Warga Kasreman Keluhkan Truk Pengangkut Material PT Malindo Feedmill yang Lewat Permukiman

Tampak truk pengangkut material pembangunan pabrik milik PT Malindo Feedmill melintasi jalan poros Desa Kasreman saat pagi hari. Hal ini, disebut-sebut berdampak adanya polusi dan jalan rusak di desa setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Warga Desa Kasreman, Kecamatan Rembang, mengeluhkan banyaknya truk pengangkut material yang akan digunakan untuk membangun pabrik milik PT Malindo Feedmill yang berada di desa tersebut.

Syarifin, salah satu warga Desa Kasreman RT 08 RW02 mengatakan, sejak kendaraan pengangkut bahan bangunan melintasi jalan dalam desa atau kawasan permukiman warga, mengakibatkan polusi. Tak hanya itu, katanya, hal tersebut juga berdampak kerusakan jalan.

“Selain itu, jalur yang dilalui truk-truk tersebut banyak anak-anak kecil yang  bermain. Sehingga orang tua khawatir. Apalagi kalau pas waktu pulang sekolah, namanya anak-anak, kadang bercanda, kalau pas ada truk pengangkut material itu kan mengkhawatirkan juga,” katanya.

Ia berharap, supaya pemerintah desa bisa memfasilitasi dan memediasi antara warga dan pihak perusahaan, agar hal seperti ini dapat dicarikan solusi terbaik. Sehingga, warga tidak dirugikan dengan adanya pembangunan pabrik di desanya itu.

Sementara itu, Kepala Desa Kasreman Karyono menyampaikan, jika banyaknya truk yang mengakses jalan desa, warga yang tinggal di tepi jalan menjadi terkena dampak polusi udara.

“Soal ini, kami akan mengarahkan kendaraan agar masuk dari arah utara, lewat pantura. Selama ini masuknya lewat gapura Desa Kasreman, sehingga melewati permukiman warga,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Jalan Rusak di Desa Pasucen Pati Bakal Dibetonisasi

Sebuah kendaraan truk melintasi jalan Desa Pasucen yang mengalami kerusakan parah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jalan di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati yang dikeluhkan warga karena banyak berlubang dan tidak layak akhirnya akan segera dibetonisasi. Hal itu disampaikan Kepala Desa Pasucen, Ikhwan Rosyadi, Selasa (14/3/2017).

Rencananya, betonisasi akan dilakukan pada Juni 2017 mendatang. Betonisasi direncanakan menggunakan dana desa dan dana aspirasi.

“Rencana pengaspalan sebetulnya sudah dilakukan pada 2016 lalu. Hanya saja, anggaran baru cair pada Juni 2017. Kondisi semacam ini, masyarakat mesti tahu sehingga bisa saling memahami,” ungkap Ikhwan.

Langkah betonisasi akan dilakukan, karena jalan tersebut selama ini banyak dilalui truk bermuatan tanah. Karena itu, penggunaan aspal dinilai kurang tepat sehingga butuh jalan berbeton yang lebih kuat.

“Banyak truk bermuatan tanah yang lewat. Kalau perbaikan jalan menggunakan aspal, saya kira akan cepat rusak lagi. Karena itu, kami merencanakan akan melakukan betonisasi supaya lebih awet,” tuturnya.

Baca juga : Warga Keluhkan Rusaknya Jalan Desa Pasucen Pati yang Tak Kunjung Diperbaiki

Penggunaan dana desa untuk betonisasi jalan diakui tidak cukup. Untuk itu, pihaknya membutuhkan dana aspirasi supaya perbaikan jalan dengan betonisasi dapat berjalan baik dengan anggaran yang memadahi.

Dia menambahkan, proses betonisasi akan dilakukan secara bertahap dengan melakukan betonisasi sepanjang 200 meter. Bila ada anggaran lagi, ia berjanji akan melakukan betonisasi seluruh jalan sehingga masyarakat bisa menikmati akses jalan yang baik.

Editor : Kholistiono

Warga Keluhkan Rusaknya Jalan Desa Pasucen Pati yang Tak Kunjung Diperbaiki

Pengguna jalan tengah melintas di jalan Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil yang rusak. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah warga Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati mengeluhkan kondisi jalan penghubung Wonokerto-Pasucen yang rusak parah. Pada saat hujan, kubangan jalan tertutup air sehingga tak jarang menyebabkan kecelakaan.

Salah satu yang mengeluhkan kondisi jalan tersebut, antara lain Sunaryo, warga setempat. Dia mengatakan, kerusakan jalan tersebut sudah lama terjadi. Namun, sampai saat ini diakui belum ada perhatian dari pemerintah desa.

“Sampai saat ini, belum ada perbaikan jalan, baik pengaspalan maupun penambalan. Kabarnya sempat mau diaspal lagi, tapi sampai saat ini tidak ada kabarnya lagi,” ungkap Sunaryo, Senin (13/3/2017).

Dia cukup menyayangkan pemdes, lantaran masing-masing desa setiap triwulan mendapatkan bantuan dana desa. Menurutnya, dana desa bisa digunakan untuk kepentingan infrastruktur. Terlebih, akses jalan desa memang mengalami kerusakan yang cukup parah.

“Saat ini ada dana desa. Namun, jalan yang rusak masih belum mendapatkan perhatian. Padahal, akses jalan penting untuk perputaran ekonomi masyarakat. Mestinya segera diperbaiki biar dana desa dirasakan untuk kepentingan publik,” harap Sunaryo.

Sementara itu, Muhammad Arifin, salah satu pengguna jalan merasa ikut prihatin. Sebab, jalan tersebut sempat membuat pengguna jalan mengalami kecelakaan.

Dia berharap, pemdes segera memperbaiki jalan tersebut sehingga pengguna jalan nyaman dan aman ketika melintas. Selain persoalan keselamatan, akses jalan yang baik juga diakui bisa melancarkan akses roda perekonomian penduduk setempat.

