 Tak Jelas

Jalan Lingkar Mulyoharjo-Ngabul yang dijanjikan akan dibangun menggunakan dana CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan Lingkar Mulyoharjo-Ngabul yang dijanjikan akan dibangun menggunakan dana CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLTU Tanjung Jati B Jepara, untuk perbaikan jalan di jalan lingkar Mulyoharjo-Ngabul sebesar Rp 1,5 miliar pada tahun 2015 tidak cair. Hal itu seperti disampaikan Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Kabupaten Jepara, Hartaya.

Menurut Hartaya, PLTU Tanjung Jati B pernah menjanjikan perbaikan jalan sebesar Rp 1,5 miliar untuk perbaikan jalan lingkar tersebut di tahun 2015. Namun sampai tahun akhir Mei 2016 ini perbaikan tersebut belum dilaksanakan. Sedangkan tahun 2016 ini mengenai CSR untuk perbaikan jalan belum ada kejelasan.

”Untuk tahun 2015 lalu tidak ada pelaksanaan perbaikan jalan oleh PLTU. Sebelumnya PLTU merencanakan perbaikan jalan sebesar Rp 1,5 miliar,” ujar Hartaya kepada MuriaNewsCom, Rabu (25/5/2016).

Akibat tidak ada pelaksanaan perbaikan jalan oleh PLTU, jalur lingkar tersebut harus dilakukan perbaikan oleh pihaknya melalui program pemeliharaan rutin dengan cara menambal jalan yang berlubang. Dia juga mengakui jika pemeliharaan rutin yang dilakukan di jalur lingkar kurang efektif lantaran jalan tersebut menjadi jalan yang dilalui kendaraan yang bertonase tinggi.

”Jalan itu memang harus beton, karena kalau tidak beton tidak akan berumur panjang. Tonase yang lewat sangat berat,” kata Hartaya.

Dia menambahkan, kendala yang dihadapi dalam melakukan pemeliharaan jalan adalah cuaca. Mengingat saat ini hujan masih turun mengguyur Bumi Kartini. Akibatnya sejumlah titik di jalan lingkar tersebut juga masih banyak yang belum diperbaiki.

Editor: Supriyadi

Jadi Jalur Penting, Warga Grobogan Ingin Jalan di Kawasan Hutan Tersentuh Perbaikan

Jalan dari Desa Godan menuju Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo yang melalui kawasan hutan sudah butuh penanganan. (MuriaNesCom/Dani Agus)

Jalan dari Desa Godan menuju Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo yang melalui kawasan hutan sudah butuh penanganan. (MuriaNesCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah cukup banyak dana yang digelontorkan untuk perbaikan jalan, namun sejauh ini masih banyak kondisi jalan yang belum tersentuh perbaikan. Yakni, jalan penghubung antar desa yang melintasi kawasan hutan milik Perhutani.

Warga berharap, penanganan jalan ini bisa diambil alih Pemkab Grobogan. Sebab, akses jalan yang membelah kawasan hutan ini sudah jadi jalur penting buat warga dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

”Jalan penghubung antar desa yang melalui kawasan hutan ini kondisinya tidak pernah mulus. Kami berharap agar masalah ini diperhatikan. Soalnya, kalau kondisi jalan bagus maka roda perekonomian warga bisa ikut berkembang,” kata Sutrisno, warga Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo.

Dari pantauan di lapangan, harapan warga kondisi jalan di kawasan hutan ini memang cukup beralasan. Akses jalan dari Desa Godan menuju kawasan air terjun Widuri di Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo misalnya, jaraknya hanya sekitar 5 km.

Namun, jarak yang tergolong dekat itu bisa ditempuh dalam waktu hampir 30 menit. Hal ini terjadi karena kondisi jalannya penuh bebatuan dan tidak rata. Jika kondisi jalan mulus maka waktu tempuh bisa lebih cepat.

”Kalau tidak hujan, kondisi jalan masih mendingan ketika dilewati. Tetapi kalau pas hujan, kondisi jalan lebih berat. Terutama buat kendaraan roda empat,” kata Jasmo, warga lainnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ketika dimintai tanggapannya menyatakan, akses jalan penghubung antar desa yang melintasi kawasan hutan Perhutani memang cukup banyak dan terdapat di beberapa kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Toroh, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Brati, Geyer, Ngaringan, Gabus, dan Kedungjati.

”Di sini memang banyak jalan penghubung antar desa yang melewati kawasan hutan. Kondisi ini terjadi karena secara geografis, wilayah Grobogan memang dikelilingi kawasan hutan,” ujarnya.
Menurutnya, perbaikan jalan yang ada di kawasan hutan itu memang tidak bisa dilakukan. Sebab, lahan itu bukan jadi aset pemkab tetapi milik Perhutani. ”Untuk bisa memperbaiki jalan itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Tetapi harus menempuh prosedur terlebih dahulu. Yakni, meminta izin pada Perhutani,” katanya.