Editor : Kholistiono

 

Protes Jalan Rusak, Warga Tanam Kembang di Tengah Jalan Soekarno-Hatta Jepara

Jalan Soekarno-Hatta Jepara, tepatnya di depan BRI Unit Ngabul yang ditanami kembang sejak sepekan terakhir ini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Sejumlah ruas jalan beraspal di wilayah Kabupaten Jepara mengalami kerusakan yang cukup parah. Baik itu jalan nasional dan jalan kabupaten, kondisinya memprihatinkan.

Pantauan MuriaNewsCom di Jalan Soekarno-Hatta, Jepara, tampak ada beberapa lubang di jalan yang membahayakan bagi pengendara, khususnya pengendara sepeda motor. Bahkan, warga sengaja menanam kembang di tengah jalan yang kondisinya berlubang. Hal tersebut sebagai bentuk protes atas lambannya penanganan pemeliharaan jalan oleh pihak terkait.

Jalan berlubang tersebut berada persis di depan Kantor BRI Unit Ngabul. Di mana, jalan tersebut merupakan akses utama dari Kota Jepara menuju Kudus, Demak atau Semarang.

Edi Susilo, salah satu warga Langon, Kecamatan Tahunan yang berdekatan dengan lokasi tersebut mengatakan, jalan berlubang di kawasan tersebut sudah sekitar tiga pekan lalu. Sedangkan, kembang yang ditempatkan warga di tempat itu sudah sekitar sepekan lamanya.

“Lubang itu memang cukup membahayakan bagi pengendara sepeda motor. Terlebih pengguna jalan yang berasal dari Jepara menuju ke selatan. Sebab, letaknya berada di sebelah timur marka jalan,” katanya.

Ia menilai, penanaman kembang tersebut bisa efektif memberikan tanda bahaya bagi pengguna jalan. “Sebelum diberikan pohon, sempat ada pengendara yang jatuh lantaran salah satu rodanya terperosok di dalam lubang itu. Terlebih, di saat hujan lebat. Sebab saat hujan, jarak pandang terbatas, dan lubangnya pun tertutup air, sehingga penglihatan menjadi samar,” ungkapnya.

Dirinya juga menyatakan, jika sejauh ini, belum ada pihak terkait yang datang meninjau kondisi jalan tersebut. “Kalaupun ada dinas atau pihak terkait yang memantau, tentunya di pinggir atau sisi lubangan itu sudah diberikan cat, pilok atau penanda lain yang biasanya aka nada perbaikan. Namun, setahu saya juga belum ada,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

Baru Sebulan Diperbaiki, Aspal di Sepanjang Jalan R Suprapto Purwodadi Sudah ‘Dirusak’ Lagi

Sebagian ruas Jalan R Suprapto Purwodadi yang baru selesai diaspal ulang akhir tahun 2016 dibongkar oleh pekerja proyek penggalian fiber optic. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sebagian ruas Jalan R Suprapto Purwodadi yang baru selesai diaspal ulang akhir tahun 2016 dibongkar oleh pekerja proyek penggalian fiber optic. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sejumlah warga dan pengendara yang melintasi jalan R Suprapto dalam beberapa hari terakhir menyoroti kondisi jalur utama Kota Purwodadi. Hal ini terkait adanya proyek penggalian kabel optik yang dilakukan sejak sepekan terakhir.

Adanya pekerjaan ini membuat sebagian aspal jalan terpaksa dibongkar oleh pekerja. Padahal, pada akhir tahun 2016 lalu, jalan sepanjang sepanjang 1,6 km itu baru saja selesai diaspal ulang dengan dana Rp 3,2 miliar.

“Proyek pengaspalan Jalan R Suprapto ini kan baru satu bulan lalu selesai. Lha kok sudah diacak-acak lagi,” ungkap Ahmadun, warga yang melintas di jalan tersebut.

Selain itu, warga juga mengeluhkan adanya sebagian gundukan tanah bekas galian yang dibiarkan di pinggir jalan. Sebab, keberadaan gundukan tanah itu dinilai cukup mengganggu.

Adanya belasan gundukan tanah di sisi barat jalan juga mengurangi lahan parkir sepeda motor. Sebab, di ruas sebelah barat memang digunakan untuk areal parkir kendaraan roda dua. Sedangkan di sisi timur tempat parkir roda empat.

Adanya gundukan tanah yang jumlahnya mencapai belasan titik itu juga rawan menimbulkan kecelakaan. Terutama, saat ada hujan deras yang mengguyur lokasi itu. Jika terkena hujan maka gundukan tanah itu akan jadi lembek dan sebagian meluber ke tengah jalan.

Kondisi itu menjadikan jalan menjadi licin. Jika tidak hati-hati, pengendara bisa tergelincir. Terutama saat melakukan pengereman.“Sebagian tanah bekas galian memang sudah dimasukkan karung. Tetapi, kalau hujan bekas tanah galian yang ada disekitar lubang jadi lembek dan keluar ke jalanan lewat sela-sela tatanan karung,” cetus Ismi, warga lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono ketika dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya sudah menyikapi adanya proyek galian fiber optic tersebut. Secepatnya, dia akan mengundang rekanan yang mengerjakan proyek tersebut supaya berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Rencananya, besok atau lusa kita akan undang rekanannya. Nanti kita akan hadirkan pula perwakilan dari Dinas Perhubungan, Satpol PP, Badan Lingkungan Hidup, dan Perizinan,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

Jalan Pertanian di Blora Rusak Parah, Warga Minta Perhatian Pemkab

Jalan pertanian rusak parah di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Jalan pertanian rusak parah di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Jalan pertanian sepanjang tiga kilometer yang ada di Dukuh Doyok, Desa Kemiri, Kunduran, Blora rusak parah. Kerusakan tersebut ditengarai oleh seringnya truk pengangkut hasil pertanian dan peternakan di daerah tersebut.

Yudi Noor (34), warga setempat, mengaku bahwa kerusakan jalan tersebut sejak musim panen pertama hingga musim panen kedua. Pasalnya, seusai panen, banyak kendaraan rda empat yang melewati jalur tersebut.

Ia juga merasa kesulitan ketika harus melewati jalur tersebut ketika hendak ke sawah. ”Rekoso banget, jalan berupa lumpur yang naik sepeda harus dituntun,” kata Yudi.

Dia memerinci kerusakan jalan terlihat mulai dari jalan dengan lebar lima meter di sebelah timur  dukuh Doyok hingga pertigaan makam. Akses transportasi sepanjang 1,5 kilometer tersebut memang masih berbatu yang rusak akibat guyuran hujan dan tonase yang lemah.

Untuk kerusakan kedua, dari pertigaan makam memasuki jalan setapak bekas rel kereta api. ”Jalan sejauh dua kilometer dengan lebar tiga meter itu tidak bisa dilewati sepeda motor,” ungkapnya.

Hutomo, Kepala Dukuh Doyok, mengaku, bahwa akses mobilisasi pertanian yang melewati jalan tersebut sangatlah vital. Setiap hari dilewati warga Dukuh Ngriking, Kemiri, Nglahar, Ngrejeng, Kodokan dan beberapa desa lain untuk mengambil rumput pakan ternak sapi di lahan Perhutani BKPH Ngrangkang.

”Pemdes sudah pernah memprogramkan berupa proyek pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT). Namun realisasinya nihil. Kita belum tahu kapan akan dibangun,” ujarnya.

Dia mengharapkan supaya Bupati Blora Djoko Nugroho melalui SKPD terkait dan anggota DPRD Kabupaten Blora dapat memprogramkan pembangunan JUT. Sehingga ribuan petani yang melewati jalan tersebut dapat lancar.

”Kalau tidak tahun ini, Pemkab dan DPRD bisa memprogramkan pada tahun 2017 atau tahun 2018,” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

PLTU Tanjung Jati B Jepara Berdalih, CSR Perbaikan Jalan Terjadi Miss Komunikasi

Jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Corporate Social Responsibility (CSR) PLTU Tanjung Jati B (TJB) Jepara sebesar Rp 1,5 miliar untuk perbaikan jalan di jalur lingkar Mulyoharjo-Ngabul tahun 2015 belum dilaksanakan. Pihak PLTU TJB mengakui hal itu, dan beralasan jika tahun lalu memang belum terlaksana karena terjadi mis komunikasi antara mereka dengan pihak Pemkab Jepara.

Staf Humas PLTU TJB Jepara, Grahita Muhammad mengatakan dana yang dialokasikan untuk perbaikan jalan memang belum terlaksana. Persoalan tersebut diakuinya lebih pada mis komunikasi. Sebab pihaknya tetap berkomitmen melakukan perbaikan badan jalan lingkar sesuai hasil “kesepakatan” dengan Pemkab Jepara.

”Masalahnya ada pada mis komunikasi. Sebenarnya sudah dianggarkan, namun pelaksanaannya melalui proses. Ketika diproses terjadi mis komunikasi dengan Pemkab,” ujar Grahita, Kamis (26/5/2016).

Lebih lanjut dia menerangkan, tahun 2015, pihaknya sebenarnya sudah menindaklanjuti surat dari Bupati Jepara terkait perbaikan sejumlah titik di jalan lingkar Mulyoharjo – Ngabul. Namun karena perbaikan badan jalan itu menelan anggaran hingga Rp 1,5 miliar maka mensyaratkan adanya proses lelang agar kegiatan itu bisa dilaksanakan.

“’Kalau di atas Rp 300 juta memang harus lelang. Dan proses itu kita tempuh,” kata dia.

Ternyata saat proses lelang sedang berjalan, lanjut dia, sejumlah titik badan jalan yang rusak itu justru malah dikerjakan pemkab. Praktis, pihaknya pun menghentikan proses lelang hingga akhirnya kegiatan perbaikan yang seharusnya menjadi jatah Pembangkitan TJB pada tahun 2015 pun diurungkan.

”Infonya pemkab kelebihan anggaran makanya titik-titik yang rusak itu dikerjakan sendiri. Kita juga tidak mungkin mengerjakan karena sudah diperbaiki,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya memastikan jika kegiatan perbaikan badan jalan lingkar yang dibiayai CSR PLTU TJB itu akan dilakukan tahun ini. Anggaran yang digelontorkan sekitar Rp 1,3 miliar. ”Saat ini masih proses lelang. Kalau proses itu rampung langsung dikerjakan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara untuk Perbaikan Jalan 2015 Tak Jelas

Jalan Lingkar Mulyoharjo-Ngabul yang dijanjikan akan dibangun menggunakan dana CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan Lingkar Mulyoharjo-Ngabul yang dijanjikan akan dibangun menggunakan dana CSR PLTU Tanjung Jati B Jepara rusak parah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PLTU Tanjung Jati B Jepara, untuk perbaikan jalan di jalan lingkar Mulyoharjo-Ngabul sebesar Rp 1,5 miliar pada tahun 2015 tidak cair. Hal itu seperti disampaikan Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Kabupaten Jepara, Hartaya.

Menurut Hartaya, PLTU Tanjung Jati B pernah menjanjikan perbaikan jalan sebesar Rp 1,5 miliar untuk perbaikan jalan lingkar tersebut di tahun 2015. Namun sampai tahun akhir Mei 2016 ini perbaikan tersebut belum dilaksanakan. Sedangkan tahun 2016 ini mengenai CSR untuk perbaikan jalan belum ada kejelasan.

”Untuk tahun 2015 lalu tidak ada pelaksanaan perbaikan jalan oleh PLTU. Sebelumnya PLTU merencanakan perbaikan jalan sebesar Rp 1,5 miliar,” ujar Hartaya kepada MuriaNewsCom, Rabu (25/5/2016).

Akibat tidak ada pelaksanaan perbaikan jalan oleh PLTU, jalur lingkar tersebut harus dilakukan perbaikan oleh pihaknya melalui program pemeliharaan rutin dengan cara menambal jalan yang berlubang. Dia juga mengakui jika pemeliharaan rutin yang dilakukan di jalur lingkar kurang efektif lantaran jalan tersebut menjadi jalan yang dilalui kendaraan yang bertonase tinggi.