Ditempat terpisah, Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri ketika dimintai tanggapannya menyatakan, pengambil alihan aset jalan di kawasan hutan oleh Pemkab Grobogan itu sangat dimungkinkan. Sebab, masalah tata aturan pemakaian kawasan hutan itu sudah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

”Lahan yang bisa diambil alih penanganannya ini salah satu syaratnya adalah, sebelumnya sudah berupa alur jalan. Artinya tidak membuat jalan baru di kawasan hutan. Mekanisme pemakaian kawasan hutan ini tidak sulit dalam dan kita akan bantu jika pemkab memang mengajukan izin atau permohonan,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ada Rekahan, Hati-hati Melintas di Jalan Raya Danyang-Kuwu Grobogan

Rekahan di Jalan Raya Danyang-Kuwu sangat membahayakan pengguna jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rekahan di Jalan Raya Danyang-Kuwu sangat membahayakan pengguna jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sebagian besar jalan sudah dicor beton, namun pengendara yang melintasi Jalan Raya Danyang-Kuwu diminta hati-hati. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa melewati jalur tersebut.

Pasalnya, meski terlihat mulus, namun di beberapa titik ada ruas jalan beton yang merekah dibagian tengahnya, sehingga cukup membahayakan pengguna jalan. Terutama bagi pengendara sepeda motor, lantaran roda kendaraan bisa terperosok pada rekahan jalan tersebut.

“Pada pengguna jalan agar tidak terlena saat berkendara di jalan yang lurus dan kelihatannya bagus. Sebab, saat sudah terlena, biasanya pengendara akan memacu laju kendaraannya untuk lebih cepat lagi. Padahal, hal itu sangat membahayakan bagi keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” kata Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo menanggapi peristiwa kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tersebut, Selasa (23/2/2016) lalu.

Dari pantauan di lokasi, ruas jalan yang merekah tersebut, mulai masuk Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi hingga Desa Sembungharjo, Kecamatan Pulokulon. Panjang jalan yang merekah ini bervariasi. Antara 5 sampai 10 meter.

Bagi kendaraan roda empat, kondisi jalan yang merekah ini tidak begitu terasa. Tetapi buat kendaraan roda dua sangat berbahaya. Soalnya, jika roda sudah terperosok dalam rekahan tersebut, kemungkinan risiko terjatuh cukup tinggi.

“Beberapa waktu lalu, ruas jalan merekah ini sudah sempat ditambal kerikil dan ditutup aspal. Tetapi, lantaran kena hujan rekahan itu kembali muncul,” kata Sugiro, warga Kandangan.

Menurut warga, upaya penutupan rekahan itu tidak sebatas menutup dengan kerikil saja. Tetapi, harus dilakukan pengecoran dibagian pinggir jalan yang berfungsi sebagai penahan bahu jalan.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Senggolan Motor, Seorang Pelajar MA di Grobogan Tewas Terlindas Truk

 

Kades Sudah Laporkan Jalan Rusak Ke BPESDM Kudus, Warga Diminta Bersabar

Salah satu pohon yang ditanam di tengah jalan menuju wisata Bulusan, Hadipolo, Jekulo sebagai bentuk protes warga setempat terkait jalan rusak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pohon yang ditanam di tengah jalan menuju wisata Bulusan, Hadipolo, Jekulo sebagai bentuk protes warga setempat terkait jalan rusak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Aksi penanaman pohon di tengah jalan oleh Warga Desa Hadipolo RT 5 RW 5, Kecamatan Jekulo merupakan aksi protes, karena rusaknya jalan yang tak kunjung diperbaiki. Terkait hal itu, Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan mengutarakan, sebelum adanya aksi tersebut, pihaknya sudah melaporkan kondisi jalan rusak di RT 5 RW 5 Hadipolo ke Dinas Bina Marga, Pengairan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (BPESDM) Kabupaten Kudus.

”Sekitar bulan Oktober-November 2015 kami sudah melaporkannya ke BPESDM Kudus. Dinas tersebut juga mengatakan kondisi jalan itu sudah masuk ke KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran – Prioritas dan Plafon Anggaran) tahun 2016 mendatang,” paparnya.

Selain itu, lanjut Wawan, masyarakat juga harus bersabar untuk menindak lanjuti pembangunan. Sebab pencairan anggaran juga harus melalui proses, prosedur yang memang bertahap dan cermat. Sehingga kedepannya tidak timbul kesalahan.

Diketahui, rusaknya jalan yang berada di RT 5 RW 5 Hadipolo, Jekulo tersebut merupakan jalan kabupaten yang nantinya dibangun dengan anggaran APBD Kudus.

”Itu merupakan jalan Pemkab. Sehingga pembangunannya juga menggunakan APBD. Namun saya harap masyarakat bersabar, dan ikut mendukung untuk pembangunan ini,” ujarnya.

Dia menilai, kerusakan jalan menuju wisata Bulusan itu memang sudah satu tahun terakhir ini. Oleh karenanya, pihak desa sekitar bulan Oktober-November 2015 sering berkoordinasi dengan dinas terkait supaya pembangunan segera dimulai.

Dengan adanya kejadian aksi penanaman pohon di tengah jalan oleh warganya. Saat ini pihak desa akan menjadwalkan kerja bakti dalam perbaikan jalan tersebut.

”Hari Minggu besok, kami akan melakukan kerja bakti tambal sulam terhadap jalan rusak tersebut. Sehingga kedepannya bisa digunakan dengan baik oleh warga,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)