”Jalan itu memang harus beton, karena kalau tidak beton tidak akan berumur panjang. Tonase yang lewat sangat berat,” kata Hartaya.

Dia menambahkan, kendala yang dihadapi dalam melakukan pemeliharaan jalan adalah cuaca. Mengingat saat ini hujan masih turun mengguyur Bumi Kartini. Akibatnya sejumlah titik di jalan lingkar tersebut juga masih banyak yang belum diperbaiki.

Editor: Supriyadi

Jadi Jalur Penting, Warga Grobogan Ingin Jalan di Kawasan Hutan Tersentuh Perbaikan

Jalan dari Desa Godan menuju Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo yang melalui kawasan hutan sudah butuh penanganan. (MuriaNesCom/Dani Agus)

Jalan dari Desa Godan menuju Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo yang melalui kawasan hutan sudah butuh penanganan. (MuriaNesCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah cukup banyak dana yang digelontorkan untuk perbaikan jalan, namun sejauh ini masih banyak kondisi jalan yang belum tersentuh perbaikan. Yakni, jalan penghubung antar desa yang melintasi kawasan hutan milik Perhutani.

Warga berharap, penanganan jalan ini bisa diambil alih Pemkab Grobogan. Sebab, akses jalan yang membelah kawasan hutan ini sudah jadi jalur penting buat warga dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

”Jalan penghubung antar desa yang melalui kawasan hutan ini kondisinya tidak pernah mulus. Kami berharap agar masalah ini diperhatikan. Soalnya, kalau kondisi jalan bagus maka roda perekonomian warga bisa ikut berkembang,” kata Sutrisno, warga Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo.

Dari pantauan di lapangan, harapan warga kondisi jalan di kawasan hutan ini memang cukup beralasan. Akses jalan dari Desa Godan menuju kawasan air terjun Widuri di Desa Kemaduhbatur, Kecamatan Tawangharjo misalnya, jaraknya hanya sekitar 5 km.

Namun, jarak yang tergolong dekat itu bisa ditempuh dalam waktu hampir 30 menit. Hal ini terjadi karena kondisi jalannya penuh bebatuan dan tidak rata. Jika kondisi jalan mulus maka waktu tempuh bisa lebih cepat.

”Kalau tidak hujan, kondisi jalan masih mendingan ketika dilewati. Tetapi kalau pas hujan, kondisi jalan lebih berat. Terutama buat kendaraan roda empat,” kata Jasmo, warga lainnya.

Sementara itu, Bupati Grobogan Bambang Pudjiono ketika dimintai tanggapannya menyatakan, akses jalan penghubung antar desa yang melintasi kawasan hutan Perhutani memang cukup banyak dan terdapat di beberapa kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Toroh, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Brati, Geyer, Ngaringan, Gabus, dan Kedungjati.

”Di sini memang banyak jalan penghubung antar desa yang melewati kawasan hutan. Kondisi ini terjadi karena secara geografis, wilayah Grobogan memang dikelilingi kawasan hutan,” ujarnya.
Menurutnya, perbaikan jalan yang ada di kawasan hutan itu memang tidak bisa dilakukan. Sebab, lahan itu bukan jadi aset pemkab tetapi milik Perhutani. ”Untuk bisa memperbaiki jalan itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Tetapi harus menempuh prosedur terlebih dahulu. Yakni, meminta izin pada Perhutani,” katanya.

Ditempat terpisah, Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri ketika dimintai tanggapannya menyatakan, pengambil alihan aset jalan di kawasan hutan oleh Pemkab Grobogan itu sangat dimungkinkan. Sebab, masalah tata aturan pemakaian kawasan hutan itu sudah diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

”Lahan yang bisa diambil alih penanganannya ini salah satu syaratnya adalah, sebelumnya sudah berupa alur jalan. Artinya tidak membuat jalan baru di kawasan hutan. Mekanisme pemakaian kawasan hutan ini tidak sulit dalam dan kita akan bantu jika pemkab memang mengajukan izin atau permohonan,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ada Rekahan, Hati-hati Melintas di Jalan Raya Danyang-Kuwu Grobogan

Rekahan di Jalan Raya Danyang-Kuwu sangat membahayakan pengguna jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rekahan di Jalan Raya Danyang-Kuwu sangat membahayakan pengguna jalan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sebagian besar jalan sudah dicor beton, namun pengendara yang melintasi Jalan Raya Danyang-Kuwu diminta hati-hati. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa melewati jalur tersebut.

Pasalnya, meski terlihat mulus, namun di beberapa titik ada ruas jalan beton yang merekah dibagian tengahnya, sehingga cukup membahayakan pengguna jalan. Terutama bagi pengendara sepeda motor, lantaran roda kendaraan bisa terperosok pada rekahan jalan tersebut.

“Pada pengguna jalan agar tidak terlena saat berkendara di jalan yang lurus dan kelihatannya bagus. Sebab, saat sudah terlena, biasanya pengendara akan memacu laju kendaraannya untuk lebih cepat lagi. Padahal, hal itu sangat membahayakan bagi keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” kata Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Nur Cahyo menanggapi peristiwa kecelakaan yang terjadi di ruas jalan tersebut, Selasa (23/2/2016) lalu.

Dari pantauan di lokasi, ruas jalan yang merekah tersebut, mulai masuk Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi hingga Desa Sembungharjo, Kecamatan Pulokulon. Panjang jalan yang merekah ini bervariasi. Antara 5 sampai 10 meter.

Bagi kendaraan roda empat, kondisi jalan yang merekah ini tidak begitu terasa. Tetapi buat kendaraan roda dua sangat berbahaya. Soalnya, jika roda sudah terperosok dalam rekahan tersebut, kemungkinan risiko terjatuh cukup tinggi.

“Beberapa waktu lalu, ruas jalan merekah ini sudah sempat ditambal kerikil dan ditutup aspal. Tetapi, lantaran kena hujan rekahan itu kembali muncul,” kata Sugiro, warga Kandangan.

Menurut warga, upaya penutupan rekahan itu tidak sebatas menutup dengan kerikil saja. Tetapi, harus dilakukan pengecoran dibagian pinggir jalan yang berfungsi sebagai penahan bahu jalan.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Senggolan Motor, Seorang Pelajar MA di Grobogan Tewas Terlindas Truk

 

Kades Sudah Laporkan Jalan Rusak Ke BPESDM Kudus, Warga Diminta Bersabar

Salah satu pohon yang ditanam di tengah jalan menuju wisata Bulusan, Hadipolo, Jekulo sebagai bentuk protes warga setempat terkait jalan rusak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu pohon yang ditanam di tengah jalan menuju wisata Bulusan, Hadipolo, Jekulo sebagai bentuk protes warga setempat terkait jalan rusak. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Aksi penanaman pohon di tengah jalan oleh Warga Desa Hadipolo RT 5 RW 5, Kecamatan Jekulo merupakan aksi protes, karena rusaknya jalan yang tak kunjung diperbaiki. Terkait hal itu, Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan mengutarakan, sebelum adanya aksi tersebut, pihaknya sudah melaporkan kondisi jalan rusak di RT 5 RW 5 Hadipolo ke Dinas Bina Marga, Pengairan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (BPESDM) Kabupaten Kudus.

”Sekitar bulan Oktober-November 2015 kami sudah melaporkannya ke BPESDM Kudus. Dinas tersebut juga mengatakan kondisi jalan itu sudah masuk ke KUA-PPAS (Kebijakan Umum Anggaran – Prioritas dan Plafon Anggaran) tahun 2016 mendatang,” paparnya.

Selain itu, lanjut Wawan, masyarakat juga harus bersabar untuk menindak lanjuti pembangunan. Sebab pencairan anggaran juga harus melalui proses, prosedur yang memang bertahap dan cermat. Sehingga kedepannya tidak timbul kesalahan.

Diketahui, rusaknya jalan yang berada di RT 5 RW 5 Hadipolo, Jekulo tersebut merupakan jalan kabupaten yang nantinya dibangun dengan anggaran APBD Kudus.

”Itu merupakan jalan Pemkab. Sehingga pembangunannya juga menggunakan APBD. Namun saya harap masyarakat bersabar, dan ikut mendukung untuk pembangunan ini,” ujarnya.

Dia menilai, kerusakan jalan menuju wisata Bulusan itu memang sudah satu tahun terakhir ini. Oleh karenanya, pihak desa sekitar bulan Oktober-November 2015 sering berkoordinasi dengan dinas terkait supaya pembangunan segera dimulai.

Dengan adanya kejadian aksi penanaman pohon di tengah jalan oleh warganya. Saat ini pihak desa akan menjadwalkan kerja bakti dalam perbaikan jalan tersebut.

”Hari Minggu besok, kami akan melakukan kerja bakti tambal sulam terhadap jalan rusak tersebut. Sehingga kedepannya bisa digunakan dengan baik oleh warga,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Warga Kesambi Keluhkan Jalan Rusak

Jalan di Desa Kesambi yang jalannya rusak parah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Jalan di Desa Kesambi yang jalannya rusak parah (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sudah dua tahun jalan di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, kondisinya rusak, khususnya yang berada di sisi barat anak Sungai Piji, dengan panjang sekitar 500 meter. Hal ini membuat warga mengeluh.

Ketua BPD Kesambi Siti mengatakan, hingga kini jalan tersebut belum ada perbaikan. Sedangkan untuk status jalan, katanya adalah jalan kabupaten.

”Setelah terjadi bencana awal tahun lalu itu, akses warga terputus, karena jalan tidak bisa dilewati. Dengan itu, warga bergotong-royong dan swadaya masyarakat, memperbaiki jalan dengan cara menguruk jalan dengan tanah. Hingga saat ini, belum ada perbaikan dari pemerintah kabupaten,” ujar Siti.

Dia mengatakan, perbaikan jalan tidak bisa dianggarkan dari dana desa, karena status jalan tersebut merupakan jalan kabupaten. Namun pihak kabupaten juga tidak kunjung melakukan perbaikan.

”Jika ada hujankondisi jalan berkubang air dan licin, sehingga sangat mengganggu pengguna jalan. Kami berharap dari pemerintah daerah agar bisa memprioritaskan pembangunan jalan yang menjadi akses utama warga Desa Kesambi,” harapnya.

Sejumlah titik jalan kabupaten yang terletak di Desa Kesambi sudah hampir dua tahun belum tersentuh perbaikan dari pemerintah kabupaten setempat. Hal itu yang membuat sejumlah warga merasa kecewa.

Di saat musim kemarau beberapa waktu lalu, karena jalannya masih tanah, menyebabkan polusi udara dari debu yang berterbangan. Pengendara yang melintas harus menutupi hidung dan mulutnya dengan tangan. Bahkan, warga yang tempat tinggalnya berada di dekat lokasi jalan rusak harus rela menyiram jalan dengan air agar tidak berdebu. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

TNI dan Warga Tak Ingin Akses Jalan di Tunjungan Blora Rusak

TNI-tunjungan

Anggota Koramil 04/ Tunjungan melakukan karya bakti membangun jalan.

 

BLORA – Sejumlah anggota Koramil 04/Tunjungan, Kodim 0721/Blora melakukan karya bakti membatu pembuatan jalan makadam di Dukuh Bolasah, Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan, Blora.

Sekitar delapan personel anggota Koramil 04/Tunjungan yang terjun ke lapangan, bersama-sama warga, bahu membahu membangun jalan makadam sepanjang 325 meter dengan lebar 3 meter.

”Di berbagai kesempatan, personel kami selalu terlibat  di kegiatan masyarakat. Ini sudah merupakan salah satu tugas pokok kami,” kata Danramil 04/Tunjungan, Kapten Inf. Darmanto.

Kades Adirejo, Suhartono mengucapkan terima kasih kepada  jajaran Koramil 04/Tunjungan, yang selalu berperan di sejumlah pembangunan di desanya.

Jalan makadam yang dibangun bersama antara warga dan jajaran Koramil 04/Tunjungan tersebut cukup vital, yakni menghubungan antara Dukuh Bosalah, Desa Adirejo ke Dukuh Pendem, Desa Tambahrejo. (AKROM HAZAMI)

Perbaikan Jalan Godong-Purwodadi Hanya Tinggal 400 Meter Saja

Perbaikan Jalan Godong-Purwodai yang terhenti karena mengenai rel kereta api. Pebaikan jalan ini sebenarnya tinggal 400 meter (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perbaikan Jalan Godong-Purwodai yang terhenti karena mengenai rel kereta api. Pebaikan jalan ini sebenarnya tinggal 400 meter (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Dari total panjang Jalan Godong-Purwodadi yang diperbaiki, sebenarnya prosentase penyelesaiannya sudah mendekati akhir. Dimana, dari 5 km panjang jalan yang diperbaiki, hanya 400 tinggal meter saja belum bisa diselesaikan. Sebab, titik inilah yang mengenai rel kereta api sehingga perbaikan jalan itu berhenti untuk sementara.

”Jadi proyek ini sebenarnya tinggal sedikit saja yang belum bisa dikerjakan. Yakni, cuma 400 meter saja dari total pekerjaan sepanjang 5 km. Tepatnya, di depan Pasar Godong ke barat hingga pertigaan menuju arah Demak,” ujar Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Wilayah Purwodadi Ali Huda.

Menurutnya, untuk menyelesaikan proyek yang tersisa itu hanya diperlukan waktu sekitar 10 hari. Yakni, tiga hari digunakan untuk persiapan dan pengecoran.Kemudian, waktu sepekan dibutuhkan untuk pengerasan beton. Proses pengerasan beton itu bisa dipercepat dengan menggunakan bahan kimia khusus.

“Semua material untuk pengecoran jalan sepanjang 400 meter itu sudah siap di lokasi. Jadi, begitu masalah administrasi dengan PT KAI selesai, bisa cepat dikerjakan,” jelas Ali.

Dalam kesempatan itu, Ali membenarkan jika proyek perbaikan jalan itu sudah melewati batas waktu pengerjaan pada akhir Oktober lalu. Namun, hal itu terjadi akibat kondisi khusus, bukan karena faktor kinerja rekanan. Oleh sebab itu, penyelesaian pekerjaan itu bisa diberikan tambahan waktu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gara-gara Rel, Perbaikan Jalan Godong-Purwodadi Terhenti

 

Perbaikan Jalan Godong-Purwodadi terhenti sementara karena mengenai rel kereta api (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perbaikan Jalan Godong-Purwodadi terhenti sementara karena mengenai rel kereta api (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Perbaikan dan pelebaran jalan raya Godong-Purwodadi sepanjang 5 km terpaksa tidak bisa selesai tepat waktu. Sebab, perbaikan jalan dengan dana Rp 23 miliar itu terhenti sejak beberapa hari lalu. Gara-garanya, proyek yang dikerjakan PT Kadi Internasional itu ternyata mengenai rel kereta api yang masih tertanam di pinggir jalan atau disisi sebelah utara.

Akibat adanya rel yang tercongkel alat berat itu menyebabkan pihak PT KAI keberatan dan meminta agar Dinas Bina Marga Provinsi Jateng menghentikan perbaikan jalan yang mengenai rel kereta api yang sudah cukup lama tidak difungsikan tersebut.

Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Wilayah Purwodadi Ali Huda ketika dikonfirmasi membenarkan jika untuk sementara perbaikan jalan itu terhenti. Hal itu disebabkan, adanya sedikit lahan perbaikan yang mengenai rel kereta api.

”Saat ini, perbaikan jalan Godong-Purwodadi belum bisa diselesaikan dan sementara dihentikan dulu. Kita masih berkoordinasi dengan PT KAI mengenai kesepakatan pemanfaatan lahan untuk perbaikan jalan tersebut. Kalau masalah administrasinya sudah selesai, perbaikan jalan itu akan dilanjutkan lagi,” kata Ali.

Menurut Ali, pada prinsipnya PT KAI melalui Daop IV membolehkan penggunaan lahan itu untuk perbaikan dan pelebaran jalan. Sebab, proyek itu juga digunakan untuk kepentingan masyarakat luas. Hanya saja, proses administrasi penggunaan lahan itu harus dilakukan terlebih dahulu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Pembangunan Jalan di Desa Kedungdowo Dikebut

Kondisi jalan yang sudah di betonisasi di Desa Kedungdowo  (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kondisi jalan yang sudah di betonisasi di Desa Kedungdowo  (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS –Menghadapi musim penghujan, Pemerintah Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus berupaya untuk memaksimalkan anggaran yang telah diberikan oleh pemerintah untuk pembenahan jalan. Hal ini, dimaksudkan agar masyarakat dapat menikmati infrastruktur desa dengan nyaman.

“Ada dua jalan yang telah selesai kita perbaiki sesuai dengan target yaitu sebelum musim hujan tiba.
Kedua ruas jalan tersebut merupakan jalan tanggungjawab milik pemdes setempat,” ujar Darojatun, Kepala Desa Kedungdowo.

Untuk betonisasi menggunakan dana desa sebesar Rp 314 juta yang terletak di Dukuh Krajan RT 1-4, sepanjang kurang lebih 600 meter.

Dalam pembangunannya,pihaknya mengupayakan efisiensi waktu sehingga mampu diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan. “Sekitar 3 minggu sudah selesai agar jalan bisa segera digunakan oleh masyarakat, ” jelasnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Rusak, Jalur Danyang-Kuwu Grobogan Ancam Pengendara Celaka

Kendaraan melintasi jalan rusak di bagian tengah di sepanjang jalur jalan raya Danyang-Kuwu Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kendaraan melintasi jalan rusak di bagian tengah di sepanjang jalur jalan raya Danyang-Kuwu Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Hati-hati buat pengendara yang hendak melintasi jalan raya Danyang-Kuwu. Khususnya bagi yang tidak biasa melewati jalur tersebut. Pasalnya, di beberapa titik ada ruas jalan beton yang rusak di bagian tengah.

Dari pantauan di lokasi, ruas jalan yang rusak mulai masuk Desa Kandangan, Kecamatan Purwodadi hingga Desa Sembungharjo, Kecamatan Pulokulon. Panjang jalan yang rusak ini bervariasi. Antara lima sampai 10 meter.

Bagi kendaraan roda empat, kondisi jalan yang rusak ini tidak begitu terasa. Tetapi buat kendaraan roda dua sangat berbahaya. Soalnya, jika roda sudah terperosok dalam rekahan tersebut, kemungkinan terjatuh cukup tinggi.

“Kondisi jalan rusak ini sudah berlangsung sekitar dua bulan lalu. Awalnya, rekahannya kecil saja tetapi karena dilalui kendaraan berat tiap hari ukurannya jadi melebar dan panjang,” kata Sujadi, warga Kandangan.

Menurut warga, rekahan jalan itu sebelumnya sudah sempat di tangani dinas terkait. Yakni, dengan menjejali rekahan itu dengan kerikil dan kemudian ditutup aspal.
Meski demikian, upaya ini tida bisa tahan lama. Buktinya, rekahan itu kembali muncul seperti sebelumnya.

“Harusnya di bagian pinggir cor beton ada semacam pondasi penahan yang kuat. Kalau rekahan cuma diisi kerikil dan ditutup aspal tidak akan kuat lama. Bagi warga yang tidak terbiasa lewat sini sebaiknya hati-hati,” imbuh Harnanto, warga lainnya.

Selain jalan rusak, ada pula ruas jalan yang beda tinggi. Di mana, salah satu ruas beton ambles karena talud jalan tidak begitu kuat. Jalan yang beda tinggi ini kebanyakan sisi pinggirnya cukup dekat dengan parit saluran pembuangan air. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Jalan Rusak yang Ditanami Pohon di Kedongdowo Kudus Akhirnya Dibenahi

Warga tampak melintasi jalan yang rusak di Desa Desa Karangdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Warga tampak melintasi jalan yang rusak di Desa Desa Karangdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kegiatan yang dilakukan oleh warganya dengan menanam pohon pisang di tengah jalan yang rusak, sangat disayangkan oleh Pemerintah Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus.

Darojatun, Kepala Desa Kedungdowo mengatakan sebelum melakukan aksi tanam pisang ada warga yang sempat untuk meminta izin.

Darojatun menambahkan untuk meminimalisasi kerusakan jalan yang makin parah, bulan depan akan ditambal.

“Rencananya tadi dari pemerintah menyampaikan pada pertengahan bulan November 2015 jalan yang berlubang dan rusak ditembel. Kemudian 2016 nanti baru akan dibeton, ” jelasnya.

Mengingat tanah di Kedungdowo termasuk labil jadi kemungkinan jalan rusak sangat besar. Dengan demikian, pihaknya akan melakukan pembetonan jalan terlebih dahulu.

“Rencananya akan dibeton dahulu, ” ungkap Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu Kudus.

Darojatun juga menambahkan, dinas terkait serta dari pemerintah kecamatan juga telah menyampaikan bahwa usulan perbaikan jalan sudah ada. Namun memang sebelumnya sempat mundur dari harapan.
(AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Gara-gara Pohon Pisang Ditanam di Jalan Rusak, Warga Kedongdowo Beraudiensi

Warga tampak melintasi jalan yang rusak di Desa Desa Karangdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Warga tampak melintasi jalan yang rusak di Desa Desa Karangdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Aksi tanam pohon pisang di tengah jalan rusak yang dilakukan oleh warga Desa Karangdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Minggu (25/10/2015) sangat disayangkan berbagai pihak. Salah satunya oleh pemerintah kecamatan setempat.

Pada Selasa (27/10/2015) pemerintah kecamatan melalui camat dan sekretaris, dan Satpol PP serta beberapa perwakilan melakukan audiensi. Sementara dari Kedungdowo langsung dihadiri oleh perangkat desa serta perwakilan warga Desa Kedungdowo sebanyak lebih dari 35 orang.

“Seharusnya warga tidak perlu melakukan hal tersebut mengingat sebenarnya untuk pembenahan jalan sudah dianggarkan oleh dinas terkait pada tahun 2016 mendatang, ” ujar Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu.

Dalam audiensi tersebut pihaknya juga meminta warga untuk tidak melakukan aksi tersebut kembali. Sebab menurut undang-undang yang berlaku, aksi warga tersebut sangat menyalahi aturan dan bisa dikenakan sanksi.

“Intinya kita beri pemahaman ke masyarakat terkait aksi tersebut sebenarnya tidak diperbolehkan dan itu melanggar UU no 38 tahun 2014,” imbuhnya (AYU KHAZMI/AKROM HAZAMI)

Ini Jawaban Pemkab Kudus Terkait Protes Warga Desa Kedungdowo

Warga Kedungdowo memasang spanduk di jalan, sebagai bentuk protes. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Warga Kedungdowo memasang spanduk di jalan, sebagai bentuk protes. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Aksi tanam pohon pisang yang dilakukan oleh warga Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu hari ini, Minggu (25/10/2015) menarik perhatian banyak orang. Aksi ini, dilakukan sebagai wujud protes terhadap pemerintah kabupaten, karena tak kunjungnya ada perbaikan jalan desa setempat.

“Sebenarnya program perbaikan jalan di Desa Kedungdowo tersebut sudah masuk program pembenahan 2016,” ujar Sam’ani, Kepala Dinas Bina Marga dan ESDM Kudus.

Dalam hal ini, pihaknya meminta kepada masyarakat untuk dapat bersabar, karena untuk melakukan perbaikan jalan butuh perencanaan. Selain itu juga, ada mekanisme yang berlaku mulai dari rencana, lelang dan pembangunan. “Yang pasti tahun 2016 sudah masuk di program. Tinggal menunggu proses yang memang harus ditempuh ,” imbuhnya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Jalan di Desa Kedungdowo Kudus Mendadak Berubah Jadi ‘Jalan Kerbau’

Warga memasang spanduk di jalan Desa Kedungdowo.  (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Warga memasang spanduk di jalan Desa Kedungdowo. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Jika Anda memasuki jalan poros di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Anda akan disambut dengan ucapan selamat datang. Namun, ada yang cukup menggelitik dari ucapan tersebut.

Ucapan selamat datang yang tampak lain ini, karena ekspresi dari kekesalan warga yang tak ada tanggapan dari pemerintah terkait kerusakan jalan poros Desa Kedungdowo, sehingga membuat warga marah.Penanaman pohon pisang di tengah jalan hingga penempelan spanduk di sepanjang jalan Kedungdowo pun dilakukan warga.

Tampak beberapa tulisan di spanduk yang berbunyi ‘Selamat Datang, Anda Masuk Jalan Kebo’. Bukan hanya itu saja, beberapa tulisan lain yang menyindir pemerintah juga ada di beberapa spanduk.

Aksi tersebut, dipicu karena pemerintah kabupaten dinilai tidak tanggap untuk segera membantu perbaikan jalan. Padahal sebelumnya, pemerintah desa telah mengusulkan perbaikan tersebut ke pemerintah kabupaten sebanyak tiga kali.

“Karena jalan tersebut merupakan kewenangan kabupaten, sehingga kita hanya bisa mengajukan. Dan tahun 2014 lalu, kami sudah mengusulkan perbaikan ke pemkab sebanyak tiga kali,”  jelas Darojatun, Kepala Desa Kedungdowo. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Tak Kunjung Ada Perbaikan, Warga Kedungdowo Kudus Ramai-ramai Tanam Pohon di Tengah Jalan

Warga tanam pohon pisang di tengah jalan. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Warga tanam pohon pisang di tengah jalan. (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Kesal dengan kondisi jalan yang rusak dan tak kunjung dibenahi, warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu melakukan aksi tanam pohon pisang di tengah jalan. Ada sekitar 30 pohon pisang yang ditanam di sepanjang jalan poros desa.

“Jalan ini sudah sangat lama dalam kondisi rusak, kami sebagai warga sudah cukup sabar menunggu bantuan dari pemerintah. Namun, nampaknya memang belum digubris yang berwenang sehingga kami sepakat melakukan aksi tanam pohon,” ujar Nur Rohman, salah satu warga Desa Kedungdowo.

Dirinya menambahkan jalan ini merupakan jalan poros desa yang sangat padat. Terlebih, dengan adanya pabrik serta jalur alternatif untuk sampai ke jalan lingkar, seharusnya lebih diperhatikan.

Selain menanam pohon pisang, warga sekitar juga memenuhi jalan dengan tanaman pot serta tumpukan rumput di beberapa titik. Namun meski jalan tertutup, warga masih bisa melintas dengan mengambil sisa-sisa jalan yang dibiarkan kosong untuk lalu lintas warga. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Hi, Menyeramkannya Surga Wisata di Kudus Ini

Wisatawan tampak menikmati suasana di Sendang Jodo di Desa Purworejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wisatawan tampak menikmati suasana di Sendang Jodo di Desa Purworejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna mencegah rasa takut di tempat wisata Sendang Jodo yang ada di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, pemerintah desa setempat selalu menggelar berbagai kegiatan.

Kepala Desa Purworejo Noor Chamid menjelaskan, sendang itu dikenal sebagai tempat wisata yang menurut warga, mempunyai suasana angker. “Katanya angker sendang ini,” ujar Chamid.

Pemdes berupaya menghilangkan anggapan keangkeran itu. Yaitu dengan menggelar kegiatan. Seperti halnya memancing bersama atau juga dengan mengundang kesenian dangdut di saat waktu tertentu.

Selain mengusir rasa angker, kegiatan tersebut juga bisa menjadi ajang untuk memperkenalkan tempat wisata Sendang Jodo ini kepada masyarakat umum lainnya.

“Untuk berbagai kegiatan tersebut bisanya akan dilakukan pihak pemuda serta tokoh masyarakat. Sebab mereka ingin berkontribusi terhadap kemajuan tempat wisata ini,” ungkapnya.

Desa yang berpenduduk sekitar 3.200 jiwa serta terdiri dari 8RT dan 2 RW ini memang selalu berupaya mengangkat kearifan lokal tersebut.

Pemdes berpendapat saat ini yang terpenting adalah mengenalkan tempat wisata. Serta memberikan rasa nyaman bagi wisatawan. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Jalan Rusak di Semat – Kedung Malang Jepara, Pegang Janji Pemkab Ini

Warga melintas di permukaan jalan yang rusak di Semat – Kedung Malang, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Warga melintas di permukaan jalan yang rusak di Semat – Kedung Malang, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kerusakan jalan di jalur Semat – Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Jepara cukup parah. Karena  jalur alternatif ke Demak, dan jalur utama pengangkutan garam itu kerap dilintasi kendaraan berat yang mencapai lebih dari 20 ton.

Menanggapi hal itu, Pemkab Jepara melalui Kepala Dinas Bina Marga, Pengairan dan ESDM Jepara, Budiarto menjelaskan, perbaikan di jalur tersebut akan segera dilakukan.

“Rencananya, perbaikan di jalur itu akan dilakukan di tahun 2015 ini dan tahun 2016. Skema perbaikannya sudah disiapkan,” ujar Budiarto kepada MuriaNewsCom

Lebih lanjut dia menerangkan, untuk 2015 ini perbaikan akan dilakukan di jalur Semat-Kedung Malang yang memiliki panjang 16 kilometer. Dia menjanjikan, di akhir tahun ini, perbaikan dengan cara pembetonan akan selesai dilakukan.

Sebab perbaikan segera bisa dilakukan lantaran proses lelang dan penandatanganan kontrak sudah selesai sepekan yang lalu.

“Memang tidak semuanya dibeton. Jika kontur tanahnya sudah keras, maka cukup menggunakan hotmix. Tapi kemungkinan sebagian besar akan dibeton,” tandasnya.

Perbaikan jalan tersebut menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat sebesar Rp 3,8 miliar. Proyek akan kembali dilakukan pada 2016 nanti untuk perbaikan jalur Kedung Malang – Pecangaan. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)